Kitab Ath-Thahawiyah #36: Esensi Rukun Iman Antara Ahlus Sunnah, Falasifah & Ahlul Bid'ah (Part-2)
-kSGSeB1rEI • 2025-08-16
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi al ihsani wasyukrulahu
ala taufikinani asadu alla ilahaillallah
wahdahu la syarikalahu
wa asadu anna muhammadan abduhu rasuluh
da ridwan allahumma sholli alaihi waa
alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin
dan hadirat yang dirahmati oleh Allah
subhanahu wa taala. Pada pertemuan lalu
kita telah membahas tentang esensi iman
ya terkait dengan ee alfalasifah.
dan juga kita sudah singgung terkait di
sisi ahlusunah. Kita juga pada
kesempatan kali ini akan menyinggung
esensi iman menurut
ee ahlul bidah. di antaranya menurut
al-Muktazilah dan juga dan juga menurut
Syiah Arrafidah al-Mutaakhirin.
Adapun
ee Muktazilah sebagaimana disebutkan
oleh ee
Ibnu Abil Is al-Hanafi ya rahimahullah
dalam syarah
akidah Thahawiyah.
Maka ee beliau mengatakan setelah
menyebutkan tentang
ee falasifah kemudian beliau berkata,
"Waqad abdalatal muktazilatu biusulil
khamsah allati hadamu bihair minaddin."
Maka muktazilah mengganti ya keimanan
dengan pokok mereka yang lima, lima
pondasi muktazilah yang dikenal dengan
wal ushul alkamsah. Ini menjadi ciri
khas iman menurut Muktazilah. sampai
ditulis buku khusus tentang itu seperti
buku karya Alqadi Abdul Jabbar
almuktazili bukunya judulnya syarah
al-Ushul alkhamsah yaitu pembahasan
tentang lima pondasi Muktazilah kata
Ibnu Abil iz Al Hanafi dalam syarah
kidhawiyah allati hadamu biha katsir
minaddin yang dengan lima usul ini atau
lima pokok dan pondasi ini mereka banyak
menghancurkan perkara-perkara agama
adapun lima perkara menurut Muktazilah
tersebut yang pertama disebut mereka
kena Kal mereka sebut dengan tauhid.
Yang kedua mereka sebut dengan al-adil,
keadilan. Yang ketiga mereka sebut
dengan alwaad wal waid, yaitu janji dan
ancaman Allah. Yang keempat almanzila
bainal manzilatain, yaitu ee suatu
manzilah kedudukan di antara dua
kedudukan. Dan yang terakhir, alam bil
ma'ruf wahyu anil munkar. Jadi, agama
mereka dibangun di atas lima pondasi
ini. Ya, kalau ee kita ahlusunah, rukun
iman, rukun is Islam, rukun iman
sebagaimana dan semuanya dibangun di
atas dalil-dalil TB. Adapun pondasi
pertama mereka sebut dengan tauhid,
yaitu merekalah ee yang mempopulerkan
dalil A'Rad yang sudah pernah kita
singgung dalam menyebutkan tentang dalil
adanya Tuhan.
bahwasanya ahlul kalam di antara
Jahmiyah, Muktazilah, maupun Asyairah
mereka mengatakan Tuhan harus diketahui
atau pencipta harus diketahui dengan
dalil, tidak boleh taqlid, tidak boleh
dengan takqlid. Ya, sehingga mereka
mengatakan ee kalau seorang beriman
kepada Tuhan dengan taklid, maka dua
kemungkinan kemungkinan pertama imannya
tidak sah. Dan ini pendapat yang paling
berat di kalangan mereka. Ini pendapat
Assanusi. Orang yang beriman bahwa Tuhan
itu ada tapi dengan taklid tanpa dalil
hanya ikut orang tua, maka imannya tidak
tidak sah. Yang lainnya mengatakan sah
tapi berdosa. Sah tapi berdosa. Ya,
intinya harus beriman Tuhan itu ada
dengan dalil. Nah, apa dalil Tuhan itu
ada? Ahlusunah dalilnya banyak sekali.
Banyak sekali. Yang di sini pembahasan
khusus kita sudah pernah bahas tentang
dalil adanya Tuhan. Tapi mereka
memfokuskan dalil adanya Tuhan dengan
dalil a'rad. Dalil a'rad ini saya mau
jelaskan butuh kajian satu kajian
sendiri ya. Tapi intinya mereka ingin
menyampaikan bahwasanya ee a'rad itu
maksudnya sifat-sifat yang berubah-rubah
seperti ee gerakan diam, panas, dingin
yang tidak bisa tegak dengan sendirinya
seperti panjang pendek. Panjang kita
enggak bisa lihat kecuali dia menempel
pada suatu fisik. Kalau adapun panjang
pendek suatu yang non fisik, dingin,
panas, gerak ee berhenti, itu semua
nonfisik ya. Namanya disebut a'ad. Dia
hanya baru bisa nampak kalau nempel pada
suatu yang fisik. Tidak ada namanya
panjang. Panjang apa? Kalau sudah di
tiang baru kita bilang tiang ini
panjang. Adapun panjang aja tanpa tiang
enggak mungkin, enggak bisa lihat.
Ngerti atau tidak? Nah, itu namanya
a'rad menurut mereka. Nah, a'ad ini dia
tidak bisa tegak sendiri kecuali harus
menempel pada suatu yang fisik. Karena
a'ad ini suatu yang baru, maka dari
tidak ada menjadi ada.
Maka fisik yang mereka sebut jisim itu
dalil bahwasanya seluruh fisik, seluruh
yang berjisim adalah suatu yang baru.
Ini mereka bicara tentang dalil arab.
Tentu masih ini sangat panjang. Tapi
intinya dengan dalil a'rad akhirnya
mereka menolak seluruh sifat-sifat Allah
Subhanahu wa taala. Sehingga mereka
mengatakan Allah Subhanahu wa taala
tidak boleh berakad. Dengan demikian
Allah tidak boleh bersifat, tidak boleh
punya sifat ilmu. Karena ilmu suatu yang
ee apa? Abstrak. abstrak ya, non fisik.
Dia hanya baru bisa kelihatan kalau dia
menempel pada suatu zat ya. Ya gak ada
ilmu sendiri gini ya. Ilmu itu ya
seorang berilmu baru kata oh si fulan
ilmunya tinggi, si fulan ilmunya rendah,
si fulan ilmunya luas. Ya, ketika ilmu
itu nempel pada ee suatu zat ya. Oleh
karenanya kata mereka kalau Allah
berilmu, berarti Allah berjisim,
berfisik. Kalau gitu Allah makhluk.
Sehingga mereka tolak seluruh
sifat-sifat ilmu, sifat iradah, sifat
qudrah. Kata mereka enggak ada. Sehingga
mereka mengatakan itulah namanya tauhid.
Mengesakan Allah. Bahwasanya Allah itu
adalah zat yang esa tanpa sifat. Kapan
seorang mengatakan Allah punya sifat?
Berarti Allah berakad. Kalau Allah
berakad berarti a'rad itu tidaklah
nempel kecuali pada jisim. Berarti Allah
berjisim. Ini susah mau dijelaskan ya.
Antum terima aja lah. Pokoknya sesat ya.
Sesat. Ini saya sudah bahas panjang
lebar dalam pembahasan al-Aqidah al
wasitiah. Tapi saya kasih isyarat aja.
Dengan dalil a'rad ini untuk menentukan
adanya Tuhan akhirnya berdampak buruk.
Berdampak buruk yaitu mereka menolak
sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala.
Mereka menolak seluruh sifat-sifat Allah
Subhanahu wa taala. Inilah tauhid.
Dan ini bahaya karena sifat Allah sangat
banyak. Mereka tolak seluruhnya. Mereka
mengatakan Allah itu datatun mujaradatun
an sifat. Allah itu hanya zat tanpa
sifat sama sama sekali. Dari situlah
mereka mengatakan Al-Qur'an kalam
Al-Qur'an adalah kalamullah. Tapi
kalamullah adalah makhluk. Karena
namanya kalam adalah suatu yang abstrak.
Kalam tuh enggak ada dia harus menempel.
