Kitab Riyadush Shalihin #2-85: Bersikap Lemah Lembut Dalam Segala Urusan
VXnoNVvbFME • 2025-08-11
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Alhamdulillahi alukrulahu taufiqihin asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahu wa asadu anna muhammadan abduhuasul ridwani allahumma sholli alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Kita masih melanjutkan bab ke-74 bab alhilm wal anah wari riifaq. Bab tentang alhilm dan al-anah yaitu tidak tergesa-gesa dan rifq yaitu kelembutan. Hadis berikutnya. Aisyata radhiallahu taala anha qalat dari Aisyah radhiallahu anha beliau berkata qala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam rasul sahu alaihi wasallam bersabda innallaha rofiqun yuhibbur riifqo fil amri kullihi muttafaqun alaih suungguhnya Allah adalah rafik maha lembut dan Allah menyukai kelembutan dalam segala urusan dalam segala urusan ini dalil bahwasanya hukum asal seorang ketika ketika ee bermuamalah atau bersikap dalam kegiatan apapun hendaknya dia bersikap lemah lembut. Selama bisa ditempuh dengan kelembutan, maka jangan dia berusaha mencari jalan yang lain dengan sikap keras atau kasar. Dan bahwasanya sikap keras adalah hukum ee keluar dari hukum asal itu dalam kondisi darurat atau mendesak baru seorang kemudian mengambil sikap keras atau kasar. Namun hukum asal selama segala perkara bisa di tempuh dengan kelembutan maka hendaknya ditempuh dengan kelembutan. Kenapa? Karena Allah rafiq maha lembut. Dan Allah mencintai kelembutan amri dalam segala urusan. Urusan dengan keluarga, urusan dengan pekerjaan, urusan dengan anak buah, urusan dengan apapun kalau bisa ditempuh dengan kelembutan, maka lakukanlah dengan kelembutan. Dan demikian banyak sifat-sifat Allah yang Allah bernama dengan sifat tersebut dan Allah mencintai ee sifat tersebut seperti innallaha jamil yuhibbul jamal. Allah maha indah. Allah suka dengan keindahan. Innallaha rofiq. Sesungguhnya Allah maha lembut. Yuhibur rifqa dan Allah mencintai kelembutan. Di antaranya Allahumma innaka afuun tuhibbul afwa. Sesungguhnya Engkau adalah maha pengampun maka engkau mencintai pengampunan. Faufu anni maka ampunilah aku. Ee demikian juga ya ee banyak sifat-sifat ya yang Allah bernama dengan sifat tersebut. Allah menyukai kita berakhlak dengan sifat tersebut. Ya, berakhlak dengan sifat tersebut yaitu meniru akhlak tersebut seperti tadi ee riifq dan yang lainnya. Kemudian hadis berikutnya wa anha dari Aisyah radhiallahu anha an Nabi sallallahu alaihi wasallam rasul sahu al wasallam bersabda innallaha rofiquun yuhiburifq sesungguhnya Allah maha lembut dan Allah suka dengan kelembutan alifqi yti alal unf dan Allah memberikan kebaikan pada kelembutan apa yang Allah tidak berikan pada sikap keras w la yuti ala ma siwahu dan Allah tidak sebagai dan Allah tidak memberikan kepada selain arif fqah. Jadi ee di balik kelembutan pasti ada banyak dampak kebaikan. Karena di sini Nabi berkata, "Wau al rifqi ma la yuti alal unf w la yuti ala ma siwahu." Ya Allah ketika orang bersikap lembut maka Allah akan berikan sesuatu yang Allah tidak berikan pada sikap-sikap yang lainnya. Di antaranya sikap kekerasan atau sikap yang yang lainnya. Ini menunjukkan bahwasanya kelembutan punya dampak positif yang banyak yang mungkin terkadang tidak kita duga. Ternyata di balik kelembutan tersebut banyak kebaikan. Sebagian orang menyangka terkadang datang ee bisikan dalam hatinya untuk bersikap keras. Dia menyangka dengan sikap keras tersebut akan mendatangkan kebaikan. Ternyata tidak demikian. Ya, bukan berarti kita melarang sikap keras atau tegas. Namun kita katakan sikap itu keluar dari hukum asal ya. Nabi sallallahu alaihi wasallam juga terkadang tegas ya. Tapi hukum asal Rasul Sallahu Alaihi Wasallam selalu bersifat apa? Lembut ya. Hukum asal ya. Demikian pula dalam bermuamalah kita hukum asalnya dengan kelembutan terhadap istri, terhadap anak, terhadap pembantu, terhadap anak buah ya terhadap orang-orang yang mungkin bisa kita kasari namun kita pilih untuk bersikap lembut. Yakinlah bahwasanya di balik itu ada keberkahan. Allah akan berikan banyak kebaikan yang Allah tidak berikan kalau kita bersikap dengan sikap yang yang lain sebagaimana tadi ee janji Nabi sallallahu alaihi wasallam. Demikian juga ee hadis berikutnya, hadis ke Aisyah juga dari Aisyah radhiallahu anha waha an Nabi sallallahu alaihi wasallam q Rasul sahu alaihi wasallam bersabda inifq launu fiin illa zanah sungguhnya kelembutan tidaklah menempel pada sesuatu kecuali akan