Transcript
TABC2PoVpBs • Rahasia Bisnis Retail Autopilot dan Tim Solid
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/naikkellas/.shards/text-0001.zst#text/0068_TABC2PoVpBs.txt
Kind: captions
Language: id
Waktu itu istri saya hamil 8 bulan,
kondisi perusahaan sedang tidak
baik-baik saja, Mas. Dan kami harus
terpaksa terusir dari rumah kami
sendiri. Waktu itu ada sedikit
perselisihan antara saya dan istri
dengan keluarga besar dari mertua yang
mengakibatkan mertua saya itu
marah-marah besar sama istri. Istri saya
diberikan pilihan, kamu mau ikut
keluarga atau ikut suamimu? Tetapi istri
memilih saya langsung hari itu kita
pindah ke gudang kita. Saya ingat betul,
Mas. Waktu malam itu saya, istri saya
dan kedua anak saya dalam posisi istri
mengandung 8 bulan. Kita hanya makan
nasi sama mie dua bungkus dibuat pat.
Iya. Kalau orang biasa menganggapnya itu
enak, Mas. Ya, tapi kan saya pimpinan
saya owner suatu perusahaan yang membeli
karyawan. Masak untuk makan sendiri saya
sulit.
Perkenalkan nama saya Deni Lukman. Usia
saya saat ini 35 tahun. Saya lahir di
Madiun, Jawa Timur dan sekarang tinggal
di Pacitan. Saya founder dari Madani
Distribusi dan juga Madani Grosir Snack
dan saat ini CEO dari Toko Tenang atau
CV Teman Den Bagus Berkah. Kami
berlokasi di Pacitan, Jawa Timur, kota
kelahirannya Bapak SBY. Kalau dari
background pendidikan saya dulu hanya
lulusan SMK dan itu pun jurusannya
otomotif, jurusannya mekanik otomotif.
Setelah itu saya sempat kerja di
bengkel. Ternyata feelnya atau jiwanya
tidak ada di situ. Saya lebih senang
ketemu orang ngobrol, habis itu kerja di
sales sampai sekarang itu lebih dari 15
tahun. Saya dulunya sebagai sales di
perusahaan FMCGI multinasional selama 6
tahun dan level terakhir menjadi sales
area koordinator di area Pacitan di sini
dan mendapatkan cip the best supervisor
area Jatim. Dan saya ini supervisor
termuda. Waktu itu baru usia 23 tahun
ya. 23 tahun saya sudah jadi supervisor
lalu pindah atau berganti perusahaan di
perusahaan lokal. Karena saya waktu itu
terinspirasi dari Jackma kalau kita
bekerja tidak perlu harus tinggi-tinggi
di perusahaan yang besar, cukup di
perusahaan biasa atau sedang. tetapi
kita langsung bisa bertemu dengan
ownernya agar kita bisa tahu pola pikir
owner itu seperti apa. Makanya saya
memutuskan untuk keluar dari perusahaan
yang lama lalu kerja di perusahaan lokal
Pacitan dan alhamdulillah saya
mendapatkan banyak ilmu dan manfaat dari
owner di sini. Tapi waktu saya pertama
kali kerja dengan perusahaan distribusi
yang ada di lokal Pacitan ini, itu tidak
langsung mendapatkan posisi yang nyaman
juga, Mas. Saya itu juga merintis. Jadi
waktu di posisi perusahaan multinasional
saya sebagai supervisor. Terus di sini
saya hanya sebagai tukang tagih Mas atau
de kolektor. Waktu itu awalnya seperti
itu dan itu saya rintis
perlahan-perlahan. Akhirnya
alhamdulillah owner memberikan saya
kesempatan level tertinggi. Saya sebagai
operasional manager perusahaan di mana
terakhir saya bekerja. Akhirnya saya
memutuskan banting setir dari karyawan
menjadi pebisnis atau pedagang. Seperti
itu, Mas. Alasan terkuat saya waktu itu
karena kalau kita sudah berada di level
tertentu, di zona nyaman tertentu, kita
sebagai jiwa atau mental pengusaha pasti
tidak nyaman. Akhirnya saya mencoba
sebagai pengusaha. Dan di sisi lain saya
juga mau ikhtiar menjadi pedagang karena
salah satu pintu pembuka rezeki itu
adalah menjadi pedagang.