Saya bicara ya baru ada keluar kalam
dari saya ya. Hewan berbicara ada hewan
berbicara ada sumbernya yaitu sumbernya
hewan ter tersebut ya. Adapun kalam
tanpa ada ee apa namanya zatnya, tanpa
ada medianya enggak ada kalam. Seperti
ilmu. Paham? Ilmu, kalam, iradah, kdrah,
itu kan butuh media atau tidak? Kalau
enggak ada media dia enggak ada. Itu
abstrak seperti panas, dingin, tinggi,
pendek. Ngerti atau tidak? Ini bicara
filsafat puyang semua. Ngerti atau
tidak? Ngerti dah. Jadi mereka akhirnya
ketika mereka mengatakan Allah tidak
punya sifat, sementara kalamullah
firman. Firman itu harus ada yang
berbicara. Sehingga mereka mengatakan
kalamullah Al-Qur'an itu bukan sifat
Allah, tetapi adalah suatu kalam
pembicaraan yang Allah ciptakan di udara
atau Allah ciptakan lewat pohon didengar
oleh Nabi Musa atau didengar oleh
nabi-nabi atau malaikat. Sehingga mereka
mengatakan Allah tidak punya sifatul
kalam. Tapi Al-Qur'an kalamullah
maksudnya
ee makhluk disandarkan kepada sang
pencipta. Seperti Baitullah
masjid namanya apa? Baitullah, yaitu
rumah, rumahnya Allah. Rumah itu makhluk
tapi dimiliki oleh Allah, disandarkan
kepada Allah sebagai bentuk pemuliaan.
Seperti Rasulullah, utusan Allah. Rasul
ber ee makhluk ya disandar kepada Allah
untuk melian. Kata mereka, demikian juga
kalamullah. Kalamullah itu makhluk
disandarkan kepada Allah tapi bukan
sifat Allah. Adapun kita enggak. Kita ya
yang berbicara adalah Allah berarti
kalam tersebut sifatnya Al dan dia bukan
makhluk. Dia bukan makhluk, bukan Allah
ciptakan kalam di udara didengar oleh
Nabi Musa. TB ini namanya mereka namakan
dengan nama yang indah. Kata mereka,
"Kami bertauhid." Apa tauhid? Menurut
Muktazilah menolak seluruh sifat,
mengesakan zat. Mengesakan apa? Zat.
Jadi zat Allah tanpa tanpa sifat. Adapun
ahlusunah tentunya tidak demikian. Allah
sejak azali maha esa dengan zat sifat
dan zat-zat dan sifat zat dan
sifat-sifatnya. Tib. Yang kedua mereka
sebut dengan pokok yang kedua tentunya
ini kita hanya sampaikan secara global
karena kalau kita panjang satu persatu
tentu sangat panjang ya. Mereka namakan
dengan keadilan. Kata mereka Allah maha
adil.
Allah maha adil di sinilah mereka
mentasbih perbuatan Allah dengan
perbuatan makhluk. Af'alullah
yaitu mereka pembahasan tentang
perbuatan-perbuatan Allah yang mereka
namakan yaitu masalah takdir.
Mereka namakan takdir. Kata mereka Allah
tidak adil. Kalau semua sudah Allah
takdirkan sebelumnya, lalu Allah memberi
hukum, si fulan masuk surga, si fulan
masuk neraka, Allah tidak adil. Allah
tidak tidak adil. Terus bagaimana? Ya
tidak ada takdir.
Ya Allah ciptakan mereka jalan sendiri.
Allah hanya mengetahui apa yang terjadi.
Tapi Allah tidak mentakdirkan tidak ada
ikut campur tangan dalam urusan makhluk.
Allah hanya ciptakan selesai. Allah
hanya mengetahui. Ya.
Sehingga seluruh perbuatan makhluk ya
bukan ciptaan Allah. Seluruh kegiatan
makhluk bukan ciptaan Allah. Inilah yang
bisa kita jelaskan bahwasanya Allah maha
adil. Adapun kita mengatakan semuanya
sudah ditakdirkan oleh Allah, semuanya
campur tangan Allah, terus Allah
mengazab, Allah tidak adil. Ini
kelihatannya benar ya. Tapi kalau kita
bahas tentang takdir, kata ini adalah
kesalahan dan berdampak buruk yang
menunjukkan Allah tidak maha kuasa.
Allah tidak maha kuasa. Tapi intinya
maksud mereka demikian. Sehingga mereka
menganalogikan dengan manusia. Manusia
kalau gitu enggak adil. Namanya adil
harusnya begini-begini tidak ikut campur
tangan. Adapun ikut campur tangan maka
itu bukan keadilan.
Makanya dikatakan oleh para ulama ketika
membantah ee almuktazilah mereka
mengatakan untuk urusan sifat mereka
tolak sifat karena takut tasbih dengan
makhluk. Mereka takut tasbih dengan
makhluk. Kata Allah tidak punya ilmu
karena makhluk punya ilmu. Allah tidak
punya kdrah karena makhluk punya kudrah.
Allah tidak punya ini karena makhluk.
Mereka menolak sifat-sifat Allah. Takut
mentasbih Allah dengan makhluk. Tapi
ketika urusan takdir mereka bermuamalah
memuamalahi perbuatan Allah seperti
makhluk. Kata mereka, "Kalau bagi
makhluk ini enggak adil. Kalau gitu
Allah tidak boleh demikian. Adil itu
harusnya gak boleh ikut campur, gak
boleh memutuskan." Ya pad Allah
mengatakan w tasyauna illa
ayasyaallahubul
alamin. Tidaklah kalian berkehendak
kecuali di bawah kehendak siapa? Allah
subhanahu wa taala. Fa'alul lima yurid.
Allah melakukan apa yang dia kehendaki.
Gak ada yang terjadi di alam semesta ini
kecuali atas kehendak siapa? Al.
Sebagaimana kita pernah bahas dalam
takdir maratibul iman bit takdir.
Tentang takdir ada maratibnya. Pertama
adalah ee alilm kemudian alkitabah
kemudian al-iradah. Almasihyah. Kemudian
apa? Al khalq. Ini diulang kembali.
Intinya mereka mengatakan kalau kita
beriman dengan metode ahlusunah empat
poin tadi Allah tidak adil. Kalau Allah
mau adil harus tidak ada takdir. Allah
hanya sekedar mengetahui. Sekedar
mengetahui tidak intervensi dan tidak
bisa memutuskan.
Kemudian mereka beri permisalan.
Misalnya seorang ayah punya anak dua.
Anak dua ini sama-sama kembar misalnya.
kembar sama-sama punya kapasitas yang
sama. Terus yang satu dua-duanya dikasih
pedang. Yang satu jadi mujahid, satu
jadi perampok. Orang tua tidak punya
urusan jadi perampok. Ibarat robot
dikasih satunya jadi mujahid, satunya
jadi apa? Jadi perampok. Kata mereka,
"Demikianlah kira-kira." Jadi Allah
tidak ada urusan cuma ciptakan kemudian
selesai. Gak ada urusan.
Sepertinya seakan-akan adil, tapi ini
pun tidak adil. Seandainya, seandainya
dua manusia ini sama, diciptakan sama
persis, fisik sama persis, keinginan
sama persis, fasilitas sama persis,
dikasih fasilitas pasti output-nya sama
persis atau tidak?
Outputnya pasti sama persis enggak?
Kalau inputnya sama persis semuanya
pasti outputnya sama persis enggak?
Pasti sama. Ya enggak mungkin satu
dikasih pedang jadi mujahid, satu jadi
perampok, kecuali memang ada bedanya.
Justru kalau secara logika inputnya
semua sama dengan fasilitas yang sama,
pasti output-nya juga apa? Sama. Ketika
ada terjadi perbedaan pasti ada suatu
yang dilebihkan, ada yang dikurangi.
Sehingga pasti ada intervensi, pasti ada
apa? Turut cam campur. Paham? Jadi
intinya mereka menolak takdir. Kalau
kita kan mengatakan semuanya sudah
ditakdirkan oleh Allah. Adapun kenapa
Allah takdirkan begini dan begitu? Kata
Allah, "La yus'alu amma yaf'alu." Allah
tidak ditanya dengan apa yang dia
kerjakan. Itu rahasia siapa? Allah.
