Transcript
XglXXpBDE6s • Bukan Cuma Jualan, Digital Marketing Bisa Mengubah Hidup Banyak Orang Kalau Tau Caranya..
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0698_XglXXpBDE6s.txt
Kind: captions
Language: id
Saya lihat Portonya kan pernah belajar
iklan itu dari spending R.000 per hari.
Bahkan sekarang kalau ditot-total sudah
belasan miliar Mas spendingnya ya. Betul
enggak?
Iya. Kurang lebih akumulasi ya dari
semua brand kurang lebih.
Wow.
Bikin produknya udah bisa tapi enggak
bisa jualan ya.
Karena antara bikin produk sama jualan
itu kan dua hal, dua part yang sangat
berbeda. Jangan bayar,
jangan ikut kelas berbayar sedikit pun.
Mas, makasih ya, Mas. Saya bisa umrahin
orang tua, bisa bayar utang R juta, Mas,
ke Kollektor saya sudah capek ditagihin.
Wah, itu nangis saya, Mas.
Senang gitu, happy. Happy banget kayak
apa ya, adrenalinnya tuh kayak nagih,
kayak pengin lagi ngebantu lagi,
ngebantu lagi, ngebantu lagi gitu ya.
Bagaimana tips supaya tidak boncos, Mas?
Ee jawabannya gimana caranya biar enggak
boncos ada dua sebenarnya.
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Senang sekali kedatangan Mas Fami
Auditya jauh-jauh dari Depok mampir di
Tulungagung.
Mumpung di sini, Mas, saya yang pengin
belajar, Mas. Ini guru digital marketing
ini.
Guru Facebook @ yang handal ini ya.
Masih belajar juga bukan guru
saya lihat Portonya kan pernah belajar
iklan itu dari spending R30.000 per
hari. Bahkan sekarang kalau
ditotal-total sudah belasan miliar Mas
Pendingnya. Ya, betul enggak? Kurang
lebih akumulasi ya dari semua brand
kurang lebih.
Oh. Wow. Berapa lama itu Mas?
10-an. 10 tahunan
sebenarnya termasuk yang enggak
gede-gede banget, Mas. Kalau
dibandingkan
banyak ee advertiser, head marketing,
pemilik ber di luaran sana gitu.
Masih hitungannya masih ya enggak
gede-gede bangetlah.
Gede lah, Mas
ya. Mungkin bagi pemula dan buat saya
lumayan. Cuman bagi orang yang sudah
benar-benar ngerti marketing atau
advertising itu angka yang ya enggak
terlalu gede-gede banget gitu.
Siap. Nah, Mas Fami ini juga yang
termasuk getol bahwasanya UMKM itu harus
belajar digital marketing.
Yes.
Ah, kenapa itu, Mas?
Betul. Karena dengan ng sebenarnya
belajar jualan ya, Mas ya. Karena dengan
ngerti digital marketing, ngerti jualan
itu saya yakin insyaallah bisa jual
produk apapun.
Hmm. Makanya setiap orang UMK terlebih
UMKM harus belajar digital marketing.
Benar. Karena bikin produk kan sekarang
di Indonesia enggak terlalu sulit ya,
supplier terus mau kolaborasi sama siapa
itu kan juga bisa ya banyak. Nah, cuma
banyak yang udah bikin produknya udah
bisa tapi enggak bisa jualan ya.
Karena antara bikin produk sama jualan
itu kan dua hal, dua part yang sangat
berbeda
gitu. Jadi kadang bisa bikin produknya
tapi enggak ngerti cara jualannya
gimana. Akhirnya stoknya mati atau dead
stock ya akhirnya enggak lanjut
gitu.
skill yang menurut Mas Fahmi yang
mungkin harus dimiliki lah ini bagi
misal kita bicara pemula nih kita udah
katakanlah nih bisa bikin produk nih
skill apa yang minimal lah at least
kalau kita mau masuk digital marketing
yang harus dia miliki
oke kalau skill utamanya skill besarnya
kan digital marketing cuma kan
turunannya banyak sekali kan
bisa reset produk bisa advertising bisa
copywriting atau bikin landing page
bikin konten itu turunannya cukup banyak
gitu tapi yang penting di awal minimal
Minimal kalau saya minimal ke ads-nya
belajar ngiklan secara teknisnya.
Kemudian kalau enggak punya produk
berarti belajar riset produknya juga.
Terus belajar buat belajar copywriting.
Copywriting ini part yang enggak banyak
orang tahu kalau ini penting.
He.
Padahal penting banget.
Heeh. He
karena kita bikin konten itu bagian dari
copywriting. Scripting kan scripting
offering itu bagian dari copywriting.
Kita bikin iklan itu ada caption-nya
bagian dari copywriting. Kita bikin
landing page bikin website itu bagian
dari copywriting juga isinya kan gitu.
Karena bikin website bikin landing page
bikin desainnya mudah sekarang kan.
Tanpa coding juga
gampang tapi isinya apa? Nah itu kan
dari kepala kan copywritingnya di situ.
Oke Mas di kita coba perdalam satu
persatu. dulu berarti ya. Berarti wajib
ads dulu dan copywriting gitu ya.
Betul. Salah satunya copywriting.
Oke. Ads itu ee
sama branding Mas ketinggalan branding
cuman branding kayaknya
panjang banget.
Wah iya itu kayak
perlu satu training tersendiri kayaknya
ya. Dan saya juga belum bukan ahlinya
sih.
Oke oke oke
gitu. I
berarti Ads ini konteksnya berarti kita
ngiklan nih Mas ya. Iya,
yang hari
bebas, bebas. Mau di Meta, mau di Google
atau di Instagram, mau di TikTok juga
bisa, di YouTube juga bisa. Sekarang ada
Snack Video gitu ya. Ada banyak sih. He
gitu. Tapi intinya ngedatangin traffic
fokusnya,
ngedatangin calon pembeli kan
gampangnya. Jadi kita punya toko sebagus
apapun, sekeren apapun kalau enggak ada
yang bisa ngedatangin pengunjungnya kan
percuma.
He gitu. tadi kalau konteks tadi Mas
yang pemula yang UMKM yang mau belajar
di digital marketing kan harus belajar
ad. Nah, dia disaranin belajar add apa
Mas? Minimal seenggaknya lah.
Oh, platformnya maksudnya
platformnya belajar ads apa? Kan
platform banyak banget Mas.
Kalau pemula juga harus belajar begitu
banyak platform juga pasti bingung nih,
Mas.
Heeh. Direkamin apa kalau menurut Mas?
Cari yang pasarnya paling banyak.
Gampangnya kan kalau kita mau jualan
sebuah barang ee kira-kira marketnya
sebesar apa? He he.
Contoh kayak misalnya sekarang pasar
terbesar kan salah satunya Tanah Abang
kan ya. Karena kan di situ pengunjungnya
banyak ya udah kita main di sana.
Nah kalau di online itu biasanya di
sekarang meta, IG sama TikTok sih.
Itu juga tiga platform yang masih cukup
besar ya. TikTok juga sekarang kan besar
sekali ya.
Rekomendasinya tiga itu ya.
Tiga itu. Kalau saya dari dulu sampai
sekarang fokusnya ke meta sama ke IG
gitu. He.
Ee tapi saya juga sekarang ada satu tim
yang ngurusin TikTok sama TikTok
affiliate itu juga marketnya gede
banget. Banget. He. Tapi katakanlah kita
hanya menguasai satu platform aja.
Katakanlah fokus di meta aja saya kira
sudah cukup ya Mas ya.
Cukup cukup tergantung produk sih.
Iya. Ada beberapa produk yang memang di
TikTok kencang di metang enggak atau
sebaliknya. Cuma kalau bisa keduanya
yang keduanya aja enggak apa-apa.
Contohnya apa tuh yang di yang dikencang
di meta di TikTok
biasanya fashion juga bisa kencang di
dua-duanya. He.
TikTok agak susah.
Hm.
Gitu karena lebih sensitif kan. Jadi ya
udah saya akhirnya mainnya di meta sama
di IG dikencengin. Nah, di TikTok itu ya
sampingan aja.
Sedangkan beberapa teman saya gedenya
malah
ee 70% omsetnya bahkan dari TikTok
gitu produknya.
Heeh.
Gitu. Jadi disesuaikan dengan produknya.
Tapi yang jelas ya dua platform ini
harus segera dikuasain sih keduanya
gitu. Kalau produk yang cocok untuk di
TikTok, Mas, menurut Mas Fami ya apa,
Miss?
Produk yang cocok buat di
di TikTok, dipasarin di TikTok. Oke.
Eh, biasanya produk yang harganya lebih
terjangkau. Sebenarnya hampir semua
produk sekarang bisa ya, cuman kalau
ngomongin yang
enggak pakai edukasi tanda kutip yang
enggak pakai mikir itu fashion juga
cepat gitu. Terus impulsif lah.
Produk-produk yang impulsif buying itu
juga biasanya yang R90.000-an,
Rp100.000-an gitu. Itu juga cepat-cepat
banget di TikTok gitu.
Yang bikin orang FOMO ya, Mas ya. bikin
orang ngomong. Oke, gitu.
Oke. Oke. Nah,
ada enggak ya, Mas? Jadi, kan saya juga
lihat beberapa videonya Mas Fahmi ya
yang dipecah telur juga pernah kita
liput juga bahwa dulu kan berangkatnya
dari jualan offline.
Betul.
Menurut Mas Fahmi ya. Jadi masih ada ya
orang yang sekarang itu kayak hanya
fokus di offline tanpa kayak tidak
terlibat di online gitu.
