Bukan Cuma Jualan, Digital Marketing Bisa Mengubah Hidup Banyak Orang Kalau Tau Caranya..
XglXXpBDE6s • 2026-02-14
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Saya lihat Portonya kan pernah belajar iklan itu dari spending R.000 per hari. Bahkan sekarang kalau ditot-total sudah belasan miliar Mas spendingnya ya. Betul enggak? Iya. Kurang lebih akumulasi ya dari semua brand kurang lebih. Wow. Bikin produknya udah bisa tapi enggak bisa jualan ya. Karena antara bikin produk sama jualan itu kan dua hal, dua part yang sangat berbeda. Jangan bayar, jangan ikut kelas berbayar sedikit pun. Mas, makasih ya, Mas. Saya bisa umrahin orang tua, bisa bayar utang R juta, Mas, ke Kollektor saya sudah capek ditagihin. Wah, itu nangis saya, Mas. Senang gitu, happy. Happy banget kayak apa ya, adrenalinnya tuh kayak nagih, kayak pengin lagi ngebantu lagi, ngebantu lagi, ngebantu lagi gitu ya. Bagaimana tips supaya tidak boncos, Mas? Ee jawabannya gimana caranya biar enggak boncos ada dua sebenarnya. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Senang sekali kedatangan Mas Fami Auditya jauh-jauh dari Depok mampir di Tulungagung. Mumpung di sini, Mas, saya yang pengin belajar, Mas. Ini guru digital marketing ini. Guru Facebook @ yang handal ini ya. Masih belajar juga bukan guru saya lihat Portonya kan pernah belajar iklan itu dari spending R30.000 per hari. Bahkan sekarang kalau ditotal-total sudah belasan miliar Mas Pendingnya. Ya, betul enggak? Kurang lebih akumulasi ya dari semua brand kurang lebih. Oh. Wow. Berapa lama itu Mas? 10-an. 10 tahunan sebenarnya termasuk yang enggak gede-gede banget, Mas. Kalau dibandingkan banyak ee advertiser, head marketing, pemilik ber di luaran sana gitu. Masih hitungannya masih ya enggak gede-gede bangetlah. Gede lah, Mas ya. Mungkin bagi pemula dan buat saya lumayan. Cuman bagi orang yang sudah benar-benar ngerti marketing atau advertising itu angka yang ya enggak terlalu gede-gede banget gitu. Siap. Nah, Mas Fami ini juga yang termasuk getol bahwasanya UMKM itu harus belajar digital marketing. Yes. Ah, kenapa itu, Mas? Betul. Karena dengan ng sebenarnya belajar jualan ya, Mas ya. Karena dengan ngerti digital marketing, ngerti jualan itu saya yakin insyaallah bisa jual produk apapun. Hmm. Makanya setiap orang UMK terlebih UMKM harus belajar digital marketing. Benar. Karena bikin produk kan sekarang di Indonesia enggak terlalu sulit ya, supplier terus mau kolaborasi sama siapa itu kan juga bisa ya banyak. Nah, cuma banyak yang udah bikin produknya udah bisa tapi enggak bisa jualan ya. Karena antara bikin produk sama jualan itu kan dua hal, dua part yang sangat berbeda gitu. Jadi kadang bisa bikin produknya tapi enggak ngerti cara jualannya gimana. Akhirnya stoknya mati atau dead stock ya akhirnya enggak lanjut gitu. skill yang menurut Mas Fahmi yang mungkin harus dimiliki lah ini bagi misal kita bicara pemula nih kita udah katakanlah nih bisa bikin produk nih skill apa yang minimal lah at least kalau kita mau masuk digital marketing yang harus dia miliki oke kalau skill utamanya skill besarnya kan digital marketing cuma kan turunannya banyak sekali kan bisa reset produk bisa advertising bisa copywriting atau bikin landing page bikin konten itu turunannya cukup banyak gitu tapi yang penting di awal minimal Minimal kalau saya minimal ke ads-nya belajar ngiklan secara teknisnya. Kemudian kalau enggak punya produk berarti belajar riset produknya juga. Terus belajar buat belajar copywriting. Copywriting ini part yang enggak banyak orang tahu kalau ini penting. He. Padahal penting banget. Heeh. He karena kita bikin konten itu bagian dari copywriting. Scripting kan scripting offering itu bagian dari copywriting. Kita bikin iklan itu ada caption-nya bagian dari copywriting. Kita bikin landing page bikin website itu bagian dari copywriting juga isinya kan gitu. Karena bikin website bikin landing page bikin desainnya mudah sekarang kan. Tanpa coding juga gampang tapi isinya apa? Nah itu kan dari kepala kan copywritingnya di situ. Oke Mas di kita coba perdalam satu persatu. dulu berarti ya. Berarti wajib ads dulu dan copywriting gitu ya. Betul. Salah satunya copywriting. Oke. Ads itu ee sama branding Mas ketinggalan branding cuman branding kayaknya panjang banget. Wah iya itu kayak perlu satu training tersendiri kayaknya ya. Dan saya juga belum bukan ahlinya sih. Oke oke oke gitu. I berarti Ads ini konteksnya berarti kita ngiklan nih Mas ya. Iya, yang hari bebas, bebas. Mau di Meta, mau di Google atau di Instagram, mau di TikTok juga bisa, di YouTube juga bisa. Sekarang ada Snack Video gitu ya. Ada banyak sih. He gitu. Tapi intinya ngedatangin traffic fokusnya, ngedatangin calon pembeli kan gampangnya. Jadi kita punya toko sebagus apapun, sekeren apapun kalau enggak ada yang bisa ngedatangin pengunjungnya kan percuma. He gitu. tadi kalau konteks tadi Mas yang pemula yang UMKM yang mau belajar di digital marketing kan harus belajar ad. Nah, dia disaranin belajar add apa Mas? Minimal seenggaknya lah. Oh, platformnya maksudnya platformnya belajar ads apa? Kan platform banyak banget Mas. Kalau pemula juga harus belajar begitu banyak platform juga pasti bingung nih, Mas. Heeh. Direkamin apa kalau menurut Mas? Cari yang pasarnya paling banyak. Gampangnya kan kalau kita mau jualan sebuah barang ee kira-kira marketnya sebesar apa? He he. Contoh kayak misalnya sekarang pasar terbesar kan salah satunya Tanah Abang kan ya. Karena kan di situ pengunjungnya banyak ya udah kita main di sana. Nah kalau di online itu biasanya di sekarang meta, IG sama TikTok sih. Itu juga tiga platform yang masih cukup besar ya. TikTok juga sekarang kan besar sekali ya. Rekomendasinya tiga itu ya. Tiga itu. Kalau saya dari dulu sampai sekarang fokusnya ke meta sama ke IG gitu. He. Ee tapi saya juga sekarang ada satu tim yang ngurusin TikTok sama TikTok affiliate itu juga marketnya gede banget. Banget. He. Tapi katakanlah kita hanya menguasai satu platform aja. Katakanlah fokus di meta aja saya kira sudah cukup ya Mas ya. Cukup cukup tergantung produk sih. Iya. Ada beberapa produk yang memang di TikTok kencang di metang enggak atau sebaliknya. Cuma kalau bisa keduanya yang keduanya aja enggak apa-apa. Contohnya apa tuh yang di yang dikencang di meta di TikTok