Transcript
0fR_Hn7wDtM • Syarah Kitab Ath-Thahawiyah #32: Membantah Syubhat Penolak Sifat Allah Maha Tinggi (Bag-1)
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2445_0fR_Hn7wDtM.txt
Kind: captions
Language: id
Kita lanjutkan. Bismillah.
Alhamdulillah. W shalatu wasalamu ala
rasulillah wa ala alihi wasahbihi wa.
Kita lanjutkan bahasan dari kitab
al-Aqidah Thahawiyah.
Pada pertemuan lalu kita telah membahas
perkataan al Imam Thaahawi. Wahua jalla
jalaluhu mustagnin anil arsy
wunahu. Dan dialah Allah Subhanahu wa
taala yang tidak butuh kepada arsy dan
apa juga yang di bawahnya. Yni sear kita
singgung pada pertemuan lalu itu
membantah ee pendapat yang mengatakan
kalau Allah di atas arsy berarti Allah
butuh kepada arsy dan butuh kepada yang
di bawahnya itu malaikat yang memikul
arsy. Yang benar Allah di atar arsy dan
tidak butuh kepada arsy tersebut. Sudah
kita bahas pada pertemuan lalu. Sekarang
lanjutkan. Al Imam Thaha berkata
rahimahullah. Muhitun
bikulli. Allah meliputi segala sesuatu
wa fauqahu
dan di dan berada di atas segala
sesuatu. Waq aja khqohu. Allah
menjadikan makhluk tidak mampu untuk
meliputi Allah subhanahu wa taala.
Ya
Allah menjadikan
makhluk tidak
mampu
meliputinya. Ya wala yuhituna bihi ilma.
Ilmu mereka tidak bisa meliputi Allah
Subhanahu wa taala. Di sini perhatikan
ee nuskah yang masyhur ada wau di
sini. Muhitun bikulli syai. Allah
meliputi segala sesuatu dan berada di
atas segala
sesuatu. Dalam sebagian nuskhah ada wau
dihapuskan. Wau dihapuskan sehingga
menjadi
muhitun bikulli
syaaiin fauqohu. Ya, seperti ini.
Bikulli syaaiin fauqohu. Jadi wya
hilang. Ada wau hilang di sini ya. Kalau
begini maknanya berubah ya. Kalau begini
maknanya berubah. Berarti Allah meliputi
segala sesuatu yang ada di atas arsy.
Kalau gini maknanya
Allah
meliputi
segala sesuatu.
yang di atas
arsy. Ini dijelaskan oleh Ibnu Abilis
Alhanafi. Hilangnya huruf wau di sini
bisa jadi salah nulis atau sengaja.
Ahlul bidah sengaja. Karena kalau ada
huruf wau jelas Allah meliputi segala
sesuatu dan dia di atas segala
sesuatu. Dan itu menunjukkan tentang
sifat al-ulu, sifat ketinggian Allah
Subhanahu wa taala. sehingga agar tidak
menetapkan sifat al-ulu, mereka hapuskan
huruf wau. Kita tahu bahwasanya ee ee
Abu Jafar at-Tahawi bermazhab Hanafi dan
pensyarahnya Ibnu Ablis alanafi juga
fakih Hanafi. Tetapi banyak orang-orang
ahnaf yang terpengaruh dengan mazhab
Maturidiyah, terpengaruh dengan ilmul
kalam sehingga mereka menolak Allah
berada di atas. Ya. Jadi, ada
kemungkinan mereka ketika menasekh ya ee
perkataan Abu Jafar at-tahawi ada huruf
wau mereka hilangkan. Tapi kalau huruf
wau dihilangkan maknanya jadi kacau.
Maknanya jadi muhitun bikulli syaaiin
fauqahu. Hak kembali kepada arsy. Allah
meliputi segala sesuatu yang ada di atas
arsy. Padahal kita tahu makhluk
tertinggi apa? Arsy. Itu segala sesuatu
apa maksudnya? Jadi maknanya jadi kacau.