menghiasinya wala yunza minai illa tidaklah kelembutan dicabut dari suatu kecuali akan merusaknya hadis riwayat Muslim rawahu Muslim maka ini juga menegaskan apa yang telah kita sampaikan sebelumnya bahwasanya ee sikap lembut ee pasti mendatangkan keberkahan dan akan menghiasi segala sesuatu yang dicampuri dengan kelembutan. Tapi kalau kelembutan dicabut maka akan ee merusak. Maka akan merusak. Tapi kita sekarang praktik misalnya kita sama istri kalau bisa lembut ngapain kita keras? Kita ingin memberi nasihat kalau bisa lembut ngapain kita kasar. Kalau bisa lembut, kenapa kita harus tegas? Selama bisa lembut, kita bilang lembut, insyaallah ada dia bisa mendengar dengan baik. Maka tempuhlah kelembutan tersebut. Pasti akan menghiasinya. Ya, tentu istri ketika mendapat nasihat dengan kelembutan lebih terkesan pada dirinya daripada kalau dengan sikap keras. Ya, meskipun boleh seorang keras boleh. Ya, sebagaimana kita ketahui ee boleh. Kalau istri sudah nasihati tidak mau mendengar, diboikot, tidak mau mendengar, maka boleh dipukul ya. Lakin akan tetapi dorban gir mubar pukulan yang tidak memberi bekas. Ya. Akan tapi rasul sahu alaihi wasallam mengatakan, "Khiarukum laadrib." Para suami yang baik di antara kalian tidak memukul meskipun boleh, tetapi yang terbaik adalah tidak memukul. Kalau istri bisa diperbaiki tanpa pukulan, itu yang terbaik dan dampaknya akan baik. Tapi kalau tidak bisa ya memang mau apalagi bisa boleh dengan memukul. Tapi maksud saya selama bisa diperbaiki tanpa harus dengan kekerasan, maka itu yang menjadi pilihan. Demikian terhadap anak-anak. Terkadang setan membayangkan pada kita kalau kita kasar, kita keras, kita pukul, kita cubit, kita gampar, anak ini akan menjadi baik lebih cepat. Perasaannya seperti itu. Tapi ternyata menjadi sangar. Ya, lama-lama sering dipuku, lama-lama menjadi kebal. Ya. Ya, lama-lama menjadi kebal. Sampai ada seorang anak saya kenal dia seh sekarang jadi ya apa namanya? Dia sekarang jadi orang berilmu. Masyaallah. Dulu sering dipukul sama orang tuanya sampai dia jengkel dia bawa pisau. Sekalian ya katanya sekalian ya. Akhirnya ayahnya berubah kemudian dia alhamdulillah menjadi orang yang sangat yang sangat baik. Ya mau saya kalau kita sering keras, sering kasar anak-anak akhirnya apa yang kita lakukan dia tidak anggap lagi karena hal sudah biasa. dampaknya buruk. Di kemudian hari dampaknya buruk dan anak-anak akan teringat terus, "Bapak saya jahat, ibu saya jahat dan itu berdampak di kemudian hari. Oleh karenanya sebisa mungkin bisa ditempuh dengan cara lembut, lakukan." Selama masih bisa ini lembut, insyaallah berhasil, lakukan. "Tidaklah kita keluar dari hukum asal kecuali darurat. Kecuali ini enggak bisa lagi dengan sikap lembut, harus segar, harus kasar, maka tidak tidak mengapa. Tidak mengapa." Ya, bahkan sebagian ulama mengatakan kalau kita kasar bahkan terhadap benda-benda mati pun kadang merusak ya. Kita kalau perbaiki sesuatu dengan kasar-kasar rusak. Harusnya pelan-pelan kita malah kasarnya malah apa? Rusak. Terburu-buru kasar jadi rusak. Harusnya pelan-pelan kita perbaiki tapi karena kita kasar jadi rusak. Baju mau kita perbaiki tapi kita kasarin ternyata robek. Harusnya bisa dibersihkan dengan apa? Pelan-pelan. Tapi kalau kita kasirin bisa bisa robek ya. Ya. Bagaimana lagi hati wanita dikasarin bisa apa bisa robek ya. Oleh karenanya hukum asal dalam segala hal innallaha yuhibbur riifqo fil amri kullihi. Allah menyukai sikap lembut dalam segala urusan. Kita mau bertemu dengan orang, mau kita nasihati. Selama perkiraan kita lembut, masih bisa kita tempuh jalur kelembutan, maka gunakan jalur tersebut dalam segala hal. Dalam segala kita mau marah sama misalnya supir atau pembantu, kita pikir dulu saya kalau lembut bisa enggak berhasil? Bisa enggak saya datangi dia kemudian saya ajak ngobrol baik-baik? Kalau bisa lakukan. Jangan berpindah kepada sikap kasar. Karena di balik kelembutan pasti ada keberkahan sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Demikian juga orang yang mendengar dia hatinya lebih tenang, lebih tentram ya dan dampak setelah itu ya lebih baik ya. Berbeda dengan kasar tegas mungkin selesai di depan kita saat itu tapi belum tentu dampaknya baik. Tib. Maka kata Syekh Utsimin rahimahullahu taala di sini beliau berkata ya eh fafihilu alakunal insanuq fi jamiuni hadis ini menunjukkan motivasi agar seorang lembut dalam segala urusannya roiqon fi muamalati ahlihi hendaknya dia lembut ketika bermuamalah dengan istrinya wafi muamalati ikhwanihi