Intinya dengan menggunakan logika
mereka, mereka menganalogikan perbuatan
Allah dengan perbuatan hamba. Harusnya
begini, harusnya begini. Allah tidak
boleh begini, tidak boleh begini.
Akhirnya mereka menolak takdir.
Paham? Paham tidak?
Paham setengah tidak? Paham setengah.
Tib.
Pokok yang ketiga mereka namakan alwaad
walid. Alwa walit ini istilahnya janji
dan ancaman Allah dalam Al-Qur'an. Allah
menjanjikan siapa yang beriman Allah
innalladina amanuhatium jannatun tajri
min tahtihal anhar. Siapa yang eh
beriman beramal saleh bagi mereka surga.
Sebaliknya siapa eh?
Siapa yang bermaksiat kepada Allah dan
melanggar aturan Allah masuk neraka.
Jadi Allah menjanjikan surga bagi orang
beriman dan Allah mengancam neraka bagi
orang yang bermaksiat.
Ah mereka istilahkan dengan alwaad
walid. Kata mereka tidak boleh bohong.
Kalau ada manusia menyelisihi janji.
Begini manusia tersebut tercela. Kalau
gitu Allah harus menerapkan janjinya dan
harus mewujudkan ancamannya.
Harus. Kemudian kata mereka kalau
al-waad Allah menjanjikan siapa yang
begini dapat begini begini berarti Allah
punya kewajiban
secara akal memang Allah wajib kepada
sang hamba dan se hamba memang berhak
untuk mendapatkan janji Allah karena
Allah sudah janjikan sama dia. Ibarat
pekerja bos bilang kau kerja ini saya
kasih begini berarti wajib bagi Allah
dan memang hamba ber berhak untuk
mendapatkan itu. berhak dari Tuhan untuk
mendapatkan ganjaran tersebut. Dan Allah
tidak boleh menyelisihi ini mirip
seperti ahlusunah. Cuma bedanya
ahlusunah mengatakan itu kewajiban bukan
dari sisi hamba, tapi Allah mewajibkan
dirinya sendiri memberi karunia. Hamba
sebenarnya tidak berhak.
Apa hak hamba untuk menuntut Allah dapat
pahala? Enggak ada hak hamba. Hamba dari
tidak ada Allah ciptakan menjadi ada.
Terus hamba apa perbuatannya? Tidak ada
nilainya dibandingkan dengan surga yang
Allah janjikan. Luar biasa. Jadi
ahlusunah meyakini kita tidak berhak
untuk itu semua ya. Tapi ini semua
karunia dari siapa? Allah. Allah
mewajibkan dirinya sendiri. Kataba ala
nafsi rahmah. Allah mewajibkan dirinya
untuk rahmat kepada hamba-hambanya.
Tidak wajib bagi Allah. Tapi Allah
mewajibkan dirinya sendiri. Ya, seperti
Allah nabi Nabi sallallahu alaihi
wasallam bersabda, Allah berfirman, "Ya
ibadi inni haramulma ala nafsi waltuhu
muharaman bainakum falaam." Ya, ya,
wahai hamba hambaku, sungguh sungguhnya
aku mengharamkan kezaliman atas diriku,
maka jangan dan aku haramkan kezaliman
atas kalian, ya. Maka janganlah kalian
saling menzalimi. Seandainya Allah mau
menzalimi secara akal, Allah mampu. Apa
susahnya Allah menciptakan orang
kemudian Allah masukkan langsung begini
atau Allah siksa dia? Mampu tidak.
Jangan Allah, kita aja mampu kita mau
tapi Allah mengharamkan hal tersebut
bagi dirinya. Meskipun dia mampu
melakukannya, tapi dia mengharamkan apa?
kezaliman atas di dirinya. Oleh karena
janganlah kalian saling menzalimi. Ini
contoh bahwasanya Allah mengharamkan
dirinya dan Allah mewajibkan kepada
dirinya sesuatu bukan atas tekanan zat
lain. Karena Allah dialah yang maha
kuasa, dia yang pencipta. Ketika Allah
ingin kasih pahala sama hambanya bukan
karena tekanan kewajiban. Kalau kamu
enggak ini kamu berdosa, ya Allah. Apa
urusannya dosa kamu semua ciptaanku? Ya.
Tapi Allah memberi karunia itu tafadulan
yaitu karunia dari Allah. Bukan hamba
yang mewajibkan Allah, tapi Allah
mewajibkan dirinya apa? Sendiri. Ini
bedanya kita dengan Muktazilah.
Muktazilah gak hukum berlaku, apa
namanya? SOP berjalan. Apa namanya? Jadi
ini wajib bagi Tuhan. Tuhan yang begini
ya wajib. Memang hamba berhak. B kalau
kita gak hamba tidak berhak semuanya
ini. Dengan demikian kita bersyukur
kepada Allah Subhanahu wa taala. Kapan
seorang merasa memang saya berhak
syukurnya kurang kepada Allah subhanahu
wa taala. Makanya Ibnu Kaim menyebutkan
di antara ee tahapan agar kita
bersyukur, jangan pernah kita merasa
bahwasanya kita berhak. Jangan pernah
kita merasa kita berhak. Karena melihat
kondisi kita, kita tidak berhak. Dosa
yang kita lakukan banyak, ibadah kita
juga masih enggak beres. Kemudian Allah
berikan karunia begitu banyak. Jangan
merasa kita pernah berhak. Makanya di
antara tafsir dari perkataan Firaun,
innamau al ilmin indi. Saya ini dapat
kaya karena saya punya ilmu. Yaitu di
antara tafsirannya karena Allah tahu
saya berhak untuk kaya. Ha ini
mengurangi sifat syukur. Ini bedanya
kita dengan Muktazilah dari sisi alwaad.
Paham? Janji kalau Muktazilah memang itu
kewajiban bagi apa? Allah secara sistem
mekanismenya memang Allah wajib.
Ahlusunah mengatakan tidak. Tidak ada
yang bisa mewajibkan Allah, tapi Allah
mewajibkan dirinya sendiri. Dan apa yang
Allah berikan kepada hambanya berupa
janji, surga dan macam-macamnya itu
hanyalah tafadulan yaitu karunia dari
Allah. Tidak ada yang mewajibkan Allah
sama sekali. Paham ini? Paham tidak?
Paham? Al-Waid berbeda. Al-Waid. Alwaid
ancaman
menurut Muktazilah, kalau Allah
mengancam, Allah harus menunaikan
ancaman tersebut. Siapa melakukan
maksiat, maka harus masuk nera neraka.
Allah mengancam dan ancaman tersebut
Allah sudah janjikan dan ikhla wa.
Adapun menyelisihi itu tercela dan Allah
tidak boleh menyelisihi
adapun ahlusunah wal jamaah ini secara
global ya tentu di bawah ini ada
permasalahan syafaat dan yang lainnya.
Adapun ahlusunah maksudnya Allah
ee mengancam ancaman tersebut belum
tentu Allah jalankan. Terkadang Allah
memaafkan.
Paham? Terkadang Allah memaafkan dari
sisi Allah. terkadang ada syafaat dari
yang lain sehingga Allah tidak
menjalankan ancamannya tersebut. Dan
menurut ee menurut apa namanya secara
orang Arab kalau ada orang mengancam
keburukan kemudian dia memaafkan. Mulia
atau tidak? Mulia. Mulia. Mulia. Mulia.
Dan itu semua orang tahu siapa yang
mampu untuk membalas. Tapi tidak balas
karena kasih sayang maka dia mulia.
Bukan tercela. Jangan bilang, "Eh, kok
si janji bunuh aja dia." Enggak.
Misalnya ada orang lagi hutang, harus
bayar hutang. Kemudian bilang, "Enggak
usah bayar. Saya sudah, saya sudah ancam
kau. Kalau kau tidak bayar, awas
ternyata dia maafkan." Ini mulia, bukan
tidak mulia. Oleh karena tidak semua
ancaman Allah tunaikan.
Terkadang Allah memaafkan.
[Musik]
Terkadang Allah maafkan terkadang
melalui syafaat dari yang lain. Intinya
ee adapun Muktazilah mengatakan kalau
Allah Subhanahu wa taala sudah mengancam
maka ancaman tersebut harus terjadi.
