File TXT tidak ditemukan.
File TXT tidak ditemukan.
File TXT tidak ditemukan.
Transcript
VXnoNVvbFME • Kitab Riyadush Shalihin #2-85: Bersikap Lemah Lembut Dalam Segala Urusan
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2520_VXnoNVvbFME.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]
Alhamdulillahi alukrulahu
taufiqihin asadu alla ilahaillallah
wahdahu la syarikalahu
wa asadu anna muhammadan abduhuasul
ridwani allahumma sholli alaihi waa
alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin
dan hadirat yang dirahmati Allah
subhanahu wa taala. Kita masih
melanjutkan bab ke-74 bab alhilm wal
anah wari riifaq. Bab tentang alhilm dan
al-anah yaitu tidak tergesa-gesa dan
rifq yaitu kelembutan. Hadis berikutnya.
Aisyata radhiallahu taala anha qalat
dari Aisyah
radhiallahu anha beliau berkata qala
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
rasul sahu alaihi wasallam bersabda
innallaha rofiqun yuhibbur riifqo fil
amri kullihi muttafaqun alaih
suungguhnya Allah adalah rafik maha
lembut dan Allah menyukai kelembutan
dalam segala urusan dalam segala urusan
ini dalil bahwasanya hukum asal seorang
ketika ketika
ee bermuamalah atau bersikap dalam
kegiatan apapun hendaknya dia bersikap
lemah lembut. Selama bisa ditempuh
dengan kelembutan, maka jangan dia
berusaha mencari jalan yang lain dengan
sikap keras atau kasar.
Dan bahwasanya sikap keras adalah hukum
ee keluar dari hukum asal itu dalam
kondisi darurat atau mendesak baru
seorang kemudian mengambil sikap keras
atau kasar. Namun hukum asal selama
segala perkara bisa di tempuh dengan
kelembutan maka hendaknya ditempuh
dengan kelembutan. Kenapa? Karena Allah
rafiq maha lembut.
Dan Allah mencintai kelembutan amri
dalam segala urusan. Urusan dengan
keluarga, urusan dengan pekerjaan,
urusan dengan anak buah, urusan dengan
apapun kalau bisa ditempuh dengan
kelembutan, maka lakukanlah dengan
kelembutan. Dan demikian banyak
sifat-sifat Allah yang Allah bernama
dengan sifat tersebut dan Allah
mencintai ee sifat tersebut seperti
innallaha jamil yuhibbul jamal. Allah
maha indah. Allah suka dengan keindahan.
Innallaha rofiq. Sesungguhnya Allah maha
lembut. Yuhibur rifqa dan Allah
mencintai kelembutan.
Di antaranya Allahumma innaka afuun
tuhibbul afwa. Sesungguhnya Engkau
adalah maha pengampun maka engkau
mencintai pengampunan. Faufu anni maka
ampunilah aku. Ee demikian juga ya ee
banyak sifat-sifat ya yang Allah bernama
dengan sifat tersebut. Allah menyukai
kita berakhlak dengan sifat tersebut.
Ya, berakhlak dengan sifat tersebut
yaitu meniru akhlak tersebut seperti
tadi ee riifq dan yang lainnya.
Kemudian hadis berikutnya wa anha dari
Aisyah radhiallahu anha
an Nabi sallallahu alaihi wasallam rasul
sahu al wasallam bersabda innallaha
rofiquun yuhiburifq sesungguhnya Allah
maha lembut dan Allah suka dengan
kelembutan
alifqi yti alal unf dan Allah memberikan
kebaikan pada kelembutan apa yang Allah
tidak berikan pada sikap keras w la yuti
ala ma siwahu dan Allah tidak sebagai
dan Allah tidak memberikan kepada selain
arif fqah. Jadi ee di balik kelembutan
pasti ada banyak dampak kebaikan. Karena
di sini Nabi berkata, "Wau al rifqi ma
la yuti alal unf w la yuti ala ma
siwahu." Ya Allah ketika orang bersikap
lembut maka Allah akan berikan sesuatu
yang Allah tidak berikan pada
sikap-sikap yang lainnya. Di antaranya
sikap kekerasan atau sikap yang yang
lainnya. Ini menunjukkan bahwasanya
kelembutan punya dampak positif yang
banyak yang mungkin terkadang tidak kita
duga. Ternyata di balik kelembutan
tersebut banyak kebaikan. Sebagian orang
menyangka terkadang datang ee bisikan
dalam hatinya untuk bersikap keras. Dia
menyangka dengan sikap keras tersebut
akan mendatangkan kebaikan. Ternyata
tidak demikian. Ya, bukan berarti kita
melarang sikap keras atau tegas. Namun
kita katakan sikap itu keluar dari hukum
asal ya. Nabi sallallahu alaihi wasallam
juga terkadang tegas ya. Tapi hukum asal
Rasul Sallahu Alaihi Wasallam selalu
bersifat apa? Lembut ya. Hukum asal ya.
Demikian pula dalam bermuamalah
kita hukum asalnya dengan kelembutan
terhadap istri, terhadap anak, terhadap
pembantu, terhadap anak buah ya terhadap
orang-orang yang mungkin bisa kita
kasari namun kita pilih untuk bersikap
lembut. Yakinlah bahwasanya di balik itu
ada keberkahan. Allah akan berikan
banyak kebaikan yang Allah tidak berikan
kalau kita bersikap dengan sikap yang
yang lain sebagaimana tadi ee janji Nabi
sallallahu alaihi wasallam.
