Transcript
QB1-ysSouYo • Kitab Nikah #1 - Motivasi Untuk Menikah - Ust Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2643_QB1-ysSouYo.txt
Kind: captions Language: id Alhamdulillahi alani wasyukrulahu ala taufihin asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuim wa asadu anna muhammadan abduhuasul rid alaii Hadirin hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Insyaallah dengan izin Allah dan pertolongannya pada kesempatan kali ini kita akan mulai kitab yang baru dari Sahih Bukhari yaitu Kitabun Nikah. Kitabun nikah yaitu kitab nomor 67 ya. Dan ini pembahasan sangat penting bagi semuanya. bagi kita yang sudah menjalani rumah tangga, apalagi yang masih ee berencana ya. Demikian juga yang belum ada rencana semuanya perlu untuk mengetahui kitabun nikah tentang fikih yang terkait dengan kitab ini sehingga dia bisa menjalankan kehidupan rumah tangga sesuai dengan sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya. Dan hadis pembahasan tentang kitabikah sangat banyak dan sangat banyak ini kita tahu di antara kegiatan yang kita lakukan dalam yang mencakup perjalanan sangat panjang adalah perjalanan rumah tangga. Ya, kalau kita haji paling cuma 20 hari, 25 hari atau kalau reguler reguler 40 hari, reguler 40 hari. Yang mungkin haji versi cepat cuma 15 hari. Tapi kalau rumah tangga sampai puluhan puluhan tahun, maka kita berusaha menjalankan kehidupan rumah tangga di atas ilmu sehingga kehidupan kita mendapatkan keberkahan. Setiap aktivitas kita bernilai pahala di sisi Allah subhanahu wa taala. Apalagi Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, "Khairukum khairukum liahlihi wa ana khairukum liahli." Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istri kalian dan aku adalah yang terbaik bagi istriku. Ini tinjau dari suami. Sebaliknya ditinjau dari istri. Rasulullah berkata kepada seorang wanita, "Adu ba'lin anti." Apakah engkau punya suami? Kata dia, "Punya, ya Rasulullah. Bagaimana kaifa anti minhu? Bagaimana sikapmu terhadap suamimu?" Kata dia, "La alu juhdan illa ma as astati." Aku berusaha semaksimal mungkin untuk melayaninya kecuali yang aku tidak mampu. Maka Rasul sahu alaihi wasallam berkata, "Unzuri aina anti minhu fainnahu jannatuki waaruki." Lihatlah bagaimana posisimu di hati suamimu atau bagaimana sikapmu terhadap suamimu. Sesungguhnya suamimu itu surgamu atau nerakamu. Maka ternyata dalam dua hadis yang saya sebutkan tadi menunjukkan bahwasanya pintu surga di antaranya adalah dengan jalul rumah tangga. Seorang laki bisa menjadi terbaik di sisi Allah, meraih surga yang tinggi dengan menjadi suami yang terbaik. Dan seorang wanita bisa meraih surga yang tinggi dengan menjadi istri yang terbaik, istri yang salehah. Maka hal ini menuntut baik laki maupun wanita untuk belajar tentang ee pembahasan terkait dengan kitabun nikah. Ya, saya katakan tadi ini semua penting bagi kita semua yang sedang menj rumah tangga maupun yang mau menjalani kehidupan rumah tangga. Para jomblo maksudnya ya. Ya, yang mungkin sekarang sebagian cita-cita belum ada. Siapa tahu setelah bahas ini ada cita-cita mau nikah ya. Karena sekarang lagi ngetren orang tidak mau nikah ya. Ini fenomena yang ee apa menyedihkan dan ini bukan bukan cuma di tanah air, di negeri lain juga ya. Saya sempat ngobrol sama sebagian kawan dari Amerika Serikat orang muslim ya. Dia cerita bagi bahwasanya sekarang banyak akhwat yang enggak mau nikah ya. Mereka ingin hidup nyaman, tidak tidak dibebani dengan tanggung jawab. Digambarkan bahwasanya namanya pernikahan itu ee susah ngurus anak, ngurus suami. Belum potensi suami KDRT, suami potensi marah-marah, suami potensi poligami, banyak. Sehingga akhirnya diberikan gambaran-gambaran yang menakutkan sehingga banyak wanita yang tidak mau nikah. Dan ternyata itu juga di tanah air kita mulai tersebar. Sebagian wanita, remaja-remaja enjoy dengan kehidupannya, dengan teman-temannya. Apalagi komunitasnya belum ada yang pada nikah. Sehingga umur 25, umur 26, umur 27 mereka enjoy aja apalagi sudah punya kerjaan. Ini tidak baik ya. Ini tidak tidak baik. Karena kalau pernikahan semakin dijauhi, pernikahan semakin sulit, maka banyak penyakit sosial akan yang akan yang akan muncul. Banyak penyakit sosial akan muncul di balik sulitnya pernikahan atau tidak adanya pernikahan. Oleh karenanya dengan belajar kitabun nikah semoga para jomblo, jomblowan dan jomblowati ya bisa termotivasi untuk segera ee menikah. Karena di balik pernikahan banyak sekali ibadah yang bisa kita ee lakukan ya. Yang bisa kita lakukan bab kita bahas terlebih dahulu tentang kitabun nikah. Di sini saya menjadikan dua acuan. Di antaranya kitab syarah Sahih Al Bukhari Fathul Bari karya Ibnu Hajar Alasqalani. Dan juga kata syarah kitab taudih ya taih karya gurunya Ibnul Mulaqin. Ee dua-duanya punya cara-carah yang berbeda. Mudah-mudahan dengan membaca dua buku ini bagi yang bisa baca kitab gundul ya silakan baca. Kita berusaha mengambil intisari dari dua buku tersebut ya. Jadi depan saya ini Fathul Bari yang ini apa? Taih ya. Enggak tahu nanti di sini apa lagi. [tertawa] Sementara dua dulu karena bukunya panjang-panjang ya. Tib. Pertama adalah kitabun nikah ya. Kitabun nikah. Nikah ee khilaf di kalangan para ulama apa secara bahasa maknanya apa? Namun sebagian ulama mengatakan maknanya secara bahasa adalah dam wat tadakhul. Dam itu menggabungkan. Menggabungkan ya. ee demikian juga disebut ya menggambungkan lelaki dan wanita ya. Kemudian ee akad juga disebut dengan nikah. Akad disebut dengan al-aqdu disebut dengan nikah karena al-aqdu adalah sababuhu. Ya, karena aqdu akad adalah sebab sebab terjadinya pernikahan ya. Sebagian mengatakan nikah lafzun musytarak ya bisa maknanya akad, bisa maknanya dam, bisa maknanya wata, yaitu hubungan intim. Ya seperti firman Allah subhanahu wa taala hatta tangkihah zaujan girah. Sampai dia menikahi lelaki yang lain itu sampai dia digauli oleh lelaki yang lain. Sehingga nikah sini maknanya adalah al-wat yaitu hubungan intim. Intinya ini secara bahasa tapi secara istilah kita paham nikah adalah akad syari yaitu menggabungkan dua pasangan yang tadinya tidak boleh ee berhubungan kemudian boleh berhubungan. Itu namanya nikah. Adapun masalah secara bahasa ada khilaf di antara para para ulama ya. Tayib. Ee kemudian ee kita masuk pada bab yang pertama, babu atarib fin nikah. Babasi untuk menikah. Liquihi taala sesuai dengan berdasarkan firman Allah, fankihu ma thabakum minanisa. Maka nikahilah wanita yang kalian sukai. Ya. Ayat selanjutnya masna waruba dua atau