Pasti ada lah.
Pasti ada ya.
Pasti pasti ada. Pasti ada pasti ada dan
masih banyak juga.
Masih banyak ya, Mas ya.
I.
Hmm. Dan itu gimana kalau menurut Mas
Fahmi? Katakanlah ada orang yang seperti
itu. Nah, ini rekomendasinya seperti
apa?
Pertama tergantung dari produknya juga,
tergantung dari tokonya juga. Tapi yang
jelas kalau mau besar itu offline-nya
jadi bukan versus Mas. Oke.
Bukan online versus offline, tapi kalau
memang dasarnya offline ya online juga
dijalanin. Jadi keduanya
contoh jualan roti
toko besarnya punya, cabangnya di
mana-mana punya tapi dipasarkan secara
online juga gitu. He.
Bahkan teman-teman, beberapa teman saya
yang kerja di media
itu pemasukan eh di sori di TV itu
ternyata pemasukan iklan di TV-nya sudah
jauh banget, Mas.
Ee menurun
di TV.
Di TV gitu. Karena ternyata brand-brand
besar di yang ada di
supermarket gitu ya, di warung, di
manaun itu sekarang sudah mengurangi di
TV
dan udah pindah ke sosmet, sosial media.
Gitu. Jadi pemasukan mereka tuh udah
menurun sekali gitu ya. Bahkan iklan
juga udah ya saya aja nonton TV terakhir
udah kapan tahu ya, Mas terakhir nonton
TV kapan, Mas?
Aduh aku udah lama
sudah lama sekali enggak lihat TV. pun
nonton saya bukan TV ini ya, bukan TV
lokal tapi ya nonton bola misalnya di
aplikasi apa gitu kan
yang benar-benar nonton TV-nya udah agak
jarang gitu.
Jadi e bukan online versus offline tapi
ya keduanya dijalankan lebih baik. Heeh.
Keduanya jadi pernah saya di suatu
ketika mencoba sesekali itu ah penasaran
dah pengin usaha offline gitu.
Saya bikin usaha itu jualan
ayam goreng.
Heeh.
Di sebuah rumah sakit gitu.
Heeh. Wah, itu kayak berdarah-darah
banget menurut saya.
Offline,
offline, Mas. Kayaknya beda alam banget
gitu dan agak agak susah gitu loh, Mas.
Nah, gitu. Jadi, Masim ada pengalaman
enggak susahnya jualan offline gitu ya?
Betul. Kalau yang baru mulai memang
arahnya ke online lebih enak kan karena
bikin misalnya gerobak atau restoran
yang besar, restoran bakso gitu ya,
mendingan kan kita lempar misalnya ke
online gitu kan karena modelnya lebih
terbatas juga. Modelnya lebih terjangkau
maksudnya. Heeh.
Teman saya jualan bakso itu pas
launching dia pakai Instagram diiklanin
di sekitar komplek radius 5 kilo. He.
Iklanin H+ H- sean tuh rame.
Hm.
Jadi restorannya ini kalau contoh hybrid
ya.
Contoh hybrid sebenarnya warung-warung
atau resto-resto yang besar punya
influencer itu banyak juga Mas yang
mereka punya
gede sekali ee nih apa warungnya gitu ya
atau tempat makannya. Tapi cara mereka
promosinya lewat TikTok,
lewat influencer, lewat online ke online
gitu ya, bahkan lewat ads juga gitu.
Jadi tokonya memang offline tapi cara
ngedatangin trafficnya digital
h
online dan bahkan kan bisa dua-duanya
kan kita narik marketnya kan kalau punya
restoran orang-orang sekitar kita bisa
beli yang lewat ya kan tapi orang-orang
yang memang dia enggak tahu dan jauh
online kita bisa lewat sosial media juga
gitu TikTok atau Instagram gitu bahkan
pakai influencer juga itu kan bagian
dari digital ya. He.
Jadi online dapat, offline dapat hybrid
gitu. Dan itu ramai, Mas.
Iklanin berapa ratus ribu sehari hamin
berapa dietting radius sekian kilo doang
rame pas datang
dapat dari sosm semua.
Jadi biasanya kalau kayak usaha offline
kadanglah restoran begitu ber mainnya
radius itu ya Mas ya.
Iya bisa jadi bisa jadi radius juga.
Kayak kalau kita katakanlah manggil tuh
influencer begitu kan. Influencer itu
kadang-kadang nge-brot ya Mas. Kita
enggak tahu dia targetnya ke mana. Itu
masih efektif enggak sih Mas?
Betul. itu tergantung restorannya sih.
Kan ada beberapa restoran yang cabangnya
banyak banget. Jadi dia panggil satu
influencer mau cabang Depok, Bekasi,
Bogor, apa ya di mana-mana ada kan gitu.
Ketika sudah banyak cabang berarti
konteksnya kalau cabangnya belum begitu
banyak ya biasanya diarahin ke satu toko
yang memang radiusnya terdekat atau bisa
juga kalaupun pakai influencer itu buat
owning konten. Heeh. Heeh. Heeh.
Ya, jadi dapat owning kontennya baru
kita biasanya kan ada edisional tuh baru
kita pakai buat iklan di radio sekitar
sekitar. Tapi balik lagi tergantung
strategi dari resto itu sendiri sih
karena kan beda-beda ya.
Heeh. He
gitu.
Kalau yang Mas Fahmi sendiri pernah
enggak dalam beberapa fase dalam
kehidupan itu jualan offline?
Dulu saya awalnya dari offline.
Hm.
Dulu saya SMA itu pulang SMA teman-teman
saya nongkrong main pacaran.
Saya dulu benar-benar pulang sekolah
jualan offline ketemu orang 2 jam 3 jam.
Jadi pulang ke rumah
ngambil motor ke tempat fotokopi ke
halte Bassway. dulu ke Gara Media itu
beneran nawarin secara offline, sales
offline dulu. He.
Jadi dulu saya kebantu kebangun banget
mentalnya lewat sana, Mas,
awal-awal. Dan saya ngelakuin rutin
hampir tiap hari selama dari mulai kelas
3 SMA.
He he.
Sebelum UAN tuh jadi orang-orang mau UAN
pada belajar, saya malah belajar jualan.
Hm.
Jadi saya sebenarnya belajar itu bukan
dari teori, tapi dari ilmu lapangan
langsung.
Dari praktik ya, Mas ya. I ben-ben ya di
saya pernah lagi presentasi diusir sama
orang tuanya juga gitu
terus ketemu orang ditolak. Ah itu udah
kayak jadi makanan sari lah dulu pas
zaman jadi sales offline ya
gitu. Itu sih itu yang paling banyak
banget ngebangun mental dari awal ya.
Dan saya ngelakon itu sampai di kuliah.
Hm.
Gitu.
Nah itu poin menarik Mas. Ee offline di
sisi lain walaupun susah itu ke bentuk
mental.
Betul. Nah, tapi kalau online bagaimana,
Mas, membentuk mentalnya, Mas? Kan agak
mudah nih, Mas. Agak mudah gampang
closing. Sisi lain atau resiko dari
jualan
via digital media?
Ee maksudnya lebih ke ngebangun
mentalnya tadi.
Iya, mengembangun mental atau sisi
lainnya lagi yang
ngebangun mental untuk online-nya ya
untuk sisi personalnya kan. Kalau
offline itu kan bisa kayak ngebangun
mental tuh jadi penolakan dan sebagainya
kan. Kadang-kadang itu dibutuhkan kan
Mas untuk untuk bisnis untuk hidup. Oke,
nangkap, nangkap, nangkap.
Oke, oke, oke.
Ee, wah, ini cukup panjang. Tapi intinya
memang pertama perlu dilatih ngebangun
mentalnya.
Sebenarnya kalau Mas praktik online buat
orang-orang yang baru banget belajar,
habis itu praktik enggak bisa gitu ya,
itu kan biasanya banyak yang nyerah,
Mas.
Hm.
Di situ sebenarnya titiknya.
Jadi, begitu belajar meta ads, ada menu
yang kita enggak ngerti terus kita
nyerah. Nah, itu kan mentalnya kena. He.
Jadi saya belajar banget gimana caranya
ketika lagi belajar dan praktik itu
mental dulu saya bawa ke online.
Karena yang membedakan antara orang
berhasil sama gagal di awal waktu
belajar digital marketing itu bukan
karena skill set-nya. He
maksudnya kalau skill set sekarang
teman-teman mungkin nonton YouTube
setengah jam atau 1 jam belajar meta ads
itu langsung praktk bisa. Oke.
Karena kan isi laptop saya sama Mas kan
sama kan
tinggal setting Facebook I kan habis itu
klik audiens ini publish beres tuh.
Nah, tapi kenapa banyak nyerah?
Gara-gara mereka mentalnya enggak kuat
ketika ketemu dengan kendala mereka
berhenti.
Nah, itu doang masalahnya. Yang satu
mentalnya mental ngulik benar-benar nih
kenapa enggak bisa dikulik, dicari
didetailin banget. Nyari tutorial
YouTube lah, ikut kelas kah apa segala
macam. Yang satu praktik enggak bisa.
Nah, ini kayaknya bukan bakat gua nih.
Ini kayaknya bukan bidang saya nih.
Gitu. Udah. Padahal baru protect bentar,
enggak ada tantangannya apa-apa. Eh,
baru dapat tantangan dikit, enggak bisa
langsung nyerah.
Heeh. He,
gitu. Jadi, mentalnya itu dilatih di
situ. Dan itu masalah paling banyak yang
dialamin orang-orang di awal ketika mau
belajar, Mas.