Demikian juga ee hadis berikutnya, hadis
ke
Aisyah juga dari Aisyah radhiallahu anha
waha an Nabi sallallahu alaihi wasallam
q Rasul sahu alaihi wasallam bersabda
inifq launu fiin illa zanah sungguhnya
kelembutan tidaklah menempel pada
sesuatu kecuali akan menghiasinya wala
yunza minai illa tidaklah kelembutan
dicabut dari suatu kecuali akan
merusaknya hadis riwayat Muslim rawahu
Muslim maka ini juga menegaskan apa yang
telah kita sampaikan sebelumnya
bahwasanya ee sikap lembut ee pasti
mendatangkan keberkahan dan akan
menghiasi
segala sesuatu yang dicampuri dengan
kelembutan. Tapi kalau kelembutan
dicabut maka akan ee merusak. Maka akan
merusak.
Tapi kita sekarang praktik misalnya kita
sama istri
kalau bisa lembut ngapain kita keras?
Kita ingin memberi nasihat kalau bisa
lembut ngapain kita kasar. Kalau bisa
lembut, kenapa kita harus tegas? Selama
bisa lembut, kita bilang lembut,
insyaallah ada dia bisa mendengar dengan
baik. Maka tempuhlah kelembutan
tersebut. Pasti akan menghiasinya. Ya,
tentu istri ketika mendapat nasihat
dengan kelembutan lebih terkesan pada
dirinya daripada kalau dengan sikap
keras. Ya, meskipun boleh seorang keras
boleh. Ya, sebagaimana kita ketahui ee
boleh. Kalau istri sudah nasihati tidak
mau mendengar, diboikot, tidak mau
mendengar, maka boleh dipukul ya. Lakin
akan tetapi dorban gir mubar pukulan
yang tidak memberi bekas. Ya. Akan tapi
rasul sahu alaihi wasallam mengatakan,
"Khiarukum laadrib." Para suami yang
baik di antara kalian tidak memukul
meskipun boleh, tetapi yang terbaik
adalah tidak memukul. Kalau istri bisa
diperbaiki tanpa pukulan, itu yang
terbaik dan dampaknya akan baik. Tapi
kalau tidak bisa ya memang mau apalagi
bisa boleh dengan memukul. Tapi maksud
saya selama bisa diperbaiki tanpa harus
dengan kekerasan, maka itu yang menjadi
pilihan. Demikian terhadap anak-anak.
Terkadang setan membayangkan pada kita
kalau kita kasar, kita keras, kita
pukul, kita cubit, kita gampar, anak ini
akan menjadi baik lebih cepat.
Perasaannya seperti itu. Tapi ternyata
menjadi sangar. Ya, lama-lama sering
dipuku, lama-lama menjadi kebal. Ya. Ya,
lama-lama menjadi kebal. Sampai ada
seorang anak saya kenal dia seh sekarang
jadi ya apa namanya? Dia sekarang jadi
orang berilmu. Masyaallah. Dulu sering
dipukul sama orang tuanya sampai dia
jengkel dia bawa pisau. Sekalian ya
katanya sekalian ya. Akhirnya ayahnya
berubah kemudian dia alhamdulillah
menjadi orang yang sangat yang sangat
baik. Ya mau saya kalau kita sering
keras, sering kasar anak-anak akhirnya
apa yang kita lakukan dia tidak anggap
lagi karena hal sudah biasa. dampaknya
buruk. Di kemudian hari dampaknya buruk
dan anak-anak akan teringat terus,
"Bapak saya jahat, ibu saya jahat dan
itu berdampak di kemudian hari. Oleh
karenanya sebisa mungkin bisa ditempuh
dengan cara lembut, lakukan." Selama
masih bisa ini lembut, insyaallah
berhasil, lakukan. "Tidaklah kita keluar
dari hukum asal kecuali darurat. Kecuali
ini enggak bisa lagi dengan sikap
lembut, harus segar, harus kasar, maka
tidak tidak mengapa. Tidak mengapa." Ya,
bahkan sebagian ulama mengatakan kalau
kita kasar bahkan terhadap benda-benda
mati pun kadang merusak ya. Kita kalau
perbaiki sesuatu dengan kasar-kasar
rusak. Harusnya pelan-pelan kita malah
kasarnya malah apa? Rusak. Terburu-buru
kasar jadi rusak. Harusnya pelan-pelan
kita perbaiki tapi karena kita kasar
jadi rusak. Baju mau kita perbaiki tapi
kita kasarin ternyata robek. Harusnya
bisa dibersihkan dengan apa?
Pelan-pelan. Tapi kalau kita kasirin
bisa bisa robek ya. Ya. Bagaimana lagi
hati wanita dikasarin bisa apa bisa
robek ya. Oleh karenanya hukum asal
dalam segala hal innallaha yuhibbur
riifqo fil amri kullihi. Allah menyukai
sikap lembut dalam segala urusan.
Kita mau bertemu dengan orang, mau kita
nasihati. Selama perkiraan kita lembut,
masih bisa kita tempuh jalur kelembutan,
maka gunakan jalur tersebut dalam segala
hal. Dalam segala kita mau marah sama
misalnya supir atau pembantu, kita pikir
dulu saya kalau lembut bisa enggak
berhasil? Bisa enggak saya datangi dia
kemudian saya ajak ngobrol baik-baik?
Kalau bisa lakukan. Jangan berpindah
kepada sikap kasar. Karena di balik
kelembutan pasti ada keberkahan
sebagaimana yang telah dijanjikan oleh
Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Demikian juga orang yang mendengar dia
hatinya lebih tenang, lebih tentram ya
dan dampak setelah itu ya lebih baik ya.
Berbeda dengan kasar tegas mungkin
selesai di depan kita saat itu tapi
belum tentu dampaknya baik.
Tib.
Maka kata Syekh Utsimin rahimahullahu
taala di sini beliau berkata ya
eh
fafihilu alakunal insanuq fi jamiuni
hadis ini menunjukkan motivasi agar
seorang lembut dalam segala urusannya
roiqon fi muamalati ahlihi hendaknya dia
lembut ketika bermuamalah dengan
istrinya
wafi muamalati ikhwanihi dan juga ketika
bermuamalah dengan saudara-saudaranya ya
saudara-saudara kakak Kak, adik ya.