tiga atau empat. Waftum. Ya, kalau kalian takut fawahidah ya a malakat aimanukum. Kalau kalian takut tidak bisa adil ya, maka nikahilah satu saja ya atau nikahilah para atau hubungan ee para budak ya atau para para budak ya. Jadiumilu kalau kalian tidak takut tidak bisa adil fawahidanakatuk maka nikahilah satu saja atau kalian e dengan menggauli para para budak. Eh di sini al Imam al Bukhari membawakan hadis. Beliau berkata, "Qala hadasana Said bin Abi Maryam qala akhbarana Muhammad bin Jafar q akbarana Humaid bin Abi Humaid atawil annahu sami Anasna Malikin radhiallahu anhu yaakul Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata," jaat rahtin ila buyuti azwajin Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ada tiga orang datang ke rumah Nabi sallallahu alaihi wasallam itu istri-istri Nabi. Ke rumah istri-istri Nabi. Yasaluna ibadatin Nabi sallallahu alaihi wasallam. Mereka bertanya tentang ibadah Nabi, yaitu di rumah. Karena mereka tidak bisa lihat Nabi dalam rumah. Kalau di masjid mereka serang sering lihat ibadah Nabi. Tapi yang mereka ingin tahu apa sih yang dilakukan oleh Nabi dalam rumahnya? Tujuannya adalah untuk bisa mencontohi. Dan yang tahu kegiatan Nabi dalam rumah adalah istri istri-istrinya. Falamma ukhbiru fakaahum taqalaha. Tatkala dikabarkan seakan-akan mereka menganggap itu adalah sedikit. Nabi ternyata salatnya mungkin 11 rakaat. cuma 13 rakaat. Nabi tidur, Nabi bangun salat, ya Nabi puasa, Nabi berbuka seperti itu. Sehingga mereka menganggap itu sedikit ya sedikit bukan untuk merendahkan ibadah Nabi. Tapi maksudnya mereka ingin mengatakan kalau kami segitu cuma sedikit karena kami tidak dijamin masuk surga. Sehingga mereka punya logika kalau Nabi dijamin masuk surga ibadahnya segitu, maka kita yang tidak dijamin masuk surga harus ibadahnya lebih banyak. Q aina nahnu Nabi sallallahu alaihi wasallam kata mereka apa kita ini mau dibandingkan dengan Nabi sallallahu alaihi wasallam gofarallahuahu taqambi. Allah telah ampuni dosa-dosa yang telah lalu. W taak dan dosa-dosa yang akan datang. Ya, kalau gitu Rasulullah yang sudah dijanjin masuk surga bahkan pintu surga tidak bisa terbuka kecuali yang mengetuknya Nabi. Dan Nabi adalah satu-satunya Nabi yang telah dijamin diampuni dosa-dosa yang telah lalu mampupun yang akan datang. Telah dijamin di diampuni dosa-dosa yang terlalu maupun yang akan yang akan datang. Dan ini cuma keistimewaan Nabi. Olehkan dalam ketika dalam hadis syafaat ketika Nabi Isa didatangi orang-orang minta syafaat. Kata Nabi Isa, "Pergilah kepada Muhammad abdun qod gufir lahu ma taqaddama min dzambih wa taakhara." Muhammad adalah seorang hamba yang telah terjamin diampuni dosa-dosa yang telah lalu maupun yang akan datang. Dan itu tidak ada kecuali siapa? Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Apalagi dalam hadis, pintu surga tidak akan terbuka kecuali yang menutuk Nabi sallallahu alaihi wasallam. Itu pun Nabi ibadahnya segitu. Logikanya kalau gitu kita yang tidak terjamin, maka kita harus lebih banyak. Mulailah mereka berijtihad. Qala ahaduhum. Salah seorang dari mereka berkata, "Amma ana faana usolil abadan." Ya, maka satu berkata, "Adapun aku, aku akan salat malam terus-menerus." Waqala akar yang satu berkata, "Ana asumahro uir." Aku akan puasa tiap hari dan aku tidak akan berbuka selama-lamanya. Waqala ak yang ketiga berkata dan saya akan tinggalkan para wanita dan saya tidak akan menikah selama-lamanya. Faja Rasulullah sallallahu alaihi wasallam maka rasul pun datang faqala antuminaum kad wa maka Rasulullah menegur mereka. Kata Rasulullah, "Kaliankah yang telah berkata demikian demikian ama wallahi inni la aksyakum lillah waqakum lahu." Maka Rasulullah membantah mereka. Kata Rasulullah, "Ama wallah, ketahuilah." Ama ini maksudnya seperti ala sebagai tanbih. Ketahuilah demi Allah, aku ini lebih takut kepada Allah daripada kalian. Waqokum lahu dan aku yang paling bertakwa di antara kalian. Lakini asumu waftir. Tapi saya ini berpuasa dan berbuka. Wa usolli wa arqu. Tib kita lanjutkan. Maka ee yang satu berkata wa atawajunisa. Eh kata Rasulull sahu alaihi wasallam wa atazawajunisa. Adapun aku, aku salat dan aku tidur dan aku menikahi para wanita. Famaniba sunnati falis minni. Siapa yang membenci sunahku maka bukan dari golonganku. Tib. Hadis ini datang dalam sebagian riwayat rohtun. dan rotun secara bahasa Arab kata Ibnu Hajar dari satu ee eh dari 3 sampai 3 sampai 9 datang dalam sebagian riwayat nafarun yaitu jumlahnya ee 3 sampai 10 ya. Jadi sebagian riwayat menunjukkan bukan cuma tiga orang tapi lebih daripada tiga tiga orang ya. Dan dalam sebagian riwayat ada tambahan ada yang mengatakan la ya ini la anamu alal firas aq saya akan saya tidak akan tidur di atas kasur satunya kalau gitu saya tidak akan tidur di atas kasur supaya apa semangat apa ibadah yang satu berkata lagi la akulull laham aku tidak akan makan apa daing aku tidak akan makan daging maksudnya supaya hidup zuhud tidak pengin berfoya-foya supaya fokus untuk ibadah jadi Ada beberapa riwayat ya tadi yang saya sebutkan ya. Ada tambahan ya. Satu mengatakan aku tidak akan makan daging. Yang satu la anamu alal firasy. Aku tidak akan tidur. La akul lahma. Dan satunya la anam alal firas. Aku tidak akan tidur di atas tempat tidur di atas kasur. Pengin tidur di bawah aja. Jadi lima. Satu saya akan salat malam tidak akan tidur. Yang satu saya akan puasa tidak pernah berbuka. Yang satu saya tidak akan menikah. Yang satu saya tidak akan makan daging. Yang kelima mengatakan saya tidak akan tidur di atas ka kasur tempat tidur. Di antara riwayat yang menunjukkan siapa tiga orang yang disebut dalam hadis yang tadi kita bacakan? Ternyata tiga orang tersebut orang-orang hebat yang suka ibadah. Yang pertama Ali bin Abi Thalib. Yang kedua adalah Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu anhuma. Yang ketiga adalah Utsman bin Maz'un. Utsman bin Mad'un radhiallahu taala anhu. Ya. Kemudian ada sebagian sahabat yang lain, tapi tiga orang tadi disebutkan adalah ee Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Maz'un, dan Abdullah bin Amr bin Ash. Jadi mereka datang ini ingin mengetahui ibadah Nabi ketika di rumah. Dan ini boleh kepo tapi niatnya baik. Untuk apa? Untuk mencontohi. Kenapa? Karena Nabi memang suruh untuk mencontohi dirinya, maka melazimkan mengetahui kegiatan Nabi. Ternyata kegiatan Nabi ee tidak diketahui di rumahnya kecuali melalui jalur istrinya. Melalui jalur istrinya. Tapi kalau kepo sama ustaz enggak perlu ya. Karena sudah tidak ada sunah ustaz, sunah-sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Jadi enggak usah datang-datang tanya sama istri ustaz, "Ustaz ngapain aja kalau di rumah?" Enggak usah, enggak usah. Kalau diceritakan semua kan ngeri, enggak usah, [tertawa] enggak usah sudah kepo sama Nabi sallallahu alaihi wasallam itu karena konsekuensi ittiba harus mengikuti Nabi, harus tahu tentang Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan mereka akhirnya tanya kepada istri-istri Nabi, ya, bagaimana kegiatan Nabi di rumah. Setelah dikabarkan, mereka menganggap, "Wah, ibadah mereka ternyata ee sedikit." Artinya kalau mereka seperti Nabi sedikit. Bedanya apa? Karena Nabi sudah dijanjin masuk surga. Mau enggak ibadah juga gampangannya masuk surga. Tapi kalau kita ibadah cuma segitu enggak terjamin. Maka kita harus lebih banyak harus lebih banyak beribadah sehingga mereka pun berijtihad. Yang timbullah lima sikap tadi yang ingin mereka kerjakan. Ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam mendengar itu semua, maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pun tidak mendukung mereka. Tetapi Rasulull sallahu alaihi wasallam membantah mereka. Rasul sahu alaihi wasallam membantah mereka. Ya, maka Rasul Sallahu Alaihi Wasallam mengatakan satu-satu Rasulullah bantah. Ya, Rasulullah bantah secara terperinci yang sampai kepada Nabi tiga. Saya tidak akan tidur malam, saya akan saya akan salat terus. Salat malam, yang kemudian saya tidak akan berbuka. Saya puasa terus. Yang ketiga, saya akan meninggalkan wanita. Tujuan mereka ini apa? Supaya kuat beribadah. Supaya banyak beribadah. Karena kalau karena kalau melakukan tiga ini akan mengurangi ibadah. Siapa yang tidur malam akan kurang salat malamnya. Siapa yang berbuka maka akan kurang pua puasanya. Siapa yang menikah akan kurang ibadahnya. Benar atau tidak? Perempuan kan bikin sibuk ya enggak? Istri bikin sibuk enggak? Sibuk ya ngurus ini ngurus anu, ngurus ini, ngurus ini. Ni dan semangat sahabat ini berpikir kalau saya punya istri sibuk ngurusin apa? Istri supaya saya bisa fokus ibadah. Enggak enggak punya istri. tidak akan menikah selama lama-lamanya. Dan ini mereka ikrarkan di antara mereka supaya semakin kokoh. Kata kata Ibnu Hajar, asalnya memang ibadah disembunyikan, tapi dalam rangka ada maslahat yaitu untuk saling apa? Kuat, kuat-kuatan. Saya mau begini, kamu bagaimana? Saya mau begini, kamu bagaimana? Saya mau begini. Jadi bukan untuk ria, tetapi untuk saling mengkokkan di antara mereka. Apa pembicaraan mereka bertiga. Dan Nabi akhirnya Nabi bantah satu-satu. Kata Nabi, "Adapun saya, saya Nabi kasih apa bantahan bahwasanya kias yang kalian lakukan kias aulawi itu tidak benar." Karena kias yang mereka lakukan analogi yang mereka lakukan jika Rasulullah sudah dijamin masuk surga ibadahnya misalnya 50, kami yang tidak dijamin masuk surga ibadahnya harus 1000. Gampangannya demikian. Maka Nabi membantah kias tersebut. Nabi mengatakan tidak demikian kelazimannya. Apa yang saya lakukan itulah yang terbaik. Ya, apa yang saya lakukan adalah saya yang terbaik. Makanya Rasulullah mengatakan, "Inni aksyakum lillah ya wa atqokum lahu." Aku yang paling bertakwa dan aku yang paling takut. Sudah selesai. Apa yang buat orang rajin ibadah? Takut kepada Allah dan takwa kepada Allah. Saya di puncak ketakwaan dan saya di puncak rasa takut kepada Allah. Ternyata ibadah saya sikit. Inilah yang terbaik. Inilah yang terbaik. Maka analogi kalian itu salah. Maka saya berpuasa dan saya berbuka. Ini asum wa uhtir wa anam wa arquut wa usoli wa arquut. Saya salat malam dan saya tidur. Saya tidur baru salat malam. Waazwajunisa dan saya menikah wanita bukan satu bahkan saya menikah para wanita. Kemudian Rasulullah bantai lagi terakhir sunnati falaisa minni. Siapa yang benci sunahku maka bukan bagian dari dariku. Menunjukkan bahwasanya sunah yang benar seperti ini. Tidur, salat, puasa berbuka, kemudian menikah para para wanita. Dan ini dalil bahwasanya tidak ada rahbaniah dalam syariat Islam. Warahbaniyatbtadauha ma katabnaha alaihim. Ya. Dan roh yang dilakukan oleh oleh para pendeta, para pastor yang kami tidak pernah wajibkan kepada mereka. Para pastor mereka ingin beribadah kepada Allah dengan rohbaniah sehingga mereka tidak mau menikah dan mereka tidak punya anak. Ini pastor dan suster kalau enggak salah ya. Benar enggak? ya kan pasar suster sehingga mereka niat untuk ee dekat kepada Allah ee dan dengan tidak mau menikah. Tidak mau menikah. Makanya Umar bin Khattab ketika melihat para seorang pendeta yang sudah tua, Umar menangis. Ditanya, "Kenapa ma abkak ma yubkik?" Apa yang buat kau menangis Amirul Mukminin? Kata Umar, "Saya ingat firman Allah, amilatun nasib taslanar hamiah." Yaitu ada orang-orang di dunia capek berletih-letih ternyata ujungnya masuk neraka. Di antaranya mereka ini para pastor, para pendeta hidup sudah susah, tidak menikah, gak punya istri, gak punya anak, dalam ketuaan sendirian. Capek loh emang enak enggak punya istri? Enak kali buat jomblo ya. [tertawa] Gimana manusia punya hasrat yang harus dia salurkan. Kemudian dia tidak punya istri, dia tidak punya anak. Sementara orang bahagia dengan punya keluarga, orang bahagia dengan punya anak-anak, dia enggak. Karena Allah Subhanahu wa taala. Jadi letih, capek melawan hawa nafsu. Letih sampai tua ujungnya masuk apa? Masuk neraka. Ini buat Umar bin Khattab menangis. Maka tidak ada rohbaniah dalam Islam. Bahkan sebagian sahabat karena saking ingin beribadah, kalau tidak dilarang rabbaniah mereka ingin kebiri supaya rajin ibadah. Tapi Rasulullah larang. Islam adalah agama yang proposional yang di mana siapa yang paling bertakwa, dia tetap bisa menjalankan kehidupan sosial sebagai manusia. Jadi jangan disangka bahwasanya kalau orang paling bertakwa, dia hilang dari peredaran, tidak ada bisa bersosial. Enggak. Yang siapa paling bertakwa? Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Ternyata dia bagaimana sikapnya? Dia menikah, dia punya istri, dia punya anak. Ya. Kemudian dia berinteraksi dengan masyarakat, dia memimpin suatu negara. Jadi itu Islam yang porsinya ada. Jadi jangan sampai disangka kalau orang yang paling mulia di sisi Allah yang diam di rumah tidak makan-makan sampai tinggal tulang belulang gak. Ya. Yang tidak mau kawin sama sekali kemudian sampai sujud melulu sampai wajahnya pucat gak. Bukan itu. Islam tidak demikian. Islam itu agama yang luar biasa. adil dalam segala hal ya. Sehingga seorang muslim yang sejati, yang ahli ibadah, yang takwa kepada Allah tetap bisa menjalankan tugasnya sebagai apa? Sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan keluarga, dengan anak dan yang lainnya. Makanya nanti mungkin ee ada pembahasan ketika hadis yang masyhur ketika ee Abu Darda mengunjungi Salman al-Farisi. Ternyata Salman al-Farisi tidak menggauli istrinya dan sampai rumah puasa dan malam selalu bangun malam, salat malam sejak awal. Ketika Salman datang kepada rumah Abu Darda, dia melihat Ummu Darda mutabadilah. Ummu Darda pakaiannya tidak rapi. Dan ini suatu hal yang aneh. Kebiasaan wanita Arab kalau suaminya tidak safar biasanya mereka bersiap untuk menjamu apa suaminya. Tapi ini kok wanita pakaiannya semerawut. Maka Salman berkata, "Masya'nuki?" Ada apa gerangan dengan engkau wahai Ummu Darda? Maksudnya kenapa pakaianmu sameraut? Maka dia jelaskan, "Akhuka Abu Darda laisa lahu hajatun dunya." Ya, saudaramu Abu Darda, yaitu kawanmu, sahibmu, si Abu Darda atau suamiku Abu Darda. Ya, laisalu hajatunad dunya. Dia tidak butuh dunia itu dia tidak butuh saya. Dia tidak butuh belayananku. Dia tidak butuh mesra denganku. Ngapain saya ini makna dari perkataan dia, "Ngapain saya rapi-rapikan baju saya sementara saudaramu, kawanmu Abu Darda tidak butuh wanita." Ah, di sini Salman melihat ada problem dalam rumah tangga Abu Abu Darda. Maka dia pun menunggu Abu Darda datang. Ketika Abu Darda datang, ternyata benar apa yang diduga. Disiapkanlah makanan buat Salman. Kata Salman, "Silakan makan." Kata udada, "Ternyata sedang pua puasa." Kapan mau datangi istri? Siang. Siang puasa, malam salat malam. Ternyata benar siangnya apa? Puasa. Maka Salman berkata, "Saya tidak akan makan sampai kau buka. Buka dulu kita makan bareng." Akhirnya Abu Darda berbuka pua puasa. Ternyata Salman tidak pulang. Dia salat malam situ. Pengin cek benar enggak malamnya salat malam. Ternyata benar. Baru sepertiga malam pertama sudah pengin salat malam. Kata Salman, "Belum tidur dulu." Belum. Kemudian lewat lagi malam. Mau salat malam lagi. Mungkin jam 11.00 atau jam 12.00 sudah bangun lagi. Katanya belum. Ketika sudah mungkin sepertiga malam yang terakhir ketika bangun. Nah, ini saatnya kita salat baru mereka salat bareng. Jadi Salman sudah ngecek dan Salman tidak langsung nasihat. Ini masih kan dugaan dia pengin ngecek langsung apa yang terjadi pada saudaranya. Dan ini di antara fikihnya siapa? Salman e radhiallahu taala anhu ya. Salman al-Farisi. Kemudian akhirnya setelah Salman nasihati. Inna lirabbika alaika haqqan waliifika alaika haqqan waliahlika alaika haqqan. Faatiqul haqqin haqqah. Dalam riwayat ini, ini ini rbika haqqon. Rabbmu punya hak wahai Abu Darda. Walijasadika alaika haqqon. Jasadmu juga punya hak untuk istirahat. Rab Rabb Allah punya hak untuk kau ibadahi. Tapi jasadmu punya hak untuk kau isti istirahat. Walzaurika alaika haqqan. Dan tamumu juga punya hak. Yang menziarahi kamu juga punya hak untuk kau ajak ngobrol, untuk kau jamu, untuk kau muliakan. Waliah alaika haqqon. Istrimu juga punya hak untuk kau meserai, untuk kau cumbuhi, untuk kau gauli. Faati haqqin haqqo. Maka berikanlah masing-masing haknya. Salman ee Abu Darda ketika tersebut dia tidak langsung terima. Dia segera menuju Nabi dan dia tanya kepada Nabi dan dia jujur. Ya Rasulullah, saya begini begegini. Salman nasihati saya begini begini begini. Dan Abu Darda niatnya baik. Dia ingin beribadah kepada Allah sebanyak-banyaknya. Dia merasakan kelezatan dalam ibadah tersebut. Dia merasakan kelezatan dalam puasanya. Dia merasakan kelasan dalam salat malamnya sampai baru mungkin bak isya dia bertidur sedikit sudah pengin salat. Tetapi masalah ibadah bukan masalah kelezatan kenyamanan kita. Tetapi harus ikut atu aturan. Kalau ikut nyaman-nyaman, ada orang mungkin dakwah enggak pulang-pulang, ngapain pulang. Harus isi capek belum tak ada pahala. Apa siapa yang sabar dengar omelan istri? Mending dakwah. Misalnya ada orang mungkin gak mau pulang ngurus anak. Ngapain ngurus anak? Sudah anak ngurusun istri. Saya pengin ke sana, pengin belajar, pengin ini. Saya pengin kunjungi ikhwan. Ada kenyamanan, ada kelezatan, tapi ketika seorang berlebih-lebihan pada satu porsi akan menumbalkan porsi yang yang lain. Maka akhirnya Abu Darda lapor ke Nabi. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Sodqah Salman." Salman benar. Salman be benar. bahwasanya memang begitu harus dibagi-bagi dan contoh nyata adalah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sebagaimana kita sering pelajari sunah-sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam ya. Maka ini dalil bahwasanya rahbaniah ingin ibadah kepada Allah dengan meninggalkan sengaja meninggalkan pernikahan dalam rangka beribadah kepada Allah maka ini bukan syariat Islam ini syariatnya nasara. Syariatnya nasara ya. Maka siapa yang meninggalkan pernikahan karena benci kepada nikah, benci dengan apa syariat nikah? Bikin pusing, ngurusin istri, ngurusin anak, maka dia mubtadi. Maka dia apa? Mubtadi. Kata Ibnu Mulaqin, waakan nikah rqbatan sunah fahummumun mubtadi. Siapa yang meninggalkan nikah karena tidak suka dengan sunah, maka dia dia tercela dan dia adalah ahlul bidah. Ya. Adapun orang yang kemudian tidak menikah karena sebab tertentu, bukan karena benci kepada sunah, tapi ada halangan-halangan yang tidak bisa membuat dia untuk menikah. Sebagaimana kita dapati banyak ulama atau sebagian ulama tidak menikah. Ada kitab tentang para ulama yang tidak menikah. Mungkin kondisi tidak mendukung mereka untuk menikah. Seperti Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak menikah. Padahal dia kalau sudah bahas nikah tentang kewajiban suami kepada istri luar biasa tentang perhatian sama istri tapi dia sendiri tidak menikah. Sebah mengatakan karena dia tidak bisa menikah. Dia sering dipenjara. Dia sering dipenjara dia sering di ini. Sehingga dia kalau menikah mungkin dia tidak bisa menjalankan tugas sebagai seorang apa? Suami. Kondisi membuat dia tidak bisa menikah. Di antaranya juga Imam Nawawi rahimahullah juga tidak menikah. Ya, ada hal-hal yang dialami oleh para ulama yang mereka kalau nulis tentang pernikahan mereka tulis luar biasa. Tapi mereka sendiri tidak bisa menikah. Maka kalau ada yang tidak menikah karena sebab tertentu seperti kondisi tidak mampu untuk menjalankan tugas sebagai seorang ayah atau sebagai seorang suami, maka mereka punya uzur di hadapan Allah Subhanahu wa taala. Tayib. Eh di sini Rasulullah mengakhiri hadisnya dengan manqib sunnati falais min. Siapa yang benci sunahku maka bukan dari golonganku. Kemudian juga hadir di sini kita ee apa