Alhamdulillahnya di tahun pertama waktu
itu sebelum COVID 2019 saya cuman berdua
cuman dua orang. dua orang. Saya sebagai
sales dan juga sebagai sopir. Jadi saya
membawa kendaraan sendiri dan saya ada
tim satu helper saya dan
alhamdulillahnya sekarang di tahun 2025
kita memiliki 21 karyawan. Dari awal
berdiri dalam 1 bulan awal menghasilkan
angka sekitar 100 sampai R00 juta saja.
Iya. Kenapa angkanya bisa langsung
segitu? Karena memang saya kan sudah
lama menekuni dunia distribusi ini dan
juga saya sudah lama untuk berjualan di
area Pacitan. Jadi, saya sudah kenal
dengan toko-toko, dengan
customer-customer saya yang lainnya. Dan
saya membangun hubungan baik itu ketika
waktu bekerja dahulu. Makanya ketika
saya keluar untuk berbisnis sendiri,
mereka menyambut positif hal itu dan
akhirnya mereka juga membantu saya untuk
membeli dagangan saya. Di tahun
berikutnya 2020 kita kena COVID, Mas.
Jadi itu cukup jadi penahan untuk
mendapatkan omset yang besar. Setelah
itu di tahun-tahun berikutnya kita sudah
flat di angka 500-an juta, Mas. Dan
sekarang karena kami, saya dan kakak
saya memutuskan untuk bersama untuk kita
merger jadi satu untuk pengelolaan dari
tiga lini channel ini, distribusi toko
online dan toko offline. Alhamdulillah
atas izin Allah dalam setiap bulannya
kita minimal angkanya sudah di atas 1 M
semua, Mas. Iya, di atas 1 M itu untuk
hari-hari biasa atau untuk bulan-bulan
yang biasa. Kalau untuk PX season-nya
kita bisa dua sampai 3 kali lipatnya,
Mas. Di season-nya itu sebelum Ramadan
dan juga pas ketika lebaran atau di
bulan Syawal itu untuk orang hajatan dan
lain sebagainya itu angkanya kita
naiknya cukup lumayan drastis.
Kenapa saya memilih usaha yang sejenis
di sini? Karena yang pertama saya memang
eksert di bidang ini. Saya tahu celuk
belunya mulai dari A sampai Z-nya, dari
0 sampai 100-nya. Saya benar-benar paham
dan mengerti. Makanya saya memutuskan
untuk terjun di bisnis ini karena saya
tidak mau mencoba-coba bisnis lain yang
saya tidak ketahui sebelumnya. Waktu
pertama kali terjun saya ke distribusi
dulu karena memang itu yang saya bisa.
Jadi saya sudah bertahun-tahun di dunia
distribusi. Akhirnya saya membuat
distribusi dulu. Kalau distribusi itu
biasanya dikenal dengan nama agen ya.
Agen suatu produk dari pabrik yang
memang tidak bisa mendistribusikan
produknya di Pacitan. Karena Pacitan ini
semacam kota yang terisolir, Mas ya.
Karena mau masuk ke Pacitan itu jaraknya
lama, jaraknya jauh, jalannya
berkelok-kelok. Jadi memang di
pegunungan. Perusahaan yang saya kelola
saat ini kita membuat tiga level channel
yaitu yang pertama itu level distribusi
ya. Jadi kita menyalurkan atau
mendistribusikan produk-produk FMCG
tentunya itu di area seluruh Pacitan.
Terus yang kedua, karena ini kemajuan
teknologi, jadi saya memanfaatkan
teknologi untuk masuk ke ranah online.