Kadang-kadang mentang-mentang kita sudah
punya duit, dia enggak punya duit atau
kita memiliki jabatan dia enggak punya
atau dia akhirnya kita kadang-kadang
tidak lembut kepada saudara padahal
mereka lebih utama untuk kita lembuti.
Wafi muamalati asdiqi demikian juga
terhadap kawan-kawan ya berusaha untuk
lembut. Wafi muamalati amatinas
yarfuqu bihim dan secara umum kepada
seluruh manusia. Kenapa? Karena
fainnallah azza waalla rofiquun.
Karena Allah Subhanahu wa taala
mencintai kelembut adalah maha lembut
dan dia mencintai kelembutan. Kudan
beliau berkata, "Final amal yajidatan."
Karenanya jika seorang bermuamalah
dengan orang lain dengan kelembutan, dia
mendapati dalam dirinya ada kelezatan
dan ada kelapangan dada. Beda kalau dia
marah-marah artinya jadi sempit dadanya,
jadi sempit dia juga jengkel. Ya. Waidza
amalahum bisiddati wal unfi nadim. Kalau
dia sikapi orang dengan keras dan kasar,
kadang dia menyesal. Ya. Kemudian dia
berkata, "Seandainya aku tidak keras
terhadap mereka, tetapi sudah sudah
terlambat." Ya, oleh karenanya, siapa
yang bermuamalah dengan orang lain
dengan kelembutan, dia akan mendapatkan
kelezatan, ketentraman, kebahagiaan
Allah berikan kepada hatinya. Ingat, di
balik kelembutan banyak sekali
keberkahan. Datang setan bilang keras.
Keras. Auzubillah minasyaitanirrajim.
Ya, lembut. Lembut. Hukum asal lembut.
sebisa mungkin lembut kecuali memang
kondisi mengharuskan untuk bersikap
tegas dan keras dan itu keluar dari
hukum asal
bab kita lanjutkan hadis berikutnya. Wa
Abi Hurairat radhiallahu anhu qala dari
sahabat mulia Abu Hurairah radhiallahu
anhu beliau berkata,
"Bala a'abiyun fil masjid." Ada seorang
Arab Badui kencing di masjid. Faqomasu
ilaihi liyaq fihi. Maka orang-orang pun
bangkit menuju dia untuk
memarahinya atau mencegahnya. Ya faqala
Nabi sallallahu alaihi wasallam. Rasul
wasallam bersabda, dauhu biarin dia.
Biarin dia lanjutkan kencingnya.
Waquillan
min dan tuangkanlah seember air ke
kencingnya tersebut. Atau ember yang
besar berisi air dituangkan di bekas
kencingnya tersebut.
muyirin. Sesungguhnya kalian diutus
untuk memudahkan walam tubatu muassirin
dan kalian tidak diutus untuk
menyusahkan. Hadis riwayat al Imam
albukhari.
Ee di sini ee Al Imam Nawawi bawakan
satu hadis dari Abu Hurairah tentang
kisah seorang Arab Badwi. Arab Badui
disebut dalam bahasa Arab a'rabi. Apa?
Al-A'rabi. Jamaknya al-A'rab. Adapun
Arabi jamaknya al-Arab ya. Jadi Arabi
maksudnya nisbah kepada suku Arab
lawannya ee A'jami. Kalau Arabi ee
zamannya adalah al-Arab al A'jam al-Ajam
ya. Adapun Arab Badwi bahasa Arabnya
A'rabi. Al-A'rab jamaknya bukan Arab
tapi al-A'rab. Al-A'rab. Jadi kalau
dibilang ente kayak A'rabi jangan
bahagia.
Kalau ente kayak orang Arabi ah itu I
kayak orang Arab mungkin keren. Tapi
kalau ente kayak orang A'rabi berarti
Arab Badu Badui ya. Kayak orang Arab
tapi Arab Badui ya. Ee orang Arab Badui
tentunya mereka tinggal di kampung jauh
dari ee kota sehingga ilmu jarang sampai
kepada mereka dan mereka terbiasa
terikat dengan tradisi mereka hidup
suka-suka.
Makanya mereka kalau mau kencing di mana
aja kencing kencing ya. Tidak mikir
panjang ya. Karena mereka tinggal di
pedalaman ya sehingga terbiasa dengan
melakukan apa yang bisa mereka lakukan
ya. Makanya Allah mencela orang-orang
Arab Badui. Kata Allah al'u asyaddu
kufran wa nifaqan wa ajadru all
yamuhudama anzallahu ala rasulihi. Ya,
di antara orang Arab Badui ada yang
sangat kafir dan sangat munafik dan
tidak mengetahui batasan-batasan apa
yang Allah turunkan kepada rasul-Nya.
Itu mereka tidak ngerti tentang banyak
hukum syariat karena jauhnya mereka dari
dari ilmu.
Arab Badui ini masuk ke masjid. Ya, Arab
Badui ini masuk ke masjid. Makanya Arab
Badui ee kalau mau kencing di mana saja
kencing. Arab Badui kalau panggil
Rasulullah tidak panggil Rasul,
panggilnya Muhammad. Ya Muhammad ya. Ya.
Kalau para sahabat enggak ada yang
berani, pasti manggilnya apa? Ya
Rasulullah, ya Nabi Allah. Allah saja
kalau panggil Rasulullah enggak pernah
ya Muhammad. Allah panggil ya Nabi ya
Rasulullah. Tapi Arab Badui cuek ya
Muhammad. Ya.
Jadi kalau ada yang panggil-panggil
langsung, "Eh, fulan Badui." Berarti
kiai dipanggil langsung namanya, "Oh,
Badui biasa." Boleh, boleh itu Badui
boleh.