Heeh. Heeh. He,
gitu. Karena segitu gampangnya buat
nyerah kan. Heeh. He,
gitu.
Iya. Jadi lah kalau menurut saya, Mas,
jadi ee kalau kita belajar online itu
kayaknya harus butuh mentor deh, Mas.
Kayaknya Mas.
Iya. Oh, iya. Pasti. Betul engak, Mas.
Pasti
sebenarnya online offline juga pasti
butuh mentor
keduanya. Cuman memang
ya intinya di bidang apapun kita
belajar, industri apapun, mentor itu
buat saya wah penting. Penting sekali
penting banget.
Dulu waktu saya itu loh, Mas di apa di
mau belajar
2014 ketika saya mulai menikah dan
belajar online gitu ya.
He heeh.
Jadi di Tulungagung itu ada kayak
komunitas blogger gitu ya. Jadi itu
sangat membantu banget gitu. Jadi saya
bisa datang ke mereka, saya bisa
komunitas,
saya bisa tanya-tanya.
Bahkan kadang-kadang kita enggak bisa
melihat sisi sisi yang bisa mereka lihat
karena mereka sudah jago lah.
Nah, dan itu kita diarahin gitu.
Wah, kayaknya bagus banget gitu. Nah,
terlebih tadi juga di Mas Fami bilang
kalau di online itu mudah banget, mudah
banget untuk patah gitu.
Betul. Betul.
Di wah ini mentok nih, ah ini mentok nih
ya gitu. Jadi kayaknya kita harus butuh
mentor gitu. Nah, kalau Mas dalam
perjalanannya di bisnis online apakah
juga seperti itu? Ada mentor begitu?
Iya, pasti. Pasti saya dari online ke
offline tuh butuh mentor juga pasti.
Yang pertama kenapa offline lebih online
lebih gampang nyerah? Karena bayangin
Mas belajarnya di sini, di meja, di
kamar, AC misalnya sampingnya kasur,
nyerah dikit tidur, Mas.
Iya. Iya. Rebahan rebahan. Aduh,
kayaknya susahlah. Udah apalagi pusing
kan depan laptop lama-lama kan. Pusing
kan.
Iya. Iya. Iya. I. Saya tuh kalau udah
nih kadang orang tuh ngerasa kerja fisik
capek.
Oke,
benar. Tapi lebih capek sebenarnya kerja
yang deh mikir.
Betul.
Iya kan? Kerja mikir depan laptop yang
benar-benar mikir ya itu 2 jam 3 jam
setara dengan mungkin 10 jam
12 jam kerja fisik itu
ya koreksi ya. Tapi ada penelitiannya
juga gitu
yang menunjukkan bahwa kerja benar-benar
mikir depan laptop deep thinking itu
lebih capek, lebih kekuras tenaganya,
lebih haus, lapar gitu kan. He.
Itu pertama itu alasan kenapa banyak
orang yang gagal karena emang gampang
nyerahnya gitu ya.
Nah, yang kedua
iya pasti pasti pakai mentor gitu karena
mentor tuh ibaratnya kayak kita mau naik
gunung ya
tapi kita enggak tahu jalan gitu. Ada
dua opsi kan. Kalau kita mau naiknya
sendirian kita ada opsi nyasar.
Ada opsi entah nyampainya kapan waktunya
lebih lama energinya lebih lama juga
gitu. Itu pun kalau nyampai. Kalau
enggak lebih bahaya lagi. Tapi dengan
mentor kita sesimpel ini jalannya
kita tinggal ikut naik ke atas ee dia
tinggal pegangin kita tinggal naik.
Tapi masalahnya mentor ini cuma penunjuk
jalan, Mas. He.
Kan ibaratnya kita kayak ditarik ya. He.
Nah, kalau kitanya enggak mau ikut naik
ke atas itu berat sekali.
Hm.
Jadi bukan berarti dengan adanya mentor
kita sudah pasti berhasil. Nah, ini yang
banyak salah kaprah ya. He.
Bukan berarti dengan kita punya mentor
yang kita bayar mentor miliaran gitu ya,
ikut masterm harganya ratusan juta itu
sama sekali enggak pasti berhasil.
Heeh. He
gitu. Karena yang bikin kita berhasil ya
ujungnya kan diri kita sendiri. He
gitu. Bahkan kadang malah ngerepotin Mas
kalau mentinya nih enggak mau diajak
naik kitanya sudah ngulurin tangan kan
ibaratnya kan.
Jadinya kitanya ikut ke bawah
ketarik. Jadi main tarik-tarikan gitu.
He. Heeh.
Nah, jadi poinnya mentor cuma ngasih
jalan ee yang naik, yang berusaha, yang
capek, yang pakai tenaga. Kita kan tetap
harus naik ke atas. I
tapi lebih mudah karena jalannya udah
ada gitu. Nah, analoginya sesimpel kayak
kenapa saya tuh dari dulu sering banget
belajar.
Heeh.
Dan saya lebih prefer dari sekian banyak
ikut kelas, saya kan ikut kelas yang
gratis juga, yang ratusan ribu, yang
jutaan, sampai akhirnya ikut yang
belasan juta juga pernah gitu ya.
mungkin 200 300 juta kayaknya saya sudah
habis buat beli kelas dan segala macam.
He he.
Karena ee 1 du hari kelas itu isinya
adalah pengalaman mentor saya atau guru
yang saya pelajari selama belasan tahun.
H
dia sudah keluar uang mungkin miliaran
gitu ya. Dia udah benar-benar pakai
banyak waktu tenaganya buat tral error
ngandil ratusan tim brandnya banyak yang
gagal itu diolah hanya dalam waktu 2
hari. Jadi kita bisa langsung
menyerap gitu ya.
Iya. Tahu isi otaknya. Karena yang
paling penting kan dia punya income M
sebulan.
Saya masih R juta.
Berarti kalau saya pengin punya income R
juta atau M, saya kan harus tahu isi
otaknya nih.
He he.
Isi kepalanya apa sih? Pola pikirnya
gimana sih? Kenapa kok dia berhasil?
Kenapa dia gagal?
Apa pola, apa perilaku, apa habit yang
dia kerjakan tiap hari sehingga dia bisa
dapat ratusan juta bahkan miliaran. Nah,
satu-satunya cara biar tahu itu kan
harus bedah isi otaknya kan. Heeh. He.
Nah, mungkin cara tercepatnya ya mungkin
dengan saya ikut kelasnya dia gitu. Baru
setelah ikut kelas saya dapat aksesnya
bisa ngobrol lebih lanjut lagi
dan itu yang saya lakuin, Mas.
H
gitu. Makanya saya berani bayar agak
mahal demi bayar pengalaman mereka. Ya
enggak apa-apa. Yang penting memang
mentornya beneran praktisi, beneran
terbukti gitu ya.
Mas, kalau ee program yang Mas Fahmi
bikin nih, jadi kemarin juga saya lihat
portonya bikin kayak apa tuh? kayak
bimbingan begitu ya, Mas atau apa?
Oh, Mahir Digital.
Mahir digital. Heh.
Oh, iya. Heeh.
Apa itu, Mas, Mahir Digital, Mas?
Platform buat ngebantu teman-teman
jualan online atau digital marketing
dari rumah.
Karena Mas Fami juga tadi punya
portofolio pernah ngiklan segitu banyak
gitu ya, jadi mengajarkan iklan atau
bagaimana konsepnya?
Eh, utamanya sih enggak niat bikin Mahir
Digital.
Oh. Ya, saya sebenarnya udah kalau
teman-teman nanya gratisan, saya sudah
lama bikin dari 2021 22 itu saya ada
sekitar hampir 50 video gratis di
YouTube. Saya emang suka sharing.
Jadi begitu saya dulu kerja di satu
company, saya jual produk herbal
dari yang iklan cuma Rp50.000
sehari sampai alhamdulillah dapat amanah
dan hasil besar gitu ya, sampai akhirnya
bisa miliaran
secara akumulasi gitu. He.
Nah, dari situ saya bagiin di YouTube
gratis
ee caranya
caranya tutorialnya gitu ya dari A
sampai Z cara bikin kontennya sampai
sekarang masih ada videonya.
Nah, ternyata dari situ
itu view-nya lumayan besar
dan dari situ ternyata sampai detik ini
setiap hari, setiap bulan tuh bisa 300
sampai 1000 orang yang WA ke admin saya,
ke DM saya gitu.
Heeh. He
Mas, ee saya mau mulai ini dari mana?
Jadi nanyanya banyak banget, Mas. Cara
dapat R juta pertama gimana, cara pasang
pikel gimana, pokoknya teknis iklan
gimana,
cara reset produk gitu ya. Bingung
banyak juga yang akhirnya
terbuka pintu kolaborasi.
He.
Masih ada produk A bantu jualin dong dan
segala segala macamnya lah.
Akhirnya kerja sama
saya sempat bikin ee service juga waktu
itu. Sempat handle 12 brand juga dari
berbagai macam klien. Tapi akhirnya
cycls. Nah, berangkat dari sana kayaknya
enggak akan bisa nih kalau cuman lewat
YouTube doang gitu ya. Apalagi kayaknya
yang sebenarnya yang bikin saya
terhari itu ketika ada yang komen, "Mas,
makasih banyak sudah dapat Rp3 juta
pertama."
He
dari nonton video Mas Fahmi gratis.
Itu plus waktu bikin gratisan itu ya
berarti ya?
Iya, itu gratisan semua.
R juta pertama dari YouTube sampai
sekarang kalau dilihat komennya masih
ada kok, Mas.
