Transcript
-kSGSeB1rEI • Kitab Ath-Thahawiyah #36: Esensi Rukun Iman Antara Ahlus Sunnah, Falasifah & Ahlul Bid'ah (Part-2)
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2523_-kSGSeB1rEI.txt
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi al ihsani wasyukrulahu ala taufikinani asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahu wa asadu anna muhammadan abduhu rasuluh da ridwan allahumma sholli alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin dan hadirat yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala. Pada pertemuan lalu kita telah membahas tentang esensi iman ya terkait dengan ee alfalasifah. dan juga kita sudah singgung terkait di sisi ahlusunah. Kita juga pada kesempatan kali ini akan menyinggung esensi iman menurut ee ahlul bidah. di antaranya menurut al-Muktazilah dan juga dan juga menurut Syiah Arrafidah al-Mutaakhirin. Adapun ee Muktazilah sebagaimana disebutkan oleh ee Ibnu Abil Is al-Hanafi ya rahimahullah dalam syarah akidah Thahawiyah. Maka ee beliau mengatakan setelah menyebutkan tentang ee falasifah kemudian beliau berkata, "Waqad abdalatal muktazilatu biusulil khamsah allati hadamu bihair minaddin." Maka muktazilah mengganti ya keimanan dengan pokok mereka yang lima, lima pondasi muktazilah yang dikenal dengan wal ushul alkamsah. Ini menjadi ciri khas iman menurut Muktazilah. sampai ditulis buku khusus tentang itu seperti buku karya Alqadi Abdul Jabbar almuktazili bukunya judulnya syarah al-Ushul alkhamsah yaitu pembahasan tentang lima pondasi Muktazilah kata Ibnu Abil iz Al Hanafi dalam syarah kidhawiyah allati hadamu biha katsir minaddin yang dengan lima usul ini atau lima pokok dan pondasi ini mereka banyak menghancurkan perkara-perkara agama adapun lima perkara menurut Muktazilah tersebut yang pertama disebut mereka kena Kal mereka sebut dengan tauhid. Yang kedua mereka sebut dengan al-adil, keadilan. Yang ketiga mereka sebut dengan alwaad wal waid, yaitu janji dan ancaman Allah. Yang keempat almanzila bainal manzilatain, yaitu ee suatu manzilah kedudukan di antara dua kedudukan. Dan yang terakhir, alam bil ma'ruf wahyu anil munkar. Jadi, agama mereka dibangun di atas lima pondasi ini. Ya, kalau ee kita ahlusunah, rukun iman, rukun is Islam, rukun iman sebagaimana dan semuanya dibangun di atas dalil-dalil TB. Adapun pondasi pertama mereka sebut dengan tauhid, yaitu merekalah ee yang mempopulerkan dalil A'Rad yang sudah pernah kita singgung dalam menyebutkan tentang dalil adanya Tuhan. bahwasanya ahlul kalam di antara Jahmiyah, Muktazilah, maupun Asyairah mereka mengatakan Tuhan harus diketahui atau pencipta harus diketahui dengan dalil, tidak boleh taqlid, tidak boleh dengan takqlid. Ya, sehingga mereka mengatakan ee kalau seorang beriman kepada Tuhan dengan taklid, maka dua kemungkinan kemungkinan pertama imannya tidak sah. Dan ini pendapat yang paling berat di kalangan mereka. Ini pendapat Assanusi. Orang yang beriman bahwa Tuhan itu ada tapi dengan taklid tanpa dalil hanya ikut orang tua, maka imannya tidak tidak sah. Yang lainnya mengatakan sah tapi berdosa. Sah tapi berdosa. Ya, intinya harus beriman Tuhan itu ada dengan dalil. Nah, apa dalil Tuhan itu ada? Ahlusunah dalilnya banyak sekali. Banyak sekali. Yang di sini pembahasan khusus kita sudah pernah bahas tentang dalil adanya Tuhan. Tapi mereka memfokuskan dalil adanya Tuhan dengan dalil a'rad. Dalil a'rad ini saya mau jelaskan butuh kajian satu kajian sendiri ya. Tapi intinya mereka ingin menyampaikan bahwasanya ee a'rad itu maksudnya sifat-sifat yang berubah-rubah seperti ee gerakan diam, panas, dingin yang tidak bisa tegak dengan sendirinya seperti panjang pendek. Panjang kita enggak bisa lihat kecuali dia menempel pada suatu fisik. Kalau adapun panjang pendek suatu yang non fisik, dingin, panas, gerak ee berhenti, itu semua nonfisik ya. Namanya disebut a'ad. Dia hanya baru bisa nampak kalau nempel pada suatu yang fisik. Tidak ada namanya panjang. Panjang apa? Kalau sudah di tiang baru kita bilang tiang ini panjang. Adapun panjang aja tanpa tiang enggak mungkin, enggak bisa lihat. Ngerti atau tidak? Nah, itu namanya a'rad menurut mereka. Nah, a'ad ini dia tidak bisa tegak sendiri kecuali harus menempel pada suatu yang fisik. Karena a'ad ini suatu yang baru, maka dari tidak ada menjadi ada. Maka fisik yang mereka sebut jisim itu dalil bahwasanya seluruh fisik, seluruh yang berjisim adalah suatu yang baru. Ini mereka bicara tentang dalil arab. Tentu masih ini sangat panjang. Tapi intinya dengan dalil a'rad akhirnya mereka menolak seluruh sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Sehingga mereka mengatakan Allah Subhanahu wa taala tidak boleh berakad. Dengan demikian Allah tidak boleh bersifat, tidak boleh punya sifat ilmu. Karena ilmu suatu yang ee apa? Abstrak. abstrak ya, non fisik. Dia hanya baru bisa kelihatan kalau dia menempel pada suatu zat ya. Ya gak ada ilmu sendiri gini ya. Ilmu itu ya seorang berilmu baru kata oh si fulan ilmunya tinggi, si fulan ilmunya rendah, si fulan ilmunya luas. Ya, ketika ilmu itu nempel pada ee suatu zat ya. Oleh karenanya kata mereka kalau Allah berilmu, berarti Allah berjisim, berfisik. Kalau gitu Allah makhluk. Sehingga mereka tolak seluruh sifat-sifat ilmu, sifat iradah, sifat qudrah. Kata mereka enggak ada. Sehingga mereka mengatakan itulah namanya tauhid. Mengesakan Allah. Bahwasanya Allah itu adalah zat yang esa tanpa sifat. Kapan seorang mengatakan Allah punya sifat? Berarti Allah berakad. Kalau Allah berakad berarti a'rad itu tidaklah nempel kecuali pada jisim. Berarti Allah berjisim. Ini susah mau dijelaskan ya. Antum terima aja lah. Pokoknya sesat ya. Sesat. Ini saya sudah bahas panjang lebar dalam pembahasan al-Aqidah al wasitiah. Tapi saya kasih isyarat aja. Dengan dalil a'rad ini untuk menentukan adanya Tuhan akhirnya berdampak buruk. Berdampak buruk yaitu mereka menolak sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Mereka menolak seluruh sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Inilah tauhid. Dan ini bahaya karena sifat Allah sangat banyak. Mereka tolak seluruhnya. Mereka mengatakan Allah itu datatun mujaradatun an sifat. Allah itu hanya zat tanpa sifat sama sama sekali. Dari situlah mereka mengatakan Al-Qur'an kalam Al-Qur'an adalah kalamullah. Tapi kalamullah adalah makhluk. Karena namanya kalam adalah suatu yang abstrak. Kalam tuh enggak ada dia harus menempel. Saya bicara ya baru ada keluar kalam dari saya ya. Hewan berbicara ada hewan berbicara ada sumbernya yaitu sumbernya hewan ter tersebut ya. Adapun kalam tanpa ada ee apa namanya zatnya, tanpa ada medianya enggak ada kalam. Seperti ilmu. Paham? Ilmu, kalam, iradah, kdrah, itu kan butuh media atau tidak? Kalau enggak ada media dia enggak ada. Itu abstrak seperti panas, dingin, tinggi, pendek. Ngerti atau tidak? Ini bicara filsafat puyang semua. Ngerti atau tidak? Ngerti dah. Jadi mereka