Ee
dan mereka
kalau bertanya juga tidak pekaiwuh
mereka langsung tanya. Makanya datang
dalam hadis para sahabat senang kalau
ada Arab Badwi datang. Kenapa? Sebentar
lagi Arab Badwi bakalan tanya. Kalau
sudah tanya pasti Nabi menjawab dan
pasti jawaban Nabi penuh dengan ilmu.
Ya. Bahkan ada Arab Badui dikasih
hadiah. Kamu nanya saya kasih hadiah. Ya
karena mereka kalau mau tanya langsung
nanya aja gak sungkan-sungkan. Arab
badwi. Sahabat kenal Nabi enggak enak,
malu, pekaiwu, kadang mau nanya
nunda-nunda.
Ya. Arab Badui terkadang menguntungkan.
Oke. Di sini Arab Badui datang kemudian
dia pun kencing ya.
Eh, fabala fiftatil masjid. Sebagai
riwayat fabala fial masjid. Dia kencing
di pojokan masjid itu dia ada malunya
sedikit dia yang agak mojok tertutup
sebagian ya.
kencing mungkin dia duduk langsung dia
kencing ya. Tapi orang lihat semua ya di
pojok mana? Wallahualam ya. Dan ini
Masjid Nabawi bukan masjid Baiturrahman
ya.
Tapi insyaallah dia enggak kencing di
Raudah bukan ya. Tapi maksudnya dia
kencing di salah satu pojok Masjid apa?
Nabawi. Ya ada Nabi lagi di situ. Entah
Nabi lagi ceramah, entah Nabi lagi
kumpul-kumpul
maka e cuek aja. Dia tidak merasa
bersalah ya. Dia tidak menyengaja dosa
bukan. Tapi memang kebiasaan dia seperti
itu. Kalau di badui ya tinggal kencing
kencing aja ya. Kebetulan dia pas masuk
masjid rasa kencing. Ya udah ngapain
keluar-keluar ada pojokan masjid masih
kosong ya. Sudah kencing situ aja ya
kencing.
Maka orang-orang pun fazajarahunas orang
putri gitu.
Bahkan faqaias
sebagian orang sudah berdiri untuk
menghalangi dia. Maka Rasul sahu alaihi
wasallam berkata dauh. Biarin dia.
Biarin dia. Kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam. Ini dengar semua Arab Badui
sambil kencing dia dengar semua kejadian
di belakang. Orang bilang berhenti.
Berhenti. Woi. Woi. Rasul bilang biarin
biarin.
Masyaallah. Kemudian Rasulullah
mengatakan sijilan ma. Tuangkan seember
air danuban min ma agar bersih air
kencingnya. Ee di sini ee para ulama
mengatakan
salah satu dalil tentang pengamalan
mengamalkan
ee akhafud dararain dua kemudaratan yang
paling ringan ketika dua kemudaratan
tersebut tidak bisa dihindari. Kalau ada
alternatif tidak mudarat maka jangan
lakukan mudarat. Tapi kalau di depan
kita tidak ada pilihan kecuali dua
pilihan. dua-duanya mudarat. Maka fikih
menunjukkan kita menempuh kemudaratan
yang paling apa? Kecil. Sebagaimana
kalau dua kemaslahatan, pilihlah
kemaslahatan yang paling besar. Tapi dua
mudarat selama tidak ada alternatif
jalan ketiga yang merupakan
kemaslahatan, cuma dua pilihan atau tiga
pilihan, semua mudarat, pilih yang
paling apa? Yang paling ringan. Dan ini
berlaku dalam banyak hal.
Contohnya seperti ee ketika Nabi Khadir
naik kapal bersama Nabi Musa Alaih Salam
gratisan setelah selesai turun dari
kapal tersebut Nabi Khadir malah merusak
kapal. Malah merusak kapal tersebut
sampai Nabi Musa mengingkari ya
bagaimana kau rusakkan kapal kita sudah
naik gratis nanti bahaya mereka bisa
tenggelam kapalnya rusak. Kemudian Nabi
Khidir pun menjelaskanakahumikun.
[Musik]
Adapun kapal ini adalah milik
orang-orang miskin. Para pelayan mereka
punya kapal mereka miskin. Yaaha.
Saya ingin merusaknya. Kenapa? Karena di
balik mereka ada raja yang suka
ngerampas kapal-kapal bagus.
Tidak ada pilihan bagiku kecuali saya
rusak kapal tersebut. Karena kalau saya
tidak rusak kapal tersebut, kapal
tersebut akan dirampas oleh raja yang
zalim. Nah, kalau sudah dirusak, tidak
akan dirampas oleh raja yang zalim. Maka
rusaknya harus jelas. Dihancurin, rusak
sehingga raja kalau lihat eh rusak
ngapain diambil? Akhirnya kapal mereka
akan apa? Selamat. Di sini Nabi Khadir
menjelaskan kita harus menempuh
kemudaratan yang lebih ringan dalam
rangka menolak kemudaratan yang lebih
apa? Lebih besar. Ya, seperti ini. Arab
Badu ini. Seandainya dia belum kencing,
bilang mau kencing tinggal diusir atau
disuruh tempat jauh. Tapi dia terlanjur
kerannya kebuka. Sudah terj kebuka
gimana? Enggak bisa dihindari lagi. Maka
dua kemungkinan kita cegah ketika itu
atau kita biarin. Kalau kita biarin,
maka kencingnya akan terfokus pada satu
titik, pada satu pojok masjid. Tapi
kalau kita cegah, bisa jadi dia balik,
auratnya semakin terbuka, bisa jadi
berhamburan ke sana kemari semakin
sulit. Atau kalau dipaksa terannya tutup
bahaya. Krek langsung bahaya bisa
mudarat bagi dirinya. Maka ketika tidak
ada kemudaratan tidak bisa dihindari
maka Nabi sallallahu alaihi wasallam
memilih kemudaratan yang lebih ringan
itu biarin kata Rasulullah dauh
perintah. Biarin, biarin, biarin sampai
dia selesai. Akhirnya dia kencing
selesai. Setelah itu baru Rasulullah
menyuruh untuk
mengambil seember air untuk ditumpahkan
ke ee bekas kencing Arab Badui tadi.