Jadi saya memiliki toko online mulai
dari Tokopedia, TikTok Shop, Shopee, dan
juga saya memaksimalkan WhatsApp karena
ternyata setelah saya masuk ke dunia
online ini impact-nya sangat powerful
bagi keberlangsungan bisnis saya. Nah,
lalu di tahun 2025 ini saya dengan kakak
saya memutuskan untuk merger jadi satu
membikin satu CV baru yaitu CV Teman
Bagus Berkah itu untuk menaungi
kesemuanya ya karena potensi ini bisa
dikembangkan apabila kita bersama dan
akhirnya saya memiliki tiga channel
yaitu satu channel distribusi, satu toko
online dan satu toko offline. Kalau
untuk channel distribusi ini ee yang
awalnya kita kerjakan memang kita dari
satu toko ke toko yang lain ya. Terus
kita juga memiliki sales juga untuk
keliling di area seluruh Pacitan. Jadi
nanti misalkan hari Senin kita order,
Selasanya langsung kita kirim dengan
kendaraan kita. Itu khusus untuk area
pasitan dan itu salah satu traffic untuk
mempercepat atau menaikkan omset ya
untuk putaran di cash flow-nya itu bisa
sangat cepat. Tantangan terberat saya
yang saya hadapi adalah tidak punya
orang yang mengarahkan ya. Jadi tidak
ada mentoring yang khusus ya. Tidak ada
mentor yang khusus yang tahu
blueprint-nya. Blueprint-nya bagaimana
kalau kita dari karyawan menjadi
pengusaha itu harus bagaimana nanti
titiknya gimana caranya balik modal
ngatur cash flow caranya ngatur karyawan
SDM dan lain sebagainya itu tidak ada
yang mengarahkan. Jadi semuanya murni
saya by experience saya yang lama. Saya
pikir waktu itu saya sudah tahu karena
sudah lama bekerja di perusahaan
multinasional. Ternyata ketika saya
terjun sendiri menjadi pebisnis itu
memang effortnya sungguh luar biasa.
Jadi kerjanya sudah tidak 9 to5 ya, tapi
24 jam itu kerja terus, Mas. Jadi bisa
dikatakan seperti itu. Tidur pun waktu
awal-awal kita juga masih mengigau. Kata
istri saya itu mengigau itu tentang
pekerjaan juga. Jadi memang di awal-awal
waktu merintis ya memang berat Mas
karena saya sendiri kan akhirnya saya
berkomunitas Mas. Jadi saya membangun
komunitas untuk bisa kita sharing karena
saya yakin permasalahan yang saya alami
dan orang lain alami itu pasti ada
solusi apabila kita sharing, apabila
kita berbagi, Mas. Dan alhamdulillah ada
banyak beberapa
permasalahan-permasalahan orang lain
yang bisa kita bantu selesaikan kayak
gitu, Mas. Walaupun permasalahan itu
kita belum pernah mengalaminya, tetapi
karena saya sudah 15 tahun lebih di
bisnis FMCGI terutama retail ini, jadi
saya sangat paham bagaimana cara
menyelesaikannya, Mas. Ada pengusaha
yang mengeluhkan kepada saya terkait
masalah omsetnya yang stuck ya, Mas ya.
Dia sudah memiliki banyak karyawan,
tokonya juga sudah besar, tapi dia
omsetnya stuck dan dia akan melakukan
pengembangan. Bagaimana nih cara
ngembangin omsetnya? Akhirnya waktu itu
saya tanya saja sudah masuk ke digital
apa belum. Oh, ternyata waktu itu sudah
masuk tapi tidak digarap secara
profesional. Akhirnya saya memberikan
hanya sedikit masukan atau insight itu
terkait dengan mencari database lewat
WhatsApp, Mas. Itu untuk lingkungan
sekitar saja dulu. Jadi, radius 5 km
kita harus bisa mendapatkan nomor-nomor
WA-nya. Karena apa tujuannya? Agar biar
kita bisa jualan lewat WhatsApp dan kita
bisa mengirimkan langsung ke orang
tersebut tanpa orang tersebut keluar
rumah. itu adalah channel baru yang
masih belum digarap kayak gitu, Mas.
Sesimpel WhatsApp saja ternyata
impact-nya luar biasa. Omsetnya di bulan
pertama itu bisa Rp50 juta, Mas. Dan di
bulan berikutnya itu bisa sampai ke
angka Rp150 juta. Itu saya juga kaget
loh, kok bisa seperti itu? Tapi kita
sudah rencanakan, kita sudah pemil,
ternyata militan-militannya cukup luar
biasa. Mas, kalau untuk mendapatkan
database WhatsApp waktu itu karena
mendekati hari raya kemerdekaan seperti
ini, saya menganjurkan untuk membuat
program seperti Semarak kemerdekaan.