akhirnya ketika mereka mengatakan Allah tidak punya sifat, sementara kalamullah firman. Firman itu harus ada yang berbicara. Sehingga mereka mengatakan kalamullah Al-Qur'an itu bukan sifat Allah, tetapi adalah suatu kalam pembicaraan yang Allah ciptakan di udara atau Allah ciptakan lewat pohon didengar oleh Nabi Musa atau didengar oleh nabi-nabi atau malaikat. Sehingga mereka mengatakan Allah tidak punya sifatul kalam. Tapi Al-Qur'an kalamullah maksudnya ee makhluk disandarkan kepada sang pencipta. Seperti Baitullah masjid namanya apa? Baitullah, yaitu rumah, rumahnya Allah. Rumah itu makhluk tapi dimiliki oleh Allah, disandarkan kepada Allah sebagai bentuk pemuliaan. Seperti Rasulullah, utusan Allah. Rasul ber ee makhluk ya disandar kepada Allah untuk melian. Kata mereka, demikian juga kalamullah. Kalamullah itu makhluk disandarkan kepada Allah tapi bukan sifat Allah. Adapun kita enggak. Kita ya yang berbicara adalah Allah berarti kalam tersebut sifatnya Al dan dia bukan makhluk. Dia bukan makhluk, bukan Allah ciptakan kalam di udara didengar oleh Nabi Musa. TB ini namanya mereka namakan dengan nama yang indah. Kata mereka, "Kami bertauhid." Apa tauhid? Menurut Muktazilah menolak seluruh sifat, mengesakan zat. Mengesakan apa? Zat. Jadi zat Allah tanpa tanpa sifat. Adapun ahlusunah tentunya tidak demikian. Allah sejak azali maha esa dengan zat sifat dan zat-zat dan sifat zat dan sifat-sifatnya. Tib. Yang kedua mereka sebut dengan pokok yang kedua tentunya ini kita hanya sampaikan secara global karena kalau kita panjang satu persatu tentu sangat panjang ya. Mereka namakan dengan keadilan. Kata mereka Allah maha adil. Allah maha adil di sinilah mereka mentasbih perbuatan Allah dengan perbuatan makhluk. Af'alullah yaitu mereka pembahasan tentang perbuatan-perbuatan Allah yang mereka namakan yaitu masalah takdir. Mereka namakan takdir. Kata mereka Allah tidak adil. Kalau semua sudah Allah takdirkan sebelumnya, lalu Allah memberi hukum, si fulan masuk surga, si fulan masuk neraka, Allah tidak adil. Allah tidak tidak adil. Terus bagaimana? Ya tidak ada takdir. Ya Allah ciptakan mereka jalan sendiri. Allah hanya mengetahui apa yang terjadi. Tapi Allah tidak mentakdirkan tidak ada ikut campur tangan dalam urusan makhluk. Allah hanya ciptakan selesai. Allah hanya mengetahui. Ya. Sehingga seluruh perbuatan makhluk ya bukan ciptaan Allah. Seluruh kegiatan makhluk bukan ciptaan Allah. Inilah yang bisa kita jelaskan bahwasanya Allah maha adil. Adapun kita mengatakan semuanya sudah ditakdirkan oleh Allah, semuanya campur tangan Allah, terus Allah mengazab, Allah tidak adil. Ini kelihatannya benar ya. Tapi kalau kita bahas tentang takdir, kata ini adalah kesalahan dan berdampak buruk yang menunjukkan Allah tidak maha kuasa. Allah tidak maha kuasa. Tapi intinya maksud mereka demikian. Sehingga mereka menganalogikan dengan manusia. Manusia kalau gitu enggak adil. Namanya adil harusnya begini-begini tidak ikut campur tangan. Adapun ikut campur tangan maka itu bukan keadilan. Makanya dikatakan oleh para ulama ketika membantah ee almuktazilah mereka mengatakan untuk urusan sifat mereka tolak sifat karena takut tasbih dengan makhluk. Mereka takut tasbih dengan makhluk. Kata Allah tidak punya ilmu karena makhluk punya ilmu. Allah tidak punya kdrah karena makhluk punya kudrah. Allah tidak punya ini karena makhluk. Mereka menolak sifat-sifat Allah. Takut mentasbih Allah dengan makhluk. Tapi ketika urusan takdir mereka bermuamalah memuamalahi perbuatan Allah seperti makhluk. Kata mereka, "Kalau bagi makhluk ini enggak adil. Kalau gitu Allah tidak boleh demikian. Adil itu harusnya gak boleh ikut campur, gak boleh memutuskan." Ya pad Allah mengatakan w tasyauna illa ayasyaallahubul alamin. Tidaklah kalian berkehendak kecuali di bawah kehendak siapa? Allah subhanahu wa taala. Fa'alul lima yurid. Allah melakukan apa yang dia kehendaki. Gak ada yang terjadi di alam semesta ini kecuali atas kehendak siapa? Al. Sebagaimana kita pernah bahas dalam takdir maratibul iman bit takdir. Tentang takdir ada maratibnya. Pertama adalah ee alilm kemudian alkitabah kemudian al-iradah. Almasihyah. Kemudian apa? Al khalq. Ini diulang kembali. Intinya mereka mengatakan kalau kita beriman dengan metode ahlusunah empat poin tadi Allah tidak adil. Kalau Allah mau adil harus tidak ada takdir. Allah hanya sekedar mengetahui. Sekedar mengetahui tidak intervensi dan tidak bisa memutuskan. Kemudian mereka beri permisalan. Misalnya seorang ayah punya anak dua. Anak dua ini sama-sama kembar misalnya. kembar sama-sama punya kapasitas yang sama. Terus yang satu dua-duanya dikasih pedang. Yang satu jadi mujahid, satu jadi perampok. Orang tua tidak punya urusan jadi perampok. Ibarat robot dikasih satunya jadi mujahid, satunya jadi apa? Jadi perampok. Kata mereka, "Demikianlah kira-kira." Jadi Allah tidak ada urusan cuma ciptakan kemudian selesai. Gak ada urusan. Sepertinya seakan-akan adil, tapi ini pun tidak adil. Seandainya, seandainya dua manusia ini sama, diciptakan sama persis, fisik sama persis, keinginan sama persis, fasilitas sama persis, dikasih fasilitas pasti output-nya sama persis atau tidak? Outputnya pasti sama persis enggak? Kalau inputnya sama persis semuanya pasti outputnya sama persis enggak? Pasti sama. Ya enggak mungkin satu dikasih pedang jadi mujahid, satu jadi perampok, kecuali memang ada bedanya. Justru kalau secara logika inputnya semua sama dengan fasilitas yang sama, pasti output-nya juga apa? Sama. Ketika ada terjadi perbedaan pasti ada suatu yang dilebihkan, ada yang dikurangi. Sehingga pasti ada intervensi, pasti ada apa? Turut cam campur. Paham? Jadi intinya mereka menolak takdir. Kalau kita kan mengatakan semuanya sudah ditakdirkan oleh Allah. Adapun kenapa Allah takdirkan begini dan begitu? Kata Allah, "La yus'alu amma yaf'alu." Allah tidak ditanya dengan apa yang dia kerjakan. Itu rahasia siapa? Allah. Intinya dengan menggunakan logika mereka, mereka menganalogikan perbuatan Allah dengan perbuatan hamba. Harusnya begini, harusnya begini. Allah tidak boleh begini, tidak boleh begini. Akhirnya mereka menolak takdir. Paham? Paham tidak? Paham setengah tidak? Paham setengah. Tib. Pokok yang ketiga mereka namakan alwaad walid. Alwa walit ini istilahnya janji dan ancaman Allah dalam Al-Qur'an. Allah menjanjikan siapa yang beriman Allah innalladina amanuhatium jannatun tajri min tahtihal anhar. Siapa yang eh beriman beramal saleh bagi mereka surga. Sebaliknya siapa eh? Siapa yang bermaksiat kepada Allah dan melanggar aturan Allah masuk neraka. Jadi Allah menjanjikan surga bagi orang beriman dan Allah mengancam neraka bagi orang yang bermaksiat. Ah mereka istilahkan dengan alwaad walid. Kata mereka tidak boleh bohong. Kalau ada manusia menyelisihi janji. Begini manusia tersebut tercela. Kalau gitu Allah harus menerapkan janjinya dan harus mewujudkan ancamannya. Harus. Kemudian kata