dan juga ketika bermuamalah dengan saudara-saudaranya ya saudara-saudara kakak Kak, adik ya. Kadang-kadang mentang-mentang kita sudah punya duit, dia enggak punya duit atau kita memiliki jabatan dia enggak punya atau dia akhirnya kita kadang-kadang tidak lembut kepada saudara padahal mereka lebih utama untuk kita lembuti. Wafi muamalati asdiqi demikian juga terhadap kawan-kawan ya berusaha untuk lembut. Wafi muamalati amatinas yarfuqu bihim dan secara umum kepada seluruh manusia. Kenapa? Karena fainnallah azza waalla rofiquun. Karena Allah Subhanahu wa taala mencintai kelembut adalah maha lembut dan dia mencintai kelembutan. Kudan beliau berkata, "Final amal yajidatan." Karenanya jika seorang bermuamalah dengan orang lain dengan kelembutan, dia mendapati dalam dirinya ada kelezatan dan ada kelapangan dada. Beda kalau dia marah-marah artinya jadi sempit dadanya, jadi sempit dia juga jengkel. Ya. Waidza amalahum bisiddati wal unfi nadim. Kalau dia sikapi orang dengan keras dan kasar, kadang dia menyesal. Ya. Kemudian dia berkata, "Seandainya aku tidak keras terhadap mereka, tetapi sudah sudah terlambat." Ya, oleh karenanya, siapa yang bermuamalah dengan orang lain dengan kelembutan, dia akan mendapatkan kelezatan, ketentraman, kebahagiaan Allah berikan kepada hatinya. Ingat, di balik kelembutan banyak sekali keberkahan. Datang setan bilang keras. Keras. Auzubillah minasyaitanirrajim. Ya, lembut. Lembut. Hukum asal lembut. sebisa mungkin lembut kecuali memang kondisi mengharuskan untuk bersikap tegas dan keras dan itu keluar dari hukum asal bab kita lanjutkan hadis berikutnya. Wa Abi Hurairat radhiallahu anhu qala dari sahabat mulia Abu Hurairah radhiallahu anhu beliau berkata, "Bala a'abiyun fil masjid." Ada seorang Arab Badui kencing di masjid. Faqomasu ilaihi liyaq fihi. Maka orang-orang pun bangkit menuju dia untuk memarahinya atau mencegahnya. Ya faqala Nabi sallallahu alaihi wasallam. Rasul wasallam bersabda, dauhu biarin dia. Biarin dia lanjutkan kencingnya. Waquillan min dan tuangkanlah seember air ke kencingnya tersebut. Atau ember yang besar berisi air dituangkan di bekas kencingnya tersebut. muyirin. Sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan walam tubatu muassirin dan kalian tidak diutus untuk menyusahkan. Hadis riwayat al Imam albukhari. Ee di sini ee Al Imam Nawawi bawakan satu hadis dari Abu Hurairah tentang kisah seorang Arab Badwi. Arab Badui disebut dalam bahasa Arab a'rabi. Apa? Al-A'rabi. Jamaknya al-A'rab. Adapun Arabi jamaknya al-Arab ya. Jadi Arabi maksudnya nisbah kepada suku Arab lawannya ee A'jami. Kalau Arabi ee zamannya adalah al-Arab al A'jam al-Ajam ya. Adapun Arab Badwi bahasa Arabnya A'rabi. Al-A'rab jamaknya bukan Arab tapi al-A'rab. Al-A'rab. Jadi kalau dibilang ente kayak A'rabi jangan bahagia. Kalau ente kayak orang Arabi ah itu I kayak orang Arab mungkin keren. Tapi kalau ente kayak orang A'rabi berarti Arab Badu Badui ya. Kayak orang Arab tapi Arab Badui ya. Ee orang Arab Badui tentunya mereka tinggal di kampung jauh dari ee kota sehingga ilmu jarang sampai kepada mereka dan mereka terbiasa terikat dengan tradisi mereka hidup suka-suka. Makanya mereka kalau mau kencing di mana aja kencing kencing ya. Tidak mikir panjang ya. Karena mereka tinggal di pedalaman ya sehingga terbiasa dengan melakukan apa yang bisa mereka lakukan ya. Makanya Allah mencela orang-orang Arab Badui. Kata Allah al'u asyaddu kufran wa nifaqan wa ajadru all yamuhudama anzallahu ala rasulihi. Ya, di antara orang Arab Badui ada yang sangat kafir dan sangat munafik dan tidak mengetahui batasan-batasan apa yang Allah turunkan kepada rasul-Nya. Itu mereka tidak ngerti tentang banyak hukum syariat karena jauhnya mereka dari dari ilmu. Arab Badui ini masuk ke masjid. Ya, Arab Badui ini masuk ke masjid. Makanya Arab Badui ee kalau mau kencing di mana saja kencing. Arab Badui kalau panggil Rasulullah tidak panggil Rasul, panggilnya Muhammad. Ya Muhammad ya. Ya. Kalau para sahabat enggak ada yang berani, pasti manggilnya apa? Ya Rasulullah, ya Nabi Allah. Allah saja kalau panggil Rasulullah enggak pernah ya Muhammad. Allah panggil ya Nabi ya Rasulullah. Tapi Arab Badui cuek ya Muhammad. Ya. Jadi kalau ada yang panggil-panggil langsung, "Eh, fulan Badui." Berarti kiai dipanggil langsung namanya, "Oh, Badui biasa." Boleh, boleh itu Badui boleh. Ee dan mereka kalau bertanya juga tidak pekaiwuh mereka langsung tanya. Makanya datang dalam hadis para sahabat senang kalau ada Arab Badwi datang. Kenapa? Sebentar