Jadi nanti setiap pelanggan yang
berbelanja ke toko tersebut dia
memberikan nomor telepon ya, memberikan
nomor HP itu yang nanti akan dihubungi
sama karyawannya dia. Jadi semua orang
yang belanja walaupun itu cuma 1.000
perak, 2.000 perak. Jadi tidak
terkecuali, Mas. Nah, nanti dari
nomor-nomor itu akan dihubungi ulang
sama karyawannya dan disuruh untuk
menyimpan nomor toko. Nah, nanti
akhirnya toko bisa jualan lewat status
WhatsApp atau bisa untuk di-direct
langsung untuk didm langsung ke nomor
WhatsApp-nya. Dan alhamdulillah itu
dilaksanakan dan akhirnya omset yang
semula nol, channel yang tidak digarap
atau funnel yang tidak digarap akhirnya
muncul angka sebegitu besarnya. Kalau
saat ini yang saya lakukan kepada
teman-teman yang ingin belajar atau
sharing bersama, saya mencantumkan nomor
saya di deskripsi di video ini agar kita
saling belajar bersama, kita saling
sharing, membagi pengalaman kita. Oh,
ternyata masalah seperti ini mungkin di
pengusaha A belum pernah dilakukan, tapi
sudah dilakukan di pengusaha B. Dan
caranya bagaimana ini bisa saling
sharing atau mungkin bisa di-sharingkan
ke kami habis itu, oh ini masalah
seperti A B C D ini bagaimana
penyelesaiannya biasanya gitu. kita
dengan berkomunikasi karena semua
digital ya Mas ya. Untuk memudahkan
komunikasi ya kita lewat WhatsApp, lewat
mungkin Zoom. Yang penting kita mau
belajar, kita mau menyimak dan kita mau
mempraktikkan apa yang sudah kita
pelajari itu pasti akan sedikit membantu
atau sedikit memberikan solusi untuk
pengusaha-pengusaha rettail yang terkena
masalah dalam hal bisnisnya.
Problem dari para pengusaha retail saat
ini, selain munculnya retail modern yang
marak ya, seperti kita ketahui bersama
itu ada A dan I ya. Nah, itu cukup
mengganggu eksistensi
pengusaha-pengusaha rilasnya memang
benar-benar kecil, yang benar-benar
mikro itu sangat berdampak sekali.
Tetapi kalau kita bisa dalam tanda kutip
bersahabat dengan mereka, kita masih
bisa mendapatkan marketnya. Karena apa?
karena dia tidak jual buah-buahan yang
fresh, banyak dan murah. Buah-buah
mereka mahal semua. Mereka tidak jualan
e bumbu-bumbu dapur yang fresh, yang
murah kan gitu. Pelayanan yang diberikan
retail modern itu tidak seperti
pelayanan yang diberikan oleh toko-toko
kecil lainnya. Karena toko-toko kecil
ini kita mengutamakan customer
experience berbasis hati, Mas. Jadi
kalau kita baik ya, kita baik, pelanggan
datang terus kita menyapa namanya karena
kan kita tahu dan kita kenal kita
menyapa namanya. Bu dari mana? Gimana
kabarnya? Oh, kemarin habis hajatan ya
atau kemarin gimana hajatannya lancar?
Dengan seperti itu akan terjadi good
well mas, hubungan baik antara kita
dengan pelanggan. Dan itu yang tidak
dilakukan oleh pelaku retail modern.
Kesalahan lainnya ketika
pengusaha-pengusaha retail itu baru
menyadari bahwasanya ketika barangnya
habis ya barangnya sudah habis dan juga
uangnya habis. Uangnya gak ada. Padahal
ketika barang kita habis harusnya uang
kita banyak ya. Atau mungkin ketika uang
kita habis barang kita banyak kan gitu.