Bahkan setelah itu Rasul Sallahu Alaihi
Wasallam menasihati para sahabat.
Bayangkan Rasulullah tegur para sahabat
tadi. Sahabat tadi yang ingin
menghentikan menutup keran tadi. Niatnya
baik atau tidakik?
Ya, bagaimana tidak baik? Kok ini masjid
kok dibuat apa? kencing ya. Dan mereka
berhak untuk marah. Apalagi Masjid
Nabawi bukan Masjid Baiturrahman yang
salat itu 1000 kali lipat ya bahkan
lebih daripada 1000 kali lipat. Maka
mereka marah wajar tetapi kemarahan
mereka tidak pada tempatnya. Mereka
menggunakan sikap keras padahal sifat
lembut masih bisa ditempuh. Setelah itu
Rasul sahu alaihi wasallam tegur para
sahabat. Kata Rasul sahu alaihi
wasallam,
buum muyirin. Sesungguhnya kalian diutus
dengan bawa dengan memudahkan walam tubu
muassirin. Dan kalian tidak diutus untuk
menyusahkan.
Kalian tidak diutus untuk menyusahkan.
Dan ee di sini ya
ada faedah ya
di mana Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam ya mensifati para sahabat
dengan fainnama buitum. Sesungguhnya
kalian diutus. Yang diutus oleh Allah
para sahabat atau Nabi sallallahu alaihi
wasallam? Nabi. Bukan para sahabat. Yang
diutus siapa? Nabi.
Tetapi Rasulullah menisbahkan pengutusan
tersebut kepada para sahabat. Yaitu
Rasulullah mengatakan, "Kalian juga dai.
Benar yang diutus adalah aku, tapi
kalian juga adalah da dai." Makanya kata
Nabi, "Fainnama buitum." Ya, ini isyarat
bahwasanya umat Muhammad sallallahu
alaihi wasallam hendaknya menempatkan
dirinya pada posisi teladan. Ya, sikap
kepada orang lain harusnya dengan baik.
Maka rasul mengatakan inumassirin.
Ini faedah dari Syekh Utsimin
rahimahullahu taala ya. Beliau
menjelaskan hal tersebut ya. Beliau
berkata insanah mabahul
[Musik]
hendaknya seorang manusia dari umat
Muhammad harus merasa seakan-akan dia
adalah utusan seakan-akan dia sedang
menyampaikan risalah. Ya, makanya Rasul
sahu alaihi wasallam mengatakan
liyuballighyahidu minkumul gaiba.
hendaknya yang hadir menyampaikan kepada
yang gaib. Ketika Rasulullah
menyampaikan nasihat, sebagian sahabat
hadir. Kata Rasulullah, "Yang hadir
hendaknya menyampaikan kepada yang tidak
yang tidak hadir." Yaitu seakan-akan
Rasulullah menyuruh mereka menyampaikan
dakwah Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Balighini walau ayah. Sampaikan darikum
satu meskipun satu ayat. Rasulullah
berkata, "Innama muyirin walam tubu
muassirin." Kalian diutus
untuk memberi kemudahan, bukan diutus
untuk merepotkan.
Maka di sini peringatan bagi kita
hendaknya kita ketika bersikap di rumah,
di kantor, bersama sesama tetangga, kita
membersihkan diri kita membawa apa ya ee
risalah dari Nabi sallallahu alaihi
wasallam. kita berusaha bersikap dengan
sikap yang baik ya memudahkan, tidak
tidak menyusahkan, tidak merepotkan.
Dan ini semua didengar oleh Arab Badui
tadi. Subhanallah.
Ini Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam bukannya bela sahabat malah
bela Arab Badui.
Dan semua didengar perkataan Nabi
didengar oleh Arab Badui tersebut.
Akhirnya
Arab Badwi t dalam riwayat dia pun
berdoa ya. E Rasulullah Rasulullah
setelah itu mengajarkan kepada dia kata
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
inna inama hadil masajid. Sesungguhnya
masjid-masjid ya tidak pantas untuk eh
la fihaun minal walqadar. Tidak pantas
untuk kotoran ya najis tidak pantas.
Sesungguhnya masjid itu adalah untuk
salat, untuk baca Quran, dan untuk
berzikir kepada Allah Subhanahu wa
taala.
Kemudian Arbadu ini kagum dengan sikap
Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Akhirnya dia berdoa kepada Allah,
"Allahumarhamni Muhammadan wala tarham
maana ghairana." Kata dia, "Ya Allah,
rahmatilah aku dan Muhammad saja, yang
lain enggak usah."
Dia bilang, "Ya Allah, rahmatilah aku
dan Muhammad saja. Yang lain tidak tidak
usah. Ya, yang lain semua kacau.
Muhammad aja yang baik. Semua orang
mencegah saya kencing. Yang suruh saya
kencing terus cuma siapa? Muhammad
sallallahu alaihi wasallam." Ya, lihat
dia ng doa dalam doanya saja dia disebut
nama Muhammad biasa aja. Allahumarhamni
wa muhammadan. Ya Allah rahmatilah aku
dan Muhammad. Bahkan dia mendahulukan
dirinya. Allah rahmati aku dan Muhammad.
Wala tarham maana ghairuna. dan jangan
rahmati selain kami. Rasulullah menegur
waq
apa? Hajarta wasian. Tahajarta wasian.