Tidak boleh Allah s selisihi. Ini
bedanya ahlusunah dengan mereka. Ini
istilah dengan pembahasan alwaad wal
waid. Janji dan ancaman.
Paham sampai sini? Paham. Ya,
berarti pertemuan berikutnya ada ujian.
Ya.
Tayib. Yang keempat namanya almanzilah
bainal manzilatain. Secara bahasa
maknanya adalah kedudukan di antara
kedua-dukan. Manzilah almanzilah
maksudnya kedudukan di antara dua
kedudukan. Inilah yang disebut dengan
masailul asma wal ahkam. Masalah-masalah
nama dan hukum. Nama maksudnya apa?
Status orang melakukan dosa besar. Ini
asal muasal munculnya muktazilah. Asal
muasal munculnya Muktazilah.
Ketika Hasan Albashri rahimahullahu
taala seorang ulama tabiin dia bikin
kajian. Terus ada yang bertanya, "Wahai
al imam, bagaimana dengan orang
melakukan dosa besar? Bagaimana
hukumnya?"
Belum lagi Hasan Albasri menjawab, maka
muridnya Wasil Ibn Atha nyeletus,
nyeletuk. Dia mengatakan, "Wahai guru,
bahwasanya menurut saya orang yang
melakukan dosa besar dia tidak kafir dan
dia juga tidak mukmin. Tapi dia di
antara fi manzila bainal manzilatain, di
antara dua kedudukan." Terus dia
meninggalkan fazala faazala majelis
alasan. Kemudian dia meninggalkan
nyempal kalau bahasa kita. Dia nyempal
meninggalkan majelis Hasan Al Basri. Dia
bikin kajian di tiang masjid yang lain.
Akhirnya pengikutnya banyak ya.
Pengikutnya banyak. Maka disebut dengan
Muktazilah, yaitu orang-orang yang
nyempal dari majelisnya Hasan Al Bashri.
Tentunya ketika dia menjawab tersebut
bukan ide yang muncul ketika itu, tapi
sudah hal yang dia siapkan dan dia
langsung pergi tanpa ragu-ragu
meninggalkan Majelis Hasan Albashri.
Ketika dia bikin kajian sendiri,
datanglah seorang ahli ibadah, Amr bin
Ubaid, seorang ahli hadis yang dia
sangat zuhud. Kemudian dia gabung dengan
Wasil bin Atha. Maka terjadilah firqah
Muktazilah atau pemikiran Muktazilah ini
akhirnya tersebar. Terlebih lagi ee Amr
bin Ubaid seorang yang dikenal suka
menangis, zuhud sampai ee penguasa
senang sama dia. Karena sebagian ulama
ee kalau ketemu penguasa dikasih-kasih
ngambil. Kalau Amr bin Ubaid gak mau
dia, dia enggak mau. Sehingga dikenal
dengan zuhud. Karena dia zuhud, suka
menangis, maka orang senang dengan ustaz
yang seperti ini yang nangis zuhud. Ya,
tapi zaman sekarang mungkin enggak.
Sebaliknya mungkin ustaz yang necis
malah disenangi ya. Tapi intinya intinya
akhirnya pengikutnya jadi banyak. Nah,
pembahasan itu namanya al-asma wal
ahkam. Apa maksudnya al-asma? Maksudnya
nama atau status.
Status apakah dia kafir ataukah dia
mukmin ketika dia melakukan dosa dosa
besar. Muktazilah juga bagi dosa menjadi
dua. Dosa kecil dan dosa besar. Kalau
dosa kecil mereka enggak ada masalah.
Tapi bagi mereka bagaimana jika seorang
melakukan dosa besar statusnya di dunia
apa namanya mukmin atau kafir? Kalau
kita ahlusunah tetap mukmin bukan kafir
tapi naqisul iman tapi imannya kurang.
Selama dia bukan melakukan kekufuran
maka dia masih statusnya mu mukmin hanya
saja imannya ku kurang. Adapun
muktazilah
dia di tengah-tengah. Adapun khawarij
pelaku dosa besar kafir. Khawarij pelaku
dosa besar kafir.
Ahlusunah mukmin tapi imannya kurang.
Muktazilah tengah-tengah tidak mukmin
tidak kafir. Tapi di antara keduanya
disebut manzilah baina manzilatain.
Adapun hukum maksudnya bagaimana? Hukum
orang ini yang berstatus di antara tadi
bukan mukmin bukan kafir maka hukumnya
ada di dunia maupun di akhirat. Inilah
yang dikenal dengan istilah para ulama.
Masail yaitu masalah-masalah al-asma wal
ahkam. Asma itu status dia. Hukum yaitu
apa? Hukum yang berlaku padanya pada
orang ini. Nah menurut Muktazilah pelaku
dosa besar secara nama bukan muslim
bukan juga kafir tapi apa? Fil manzilah
bainal manzilatain. Yaitu antara
mukmin
dan kafir.
Apa dong? Ya pokoknya begitu.
Tidak mukmin, tidak kafir. Ini statusnya
di dunia namanya demikian. Tidak kita
panggil dia si mukmin, kita tidak
panggil dia si kafir. Terus apa ya? Di
antara kenapa tidak dikatakan mukmin?
Karena orang mukmin Allah janjikan dalam
Al-Qur'an orang mukmin itu akan begini
begini masuk surga dan macam-macam.
Sementara dia melakukan maksiat, gimana
mau dijanjikan surga? Menurut mereka
namanya orang mukmin itu harus sempurna.
Dan orang mukmin itu dijanjikan surga.
Sementara pelaku dosa besar tidak berhak
mendapatkan janji tersebut. Tapi apakah
dia kafir? Dia juga enggak kafir. Karena
kafir ada aturannya. Melakukan dosa
besar yang mengkafirkan, mengeluarkan
dari iman. Sementara dia belum belum
melakukan kekufuran. Kalau gitu nak
bilang kita mukmin, gak bilang juga kita
bilang dia apa? Ka kafir. Kalau gitu di
tengah-tengah. Paham? Tentu ada syubhat
mereka. Tapi saya gambarkan secara
sederhana. Inilah akidah mereka disebut
fil manzil bainal manzilatain. Di antara
dua kedudukan. Paham? Jadi kalau menurut
menurut khawarij, pelaku dosa besar
hukum namanya apa? Kafir. Menurut
ahlusunah
mukmin tapi imannya ku kurang. Menurut
muktazilah
fi manzilah baina almanzilatain. Tidak
iman, tidak kafir. Ini nama. Adapun
hukum mereka bagi dua. Hukum di dunia
dan hukum di akhirat. Adapun hukum di
dunia mereka hukumnya seperti orang
Islam.
seperti orang Islam. Karena kita enggak
bilang kafir. Kalau kafir hukumnya beda.
Tidak boleh menikah dengan lelaki kafir.
Kemudian tidak boleh memakan sembelihan
orang kafir. Tidak boleh dikuburkan di
kuburan kaum muslimin. Banyak berlaku.
Kata mereka gak, dia belum kafir. Terus
kalau belum kafir ya sudah kita ikutkan
dengan hukum kaum muslimin. Dan ini
mereka tidak komitmen. Harusnya mereka
bilang hukum antara mukmin ataupun ka
kafir hukumnya sebeda. Kenapa
disamanakan hukum orang mukmin?
Kalau mereka mau komitmen harusnya tidak
dihukumi mukmin, tidak dihukumi kafir.
Cuma mereka bingung nanti bikin fikih
sendiri. Akhirnya mereka katakan di
dunia hukumnya seperti hukum orang
muslim.
Seperti orang mukmin boleh dinikahi,
boleh ee lelakinya boleh menikah dengan
wanita muslimah, hasil sembelihannya
boleh dimakan. Kalau di mati maka
dikuburkan di pekuburan kaum muslimin.
Hukumnya seperti orang Islam. Tetapi dia
tidak kita katakan mukmin, tapi di
tengah-tengah. Jadi di tengah-tengah
tapi diikutkan dengan hukum muslim.
Karena kalau harusnya mereka komitmen
mereka bikin hukum sendiri. Tapi ini
enggak ada dalilnya dan mereka harus
bikin fikih sendiri. Tib. Adapun di
akhirat kekal di neraka.