Lah ini sudah barangnya habis uangnya
habis. Kenapa? Karena biasanya karena
pengelolaan keuangannya yang belum
terstruktur dan tersistematsi. Semisal
ee mereka masih menggunakan pencatatan
manual, tidak ada stock opnam, habis itu
mungkin tidak terlalu percaya dengan
karyawannya atau bisa jadi memang
barangnya habis dimakan oleh
karyawannya, dibawa oleh karyawannya
atau uangnya habis juga sama dibawa oleh
karyawan. Ini yang problem yang cukup
banyak dan menyita perhatian saya ketika
sharing dengan teman-teman pelaku retail
lainnya. Untuk mengetahui atau
meminimalisir agar barang habis, uang
habis, kita harus tahu mana yang
produk-produk fast moving, middle
moving, dan slow moving. Secara
persentase ini bisa dilihat dengan data
dengan kalau sudah memakai software
tidak manual, bisa manual tapi
pencatatannya harus rajin, Mas. harus
rajin, harus tahu setiap harinya keluar
berapa, barangnya apa, itu harus tahu.
Tidak bisa mengandalkan feeling saja.
Nah, kalau di komputer atau di software
itu 70% sebagai rumusnya 70% omsetnya
ini harus didominasi oleh produk-produk
yang fast moving. Kita anggarkan paling
banyak karena apa? Karena dia putarannya
cepat. Jadi kita harus langsung oh habis
langsung beli, habis langsung beli.
Memang marginnya lebih tipis, tapi
karena putarannya cepat akhirnya secara
quantity-nya dia akan lebih banyak. Yang
20%-nya itu dimasukkan untuk produk
middle moving. Produk middle moving ini
dia putarannya tidak terlalu cepat,
marginnya tidak terlalu banyak ya, tapi
dia tidak sedikit marginnya. Jadi ini
masih bisa mengkatrol margin untuk yang
produk fast moving ya. ini tinggal kita
arahkan aja dia naik ke produk-produk
fast moving. Nah, yang terakhir ada ya
yang 10% ini produk-produk slow moving.
Jadi orang biasanya terjebak di sini
karena apa? Iming-iming program yang
besar dari supplier, Mas. Dari principal
dari sales. Biasanya produk ini memiliki
margin tinggi tapi keluarnya pelan
banget. Bahkan bisa 1 tahun baru bisa
habis. Nah, tapi orang tergiur karena
wah ini dapat hadiah apa? sepeda motor
atau dapat hadiah mobil atau dapat
hadiah TV, kulkas dan lain sebagainya
lah. Ini yang 10% aja. Ini harus kita
hindari atau kita mampatkan, kita batasi
banget lah. Ini biasanya dilihat dari
software, nanti ada klasifikasinya
sendiri, Mas. Seperti itu untuk
contoh-contoh produk yang fast moving
ya, Mas ya. yang seperti kita ketahui di
toko-toko retail yaitu produk-produk
sembako, minyak beras, gula kopi dan
lain sebagainya. Ya, itu produk-produk
fast moving tapi margin kecil. Atau
kalau toko-toko yang berbasis snack.
Kalau kita tahu supplier-supplier snack
yang besar seperti Garuda Food, Mayora,
OT, Wings, Endomarco, dan lain
sebagainya itu perusahaan besar
produknya fast moving semua lah. Itu
yang mungkin dibanyakin. Tapi tidak
semua produknya itu fast moving, Mas.
Jadi ini harus dipilih, Mas. kriteria
ini kadang mereka menawarkan harus ambil
A B C ini baru bisa ini. Ya sudah cuman
syarat dan ketentuannya aja yang kita
ambil. Misalkan hanya satu bok atau
hanya satu karton. Selebihnya kita
maksimalkan yang di fast moving-nya yang
benar-benar cepat banget itu. Itu kita
harus benar-benar tahu. Jangan sampai
tergiur dengan iming-iming program.
Kalau kita tergiur program, pasti nanti
kita juga akan kena produk-produk yang
slow moving-nya itu lah. Terus
produk-produk middle moving itu produk
yang tengah-tengah, Mas. Snack-snack
besar yang affordable produk premium.
Jadi dia di atas eceran R5.000 ya, di
atas ee Rp10.000. Itu produk-produk yang
cukup menarik margin ya, tapi dia tidak
terlalu ramai kayak gitu, Mas. Tidak
terlalu cepat putarannya, Mas. Nah, itu
tetap harus ada karena itu buat sekali
waktu harus untuk pelengkap di toko.