mereka kalau al-waad Allah menjanjikan siapa yang begini dapat begini begini berarti Allah punya kewajiban secara akal memang Allah wajib kepada sang hamba dan se hamba memang berhak untuk mendapatkan janji Allah karena Allah sudah janjikan sama dia. Ibarat pekerja bos bilang kau kerja ini saya kasih begini berarti wajib bagi Allah dan memang hamba ber berhak untuk mendapatkan itu. berhak dari Tuhan untuk mendapatkan ganjaran tersebut. Dan Allah tidak boleh menyelisihi ini mirip seperti ahlusunah. Cuma bedanya ahlusunah mengatakan itu kewajiban bukan dari sisi hamba, tapi Allah mewajibkan dirinya sendiri memberi karunia. Hamba sebenarnya tidak berhak. Apa hak hamba untuk menuntut Allah dapat pahala? Enggak ada hak hamba. Hamba dari tidak ada Allah ciptakan menjadi ada. Terus hamba apa perbuatannya? Tidak ada nilainya dibandingkan dengan surga yang Allah janjikan. Luar biasa. Jadi ahlusunah meyakini kita tidak berhak untuk itu semua ya. Tapi ini semua karunia dari siapa? Allah. Allah mewajibkan dirinya sendiri. Kataba ala nafsi rahmah. Allah mewajibkan dirinya untuk rahmat kepada hamba-hambanya. Tidak wajib bagi Allah. Tapi Allah mewajibkan dirinya sendiri. Ya, seperti Allah nabi Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, Allah berfirman, "Ya ibadi inni haramulma ala nafsi waltuhu muharaman bainakum falaam." Ya, ya, wahai hamba hambaku, sungguh sungguhnya aku mengharamkan kezaliman atas diriku, maka jangan dan aku haramkan kezaliman atas kalian, ya. Maka janganlah kalian saling menzalimi. Seandainya Allah mau menzalimi secara akal, Allah mampu. Apa susahnya Allah menciptakan orang kemudian Allah masukkan langsung begini atau Allah siksa dia? Mampu tidak. Jangan Allah, kita aja mampu kita mau tapi Allah mengharamkan hal tersebut bagi dirinya. Meskipun dia mampu melakukannya, tapi dia mengharamkan apa? kezaliman atas di dirinya. Oleh karena janganlah kalian saling menzalimi. Ini contoh bahwasanya Allah mengharamkan dirinya dan Allah mewajibkan kepada dirinya sesuatu bukan atas tekanan zat lain. Karena Allah dialah yang maha kuasa, dia yang pencipta. Ketika Allah ingin kasih pahala sama hambanya bukan karena tekanan kewajiban. Kalau kamu enggak ini kamu berdosa, ya Allah. Apa urusannya dosa kamu semua ciptaanku? Ya. Tapi Allah memberi karunia itu tafadulan yaitu karunia dari Allah. Bukan hamba yang mewajibkan Allah, tapi Allah mewajibkan dirinya apa? Sendiri. Ini bedanya kita dengan Muktazilah. Muktazilah gak hukum berlaku, apa namanya? SOP berjalan. Apa namanya? Jadi ini wajib bagi Tuhan. Tuhan yang begini ya wajib. Memang hamba berhak. B kalau kita gak hamba tidak berhak semuanya ini. Dengan demikian kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala. Kapan seorang merasa memang saya berhak syukurnya kurang kepada Allah subhanahu wa taala. Makanya Ibnu Kaim menyebutkan di antara ee tahapan agar kita bersyukur, jangan pernah kita merasa bahwasanya kita berhak. Jangan pernah kita merasa kita berhak. Karena melihat kondisi kita, kita tidak berhak. Dosa yang kita lakukan banyak, ibadah kita juga masih enggak beres. Kemudian Allah berikan karunia begitu banyak. Jangan merasa kita pernah berhak. Makanya di antara tafsir dari perkataan Firaun, innamau al ilmin indi. Saya ini dapat kaya karena saya punya ilmu. Yaitu di antara tafsirannya karena Allah tahu saya berhak untuk kaya. Ha ini mengurangi sifat syukur. Ini bedanya kita dengan Muktazilah dari sisi alwaad. Paham? Janji kalau Muktazilah memang itu kewajiban bagi apa? Allah secara sistem mekanismenya memang Allah wajib. Ahlusunah mengatakan tidak. Tidak ada yang bisa mewajibkan Allah, tapi Allah mewajibkan dirinya sendiri. Dan apa yang Allah berikan kepada hambanya berupa janji, surga dan macam-macamnya itu hanyalah tafadulan yaitu karunia dari Allah. Tidak ada yang mewajibkan Allah sama sekali. Paham ini? Paham tidak? Paham? Al-Waid berbeda. Al-Waid. Alwaid ancaman menurut Muktazilah, kalau Allah mengancam, Allah harus menunaikan ancaman tersebut. Siapa melakukan maksiat, maka harus masuk nera neraka. Allah mengancam dan ancaman tersebut Allah sudah janjikan dan ikhla wa. Adapun menyelisihi itu tercela dan Allah tidak boleh menyelisihi adapun ahlusunah wal jamaah ini secara global ya tentu di bawah ini ada permasalahan syafaat dan yang lainnya. Adapun ahlusunah maksudnya Allah ee mengancam ancaman tersebut belum tentu Allah jalankan. Terkadang Allah memaafkan. Paham? Terkadang Allah memaafkan dari sisi Allah. terkadang ada syafaat dari yang lain sehingga Allah tidak menjalankan ancamannya tersebut. Dan menurut ee menurut apa namanya secara orang Arab kalau ada orang mengancam keburukan kemudian dia memaafkan. Mulia atau tidak? Mulia. Mulia. Mulia. Mulia. Dan itu semua orang tahu siapa yang mampu untuk membalas. Tapi tidak balas karena kasih sayang maka dia mulia. Bukan tercela. Jangan bilang, "Eh, kok si janji bunuh aja dia." Enggak. Misalnya ada orang lagi hutang, harus bayar hutang. Kemudian bilang, "Enggak usah bayar. Saya sudah, saya sudah ancam kau. Kalau kau tidak bayar, awas ternyata dia maafkan." Ini mulia, bukan tidak mulia. Oleh karena tidak semua ancaman Allah tunaikan. Terkadang Allah memaafkan. [Musik] Terkadang Allah maafkan terkadang melalui syafaat dari yang lain. Intinya ee adapun Muktazilah mengatakan kalau Allah Subhanahu wa taala sudah mengancam maka ancaman tersebut harus terjadi. Tidak boleh Allah s selisihi. Ini bedanya ahlusunah dengan mereka. Ini istilah dengan pembahasan alwaad wal waid. Janji dan ancaman. Paham sampai sini? Paham. Ya, berarti pertemuan berikutnya ada ujian. Ya. Tayib. Yang keempat namanya almanzilah bainal manzilatain. Secara bahasa maknanya adalah kedudukan di antara kedua-dukan. Manzilah almanzilah maksudnya kedudukan di antara dua kedudukan. Inilah yang disebut dengan masailul asma wal ahkam. Masalah-masalah nama dan hukum. Nama maksudnya apa? Status orang melakukan dosa besar. Ini asal muasal munculnya muktazilah. Asal muasal munculnya Muktazilah. Ketika Hasan Albashri rahimahullahu taala seorang ulama tabiin dia bikin kajian. Terus ada yang bertanya, "Wahai al imam, bagaimana dengan orang melakukan dosa besar? Bagaimana hukumnya?" Belum lagi Hasan Albasri menjawab, maka muridnya Wasil Ibn Atha nyeletus, nyeletuk. Dia mengatakan, "Wahai guru, bahwasanya menurut saya orang yang melakukan dosa besar dia tidak kafir dan dia juga tidak mukmin. Tapi dia di antara fi manzila bainal manzilatain, di antara dua kedudukan." Terus dia meninggalkan fazala faazala majelis alasan. Kemudian dia meninggalkan nyempal kalau bahasa kita. Dia nyempal meninggalkan majelis Hasan Al Basri. Dia bikin kajian di tiang masjid yang lain. Akhirnya pengikutnya banyak ya. Pengikutnya banyak. Maka disebut dengan Muktazilah, yaitu orang-orang yang nyempal dari majelisnya Hasan Al Bashri. Tentunya ketika dia menjawab tersebut bukan ide yang muncul ketika itu, tapi sudah hal