Yang benar ini yang benar. Ini yang
benar ada huruf wau. Allah meliputi
segala sesuatu dan faqo kulli berada di
atas segala seesuatu. Paham? Paham
sampai sini? Ini di sinilah. Kemudian
Ibnu Abil Is Hanafi dalam syarah
al-Aqidah tahwiyah membahas tentang
sifatul ulu. Sifatul
ulu bab Tib. Kita lanjut.
Sifatul ulu. Alulu uluullah. Al-uluullah
terbagi menjadi tiga. Yang pertama
disebut ulu
al-qadar atau uluus sya'an. Ketinggian
kemuliaannya. Yaitu maksudnya ketinggian
sifat-sifat Allah subhanahu wa taala.
Yang kedua disebut ulu qahar. Ketinggian
kekuasaannya itu maha mendominasi. Tidak
ada yang bisa ee mengalahkan Allah.
Allah kalau menentukan, menetapkan, gak
ada yang bisa protes, gak ada yang bisa
membatalkan. Maka ulu qahar. Yang
ketiga, uluwuzzat. Zat Allah di atas
seluruh makhluknya. Ini kita bahas tadi.
Muhitun bikulli syaaiin wa fauqahu.
Allah meliputi segala sesuatu dan berada
di atas segala sesuatu. Kalau untuk yang
model pertama ulu yang ulu qadr atau
sya'an dan ulu qahar ini
diingkari. Semua menetapkan Allah
memiliki ulu qadar. Bahwasanya Allah
sangat mulia dan dia termulia daripada
yang lainnya. Dan juga Allah maha
mendominasi. Dan semua tahu bahwasanya
Allah maha kuasa atas segala sesuatu.
Tetapi yang ditetapkan oleh ahlusunah
yang ketiga yaitu
uluzat. Zat Allah berada di atas arsy,
berada di atas seluruh makhluk. Ini yang
ditolak oleh seluruh penolak sifat atau
ahlul bidah. Mereka menolak Allah di
atas seluruh makhluknya. Padahal dalil
begitu banyak. Nanti akan kita jelaskan.
baik dalil aqli, dalil nas Al-Qur'an dan
sunah, dalil fitrah, maupun ijma. Maupun
ijma. Ee tentu mereka punya syubhat ya.
Kebanyakan mereka terjebak pada syubhat
tajsim
ya. Tayib. Sehingga ee mereka meyakini
bahwasanya Allah tidak di atas. Kalau
Allah di atas melazimkan Allah adalah
jisim. Kalau oleh jisim berarti seperti
makhluk, berarti tasybih dan macam-macam
dengan syubat-syubat akal yang lainnya.
Adapun ahlul bidah secara umum kita bisa
bagi pendapat mereka seperti pertama
Jahmiyah. Jahmiyah ada dua model. Yang
pertama disebut aljahmiyah almutaabbidah
atau
almutfaqihah. Yang ini mereka
berpendapat Allah di mana-mana. Yang ini
yang dibantah oleh Imam Ahmad dalam
kitabnya Arad Alal Jahmiyah
wazzanadiqah. Imam Ahmad membantah
Jahmiyah almutaabbidah yang mengatakan
Allah fi kuli makan. Kalau bahasa kita
apa? Allahu fi kulli makan. Allah di
mana-mana. Allah di mana-mana secara
zatnya Allah di
mana-mana. Kemudian muncul berikutnya
aljahmiyah almutakallimah. Yaitu ahli
jahmiyah ahlul kalam yang mereka
mengatakan Allah tidak di dalam alam dan
juga tidak di luar alam. Tidak di dalam
alam, tidak juga di luar alam. Ya. Ya.