Kekal di neraka.
Kekal di neraka. Karena mereka sudah
bilang Allah punya al-waid.
bahwasanya mereka punya keyakinan pada
sila eh sila ketiga apa namanya pada
pokok yang ketiga alwa'du wal waid Allah
harus menunaikan ancamannya dan Allah
telah mengancam pelaku dosa besar masuk
neraka dan Allah tidak boleh mengalah
dari ancamannya tersebut oleh karenanya
mereka kafir bukan kafir mereka harus
kekal di neraka tetapi nerakanya lebih
ringan daripada neraka orang kafir ini
pun tidak komitmen. Harusnya mereka di
satu tempat, tidak diazab dan juga tidak
di surga. Di tengah-tengah nonton.
Harusnya kalau mau komitmen di
tengah-tengah. Iya enggak? Jadi mereka
juga tidak komitmen. Kalau mau komitmen
harusnya orang-orang Muktazilah
mengatakan bahwasanya pelaku dosa besar
tidak diazab dan juga tidak dapat nikmat
di tengah. Tapi mereka mengatakan pelaku
dosa besar kekal di neraka karena Allah
harus menunaikan janjinya, ancamannya.
Tetapi
ee ancamannya karena Allah maha adil.
Allah tidak menyamakan antara nerakanya
pelaku dosa besar dengan nerakanya
penghuni neraka orang-orang ka kafir.
Paham?
Paham ya?
Tapi kekal. Bedanya kalau ee bedanya
apa? Kalau hukum di akhirat menurut
ahlusunah,
Muktazilah dan Khawarij. Bedanya apa?
Kalau Khawarij gimana? Kekal di neraka.
Kafir. Kalau ahlusunah? Kalau Muktazilah
kekal di neraka tapi lebih ringan dari
neraka orang kafir. Kalau ahlusunah,
pelaku dosa besar tahta masyiatillah.
Sesuai dengan kehendak Allah. Kalau
Allah ingin mengazab, Allah akan azab.
Kalau Allah mengampuni, Allah
mengampuni. Kalaupun Allah mengazab,
akan suatu saat akan keluar. Akan keluar
karena dia tidak kafir.
Karena surga tidak bisa dimasuki kecuali
oleh alkhairul mahd. Harus bersih.
Sementara ee dia ternajisi dengan
dosa-dosa, maka harus dibersihkan dulu
di neraka jahanam. Kemudian nanti keluar
jadi jahanamiyun, yaitu alumnus neraka
jahanam.
Gak usah pakai ijazah, masuk aja.
Tayib. Jadi di akhirat ee itu ya namanya
ahkam, hukum. Hukum berlaku bagi ee
penghuni neraka. Ee penghuni neraka
menurut Muktazilah pelaku dosa besar
kekal. Ya. Tib.
Adapun pokok yang kelima yang mereka
namanya alam biluf w nahyu anil munkar,
maka mereka melazimkan orang lain bahwa
orang beriman harus menegakkan amar
makruf nahi mungkar. Dan di antaranya
yang mereka wajibkan adalah wajib
memberontak kepada penguasa yang zalim.
Harus, harus memberontak. Ada penguasa
yang zalim harus diberontak. memang
tidak kafir ini penguasa zalim ini fi
manzilah bainal manzilatain. Tapi harus
di dikuruj memberontak agar diganti
dengan seorang hakim yang mukmin.
Seorang hakim yang mukmin. Bedanya
dengan khawarij sama-sama wajib
memberontak. Tetapi khawarij
mengkafirkan hakim yang zalim. Bedanya
khawarij mengkafirkan hakim yang zalim
dan harus dibunuh, harus diberontakin.
Adapun Muktazilah enggak, dia tidak
menggafirkan tapi dia mengatakan fi
manzila baina almanzilatain. Tetapi
dampaknya sama, sama-sama harus
memberontak kepada penguasa yang zalim.
Adapun ahlusunah wal jamaah, bagaimana?
Bagi penguasa yang zalim tidak boleh
diberontaki? Kalau dia perintahkan
kebaikan, harus tetap taat. Kalau
perintah keburukan, tidak boleh taat.
Tetapi tidak taat tersebut tidak harus
memberontak kepada penguasa yang zalim.
Dan ini dalilnya begitu banyak. Dan
inilah maslahat yang dilihat oleh
syariat Islam sampai Allah mendatangkan
imam yang lain atau penguasa yang yang
lain.
Ya, Ibnu Taimiyah menyebutkan bukti
menunjukkan bahwasanya kebanyakan
pemberontakan yang terjadi akan
menimbulkan keburukan yang lebih parah,
pertumpahan darah yang terus-menerus ti
ada hentinya dendam kemudian dendam
berikutnya dan seterusnya. Inilah yang
disebut dengan al-usul khamsa indal
muktazilah.
Ya, lima pondasi menurut Muktazilah.
Paham, Ikhwan? Insyaallah ya secara
global demikian.
Tib. Kemudian ee
Alz Alliz bin Abdus Salam
Al e apa nama? Ibnu Ablis al-Hanafi.
Ibnu Abl alhafi setelah menyampaikan ini
semua kemudian beliau berkata, "Ya,
fahadzi usuluhumul khamsah." Inilah lima
pokok mereka. Allati wadauha
bi usulidinil khamsa allati bu
biharusul. Mereka letakkan lima perkara
ini sebagai oposisi
bagi usul iman menurut ahlusunah wal
jamaah.
Kemudian beliau berkata, "Warofidah
almutaakhirun." Dan rafidah Syiah yang
belakangan itu imamiah.
Jaalul usula arbaah. Mereka menjadikan
usul empat. Ya, sebenarnya ada lima tapi
mungkin yang masyur empat. Attauhid wal
adl w nubuwah imamah. Ya, attauhid wal
adil w nubuwah. Tauhid, keadilan,
nubuwah, dan imamah. Wa usul ahli sunah
tabiatun lima ja rasul. Adapun usul ahli
sunah sesuai dengan apa yang dibawakan
oleh Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam. Ya, yaitu rukun iman. Tiib.
Kita selesai dari Muktazilah. Sekarang
kita masuk ke Syiah
tadi. Asul al-arbaah atau kita tambah
yang kelima. Almaad ini ada satu, dua,
3, empat. Kalau
al ee Ibnu Ablis Al Hanafi menyebutkan
tentang empat pokok. Tapi kalau kita
lihat buku-buku Syiah sekarang, mereka
tambah yang kelima. Tapi enggak ada
masalah karena yang maum tidak ada
bedanya dengan ee ahlusunah secara umum
ya. Oleh karenanya yang beda adalah
empat ini ya. Tayib. Adapun tauhid
ee pondasi yang pertama tauhid dan
pondasi kedua adalah keadilan. Ini
seperti Muktazilah persis. Jadi Syiah
belakangan terpengaruh akidah mereka
dengan Muktazilah
dan Qadariah. Qadariah yaitu Muktazilah.
Ya, Qadariyah. Muktazilah. Makanya Ibnu
Taimiyah punya buku judulnya Minhajus
Sunah Nabawiyah.
Ya, Minhajus Sunah Nabawiyah fi ee
kalami Syiah Alqadariyah. Ya,
fi naqdhi kalami Syiah. Fi naqdi ya.
fi naqdi kalami syiah
alqadariyah yaitu judulnya minhajusun
nabawiyah dalam memb memb membatalkan
atau menghancurkan perkataan Syiah
alqadar di sini Imam Imam Ibnu Taimiyah
rahimahullah mensifati Syiah dengan
qadariah. Qadariah maksudnya Muktazilah
tadi menolak qadar, menolak apa? Takdir.
Sehingga Syiah sekarang kalau kita lihat
akidah mereka tentang tauhid, tentang
takdir, mirip dengan Muktazilah. Makanya
mereka menolak rukyatullah. Mereka Allah
tidak bisa dilihat pada hari kiamat
kelak seperti Muktazilah. Bahkan
sebagian Khawarij sekarang seperti
Muktazilah seperti alibadiyah.