biasanya fashion juga bisa kencang di dua-duanya. He. TikTok agak susah. Hm. Gitu karena lebih sensitif kan. Jadi ya udah saya akhirnya mainnya di meta sama di IG dikencengin. Nah, di TikTok itu ya sampingan aja. Sedangkan beberapa teman saya gedenya malah ee 70% omsetnya bahkan dari TikTok gitu produknya. Heeh. Gitu. Jadi disesuaikan dengan produknya. Tapi yang jelas ya dua platform ini harus segera dikuasain sih keduanya gitu. Kalau produk yang cocok untuk di TikTok, Mas, menurut Mas Fami ya apa, Miss? Produk yang cocok buat di di TikTok, dipasarin di TikTok. Oke. Eh, biasanya produk yang harganya lebih terjangkau. Sebenarnya hampir semua produk sekarang bisa ya, cuman kalau ngomongin yang enggak pakai edukasi tanda kutip yang enggak pakai mikir itu fashion juga cepat gitu. Terus impulsif lah. Produk-produk yang impulsif buying itu juga biasanya yang R90.000-an, Rp100.000-an gitu. Itu juga cepat-cepat banget di TikTok gitu. Yang bikin orang FOMO ya, Mas ya. bikin orang ngomong. Oke, gitu. Oke. Oke. Nah, ada enggak ya, Mas? Jadi, kan saya juga lihat beberapa videonya Mas Fahmi ya yang dipecah telur juga pernah kita liput juga bahwa dulu kan berangkatnya dari jualan offline. Betul. Menurut Mas Fahmi ya. Jadi masih ada ya orang yang sekarang itu kayak hanya fokus di offline tanpa kayak tidak terlibat di online gitu. Pasti ada lah. Pasti ada ya. Pasti pasti ada. Pasti ada pasti ada dan masih banyak juga. Masih banyak ya, Mas ya. I. Hmm. Dan itu gimana kalau menurut Mas Fahmi? Katakanlah ada orang yang seperti itu. Nah, ini rekomendasinya seperti apa? Pertama tergantung dari produknya juga, tergantung dari tokonya juga. Tapi yang jelas kalau mau besar itu offline-nya jadi bukan versus Mas. Oke. Bukan online versus offline, tapi kalau memang dasarnya offline ya online juga dijalanin. Jadi keduanya contoh jualan roti toko besarnya punya, cabangnya di mana-mana punya tapi dipasarkan secara online juga gitu. He. Bahkan teman-teman, beberapa teman saya yang kerja di media itu pemasukan eh di sori di TV itu ternyata pemasukan iklan di TV-nya sudah jauh banget, Mas. Ee menurun di TV. Di TV gitu. Karena ternyata brand-brand besar di yang ada di supermarket gitu ya, di warung, di manaun itu sekarang sudah mengurangi di TV dan udah pindah ke sosmet, sosial media. Gitu. Jadi pemasukan mereka tuh udah menurun sekali gitu ya. Bahkan iklan juga udah ya saya aja nonton TV terakhir udah kapan tahu ya, Mas terakhir nonton TV kapan, Mas? Aduh aku udah lama sudah lama sekali enggak lihat TV. pun nonton saya bukan TV ini ya, bukan TV lokal tapi ya nonton bola misalnya di aplikasi apa gitu kan yang benar-benar nonton TV-nya udah agak jarang gitu. Jadi e bukan online versus offline tapi ya keduanya dijalankan lebih baik. Heeh. Keduanya jadi pernah saya di suatu ketika mencoba sesekali itu ah penasaran dah pengin usaha offline gitu. Saya bikin usaha itu jualan ayam goreng. Heeh. Di sebuah rumah sakit gitu. Heeh. Wah, itu kayak berdarah-darah banget menurut saya. Offline, offline, Mas. Kayaknya beda alam banget gitu dan agak agak susah gitu loh, Mas. Nah, gitu. Jadi, Masim ada pengalaman enggak susahnya jualan offline gitu ya? Betul. Kalau yang baru mulai memang arahnya ke online lebih enak kan karena bikin misalnya gerobak atau restoran yang besar, restoran bakso gitu ya, mendingan kan kita lempar misalnya ke online gitu kan karena modelnya lebih terbatas juga. Modelnya lebih terjangkau maksudnya. Heeh. Teman saya jualan bakso itu pas launching dia pakai Instagram diiklanin di sekitar komplek radius 5 kilo. He. Iklanin H+ H- sean tuh rame. Hm. Jadi restorannya ini kalau contoh hybrid ya. Contoh hybrid sebenarnya warung-warung atau resto-resto yang besar punya influencer itu banyak juga Mas yang mereka punya gede sekali ee nih apa warungnya gitu ya atau tempat makannya. Tapi cara mereka promosinya lewat TikTok, lewat influencer, lewat online ke online gitu ya, bahkan lewat ads juga gitu. Jadi tokonya memang offline tapi cara ngedatangin trafficnya digital h online dan bahkan kan bisa dua-duanya kan kita narik marketnya kan kalau punya restoran orang-orang sekitar kita bisa beli yang lewat ya kan tapi orang-orang yang memang dia enggak tahu dan jauh online kita bisa lewat sosial media juga gitu TikTok atau Instagram gitu bahkan pakai influencer juga itu kan bagian dari digital ya. He. Jadi online dapat, offline dapat hybrid gitu. Dan itu ramai, Mas. Iklanin berapa ratus ribu sehari hamin berapa dietting radius sekian kilo doang rame pas datang dapat dari sosm semua. Jadi biasanya kalau kayak usaha offline kadanglah restoran begitu ber mainnya radius itu ya Mas ya. Iya bisa jadi bisa jadi radius juga. Kayak kalau kita katakanlah manggil tuh influencer begitu kan. Influencer itu kadang-kadang nge-brot ya Mas. Kita enggak tahu dia targetnya ke mana. Itu masih efektif enggak sih Mas? Betul. itu tergantung restorannya sih. Kan ada beberapa restoran yang cabangnya banyak banget. Jadi dia panggil satu influencer mau cabang Depok, Bekasi, Bogor, apa ya di mana-mana ada kan gitu. Ketika sudah banyak cabang berarti konteksnya kalau cabangnya belum begitu banyak ya biasanya diarahin ke satu toko yang memang radiusnya terdekat atau bisa juga kalaupun pakai influencer itu buat owning konten. Heeh. Heeh. Heeh. Ya, jadi dapat owning kontennya baru kita biasanya kan ada edisional tuh baru kita pakai buat iklan di radio sekitar sekitar. Tapi balik lagi tergantung strategi dari resto itu sendiri sih karena kan beda-beda ya. Heeh. He gitu. Kalau yang Mas Fahmi sendiri pernah enggak dalam beberapa fase dalam kehidupan itu jualan offline? Dulu saya awalnya dari offline. Hm. Dulu saya SMA itu pulang SMA teman-teman saya nongkrong main pacaran. Saya dulu benar-benar pulang sekolah jualan offline ketemu orang 2 jam 3 jam. Jadi pulang ke rumah ngambil motor ke tempat fotokopi ke halte Bassway. dulu ke Gara Media itu beneran nawarin secara offline, sales offline dulu. He. Jadi dulu saya kebantu kebangun banget mentalnya lewat sana, Mas, awal-awal. Dan saya ngelakuin rutin hampir tiap hari selama dari mulai kelas 3 SMA. He he. Sebelum UAN tuh jadi orang-orang mau UAN pada belajar, saya malah belajar jualan. Hm. Jadi saya sebenarnya belajar itu bukan dari teori, tapi dari ilmu lapangan langsung. Dari