Ini ya ini menggabungkan dua hal yang
kontradiksi. Karena segala sesuatu
selain alam yaitu Allah Subhanahu wa
taala atau semua seluruh alam. Kalau
bukan dalam Allah, di luar Allah. Enggak
ada kemungkinan ketiga. Tapi mereka
mengatakan Allah tidak di luar alam,
tidak juga di dalam alam. Ini Jahmiyah
almutakallimah ya yang kemudian diikuti
oleh Asyairah
mutaakhirin. Ini semuanya menolak Allah
di atas arsy. Alhululiyah. Hululiyah
maknanya yaitu Allah menempati. Hulul
maknanya
menempati. Hulul. Alhululiyah maknanya
menempati dari
halla. Alhululiah yaitu meyakini Allah
menempati. Maka ada yang mengatakan
Allah menempati alam. Ya Allah menempati
alam. Allah zat tapi menempati alam.
Atau Allah menempati sebagian alam
seperti menempati wali-wali seperti
mereka mengatakan ma fil jubah illallah.
Tidak ada di balik jubah ini kecuali
siapa? Allah. Ya, perkataan sebagai
sebagian sufi-sufi ya, mereka mengatakan
bahwasanya dalam jubah ini adalah Allah.
Itu Allah menempati sebagian makhluknya.
Ya, ini mazhab namanya
hululiyah. Mazhab berikutnya disebut
ittihadiyah mirip. Tapi ittihadiyah
artinya Allah bersatu. Bersatu dengan
makhluk sehingga satu kesatuan tidak
bisa dipisahkan. Ibarat kalau menempati
itu kita tuangkan air di gelas namanya
air menempati apa? Gelas. Dan ada yang
mengatakan Allah bersatu dengan makhluk
ya. Sebagaimana kalau kita campurkan ee
susu dengan kopi kita aduk maka jadi
susu kopi. Satu kesatuan tidak bisa
dipisahkan. Ini mirip seperti mazhab
dalam mazhab-mazhab
dalam Nasraniyah. Ada yang mengatakan
Allah menempati Isa. Ada yang mengatakan
Allah bersatu dengan Nabi Isa. Ada yang
mengat Allah adalah Isa. Isa adalah
Allah. Ada beberapa mazhab di kalangan
kaum Nasra.
Tib berikutnya adalah mazhab ee
Muktazilah. Almuktazilah.
Almuktazilah. Mereka ee mengatakan Allah
tidak mungkin dilihat ya. Dan Allah
adalah zat tanpa sifat. Kata mereka
Allah zat tanpa
sifat. Zat tanpa sifat. Sudah pernah
kita jelaskan kalau Allah bersifat
berarti syirik. Kata mereka dengan
syubah taadudul qudama sudah pernah kita
bahas. Jadi zat tanpa sifat sehingga
zat-zat Allah kosong dari sifat-sifat.
Tidak ada sifat melihat, sifat
mendengar, sifat ilmu. Enggak ada. Zat
tersebut tidak boleh ada sifat. Karena
kalau ada sifat berarti jisim. Sehingga
mereka mengatakan Allah zat tanpa sifat.
Dan Allah tidak mungkin dilihat.
Mustahil dilihat.
Sehingga para ulama mengatakan wujud
wujudnya Allah menurut versi Muktazilah
adalah wujudun
zihni. Yaitu hanya wujud yang dalam
benak saja. Wujud dalam benak. Wujud
dalam benak yang rilnya tidak ada. Yang
rnya tidak tidak
ada tib ini
[Musik]
Muktazilah. Sehingga merekan Allah tidak
mungkin dilihat di dunia maupun di
akhirat. Karena Allah tidak tidak bukan
zat yang ada sifatnya sehingga cuma
dibenarkan aja sebenarnya hakikatnya
Allah cuma dalam dalam benak tib
[Musik]
asyairah saya tambahkan sini
[Musik]
asyairah asyairah terbagi menjadi dua.
pertama
almutaqaddimun asyairah
terdahulu ee pendiri apa ee perintis ya
terdahulu di antaranya Abu Hasan
al-Asy'ari dan murid-muridnya Abu Hasan
Asy'ari kemudian murid atau murid-murid
murid dari murid-muridnya seperti
Albaqilani, Abu Hasan al-Asy'ari ya
mereka mengatakan seperti ahlusunah
Allah di atas arsy. Allah di
atas di atas makhluknya.