Alibadiyah yang ada di Oman sama mereka
juga seperti Qadariah, seperti
Muktazilah. Untuk tauhid mereka menolak
sifat-sifat Allah. Masalah ee adapun ee
apa mereka sifat Allah makanya mereka
terpengaruh dengan Muktazilah. Ah Syiah
kalau tauhid seperti Muktazilah tadi
kita sudah sebutkan menolak sifat-sifat
Allah. Masalah adil maksudnya adalah
takdir. Mereka menolak tak takdir
seperti sudah kita jelaskan. Adapun
nubuwah mirip dengan ahlusunah. Mungkin
secara detail ada perbedaan. Tetapi yang
mereka jadi menjadi pusat perhatian
mereka, mereka pasang yang tidak ada
pada yang lainnya. Kelompok yang lain
itu alimamah. Keimamahan.
Keimamahan. Ya. Dan keimamahan mereka
tersebut ya mungkin kita bisa tambahkan
beberapa poin. Yang pertama ini Syiah
namanya Syiah Imamiah. Syiah Imamiyah
terbagi atas dua. Ada Isna Asyari, ada
Syiah Ismailiyah. Ya, Ismailiyah.
Karena berbeda ada imam yang ke berapa
harus Ismail. Ada khilaf di kalangan
mereka. Tetapi mereka mengatakan
bahwasanya imam hanya terbatas pada 12
orang. 12 orang tersebut dimulai dari
Ali bin Abi Thalib, imam yang pertama,
yaitu mereka tidak mengakui keimamahan
Abu Bakar dan Umar dan Utsman. Tapi imam
yang pertama setelah Nabi meninggal
siapa? Ali bin Abi Thalib. Maka di
sinilah ee di sinilah rahasia kenapa
mereka harus ribut dengan Ahlusunah.
Karena ahlusunah mengatakan imam yang
pertama siapa? Abu Bakar. Imam kedua
Umar. Imam ketiga Utsman. Imam keempat
baru Ali. Sementara mereka meyakini
harus pertama Ali. Siapa yang mengakui
keimamahan tiga imam sebelumnya, berarti
dia tidak berarti dia ee bertentangan
dengan akidah imamiah. Maka mereka
mengkafirkan orang-orang yang menyatakan
sahnya keimaman Abu Bakar, Umar, dan
Utsman.
Karena kalau kita meyakini keimamahan
Abu Bakar, Umar, dan Utsman itu sah,
berarti batal akidah imamiah mereka.
Jadi mereka mengatakan Abu Bakar, Umar
dan Utsman telah merampas keimamahan
dari Ali bin Abi Thalib. Ini karangan
mereka. Ini khayalan mereka. Sehingga
mereka mengatakan imam yang pertama
harus Ali. Imam yang kedua kemudian
siapa? Hasan. Kemudian Husein dan
seterusnya. Sampai imam yang ke-12
Muhammad bin Hasan al-Askar. Muhammad
bin Al Hasan al-Askar yang kata mereka
ketika usia masih kecil 5 tahunan dia
sembunyi. Dia sembunyi dan sampai
sekarang belum keluar-keluar.
Belum keluar-keluar. Jadi umurnya sudah
panjang. Sudah berapa tahun gak tahu
sudah 1000 tahun lebih kali ya. Sudah
1000 tahun lebih. Sudah sembunyi di goa
ee
sudah 1000 tahun lebih. Dan mereka
mengatakan keimaman hanya 12 ini. 12
ini. Adapun imam yang lain itu hanyalah
wakil. Hanyalah apa? Wakil ya? Utusan
dari imam ini. Pertama. Yang kedua,
mereka meyakini imam tersebut alismah
maksum dari dosa besar maupun dosa
kecil. Di sini pada poin ini mereka
menurut ahlusunah
mereka menyatakan berarti konsekuensinya
konsekuensinya
imam lebih afdal daripada nabi. Imam
konsekuensinya
imam lebih afdal
dari nabi dari para nabi. Saya tanya
sama antum, apakah para nabi mungkin
terjatuh dalam dosa kecil? Mungkin sudah
banyak terjatuh. Nabi Adam salah ya.
Nabi Nuh ditegur Allah Subhanahu wa
taala. Nabi Musa salah berinta ampun
kepada Allah. Nabi Yunus salah. Banyak
nabi-nabi salah. Tetapi begitu mereka
salah langsung mereka kembali kepada
Allah. Tapi artinya mereka mungkin
terjatuh dalam dosa kecil. Adapun
menurut kita ahlusunah, para nabi maksum
dari dosa besar dan dari dosa-dosa yang
ee menghinakan seperti enggak mungkin
nipu atau apa itu enggak mungkin. Nabi
enggak mungkin seperti itu ya. Tidak
mungkin seperti itu. Tidak seperti dalam
buku Taurat Nabi Daud alaihi salam lihat
istri orang kemudian dia tertarik
kemudian dia suruh suaminya suruh perang
biar mati. Kemudian diambil apa?
Istrinya. Bahkan dia zina kepada
istrinya macam-macam. Jadi maksud saya,
adapun ahlusunah wal jamaah bahwasanya
para nabi maksum tidak mungkin melakukan
dosa besar dan tidak mungkin melakukan
dosa-dosa yang memalukan. Enggak mungkin
meskipun dosa kecil ya. Tapi dosa kecil
mungkin seperti Nabi Adam, Salah dan
yang lainnya. Adapun mereka mengatakan
para imam mereka yang 12 ini tidak boleh
melakukan kesalahan. Gak gak mungkin
mereka berdosa meskipun dosa kecil.
Makanya mereka bingung ketika menghadapi
sikap Al-Han.
Al-Han radhiallahu anhu menurut kita
adalah imam yang ke berapa? Yang kelima.
Khalifah yang kelima. Yang pertama Abu
Bakar, kedua siapa? Umar, ketiga Utsman,
keempat Ali. Kemudian setelah Ali siapa?
Al-Hasan. Dia hanya memimpin sekitar 6
bulan. Setelah itu dia lengser, dia
menyerahkan kepemimpinan kepada siapa?
Muawiyah. Ini bingung bagi orang Syiah.
Hasan ini benar atau salah lagi? Kalau
dibilang Hasan salah berarti tidak
maksum.
Kalau dibilang Hasan benar, berarti
Muawiyah benar jadi imam, jadi khalifah.
Sehingga mereka bingung di antara dua
sikap ini. Mau bilang gimana? Bilang
Hasan salah berarti kemaksuman imam
selesai gak berarti hancur. Kalau mereka
bilang Hasan benar berarti apa yang
lakukan Hasan sudah benar. Berarti
Muawiyah adalah pemimpin yang sah. Dan
ini repot bagi mereka. Repot bagi
mereka.
Tib. Kemudian yang terkait dengan imamah
juga ada almahdiyah. almahdiyah Imam
Mahdi akan keluar yaitu Muhammad bin
Hasan al-Askar ya. Muhammad bin Hasan
al-Askar Imam Mahdi ini akan keluar imam
yang ke-12. Imam ke-12
dan mereka meyakini imam tersebut akan
muncul di akhir zaman. Jadi mereka
menunggu keluarnya imam tersebut. Mereka
nanti-nantikan. Ya. Adapun sekarang
belum keluar. Yang keempat terkait
dengan imamah.
Kata mereka bahwasanya tidak tegak hari
kiamat hingga Allah bangkitkan Ahlul
Bait. Dan Allah bangkitkan musuh-musuh
mereka. Lalu mereka qisos di qisas. Dan
saya sudah tulis dalam buku saya ee 33
banyolan akidah Syiah. 33 banyolan
akidah Syiah. Saya sebutkan bagaimana
mereka meyakini nanti Imam Mahdi muncul.
Setelah Imam Mahdi muncul maka Allah
akan bangkitkan
ee imam-imam Ahlul Bait yang dizalimi.
Kemudian Allah akan bangkitkan Abu Bakar
dan Umar. Kemudian akan dikisos Abu
Bakar dan Umar. Dan Allah mungkin
bangkitkan juga Aisyah kemudian dirajam
karena berzina dan macam-macam. Mereka
punya khayalan sendiri. Jadi mereka
punya namanya hari kebangkitan kecil
sebelum hari kebangkitan apa? Besar.