praktik ya, Mas ya. I ben-ben ya di saya pernah lagi presentasi diusir sama orang tuanya juga gitu terus ketemu orang ditolak. Ah itu udah kayak jadi makanan sari lah dulu pas zaman jadi sales offline ya gitu. Itu sih itu yang paling banyak banget ngebangun mental dari awal ya. Dan saya ngelakon itu sampai di kuliah. Hm. Gitu. Nah itu poin menarik Mas. Ee offline di sisi lain walaupun susah itu ke bentuk mental. Betul. Nah, tapi kalau online bagaimana, Mas, membentuk mentalnya, Mas? Kan agak mudah nih, Mas. Agak mudah gampang closing. Sisi lain atau resiko dari jualan via digital media? Ee maksudnya lebih ke ngebangun mentalnya tadi. Iya, mengembangun mental atau sisi lainnya lagi yang ngebangun mental untuk online-nya ya untuk sisi personalnya kan. Kalau offline itu kan bisa kayak ngebangun mental tuh jadi penolakan dan sebagainya kan. Kadang-kadang itu dibutuhkan kan Mas untuk untuk bisnis untuk hidup. Oke, nangkap, nangkap, nangkap. Oke, oke, oke. Ee, wah, ini cukup panjang. Tapi intinya memang pertama perlu dilatih ngebangun mentalnya. Sebenarnya kalau Mas praktik online buat orang-orang yang baru banget belajar, habis itu praktik enggak bisa gitu ya, itu kan biasanya banyak yang nyerah, Mas. Hm. Di situ sebenarnya titiknya. Jadi, begitu belajar meta ads, ada menu yang kita enggak ngerti terus kita nyerah. Nah, itu kan mentalnya kena. He. Jadi saya belajar banget gimana caranya ketika lagi belajar dan praktik itu mental dulu saya bawa ke online. Karena yang membedakan antara orang berhasil sama gagal di awal waktu belajar digital marketing itu bukan karena skill set-nya. He maksudnya kalau skill set sekarang teman-teman mungkin nonton YouTube setengah jam atau 1 jam belajar meta ads itu langsung praktk bisa. Oke. Karena kan isi laptop saya sama Mas kan sama kan tinggal setting Facebook I kan habis itu klik audiens ini publish beres tuh. Nah, tapi kenapa banyak nyerah? Gara-gara mereka mentalnya enggak kuat ketika ketemu dengan kendala mereka berhenti. Nah, itu doang masalahnya. Yang satu mentalnya mental ngulik benar-benar nih kenapa enggak bisa dikulik, dicari didetailin banget. Nyari tutorial YouTube lah, ikut kelas kah apa segala macam. Yang satu praktik enggak bisa. Nah, ini kayaknya bukan bakat gua nih. Ini kayaknya bukan bidang saya nih. Gitu. Udah. Padahal baru protect bentar, enggak ada tantangannya apa-apa. Eh, baru dapat tantangan dikit, enggak bisa langsung nyerah. Heeh. He, gitu. Jadi, mentalnya itu dilatih di situ. Dan itu masalah paling banyak yang dialamin orang-orang di awal ketika mau belajar, Mas. Heeh. Heeh. He, gitu. Karena segitu gampangnya buat nyerah kan. Heeh. He, gitu. Iya. Jadi lah kalau menurut saya, Mas, jadi ee kalau kita belajar online itu kayaknya harus butuh mentor deh, Mas. Kayaknya Mas. Iya. Oh, iya. Pasti. Betul engak, Mas. Pasti sebenarnya online offline juga pasti butuh mentor keduanya. Cuman memang ya intinya di bidang apapun kita belajar, industri apapun, mentor itu buat saya wah penting. Penting sekali penting banget. Dulu waktu saya itu loh, Mas di apa di mau belajar 2014 ketika saya mulai menikah dan belajar online gitu ya. He heeh. Jadi di Tulungagung itu ada kayak komunitas blogger gitu ya. Jadi itu sangat membantu banget gitu. Jadi saya bisa datang ke mereka, saya bisa komunitas, saya bisa tanya-tanya. Bahkan kadang-kadang kita enggak bisa melihat sisi sisi yang bisa mereka lihat karena mereka sudah jago lah. Nah, dan itu kita diarahin gitu. Wah, kayaknya bagus banget gitu. Nah, terlebih tadi juga di Mas Fami bilang kalau di online itu mudah banget, mudah banget untuk patah gitu. Betul. Betul. Di wah ini mentok nih, ah ini mentok nih ya gitu. Jadi kayaknya kita harus butuh mentor gitu. Nah, kalau Mas dalam perjalanannya di bisnis online apakah juga seperti itu? Ada mentor begitu? Iya, pasti. Pasti saya dari online ke offline tuh butuh mentor juga pasti. Yang pertama kenapa offline lebih online lebih gampang nyerah? Karena bayangin Mas belajarnya di sini, di meja, di kamar, AC misalnya sampingnya kasur, nyerah dikit tidur, Mas. Iya. Iya. Rebahan rebahan. Aduh, kayaknya susahlah. Udah apalagi pusing kan depan laptop lama-lama kan. Pusing kan. Iya. Iya. Iya. I. Saya tuh kalau udah nih kadang orang tuh ngerasa kerja fisik capek. Oke, benar. Tapi lebih capek sebenarnya kerja yang deh mikir. Betul. Iya kan? Kerja mikir depan laptop yang benar-benar mikir ya itu 2 jam 3 jam setara dengan mungkin 10 jam 12 jam kerja fisik itu ya koreksi ya. Tapi ada penelitiannya juga gitu yang menunjukkan bahwa kerja benar-benar mikir depan laptop deep thinking itu lebih capek, lebih kekuras tenaganya, lebih haus, lapar gitu kan. He. Itu pertama itu alasan kenapa banyak orang yang gagal karena emang gampang nyerahnya gitu ya. Nah, yang kedua iya pasti pasti pakai mentor gitu karena mentor tuh ibaratnya kayak kita mau naik gunung ya tapi kita enggak tahu jalan gitu. Ada dua opsi kan. Kalau kita mau naiknya sendirian kita ada opsi nyasar. Ada opsi entah nyampainya kapan waktunya lebih lama energinya lebih lama juga gitu. Itu pun kalau nyampai. Kalau enggak lebih bahaya lagi. Tapi dengan mentor kita sesimpel ini jalannya kita tinggal ikut naik ke atas ee dia tinggal pegangin kita tinggal naik. Tapi masalahnya mentor ini cuma penunjuk jalan, Mas. He. Kan ibaratnya kita kayak ditarik ya. He. Nah, kalau kitanya enggak mau ikut naik ke atas itu berat sekali. Hm. Jadi bukan berarti dengan adanya mentor kita sudah pasti berhasil. Nah, ini yang banyak salah kaprah ya. He. Bukan berarti dengan kita punya mentor yang kita bayar mentor miliaran gitu ya, ikut masterm harganya ratusan juta itu sama sekali enggak pasti berhasil. Heeh. He gitu. Karena yang bikin kita berhasil ya ujungnya kan diri kita sendiri. He gitu. Bahkan kadang malah ngerepotin Mas kalau mentinya nih enggak mau diajak naik kitanya sudah ngulurin tangan kan ibaratnya kan. Jadinya kitanya ikut ke bawah ketarik. Jadi main tarik-tarikan gitu. He. Heeh. Nah, jadi poinnya mentor cuma ngasih jalan ee yang naik, yang berusaha, yang capek, yang pakai tenaga. Kita kan tetap harus naik ke atas. I tapi lebih mudah karena jalannya udah ada gitu. Nah, analoginya sesimpel kayak kenapa saya tuh dari dulu sering banget belajar. Heeh. Dan saya lebih prefer dari sekian banyak ikut