Terus yang terakhir ada produk-produk
slow moving. Misal produk-produk yang
tidak bisa dimakan, Mas. Biasanya
produk-produk palen atau produk-produk
yang memang tidak dikonsumsi itu
biasanya lambat dan itu ya tetap harus
dijaga dia. Kalau kebanyakan yo nanti
kita akan boncos atau rugi dan akhirnya
jadi dead stock, Mas. Jadi dia akhirnya
stok yang tidak bisa bergerak sama si
dijual gak laku, dipromo apalagi dan ini
adalah salah satu produk yang paling
banyak menggerus uang para pemilik toko.
Untuk memecahkan sistemasi tersebut
biasanya kita memberikan arahan yaitu
sudah harus memakai komputer, harus
memakai software yang memang ini bisa
memantau kondisi stoknya, kondisi
barangnya, kondisi harganya. Sekarang
banyak orang ingin membuka cabang, tapi
sayangnya mereka tidak mengetahui
bagaimana kesiapannya. Mungkin dia hanya
punya modal saja, punya uang saja,
bahkan yang lebih parah dia hanya punya
strategi saja. Nanti di sana pasti
ramai, pasti laku. Padahal itu tidak.
Justru dia mau buka cabang baru, dia
akan semakin pusing. Padahal kalau di
logika harapannya dia buka cabang baru
marginnya tambah besar kan gitu. Jadi
kalau ingin membuka cabang baru biasanya
kita menerapkan beberapa strategi. Yang
pertama harus survei dulu. Survei dulu
lokasi dan kompetitornya ada atau tidak.
Terus kita matangkan dulu di pusatnya di
toko pertama ini semuanya sudah matang
apa belum. Mulai dari pengelolaan SDM,
terus jobd des karyawan, terus habis itu
untuk keuangannya, Ting-nya dan lain
sebagainya. Ini kita matangkan dulu.
Setelah ini bisa baru diduplikasi atau
dimirroring ke cabang kedua. Dan cabang
kedua pun tidak bisa langsung. Karena
apa? Karena kita harus cari karyawan
yang memang harus tepat. Justru akhirnya
ketika membuka cabang kedua, kalau kita
semakin pusing berarti kita tidak
mendapatkan orang yang tepat. Bahkan
biasanya malah owner buka di cabang
pertama juga harus ke cabang kedua nih
bolak-balik bolak-balik kesehatannya
terganggu, justru makin pusing dan lain
sebagainya. Nah, ini yang harus
dihindari. Karena apa? Biasanya orang
itu sudah iri, Mas. Lihat mungkin
tetangganya atau mungkin kompetitornya
buka di sana, dia pengin langsung buka
itu. Ya, sifat-sifat ini yang harus
dihindari. Karena tidak semua ketika
buka cabang akhirnya keuntungan
bertambah. Bisa jadi buka cabang justru
awal dari kebangkrutan. Nah, untuk
mendelegasikan ini kita harus tahu
bagaimana cara mencari karyawan yang
tepat. Karena semuanya ada caranya, Mas.
Gimana caranya mencari karyawan yang
tepat? Gimana caranya menempatkan posisi
karyawan di posisi yang tepat. Itu kan
juga penting, Mas. Ini kita bahas, kita
sharingkan bersama-sama, terus kita cari
solusi. Buat teman-teman pengusaha toko
retail, pengusaha minimarket, UMKM, toko
kelontong dan lain sebagainya. Apabila
ingin bisnis Anda naik kelas bisa
menghubungi saya di nomor ini. Nanti
saya akan langsung menjawab pertanyaan
dari teman-teman semuanya agar
permasalahan kita, agar bisnis kita naik
ke level yang lebih tersistematis lagi.