Dan ini Abu Hasan Asy'ari sebutkan dalam
kitabnya ee di antaranya Maqalatul
Islamiyin. Kemudian di antaranya Risala
Ila Ali Tagr. Dia menyatakan seluruh
manusia ijma bahwasanya di atas arsy.
Buktinya mereka berdoa dengan mengadakan
tangan ke langit sehingga semua sepakat
Allah di atas ars. Ini Abu Hasan
al-Asy'ari.
Adapun yang
mutaakhirin atau mutaakhirun itu
Asyairah
belakangan mulai dari Aljuwaini ya,
Aljuwaini
kemudian ee kemudian sampai Arrazi ya
dan seterusnya ya ee Al-Amidi ya sampai
yang belakangan ya seperti Asanusi
mereka mengatakan ini sama dengan
ee Jahmiyah. sama dengan Jahmiah
mutakalimah yaitu Allah tidak di dalam
alam, tidak di luar alam.
Allah tidak di dalam
alam dan
juga tidak di luar alam.
Nah, ini ini yang sekarang beredar di
di Asyairah zaman sekarang ini, yaitu
pendapat mereka seperti Jahmiyah ee
mutakalimah yang mengatakan Allah tidak
di dalam alam dan Allah juga tidak di
luar alam.
Ya,
paham? Paham atau
tidak? Siap ujian
nanti. Tayib. Kita
lanjut.
Sudah tay kita
lanjut sekarang. Ee jadi kalau tidak
menetapkan Allah di atas arsy itu
menimbulkan penyimpangan dalam
akidah. Makanya penting menetapkan
olitas arsy karena membenahi akidah
seseorang. Kalau tidak mendapatkan
menetapkan arsy nanti bisa jatuh ke
macam-macam. Kalau enggak begini begini,
kalau begitu macam-macam. Akan jatuh
dalam berbagai macam pemikiran. Di
antaranya salah satunya ini ya. Tapi
kalau mengatakan Allah di ars selesai.
Allah di atas arsy. Seluruh makhluk di
bawah Allah. Dan Allah menguasai semua
yang di bawah arsy.
Ya tayib. Kita lanjutkan sekarang
dalil-dalil ketinggian zat Allah
Subhanahu wa
taala. Dalil ketinggian Allah subhanahu
wa taala. Dalil akal, dalil fitrah,
dalil nas, dalil ijma. Saya mulai dulu
dari dalil
nas Al-Qur'an dan sunah. Karena ini
hukum asal adalah kita menetapkan
sifat-sifat Allah dengan Al-Qur'an dan
apa? Sunah. Dalilnya
banyak. Ada 23 sisi
pendalilan. 23 sisi
pendalilan. Yang pertama Ibnu Abdul His
menyebutkan sekitar 18. Kemudian
ditambah lagi oleh Ibnul Qayyim dan
Hafiz Al-Hakami. Sehingga ada 24 atau 23
pendalilan. Yang pertama ada fauqiyah.
Faq artinya ketinggian. Seperti Allah
berfirman tentang para malaikat. Kata
Allah Subhanahu wa
taala eh yakhofuna rbahum min fauqihim.
Artinya para
malaikat takut kepada Rabb mereka min
fauqihim. Dari arah atas mereka. Kalau
sudah ada min itu menunjukkan
arah. Ya. Yakfuna rbahum min fauqihim.
Malaikat takut kepada Rabb mereka dari
arah atas mereka. Ya.