Ada ratusan komen di YouTube saya enggak
ada yang saya hapusin juga videonya.
Ee makasih, Mas, sudah bisa beli susu
buat anak. itu kan
energi saya jadi dapat lagi tuh ketika
ada yang cerita kayak gitu gitu. He.
Oh, ternyata apa yang saya alamin dulu
susahnya saya ketika saya mau
bertransformasi dari offline ke online
dari stuck banget kan saya dulu kuliah
enggak beres gitu ya. Terus
bingunglah masa depannya mau ke mana tuh
bingung banget gitu ya. Karena kuliah
enggak beres ini arahnya juga sehidupnya
enggak tahu mau ke mana.
Kerja juga enggak bisa gitu bisnis juga
bingung gitu. Sampai akhirnya
alhamdulillah lewat wasilah digital
marketing itu bisa berubah
gitu. Jadi perjalanan saya tuh gara-gara
itu tuh Mas berubahnya tuh.
Heeh. E nah ternyata yang kayak saya
banyak.
Nah, saya baru ngelihat tuh gara-gara
komen YouTube, Mas.
Oh,
itu banyak banget, Mas, yang benar-benar
ee Kak Fami bantu saya dong. Saya punya
hutang segini gini gini. Saya pengin
bisa
kayak Kakak bisa dapat R juta pertama.
Gimana caranya? Klik apa, Kak gitu-gitu.
Itu banyak banget. Banyak banget.
Wah, ini kayaknya banyak banget yang
butuh, banyak banget yang perlu. Ya
udah, akhirnya sampai dari situ saya
bikin YouTube-nya lebih banyak
video-videonya
gitu. Sampai akhirnya saya sama
co-founder My Digital waktu itu bertiga.
Ya udah deh kita bismillah deh kita
seriusin. Kita bikin satu platform
khusus awalnya kecil-kecilan buat
ngebantu teman-teman supaya lebih intens
belajarnya, supaya bisa dapat duit dari
rumah dengan cara online
dengan fasilitas terbaik tapi dengan
harga yang terjangkau.
Nah, itu kata kuncinya gitu. Jadi, kita
pengin banyak orang yang bisa ikut
belajar
dengan harga yang terjangkau supaya rame
gitu. Jadi saya ngejarnya ngejar
banyaknya karena
awal saya bikin itu saya terinspirasi
dengan Gojek, Mas sebenarnya
dengan adanya satu orang founder Gojek
di 2025 ini akumulasi bisa ada 8 juta
orang
yang akhirnya bisa nafkahin anaknya,
istrinya atau keluarganya gitu ya dari
yang mungkin mereka hopeless ya
enggak tahu nih hidupnya mau kayak
gimana mungkin beli susu beli makan
enggak bisa tapi dengan adanya Gojek
jadi driver ya udah at least Rp3 juta, R
juta, R juta. sebulan tuh bisa. He
gitu. Nah, saya pengin banget sebelum
meninggal itu at least bisa ngasih
manfaat gitu ke banyak orang.
Nah, mungkin
ya hatinya terpanggil lewat sini karena
saya juga pribadi berubah hidupnya lewat
sini
gitu. Jadi saya kasih apa ya mungkin
feedback atau saya kasih
ee kembalikan ke industri ini karena
saya ngertinya di sini juga supaya
banyak teman-teman yang bisa kebantu
juga lewat sini gitu.
Tadi saya mendengar Mas Fami bilang do.
Nah, jadi saya ingin flashback sebentar
nih.
Jadi, Mas Fami enggak bisa nyelesaiin
kuliah begitu ya dulu ya atau bagaimana?
Oh,
iya, kuliahnya dulu enggak selesai.
He. Itu karena apa, Mas? Boleh tahu?
Dulu saya itu tadi Mas jualan offline.
Oh,
tapi ini disclaimer ya. Takutnya banyak
mahasiswa juga nih yang nonton nih.
Heeh.
Jadi, saya enggak lulus kuliah itu bukan
gara-gara saya enggak jelas masa
depannya mau ke mana.
Heeh.
Bukan gara-gara ah udahlah cabut aja.
Enggak. Oke. Oke.
Gara-gara saya memang sudah tahu mau ke
mana.
Karena banyak orang yang menyalahgunakan
kata-kata drop out kan. Ah, Bill Gates
aja
do.
Iya.
Makk aja. Iya. Banyak orang do sukses
gitu ya.
Banyak orang do sukses.
Apa saya do aja gitu?
Itu
enggak benar ya, Mas.
Enggak benar ya. Jadi mereka do karena
DO-nya pertama mereka di Harvard.
Oke.
Yang kedua mereka do-nya karena mereka
sudah punya bisnis duluan. Mereka sudah
canggih banget. Mereka udah otaknya udah
benar-benar ke mana-mana gitu. Jadi
bukan DO karena
emang enggak ada tujuan. Heeh. He.
Nah, ketika saya dulu mutusin buat
enggak lanjut karena kalau saya pribadi
begitu saya lanjutin kuliahnya di saya
tuh enggak kepakai
di saya ya. Karena kan saya dulu PR
terus jualan marketing ee arahnya ke
sana kan. Jadi mau saya sampai S1 pun
itu di saya enggak kepakai di saya. Nah,
tapi kan kalau kedokteran kalau apa itu
tetap aja butuh kan. Jadi jangan ambil
mentah-mentah dari media atau podcast
karena memang di balik itu pasti ada ya
perlu tahu konteksnya dulu lah. He
gitu. Itu sih
berarti do karena udah udah tahu
tujuannya gitu ya Mas ya.
Iya. Semester 7 waktu itu
ya. Waktu itu Mas Fami tahu tujuannya
untuk apa begitu. Do untuk apa?
Jualan.
Oh jualan itu tadi.
Heeh. Saya waktu itu sudah jualan terus
saya mau fokusin di jualan. Saya mau
ngasa skill di sini
tapi uangnya belum ada.
Oh.
Tapi di sini saya ngerasa oke bismillah
bisa. Dan itu saya benar-benar pas di
sela-seluar ruangan nih Mas antara masuk
ke ruangan apa ruangan B apa BK ya?
Pokoknya ruangan di kampus lah
antara lanjut atau enggak.
Lanjut enggak ya? Lanjut enggak? Lanjut
enggak? Lanjut.
Iya iya iya.
Bismillah. Enggak lanjut
udah akhirnya saya cabut.
Udahlah entar rezeki bisa kita cari
sendirilah. Tapi saya beneran yakin ya,
Mas ya. Itu bukan
bukan yang ragu-ragu enggak ada enggak
enggak jelas gitu mau enggak. Saya
benar-benar waktu itu bismillah nih
habis ini saya mau ke sini sini sini
sini. Ya udah walaupun enggak tahu saya
gimana kan.
Tapi bukan karena enggak ada tujuan. Nah
itu kata kuncinya ya. Jadi dan dan juga
bukan karena malas ya.
Oke.
Karena banyak orang kan yang akhirnya
enggak lanjut kuliah malas.
Oke.
Ya malas aja gitu.
Kalau dari faktor ekonomi seperti apa,
Mas dulu waktu kuliah atau masih sekolah
gitu?
Dulu ekonomi alhamdulillah ee cukup
gitu. Jadi tapi ternyata saya tahu baru
tahu cukupnya saya itu ternyata orang
tua juga di bar layar pengorbanannya
cukup besar.
Dan kenapa saya akhirnya mau nyari uang
sendiri waktu zaman SMA kelas 3 karena
saya baru tahu ternyata usaha orang tua
saya agak drop
gitu. orang tua ya namanya orang tua kan
salutnya enggak ngomong, enggak ngeluh,
tetap kerja keras, tetap kayak enggak
ada apa-apa gitu ya.
Tapi sebagai anak pertama dan laki-laki
ya jiwanya terpanggil, sedih gitu ya,
terharu. Ya udah akhirnya saya juga
enggak ngomong sama orang tua. Pokoknya
niatnya pengin income sendiri minimal
banget enggak mau repotin.
Syukur-syukur kalau bisa ngasih lebih ke
orang tua itu bahagia banget. Tapi
minimal banget saya sebagai anak
pertama, saya pengin enggak ngerepotin
orang tua
gitu dengan cara minimal jangan minta
uang jajan
bisa kuliahin sendiri. Nah, itu dulu
sesimpel itu aja lah pokoknya
gitu.
Siap. Balik lagi ke tadi Mas itu tadi
kan Mas Fahmi ingin karena di bikin
mayir digital karena pernah ngerasain
susah kemudian menemukan di jalan
digital ingin ngebantu banyak orang
lewat jalur
jualan online atau digital marketing
value maksimal harga minimal gitu ya.
Nah, itu berapa harganya di Myir Digital
Mas?
Baru saya dapat tuh kalimatnya tuh Mas
tuh
value maksimal harga minimal ini.
Oke. Kalimatnya tepat tuh.
E start apa? Oh, harga
harganya berapa, Mas?
Dulu awal-awal cuma R00.000an
setahun,
terus habis itu naik jadi karena
operasional makin gede, IT makin gede
juga mentor makin banyak, program e-cor
makin banyak juga naik jadi 800 naik
habis itu naik lagi jadi Rp950.000
terus di 2026 ini naik jadi Rp1.185.000
per tahun.
Jadi sebulan sekitar R90.000-an ribuan
lah masih ya masih lebih oke jauh
daripada
ee eh maksudnya masih lebih terjangkau
ya
ee dibandingkan kalau kita ee apa ya
contohlah paling gampang misalnya kayak
kuliah itu kan R juta R juta walaupun
enggak Apple to Apple tapi at least
keluar uang Rp90.000 zaman sekarang itu
masih
terjangkau lah.