namanya juga mengambil faedah bahwasanya ee tidak boleh juga seorang sengaja untuk hidup susah ya. Seperti tadi saya tidak mau makan daging ya, saya tidak mau tidur di kasur. Enggak juga ya, enggak juga demikian ya. Seorang hidup seadanya ya tidak perlu merepotkan ee dirinya. Dia boleh menikmati yang halal. Kata Allah Subhanahu wa taala, manatallah akibati. Siapakah yang mengharamkan apa yang perhiasan Allah yang Allah berikan kepada hamba-hambanya dan perkara-perkara yang baik dari rezeki Allah subhanahu wa taala. Tidak boleh. Silakan. Tetapi aturannya jangan sampai berlebihan. Jangan israf, jangan mubadir, jangan melalaikan. Ya, itu saja. Silakan nikmati kemudahan dari Allah. Tapi jangan is israf, jangan ber berlebihan. Berlebihan. Saya sering sampaikan berlebihan adalah membeli sesuatu yang harganya mahal sementara faedahnya sedi sedikit. Suatu yang mahal mengeluarkan uang yang banyak faedahnya sedikit maka itu disebut israf berlebih-lebihan. Ya, contoh misalnya orang beli jam hanya untuk lihat waktu dia beli jam harganya R5 miliar. Berlebihan enggak? Berlebihan. Ini israf meskipun uang dia banyak karena fungsi untuk jam tersebut hanya untuk lihat wak. Fungsi itu bisa diperoleh dengan Rp100.000 bisa enggak? Artinya dengan harga yang murah ya. Kalau mau bagus tapi yang wajar yang enggak usah sampai harga li 5 miliar. Saya pertama tahu jamahal lu kaget juga ya. Waktu pergi k waktu ada panggilan ke waktu itu ada orang pemerintahan ngundang ke Paris. Saya ke sana terus jalan-jalan saya lihat jam euro saya hitung ini harga Innova kata saya. Siapa yang mau beli harga R00-an juta? Eh ternyata yang 5 miliar juga ada yang beli. Ternyata yang 10 miliar juga ada yang beli. Luar biasa. Kata orang pemerintahan tersebut, "Ustaz, itu ada orang jual tas, Ustaz, harganya R00 juta, R miliar, R, miliar. Banyak orang Indonesia ngantri. Luar biasa tas sampai harganya 1 mil miliar." Fungsinya apa? Bisa nyimpan mobil dalam tas, mobil-mobilan sampai mahal gitu. Buat apa? Kita takut ditanya oleh Allah Subhanahu wa taala. Ini baru israf. Belum sebab yang lain ketika israf khawatir membawa kepada hati yang berubah. Kelihatan hebat, kelihatan angkuh. Ya, kita ingin mengingatkan aja hati-hati. Hati ini susah kita kontrolnya. Kita ngontrol hati ikhlas a susah. Ngontrol hati ini tawadu susah. Kalau ternyata kita punya barang-barang mewah, sulit untuk mengontrol hati. Karena kita ingin pamer. Ya enggak beli barang gitu. Kalau enggak dipamer rugi kan [tertawa] c barang harga 1 miliar kalau enggak dipamer terus ngapain simpan di rumah apa faedahnya justru kita ingin pamerkan itu. Ingin pamerkan itu. Nah kalau tujuan kita untuk pamer itu sangat menggugah bisa merubah apa? Hati hati seseorang ya. Maka intinya silakan nikmati dunia. Tadi ada sahabat bilang, "Saya ingin tidak memakan daging." Rasulullah tegur gak boleh. Kenapa? Makan daging. Makan aja. Apa masalahnya? Saya tidak pengin tidur di kasur. Kenapa? Silakan aja. Yang penting wala tusrifu. Jangan berlebih-lebihan. Israf itu berlebih-lebihan dalam perkara yang halal. Kalau tabzir adalah mengeluarkan uang pada perkara yang haram. Merokok itu mubadir. Merokok mubadir. Minum khamar apa? Mubadir. Ya. Zina mubadir. Keluar keluarkan duit. Tapi kalau beli barang-barang asalnya halal tapi berlebihan namanya is israf. Makan makanan terlalu mahal israf. Ya, beli mobil terlalu mahar tanpa ada terlalu mahal tanpa ada faedah israf. Ya, ada mungkin mobil mahal tapi faedah enggak ada masalah. Yang penting kau ditanya Allah bisa jawab. Beli mobil harga berapa? 3 miliar. Faedahnya jelas begini silakan. Bagi saya 3 miliar cuma bagi kamu R00.000 uang saya banyak. Ya boleh silakan. Yang penting apa? Ada faedahnya ya. Tayib. Jadi boleh menikmati dunia selama sesuai dengan aturan. Kita lanjutkan ee hadis berikutnya. Al Imam Bukhari berkata, "Qasana Ali sami Hasan bin Ibrahim an Yunus bin Yazid anzuhri q akbar urwa anhu saala aisq taala." Urwah bertanya kepada Aisyah tentang makna firman Allah Subhanahu wa taala. Ini menunjukkan Urwah ahli bahasa Arab ya. Urwah Ibnu Zubair. Urwah Ibnu Zubair ponakannya Aisyah. Karena Zubair bin Awwam menikah dengan Asma bintu Abi Bakar dan Asma saudarinya Aisyah. Maka anak-anak mereka semuanya keponakan Aisyah. Di antaranya Abdullah Ibnu Zubair, di antaranya Urwah Ibnu Zubair. Abdullah bin Zubair sahabat. Urwah kalau enggak salah tabii ya. Dua-duanya ponakan siapa? Aisyah. Maka mereka sering meriwayatkan hadis dari bibik mereka, dari khalah mereka yaitu Aisyah. Dan Aisyah sendiri kuniahnya Ummu Abdillah. Maksudnya dia berkunyah pada ponakannya karena dia punya ponakan namanya Abdullah Ibnu Zubair. Jadi sini Urwah ponakannya Aisyah. Urwah berkata, "Annahu sa'ala Aisyata an quiihi taala." Urwah bin Zubair bertanya kepada Aisyah, kepada bibinya, kepada khawahnya tentang makna firman Allahum tadi yang disebutkan Imam Bukhari. Jika kalian takut tidak bisa berbuat adil kepada anak-anak yatimakum, maka nikahlah wanita yang kalian kehendaki, yang kalian sukai. Minanisa matnauba dua atau tiga atau empat. Kalau kalian ternyata takut tidak bisa adil di antara istri-istri kalian dua tiga atau empat fawahidatan maka nikahilah satu saja atau kalian silakan memiliki budak-budak wanita untuk kalian gaul yaika adna allulu ya ini agar kalian semakin jauh dari perbuatan kezaliman qat maka Aisyah berkata, "Ya bna ukhti, wahai putra saudariku, yaitu putra Asma yaitu ponakanku. Wahai ponakanku. Aatimah makna ayat ini. Aatima takunu fi hijri waliiha. Fi hajri waliiha. Ada seorang wanita anak perempuan yatim yatimah. Dia diurus oleh walinya. Ya walinya mungkin bisa jadi sepupunya ya yang bukan mahramnya ya sepupunya. Karena ee anak yatim diurus terkadang dari kerabat jauh. Ya mungkin bukan omnya. Kalau omnya mahram ya terkadang diurus oleh ee sepupunya ya, sepupu kandung atau sepupu dari saudara saudara ayah sebapak, saudara ayah seibu. Karena orang Arab kan kerabatnya banyak. Intinya yang ngurusin dia adalah kerabatnya tapi bukan mahram mahramnya. Jadi diurus oleh walinya. Fayargubu fi maliha wa jamaliha. Maka kerabatnya ini ingin suka dengan cantiknya anak yatim ini dan juga suka dengan hartanya karena anak yatim ini punya harta ternyata. Yuriwajaha biadna min sunati shodqiha. Maka dia pun ingin menikahi wanita ini dengan mahar yang tidak sesuai dengan sunah atau kebiasaan tradisi mahar wanita seperti ini. Fanuhu anyankhuhunna illa anu yuqit lahunna. Maka mereka dilarang untuk menikahi anak-anak yatim perempuan ini kecuali dengan menyempurnakan mahar yang wajar