Jadi bangkit dulu. Ini penjahat-penjahat
yang menyerang Ahlul Bait dibangkitkan
untuk di ditegakkan qisos. Setelah itu
mati baru kemudian hari kebangkitan ee
yang besar. Ya, ini keyakinan mereka
namanya rajaah. Rajaah yaitu ada
dikembalikan lagi ya sebelum adanya
maad, sebelum adanya hari kebangkitan
ya.
ya sebelum adanya hari kebangkitan. Oleh
karenanya mereka meyakini bahwasanya ee
di antara disebutkan bahwasanya
annubuwah
lutfullah
alkhas
al-imamah
lutfullah al'am.
Kata mereka kenabian adalah kebaikan
Allah yang secara khusus. yaitu tidak
harus setiap zaman ada nabi. tidak harus
setiap zaman ada nabi.
Adapun keimaman
Luthfulah alam'am yaitu kebaikan Allah
yang
setiap zaman harus ada imam.
Gak ada imam kosong. Makanya sampai
sekarang masih ada imamnya, cuma imamnya
sembunyi.
Imamnya se sembunyi ya. Sehingga mereka
punya akidah baru ya ee yang disebut
saya lupa fakih atau siapa gitu yang
nanti datang ketemu dengan Imam Mahdi
kemudian menjalankan perintah Imam Mahdi
yang sedang sem sembunyi. Ya,
wakil. Wakil ya wakil. Oleh karenanya
kata mereka, "Siapa yang mengingkari
keimamahan maka kafir. Lebih parah
daripada mengingkari kenabian." Ya,
karena ee apa namanya? Keimaman itu
harus ada setiap saat. Inilah keyakinan
mereka tentang imamah dan ini menjadikan
ee ciri khas mereka. Ciri khas mereka.
Dan di antara dampak daripada ini, ini
konsekuensi pertama,
imam lebih afdal daripada para nabi.
Yang kedua,
bahwasanya ada juga hadis-hadis imam.
Hadis-hadis imam selain hadis-hadis Nabi
ini jadi masalah
Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Kalau kita yang yang hadis cuma nabi.
Nabi adalah seluruh perkataannya,
seluruh perbuatannya
adalah sumber hukum. Karena Nabi maksum.
Nabi maksum. Nabi kalau salah pun
langsung ditegur oleh Allah. Gak mungkin
dibiarkan oleh Allah. Pasti ditegur.
Karena apa? Perkataan Nabi perbuatan
syariat. Oleh karenanya kita menganggap
sumber hukum kita bukan cuma Quran, tapi
juga hadis-hadis apa? Nabi. Paham? Nabi
Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
Adapun Abu Bakar, Umar, dan ini tidak.
Kata Imam Malik, semua orang bisa
diambil, bisa diterima pendapatnya dan
bisa ditolak kecuali penghuni kubur ini,
kecuali Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam. Abu Bakar bisa ditolak, bisa
dibantah oleh Umar. Umar bisa dibantah
oleh Abu Bakar. Biasa zaman sahabat.
Karena mereka tahu bahwasanya para
sahabat tidak yang maksum. Tetapi
menurut Syiah, seluruh imam mereka
maksum. Gak mungkin salah. Kalau maksum
konsekuensinya berarti perbuatannya dan
perkataannya hujah, sumber hukum. Benar
atau tidak? Karena ini konsekuensi
kemaksuman. Makanya mereka ee mencatat
perkataan-perkataan imam dalam buku-buku
yang banyak. Seperti Alkafilul Qulaini,
seperti contoh Biharul Anwar yang 100
jilid kalau tidak salah. Semua perkataan
imam berkata Imam Albaqir berkata Imam
ini Imam Jafar Asadiq Abu Abdullah
berkata berkata, berkata, berkata,
berkata banyak. Sehingga
perkataan-perkataan tersebut juga
menjadi hadis. Menjadi hadis seperti
kita. Saya pernah diskusi sama orang
Syiah gara-gara orang terpanggil saya
dipanggil kemudian diskusi. Terus dia
mengatakan kepada saya,
"Tidaklah kita dia mungkin entah taki
bilang beda kita cuma sedikit apa. Kita
cuma kita sama Al-Qur'an sunah." Dia
ngomong saya bilang, "E pak ustaz, saya
bilang, "Pak Ustaz Syiah sebentar saya
bilang, "Enggak usahlah Pak Ustaz bilang
begitu." Jujur aja, bukankah Pak Ustaz
punya hadis-hadis imam situ? Dia
terdiam, dia harus ngakui. Bagaimana
bersama kita dengan Anda, Pak? Kita
punya sumber hukum Al-Qur'an dan
sunah-sunahnya hadis Nabi doang. Anda
hadis-hadis imam dan hadis imam lebih
banyak daripada hadis Nabi. Imamnya 12
masalahnya Nabi cuma satu ini imam 12
hadisnya banyak. Gimana mau jadi sama?
Nah, di sini terdiam. Dia tidak, dia
tidak, dia tidak takiah ketika itu. Ya.
Terus bagaimana mau apa namanya
bergabung antara sunah dan syi sementara
sumber hukumnya ber berbeda belum
akidahnya juga berbeda. Maka ini yang
menjadi isu di kalangan Syiah tentang
ima al-imamah. Al-imamah adalah seperti
rukun iman mereka. Siapa yang
mengingkari maka kafir ee mereka
menganggap ini suatu perkara yang sangat
penting dalam agama mereka.
Tib al-fun almaad sama yaitu al alis
albasu aljismani
tib berapa menit lagi
kita di sini singgung kita tutup
pembahasan kita secara ringkas tentang
aliman bil malaikah. Saya bacakan aja
malaikat. Di antaranya pentingnya
menurut Rafidah, imam-imam mereka lebih
afdal daripada malaikat. Imam mereka
lebih afdal daripada malaikat.
Tayib.
Saya bacakan ya. Wa ammal malaikatu. Ya,
kata Ibnu Abis Al-Hanafi dalam kitabnya
syarah akidah Thahawiyah. Adapun
malaikat menurut ahlusunah wal jamaah
karena kita sedang berbicara iman kepada
malaikat, kepada para rasul, kepada
kitab-kitab suci. Iman kepada malaikat.
Malaikat adalah makhluk-makhluk Allah
yang ditugaskan di langit dan di bumi.
Setiap pergerakan di alam maka adalah
timbul dari pergerakan malaikat atau
pekerjaan aktivitas malaikat. Itu ke
atas perintah Allah. Allah berfirman,
"Fal mudabbirati amro." Dan demi
malaikat-malaikat yang mengatur
urusan-urusan. Ada malaikat ngatur awan,
ngatur hujan, ngatur tumbuhan, ngatur
banyak makhluk diatur oleh malaikat. Fal
muqasimati amr dalam surat azzariyat
sama yang membagi-bagi urusan atas
perintah Allah Subhanahu wa taala. Ya.
Adapun inilah mereka adalah malaikat
yang mengatur segala urusan menurut
ahlul iman dan pengikut para rasul.
Adapun para pendusta yang mengingkari
para rasul mereka mengatakan yang
mengatur adalah bintang-bintang.
Al-Qur'an dan Asunah telah menunjukkan
tentang dalil-dalil akan banyaknya
model-model malaikat, kelompok-kelompok
malaikat. Dan bahwasanya mereka
ditugaskan untuk mengurusi banyak
kelompok-kelompok makhluk. Contohnya
Allah Subhanahu wa taala menugaskan
malaikat untuk ngurusi gunung. Ada yang
malaikat ditugaskan untuk mengurusi
awan. Seperti dalam hadis, ada awan
suruh pergi oleh malaikat suruh pergi ke
kebun seseorang, meninggalkan kebun
orang lain menuju kebun seseorang.
Kenapa? Karena orang tersebut ternyata
suka bersedekah. Jadi awan hujan tadi
pergi ke kebunnya si fulan. Siapa yang
perintahkan? Malaikat.
Demikian juga hujan yang ngatur adalah
malaikat. Dan ee kemudian ee malaikat
juga mengatur urusan nutfah ya sampai
sempurna bentuknya menjadi manusia ya.
Kemudian malaikat juga ditugaskan oleh
Allah untuk mencatat perbuatan manusia
dalam catatan. Dan malaikat juga
ditugaskan untuk mencabut nyawa manusia.