Ada enggak Mas kayak program tester
gitu? Mungkin kan di mungkin di sebagian
orang terjangkau tuh atau mungkin di
sebagian orang agak kurang terjangkau
katakanlah baru memulai dan sebagainya.
Ada enggak, Mas, kayak program tester
atau apa
yang yang kecil-kecil gitu?
Ada.
Ada ya,
ada 6 bulan
itu Rp895.000
sama ada juga yang gratis.
Oh, ada yang gratis.
YouTube saya gratis.
Oh, yang
iya maksudnya di YouTube gratis. Di
podcast MD sekarang mau dibuat juga
gratis. Hm.
Kemudian webinar di MD itu buat preview
kalau teman-teman mau lihat juga R5.000.
Jadi di webinar R5.000 35.000 itu kita
belajar sekitar 3 jam sama mentor saya
itu ngebedah preview seputar My Digital
tuh apa isinya apa aja yang dipelajari
apa aja kita praktik bareng riset produk
bareng juga gitu sekitar 3 2 jam sampai
3 jamanan lah
gitu dan sebenarnya dari gratisan aja
juga sudah banyak yang menghasilkan
gitu jadi saya selalu nyaranin ya kalau
teman-teman yang pengin belajar nih
banyak juga nih saya mungkin sekalian
jawabin kali ya he
ee kalau pengin belajar enggak ada uang
jangan belajar di jangan bayar
jangan ikut kelas berbayar bayar sedikit
pun.
Maksudnya kalau uangnya aja buat makan
kurang gitu ya, buat sehari-hari kurang.
Saya nyaran ini jangan jangan bayar.
Lebih baik uangnya dipakai buat ya
makan, tabungan dan segala macam.
Pakai uang buat beli, buat investasi
layar ke atas, kelas, dan segala macam
itu pakai uang dingin
gitu. Itu yang selalu saya terapin dan
jangan ngutang juga.
Itu yang saya selalu saya terapin. Kalau
emang bermer belum ada sama sekali,
YouTube.
He.
YouTube belajar gratis juga banyak
banget. He,
di saya ada di mana-mana juga ada.
Belajar aja gitu ya. Kalau di MD
fokusnya soalnya bukan cuma belajar
e-corse-nya aja, Mas. Kan e kita juga
ada 400 ya.
Tapi goal kita sebenarnya tuh di
ngebimbingnya.
Hm.
Itu yang paling mahal tuh tanda kutip
sebenarnya kita
membantu memfasilitasi, membimbing
mereka sampai beneran bisa praktik
setiap hari lewat grup WhatsApp, kopdar,
webinar, ee e-course kayak gitu-gitu.
Yang saya maksud mentor tadi seperti
itu, Mas.
Oh. He. Jadi dibimbing, jadi di
benar-benar diarahin, di
di apa? Dikawal begitu kan, dievaluasi
punya kita, dibantu nge-breakdown gitu
kan. Nah, itu benar-benar yang mahal
gitu, bukan hanya sekedar kayak apa
namanya ya ee ilmu pembelajaran di
bidang tertentu kan gitu.
Nah, itu yang menarik sih, Mas.
Betul. Saya juga saya besar dari situ,
Mas. Sebenarnya besar dari
saya tuh produk bimbingan. Nah,
saya sama mentor saya itu tanpa sadar
dari jualan offline
sales sampai jualan online dulu 2021 ya
zaman COVID
itu saya 10 tahun dibimbing
dan saya sempat ada di fase waktu di
belajar advertising
tiap habis subuh saya zoom sejam 2 jam
buat ngulik dashboard
tiap hari tuh berbulan-bulan ini ini
kenapa chatnya mahal kenapa kontennya
jelek kenapa ininya mahal kenapa landing
page-nya bermasalah
besok pokoknya harus murah ya
enggak tahu gimana caranya pokoknya
besok ininya harus murah, kliknya harus
sekian. Wah, itu dipus Mas setiap hari.
Dan kalau saya enggak dibimbing kayak
gitu kayaknya berat gitu.
Karena kalau cuma sekedar belajar aja,
habis itu biasanya sorenya udah lupa.
Heeh.
Iya.
Makanya harus pengulangan juga kan.
Pengulangan dan kadang-kadang butuhnya
dibimbing itu kadang-kadang yang
diajarkan sama yang kita alami case-nya
berbeda.
Betul. Nah, case-nya berbeda. Jadi kalau
enggak didampingi, wah itu kadang-kadang
kita mau jalan itu ragu-ragu, benar
enggak kita ngelakuin ini? Apalagi kalau
kita ngiklan kan lawan katanya kan
boncos, Mas.
Betul
ya? Itu kan spendingnya bisa lebih besar
daripada
pemasukan dan itu akan mungkin lebih
worthed ketika ada bimbingan gitu.
Betul, betul, betul. Benar-benar banget
itu di awal tuh butuh di awal butuh
butuh banget butuh butuh banget
bimbingan. Kalau udah terbiasa,
mentalnya udah kelatih, skill setnya
udah naik juga, pelan-pelan bisa
dilepas. Pelan-pelan baru tuh yang
dibutuhkan bukan bimbingan lagi, tapi
lebih ke update ilmu dan update insight.
Biasanya kayak saya kan punya program
setiap setahun itu minimal banget
sekali, Mas.
Ikut satu workshop yang memang sesuai
dengan bidang saya, digital marketing.
Satu skill tambahan
misalnya finance kah, entah operasional,
entah financial market gitu ya. Tapi
minimal banget satu saya pasti akan
update ilmu saya pribadi digital
marketing. Kayak kemarin saya baru ikut
kelas itu
belasan juta juga e salah satu CMO-nya
brand yang cukup terkenal
itu materinya advance sekali
gitu. Nah, itu enggak perlu bimbingan
karena kan yang kita butuhkan adalah
insight kan.
Betul
gitu. Tapi hanya berlaku buat yang
memang sudah ngerti fundamental.
Iya. Sudah diintermediate lah ya.
Betul. Dan sudah punya mindset yang
benar, mental yang kuat gitu. Kalau
mentalnya masih dikit-dikit nyerah, mau
ikut kelas ratusan juta miliaran susah,
Mas. Mentah lagi. Heeh. Enggak belum
punya fundamentalnya karena Iya. Oke.
Oke.
Kalau kita bicara konteks ngiklan nih,
ads nih ya, bagaimana tips supaya tidak
boncos, Mas?
Aduh.
Nah, ini
tips supaya tidak boncos.
Tidak boncos saat iklan.
Tidak boncos. Jangan ngiklan kayaknya,
Mas.
Wah, jangan ngiklan. Karena pasti boncos
berarti ya atau gimana?
Enggak pasti. Tapi itu bagian dari
resiko.
Jadi kayak kita masuk ke financial
market
biasanya di awal karena belum ngerti
polanya. Gini kalau saya kan tipikalnya
memang lebih suka learning by doing.
Kalau berenang tuh gampangnya daripada
kita yang nomor satu nih ya daripada
kita belajar berenangnya teori dulu,
cara berenang gitu ya, nonton di YouTube
1 jam, 2 jam atau bahkan seharian itu
kan begitu minggu depannya beneran
praktik nyebur tenggelam juga kan. Heeh.
Heeh.
Nah, jadi saya tipikalnya belajar
setengah jam nyber ke kolam pasti
tenggelam juga. Sama-sama tenggelam tapi
tenggelamnya cepat. He.
Nah, habis tenggelam baru deh belajar
evaluasi apa yang perlu diperbaikin.
Nah, saya nyaranin kalaupun teman-teman
pengin iklan, pertama pakailah modal ee
uang dingin,
bukan uang panas. Yang kedua, selalu
jaga resikonya.
Misalnya budgetnya misalnya Rp1 juta,
maksimal banget misalnya Rp200.000, Mas.
Jadi R00.000 ini testing iklan. Kalau
ternyata beneran hasilnya jelek banget,
udah jangan dilanjutin.
Kan sederhananya iklan itu tujuannya,
Mas iklan Rp100.000 dapat sejuta.
Kan simpelnya kan gitu kan. Cuman kan di
dalamnya ada baca data lah, ada harus
perbaiki landing page, copywriting, dan
segala macamnya. Tapi intinya gimana
cara sejuta eh Rp100.000 jadi R juta.
Jadi begitu masuk iklan misalnya R00.000
hasilnya jelek. Kalau saya nyaranin stop
dulu,
stop evaluasi dulu
gitu. Nah, jadi ee jawabannya gimana
caranya biar enggak boncos? Ada dua
sebenarnya. Ee sori bukan dua ini
urutannya ya. Yang pertama ee kita yang
pertama itu kan tahapannya kalau dari
nol kita perlu belajar dulu, belajar
ngiklannya sebenarnya kan belajar
ngiklan, belajar setting iklan, belajar
strateginya, nge-ads-nya lah. Nah, yang
kedua ini yang ini yang banyak orang
luput, Mas sebenarnya belajar baca data.
Hm.
Nah, itu dua hal yang berbeda. Ngiklan
sama baca data itu beda banget skill
set-nya.
Ngiklan sekarang setengah jam kelar. He
gampang
karena tinggal nonton YouTube beres gitu
ya. Tapi apa apakah pasti untung enggak
ya kan karena tadi enggak ngerti baca
datanya.
Hm.
Rp50.000 iklan eh 100.000 iklan, enggak
ada yang closing sama sekali berarti kan
rugi kan.
Nah itu kita harus masuk ke fase baca
data.