kelas, saya kan ikut kelas yang gratis juga, yang ratusan ribu, yang jutaan, sampai akhirnya ikut yang belasan juta juga pernah gitu ya. mungkin 200 300 juta kayaknya saya sudah habis buat beli kelas dan segala macam. He he. Karena ee 1 du hari kelas itu isinya adalah pengalaman mentor saya atau guru yang saya pelajari selama belasan tahun. H dia sudah keluar uang mungkin miliaran gitu ya. Dia udah benar-benar pakai banyak waktu tenaganya buat tral error ngandil ratusan tim brandnya banyak yang gagal itu diolah hanya dalam waktu 2 hari. Jadi kita bisa langsung menyerap gitu ya. Iya. Tahu isi otaknya. Karena yang paling penting kan dia punya income M sebulan. Saya masih R juta. Berarti kalau saya pengin punya income R juta atau M, saya kan harus tahu isi otaknya nih. He he. Isi kepalanya apa sih? Pola pikirnya gimana sih? Kenapa kok dia berhasil? Kenapa dia gagal? Apa pola, apa perilaku, apa habit yang dia kerjakan tiap hari sehingga dia bisa dapat ratusan juta bahkan miliaran. Nah, satu-satunya cara biar tahu itu kan harus bedah isi otaknya kan. Heeh. He. Nah, mungkin cara tercepatnya ya mungkin dengan saya ikut kelasnya dia gitu. Baru setelah ikut kelas saya dapat aksesnya bisa ngobrol lebih lanjut lagi dan itu yang saya lakuin, Mas. H gitu. Makanya saya berani bayar agak mahal demi bayar pengalaman mereka. Ya enggak apa-apa. Yang penting memang mentornya beneran praktisi, beneran terbukti gitu ya. Mas, kalau ee program yang Mas Fahmi bikin nih, jadi kemarin juga saya lihat portonya bikin kayak apa tuh? kayak bimbingan begitu ya, Mas atau apa? Oh, Mahir Digital. Mahir digital. Heh. Oh, iya. Heeh. Apa itu, Mas, Mahir Digital, Mas? Platform buat ngebantu teman-teman jualan online atau digital marketing dari rumah. Karena Mas Fami juga tadi punya portofolio pernah ngiklan segitu banyak gitu ya, jadi mengajarkan iklan atau bagaimana konsepnya? Eh, utamanya sih enggak niat bikin Mahir Digital. Oh. Ya, saya sebenarnya udah kalau teman-teman nanya gratisan, saya sudah lama bikin dari 2021 22 itu saya ada sekitar hampir 50 video gratis di YouTube. Saya emang suka sharing. Jadi begitu saya dulu kerja di satu company, saya jual produk herbal dari yang iklan cuma Rp50.000 sehari sampai alhamdulillah dapat amanah dan hasil besar gitu ya, sampai akhirnya bisa miliaran secara akumulasi gitu. He. Nah, dari situ saya bagiin di YouTube gratis ee caranya caranya tutorialnya gitu ya dari A sampai Z cara bikin kontennya sampai sekarang masih ada videonya. Nah, ternyata dari situ itu view-nya lumayan besar dan dari situ ternyata sampai detik ini setiap hari, setiap bulan tuh bisa 300 sampai 1000 orang yang WA ke admin saya, ke DM saya gitu. Heeh. He Mas, ee saya mau mulai ini dari mana? Jadi nanyanya banyak banget, Mas. Cara dapat R juta pertama gimana, cara pasang pikel gimana, pokoknya teknis iklan gimana, cara reset produk gitu ya. Bingung banyak juga yang akhirnya terbuka pintu kolaborasi. He. Masih ada produk A bantu jualin dong dan segala segala macamnya lah. Akhirnya kerja sama saya sempat bikin ee service juga waktu itu. Sempat handle 12 brand juga dari berbagai macam klien. Tapi akhirnya cycls. Nah, berangkat dari sana kayaknya enggak akan bisa nih kalau cuman lewat YouTube doang gitu ya. Apalagi kayaknya yang sebenarnya yang bikin saya terhari itu ketika ada yang komen, "Mas, makasih banyak sudah dapat Rp3 juta pertama." He dari nonton video Mas Fahmi gratis. Itu plus waktu bikin gratisan itu ya berarti ya? Iya, itu gratisan semua. R juta pertama dari YouTube sampai sekarang kalau dilihat komennya masih ada kok, Mas. Ada ratusan komen di YouTube saya enggak ada yang saya hapusin juga videonya. Ee makasih, Mas, sudah bisa beli susu buat anak. itu kan energi saya jadi dapat lagi tuh ketika ada yang cerita kayak gitu gitu. He. Oh, ternyata apa yang saya alamin dulu susahnya saya ketika saya mau bertransformasi dari offline ke online dari stuck banget kan saya dulu kuliah enggak beres gitu ya. Terus bingunglah masa depannya mau ke mana tuh bingung banget gitu ya. Karena kuliah enggak beres ini arahnya juga sehidupnya enggak tahu mau ke mana. Kerja juga enggak bisa gitu bisnis juga bingung gitu. Sampai akhirnya alhamdulillah lewat wasilah digital marketing itu bisa berubah gitu. Jadi perjalanan saya tuh gara-gara itu tuh Mas berubahnya tuh. Heeh. E nah ternyata yang kayak saya banyak. Nah, saya baru ngelihat tuh gara-gara komen YouTube, Mas. Oh, itu banyak banget, Mas, yang benar-benar ee Kak Fami bantu saya dong. Saya punya hutang segini gini gini. Saya pengin bisa kayak Kakak bisa dapat R juta pertama. Gimana caranya? Klik apa, Kak gitu-gitu. Itu banyak banget. Banyak banget. Wah, ini kayaknya banyak banget yang butuh, banyak banget yang perlu. Ya udah, akhirnya sampai dari situ saya bikin YouTube-nya lebih banyak video-videonya gitu. Sampai akhirnya saya sama co-founder My Digital waktu itu bertiga. Ya udah deh kita bismillah deh kita seriusin. Kita bikin satu platform khusus awalnya kecil-kecilan buat ngebantu teman-teman supaya lebih intens belajarnya, supaya bisa dapat duit dari rumah dengan cara online dengan fasilitas terbaik tapi dengan harga yang terjangkau. Nah, itu kata kuncinya gitu. Jadi, kita pengin banyak orang yang bisa ikut belajar dengan harga yang terjangkau supaya rame gitu. Jadi saya ngejarnya ngejar banyaknya karena awal saya bikin itu saya terinspirasi dengan Gojek, Mas sebenarnya dengan adanya satu orang founder Gojek di 2025 ini akumulasi bisa ada 8 juta orang yang akhirnya bisa nafkahin anaknya, istrinya atau keluarganya gitu ya dari yang mungkin mereka hopeless ya enggak tahu nih hidupnya mau kayak gimana mungkin beli susu beli makan enggak bisa tapi dengan adanya Gojek jadi driver ya udah at least Rp3 juta, R juta, R juta. sebulan tuh bisa. He gitu. Nah, saya pengin banget sebelum meninggal itu at least bisa ngasih manfaat gitu ke banyak orang. Nah, mungkin ya hatinya terpanggil lewat sini karena saya juga pribadi berubah hidupnya lewat sini gitu. Jadi saya kasih apa ya mungkin feedback atau saya kasih ee kembalikan ke industri ini karena saya ngertinya di sini juga supaya banyak teman-teman yang bisa kebantu juga lewat sini gitu. Tadi saya mendengar Mas Fami bilang do. Nah, jadi saya ingin flashback sebentar nih. Jadi, Mas Fami