bagi wanita semisal wanita ini. Wa umiru binikahi siwahun minanisa. Kalau tidak bisa ya nikah aja wanita yang yang lain. Janganikah menikahi anak yatim ter tersebut. Ini maksud dari ayat tersebut ya. Jadi ada seorang wanita yatimah ternyata dia punya harta. Mungkin bapaknya meninggal tapi dia punya warisan yang yang banyak. atau semasa hidup dikasih hadiah yang banyak oleh orang orang tuanya. Kemudian ternyata yang ngurusin walinya adalah kerabatnya yang bukan mahramnya. Ini anak mulai besar dia pengin nikahi. Tapi karena dia yang rawat maka dia ingin dapat harta dari anak perempuan tersebut dan dia ingin juga maharnya sedikit. Ini kan kerabat dekat. Maka Allah larang. Gak boleh. Allah larang. Kalau mau nikah, maka hendaknya mahar yang sesuai dengan seukuran wanita seperti dia. Ini dijadikan dalil oleh ee para ulama tentang namanya mahrul ml. Mahrul mitlut maharnya, maka mahar wanita ini misalnya nikah, saya nikahkan kau dengan putriku selesai nikah. Eh, tadi enggak enggak sebut mahar. Gak apa-apa enggak sebut mahar, tetap nikah sah. Tetap nikah itu apa? Sah. Kalau gitu maharnya bagaimana? Yang wajar sesuai dengan wanita seperti dia dari mana? Dari keluarga seperti apa? Kemudian kakak-kakaknya dulu nikahnya berapa? Maharnya ee sukunya apa? Ya, kira-kira yang semisal dengan wanita ini. Maka maharnya sekian. Itu namanya mahrul mli. Yaitu mahar yang ukurannya sesuai dengan semisal wanita ini. Sama seperti kalau kasih mahar ternyata maharnya enggak benar. Saya nikahkan engkau dengan putriku dengan mahar misalnya khamar ya mahar enggak benar ya. Kalau mahar enggak benar maka harus dikembalikan kepada mahar yang benar. Karena tidak ditentukan jumlahnya maka sesuai dengan kebiasaan wanita semisal dia berapa biasanya. Ya kita tahu daerah-daerah beda-beda. Iya enggak? di Jawa maharnya berapa beda. Di Makassar maharnya berapa beda. Tergantung juga apa namanya ee status misalnya wanita tersebut ya beda-beda. Tetapi kalau sudah ditentukan mahar kurang daripada itu daripada kebiasaan har nilai nominal mahar dia, maka bebas. Misalnya wanita ini dia adalah wanita dari keluarga yang harusnya maharnya 30 gram emas misalnya. Ternyata ada laki-laki yang ngelamar, dia cuma bisa cuma setengah gram emas. Terus bapaknya setuju, enggak ada masalah. Ini kita bahas kalau tidak disebutkan ma maharnya. Ya. Ya. Kalau sang wali rida, sang wanita rida selesai. Adapun anak yatim tadi, dia enggak ngerti. Dia enggak ngerti tentang uang. Apalagi dia dirawat oleh kerabatnya tadi. Kemudian ketika kerabatnya ingin menikahi dengan mahar yang murah, Allah larang. Karena dalam rangka menjaga hak anak yatim. Jangan. Kalau kau ingin nikahi, nikah yang benar dengan mahar yang sesuai dengan biasanya. Ya, karena dia belum ngerti anak ini, dia baru dewasa enggak ngerti tentang apa. Ee dan bapaknya sudah meninggal. Sehingga kemungkinan untuk dizalimi ada dizalimi oleh kerabatnya ingin menikahinya dengan kasih mahar yang mu murah, tidak sesuai dengan yang wajar. Maka ditegur oleh Allah Subhanahu wa taala. Sebagian ulama disebutkan oleh ee Ibnu Mulaqin ya mengatakan bahwasanya mahar paling kecil adalah rubuk dinar 1/4at dinar. 1 dinar itu 4 1/4 gram emas. Berarti kalau rubuk dinar sekitar 1 gram lebih sedikit. 1 ya 1,1 gram misalnya 1 graman lah. Itu mahar terkecil. Mahar terkecil ya. Dia kiaskan dengan bahwasanya pencurian itu orang kalau mencuri kapan boleh dipotong tangannya? Kalau yang dicuri barangnya kurang dari atau lebih dari rubuk dinar. Kalau orang mencuri pena misalnya ketahuan ketangkap tidak dipotong tangannya karena pena murah. Tapi kalau dia mencuri suatu yang nilainya rubuk dinar 1/4at dinar yang nilainya 1 gram. 1 gram emas sekarang berapa emas murni? Terlaluah R juta. Dia mencuri barang nilainya 2 juta ke atas baru dipotong tangan. Kalau kurang dari 2 juta tidak dipotong tangan. Maka nilai yang menjadikan tangan tersebut halal untuk dipotong adalah rubuk dinar. 1/4at iniar itu 1 gram lebih dikit ya. Sehingga sebagian menganalogikan kalau begitu yang membolehkan seorang ee kemudian menggauli anggota tubuh seorang wanita paling tidak minimal senilai itu 1/4at gram emas. Jadi mahar minimal satu 1 gram emas ya. Tetapi ini dibantah oleh para ulama ya. Kata yang benar bahwasanya boleh kurang dari itu. Sebagaimana akan datang hadis Rasul Sallahu Alaihi Wasallam menyuruh seorang lelaki menikah dengan yang lebih kurang daripada 1 gram emas. Yang penting rida antara ee antara walinya dan sang wanita terhadap mahar sejumlah itu. Di Arab Saudi dulu ada yang menikah dengan 1 riyal, ada yang menikah dengan satu 1 riyal. Saya pernah menghadiri seorang menikah dengan terjemah kitab akidah wasitiyah, matan akidah wasitiyah. Harganya 1 riyal. Ada kawan menikah. Saya hadiri pernikahannya. menikah dengan mahar kitab terjemah akidah wasitiyah atau matan akidah wasitiyah harganya 1 riyal nikah dan alhamdulillah punya anak nikah nikah yang penting rida kalau rida enggak ada masalah tapi bukan berarti bangga-banggaan punya mahar murah gak maharnya juga banyak ya bukan berarti kita cari mahar yang semurah-murahnya enggak ya semakin murah Gak ya kan semampu orang yang paling yang paling memudahkan sang lelaki laki duitnya banyak dia mau kasih banyak jangan ditolak dia mau semampunya jangan intinya tidak merepotkan dib kita lanjutkan ya ee hadis berikutnya. Sebelumnya kita ingin sampaikan bahwasanya ketika Imam Bukhari mengatakan targhib bab tentang memotivasi ee menikah ya, maka untuk menunjukkan bahwasanya nikah hukumnya sunah. Nikah hukumnya apa? Sunah. sunah jika sesuai dengan aturan Nabi. Karena sebagian ulama membagi mereka mengatakan hukum asal nikah adalah muamalah dan hukum asal muamalah boleh sebagaimana seorang beli beli makanan hukum asalnya boleh bukan sunah. Ini karena kebutuhan kehidupan manusia sama seorang menikah hukum asalnya boleh. Maka Ibnu Hajar membantah beliau mengatakan memang dari sisi hukum asal muamalah hukum asalnya adalah mu mubah. Tetapi kalau menikah dengan cara yang diajarkan oleh Nabi, maka itu hukumnya sun sunah. Karena di balik itu banyak sekali pahala. Di balik menikah banyak sekali pahala. Ya, di antara pahala yang didapatkan dari ee pernikahan misalnya membantu untuk menjaga diri agar tidak terjerumus dalam maksiat. Akan datang hadisnya Rasulullah mengatakan, "Fainnahu agad lil basar." Karena menikah akan menundukkan apa? pandangan. Dan di antara maksiat adalah mengumbar pandangan. Kemudian di antaranya adalah untuk ee ahsanul farj, untuk menjaga kemaluan agar seorang tidak terjerumus dalam