Hm.
Kenapa nih enggak dapat hasilnya?
He he.
Oh ternyata landing page-nya kurang
menarik karena yang ngeklik banyak
landing page yang visit tapi enggak ada
yang beli.
Oh ternyata CS-nya closing rate-nya
kurang bagus. yang nge-chat kita 20,
Mas.
Satu pun enggak ada yang beli. Berarti
CS-nya misalnya bermasalah
gitu ya. Balas chatnya kelamaan, jutek
gitu misalnya atau mungkin harganya juga
kemahalan. Jadi faktornya tuh banyak
banget.
Makanya perlu ngiklan dulu, tes market
lihat Rp100.000 gimana hasilnya baru deh
dari hasil itu kita olah tuh, Mas. Kita
evaluasi. Heeh. He
gitu. Jadi kurang lebih itu sih tipsnya.
Cuman gampangnya daripada mikirin gimana
cari biar enggak boncos, lebih baik kita
manajemen resikonya dibenerin.
Ah, gimana tuh manajemen resiko
tadi? Uangnya berapa? Sejuta.
Oh, yang tadi ya. He.
Uangnya berapa? Sejuta. Ya udah, pakai a
dulu Rp200.000.
Tapi R00.000 siap hilang nih. Jangan
sampai nih Rp200.000 buat
pesan makan, sekolah anak, tabungan.
Nah, itu yang banyak salah, Mas.
Termasuk masuk ke finansial market juga
kan rumus utamanya enggak boleh pakai
uang
panas ya.
Panas. Heeh. Gitu. Dan itu banyak yang
tahu tapi enggak praktekin
gitu.
Itu sih itu yang paling utama ya. Kalau
udah hilang Rp200.000
kita enggak akan keganggu karena uang
kita masih puluhan juta misalnya. Tapi
kalau uang kita Rp3 juta, kita pakai 2,8
juta buat ngiklan, besok enggak bisa
makan apa. Nah, itu yang bikin stres.
Oke.
Semuanya disalahin kecuali diri sendiri.
Metanya jelek, kontennya jelek,
mentornya enggak benar, semua disalahin
pokoknya.
Iya, iya. Iya. Jadi siapin angka
terkecil dari yang kamu punya yang kamu
itu siap kehilangan.
Betul.
Mungkin itu kata apa definisi dari
manajemen resiko.
Manajemen resiko tadi ya. Dan ini siap
diresikokan gitu.
Betul. Du hari aja kelihatan biasanya di
awal. Yang penting kan nyobain dulu kan
1 hari 2 hari tes iklan
jelek ya udah stop dulu Rp50.000 habis
nih udah stop dulu. Kalau enggak kuat
udah stop dulu. Dan emang namanya
advertising atau ngiklan itu memang
mental buat ngiklannya juga harus
dilatih soalnya kan kita ngeluarin uang
kan. Betul, betul, betul, betul. Mungkin
kalau sudah jalan lebih enak kali, Mas.
Jadi kayak sudah ada apa sekian persen
dari budget, dari profit yang kita
kembalikan ke iklan gitu. Mungkin lebih
kalau sudah jalan itu kan. Tapi
kalau sudah jalan kalau sudah ada
profit.
Oke, Mas. Ini kalau kita sudah jalan
nih, jadi sudah jalan katakanlah usaha
sudah jalan udah
udah ada profit.
Misal nih kita ingin di-invest lagi,
direinvest ke kita bicaranya ini
nge-ads ini adalah investasi. I
untuk untuk beli data atau untuk
mendapatkanustomer
gitu.
Itu berapa persen, Mas, kalau menurut
Mas Fah
buat diinvest,
buat diinvest di untuk diiklankan
lagi.
Diiklan lagi. Jadi dapat profit habis
berapa profitnya yang buat diinvest
lagi?
Iya. Di untuk dibudget spending lagi
gitu.
Oh, wah ini tergantung, Mas. Kalau brand
besar banget tuh mungkin ya ini budget
marketingnya 7 10% tapi tergantung brand
besarnya, tergantung konteksnya ya.
Kalau brand besar mungkin pasti mereka
ada budget marketing atau budget
ads-nya. He
budget kont apa gitu ya.
Tapi kalau kalau produk digital Heeh
kan enggak ada modal lagi.
H
itu bisa 100% Mas saya lempar lagi.
Jadi tergantung produknya ya. tergantung
produknya, tergantung lagi di fase mana,
tergantung budgetnya berapa, dan
tergantungnya apa. Karena ada beberapa
yang kayaknya costnya lebih baik dipakai
buat tabung dulu, dipakai buat invest ke
karyawan atau ngebangun tim, dipakai
buat invest konten. Nah, saya ada
beberapa brand yang memang ini digital
produk tapi ya enggak ada HPP, tim
enggak ada.
Wah, itu enak banget. Saya dapat profit
100% uangnya ini semua saya putar lagi,
Mas. Saya hajar lagi dua kali lipat. H.
Jadi ibaratnya sekarang iklan R juta
dapat R juta lagi bulan depan R00 juta
berlipat tuh.
Dan itu enaknya kalau kita sudah ketemu
produk yang winning ya atau brand yang
bagus gitu ya atau produk digital yang
oke gitu ya.
Karena
ROI-nya
100%
lebih bahkan 200% 300% gitu kan.
Kalau kita masuk ke finansial market kan
agak berat untuk
ya butuh budget gede atau ga enggak
sampai ke sana gitu. Jadi sebenarnya
kalau udah ngerti permainannya ini
pelipat ngelipatnya ngeri banget
lebih cepat gitu.
Jadi jawabannya kembali lagi ke
produknya. Bisa jadi kalau
ah kalau produk digital tadi cash-nya
bisa sampai 100%.
Iya karena enggak ada
enggak ada app-nya.
Enggak ada app dan gaji paling cuman
bikin produk enggak ada cuma sekali.
Habis itu bayar videografer paling
editor bayar gaji, bayar CS bayar
platform. Iya,
selesai server kan sehat banget tuh.
Lempar lagi itu enak banget ya.
Nah, Mas kalau tadi kan sudah ee
modelnya kan berlangganan berarti ya.
Kalau di mahir digital berarti
berlangganan modelnya ya. Subscribe
kayak subscribe tahunan atau en en
bulanan gitu.
Jadi akadnya clear setahun gitu biar
semuanya pakai akad kan enak.
He he. Boleh boleh dibocorin enggak,
Mas? Sampai sekarang berapa membernya?
Member lebih dari R.000. Wah,
masyaallah. Campur
campuran ya ee secara akumulasi.
Heeh, gitu.
Oh, itu banyak banget loh, Mas. R00
lebih dari 10.000 banyak banget, Mas.
Iya, iya. Alhamdulillah.
Nah, apa menurut Mas yang kok banyak
orang yang kemudian join gitu loh?
Produk, Mas.
Produk ya?
Hm.
Karena pelayanannya.
H
karena produknya memang buat banyak
orang tuh yang bilang oke, berkualitas.
He he. He.
Emang harganya juga ee bukan bahkan
bukan sesuai sama value ya. He
value itu di atas harga.
Oh,
gitu. Jadi saya memang bikin gimana
caranya supaya
harga ini seterjangkau mungkin.
Heeh. Heeh.
Dan value-nya tuh jauh banget di atas
harga gitu. Jadi bahkan mereka
ya rugi sebenarnya kalau enggak belajar
gitu karena enggak ada resiko gitu. Itu
sih mungkin itu yang itu satu dan itu
sesuatu yang memang saya yakini kan.
Saya kalau bikin produk kan memang
ee ya di produk fisik pun kan saya saya
juga ada produk fisik ya. Ada produk
fisik, ada produk digital. Terus ada
Mahir Digital juga yang sekarang saya
memang kalau bikin ya berrun all out
gitu.
Mentor ada del 8 sampai 9. Tim juga ada
lumayan banyak puluhan. Kemudian IT-nya
juga kita bukan IT template kita
benar-benar IT-nya yang full coding
semuanya
dan servernya juga enggak murah gitu ya.
lumayan lumayan mahal lah.
Terus isinya juga kan kopder webinar
live webinar kita bisa
total-total mungkin 20 kali sebulan
sebulan
ee lebih dari 400
recording kita juga ada lebih dari 200
sekarang
grup WhatsApp nih kalau saya buka bentar
handphone brek ramai lagi langsung
karena benar-benar pagi malam pagi malam
Sabtu Minggu juga tetap ada jadi setiap
hari gitu ya Senin Selasa, Rabu, Kamis
cuma Sabtu Minggu grup WhatsApp juga
aktif banget setiap hari. Heeh.
Dan mungkin emang agak susah gitu, Mas,
ngikutinnya.
He.
Karena memang saya pengin gimana caranya
teman-teman mau belajar pagi, Sabtu,
Minggu, Senin, Rabu bisa belajar
kapanpun. Karena kadang orang luangnya
di Minggu,
kadang di Sabtu gitu. He. He.
Dan ngurusnya capek.
Ngurus kayak gini ternyata lebih capek
daripada saya ngurusin produk fisik. B.
Saya aja produk fisik, ada produk
digital. Kalau produk digital saya bikin
enaklah, simpel. Tapi produkuk fisik
saya juga ada parteran sama satu parter
yang beliau ngurusin seputar keuangan
sama operasional packing baranglah kirim
segala macam ya
jadi
capeknya masih ok lah saya cuma ngurus
marketing digital dan segala macam tapi
kalau ngurus mayar digital ada yang
komplain ada yang IT-nya enggak benar
ada yang ini belum ngurus mentor belum
ngurus internal saya harus belajar HR
juga saya harus belajar finance juga
saya harus belajar bikin bisnis berarti
Mas bikin company yang benar jadi bukan
lagi yang saya pelajari tentang meta
ads. Heeh. He.