enggak bisa nyelesaiin kuliah begitu ya dulu ya atau bagaimana? Oh, iya, kuliahnya dulu enggak selesai. He. Itu karena apa, Mas? Boleh tahu? Dulu saya itu tadi Mas jualan offline. Oh, tapi ini disclaimer ya. Takutnya banyak mahasiswa juga nih yang nonton nih. Heeh. Jadi, saya enggak lulus kuliah itu bukan gara-gara saya enggak jelas masa depannya mau ke mana. Heeh. Bukan gara-gara ah udahlah cabut aja. Enggak. Oke. Oke. Gara-gara saya memang sudah tahu mau ke mana. Karena banyak orang yang menyalahgunakan kata-kata drop out kan. Ah, Bill Gates aja do. Iya. Makk aja. Iya. Banyak orang do sukses gitu ya. Banyak orang do sukses. Apa saya do aja gitu? Itu enggak benar ya, Mas. Enggak benar ya. Jadi mereka do karena DO-nya pertama mereka di Harvard. Oke. Yang kedua mereka do-nya karena mereka sudah punya bisnis duluan. Mereka sudah canggih banget. Mereka udah otaknya udah benar-benar ke mana-mana gitu. Jadi bukan DO karena emang enggak ada tujuan. Heeh. He. Nah, ketika saya dulu mutusin buat enggak lanjut karena kalau saya pribadi begitu saya lanjutin kuliahnya di saya tuh enggak kepakai di saya ya. Karena kan saya dulu PR terus jualan marketing ee arahnya ke sana kan. Jadi mau saya sampai S1 pun itu di saya enggak kepakai di saya. Nah, tapi kan kalau kedokteran kalau apa itu tetap aja butuh kan. Jadi jangan ambil mentah-mentah dari media atau podcast karena memang di balik itu pasti ada ya perlu tahu konteksnya dulu lah. He gitu. Itu sih berarti do karena udah udah tahu tujuannya gitu ya Mas ya. Iya. Semester 7 waktu itu ya. Waktu itu Mas Fami tahu tujuannya untuk apa begitu. Do untuk apa? Jualan. Oh jualan itu tadi. Heeh. Saya waktu itu sudah jualan terus saya mau fokusin di jualan. Saya mau ngasa skill di sini tapi uangnya belum ada. Oh. Tapi di sini saya ngerasa oke bismillah bisa. Dan itu saya benar-benar pas di sela-seluar ruangan nih Mas antara masuk ke ruangan apa ruangan B apa BK ya? Pokoknya ruangan di kampus lah antara lanjut atau enggak. Lanjut enggak ya? Lanjut enggak? Lanjut enggak? Lanjut. Iya iya iya. Bismillah. Enggak lanjut udah akhirnya saya cabut. Udahlah entar rezeki bisa kita cari sendirilah. Tapi saya beneran yakin ya, Mas ya. Itu bukan bukan yang ragu-ragu enggak ada enggak enggak jelas gitu mau enggak. Saya benar-benar waktu itu bismillah nih habis ini saya mau ke sini sini sini sini. Ya udah walaupun enggak tahu saya gimana kan. Tapi bukan karena enggak ada tujuan. Nah itu kata kuncinya ya. Jadi dan dan juga bukan karena malas ya. Oke. Karena banyak orang kan yang akhirnya enggak lanjut kuliah malas. Oke. Ya malas aja gitu. Kalau dari faktor ekonomi seperti apa, Mas dulu waktu kuliah atau masih sekolah gitu? Dulu ekonomi alhamdulillah ee cukup gitu. Jadi tapi ternyata saya tahu baru tahu cukupnya saya itu ternyata orang tua juga di bar layar pengorbanannya cukup besar. Dan kenapa saya akhirnya mau nyari uang sendiri waktu zaman SMA kelas 3 karena saya baru tahu ternyata usaha orang tua saya agak drop gitu. orang tua ya namanya orang tua kan salutnya enggak ngomong, enggak ngeluh, tetap kerja keras, tetap kayak enggak ada apa-apa gitu ya. Tapi sebagai anak pertama dan laki-laki ya jiwanya terpanggil, sedih gitu ya, terharu. Ya udah akhirnya saya juga enggak ngomong sama orang tua. Pokoknya niatnya pengin income sendiri minimal banget enggak mau repotin. Syukur-syukur kalau bisa ngasih lebih ke orang tua itu bahagia banget. Tapi minimal banget saya sebagai anak pertama, saya pengin enggak ngerepotin orang tua gitu dengan cara minimal jangan minta uang jajan bisa kuliahin sendiri. Nah, itu dulu sesimpel itu aja lah pokoknya gitu. Siap. Balik lagi ke tadi Mas itu tadi kan Mas Fahmi ingin karena di bikin mayir digital karena pernah ngerasain susah kemudian menemukan di jalan digital ingin ngebantu banyak orang lewat jalur jualan online atau digital marketing value maksimal harga minimal gitu ya. Nah, itu berapa harganya di Myir Digital Mas? Baru saya dapat tuh kalimatnya tuh Mas tuh value maksimal harga minimal ini. Oke. Kalimatnya tepat tuh. E start apa? Oh, harga harganya berapa, Mas? Dulu awal-awal cuma R00.000an setahun, terus habis itu naik jadi karena operasional makin gede, IT makin gede juga mentor makin banyak, program e-cor makin banyak juga naik jadi 800 naik habis itu naik lagi jadi Rp950.000 terus di 2026 ini naik jadi Rp1.185.000 per tahun. Jadi sebulan sekitar R90.000-an ribuan lah masih ya masih lebih oke jauh daripada ee eh maksudnya masih lebih terjangkau ya ee dibandingkan kalau kita ee apa ya contohlah paling gampang misalnya kayak kuliah itu kan R juta R juta walaupun enggak Apple to Apple tapi at least keluar uang Rp90.000 zaman sekarang itu masih terjangkau lah. Ada enggak Mas kayak program tester gitu? Mungkin kan di mungkin di sebagian orang terjangkau tuh atau mungkin di sebagian orang agak kurang terjangkau katakanlah baru memulai dan sebagainya. Ada enggak, Mas, kayak program tester atau apa yang yang kecil-kecil gitu? Ada. Ada ya, ada 6 bulan itu Rp895.000 sama ada juga yang gratis. Oh, ada yang gratis. YouTube saya gratis. Oh, yang iya maksudnya di YouTube gratis. Di podcast MD sekarang mau dibuat juga gratis. Hm. Kemudian webinar di MD itu buat preview kalau teman-teman mau lihat juga R5.000. Jadi di webinar R5.000 35.000 itu kita belajar sekitar 3 jam sama mentor saya itu ngebedah preview seputar My Digital tuh apa isinya apa aja yang dipelajari apa aja kita praktik bareng riset produk bareng juga gitu sekitar 3 2 jam sampai 3 jamanan lah gitu dan sebenarnya dari gratisan aja juga sudah banyak yang menghasilkan gitu jadi saya selalu nyaranin ya kalau teman-teman yang pengin belajar nih banyak juga nih saya mungkin sekalian jawabin kali ya he ee kalau pengin belajar enggak ada uang jangan belajar di jangan bayar jangan ikut kelas berbayar bayar sedikit pun. Maksudnya kalau uangnya aja buat makan kurang gitu ya, buat sehari-hari kurang. Saya nyaran ini jangan jangan bayar. Lebih baik uangnya dipakai buat ya makan, tabungan dan segala macam. Pakai uang buat beli, buat investasi layar ke atas, kelas, dan segala macam itu pakai uang dingin gitu. Itu yang selalu saya terapin dan jangan ngutang juga. Itu yang saya selalu saya terapin. Kalau emang bermer belum ada sama sekali, YouTube. He. YouTube belajar