yang dia siapkan dan dia langsung pergi tanpa ragu-ragu meninggalkan Majelis Hasan Albashri. Ketika dia bikin kajian sendiri, datanglah seorang ahli ibadah, Amr bin Ubaid, seorang ahli hadis yang dia sangat zuhud. Kemudian dia gabung dengan Wasil bin Atha. Maka terjadilah firqah Muktazilah atau pemikiran Muktazilah ini akhirnya tersebar. Terlebih lagi ee Amr bin Ubaid seorang yang dikenal suka menangis, zuhud sampai ee penguasa senang sama dia. Karena sebagian ulama ee kalau ketemu penguasa dikasih-kasih ngambil. Kalau Amr bin Ubaid gak mau dia, dia enggak mau. Sehingga dikenal dengan zuhud. Karena dia zuhud, suka menangis, maka orang senang dengan ustaz yang seperti ini yang nangis zuhud. Ya, tapi zaman sekarang mungkin enggak. Sebaliknya mungkin ustaz yang necis malah disenangi ya. Tapi intinya intinya akhirnya pengikutnya jadi banyak. Nah, pembahasan itu namanya al-asma wal ahkam. Apa maksudnya al-asma? Maksudnya nama atau status. Status apakah dia kafir ataukah dia mukmin ketika dia melakukan dosa dosa besar. Muktazilah juga bagi dosa menjadi dua. Dosa kecil dan dosa besar. Kalau dosa kecil mereka enggak ada masalah. Tapi bagi mereka bagaimana jika seorang melakukan dosa besar statusnya di dunia apa namanya mukmin atau kafir? Kalau kita ahlusunah tetap mukmin bukan kafir tapi naqisul iman tapi imannya kurang. Selama dia bukan melakukan kekufuran maka dia masih statusnya mu mukmin hanya saja imannya ku kurang. Adapun muktazilah dia di tengah-tengah. Adapun khawarij pelaku dosa besar kafir. Khawarij pelaku dosa besar kafir. Ahlusunah mukmin tapi imannya kurang. Muktazilah tengah-tengah tidak mukmin tidak kafir. Tapi di antara keduanya disebut manzilah baina manzilatain. Adapun hukum maksudnya bagaimana? Hukum orang ini yang berstatus di antara tadi bukan mukmin bukan kafir maka hukumnya ada di dunia maupun di akhirat. Inilah yang dikenal dengan istilah para ulama. Masail yaitu masalah-masalah al-asma wal ahkam. Asma itu status dia. Hukum yaitu apa? Hukum yang berlaku padanya pada orang ini. Nah menurut Muktazilah pelaku dosa besar secara nama bukan muslim bukan juga kafir tapi apa? Fil manzilah bainal manzilatain. Yaitu antara mukmin dan kafir. Apa dong? Ya pokoknya begitu. Tidak mukmin, tidak kafir. Ini statusnya di dunia namanya demikian. Tidak kita panggil dia si mukmin, kita tidak panggil dia si kafir. Terus apa ya? Di antara kenapa tidak dikatakan mukmin? Karena orang mukmin Allah janjikan dalam Al-Qur'an orang mukmin itu akan begini begini masuk surga dan macam-macam. Sementara dia melakukan maksiat, gimana mau dijanjikan surga? Menurut mereka namanya orang mukmin itu harus sempurna. Dan orang mukmin itu dijanjikan surga. Sementara pelaku dosa besar tidak berhak mendapatkan janji tersebut. Tapi apakah dia kafir? Dia juga enggak kafir. Karena kafir ada aturannya. Melakukan dosa besar yang mengkafirkan, mengeluarkan dari iman. Sementara dia belum belum melakukan kekufuran. Kalau gitu nak bilang kita mukmin, gak bilang juga kita bilang dia apa? Ka kafir. Kalau gitu di tengah-tengah. Paham? Tentu ada syubhat mereka. Tapi saya gambarkan secara sederhana. Inilah akidah mereka disebut fil manzil bainal manzilatain. Di antara dua kedudukan. Paham? Jadi kalau menurut menurut khawarij, pelaku dosa besar hukum namanya apa? Kafir. Menurut ahlusunah mukmin tapi imannya ku kurang. Menurut muktazilah fi manzilah baina almanzilatain. Tidak iman, tidak kafir. Ini nama. Adapun hukum mereka bagi dua. Hukum di dunia dan hukum di akhirat. Adapun hukum di dunia mereka hukumnya seperti orang Islam. seperti orang Islam. Karena kita enggak bilang kafir. Kalau kafir hukumnya beda. Tidak boleh menikah dengan lelaki kafir. Kemudian tidak boleh memakan sembelihan orang kafir. Tidak boleh dikuburkan di kuburan kaum muslimin. Banyak berlaku. Kata mereka gak, dia belum kafir. Terus kalau belum kafir ya sudah kita ikutkan dengan hukum kaum muslimin. Dan ini mereka tidak komitmen. Harusnya mereka bilang hukum antara mukmin ataupun ka kafir hukumnya sebeda. Kenapa disamanakan hukum orang mukmin? Kalau mereka mau komitmen harusnya tidak dihukumi mukmin, tidak dihukumi kafir. Cuma mereka bingung nanti bikin fikih sendiri. Akhirnya mereka katakan di dunia hukumnya seperti hukum orang muslim. Seperti orang mukmin boleh dinikahi, boleh ee lelakinya boleh menikah dengan wanita muslimah, hasil sembelihannya boleh dimakan. Kalau di mati maka dikuburkan di pekuburan kaum muslimin. Hukumnya seperti orang Islam. Tetapi dia tidak kita katakan mukmin, tapi di tengah-tengah. Jadi di tengah-tengah tapi diikutkan dengan hukum muslim. Karena kalau harusnya mereka komitmen mereka bikin hukum sendiri. Tapi ini enggak ada dalilnya dan mereka harus bikin fikih sendiri. Tib. Adapun di akhirat kekal di neraka. Kekal di neraka. Kekal di neraka. Karena mereka sudah bilang Allah punya al-waid. bahwasanya mereka punya keyakinan pada sila eh sila ketiga apa namanya pada pokok yang ketiga alwa'du wal waid Allah harus menunaikan ancamannya dan Allah telah mengancam pelaku dosa besar masuk neraka dan Allah tidak boleh mengalah dari ancamannya tersebut oleh karenanya mereka kafir bukan kafir mereka harus kekal di neraka tetapi nerakanya lebih ringan daripada neraka orang kafir ini pun tidak komitmen. Harusnya mereka di satu tempat, tidak diazab dan juga tidak di surga. Di tengah-tengah nonton. Harusnya kalau mau komitmen di tengah-tengah. Iya enggak? Jadi mereka juga tidak komitmen. Kalau mau komitmen harusnya orang-orang Muktazilah mengatakan bahwasanya pelaku dosa besar tidak diazab dan juga tidak dapat nikmat di tengah. Tapi mereka mengatakan pelaku dosa besar kekal di neraka karena Allah harus menunaikan janjinya, ancamannya. Tetapi ee ancamannya karena Allah maha adil. Allah tidak menyamakan antara nerakanya pelaku dosa besar dengan nerakanya penghuni neraka orang-orang ka kafir. Paham? Paham ya? Tapi kekal. Bedanya kalau ee bedanya apa? Kalau hukum di akhirat menurut ahlusunah, Muktazilah dan Khawarij. Bedanya apa? Kalau Khawarij gimana? Kekal di neraka. Kafir. Kalau ahlusunah? Kalau Muktazilah kekal di neraka tapi lebih ringan dari neraka orang kafir. Kalau ahlusunah, pelaku dosa besar tahta masyiatillah. Sesuai dengan kehendak Allah. Kalau Allah ingin mengazab, Allah akan azab. Kalau Allah mengampuni, Allah mengampuni. Kalaupun Allah mengazab, akan suatu saat akan keluar. Akan keluar karena dia tidak kafir. Karena surga tidak bisa dimasuki kecuali oleh alkhairul mahd. Harus bersih. Sementara ee dia ternajisi dengan dosa-dosa, maka harus dibersihkan dulu di neraka jahanam. Kemudian nanti keluar jadi jahanamiyun, yaitu alumnus neraka jahanam. Gak usah pakai ijazah, masuk aja. Tayib. Jadi di akhirat ee itu ya namanya ahkam, hukum. Hukum berlaku bagi ee penghuni neraka. Ee penghuni neraka menurut Muktazilah pelaku dosa besar kekal. Ya. Tib. Adapun pokok yang kelima yang mereka namanya alam biluf w