Ya. Dan dalam Al-Qur'an banyak Allah
mengatakan min fau min faq maksudnya
dari sisi arah ya.
seperti jadi kalau ada min sama fauk
maka itu sudah nas bahwasanya itu
menunjukkan arah. Beda kalau saya
berkata fauk saja di atas seperti saya
mengatakan begini azzahabu fauqal fidah
emas di atas perak. Mungkin ada yang
mengatakan maksudnya bukan posisi tapi
maksudnya adalah kualitas. Paham atau
tidak? Karena mereka ahlul bidah. Mereka
mentakwil. Kata mereka, "Fauk maksudnya
adalah dari sisi kualitas. Seperti kita
mengatakan azzahabu fauqal fidah." Emas
di atas perak. Maksudnya kualitas bukan
posisinya. Itu benar secara bahasa Arab
kalau tanpa huruf minti ada kemungkinan
bahwasanya itu maknanya adalah perbedaan
kualitas. Tapi kalau sudah pakai min itu
menunjukkan apa? Arah. Min fauqihim.
Berarti dari arah atas gak ada tafsiran
lain. Dan itu banyak dalam Al-Qur'an
sebelum surat Almaidah kata Allah
Subhanahu wa taala akalu min fauqihim
wamin tahti arjulihim. Mereka akan makan
dari atas atas mereka dan dari arah
bawah mereka. Ini tentang ahlul kitab
kalau mereka bertakwa laalu min fauqim
itu mereka akan mendapatkan rezeki dari
arah atas mereka. Wam tahti arjulim dan
di arah bawah mereka. Allah gandengkan
antara arah atas dengan arah bawah.
Demikian juga surat Alanam ayat
65. Dan dialah Allah yang maha kuasa
mampu untuk mengirim azab kepada kalian
minuikum w tahti arjulikum. Dari arah
atas kalian atau dari bawah kaki kalian
sama minarti pasti arah. Paham?
Maksudnya dalam Al-Qur'an banyak sekali
ya.
seperti lahum min jahanama
mihadun dan bagi mereka neraka jahanam
di bawahnya adalah tempat tidurnya mihad
dari
api dan selimut dari api juga dari atas
jadi minfa pasti artinya apa dari arah
atas Ibrahim ya yang seluruhnya ada
ya dan banyak sekali kalau mau dicari
ditulis saja min faq akan keluar banyak
sekali ayat dalam Al-Qur'an Allah
menggunakan lafal min fauq maksudnya
dari arah atas. Seperti ayat ini dalam
surat
Annahlakahum. Para malaikat takut kepada
Rabb mereka. Dari mana? Min fauqihim.
Dari arah atas mereka. Berarti Allah di
atas para malaikat. Malaikat di langit
berarti Allah di atas di atas mereka.
Berarti Allah di atas apa? Langit. Ini
dalil sangat jelas bahwasanya Allah di
atas para malaikat. Malaikat ada ada di
langit. Enggak banyak dalilnya. Malaikat
di langit dan mereka lapor kepada Allah.
Nanti kita sebutin bab. Dalil yang
[Musik]
kedua. Dalil yang kedua, fauqiah secara
mutlak. Ini yang masih bisa ditakwil.
Wahual qoahiru fauqo ibadih. Dan dialah
Allah berada di atas hamba-hambnya. Ya,
sebagian ahlul bidah mentakwil kata
mereka. Faq di sini maksudnya secara
kekuasaan bukan secara posisi. Benar.
Secara bahasa kalau sekedar fauk tanpa
ada minnanya juga ee kualitas atau bukan
posisi. Tetapi kalau kita lihat konteks
ayatnya, maka faukiah di sini mencakup
juga fauqiah apa namanya? Posisi
bahwasanya posisi Allah berada di atas
makhluknya ya. Di atas makhluknya
ya. Dan Ibnu Abis Hanafi menyebutkan
tidak pantas Allah dibandingkan dengan
makhluknya kalau tanpa ada sebab. Hanya
sekedar Allah lebih baik daripada
makhluk. Apa apa faedahnya? Apa
faedahnya ya seakan-akan merendahkan
kedudukan Allah? Misalnya kita
mengatakan misalnya ada orang mengatakan
ee Syekh bin Bas lebih lebih pintar
daripada Firanda. Ini menghina atau
merendahkan Syekh bin Bas atau menaikkan
kualitas Syekh bin Bas? Merendahkan.