IG Ads.
Belajar ngurus orang, belajar jadi
leader gitu ya. Jadi
24 jam sekarang isinya belajar terus
tekanannya udah sekarang dari tekanan
dari member, dari karyawan,
dari luar, dari kompetitor gitu ya, dari
keluarga, dari mana-mana
gitu. Jadi mungkin jawabannya lebih ke
memang produk sih saya ngasih value
terbaik gitu buat teman-teman yang ada
di Mahir Digital.
Karena saya tahu rasanya mereka
dari nol mungkin banyak juga Mas yang
punya hutang. He he.
Dan mereka pengin lunas hutang.
Jadi saya otaknya tuh
gimana ya biar bantu mereka gitu. Saya
tuh kalau doa tuh selalu salah satunya
di luar dari keluarga pasti ada doa buat
tim internal dan tim member.
Gimana ya biar
ya Allah tolong tunjukin jalannya supaya
benar-benar bisa ngebantu nih kalau
bersih sama siapa, cara apa, cara apa.
Karena itu yang cuma bisa saya kontrol.
Kalau memastikan dia dapat duit besok
itu kan bukan kontrol saya.
Tapi memastikan MD jalan dengan benar,
dengan tepat, amanah. benar-benar kita
bisa all ke mereka itu kontrol saya
gitu. Jadi mungkin lebih ke itu sih, Mas
kayaknya
ya. tadi
produk yang berkualitas kan pasti
dihasilkan oleh sebuah pribadi atau
kalau kita bicara konteksnya company
atau perusahaan pasti dihasilkan dari
sebuah perusahaan yang memiliki value
yang tinggi. Nah, ini saya ingin
mengulik nih, belajar juga sama Mas Fami
value apa yang mungkin Mas Fami miliki
atau di perusahaan MD miliki ini
sehingga bisa menghasilkan produk yang
berkualitas sehingga bisa bermanfaat
untuk puluhan ribu orang gitu. Oh, oke.
Value buat intim internal ya, company.
Oke. Iya, company-nya. Value company-nya
itu apa sih gitu yang ingin saya belajar
supaya bisa saya terapkan di perusahaan
saya gitu loh, Mas.
Oh, oke.
Oke.
Ee amanah sih yang paling utama.
Jujur amanah
karena saya ngejar berkah.
Heeh. Heeh.
Ee saya terinspirasi dari ee direktur
JNE ya.
Ee beliau bilang
yang paling utama itu bukan profitnya.
Walaupun profit penting ya, sudah pasti
ya. Jadi kita bukan membandingkan profit
penting atau enggak gitu. Profit penting
tapi yang paling penting adalah
ya keberkahan itu sendiri gitu. Karena
saya suka banget kalimat beliau. Kita
tuh bukan bekerja karyawan tuh bukan
bekerja buat kita.
Heeh. Heeh.
Tapi karawan itu bekerja sama dengan
kita. H
gitu. Ee karyawan mewujudkan impiannya
lewat wadah atau perahu may jital.
Saya juga mewujudkan impian lewat perahu
dan wadah may jital. Jadi kita sama-sama
bergerak ke satu visi yang sama. He
ee dengan kita masing-masing punya goal
masing-masing gitu. Jadi kita kerja
sama.
Terus yang kedua ee saya selalu
pakai budaya ekstra mile.
Hm.
Dan itu ketransfer Mas semua energinya
ke semua tim saya.
Saya enggak pernah nyuruh kerja sampai
malam.
Tapi entah kenapa
orang-orang pada tim-tim saya tuh kalau
enggak sampai malam tuh kayaknya enggak
puas aja.
Padahal kita udah udah ada jam kerja ya
jam sekian sampai jam sekian. Shift 2
jam sekian sampai jam sekian. Tapi
mentor ada yang sampai jam pagi
balasinnya.
Subuh sudah pada bangun balasin. Produk
fisik saya juga akhirnya CS-nya
dia sampai bawah itu juga benar-benar
yang nglevel maksudnya yang tim CS itu
juga ternyata habis subuh balas-balesin
chat dan segala macam.
Jadi
ee tiga orang ini saya dan cover saya
berikut dengan C level ada lima orang
itu kita punya budaya tadi sekaligus
ekstra mile gitu. Kita memang kerjanya
ekstra, kita kerja lebih. Karena saya
dari dulu sebelum ada di MD, saya di
perusahaan itu kalau kerja enggak pernah
kurang dari 12 jam.
Kerja ya. Saya bukan bangun company,
saya kerja, saya jualan dulu saya
dropship juga.
Minimal banget saya kerja 12 jam sehari
gitu. Karena
yang pertama ini adalah bentuk doa dan
ikhtiar saya untuk ngebuktiin ke Allah
kalau saya memang
bayar bayar harganya
gitu.
Terus ee yang kedua saya belajar dari
mentor saya. Beliau bilang investasi
terbaik buat anak muda adalah belajar eh
kerja
kerja ekstra.
Jadi bukan ke saham, bukan ke instrumen
properti itu. Iya. Tapi nanti
pertama banget yang perlu kita invest
adalah otak kan
kepala kita, isi kepala kita dan ya kita
bekerja ekstra mile
gitu. Karena
kita sebodoh apapun, setidak mengerti
apapun kalau kita beneran kerja tekun
benar-benar yang kerjanya all out ya. He
bukan formalitas bukan karena takut tapi
beneran yang kerjanya maksimal banget
all out ngulik
itu pasti ada hasil kok
pasti ada ilmu yang didapat kok pasti
ngebangun karakter pasti ngebangun
mental
pasti ada sesuatu gitu yang kita dapetin
dari hasil kita kerja sekian tahun
kalau beneran dikerjain ya gitu 10 tahun
fokus di industri A
pasti ada hasilnya.
Heeh. He he
gitu.
Jadi yang saya saya garis bawi adalah
budaya kerja ekstra mile.
Iya. Kalau duniawiya ekstramel,
kalau akhiratnya apa? Ini bahasa
kalau kalau kalau ee kalau akhiratnya
tadi ya saya ngejar ya keberkahanar
sama ini. Ee
tapi ini dari pengalaman pribadi sih ya
mungkin kita salah satu faktornya karena
marketing langit juga.
Oke
gitu.
He
ya ada beberapa hal marketing langit
yang
ee kita praktekin di balik layar ya.
Alhamdulillah akhirnya
Allah bikin sampai di fase ini gitu. He
he.
Karena kita kalau flashback juga kadang
yang mikir
Heeh. Heeh.
Kok bisa?
Heeh. He.
Sampai di sini kerita bukan orang yang
cerdas, bukan orang yang pintar. Saya
orang biasa aja.
Heeh.
Ee modal ads juga modal bisnis juga
kecil, Mas. Kita mulai bertiga. Modal MD
itu bertiga kecil banget. Kecil sekali
budgetnya gitu ya.
Enggak punya kantor setahun semuanya
full. Tapi kok alhamdulillah bisa sampai
di fase ini. Kenapa ya?
Wah, ini marketing langit, Mas. Salah
satunya adalah
kita sering gift ya. Maksudnya Skif itu
kita kalau kita kalau sudah sharing mah
sharing aja.
Oh.
Termasuk di YouTube. YouTube itu salah
satu wadah saya dan salah satu
mungkin jalan dari Allah kali ya yang
akhirnya bisa sampai di fase ini gitu.
Ee di YouTube itu sering bagi-bagiin
video gratis dan ternyata tuh komennya
doa semua, Mas.
H
sehat-sehat ya, Mas. Semoga bisa
bermanfaat. Semoga bisa ini. Makasih
banyak. Oh, doa semua, alhamdulillah.
He.
Dan itu saya tiap bacain sih merinding.
He.
Makanya pas saya ee saya punya impian A
saya bisa ngujud nih, Mas. Impian saya.
Oh, alhamdulillah nih bisa beli ini,
bisa beli itu.
Itu senangnya mungkin 1 minggu, Mas.
Efek senangnya 1 minggu
cuma 1 minggu atau bahkan paling cuma 2
3 hari. He.
Tapi begitu ada yang komen, "Mas,
makasih ya, Mas. Saya bisa umrahin orang
tua, bisa bayar utang R juta, Mas ke
kolor saya sudah capek ditagihin. Wah,
itu nangis saya, Mas.
Senang gitu, happy. Happy banget kayak
apa ya, adrenalinnya tuh kayak nagih,
kayak pengin lagi ngebantu lagi,
ngebantu lagi, ngebantu lagi gitu ya.
Makanya mungkin ya bisa dibilang ya ini
saya lagi ngomong ke diri sendiri,
mungkin ini cara dakwah saya gitu karena
kan dakwah enggak harus melalui di
masjid ya
gitu. Jadi mungkin cara dakwah saya
lewat sini. Mudah-mudahan dengananya ini
ya saya bisa ngebak bantu
sebanyak-banyaknya orang bisa lebih
baiklah hidupnya gitu.
Ini Mas Mahim kan masih muda lah tapi
udah hebat banget gitu ya. Kalau kita
bicara end game Mas Ende. Eh apa sih
kayak dream terbesarnya Mas Fahmi yang
ingin dicapai gitu? End game-nya mau ke
mana gitu?
Waduh pertanyaannya berat sekali nih.