nahyu anil munkar, maka mereka melazimkan orang lain bahwa orang beriman harus menegakkan amar makruf nahi mungkar. Dan di antaranya yang mereka wajibkan adalah wajib memberontak kepada penguasa yang zalim. Harus, harus memberontak. Ada penguasa yang zalim harus diberontak. memang tidak kafir ini penguasa zalim ini fi manzilah bainal manzilatain. Tapi harus di dikuruj memberontak agar diganti dengan seorang hakim yang mukmin. Seorang hakim yang mukmin. Bedanya dengan khawarij sama-sama wajib memberontak. Tetapi khawarij mengkafirkan hakim yang zalim. Bedanya khawarij mengkafirkan hakim yang zalim dan harus dibunuh, harus diberontakin. Adapun Muktazilah enggak, dia tidak menggafirkan tapi dia mengatakan fi manzila baina almanzilatain. Tetapi dampaknya sama, sama-sama harus memberontak kepada penguasa yang zalim. Adapun ahlusunah wal jamaah, bagaimana? Bagi penguasa yang zalim tidak boleh diberontaki? Kalau dia perintahkan kebaikan, harus tetap taat. Kalau perintah keburukan, tidak boleh taat. Tetapi tidak taat tersebut tidak harus memberontak kepada penguasa yang zalim. Dan ini dalilnya begitu banyak. Dan inilah maslahat yang dilihat oleh syariat Islam sampai Allah mendatangkan imam yang lain atau penguasa yang yang lain. Ya, Ibnu Taimiyah menyebutkan bukti menunjukkan bahwasanya kebanyakan pemberontakan yang terjadi akan menimbulkan keburukan yang lebih parah, pertumpahan darah yang terus-menerus ti ada hentinya dendam kemudian dendam berikutnya dan seterusnya. Inilah yang disebut dengan al-usul khamsa indal muktazilah. Ya, lima pondasi menurut Muktazilah. Paham, Ikhwan? Insyaallah ya secara global demikian. Tib. Kemudian ee Alz Alliz bin Abdus Salam Al e apa nama? Ibnu Ablis al-Hanafi. Ibnu Abl alhafi setelah menyampaikan ini semua kemudian beliau berkata, "Ya, fahadzi usuluhumul khamsah." Inilah lima pokok mereka. Allati wadauha bi usulidinil khamsa allati bu biharusul. Mereka letakkan lima perkara ini sebagai oposisi bagi usul iman menurut ahlusunah wal jamaah. Kemudian beliau berkata, "Warofidah almutaakhirun." Dan rafidah Syiah yang belakangan itu imamiah. Jaalul usula arbaah. Mereka menjadikan usul empat. Ya, sebenarnya ada lima tapi mungkin yang masyur empat. Attauhid wal adl w nubuwah imamah. Ya, attauhid wal adil w nubuwah. Tauhid, keadilan, nubuwah, dan imamah. Wa usul ahli sunah tabiatun lima ja rasul. Adapun usul ahli sunah sesuai dengan apa yang dibawakan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Ya, yaitu rukun iman. Tiib. Kita selesai dari Muktazilah. Sekarang kita masuk ke Syiah tadi. Asul al-arbaah atau kita tambah yang kelima. Almaad ini ada satu, dua, 3, empat. Kalau al ee Ibnu Ablis Al Hanafi menyebutkan tentang empat pokok. Tapi kalau kita lihat buku-buku Syiah sekarang, mereka tambah yang kelima. Tapi enggak ada masalah karena yang maum tidak ada bedanya dengan ee ahlusunah secara umum ya. Oleh karenanya yang beda adalah empat ini ya. Tayib. Adapun tauhid ee pondasi yang pertama tauhid dan pondasi kedua adalah keadilan. Ini seperti Muktazilah persis. Jadi Syiah belakangan terpengaruh akidah mereka dengan Muktazilah dan Qadariah. Qadariah yaitu Muktazilah. Ya, Qadariyah. Muktazilah. Makanya Ibnu Taimiyah punya buku judulnya Minhajus Sunah Nabawiyah. Ya, Minhajus Sunah Nabawiyah fi ee kalami Syiah Alqadariyah. Ya, fi naqdhi kalami Syiah. Fi naqdi ya. fi naqdi kalami syiah alqadariyah yaitu judulnya minhajusun nabawiyah dalam memb memb membatalkan atau menghancurkan perkataan Syiah alqadar di sini Imam Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah mensifati Syiah dengan qadariah. Qadariah maksudnya Muktazilah tadi menolak qadar, menolak apa? Takdir. Sehingga Syiah sekarang kalau kita lihat akidah mereka tentang tauhid, tentang takdir, mirip dengan Muktazilah. Makanya mereka menolak rukyatullah. Mereka Allah tidak bisa dilihat pada hari kiamat kelak seperti Muktazilah. Bahkan sebagian Khawarij sekarang seperti Muktazilah seperti alibadiyah. Alibadiyah yang ada di Oman sama mereka juga seperti Qadariah, seperti Muktazilah. Untuk tauhid mereka menolak sifat-sifat Allah. Masalah ee adapun ee apa mereka sifat Allah makanya mereka terpengaruh dengan Muktazilah. Ah Syiah kalau tauhid seperti Muktazilah tadi kita sudah sebutkan menolak sifat-sifat Allah. Masalah adil maksudnya adalah takdir. Mereka menolak tak takdir seperti sudah kita jelaskan. Adapun nubuwah mirip dengan ahlusunah. Mungkin secara detail ada perbedaan. Tetapi yang mereka jadi menjadi pusat perhatian mereka, mereka pasang yang tidak ada pada yang lainnya. Kelompok yang lain itu alimamah. Keimamahan. Keimamahan. Ya. Dan keimamahan mereka tersebut ya mungkin kita bisa tambahkan beberapa poin. Yang pertama ini Syiah namanya Syiah Imamiah. Syiah Imamiyah terbagi atas dua. Ada Isna Asyari, ada Syiah Ismailiyah. Ya, Ismailiyah. Karena berbeda ada imam yang ke berapa harus Ismail. Ada khilaf di kalangan mereka. Tetapi mereka mengatakan bahwasanya imam hanya terbatas pada 12 orang. 12 orang tersebut dimulai dari Ali bin Abi Thalib, imam yang pertama, yaitu mereka tidak mengakui keimamahan Abu Bakar dan Umar dan Utsman. Tapi imam yang pertama setelah Nabi meninggal siapa? Ali bin Abi Thalib. Maka di sinilah ee di sinilah rahasia kenapa mereka harus ribut dengan Ahlusunah. Karena ahlusunah mengatakan imam yang pertama siapa? Abu Bakar. Imam kedua Umar. Imam ketiga Utsman. Imam keempat baru Ali. Sementara mereka meyakini harus pertama Ali. Siapa yang mengakui keimamahan tiga imam sebelumnya, berarti dia tidak berarti dia ee bertentangan dengan akidah imamiah. Maka mereka mengkafirkan orang-orang yang menyatakan sahnya keimaman Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Karena kalau kita meyakini keimamahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman itu sah, berarti batal akidah imamiah mereka. Jadi mereka mengatakan Abu Bakar, Umar dan Utsman telah merampas keimamahan dari Ali bin Abi Thalib. Ini karangan mereka. Ini khayalan mereka. Sehingga mereka mengatakan imam yang pertama harus Ali. Imam yang kedua kemudian siapa? Hasan. Kemudian Husein dan seterusnya. Sampai imam yang ke-12 Muhammad bin Hasan al-Askar. Muhammad bin Al Hasan al-Askar yang kata mereka ketika usia masih kecil 5 tahunan dia sembunyi. Dia sembunyi dan sampai sekarang belum keluar-keluar. Belum keluar-keluar. Jadi umurnya sudah panjang. Sudah berapa tahun gak tahu sudah 1000 tahun lebih kali ya. Sudah 1000 tahun lebih. Sudah sembunyi di goa ee sudah 1000 tahun lebih. Dan mereka mengatakan keimaman hanya 12 ini. 12 ini. Adapun imam yang lain itu hanyalah wakil. Hanyalah apa? Wakil ya? Utusan dari imam ini. Pertama. Yang kedua, mereka meyakini imam tersebut alismah maksum dari dosa besar maupun dosa kecil. Di sini pada poin ini mereka menurut ahlusunah mereka menyatakan berarti konsekuensinya konsekuensinya imam lebih afdal daripada nabi. Imam konsekuensinya imam lebih afdal dari