Kau telah membatasi luasnya rahmat Allah
Subhanahu wa taala. Tetapi lihat
bagaimana Rabb Badwi ini ee terpesona
dengan akhlak Nabi sallallahu alaihi
wasallam.
Di antara fa yang bisa kita ambil dari
hadis ini,
para ulama mengatakan
ee
dosa adalah ibarat najis. Dan amal saleh
ibarat dari air yang bersih. Ya, oleh
karena jika kita memiliki dosa-dosa
sementara kita punya amal saleh yang
banyak, maka dosa-dosa tersebut akan
tergerus dan akan hilang. Lihat Arab
Badu ini dia kencing. Dia kencing. Maka
Rasulullah suruh ambil apa? A air
seember. Airnya harus banyak.
Kencingnya mungkin tidak seember. Enggak
ada kencing seember sedikit ya. Kemudian
airnya seember. Apalagi ada yang
mengatakan min ma. Zanub itu ember
besar. Dituangkanlah ember besar, air
yang banyak, maka kencing tersebut
akhirnya hilang. Ya, oleh karenanya
Allah berfirman, "Innal hasanati yudhibn
sayiat dalikaikro lzakirin." Sungguhnya
amalan-amalan baik itu akan menggugurkan
atau menghilangkan dosa-dosa. Dan inilah
peringatan bagi orang-orang yang
berzikir. Maka seorang kalau banyak
melakukan amal saleh, banyak melakukan
amal saleh kemudian dia punya dosa-dosa
yang sedikit maka dosa tersebut akan
lebur dalam lautan kebaikannya. Makanya
rasuah wasallam bersabda,
maam yahmil khab. Kalau air sudah
mencapai dua kullah sekitar 200 liter
kemudian ada najis-najis yang masuk
terkena air tersebut maka tidak dianggap
tidak dianggap karena terdominasi dengan
air yang banyak tersebut. Maka kita
semua tidak ada yang luput dari
dosa-dosa. Dosa mata, dosa telinga, dosa
hati, banyak. Tapi perbanyaklah
amal-amal saleh yang banyak sering. Maka
kalau amal saleh banyak, dosa-dosa
tersebut akan otomatis akan hancur, akan
lebur bersama lautan kebaikan yang
dimiliki oleh seseorang. Ya.
Ee kemudian ada faedah juga disebutkan
oleh ee Syekh Utsimin rahimahullahu
taala terkait hadis ini. bahwasanya ee
ee ketika Rasul Sallahu Alaihi Wasallam
melihat najis tersebut dan kita tahu
Masjid Nabawi dulu dari tanah ya
sehingga ketika kencing dia akan meresap
ke bawah dan kalau untuk
menghilangkannya dengan mengguyurkan apa
air yang banyak sehingga semakin meresap
ke bawah tentunya itu tidak berlaku
kalau di karpet atau di
masjid seperti kita yang bertegel atau
berubin ya tentunya tidak tidak ee
berlaku Ya.
Ee
namun ee beliau mengatakan bahwasanya
hukum asal najis adalah yang yang
penting bisa hilang dengan sarana
apapun. Dengan sarana apapun. Adapun
Nabi sallallahu alaihi wasallam menyuruh
menggunakan air bukan berarti harus
pakai air. Tetapi yang tersedia ketika
itu yang mudah menghilangkan najis
adalah apa? A air. Karena menghilangkan
najis adalah yang penting najisnya
hilang. Mau dengan air, mau dengan
apapun yang penting kotoran tersebut
bisa hilang. Dan ini pendapat kalau
tidak salah mazhab Hanafi dan ini
pendapat kuat ya, bahwasanya tidak harus
menggunakan apa? Air. Yang penting
najisnya hilang. Maka selesai. Maka
selesai. Misalnya ada seorang ee
kasurnya misalnya dikencing oleh anaknya
kemudian dijemur. Dijemur kemudian
terkena pasir kemudian terkena matahari
menguap kencing tersebut lama-lama sudah
enggak ada bekasnya.
Sah berarti kasar itu sudah bisa dipakai
atau tidak bisa najisnya sudah hilang.
Yang penting kan najisnya apa? Hilang.
Nah, zaman sekarang banyak sekali
bahan-bahan kimia yang bukan air tapi
cairan. Tapi bukan apa?
air cairan apapun cairannya kalau bisa
menghilangkan najis maka najis tersebut
hilang maka najis tersebut hilang ya
makanya kalau mensyaratkan harus pakai
air maka banyak hal yang merepotkan ya
seperti
ee sebagian
berpendapat kalau ee tidak pakai air
maka tidak sah menghilangkan najisnya
contoh seperti mencuci pakaian dengan
menggunakan uap ya ini apa namanya tidak
tidak sah karena tidak ada air di situ
atau pakai gas atau apa tidak pakai air
maka tidak sah. Seperti kalau mencuci
air pakai air sabun. Air sabun itu bukan
air mutlak lagi tapi air bersabun. Kalau
cuci pakaian dengan air seperti ini
tidak sah. Karena mencuci menghilangkan
najis harus pakai air. Air tersebut
maksudnya air mutlak yaitu yang masih
disifati dengan air. Adapun kalau
menghilangkan najis pakai teh misalnya,
pakai kopi misalnya, maka tidak boleh
karena sudah bukan lagi menjadi apa?
Air.
Intinya repot. Sampai ada pembahasan
misalnya bagaimana mencuci pakai mesin
cuci. Mesin cuci rata-rata berapa liter?
8 12 ya 12 liter itu belum dua kulah.
Dua kulah berapa? 200 liter du kullah.
Nah mesin cuci ini kalau kita masukkan
celana di situ ada najis satu tetes aja
kita masukkan ke 8 lit ini air tersebut
menjadi apa? Najis. Sehingga tidak bisa
lagi digunakan untuk mencuci. Agak repot
ini. Sehingga kalau mencuci pakaian
langsung taruh mesin cuci maka tidak
sah. Menurut pendapat ya sebagian ulama.