gratis juga banyak banget. He, di saya ada di mana-mana juga ada. Belajar aja gitu ya. Kalau di MD fokusnya soalnya bukan cuma belajar e-corse-nya aja, Mas. Kan e kita juga ada 400 ya. Tapi goal kita sebenarnya tuh di ngebimbingnya. Hm. Itu yang paling mahal tuh tanda kutip sebenarnya kita membantu memfasilitasi, membimbing mereka sampai beneran bisa praktik setiap hari lewat grup WhatsApp, kopdar, webinar, ee e-course kayak gitu-gitu. Yang saya maksud mentor tadi seperti itu, Mas. Oh. He. Jadi dibimbing, jadi di benar-benar diarahin, di di apa? Dikawal begitu kan, dievaluasi punya kita, dibantu nge-breakdown gitu kan. Nah, itu benar-benar yang mahal gitu, bukan hanya sekedar kayak apa namanya ya ee ilmu pembelajaran di bidang tertentu kan gitu. Nah, itu yang menarik sih, Mas. Betul. Saya juga saya besar dari situ, Mas. Sebenarnya besar dari saya tuh produk bimbingan. Nah, saya sama mentor saya itu tanpa sadar dari jualan offline sales sampai jualan online dulu 2021 ya zaman COVID itu saya 10 tahun dibimbing dan saya sempat ada di fase waktu di belajar advertising tiap habis subuh saya zoom sejam 2 jam buat ngulik dashboard tiap hari tuh berbulan-bulan ini ini kenapa chatnya mahal kenapa kontennya jelek kenapa ininya mahal kenapa landing page-nya bermasalah besok pokoknya harus murah ya enggak tahu gimana caranya pokoknya besok ininya harus murah, kliknya harus sekian. Wah, itu dipus Mas setiap hari. Dan kalau saya enggak dibimbing kayak gitu kayaknya berat gitu. Karena kalau cuma sekedar belajar aja, habis itu biasanya sorenya udah lupa. Heeh. Iya. Makanya harus pengulangan juga kan. Pengulangan dan kadang-kadang butuhnya dibimbing itu kadang-kadang yang diajarkan sama yang kita alami case-nya berbeda. Betul. Nah, case-nya berbeda. Jadi kalau enggak didampingi, wah itu kadang-kadang kita mau jalan itu ragu-ragu, benar enggak kita ngelakuin ini? Apalagi kalau kita ngiklan kan lawan katanya kan boncos, Mas. Betul ya? Itu kan spendingnya bisa lebih besar daripada pemasukan dan itu akan mungkin lebih worthed ketika ada bimbingan gitu. Betul, betul, betul. Benar-benar banget itu di awal tuh butuh di awal butuh butuh banget butuh butuh banget bimbingan. Kalau udah terbiasa, mentalnya udah kelatih, skill setnya udah naik juga, pelan-pelan bisa dilepas. Pelan-pelan baru tuh yang dibutuhkan bukan bimbingan lagi, tapi lebih ke update ilmu dan update insight. Biasanya kayak saya kan punya program setiap setahun itu minimal banget sekali, Mas. Ikut satu workshop yang memang sesuai dengan bidang saya, digital marketing. Satu skill tambahan misalnya finance kah, entah operasional, entah financial market gitu ya. Tapi minimal banget satu saya pasti akan update ilmu saya pribadi digital marketing. Kayak kemarin saya baru ikut kelas itu belasan juta juga e salah satu CMO-nya brand yang cukup terkenal itu materinya advance sekali gitu. Nah, itu enggak perlu bimbingan karena kan yang kita butuhkan adalah insight kan. Betul gitu. Tapi hanya berlaku buat yang memang sudah ngerti fundamental. Iya. Sudah diintermediate lah ya. Betul. Dan sudah punya mindset yang benar, mental yang kuat gitu. Kalau mentalnya masih dikit-dikit nyerah, mau ikut kelas ratusan juta miliaran susah, Mas. Mentah lagi. Heeh. Enggak belum punya fundamentalnya karena Iya. Oke. Oke. Kalau kita bicara konteks ngiklan nih, ads nih ya, bagaimana tips supaya tidak boncos, Mas? Aduh. Nah, ini tips supaya tidak boncos. Tidak boncos saat iklan. Tidak boncos. Jangan ngiklan kayaknya, Mas. Wah, jangan ngiklan. Karena pasti boncos berarti ya atau gimana? Enggak pasti. Tapi itu bagian dari resiko. Jadi kayak kita masuk ke financial market biasanya di awal karena belum ngerti polanya. Gini kalau saya kan tipikalnya memang lebih suka learning by doing. Kalau berenang tuh gampangnya daripada kita yang nomor satu nih ya daripada kita belajar berenangnya teori dulu, cara berenang gitu ya, nonton di YouTube 1 jam, 2 jam atau bahkan seharian itu kan begitu minggu depannya beneran praktik nyebur tenggelam juga kan. Heeh. Heeh. Nah, jadi saya tipikalnya belajar setengah jam nyber ke kolam pasti tenggelam juga. Sama-sama tenggelam tapi tenggelamnya cepat. He. Nah, habis tenggelam baru deh belajar evaluasi apa yang perlu diperbaikin. Nah, saya nyaranin kalaupun teman-teman pengin iklan, pertama pakailah modal ee uang dingin, bukan uang panas. Yang kedua, selalu jaga resikonya. Misalnya budgetnya misalnya Rp1 juta, maksimal banget misalnya Rp200.000, Mas. Jadi R00.000 ini testing iklan. Kalau ternyata beneran hasilnya jelek banget, udah jangan dilanjutin. Kan sederhananya iklan itu tujuannya, Mas iklan Rp100.000 dapat sejuta. Kan simpelnya kan gitu kan. Cuman kan di dalamnya ada baca data lah, ada harus perbaiki landing page, copywriting, dan segala macamnya. Tapi intinya gimana cara sejuta eh Rp100.000 jadi R juta. Jadi begitu masuk iklan misalnya R00.000 hasilnya jelek. Kalau saya nyaranin stop dulu, stop evaluasi dulu gitu. Nah, jadi ee jawabannya gimana caranya biar enggak boncos? Ada dua sebenarnya. Ee sori bukan dua ini urutannya ya. Yang pertama ee kita yang pertama itu kan tahapannya kalau dari nol kita perlu belajar dulu, belajar ngiklannya sebenarnya kan belajar ngiklan, belajar setting iklan, belajar strateginya, nge-ads-nya lah. Nah, yang kedua ini yang ini yang banyak orang luput, Mas sebenarnya belajar baca data. Hm. Nah, itu dua hal yang berbeda. Ngiklan sama baca data itu beda banget skill set-nya. Ngiklan sekarang setengah jam kelar. He gampang karena tinggal nonton YouTube beres gitu ya. Tapi apa apakah pasti untung enggak ya kan karena tadi enggak ngerti baca datanya. Hm. Rp50.000 iklan eh 100.000 iklan, enggak ada yang closing sama sekali berarti kan rugi kan. Nah itu kita harus masuk ke fase baca data. Hm. Kenapa nih enggak dapat hasilnya? He he. Oh ternyata landing page-nya kurang menarik karena yang ngeklik banyak landing page yang visit tapi enggak ada yang beli. Oh ternyata CS-nya closing rate-nya kurang bagus. yang nge-chat kita 20, Mas. Satu pun enggak ada yang beli. Berarti CS-nya misalnya bermasalah gitu ya. Balas chatnya kelamaan, jutek gitu misalnya atau mungkin harganya juga kemahalan. Jadi faktornya tuh banyak banget. Makanya perlu ngiklan dulu, tes market lihat Rp100.000 gimana