nabi dari para nabi. Saya tanya sama antum, apakah para nabi mungkin terjatuh dalam dosa kecil? Mungkin sudah banyak terjatuh. Nabi Adam salah ya. Nabi Nuh ditegur Allah Subhanahu wa taala. Nabi Musa salah berinta ampun kepada Allah. Nabi Yunus salah. Banyak nabi-nabi salah. Tetapi begitu mereka salah langsung mereka kembali kepada Allah. Tapi artinya mereka mungkin terjatuh dalam dosa kecil. Adapun menurut kita ahlusunah, para nabi maksum dari dosa besar dan dari dosa-dosa yang ee menghinakan seperti enggak mungkin nipu atau apa itu enggak mungkin. Nabi enggak mungkin seperti itu ya. Tidak mungkin seperti itu. Tidak seperti dalam buku Taurat Nabi Daud alaihi salam lihat istri orang kemudian dia tertarik kemudian dia suruh suaminya suruh perang biar mati. Kemudian diambil apa? Istrinya. Bahkan dia zina kepada istrinya macam-macam. Jadi maksud saya, adapun ahlusunah wal jamaah bahwasanya para nabi maksum tidak mungkin melakukan dosa besar dan tidak mungkin melakukan dosa-dosa yang memalukan. Enggak mungkin meskipun dosa kecil ya. Tapi dosa kecil mungkin seperti Nabi Adam, Salah dan yang lainnya. Adapun mereka mengatakan para imam mereka yang 12 ini tidak boleh melakukan kesalahan. Gak gak mungkin mereka berdosa meskipun dosa kecil. Makanya mereka bingung ketika menghadapi sikap Al-Han. Al-Han radhiallahu anhu menurut kita adalah imam yang ke berapa? Yang kelima. Khalifah yang kelima. Yang pertama Abu Bakar, kedua siapa? Umar, ketiga Utsman, keempat Ali. Kemudian setelah Ali siapa? Al-Hasan. Dia hanya memimpin sekitar 6 bulan. Setelah itu dia lengser, dia menyerahkan kepemimpinan kepada siapa? Muawiyah. Ini bingung bagi orang Syiah. Hasan ini benar atau salah lagi? Kalau dibilang Hasan salah berarti tidak maksum. Kalau dibilang Hasan benar, berarti Muawiyah benar jadi imam, jadi khalifah. Sehingga mereka bingung di antara dua sikap ini. Mau bilang gimana? Bilang Hasan salah berarti kemaksuman imam selesai gak berarti hancur. Kalau mereka bilang Hasan benar berarti apa yang lakukan Hasan sudah benar. Berarti Muawiyah adalah pemimpin yang sah. Dan ini repot bagi mereka. Repot bagi mereka. Tib. Kemudian yang terkait dengan imamah juga ada almahdiyah. almahdiyah Imam Mahdi akan keluar yaitu Muhammad bin Hasan al-Askar ya. Muhammad bin Hasan al-Askar Imam Mahdi ini akan keluar imam yang ke-12. Imam ke-12 dan mereka meyakini imam tersebut akan muncul di akhir zaman. Jadi mereka menunggu keluarnya imam tersebut. Mereka nanti-nantikan. Ya. Adapun sekarang belum keluar. Yang keempat terkait dengan imamah. Kata mereka bahwasanya tidak tegak hari kiamat hingga Allah bangkitkan Ahlul Bait. Dan Allah bangkitkan musuh-musuh mereka. Lalu mereka qisos di qisas. Dan saya sudah tulis dalam buku saya ee 33 banyolan akidah Syiah. 33 banyolan akidah Syiah. Saya sebutkan bagaimana mereka meyakini nanti Imam Mahdi muncul. Setelah Imam Mahdi muncul maka Allah akan bangkitkan ee imam-imam Ahlul Bait yang dizalimi. Kemudian Allah akan bangkitkan Abu Bakar dan Umar. Kemudian akan dikisos Abu Bakar dan Umar. Dan Allah mungkin bangkitkan juga Aisyah kemudian dirajam karena berzina dan macam-macam. Mereka punya khayalan sendiri. Jadi mereka punya namanya hari kebangkitan kecil sebelum hari kebangkitan apa? Besar. Jadi bangkit dulu. Ini penjahat-penjahat yang menyerang Ahlul Bait dibangkitkan untuk di ditegakkan qisos. Setelah itu mati baru kemudian hari kebangkitan ee yang besar. Ya, ini keyakinan mereka namanya rajaah. Rajaah yaitu ada dikembalikan lagi ya sebelum adanya maad, sebelum adanya hari kebangkitan ya. ya sebelum adanya hari kebangkitan. Oleh karenanya mereka meyakini bahwasanya ee di antara disebutkan bahwasanya annubuwah lutfullah alkhas al-imamah lutfullah al'am. Kata mereka kenabian adalah kebaikan Allah yang secara khusus. yaitu tidak harus setiap zaman ada nabi. tidak harus setiap zaman ada nabi. Adapun keimaman Luthfulah alam'am yaitu kebaikan Allah yang setiap zaman harus ada imam. Gak ada imam kosong. Makanya sampai sekarang masih ada imamnya, cuma imamnya sembunyi. Imamnya se sembunyi ya. Sehingga mereka punya akidah baru ya ee yang disebut saya lupa fakih atau siapa gitu yang nanti datang ketemu dengan Imam Mahdi kemudian menjalankan perintah Imam Mahdi yang sedang sem sembunyi. Ya, wakil. Wakil ya wakil. Oleh karenanya kata mereka, "Siapa yang mengingkari keimamahan maka kafir. Lebih parah daripada mengingkari kenabian." Ya, karena ee apa namanya? Keimaman itu harus ada setiap saat. Inilah keyakinan mereka tentang imamah dan ini menjadikan ee ciri khas mereka. Ciri khas mereka. Dan di antara dampak daripada ini, ini konsekuensi pertama, imam lebih afdal daripada para nabi. Yang kedua, bahwasanya ada juga hadis-hadis imam. Hadis-hadis imam selain hadis-hadis Nabi ini jadi masalah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kalau kita yang yang hadis cuma nabi. Nabi adalah seluruh perkataannya, seluruh perbuatannya adalah sumber hukum. Karena Nabi maksum. Nabi maksum. Nabi kalau salah pun langsung ditegur oleh Allah. Gak mungkin dibiarkan oleh Allah. Pasti ditegur. Karena apa? Perkataan Nabi perbuatan syariat. Oleh karenanya kita menganggap sumber hukum kita bukan cuma Quran, tapi juga hadis-hadis apa? Nabi. Paham? Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Adapun Abu Bakar, Umar, dan ini tidak. Kata Imam Malik, semua orang bisa diambil, bisa diterima pendapatnya dan bisa ditolak kecuali penghuni kubur ini, kecuali Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Abu Bakar bisa ditolak, bisa dibantah oleh Umar. Umar bisa dibantah oleh Abu Bakar. Biasa zaman sahabat. Karena mereka tahu bahwasanya para sahabat tidak yang maksum. Tetapi menurut Syiah, seluruh imam mereka maksum. Gak mungkin salah. Kalau maksum konsekuensinya berarti perbuatannya dan perkataannya hujah, sumber hukum. Benar atau tidak? Karena ini konsekuensi kemaksuman. Makanya mereka ee mencatat perkataan-perkataan imam dalam buku-buku yang banyak. Seperti Alkafilul Qulaini, seperti contoh Biharul Anwar yang 100 jilid kalau tidak salah. Semua perkataan imam berkata Imam Albaqir berkata Imam ini Imam Jafar Asadiq Abu Abdullah berkata berkata, berkata, berkata, berkata banyak. Sehingga perkataan-perkataan tersebut juga menjadi hadis. Menjadi hadis seperti kita. Saya pernah diskusi sama orang Syiah gara-gara orang terpanggil saya dipanggil kemudian diskusi. Terus dia mengatakan kepada saya, "Tidaklah kita dia mungkin entah taki bilang beda kita cuma sedikit apa. Kita cuma kita sama Al-Qur'an sunah." Dia ngomong saya bilang, "E pak ustaz, saya bilang, "Pak Ustaz Syiah sebentar saya bilang, "Enggak usahlah Pak Ustaz bilang begitu." Jujur aja, bukankah Pak Ustaz punya hadis-hadis imam situ? Dia terdiam, dia harus ngakui. Bagaimana bersama kita dengan Anda, Pak? Kita punya sumber hukum Al-Qur'an dan sunah-sunahnya hadis Nabi doang. Anda hadis-hadis imam dan hadis imam lebih banyak