Jadi masalah juga ketika airnya kita
campur rinso dulu.
Air tersebut bukan lagi menjadi air
sudah menjadi air rin rinsa. Ini kalau
kita buat cuci tidak sah lagi. Kenapa?
Karena kita mencucinya bukan pakai a
air. Ini maksudnya saya mengatakan fikih
klasik orang yang berpegang dengan fikih
klasik ternyata ada pendapat lain yang
membolehkan. Yang penting najisnya
hilang dengan cara apapun.
Akhirnya saya pergi ke suatu tempat ada
tulisan
laundry syari
beneran karena banyak laundri tidak apa
syari karena cara tadi laundry air
langsungkan masuk ke ada ke taruh mesin
cuci airnya 8 lit 12 lit 20 lit taruhlah
antum taruh pakaian ada najis langsung
tidak sah karena kapan air kurang dari
dua kullah kena satu tetes air kencing
air tersebut ternajisi. Kalau air
tersebut sudah ternyi tidak boleh lagi
buat mencuci apa pakaian. Berarti
laundri tidak sah. Cara kedua juga tidak
sah. Taruh air taruh sabun.
Taruh sabun airnya sudah berubah. Bukan
lagi menjadi air biasa, tapi sudah air
sa sabun ini juga sudah tidak boleh
digunakan untuk mencuci pakaian yang ber
bernajis. Itu tidak syar'i. Terus
syarinya bagaimana? Ya mungkin airnya
taruh dulu ee pakaiannya terus disirami
air terus sampai najisnya hilang. sudah
najisnya hilang baru di cuci. Jadi dia
sudah suci dulu sebelum dimasukkan mesin
cuci. Ini repot juga ya. Makanya mereka
bikin laundri syari.
Tapi kalau itu, kita ikut pendapat
mazhab Hanafi, yang penting najis hilang
selesai. Mau pakai bensin,
mau pakai ee apa kek apa kek, uap kek
apa kek, mau pokoknya najis hilang
selesai. Masalahnya kan najis. Najisnya
ada atau tidak? Sudah hilang selesai.
Ngapain kita bilang ternajisi? Yang
penting najis nempel, najisnya hilang,
selesai. Dan itu pendapat yang lebih
kuat bahwasanya najis itu hilang, yang
penting najisnya hilang maka sudah sudah
selesai. Ya, karena kalau tidak pendapat
seperti repot. Contoh seperti apa hukum
ee
membersihkan kotoran bayi pakai tisu
basah? Ini repot. Kalau kita baca
sebagian fikih klasik, tidak boleh
menggunakan satu yang basah, tapi harus
satu yang kering. Kalau istijmahar kan
bisa pakai air, bisa pakai selain air
seperti batu, seperti kayu, seperti daun
dengan syarat tidak boleh basah. Karena
kalau basah maka langsung ternajisi.
Nah, pakai tisu basah, tisu dibasahin
tidak sah. Padahal kalau kita pakai tisu
basah lebih bersih atau daripada dengan
tisu kering? basah
tisu basah le susah lebih bersih.
Maksudnya ee oleh karenanya tidak mesti
kita harus terikat pada satu mazhab.
Terkadang dalam satu permasalahan mazhab
lain lebih apa? Lebih logis, lebih
benar, lebih kuat, dan lebih mudah untuk
dipraktikkan. Adapun Nabi sallallahu
alaihi wasallam di zaman Nabi selalu
pakai air karena itu yang tersedia dan
itu yang mudah. Mudah menghilangkan apa?
Najis ya. tetapi tidak harus pakai air.
Di antara buku tidak harus pakai air,
Rasulullah menjelaskan kalau wanita,
wanita di zaman Nabi minta izin, minta
izin agar dipanjangkan ee roknya. Mereka
minta izin ya ketika Rasulullah
mengatakan eh yurkina syibron hendaknya
mereka para wanita memanjangkan
rok mereka satu jengkal di bawah mata
kaki. Kata Ummu Salamahdamun.
Kalau begitu nanti tersingkap.
Kalau cuma rok satu satu jengkal di
bawah mata kaki di sana angin banyak
mudah tersingkap
kata Rasul wasallam yurkinaan walna alik
kalau gitu boleh dia panjangkan sampai
satu hasta satu hasta segini berapa
meter nih 0,7 m sekit
60 sampai 70 cm namanya zira jadi mereka
dahulu para sahabiat roknya
panjang-panjang sampai di bawah mata
kaki sekitar berapa satu Hasta antara
mata kaki sampai kaki berapa senti?
Mata kaki sampai kaki sampai telapak
kaki berapa senti?
10 cent ketinggian ya?
5 cent ya? 5 cent berarti mereka masih
ada 60 cent. 60 cent di bawah kaki. Ini
rokoknya perempuan dahulu karena mereka
tidak pengin kaki mereka terlihat.
Mereka tidak pengin kaki mereka ter.
Makanya Imam mengatakan, "Ya Rasulullah,
kalau cuma sejengkalfaqadamahun,
kalau cuma sejengkal akan tersingkap.
Kami gak mau." Kata Rasulullah, "Silakan
panjang, tapi tidak boleh lebih daripada
satu has hasta hasta." Nah, ketika
mereka jalan dengan adanya satu satu
hasta tadi di bawah mata kaki, maka
potensi terkena najis. Iya. Enggak terak
kata Rasulullah. "Tapi sudah dibersihkan
dengan tanah setelahnya
kita najis kena tanah, kena najis kena
tanah, kena najis kena tanah, maka tanah
juga bisa membersihkan apa? Na
najis maksud saya tidak harus pakai air.