lagi Arab Badwi bakalan tanya. Kalau sudah tanya pasti Nabi menjawab dan pasti jawaban Nabi penuh dengan ilmu. Ya. Bahkan ada Arab Badui dikasih hadiah. Kamu nanya saya kasih hadiah. Ya karena mereka kalau mau tanya langsung nanya aja gak sungkan-sungkan. Arab badwi. Sahabat kenal Nabi enggak enak, malu, pekaiwu, kadang mau nanya nunda-nunda. Ya. Arab Badui terkadang menguntungkan. Oke. Di sini Arab Badui datang kemudian dia pun kencing ya. Eh, fabala fiftatil masjid. Sebagai riwayat fabala fial masjid. Dia kencing di pojokan masjid itu dia ada malunya sedikit dia yang agak mojok tertutup sebagian ya. kencing mungkin dia duduk langsung dia kencing ya. Tapi orang lihat semua ya di pojok mana? Wallahualam ya. Dan ini Masjid Nabawi bukan masjid Baiturrahman ya. Tapi insyaallah dia enggak kencing di Raudah bukan ya. Tapi maksudnya dia kencing di salah satu pojok Masjid apa? Nabawi. Ya ada Nabi lagi di situ. Entah Nabi lagi ceramah, entah Nabi lagi kumpul-kumpul maka e cuek aja. Dia tidak merasa bersalah ya. Dia tidak menyengaja dosa bukan. Tapi memang kebiasaan dia seperti itu. Kalau di badui ya tinggal kencing kencing aja ya. Kebetulan dia pas masuk masjid rasa kencing. Ya udah ngapain keluar-keluar ada pojokan masjid masih kosong ya. Sudah kencing situ aja ya kencing. Maka orang-orang pun fazajarahunas orang putri gitu. Bahkan faqaias sebagian orang sudah berdiri untuk menghalangi dia. Maka Rasul sahu alaihi wasallam berkata dauh. Biarin dia. Biarin dia. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ini dengar semua Arab Badui sambil kencing dia dengar semua kejadian di belakang. Orang bilang berhenti. Berhenti. Woi. Woi. Rasul bilang biarin biarin. Masyaallah. Kemudian Rasulullah mengatakan sijilan ma. Tuangkan seember air danuban min ma agar bersih air kencingnya. Ee di sini ee para ulama mengatakan salah satu dalil tentang pengamalan mengamalkan ee akhafud dararain dua kemudaratan yang paling ringan ketika dua kemudaratan tersebut tidak bisa dihindari. Kalau ada alternatif tidak mudarat maka jangan lakukan mudarat. Tapi kalau di depan kita tidak ada pilihan kecuali dua pilihan. dua-duanya mudarat. Maka fikih menunjukkan kita menempuh kemudaratan yang paling apa? Kecil. Sebagaimana kalau dua kemaslahatan, pilihlah kemaslahatan yang paling besar. Tapi dua mudarat selama tidak ada alternatif jalan ketiga yang merupakan kemaslahatan, cuma dua pilihan atau tiga pilihan, semua mudarat, pilih yang paling apa? Yang paling ringan. Dan ini berlaku dalam banyak hal. Contohnya seperti ee ketika Nabi Khadir naik kapal bersama Nabi Musa Alaih Salam gratisan setelah selesai turun dari kapal tersebut Nabi Khadir malah merusak kapal. Malah merusak kapal tersebut sampai Nabi Musa mengingkari ya bagaimana kau rusakkan kapal kita sudah naik gratis nanti bahaya mereka bisa tenggelam kapalnya rusak. Kemudian Nabi Khidir pun menjelaskanakahumikun. [Musik] Adapun kapal ini adalah milik orang-orang miskin. Para pelayan mereka punya kapal mereka miskin. Yaaha. Saya ingin merusaknya. Kenapa? Karena di balik mereka ada raja yang suka ngerampas kapal-kapal bagus. Tidak ada pilihan bagiku kecuali saya rusak kapal tersebut. Karena kalau saya tidak rusak kapal tersebut, kapal tersebut akan dirampas oleh raja yang zalim. Nah, kalau sudah dirusak, tidak akan dirampas oleh raja yang zalim. Maka rusaknya harus jelas. Dihancurin, rusak sehingga raja kalau lihat eh rusak ngapain diambil? Akhirnya kapal mereka akan apa? Selamat. Di sini Nabi Khadir menjelaskan kita harus menempuh kemudaratan yang lebih ringan dalam rangka menolak kemudaratan yang lebih apa? Lebih besar. Ya, seperti ini. Arab Badu ini. Seandainya dia belum kencing, bilang mau kencing tinggal diusir atau disuruh tempat jauh. Tapi dia terlanjur kerannya kebuka. Sudah terj kebuka gimana? Enggak bisa dihindari lagi. Maka dua kemungkinan kita cegah ketika itu atau kita biarin. Kalau kita biarin, maka kencingnya akan terfokus pada satu titik, pada satu pojok masjid. Tapi kalau kita cegah, bisa jadi dia balik, auratnya semakin terbuka, bisa jadi berhamburan ke sana kemari semakin sulit. Atau kalau dipaksa terannya tutup bahaya. Krek langsung bahaya bisa mudarat bagi dirinya. Maka ketika tidak ada kemudaratan tidak bisa dihindari maka Nabi sallallahu alaihi wasallam memilih kemudaratan yang lebih ringan itu biarin kata Rasulullah dauh perintah. Biarin, biarin, biarin sampai dia selesai. Akhirnya dia kencing selesai. Setelah itu baru Rasulullah menyuruh untuk mengambil seember