daripada hadis Nabi. Imamnya 12 masalahnya Nabi cuma satu ini imam 12 hadisnya banyak. Gimana mau jadi sama? Nah, di sini terdiam. Dia tidak, dia tidak, dia tidak takiah ketika itu. Ya. Terus bagaimana mau apa namanya bergabung antara sunah dan syi sementara sumber hukumnya ber berbeda belum akidahnya juga berbeda. Maka ini yang menjadi isu di kalangan Syiah tentang ima al-imamah. Al-imamah adalah seperti rukun iman mereka. Siapa yang mengingkari maka kafir ee mereka menganggap ini suatu perkara yang sangat penting dalam agama mereka. Tib al-fun almaad sama yaitu al alis albasu aljismani tib berapa menit lagi kita di sini singgung kita tutup pembahasan kita secara ringkas tentang aliman bil malaikah. Saya bacakan aja malaikat. Di antaranya pentingnya menurut Rafidah, imam-imam mereka lebih afdal daripada malaikat. Imam mereka lebih afdal daripada malaikat. Tayib. Saya bacakan ya. Wa ammal malaikatu. Ya, kata Ibnu Abis Al-Hanafi dalam kitabnya syarah akidah Thahawiyah. Adapun malaikat menurut ahlusunah wal jamaah karena kita sedang berbicara iman kepada malaikat, kepada para rasul, kepada kitab-kitab suci. Iman kepada malaikat. Malaikat adalah makhluk-makhluk Allah yang ditugaskan di langit dan di bumi. Setiap pergerakan di alam maka adalah timbul dari pergerakan malaikat atau pekerjaan aktivitas malaikat. Itu ke atas perintah Allah. Allah berfirman, "Fal mudabbirati amro." Dan demi malaikat-malaikat yang mengatur urusan-urusan. Ada malaikat ngatur awan, ngatur hujan, ngatur tumbuhan, ngatur banyak makhluk diatur oleh malaikat. Fal muqasimati amr dalam surat azzariyat sama yang membagi-bagi urusan atas perintah Allah Subhanahu wa taala. Ya. Adapun inilah mereka adalah malaikat yang mengatur segala urusan menurut ahlul iman dan pengikut para rasul. Adapun para pendusta yang mengingkari para rasul mereka mengatakan yang mengatur adalah bintang-bintang. Al-Qur'an dan Asunah telah menunjukkan tentang dalil-dalil akan banyaknya model-model malaikat, kelompok-kelompok malaikat. Dan bahwasanya mereka ditugaskan untuk mengurusi banyak kelompok-kelompok makhluk. Contohnya Allah Subhanahu wa taala menugaskan malaikat untuk ngurusi gunung. Ada yang malaikat ditugaskan untuk mengurusi awan. Seperti dalam hadis, ada awan suruh pergi oleh malaikat suruh pergi ke kebun seseorang, meninggalkan kebun orang lain menuju kebun seseorang. Kenapa? Karena orang tersebut ternyata suka bersedekah. Jadi awan hujan tadi pergi ke kebunnya si fulan. Siapa yang perintahkan? Malaikat. Demikian juga hujan yang ngatur adalah malaikat. Dan ee kemudian ee malaikat juga mengatur urusan nutfah ya sampai sempurna bentuknya menjadi manusia ya. Kemudian malaikat juga ditugaskan oleh Allah untuk mencatat perbuatan manusia dalam catatan. Dan malaikat juga ditugaskan untuk mencabut nyawa manusia. Malaikat juga ditugaskan untuk bertanya kepada manusia dalam kuburan. Itu malaikat munkaran apa? Nakir. Malaikat juga ditugaskan untuk mengurusi apa namanya planet-planet ya menggerakkannya ya. Seperti arsy saja ada yang memikul. Malaikat memikul apa? Arsy. Malaikat mengurusi matahari, mengurusi rembulan ya. Dan malaikat ditugaskan untuk menjaga neraka dan untuk menyalakan api neraka dan juga ditugaskan untuk menyiksa penghuni neraka. Ya. Dan juga malaikat ditugaskan untuk ngurusi surga, penjaga surga untuk menanami surga dengan tumbuhan-tumbuhan dan lainnya ya. Dan malaikat adalah pasukan Allah yang paling agung. Di antaranya almursalatu urfa wasirati nasr. Allah sebut dalam Al-Qur'an tentang sifat-sifat malaikat. Di antaranya wal mulqiyati zikra banyak ya. Dan di antara malaikat ada yang nazi garqo yaitu mencabut nyawa dengan keras. yang mencabut nyawa dengan lembut yaitu nyawa orang beriman. Wasabihati sabaha yang bergerak dengan cepat dari langit ke bumi. Begitu cepatnya dalam waktu sekejap mereka turun dari langit ke bumi kembali ke langit waktu sekejap yang tidak bisa dilakukan oleh manusiaq yang berjalan dengan lebih dahulu cepat. Di antara mereka asofatifa yang bersafsaf mereka bersaf-saf. Kata Nabi, "Tidak kalian bersaf seperti malaikat bersaf-saf di hadapan Allah. Mereka bersaf. Fazajirati zajr malaikat yang melarang untuk melakukan perkara-perkara maksiat. Memberi peringatan kepada hamba Allah. Jangan lakukan. Jangan lakukan. Berupa bisikan-bisikan. Fataliatiik malaikat yang membaca bertilawah. Ya. Dan ini semua adalah ciri-ciri malaikat. Di antara malaikat adalah malaikat rahmat. Di antara malaikat malaikat rahmat yang menerima. Kalau malaikat maut sudah cabut nyawa orang beriman, dia serahkan kepada malaikat rahmat. Ada malaikat azab dicabut oleh malaikat maut diserahkan kepada malaikat azab. Orang kafir dan pelaku maksiat. Ada malaikat yang ditugaskan untuk memikul arsy Allah subhanahu wa taala. Dan ada malaikat banyak ditugaskan untuk mengisi langit untuk diibadahi. Langit penuh dengan ibadah. Ada yang tasbih, ada yang salat, ada yang rukuk, ada yang mensucikan Allah. Banyak. Kata Nabi, wahuqhata. Terdengar suara langit krek dan pantas berhak dia untuk terdengar suara tersebut. Kenapa? Karena tidak ada ukuran empat jari kecuali ada malaikat di langit. Sangat banyak. Ada yang bertasbih, ada yang rukuk, ada yang sujud beribadah kepada Allah. Dan begitu banyak malaikat yang tidak ada yang tahu kecuali Allah. Wama yal'lamujabbika illa hu. Tidak ada yang tahu jumlah malaikat kecuali siapa? Allah Subhanahu wa taala. Tib azan tib. Ee kita lanjutkan malaikat ada pendapat ya, ada yang mengatakan dari maklak kemudian jadi malak dan maklak dari alaluka artinya risalah. Sehingga perkataan malak sendiri malaikat yaitu mursal itu dikirim dia utusan Allah subhanahu wa taala. Dan lafal ini lafal malaikat atau utusan menunjukkan dia menjalankan yang perintah yang mengututusnya. Sehingga Allah menyatakan bahwasanya dia tidak pernah melewati perintah Allah. Kata Allah, "La yasbiquunahu bilqul wahum biamri yamun yammalun." Mereka tidak pernah mendahului Allah dalam perkataan. Gak pernah. Gak pernah melewati sedikit pun. Tidak pernah mendi Allah dalam perkataan. Dan mereka menjalankan perintah Allah. Ya. Kemudian wfa dan mereka tidak bisa beri syafaat kepada seorang pun kecuali yang diridai oleh Allah. Wah. Dan mereka takut kepada Allah Subhanahu wa taala. Dalam ayat yang lain mereka takut kepada Allah yang ada di atas mereka yarun. Dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan oleh mereka. Maka mereka adalah hamba-hamba Allah yang mulia. Allah sebutkan bal ibadu mukramun. Malaikat adalah hamba-hamba tapi yang dimuliakan. Allah sebutkan kemudian mereka dalam beberapa ayat di antaranya balramun kata Allah subhanahu wa taala halaka hadi ibrahimal mukramin tidak akan datang kepadaan tamu-tamu nabi ibrahim yang mulia maksudnya para malaikat Allah juga berfirman e kiraman bararah ya ee apa namanya kiraman katibin mereka adalah melihat-malaikat yang mulia yang menulis qiramim bararah yaitu yang