Maka pendapat yang benar, wallahuam
biswab, pendapat Hanafiyah bahwasanya ee
bisa bersih yang penting najisnya hilang
dengan cara apapun. mau bahan kimia, mau
dijemur, mau diapain, yang penting kalau
najisnya hilang maka kembali lagi
bersih.
Adapun Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam menyuruh ee menggunakan air
karena itulah yang tersedia di zaman
tersebut dan mudah untuk di ee gunakan
dan lebih cepat.
Tib eh kita lanjutkan.
Wa Anas radhiallahu anhu Nabi sallallahu
alaihi wasallamq dari Anas radhiallahu
anhu dari Nabi sallallahu alaihi
wasallam beliau berkata, "Yassiru wala
tuassiru basyiru wala tunaffiru
muttafaqun alaih." Mudahkan, jangan
sulitkan.
Ee beri gembiralah dan jangan buat lari,
jangan buat lari audiens ya.
muttafaqun alaih. Hadis riwayat Bukhari
dan ee dan Muslim. Ini hukum asal dalam
dakwah. Mudahkan dan jangan sulitkan.
Berilah kabar gembira dan jangan ee
membuat manusia lari. Ya Allah Subhanahu
wa taala berfirman
ee
yuridullahu bikumul yusro wala yuridu
bikumul usro w ja'ala alaikum fiddini
min haraj. Kata Allah subhanahu wa
taala, "Allah ingin kemudahan bagi
kalian dan Allah tidak ingin kesulitan
bagi kalian." Dan juga firman Allah,
Allah tidak menjadikan bagi kalian
kesulitan dalam agama. Ya,
saya bacakan di sini. Jadi, jangan
mempersulit dalam hadis kata kata Aisyah
radhiallahu taala anha, mair Nabi
shallallahu alaihi wasallam baina amrain
illa aisarahuma malam yakunman.
tidaklah Nabi diberi pilihan dengan dua
pilihan kecuali Nabi pilih yang paling
ringan selama tidak do tidak dosa. Jadi
tidaklah agama bermaksud untuk mencari
kesulitan.
Dalam Islam ada dalam agama namanya dua
masyaqah. Masyaqqah dan masyaqah.
Kesulitan-kesulitan. Kesulitan yang
pertama adalah kesulitan yang melazimi
ibadah. Itu pasti ada. Karena ibadah
makanya dikatakan taklif, pembebanan.
Karena orang disuruh melakukan kegiatan
untuk beribadah kepada Allah Subhanahu
wa taala. Dalam kegiatan tersebut
terkadang ada kesulitan seperti puasa
ada kesulitan menahan lapar, menahan
dahaga,
menahan makanan, menahan syahwat, ada
kesulitan. Seperti haji berjalan ke sana
ke mari, ke sana ke mari, ada kesulitan.
Ini kesulitan yang tidak bisa dihindari
ya. Eh seperti berjihad fisabilillah ada
kesulitan. Berjalan mengangkat senjata,
melawan musuh ya bertarung dengan
kematian ada kesulitan. Ini namanya
kesulitan yang tidak bisa dihindari
dalam ibadah seperti salat ya. Salat
malam yang melawan rasa kantuk bangun ya
kemudian
berdiri baca Quran yang lama. Ini ada
kesulitan. Kesulitan-kesulan seperti ini
namanya kesulitan yang melazimi suatu
ibadah yang tidak bisa dihindari.
Dan ini tidak dimaksudkan untuk sulit,
enggak. Tapi tidak bisa dihindari. Nah,
kalau orang ternyata mengalami kesulitan
ini, maka dia dapat pahala. Rasul sahu
alaihi wasallam bersabda, "Ajurki alaqri
nasabik." Pahalamu sesuai dengan ukuran
keletihanmu. Ya, kalau kau tidak bisa
ternyata letih, sulit tapi harus
dijalani karena ini konsekuensi ibadah
maka pahalamu sesuai dengan keletihanmu.
Adapun masyaqah jenis kedua, kesulitan
yang kedua, kesulitan yang tidak
dituntut oleh syariat. Ya, maka ini
tidak boleh dicari-cari. tidak boleh
dicari-cari ya. Ya, kalau tidak ada
tidak harus mendapat kesulitan tersebut
maka jangan tempuh kesulitan tersebut.
Saya bacakan sini perkataan Syekh
Utsimin.
Misalnya ada dua jalan menuju masjid.
Ahadumun fi has ahjar wa ahjar wa
aswaqani sahlun. Jalan pertama menuju
masjid situ ada batu-batu, ada
kerikil-kerikil, ada duri-duri.
Sementara jalan kedua mudah.
Maka yang lebih baik di sisi Allah
adalah engkau menempuh jalan yang kedua
yang mudah. Jangan sengaja situlah lewat
duri-duri. Siapa tahu luka dapat pahala.
Enggak. Ini ini kesulitan yang tidak
yang tidak dimaksud dalam syariat. Kalau
yang pertama kok tetap sulit harus jalan
tapi itu dapat pahala. Yang kedua,
waakainahuakin.
Kalau misalnya di musim dingin, di depan
kau ada dua sumber air. Yang satu
dingin, yang satu hangat. Kalau kau
pakai yang dingin, kau akan kesulitan
yang hangat kau merasa nyaman. Pilih
yang mana?
Yang hangat. Ngapain cari yang di dingin
kecuali tidak ada air lagi kecuali yang
dingin maka tempuhlah kesulitan
tersebut. Makanya rasul sahu alaihi
wasallam mengatakan di antara amal saleh
isbagul wudu alal makarih.
Menyempurnakan wudu meskipun kau tidak
suka. Dicontohkan oleh para ulama kau
ingin wudu musim dingin tetap kau wudu
dengan sempurna. Ini kalau tidak ada
pilihan air yang yang lain. Tapi kalau
ada pilihan air hangat ngapain cari yang
su susah?