air untuk ditumpahkan ke ee bekas kencing Arab Badui tadi. Bahkan setelah itu Rasul Sallahu Alaihi Wasallam menasihati para sahabat. Bayangkan Rasulullah tegur para sahabat tadi. Sahabat tadi yang ingin menghentikan menutup keran tadi. Niatnya baik atau tidakik? Ya, bagaimana tidak baik? Kok ini masjid kok dibuat apa? kencing ya. Dan mereka berhak untuk marah. Apalagi Masjid Nabawi bukan Masjid Baiturrahman yang salat itu 1000 kali lipat ya bahkan lebih daripada 1000 kali lipat. Maka mereka marah wajar tetapi kemarahan mereka tidak pada tempatnya. Mereka menggunakan sikap keras padahal sifat lembut masih bisa ditempuh. Setelah itu Rasul sahu alaihi wasallam tegur para sahabat. Kata Rasul sahu alaihi wasallam, buum muyirin. Sesungguhnya kalian diutus dengan bawa dengan memudahkan walam tubu muassirin. Dan kalian tidak diutus untuk menyusahkan. Kalian tidak diutus untuk menyusahkan. Dan ee di sini ya ada faedah ya di mana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ya mensifati para sahabat dengan fainnama buitum. Sesungguhnya kalian diutus. Yang diutus oleh Allah para sahabat atau Nabi sallallahu alaihi wasallam? Nabi. Bukan para sahabat. Yang diutus siapa? Nabi. Tetapi Rasulullah menisbahkan pengutusan tersebut kepada para sahabat. Yaitu Rasulullah mengatakan, "Kalian juga dai. Benar yang diutus adalah aku, tapi kalian juga adalah da dai." Makanya kata Nabi, "Fainnama buitum." Ya, ini isyarat bahwasanya umat Muhammad sallallahu alaihi wasallam hendaknya menempatkan dirinya pada posisi teladan. Ya, sikap kepada orang lain harusnya dengan baik. Maka rasul mengatakan inumassirin. Ini faedah dari Syekh Utsimin rahimahullahu taala ya. Beliau menjelaskan hal tersebut ya. Beliau berkata insanah mabahul [Musik] hendaknya seorang manusia dari umat Muhammad harus merasa seakan-akan dia adalah utusan seakan-akan dia sedang menyampaikan risalah. Ya, makanya Rasul sahu alaihi wasallam mengatakan liyuballighyahidu minkumul gaiba. hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang gaib. Ketika Rasulullah menyampaikan nasihat, sebagian sahabat hadir. Kata Rasulullah, "Yang hadir hendaknya menyampaikan kepada yang tidak yang tidak hadir." Yaitu seakan-akan Rasulullah menyuruh mereka menyampaikan dakwah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Balighini walau ayah. Sampaikan darikum satu meskipun satu ayat. Rasulullah berkata, "Innama muyirin walam tubu muassirin." Kalian diutus untuk memberi kemudahan, bukan diutus untuk merepotkan. Maka di sini peringatan bagi kita hendaknya kita ketika bersikap di rumah, di kantor, bersama sesama tetangga, kita membersihkan diri kita membawa apa ya ee risalah dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. kita berusaha bersikap dengan sikap yang baik ya memudahkan, tidak tidak menyusahkan, tidak merepotkan. Dan ini semua didengar oleh Arab Badui tadi. Subhanallah. Ini Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bukannya bela sahabat malah bela Arab Badui. Dan semua didengar perkataan Nabi didengar oleh Arab Badui tersebut. Akhirnya Arab Badwi t dalam riwayat dia pun berdoa ya. E Rasulullah Rasulullah setelah itu mengajarkan kepada dia kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam inna inama hadil masajid. Sesungguhnya masjid-masjid ya tidak pantas untuk eh la fihaun minal walqadar. Tidak pantas untuk kotoran ya najis tidak pantas. Sesungguhnya masjid itu adalah untuk salat, untuk baca Quran, dan untuk berzikir kepada Allah Subhanahu wa taala. Kemudian Arbadu ini kagum dengan sikap Nabi sallallahu alaihi wasallam. Akhirnya dia berdoa kepada Allah, "Allahumarhamni Muhammadan wala tarham maana ghairana." Kata dia, "Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad saja, yang lain enggak usah." Dia bilang, "Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad saja. Yang lain tidak tidak usah. Ya, yang lain semua kacau. Muhammad aja yang baik. Semua orang mencegah saya kencing. Yang suruh saya kencing terus cuma siapa? Muhammad sallallahu alaihi wasallam." Ya, lihat dia ng doa dalam doanya saja dia disebut nama Muhammad biasa aja. Allahumarhamni wa muhammadan. Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad. Bahkan dia mendahulukan dirinya. Allah rahmati aku dan Muhammad. Wala tarham maana ghairuna. dan jangan rahmati selain kami. Rasulullah menegur waq apa? Hajarta wasian. Tahajarta wasian. Kau telah membatasi luasnya rahmat Allah Subhanahu wa taala. Tetapi lihat bagaimana Rabb Badwi ini ee terpesona dengan akhlak Nabi sallallahu alaihi wasallam. Di antara fa yang bisa kita ambil dari hadis ini, para ulama mengatakan ee dosa adalah ibarat najis. Dan amal saleh ibarat dari air yang bersih. Ya, oleh karena jika kita memiliki dosa-dosa sementara kita punya amal saleh yang banyak, maka dosa-dosa tersebut akan tergerus dan akan hilang. Lihat Arab Badu ini dia kencing. Dia kencing. Maka Rasulullah suruh ambil apa? A air seember. Airnya harus banyak. Kencingnya mungkin tidak seember. Enggak ada kencing seember sedikit ya. Kemudian airnya seember. Apalagi ada yang mengatakan min ma. Zanub itu ember besar. Dituangkanlah ember besar, air yang banyak, maka kencing tersebut akhirnya hilang. Ya, oleh karenanya Allah berfirman, "Innal hasanati yudhibn sayiat dalikaikro lzakirin." Sungguhnya amalan-amalan baik itu akan menggugurkan atau menghilangkan dosa-dosa. Dan inilah peringatan bagi orang-orang yang berzikir. Maka seorang kalau banyak melakukan amal saleh, banyak melakukan amal saleh kemudian dia punya dosa-dosa yang sedikit maka dosa tersebut akan lebur dalam lautan kebaikannya. Makanya rasuah wasallam bersabda, maam yahmil khab. Kalau air sudah mencapai dua kullah sekitar 200 liter kemudian ada najis-najis yang masuk terkena air tersebut maka tidak dianggap tidak dianggap karena terdominasi dengan air yang banyak tersebut. Maka kita semua tidak ada yang luput dari dosa-dosa. Dosa mata, dosa telinga, dosa hati, banyak. Tapi perbanyaklah amal-amal saleh yang banyak sering. Maka kalau amal saleh banyak, dosa-dosa tersebut akan otomatis akan hancur, akan lebur bersama lautan kebaikan yang dimiliki oleh seseorang. Ya. Ee kemudian ada faedah juga disebutkan oleh ee Syekh Utsimin rahimahullahu taala terkait hadis ini. bahwasanya ee ee ketika Rasul Sallahu Alaihi Wasallam melihat najis tersebut dan kita tahu Masjid Nabawi dulu dari tanah ya sehingga ketika kencing dia akan meresap ke bawah dan kalau untuk menghilangkannya dengan mengguyurkan apa air yang banyak sehingga semakin meresap ke bawah tentunya itu tidak berlaku kalau di karpet atau di masjid seperti kita yang bertegel atau berubin ya tentunya tidak tidak ee berlaku Ya. Ee namun ee beliau mengatakan bahwasanya hukum asal najis adalah yang yang penting bisa hilang dengan sarana apapun. Dengan sarana apapun. Adapun Nabi sallallahu alaihi wasallam menyuruh menggunakan air bukan berarti harus pakai air. Tetapi yang tersedia ketika itu yang mudah menghilangkan najis adalah apa? A air. Karena menghilangkan najis adalah yang penting najisnya hilang. Mau dengan air, mau dengan apapun yang penting kotoran tersebut bisa hilang. Dan ini pendapat kalau tidak salah mazhab Hanafi dan ini pendapat kuat ya, bahwasanya tidak harus menggunakan apa? Air. Yang penting najisnya hilang. Maka selesai. Maka selesai. Misalnya ada seorang ee kasurnya misalnya dikencing oleh anaknya kemudian dijemur. Dijemur kemudian terkena pasir kemudian terkena matahari menguap kencing tersebut lama-lama sudah enggak ada bekasnya. Sah berarti kasar itu sudah bisa dipakai atau tidak bisa najisnya sudah hilang. Yang penting kan najisnya apa? Hilang. Nah, zaman sekarang banyak sekali bahan-bahan kimia yang bukan air tapi cairan. Tapi bukan apa? air cairan apapun cairannya kalau bisa menghilangkan najis maka najis tersebut hilang maka najis tersebut hilang ya makanya kalau mensyaratkan harus pakai air maka banyak hal yang merepotkan ya seperti ee sebagian berpendapat kalau ee tidak pakai air maka tidak sah menghilangkan najisnya contoh seperti mencuci pakaian dengan menggunakan uap ya ini apa namanya tidak tidak sah karena tidak ada air di situ atau pakai gas atau apa tidak pakai air maka tidak sah. Seperti kalau mencuci air pakai air sabun. Air sabun itu bukan air mutlak lagi tapi air bersabun. Kalau cuci pakaian dengan air seperti ini tidak sah. Karena mencuci menghilangkan najis harus pakai air. Air tersebut maksudnya air mutlak yaitu yang masih disifati dengan air. Adapun kalau menghilangkan najis pakai teh misalnya, pakai kopi misalnya, maka tidak boleh karena sudah bukan lagi menjadi apa? Air. Intinya repot. Sampai ada pembahasan misalnya bagaimana mencuci pakai mesin cuci. Mesin cuci rata-rata berapa liter? 8 12 ya 12 liter itu belum dua kulah. Dua kulah berapa? 