kemaksiatan. Di antaranya dinukil dari Imam Ahmad saya bacakan dinukil oleh Ibnu Qayyim dalam Badail Fawaid dari Fadal bin Ziyad. Imam Ahmad ditanya, "Ma taqulu fit tazwij fi had zaman?" Bagaimana menurut engkau wahai Imam Ahmad menikah di zaman sekarang? Di zaman Imam siapa? Imam Ahmad. Q zaman yangj di zaman seperti kita ini hendaknya seorang menikah tujuannya agar orang tidak ter maksiat kata Imam Ahmad seandainya seorang laki menikah dua waqadukum amalahu seorang jangan sampai gara-gara tidak menikah kemudian dia umbar pandangannya nya gara-gara satu pandangan haram akhirnya dia gugurkan amal dia. Imam Mahd berpendapat maksiat bisa menggugurkan apa? amalan seorang salat ibadah tapi dia ternyata ngumar pandangan pahala dia bisa gugur kata Imam Ahmad maka muridnya bertanyau kaifa yasna minina yimuhum apa yang harus dia lakukan mau nikah gimana bisa kasih makan anak-anaknya kasih makan istrinya maka Imam Ahmad banta arzaquhum alaik memang kau yang tanggung rezeki mereka arzaquhum alallah azza wa jalla yang tanggung rezeki mereka Allah subhanahu wa taala biarin mereka nikah jadi imam ditanya di zaman dia mulai mulai tersebar fitnah. Imam Abdullah mengatakan solusinya menikah. Solusinya menikah. Kalau tidak menikah, dia akan melihat macam-macam. Namanya syahwat tidak bisa terbendung akhirnya bisa terjermus dalam maksiat. Maka di antara keutamaan menikah adalah meninggalkan apa? Maksiat. Makanya Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "Man tazawaja faqmisini." "Siapa yang menikah maka telah menyempurnakan setengah agamanya. Setengah agama sudah sempurna." Kata para ulama menjelaskan kenapa setengah agamanya sempurna. Karena maksiat itu dua dari dua jalan. Jalan pertama jalan syahwat. Yang kedua jalan perut yaitu rakus. Karena harta pengin ini pengin ini. Maka dia terkadang maksiat. Muamalah yang haram, dia mencuri, dia korupsi, semua untuk kepentingan syahwat perutnya. Yang kedua syahwat kemaluannya. Ya, syahwat kemaluan juga luar biasa. Jalan-jalan kemaksiatan banyak. Oleh karenanya kalau dia sudah menikah maka dia bisa meredam salah satu jalan kerusakan ya ituu jalan syahwat sehingga dia telah sempurna setengah agamanya. Dari sini juga para ulama menafsirkan tentang hadis Nabi yang tidak bisa dijalankan oleh orang jomblo. Ya. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Man wassala waqtasala waakara wabtakara ya ilal masjid." Siapa yang di pagi hari, hari Jumat dia menggauli istrinya sehingga dia pun junub dan istrinya pun jadi junub. Kemudian dia segera pergi menuju ke masjid ya pagi hari. Tummad dana minal imam. Kemudian dia dekat dengan imam waahu wasama. Kemudian dia serius dia mendengarkan khotbah dari imam. Kan lahu bikulli khutwatin yakuha ajrtin qiamuha wasamuha. Maka setiap langkah yang dia langkahkan menuju masjid di hari Jumat setelah menggauli istrinya dan dia dengar dekat dengan imam dan serius seperti pahala setahun puasa sunah dan salat malam. Kenapa para ulama ketika membahas hadis ini kata kata beliau kata para ulama karena orang yang sudah menggauli istrinya dia bisa fokus ibadah. Dia keluar sudah syahwatnya sudah lepas. Ibarat orang sudah kenyang sudah enggak mikir. Sudah kenyang lihat lihat rumah rumah makan Makassar cuek aja. Restoran Makassar, restoran Madura, restoran Tegal sudah kenyang mau diapain. Sama ketika dia sudah menggauli istrinya ya sudah dia mungkin lewat ya ada cewek lewat ada sudah enggak ada urusan dia bisa fokus apa ibadah sehingga dia dapat pahala yang banyak. Makanya di antara keutamaan menikah dan kita katakan sunah kalau bisa dijalankan sesuai dengan syariat Allah Subhanahu wa taala. Di antara fungsi ibadah adalah fungsi menikah adalah menghalangi orang dari maksiat. Bayangkan Imam Ahmad mengatakan, "Bisa jadi seorang mandeng haram kemudian amalnya gugur." Ngeri. Makanya jomblo-jomblo yang suka mengkhayal menikah biar tidak banyak mengkhayal. Ya, menikah sehingga dia bisa menundukkan pandangannya. Fainnahu ahadu lil bashar. Kemudian di antara faedah dari menikah punya anak banyak. Rasulullah berkatawajunud walud. Nikahilah wanita yang mencintai dan subur. Karena aku bangga punya pengikut yang banyak. Punya pengikut yang banyak. Rasulullah senang kalau pengikutnya banyak. Makanya di antara ulama ada mengatakan, "Siapa yang menikah dengan niat punya anak banyak, sungguh dia telah membahagiakan Nabi sallallahu alaihi wasallam." Nabi sallallahu alaihi wasallam. Orang Arab pandangnya banyak-banyak. Saya punya teman 21 bersaudara. Masyaallah banyak kali. Itu baru lakinya katanya belum akhwatnya banyak kali. 21 bersaudara kakak kakak adik 21 bersaudara. Saya pernah diundang makan kita makan kambing gede. 21 bersaudara. Luar biasa. 21 bersaudara. Ada kawan orang Indonesia ini juga di antara apa namanya ke di antara keajaiban dunia. Mungkin yang ke-11 ada kawan umur orang Indonesia umurnya belum 40. Umurnya berapa ya? 30 33 kalau enggak salah 35. Anaknya 23. Jangan tanya bagaimana caranya. Bukan urusan saya [tertawa] 23 saya bilang ini keajaiban dunia kau [tertawa] luar biasa ya. Yang penting bisa diurus. Yang penting H bisa diurus. Jangan bikin anak aja enggak ngurus. Sepentti bisa diurus. Mau saya siapa yang kemudian menikah dengan niat untuk punya punya pasukan kaum muslimin yang banyak yang dididik dengan baik untuk perjuangkan Islam dapat pahala. Dapat pahala. Kemudian pahala yang bisa kita bayangkan dengan pernikahan. Antum bayangkan antum keluar ada orang yang antum biayai setiap hari. Istri anak-anak ada istri anak-anak antum biaya tiap hari dapat pahala tiap hari kasih makan orang. Mungkin kalau kita jomblo mau kasih makan siapa? Enggak ada yang dikasih makan. Menikah istri anak-anak dikasih makan. Berdoa jalan tiap hari ada istri yang mendoakan. Istri anak-anak mendoakan. Terus kalau anak-anak jadi anak-anak saleh, gara-gara kita yang didik, semua amal saleh dia sama kita. Ya, beda kalau yang didik orang lain. Mendidik orang lain ya pahalanya bagi-bagi sesuai dengan kadar pendidikan kita. Maka amal yang dia lakukan akan pahalanya kepada kita. Kalau orang lain yang ngajar kepada orang lain. Tapi kebanyakan orang sudah ngaji, biasanya anaknya dia yang didik. dia yang didik atau paling tidak dia yang masukkan ke pondok, dia yang panggil guru ngaji sehingga dia sebab anak itu menjadi anak yang saleh. Kalau dia totalitas menjadikan anak ini sebab anak ini saleh, maka seluruh ibadah anak ini ngalir sama dia. Mana ala khairin falah ajri faili. Siapa yang menunjukkan pada kebaikan bagi dia pahala seperti orang yang mengamalkannya. Antum punya anak empat saja misalnya antum sudah meninggal anak ini empat ini ternyata semua salat lima waktu. Selama mereka hidup ada 60. Jadi umur 15 sampai umur 60 berapa? 