Malaikat juga ditugaskan untuk bertanya
kepada manusia dalam kuburan. Itu
malaikat munkaran apa? Nakir. Malaikat
juga ditugaskan untuk mengurusi apa
namanya planet-planet ya menggerakkannya
ya. Seperti arsy saja ada yang memikul.
Malaikat memikul apa? Arsy.
Malaikat mengurusi matahari, mengurusi
rembulan ya. Dan malaikat ditugaskan
untuk menjaga neraka dan untuk
menyalakan api neraka dan juga
ditugaskan untuk menyiksa penghuni
neraka. Ya. Dan juga malaikat ditugaskan
untuk ngurusi surga, penjaga surga untuk
menanami surga dengan tumbuhan-tumbuhan
dan lainnya ya. Dan malaikat adalah
pasukan Allah yang paling agung. Di
antaranya almursalatu urfa wasirati
nasr. Allah sebut dalam Al-Qur'an
tentang sifat-sifat malaikat. Di
antaranya wal mulqiyati zikra banyak ya.
Dan di antara malaikat ada yang nazi
garqo yaitu mencabut nyawa dengan keras.
yang mencabut nyawa dengan lembut yaitu
nyawa orang beriman. Wasabihati sabaha
yang bergerak dengan cepat dari langit
ke bumi. Begitu cepatnya dalam waktu
sekejap mereka turun dari langit ke bumi
kembali ke langit waktu sekejap yang
tidak bisa dilakukan oleh manusiaq
yang berjalan dengan lebih dahulu cepat.
Di antara mereka asofatifa yang
bersafsaf mereka bersaf-saf. Kata Nabi,
"Tidak kalian bersaf seperti malaikat
bersaf-saf di hadapan Allah. Mereka
bersaf. Fazajirati zajr malaikat yang
melarang untuk melakukan perkara-perkara
maksiat. Memberi peringatan kepada hamba
Allah. Jangan lakukan. Jangan lakukan.
Berupa bisikan-bisikan. Fataliatiik
malaikat yang membaca bertilawah. Ya.
Dan ini semua adalah ciri-ciri malaikat.
Di antara malaikat adalah malaikat
rahmat. Di antara malaikat malaikat
rahmat yang menerima. Kalau malaikat
maut sudah cabut nyawa orang beriman,
dia serahkan kepada malaikat rahmat. Ada
malaikat azab dicabut oleh malaikat maut
diserahkan kepada malaikat azab. Orang
kafir dan pelaku maksiat.
Ada malaikat yang ditugaskan untuk
memikul arsy Allah subhanahu wa taala.
Dan ada malaikat banyak ditugaskan untuk
mengisi langit untuk diibadahi. Langit
penuh dengan ibadah. Ada yang tasbih,
ada yang salat, ada yang rukuk, ada yang
mensucikan Allah. Banyak. Kata Nabi,
wahuqhata.
Terdengar suara langit krek dan pantas
berhak dia untuk terdengar suara
tersebut. Kenapa? Karena tidak ada
ukuran empat jari kecuali ada malaikat
di langit. Sangat banyak. Ada yang
bertasbih, ada yang rukuk, ada yang
sujud beribadah kepada Allah. Dan begitu
banyak malaikat yang tidak ada yang tahu
kecuali Allah. Wama yal'lamujabbika illa
hu. Tidak ada yang tahu jumlah malaikat
kecuali siapa? Allah Subhanahu wa taala.
Tib azan
tib. Ee kita lanjutkan
malaikat ada pendapat ya,
ada yang mengatakan dari maklak kemudian
jadi malak dan maklak dari alaluka
artinya risalah.
Sehingga perkataan malak sendiri
malaikat yaitu mursal itu dikirim dia
utusan Allah subhanahu wa taala. Dan
lafal ini lafal malaikat atau utusan
menunjukkan dia menjalankan yang
perintah yang mengututusnya. Sehingga
Allah menyatakan bahwasanya dia tidak
pernah melewati perintah Allah. Kata
Allah, "La yasbiquunahu bilqul wahum
biamri yamun yammalun." Mereka tidak
pernah mendahului Allah dalam perkataan.
Gak pernah. Gak pernah melewati sedikit
pun. Tidak pernah mendi Allah dalam
perkataan. Dan mereka menjalankan
perintah Allah.
Ya. Kemudian wfa
dan mereka tidak bisa beri syafaat
kepada seorang pun kecuali yang diridai
oleh Allah. Wah.
Dan mereka takut kepada Allah Subhanahu
wa taala. Dalam ayat yang lain
mereka takut kepada Allah yang ada di
atas mereka yarun. Dan mereka
mengerjakan apa yang diperintahkan oleh
mereka. Maka mereka adalah hamba-hamba
Allah yang mulia. Allah sebutkan bal
ibadu mukramun. Malaikat adalah
hamba-hamba tapi yang dimuliakan. Allah
sebutkan kemudian mereka dalam beberapa
ayat di antaranya balramun kata Allah
subhanahu wa taala halaka hadi ibrahimal
mukramin tidak akan datang kepadaan
tamu-tamu nabi ibrahim yang mulia
maksudnya para malaikat Allah juga
berfirman e kiraman bararah ya ee apa
namanya kiraman katibin mereka adalah
melihat-malaikat yang mulia yang menulis
qiramim bararah yaitu yang
malaikat-malaikat yang mulia dan baik
jadi mereka disifati dengan hamba-hamba
yang mulia di antara Mereka ada yang
bersaf-saf. Di antara mereka ada yang
bertasbih kerjanya. Dan setiap mereka
lahuma maklum ada tugas masing-masing
yang Allah tugaskan. Tidak mereka tidak
melewati tugas tersebut. Allah sudah
ciptakan dengan tugas tertentu. Ya. Maka
mereka bekerja sesuai dengan perintah
kadar yang diperintahkan. Mereka tidak
kurangi dan mereka tidak melampaui ya.
Dan ee
dan mereka yang sangat dekat dengan
Allah tidak tidak sombong.
Mereka tidak sombong untuk beribadah
kepada Allah. Mereka tidak pernah letih
untuk beribadah kepada Allah.
Yusabbihuna wahurun.
Mereka beribadah tidak pernah letih,
tidak pernah capek, tidak pernah bosan.
Kita manusia capek, bosan dan
macam-macam. Maksiat mereka tidak. Dan
ruasauhum bos-bos mereka atau
pemimpin-pemimpin mereka, mungkin bos
kurang pas, pemimpin mereka yang paling
mulia antara mereka tiga. Jibril,
Mikail, dan Israfil. Apa kestimon
Jibril, Mikail, Israfil? Mereka malaikat
tiga ini di ee ditugaskan untuk urusan
kehidupan. Adapun Jibril diberi tugas
untuk menurunkan wahyu dan itu kehidupan
hati, kehidupan iman, kehidupan roh.
Adapun Mikail ditugaskan untuk urusan
hujan dan itu beri kehidupan bagi bumi
dan seisinya hewan, bumi, manusia. Dan
adapun israfil ditugaskan menup
sangkakala untuk menghidupkan manusia
yang sudah mati untuk dihisab oleh Allah
subhanahu wa taala.
Dan malaikat adalah utusan Allah
Subhanahu wa taala. Dan mereka adalah
safir-safir utusan Allah antara Allah
dengan hamba-hambnya.
Mereka datang ke bumi kemudian naik ke
atas lapor kepada Allah Subhanahu wa
taala. Saking begitu banyaknya malaikat
sampai terdengar suara krek dari langit
seperti kalau orang sudah taruh barang
banyak di atas unta tiba-tibunya krek
berarti sudah full dan pantas terdengar
suara tersebut. Ma fiq.
Karena tidak ada satu empat jarak, empat
jari di atas langit kecuali ada malaikat
yang berdiri atau sedang rukuk atau
sedang sujud kepada Allah subhanahu wa
taala. Saking banyaknya mereka bait
makmur minhuman
alaihim. Setiap setiap hari ada 70.000
ya malaikat yang masuk ke Baitul Makmur.
Kalau mereka sudah masuk, mereka tidak
pernah ee masuk kedua kali ya. Kalau
mereka sudah keluar sel
Resume Requeue
Read
file updated 2026-02-12 01:20:19 UTC
Categories
Manage