200 liter du kullah. Nah mesin cuci ini kalau kita masukkan celana di situ ada najis satu tetes aja kita masukkan ke 8 lit ini air tersebut menjadi apa? Najis. Sehingga tidak bisa lagi digunakan untuk mencuci. Agak repot ini. Sehingga kalau mencuci pakaian langsung taruh mesin cuci maka tidak sah. Menurut pendapat ya sebagian ulama. Jadi masalah juga ketika airnya kita campur rinso dulu. Air tersebut bukan lagi menjadi air sudah menjadi air rin rinsa. Ini kalau kita buat cuci tidak sah lagi. Kenapa? Karena kita mencucinya bukan pakai a air. Ini maksudnya saya mengatakan fikih klasik orang yang berpegang dengan fikih klasik ternyata ada pendapat lain yang membolehkan. Yang penting najisnya hilang dengan cara apapun. Akhirnya saya pergi ke suatu tempat ada tulisan laundry syari beneran karena banyak laundri tidak apa syari karena cara tadi laundry air langsungkan masuk ke ada ke taruh mesin cuci airnya 8 lit 12 lit 20 lit taruhlah antum taruh pakaian ada najis langsung tidak sah karena kapan air kurang dari dua kullah kena satu tetes air kencing air tersebut ternajisi. Kalau air tersebut sudah ternyi tidak boleh lagi buat mencuci apa pakaian. Berarti laundri tidak sah. Cara kedua juga tidak sah. Taruh air taruh sabun. Taruh sabun airnya sudah berubah. Bukan lagi menjadi air biasa, tapi sudah air sa sabun ini juga sudah tidak boleh digunakan untuk mencuci pakaian yang ber bernajis. Itu tidak syar'i. Terus syarinya bagaimana? Ya mungkin airnya taruh dulu ee pakaiannya terus disirami air terus sampai najisnya hilang. sudah najisnya hilang baru di cuci. Jadi dia sudah suci dulu sebelum dimasukkan mesin cuci. Ini repot juga ya. Makanya mereka bikin laundri syari. Tapi kalau itu, kita ikut pendapat mazhab Hanafi, yang penting najis hilang selesai. Mau pakai bensin, mau pakai ee apa kek apa kek, uap kek apa kek, mau pokoknya najis hilang selesai. Masalahnya kan najis. Najisnya ada atau tidak? Sudah hilang selesai. Ngapain kita bilang ternajisi? Yang penting najis nempel, najisnya hilang, selesai. Dan itu pendapat yang lebih kuat bahwasanya najis itu hilang, yang penting najisnya hilang maka sudah sudah selesai. Ya, karena kalau tidak pendapat seperti repot. Contoh seperti apa hukum ee membersihkan kotoran bayi pakai tisu basah? Ini repot. Kalau kita baca sebagian fikih klasik, tidak boleh menggunakan satu yang basah, tapi harus satu yang kering. Kalau istijmahar kan bisa pakai air, bisa pakai selain air seperti batu, seperti kayu, seperti daun dengan syarat tidak boleh basah. Karena kalau basah maka langsung ternajisi. Nah, pakai tisu basah, tisu dibasahin tidak sah. Padahal kalau kita pakai tisu basah lebih bersih atau daripada dengan tisu kering? basah tisu basah le susah lebih bersih. Maksudnya ee oleh karenanya tidak mesti kita harus terikat pada satu mazhab. Terkadang dalam satu permasalahan mazhab lain lebih apa? Lebih logis, lebih benar, lebih kuat, dan lebih mudah untuk dipraktikkan. Adapun Nabi sallallahu alaihi wasallam di zaman Nabi selalu pakai air karena itu yang tersedia dan itu yang mudah. Mudah menghilangkan apa? Najis ya. tetapi tidak harus pakai air. Di antara buku tidak harus pakai air, Rasulullah menjelaskan kalau wanita, wanita di zaman Nabi minta izin, minta izin agar dipanjangkan ee roknya. Mereka minta izin ya ketika Rasulullah mengatakan eh yurkina syibron hendaknya mereka para wanita memanjangkan rok mereka satu jengkal di bawah mata kaki. Kata Ummu Salamahdamun. Kalau begitu nanti tersingkap. Kalau cuma rok satu satu jengkal di bawah mata kaki di sana angin banyak mudah tersingkap kata Rasul wasallam yurkinaan walna alik kalau gitu boleh dia panjangkan sampai satu hasta satu hasta segini berapa meter nih 0,7 m sekit 60 sampai 70 cm namanya zira jadi mereka dahulu para sahabiat roknya panjang-panjang sampai di bawah mata kaki sekitar berapa satu Hasta antara mata kaki sampai kaki berapa senti? Mata kaki sampai kaki sampai telapak kaki berapa senti? 10 cent ketinggian ya? 5 cent ya? 5 cent berarti mereka masih ada 60 cent. 60 cent di bawah kaki. Ini rokoknya perempuan dahulu karena mereka tidak pengin kaki mereka terlihat. Mereka tidak pengin kaki mereka ter. Makanya Imam mengatakan, "Ya Rasulullah, kalau cuma sejengkalfaqadamahun, kalau cuma sejengkal akan tersingkap. Kami gak mau." Kata Rasulullah, "Silakan panjang, tapi tidak boleh lebih daripada satu has hasta hasta." Nah, ketika mereka jalan dengan adanya satu satu hasta tadi di bawah mata kaki, maka potensi terkena najis. Iya. Enggak terak kata Rasulullah. "Tapi sudah dibersihkan dengan tanah setelahnya kita najis kena tanah, kena najis kena tanah, kena najis kena tanah, maka tanah juga bisa membersihkan apa? Na najis maksud saya tidak harus pakai air. Maka pendapat yang benar, wallahuam