Ee ya mungkin sesimpel pengin bermanfaat
sih Mas ya. Maksudnya kalau visinya saya
pengin kan kalimat bermanfaat itu
kalimat yang sebenarnya sederhana ya,
Mas ya. Simpel ya. Tapi enggak semua
orang bisa punya makna yang dalam.
Nah, buat saya kalimat bermanfaat itu
tuh beneran dalam.
He.
End game-nya adalah saya pengin jadi
orang yang super kaya supaya saya bisa
ngebantu banyak orang
gitu. Saya bisa bangun masjid yang
banyak, saya bisa bangun sekolah yang
banyak, saya bisa sedekah tanpa batas
gitu ya.
Karena kita makan sehari
sebanyak-banyaknya paling berapa sih,
Mas?
Tiga piring.
Tiga piring. Mau makan semahal apapun,
beli daging, beli apa juga paling habis
berapa gitu ya. Dan itu enggak mungkin
tiap hari.
Jadi kayaknya makan
seuangnya sebanyak apapun juga enggak
akan gede-gede banget gitu.
Nah, saya terinspirasi dari dulu ada
salah satu mentor saya, dia bilang
ee cari uang sebanyak-banyaknya dengan
cara yang halal.
Yang kedua,
ee pakai secukupnya aja.
Yang ketiga, gunakan untuk jalan
kebaikan. H
gitu. Karena ada quotes yang bilang kita
punya uang tanpa terbatas pun ribuan
triliun
itu tidak cukup untuk ngebantu orang
yang ada di dunia ini. Saking banyaknya
orang yang
harus kita bantu. Iya. Jadi kita mau
punjuang sebanyak apapun itu enggak akan
tetap aja enggak akan bisa membantu
berapa miliar
manusia yang ada di dunia ini gitu.
Enggak akan cukup gitu. Jadi saya pengin
banget sebelum meninggal ee jadi orang
yang benar-benar bisa ngasih manfaat ke
banyak orang gitu ya. Dan untuk saya
ngasih manfaat ke banyak orang ya saya
harus menuhin gelas saya dulu.
Saya harus bisa bikin saya punya banyak
uang dulu, banyak rezeki baru nanti
gelas saya mulai tumpahin ke orang lain
supaya orang lain juga merasakan
manfaatnya gitu.
Dan mungkin salah satu jalannya adalah
lewat
my digital
ee secara keilmuan ya gitu ya. saya
pengin dan yang dan yang kedua ee saya
pengin juga di MD jadi amal jariah.
Hm.
Gitu. Jadi ada satu kalimat, satu kata,
satu video aja yang bisa ngerubah hidup
teman-teman yang nonton
itu kan insyaallah bisa jadi amal jariah
dan itu sudah
insyaallah sudah cukup untuk ketika saya
meninggal nanti insyaallah dapat terus
dari sana.
Hm.
Gitu.
Mas Fahmi closing statement dari Mas
Fahmi untuk audiens pecahter.
Oke. Eh, closing mungkin yang pertama ee
mimpi yang besar.
Hm.
Gitu. Karena dulu saya takut banget
mimpi.
Oh,
ya. Dan ternyata orang yang takut mimpi
itu sama aja kayak orang yang sudah
meninggal. He he.
Tapi sisa
sisa badannya doang gitu ya. Tapi
sebenarnya rohnya, jiwanya mungkin udah
enggak ada.
Jadi udah tinggal ngejalanin hari-hari
aja tuh, Mas. Udah tinggal nunggu
meninggal secara fisik
gitu. Jadi ee dan ini enggak enggak
enggak enggak ada batas umur ya,
mau berapaap pun umur yang nonton.
Heeh. He
kalau memulai hidup tanda kutip mulailah
dengan bermimpi lagi
gitu. Dan bermimpi
kalau kata Jerem Polin kan yang
berbahaya adalah ketika kita bermimpi
kecil dan terwujud.
Oh
gitu. Jadi kalau saya dari dulu memang
punya mimpi yang besar.
Oke. Oke.
Dan ee buat Allah gampang
ya. Buat Allah bikin teman-teman ngasih
income R juta gampang. R juta besok juga
bisa gitu.
Cuman masalahnya adalah pantas apa
enggak. He
gitu. Makanya saya suka banget sama yang
namanya hukum kepantasan
gitu. Kalau memang pengin R juta
ya udah pantes pantesin diri.
He
biar rus juta. Dan itu masalahnya adalah
kita enggak bisa ngebuktiin ke siapapun,
ke atasan, ke teman, ke partner, kecuali
ke yang punya rezeki, kecuali ke Allah.
Jadi pantaskan diri ke yang di atas, ke
Allah. ee jangan mantas sendiri ke
atasan gitu. Jadi kalau memang
teman-teman pengin ngejar angka R10
juta, R juta per bulan, income-nya R
juta, tanya ke diri sendiri.
Saya kerjanya dari pagi sampai malam
begini, ngeluh mulu, sosm mulu, enggak
pernah keluar dari kamar, ngerem mulu,
enggak mau usaha.
Pantes enggak sih dapat income R juta?
Nah, itu tanya tuh ke diri sendiri.
Jangan jangan nanya ke orang lain, gitu.
He.
Karena orang-orang di luaran sana yang
enggak usah ngomongin gaji gede-gede deh
ya, orang-orang yang gajinya standar aja
itu mereka juga begadang.
Mereka juga dari pagi sampai sore, pagi
hujan tetap berangkat, malam macet-pacet
tetap tetap jalan juga gitu.
Jadi tanyakan diri sendiri apa yang
teman-teman lakukan sekarang
itu sudah pantas belum untuk mencapai
golnya teman-teman masing-masing? Ini
analogi bagus banget, Mas. Anak kecil
punya bapak-bapak, bapak-bapak punya
bapak. He.
Bapaknya punya tabungan 100 M.
Anak kecil 3 tahun minta permen.
Eh, sori minta uang.
Ee, Pah. Minta uang dong 10 M.
H.
Anak Mas gimana kira-kira? Ngasih enggak
ke anak kecil 3 tahun minta 10 M? Mas
punya 100 M loh.
Dikasih 10 M tapi 3 tahun, Mas. Dikasih
enggak?
Kayaknya anak kecil nih. Enggak deh.
Kayaknya deh. Anak kecil. Enggak.
Enggak. Kayaknya
kenapa?
Kan masih kecil, Mas.
Masih kecil. Belum pantes.
Belum pantes, Mas. Belum pantas.
Iya. Kecuali
belum bisa ngelola kan?
Belum bisa ngelola.
Nah, Allah ngelihat kita gitu, Mas.
Ee
kenapa kamu belum R juta? Ya belum
pantes.
Oke.
Nanti dipakai buat nauzubillah judul,
nanti dipakai buat mabuk, nanti dipakai
buat hal-hal yang buruk, dipakai buat
foya-foya. Oh.
Kenapa saya sekarang belum dapat angka
yang memang saya pengin wujudkan sekian
misalnya, ya belum pantes
Allah melihat kita belum pantes gitu.
Belum pantes. Nah, gimana caranya? Saya
pantesin diri,
Teman-teman. pataskan diri supaya dapat
R juta per bulan. Gimana caranya? Kerja
lebih pagi, bangun lebih pagi, pulang
lebih malam, misalnya banyakin doa,
banyakin ikhtiar, belajar skill ini,
skill itu, dan segala macamnya. Jadi,
ketika sudah punya goal-nya, ini yang
saya yakini dari dulu,
jangan fokus ke
teknisnya dulu.
Jangan fokus ke what-nya, tapi fokus ke
ee eh sori kebalik, jangan fokus ke
how-nya,
jangan fokus ke gimananya, tapi fokusnya
ke apanya dulu. Pengin
apanya dulu gitu.
apa dan kenapa
ketika teman-teman sudah punya oh gua
pengin R juta sebulan
entah kenapa tuh Allah ngasih ribuan
cara Mas
saya tuh selalu saya tuh selalu begitu
Mas setiap saya naik level pengin R
juta, pengin R10 juta, naik naik naik
itu kadang saya cuman, "Ya Allah, minta
dong jalannya tolong dong batu cariin."
Tiba-tiba saya dikasih peluang ini,
tiba-tiba dari podcast, tiba-tiba dari
YouTube, tiba-tiba dari mana, itu
rezekinya tek tek datang.
Tapi masalahnya satu, yakin. Heeh. Heeh.
He.
Kadang orang doanya formalitas.
Oke.
Diucapin, didoain di hati tapi enggak
yakin.
Enggak tahu sih bisa apa enggak. Udahlah
doa aja dulu. Nah, itu tuh bahaya.
Jadi doa dengan yakin nanti Allah akan
ngasih ribuan jalan. Heeh. He he.
Gitu. Sama yang kedua.
Oke.
Buat teman-teman semuanya, apapun ee
latar belakangnya, apapun pekerjaannya,
kalau emang pengin dapat income
tambahan, saran saya belajar digital
marketing itu sudah bukan pilihan sih.
Ya, enggak usah resign. Minimal 2 jam, 3
jam sehari aja udah cukup. He.
Mau belajar di mana enggak usah di MD
enggak apa-apa. Di YouTube yang gratisan
juga ada, mau belajar di kelas lain juga
ada. Yang penting
saya bisa berubah hidup dari digital
marketing dan mudah-mudahan teman-teman
juga bisa
dapetin hal yang sama gitu ya. Bisa
berubah hidup lebih baik lagi lewat e
wasilah digital marketing.
Weh, mantap.
Terima kasih Mas Fahim sudah datang di
Pecah Telur. Sampai jumpa ketemu lagi.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Terima kasih, Mas.
Terima kasih. Uh.