malaikat-malaikat yang mulia dan baik jadi mereka disifati dengan hamba-hamba yang mulia di antara Mereka ada yang bersaf-saf. Di antara mereka ada yang bertasbih kerjanya. Dan setiap mereka lahuma maklum ada tugas masing-masing yang Allah tugaskan. Tidak mereka tidak melewati tugas tersebut. Allah sudah ciptakan dengan tugas tertentu. Ya. Maka mereka bekerja sesuai dengan perintah kadar yang diperintahkan. Mereka tidak kurangi dan mereka tidak melampaui ya. Dan ee dan mereka yang sangat dekat dengan Allah tidak tidak sombong. Mereka tidak sombong untuk beribadah kepada Allah. Mereka tidak pernah letih untuk beribadah kepada Allah. Yusabbihuna wahurun. Mereka beribadah tidak pernah letih, tidak pernah capek, tidak pernah bosan. Kita manusia capek, bosan dan macam-macam. Maksiat mereka tidak. Dan ruasauhum bos-bos mereka atau pemimpin-pemimpin mereka, mungkin bos kurang pas, pemimpin mereka yang paling mulia antara mereka tiga. Jibril, Mikail, dan Israfil. Apa kestimon Jibril, Mikail, Israfil? Mereka malaikat tiga ini di ee ditugaskan untuk urusan kehidupan. Adapun Jibril diberi tugas untuk menurunkan wahyu dan itu kehidupan hati, kehidupan iman, kehidupan roh. Adapun Mikail ditugaskan untuk urusan hujan dan itu beri kehidupan bagi bumi dan seisinya hewan, bumi, manusia. Dan adapun israfil ditugaskan menup sangkakala untuk menghidupkan manusia yang sudah mati untuk dihisab oleh Allah subhanahu wa taala. Dan malaikat adalah utusan Allah Subhanahu wa taala. Dan mereka adalah safir-safir utusan Allah antara Allah dengan hamba-hambnya. Mereka datang ke bumi kemudian naik ke atas lapor kepada Allah Subhanahu wa taala. Saking begitu banyaknya malaikat sampai terdengar suara krek dari langit seperti kalau orang sudah taruh barang banyak di atas unta tiba-tibunya krek berarti sudah full dan pantas terdengar suara tersebut. Ma fiq. Karena tidak ada satu empat jarak, empat jari di atas langit kecuali ada malaikat yang berdiri atau sedang rukuk atau sedang sujud kepada Allah subhanahu wa taala. Saking banyaknya mereka bait makmur minhuman alaihim. Setiap setiap hari ada 70.000 ya malaikat yang masuk ke Baitul Makmur. Kalau mereka sudah masuk, mereka tidak pernah ee masuk kedua kali ya. Kalau mereka sudah keluar selesai. Menunjukkan setiap hari ada 70.000 malaikat yang baru. Setiap hari ada 70.000 malaikat. Berarti sekarang sudah berapa jumlah malaikat? Banyak. Enggak tahu. Al-Qur'an penuh dengan menyebutkan malaikat dan macam-macamnya kedudukan-kedudukannya. Terkadang digandingkan dengan nama Allah Subhanahu wa taala, terkadang digandingkan selawat Allah dengan selawat malaikat. Ya, terkadang dinisbahkan kepada Allah Rasulullah ya, dinisbahkan kepada Allah Subhanahu wa taala di tempat-tempat pemuliaan ya dan seterusnya ya. Dia sebutkan tentang sifat-sifat malaikat. Kemudian ee dia berkata panjang saya tidak ingin terjemahkan semua ya. Kata beliau, waqallamas mufalik basar. Para ulama ada orang yang bahas mana yang lebih utama, malaikat atau manusia yang saleh? Dan dinisbahkan kepada ahlusunah bahwasanya orang saleh lebih afdal daripada dari orang saleh dan nabi lebih afdal daripada malaikat. Dan menurut disibahkan kepada Muktazilah, malaikat lebih afdal. Dan pengikut mazhab Asy'ari ada dua pendapat dan seterusnya. Adapun orang Syiah berkata, "Seluruh imam lebih afdal daripada seluruh malaikat." Intinya dia kemudian sebutkan, dia mengatakan, "Wakuntatu filamil masalah." Kata Ibnu Abil Is Alanafi, "Saya tadinya ragu membahas masalah ini. Lebih afdal orang saleh atau malaikat karena pembahasannya sedikit ya, tidak faedahnya tidak banyak." Waaha qoribun mimma yni ya. Waaha qib dan dia mungkin perkara tidak ada tidak ada faedah tidak terlalu terlalu banyak ya oleh karenanya tapi saya bahas ya kenapa dia mengatakan saya bahas ya saya dia sebutkan panjang lebar tentang dalil-dalil yang mengutamakan malaikat lebih afdal yang mengatakan manusia lebih afdal kemudian dia mengatakan di akhir sebentar Paham perdebatan antara yang mendahulukan malaikat, mengutamakan malaikat dan dia sebutkan dialog ya panjang lebar sebentar sebentar. Intinya dia menyatakan tidaklah saya bahas ini karena saya mendapati ada sebagian orang yang tidak beradab kepada malaikat. Sampai ada yang mengatakan malaikat apa? Khadamul basyar atau malaikat adalah pelayan manusia. Saya makanya saya bahas ini untuk menunjukkan bagaimana keutamaan malaikat untuk membantah orang yang tidak beradab mengatakan malaikat adalah pelayan apa? Manu manusia. Sebentar dia mengatakan sini wahamalani ala bastil kalam huna. Kenapa saya bahas panjang lebar dan bahas panjang sekali ba jahilin yusiun adab biquim karena sebagian orang tidak beradab kepada malaikat mereka berkata kanal malaku khadiman linabi. Malaikat adalah pelayan nabi. Atau mereka mengatakan inna baik khudamu bani Adam. Bahwasanya sebagian malaikat adalah pelayan bani Adam. Yaitu mereka menyatakan malaikat yang ngurusin catat-catatan perbuatan manusia. Ini perkataan yang wahwiik minal alfil mukfar. Lafal-lafal yang menyelisihiri syariat almujanibati lil adab dan jauh daripada adab. Sementara Allah ketika menyebut malaikat dengan pemuliaan enggak? Pemuliaan dengan muliakan bagaimana takwa mereka dan macam-macam. Malaikat adalah pelayan manusia. Maka saya singgung ini agar kita berhati-hati. Karena zaman ini sebagian orang tidak beradab dengan malaikat. Kadang malaikat dijadikan lelucon. Tapi ada yang bilang ada orang melakukan demikian. Malaikat bingung mau catat nih apa ini? Ini kebaikan atau keburukan? Malaikat aja bingung. Dari mana dia tuh? Dia bilang malaikat bingung. Ini maksudnya tidak jangan ngomong seperti itu. Atau bercanda tentang malaikat penjaga neraka dijadikan candaan. Malaikat surga dijadikan apa? Candaan. Ya. Atau seperti ada sebagian wanita yang protes. Istri seorang kiai kemudian protes ketika mendengar hadis kalau wanita tidak melayani suaminya tanpa alasan kemudian malaikat melaknatnya sampai subuh. Kata dia, "Apa urusan malaikat dengan urusan rumah tangga orang? khusnya ini perkataan yang tidak pantas ya tidak pantas ya. Oleh karenanya kita harus beradab kepada para malaikat dan di antara iman iman kepada malaikat di antaranya beradab kepada mereka tidak jadikan mereka sebagai bahan apa? Lelucon. Ya. Orang-orang kafir dahulu aja memuliakan malaikat sampai mereka mengatakan, "Wahai Rasul, kalau kamu mau beriman sama kamu, datangkan malaikat." Mereka saja dulu beradab kepada apa? Malaikat. Kita sekarang tidak beradab dengan malaikat. Dan sebagian orang kafir menggampangkan malaikat seperti siapa? Abu Jahal. Abu Jahal sombong. Dia mengatakan ketika Allah berfirman, "Alaiha tisata asar." Di neraka ada 19 malaikat. Kata Abu Jahal, "Tenang, 10nya saya yang lawan. Kalian 9 bagi-bagi. Cuma 19 sedikit saya lawan 10 katanya." Ini apa? Sok ya Tib. Demikian saja kajian kita. Wabillahi taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Subhanallah.