biswab, pendapat Hanafiyah bahwasanya ee bisa bersih yang penting najisnya hilang dengan cara apapun. mau bahan kimia, mau dijemur, mau diapain, yang penting kalau najisnya hilang maka kembali lagi bersih. Adapun Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyuruh ee menggunakan air karena itulah yang tersedia di zaman tersebut dan mudah untuk di ee gunakan dan lebih cepat. Tib eh kita lanjutkan. Wa Anas radhiallahu anhu Nabi sallallahu alaihi wasallamq dari Anas radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wasallam beliau berkata, "Yassiru wala tuassiru basyiru wala tunaffiru muttafaqun alaih." Mudahkan, jangan sulitkan. Ee beri gembiralah dan jangan buat lari, jangan buat lari audiens ya. muttafaqun alaih. Hadis riwayat Bukhari dan ee dan Muslim. Ini hukum asal dalam dakwah. Mudahkan dan jangan sulitkan. Berilah kabar gembira dan jangan ee membuat manusia lari. Ya Allah Subhanahu wa taala berfirman ee yuridullahu bikumul yusro wala yuridu bikumul usro w ja'ala alaikum fiddini min haraj. Kata Allah subhanahu wa taala, "Allah ingin kemudahan bagi kalian dan Allah tidak ingin kesulitan bagi kalian." Dan juga firman Allah, Allah tidak menjadikan bagi kalian kesulitan dalam agama. Ya, saya bacakan di sini. Jadi, jangan mempersulit dalam hadis kata kata Aisyah radhiallahu taala anha, mair Nabi shallallahu alaihi wasallam baina amrain illa aisarahuma malam yakunman. tidaklah Nabi diberi pilihan dengan dua pilihan kecuali Nabi pilih yang paling ringan selama tidak do tidak dosa. Jadi tidaklah agama bermaksud untuk mencari kesulitan. Dalam Islam ada dalam agama namanya dua masyaqah. Masyaqqah dan masyaqah. Kesulitan-kesulitan. Kesulitan yang pertama adalah kesulitan yang melazimi ibadah. Itu pasti ada. Karena ibadah makanya dikatakan taklif, pembebanan. Karena orang disuruh melakukan kegiatan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Dalam kegiatan tersebut terkadang ada kesulitan seperti puasa ada kesulitan menahan lapar, menahan dahaga, menahan makanan, menahan syahwat, ada kesulitan. Seperti haji berjalan ke sana ke mari, ke sana ke mari, ada kesulitan. Ini kesulitan yang tidak bisa dihindari ya. Eh seperti berjihad fisabilillah ada kesulitan. Berjalan mengangkat senjata, melawan musuh ya bertarung dengan kematian ada kesulitan. Ini namanya kesulitan yang tidak bisa dihindari dalam ibadah seperti salat ya. Salat malam yang melawan rasa kantuk bangun ya kemudian berdiri baca Quran yang lama. Ini ada kesulitan. Kesulitan-kesulan seperti ini namanya kesulitan yang melazimi suatu ibadah yang tidak bisa dihindari. Dan ini tidak dimaksudkan untuk sulit, enggak. Tapi tidak bisa dihindari. Nah, kalau orang ternyata mengalami kesulitan ini, maka dia dapat pahala. Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "Ajurki alaqri nasabik." Pahalamu sesuai dengan ukuran keletihanmu. Ya, kalau kau tidak bisa ternyata letih, sulit tapi harus dijalani karena ini konsekuensi ibadah maka pahalamu sesuai dengan keletihanmu. Adapun masyaqah jenis kedua, kesulitan yang kedua, kesulitan yang tidak dituntut oleh syariat. Ya, maka ini tidak boleh dicari-cari. tidak boleh dicari-cari ya. Ya, kalau tidak ada tidak harus mendapat kesulitan tersebut maka jangan tempuh kesulitan tersebut. Saya bacakan sini perkataan Syekh Utsimin. Misalnya ada dua jalan menuju masjid. Ahadumun fi has ahjar wa ahjar wa aswaqani sahlun. Jalan pertama menuju masjid situ ada batu-batu, ada kerikil-kerikil, ada duri-duri. Sementara jalan kedua mudah. Maka yang lebih baik di sisi Allah adalah engkau menempuh jalan yang kedua yang mudah. Jangan sengaja situlah lewat duri-duri. Siapa tahu luka dapat pahala. Enggak. Ini ini kesulitan yang tidak yang tidak dimaksud dalam syariat. Kalau yang pertama kok tetap sulit harus jalan tapi itu dapat pahala. Yang kedua, waakainahuakin. Kalau misalnya di musim dingin, di depan kau ada dua sumber air. Yang satu dingin, yang satu hangat. Kalau kau pakai yang dingin, kau akan kesulitan yang hangat kau merasa nyaman. Pilih yang mana? Yang hangat. Ngapain cari yang di dingin kecuali tidak ada air lagi kecuali yang dingin maka tempuhlah kesulitan tersebut. Makanya rasul sahu alaihi wasallam mengatakan di antara amal saleh isbagul wudu alal makarih. Menyempurnakan wudu meskipun kau tidak suka. Dicontohkan oleh para ulama kau ingin wudu musim dingin tetap kau wudu dengan sempurna. Ini kalau tidak ada pilihan air yang yang lain. Tapi kalau ada pilihan air hangat ngapain cari yang su susah?
Resume
Requeue
Categories