45 tahun mereka hidup. Taruhlah mereka meninggal tahun umur 65. Berarti umur mereka 50 tahun. 50 tahun mereka beribadah dari umur 15 sampai 65. Semua meninggal umur 65. Semua salat saja umur 15 tahun. Berarti satu orang 50 tahun selama 50 tahun ini anak ini dia salat, dia puasa, mungkin dia maksiat, mungkin dia berzina. Waliyadzubillah, mungkin dia riba. Tapi antum enggak pernah ngajarin dia untuk riba. Antum enggak pernah ngajarin dia untuk apa? Zi zina. Yang antum ajarin dia salat, bersedekah, puasa. Antum ajarin dia. Semua amal saleh yang di kerjakan sama antum pahala dosa enggak? Kenapa antum enggak pernah ngajarin mereka untuk berdosa. Tapi kalau mereka salat, bayangkan itu anak pertama, anak kedua, anak ketiga, anak keempat. Gimana kalau anaknya 25? Antum sudah meninggal pahala ngalir terus. Ada apa? pabrik pencetak pahala anak-anak ini makanya harus pintar antum [tertawa] punya anak banyak beramal saleh kita yang nyaman kita tinggal tidur anak pahala ngalir terus benar atau tidak [tertawa] yang jomblo [tertawa] jangan kelamaan jomblo. Kasihan antum ngurus anak, gendong anak dapat pahala enggak? Dapat pahala. Antum anak yatim begini aja antum mulus kepalanya dapat pahala. Apalagi anak sendiri. Anak sendiri antum rawat, antum kasih makan, antum ngurusin sama anaknya lempar sana, lempar sini, antum sabar. Pahala luar biasa menikah. Sehingga banyak ibadah yang dilakukan oleh orang yang menikah tidak bisa dilakukan oleh orang yang jomblo. Ya, J karenanya di antara hal yang menunjukkan agungnya nikah di antaranya Nabi Musa Alaih Salam. Kata kalau enggak salah Ibnu Qayyim rahimahullah, Nabi Musa Alaih Salam sampai rela bekerja untuk bayar mahar selama 10 tahun. Hijaj terus jadi sampai 10 tahun 10 tahun dia kerja jadi penggembala kambing ngurus kebun untuk bayar mahar apa istrinya. Kalau bukan menikah itu perkara yang agung ngapain Allah sibukkan Nabi Musa? Allah sibukkan untuk ngurus apa? Gembala kambing. 10 tahun lah bukan sebentar. Padahal setiap detik yang dilewati oleh Nabi Musa Alaihi Salam adalah detik yang berharga. seorang rasul ternyata dihabiskan 10 tahunnya untuk bayar mahar is istri berarti pernikahan agung atau tidak agung? Kalau tidak agung ngapain Allah sibukkan Nabi Musa untuk ngurusin kambing selama 10 10 tahun? Makanya dalil bahwasanya menikah hukum asalnya kalau sesuai dengan syariat maka hukumnya sun sunah. Selanjutnya para ulama bagi nikah beberapa kondisi. Yang pertama jika dia menikah kalau dia punya hasrat untuk menikah selama terus dia takut untuk terjerumus dalam maksiat, maka nikah hukumnya wajib. Dia punya harta dan dia ada hasrat dan dia takut maksiat maka nikah hukumnya wa wajib. Seperti ada ikhwan yang nanya, "Ustaz, saya mau menikah. Ibu saya ngelarang, tapi saya takut zina, Ustaz. Kok mampu enggak?" "Mampu nikah aja. Enggak usah mikirin perkataan ibu bapakmu. Kau selamatkan agamamu daripada kau bapak ikut bapak ikut ibu larang-larang nikah ternyata kau berzina. Bagaimana kalau kau mati berhadapan Allah Subhanahu wa taala? Kecuali ibu bilang, "Jangan. Terus kau masih bisa kuat, masih bisa tahan nafsu." Maka gak apa-apa puasa aja tiap hari. Tapi kalau sudah enggak bisa, saya pasti zina ini. Enggak bisa saya enggak kuat ini. Mau Bapak bilang apa, mau ibu ngomong apa, cuekin aja. Saya ingin bertemu dengan Allah tidak berzina. Gimana caranya? Ya saya nikahlah. Kalau seorang mampu kemudian dia takut berzina, syahwatnya menggebu-gebu, maka nikah itu hukumnya jadi wa wajib. Berlaku laki dan perempuan. Berlaku bagi laki maupun orang beda-beda. Ada yang syahwatnya berkobr, ada yang syahwatnya biasa-biasa saja. Manusia beda-beda. Tergantung makanan. Kalau makannya beras mulu, insyaallah enggak. [tertawa] Makannya beras rebusan. [tertawa] Aman. Masyaallah. Pisang pisang rebus rebus enggak nikah aman enggak apa-apa. Tapi kalau sebagian orang makannya daging, makannya ini ya libidonya naik, dia bisa terjemus dalam maksiat. Yang kedua, ada yang mengatakan bahwasanya dia ee mampu dan dia bisa menikah, namun dia tidak takut terjerumus dalam maksiat maka ini hukumnya sunah. Tapi kalau sudah takut terjerumus maksiat, maka hukumnya wa wajib. Ini kalau tidak terjerumus, takut terjemus maksiat hukumnya sunah. Yang ketiga, kalau dia juga biasa-biasa saja ya tidak ada hasrat biasa-biasa saja, hukumnya mubah. Hukumnya mubah. Yang keempat, kalau dia khawatir dia nikah tidak bisa, belum tentu dia bisa ngurusin istri, anak. Belum tentu kayaknya dia kerja susah, dia khawatir. Maka ini hukumnya makruh. Kalau dia nikah niat-niatnya untuk menzalimi sang akhwat, maka hukumnya ha haram. Jadi nikah ini bisa lima hukum. Tapi hukum asalnya kalau dia bisa menjalankan su syariat hukumnya apa? Mubah atau sunah? Sunah. Lanjut. Apa sudah? Baru dua, baru satu bab ya. Mau lanjut ibu-ibu pertanyaan. Hah? Tanya jawab atau lanjut? Lanjutkan tanya jawab. Sudah ini pertemuan pertama kita sampai sini aja ya. Oke, kita buka tanya jawab ya. Kalau ada yang bertanya saya persilakan dan saya nasihati kepada para jomblo mulai sekarang siap-siap untuk menikah jomblo dan jomblowati. Dan saya sanatkan kepada para orang tua jangan merepotkan anak, jangan menyusahkan anak-anak mereka untuk menikah. Ini zaman kita tidak seperti zaman bahala ya. Sekarang di Gen Z, gen Alfa, Gen Z. Kita sudah zaman apa namanya milenial maksiat di mana-mana. Sekarang akses maksiat di mana-mana. Mereka butuh untuk menjaga diri. Di antara cara menjaga diri dengan memudahkan apa? Pernikahan. Tentunya tidak asal nikah tapi diajarin. Belajar sebelum nikah kita ajarin suruh dengar pengajian tentang fikih nikah, tentang adab-adab nikah. Sehingga ketika mereka melakukan pernikahan dengan di atas ilmu. Tapi jangan dihalang-halangi. Kasihan. Kasihan. Nanti masalahnya timbul tadi fenomena banyak anak gadis enggak mau nikah. Ini fenomena beneran gak main-main. Tidak mau nikah dia enjoy dengan kehidupan dia. Dia enggak mau nikah. Sampai akhirnya ketika sudah usia 30 ke atas sudah susah. Ketika dia pengin menikah usia 30 sudah susah. Wallahu taam biswab. Insyaallah kita lanjutkan pertemuan berikutnya. Insyaallah masih banyak hadis-hadis menarik terkait dengan ee fikih nikah. Wallahu taala alam bisawab bab. Demikian saja apa yang saya sampaikan. Insyaallah kita lanjutkan kesempatan yang lain. Wabillah taufikah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.