hasilnya baru deh dari hasil itu kita olah tuh, Mas. Kita evaluasi. Heeh. He gitu. Jadi kurang lebih itu sih tipsnya. Cuman gampangnya daripada mikirin gimana cari biar enggak boncos, lebih baik kita manajemen resikonya dibenerin. Ah, gimana tuh manajemen resiko tadi? Uangnya berapa? Sejuta. Oh, yang tadi ya. He. Uangnya berapa? Sejuta. Ya udah, pakai a dulu Rp200.000. Tapi R00.000 siap hilang nih. Jangan sampai nih Rp200.000 buat pesan makan, sekolah anak, tabungan. Nah, itu yang banyak salah, Mas. Termasuk masuk ke finansial market juga kan rumus utamanya enggak boleh pakai uang panas ya. Panas. Heeh. Gitu. Dan itu banyak yang tahu tapi enggak praktekin gitu. Itu sih itu yang paling utama ya. Kalau udah hilang Rp200.000 kita enggak akan keganggu karena uang kita masih puluhan juta misalnya. Tapi kalau uang kita Rp3 juta, kita pakai 2,8 juta buat ngiklan, besok enggak bisa makan apa. Nah, itu yang bikin stres. Oke. Semuanya disalahin kecuali diri sendiri. Metanya jelek, kontennya jelek, mentornya enggak benar, semua disalahin pokoknya. Iya, iya. Iya. Jadi siapin angka terkecil dari yang kamu punya yang kamu itu siap kehilangan. Betul. Mungkin itu kata apa definisi dari manajemen resiko. Manajemen resiko tadi ya. Dan ini siap diresikokan gitu. Betul. Du hari aja kelihatan biasanya di awal. Yang penting kan nyobain dulu kan 1 hari 2 hari tes iklan jelek ya udah stop dulu Rp50.000 habis nih udah stop dulu. Kalau enggak kuat udah stop dulu. Dan emang namanya advertising atau ngiklan itu memang mental buat ngiklannya juga harus dilatih soalnya kan kita ngeluarin uang kan. Betul, betul, betul, betul. Mungkin kalau sudah jalan lebih enak kali, Mas. Jadi kayak sudah ada apa sekian persen dari budget, dari profit yang kita kembalikan ke iklan gitu. Mungkin lebih kalau sudah jalan itu kan. Tapi kalau sudah jalan kalau sudah ada profit. Oke, Mas. Ini kalau kita sudah jalan nih, jadi sudah jalan katakanlah usaha sudah jalan udah udah ada profit. Misal nih kita ingin di-invest lagi, direinvest ke kita bicaranya ini nge-ads ini adalah investasi. I untuk untuk beli data atau untuk mendapatkanustomer gitu. Itu berapa persen, Mas, kalau menurut Mas Fah buat diinvest, buat diinvest di untuk diiklankan lagi. Diiklan lagi. Jadi dapat profit habis berapa profitnya yang buat diinvest lagi? Iya. Di untuk dibudget spending lagi gitu. Oh, wah ini tergantung, Mas. Kalau brand besar banget tuh mungkin ya ini budget marketingnya 7 10% tapi tergantung brand besarnya, tergantung konteksnya ya. Kalau brand besar mungkin pasti mereka ada budget marketing atau budget ads-nya. He budget kont apa gitu ya. Tapi kalau kalau produk digital Heeh kan enggak ada modal lagi. H itu bisa 100% Mas saya lempar lagi. Jadi tergantung produknya ya. tergantung produknya, tergantung lagi di fase mana, tergantung budgetnya berapa, dan tergantungnya apa. Karena ada beberapa yang kayaknya costnya lebih baik dipakai buat tabung dulu, dipakai buat invest ke karyawan atau ngebangun tim, dipakai buat invest konten. Nah, saya ada beberapa brand yang memang ini digital produk tapi ya enggak ada HPP, tim enggak ada. Wah, itu enak banget. Saya dapat profit 100% uangnya ini semua saya putar lagi, Mas. Saya hajar lagi dua kali lipat. H. Jadi ibaratnya sekarang iklan R juta dapat R juta lagi bulan depan R00 juta berlipat tuh. Dan itu enaknya kalau kita sudah ketemu produk yang winning ya atau brand yang bagus gitu ya atau produk digital yang oke gitu ya. Karena ROI-nya 100% lebih bahkan 200% 300% gitu kan. Kalau kita masuk ke finansial market kan agak berat untuk ya butuh budget gede atau ga enggak sampai ke sana gitu. Jadi sebenarnya kalau udah ngerti permainannya ini pelipat ngelipatnya ngeri banget lebih cepat gitu. Jadi jawabannya kembali lagi ke produknya. Bisa jadi kalau ah kalau produk digital tadi cash-nya bisa sampai 100%. Iya karena enggak ada enggak ada app-nya. Enggak ada app dan gaji paling cuman bikin produk enggak ada cuma sekali. Habis itu bayar videografer paling editor bayar gaji, bayar CS bayar platform. Iya, selesai server kan sehat banget tuh. Lempar lagi itu enak banget ya. Nah, Mas kalau tadi kan sudah ee modelnya kan berlangganan berarti ya. Kalau di mahir digital berarti berlangganan modelnya ya. Subscribe kayak subscribe tahunan atau en en bulanan gitu. Jadi akadnya clear setahun gitu biar semuanya pakai akad kan enak. He he. Boleh boleh dibocorin enggak, Mas? Sampai sekarang berapa membernya? Member lebih dari R.000. Wah, masyaallah. Campur campuran ya ee secara akumulasi. Heeh, gitu. Oh, itu banyak banget loh, Mas. R00 lebih dari 10.000 banyak banget, Mas. Iya, iya. Alhamdulillah. Nah, apa menurut Mas yang kok banyak orang yang kemudian join gitu loh? Produk, Mas. Produk ya? Hm. Karena pelayanannya. H karena produknya memang buat banyak orang tuh yang bilang oke, berkualitas. He he. He. Emang harganya juga ee bukan bahkan bukan sesuai sama value ya. He value itu di atas harga. Oh, gitu. Jadi saya memang bikin gimana caranya supaya harga ini seterjangkau mungkin. Heeh. Heeh. Dan value-nya tuh jauh banget di atas harga gitu. Jadi bahkan mereka ya rugi sebenarnya kalau enggak belajar gitu karena enggak ada resiko gitu. Itu sih mungkin itu yang itu satu dan itu sesuatu yang memang saya yakini kan. Saya kalau bikin produk kan memang ee ya di produk fisik pun kan saya saya juga ada produk fisik ya. Ada produk fisik, ada produk digital. Terus ada Mahir Digital juga yang sekarang saya memang kalau bikin ya berrun all out gitu. Mentor ada del 8 sampai 9. Tim juga ada lumayan banyak puluhan. Kemudian IT-nya juga kita bukan IT template kita benar-benar IT-nya yang full coding semuanya dan servernya juga enggak murah gitu ya. lumayan lumayan mahal lah. Terus isinya juga kan kopder webinar live webinar kita bisa total-total mungkin 20 kali sebulan sebulan ee lebih dari 400 recording kita juga ada lebih dari 200 sekarang grup WhatsApp nih kalau saya buka bentar handphone brek ramai lagi langsung karena benar-benar pagi malam pagi malam Sabtu Minggu juga tetap ada jadi setiap hari gitu ya Senin Selasa, Rabu, Kamis cuma Sabtu Minggu grup WhatsApp juga aktif banget setiap hari. Heeh. Dan mungkin emang agak susah gitu, Mas, ngikutinnya. He. Karena memang saya pengin gimana caranya teman-teman mau belajar