Semua pengusaha pasti memiliki titik
terendah ya, Mas ya. Waktu itu saya
ingat istri saya hamil 8 bulan, kondisi
perusahaan sedang tidak baik-baik saja,
Mas. setelah COVID tidak baik-baik saja
dan kami harus terpaksa terusir
dari rumah kami sendiri. Itu sebenarnya
rumah milik mertual tetapi sudah saya
beli
dan
qadarullah waktu itu ada sedikit
perselisihan antara saya dan istri
dengan keluarga besar dari mertua yang
mengakibatkan mertua saya tuh
marah-marah besar sama istri. Bahkan
waktu itu istri saya diberikan pilihan,
kamu mau ikut keluarga atau ikut
suamimu? Dan istri saya memilih saya
langsung hari itu kita pindah, kita
ambil semua pakaian dan lain sebagainya.
Terus lalu kita pindah ke gudang kita.
Saya ingat betul, Mas.
Selesai ditanya
waktu itu malam itu saya istri saya dan
kedua anak saya dalam posisi istri
mengandung 8 bulan kita hanya makan nasi
sama mie dua bungkus dibuat orang pat
ya kalau orang biasa menganggapnya itu
enak Mas ya tapi kan saya pimpinan saya
owner suatu perusahaan kan
yang memberi karyawan masak untuk makan
sendiri saya sulit
ini tidak ada yang tahu bahkan saya
tidak cerita sama ibu saya sama keluarga
saya karena saya merantau saya nak mau
keluarga saya kepikiran dan saya janji
sama istri saya ini yang terakhir. Saya
berjanji tidak akan membuat dia susah
lagi untuk makan.
Teras.
Setelah itu saya bangkit mencari solusi.
Saya tahu saya ini kepala keluarga. Saya
tidak mungkin hanya berdiam diri saja.
Saya belajar, belajar dan terus belajar
bagaimana caranya menata cash flow,
menata SDM, menata karyawan, dan menata
keluarga. Karena kita bekerja ini tidak
hanya untuk diri saya sendiri, tapi di
belakangnya ada keluarga saya, ada
orang-orang yang membutuhkan lainnya.
Semisal satu karyawan saya memiliki satu
istri, itu jadi dua yang harus kita
tanggung. Kalau dia memiliki anak satu,
berarti tiga orang yang bergantung
nafkahnya atau rezekinya dari perusahaan
yang saya kelola. Maka dari itu saya
dikuatkan oleh kakak saya di sini. Dia
juga salah satu orang yang berada ketika
posisi saya sedang di bawah sedang
terpuruk dan dia juga membantu saya
sharing bagaimana menata bisnis,
bagaimana membuat strategi-strategi baru
dalam berbisnis sehingga menghasilkan
perusahaan yang tidak hanya memikirkan
untung rugi saja tetapi juga memikirkan
dunia dan akhirat. Jadi perusahaan
sekarang berbasis semua
karyawan-karyawan yang di sini itu wajib
salat ketika bekerja. Terus habis itu,
Teman-teman, itu juga harus bisa membaca
Al-Qur'an. Karena saya yakin dengan
prinsip-prinsip syariah perusahaan saya
pasti akan bertahan lebih lama daripada
perusahaan-perusahaan lainnya. Harapan
saya untuk pengusaha retail dan bisnis e
FMC lainnya, semoga usahamu ini tak
sekedar ramai pembeli saja, tapi juga
bertumbuh dengan sehat dan stabil juga
menguntungkan. Semoga setiap etalase,
rak, gudang, dan produk-produk yang ada
di toko itu menjadi jalan pembuka pintu
rezeki yang berkah untuk kita sebagai
owner dan untuk tim-tim karyawan yang
kita percayai. Semoga kamu tidak hanya
sibuk, tapi juga cerdas dalam membangun
sistem yang bisa berjalan tanpa harus
kamu selalu ada. Karena toko yang sukses
bukan hanya yang laris, tapi yang bisa
bertahan dan berkembang. Semoga kamu
tidak cepat puas, tapi juga tidak cepat
lelah. Karena bisnis retail itu maraton,
bukan sprint. Butuh strategi, sabar, dan
keberanian untuk terus beradaptasi. Buat
teman-teman semuanya yang menonton video
ini, semoga dapat terinspirasi dengan
video saya dan menjadikan insight
positif untuk perkembangan bisnis
teman-teman semua. Ini naik kelas versi
saya. Temukan naik kelas versi kamu.