pagi, Sabtu, Minggu, Senin, Rabu bisa belajar kapanpun. Karena kadang orang luangnya di Minggu, kadang di Sabtu gitu. He. He. Dan ngurusnya capek. Ngurus kayak gini ternyata lebih capek daripada saya ngurusin produk fisik. B. Saya aja produk fisik, ada produk digital. Kalau produk digital saya bikin enaklah, simpel. Tapi produkuk fisik saya juga ada parteran sama satu parter yang beliau ngurusin seputar keuangan sama operasional packing baranglah kirim segala macam ya jadi capeknya masih ok lah saya cuma ngurus marketing digital dan segala macam tapi kalau ngurus mayar digital ada yang komplain ada yang IT-nya enggak benar ada yang ini belum ngurus mentor belum ngurus internal saya harus belajar HR juga saya harus belajar finance juga saya harus belajar bikin bisnis berarti Mas bikin company yang benar jadi bukan lagi yang saya pelajari tentang meta ads. Heeh. He. IG Ads. Belajar ngurus orang, belajar jadi leader gitu ya. Jadi 24 jam sekarang isinya belajar terus tekanannya udah sekarang dari tekanan dari member, dari karyawan, dari luar, dari kompetitor gitu ya, dari keluarga, dari mana-mana gitu. Jadi mungkin jawabannya lebih ke memang produk sih saya ngasih value terbaik gitu buat teman-teman yang ada di Mahir Digital. Karena saya tahu rasanya mereka dari nol mungkin banyak juga Mas yang punya hutang. He he. Dan mereka pengin lunas hutang. Jadi saya otaknya tuh gimana ya biar bantu mereka gitu. Saya tuh kalau doa tuh selalu salah satunya di luar dari keluarga pasti ada doa buat tim internal dan tim member. Gimana ya biar ya Allah tolong tunjukin jalannya supaya benar-benar bisa ngebantu nih kalau bersih sama siapa, cara apa, cara apa. Karena itu yang cuma bisa saya kontrol. Kalau memastikan dia dapat duit besok itu kan bukan kontrol saya. Tapi memastikan MD jalan dengan benar, dengan tepat, amanah. benar-benar kita bisa all ke mereka itu kontrol saya gitu. Jadi mungkin lebih ke itu sih, Mas kayaknya ya. tadi produk yang berkualitas kan pasti dihasilkan oleh sebuah pribadi atau kalau kita bicara konteksnya company atau perusahaan pasti dihasilkan dari sebuah perusahaan yang memiliki value yang tinggi. Nah, ini saya ingin mengulik nih, belajar juga sama Mas Fami value apa yang mungkin Mas Fami miliki atau di perusahaan MD miliki ini sehingga bisa menghasilkan produk yang berkualitas sehingga bisa bermanfaat untuk puluhan ribu orang gitu. Oh, oke. Value buat intim internal ya, company. Oke. Iya, company-nya. Value company-nya itu apa sih gitu yang ingin saya belajar supaya bisa saya terapkan di perusahaan saya gitu loh, Mas. Oh, oke. Oke. Ee amanah sih yang paling utama. Jujur amanah karena saya ngejar berkah. Heeh. Heeh. Ee saya terinspirasi dari ee direktur JNE ya. Ee beliau bilang yang paling utama itu bukan profitnya. Walaupun profit penting ya, sudah pasti ya. Jadi kita bukan membandingkan profit penting atau enggak gitu. Profit penting tapi yang paling penting adalah ya keberkahan itu sendiri gitu. Karena saya suka banget kalimat beliau. Kita tuh bukan bekerja karyawan tuh bukan bekerja buat kita. Heeh. Heeh. Tapi karawan itu bekerja sama dengan kita. H gitu. Ee karyawan mewujudkan impiannya lewat wadah atau perahu may jital. Saya juga mewujudkan impian lewat perahu dan wadah may jital. Jadi kita sama-sama bergerak ke satu visi yang sama. He ee dengan kita masing-masing punya goal masing-masing gitu. Jadi kita kerja sama. Terus yang kedua ee saya selalu pakai budaya ekstra mile. Hm. Dan itu ketransfer Mas semua energinya ke semua tim saya. Saya enggak pernah nyuruh kerja sampai malam. Tapi entah kenapa orang-orang pada tim-tim saya tuh kalau enggak sampai malam tuh kayaknya enggak puas aja. Padahal kita udah udah ada jam kerja ya jam sekian sampai jam sekian. Shift 2 jam sekian sampai jam sekian. Tapi mentor ada yang sampai jam pagi balasinnya. Subuh sudah pada bangun balasin. Produk fisik saya juga akhirnya CS-nya dia sampai bawah itu juga benar-benar yang nglevel maksudnya yang tim CS itu juga ternyata habis subuh balas-balesin chat dan segala macam. Jadi ee tiga orang ini saya dan cover saya berikut dengan C level ada lima orang itu kita punya budaya tadi sekaligus ekstra mile gitu. Kita memang kerjanya ekstra, kita kerja lebih. Karena saya dari dulu sebelum ada di MD, saya di perusahaan itu kalau kerja enggak pernah kurang dari 12 jam. Kerja ya. Saya bukan bangun company, saya kerja, saya jualan dulu saya dropship juga. Minimal banget saya kerja 12 jam sehari gitu. Karena yang pertama ini adalah bentuk doa dan ikhtiar saya untuk ngebuktiin ke Allah kalau saya memang bayar bayar harganya gitu. Terus ee yang kedua saya belajar dari mentor saya. Beliau bilang investasi terbaik buat anak muda adalah belajar eh kerja kerja ekstra. Jadi bukan ke saham, bukan ke instrumen properti itu. Iya. Tapi nanti pertama banget yang perlu kita invest adalah otak kan kepala kita, isi kepala kita dan ya kita bekerja ekstra mile gitu. Karena kita sebodoh apapun, setidak mengerti apapun kalau kita beneran kerja tekun benar-benar yang kerjanya all out ya. He bukan formalitas bukan karena takut tapi beneran yang kerjanya maksimal banget all out ngulik itu pasti ada hasil kok pasti ada ilmu yang didapat kok pasti ngebangun karakter pasti ngebangun mental pasti ada sesuatu gitu yang kita dapetin dari hasil kita kerja sekian tahun kalau beneran dikerjain ya gitu 10 tahun fokus di industri A pasti ada hasilnya. Heeh. He he gitu. Jadi yang saya saya garis bawi adalah budaya kerja ekstra mile. Iya. Kalau duniawiya ekstramel, kalau akhiratnya apa? Ini bahasa kalau kalau kalau ee kalau akhiratnya tadi ya saya ngejar ya keberkahanar sama ini. Ee tapi ini dari pengalaman pribadi sih ya mungkin kita salah satu faktornya karena marketing langit juga. Oke gitu. He ya ada beberapa hal marketing langit yang ee kita praktekin di balik layar ya. Alhamdulillah akhirnya Allah bikin sampai di fase ini gitu. He he. Karena kita kalau flashback juga kadang yang mikir Heeh. Heeh. Kok bisa? Heeh. He. Sampai di sini kerita bukan orang yang cerdas, bukan orang yang pintar. Saya orang biasa aja. Heeh. Ee modal ads juga modal bisnis juga kecil, Mas. Kita mulai bertiga. Modal MD itu bertiga kecil banget. Kecil sekali budgetnya gitu ya. Enggak punya kantor setahun semu
Resume
Categories