Karena ngapain dibandingkan dengan saya?
Beda kalau Syekh bin Bas lebih pintar
dari Syekh Albani. Ah itu baru baru kita
angkat derajat apa? Syekh bin Bas. Tapi
kalau Sy bin Mas lebih pintar daripada
kamu ya ngapain merendahkan ya? Makanya
Pir berkata, "Alamaraifa yanusuqruza
qila inaifa am minal as diakkah kau
lihat bahwasanya pedang itu akan jatuh
pamornya jika kau berkata pedang lebih
tajam daripada tongkat ya." Apa ngapain
pedang dibandingkan dengan apa? Tongkat.
Tapi kalau pedang lebih tajam dari pisau
ini memuji apa? Pedang. Jadi apa
faedahnya Allah mengatakan Allah lebih
kuasa dari makhluknya hanya sekedar
begitu tanpa ada sebab maka kurang pas.
Intinya benar secara bahasa kalau
sekedar fauk itu bisa menunjukkan ee
ketinggian kualitas ee tetapi juga umum
kalau kita ambil umumnya termasuk juga
posisi Allah. Apalagi ada ayat yang
sebelum yang sudah kita sebutkan ada min
dan fau paham sampai
sini. Yang kemudian dalil berikutnya ada
lafal aluruj. Aluruj artinya naik
seperti mikraj. Mikraj itu Rasulullah
naik ke langit
ya. Seperti firman Allah, taujul
malaikatu waruhu ilaih. Naiklah
malaikat, para malaikat dan Jibril
kepada Allah. Naik kepadanya. Berarti
Allah di
mana? Ada enggak?
Allah di mana-mana. Kalau di mana-mana
enggak mungkin naik kepadanya.
Bismillah.
Maksudnya alhamdulillah lafal naik
kepada Allah menunjukkan Allah di atas.
Jelas sekali. Karena naik itu ke mana?
Ke ke atas. Dan malaikat naik ke atas.
Para malaikat dan ruh maksudnya malaikat
Jibril. Para malaikat dan malaikat
Jibril naik kepadanya. Kemudian juga
dalam hadis kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam
fujina fikum. Kata Allah Subhanahu wa
taala dalam hadis kata Rasulull sahu
alaihi wasallam eh apa namanya?
Yataqabuna fikum malaikatun bail
malaikatun binahar. Ada malaikat sip
siang ada malaikat sip malam. Mereka
mengawasi kalian maka malaikat yang tadi
malam nginap bersama kalian naik ke atas
lapor kepada Allah. Maka Allah bertanya
kaifa ibadi? Bagaimana kalian
meninggalkan hamba-hambaku? Dan Allah
sudah tahu. Kata para malaikatum wahum
yusun. fainahum wahum yusun. Kami
datangi mereka, mereka dalam kondisi
salat dan kami tinggalkan mereka dalam
kondisi juga salat. Ya. Ya. Jadi ee
malaikat naik lapor kepada siapa? Kepada
Allah. Allahnya di mana? Di a atas.
Makanya naiknya ke atas. Laporan ke
atas. Sangat jelas. Kemudian juga ada
lafal suud. Suud artinya manjat.
Manjat. Suud itu naik. sama saat maj
atau naik ya maknanya kata Allah
ilaihiasul kalimut thayibu ya bahwasanya
ee lebih lebih naik juga ya maknanya
sama ya
naik bahwasanya kata kalimat-kalimat
yang baik berupa zikir berupa Al-Qur'an
amalan tersebut naik kepada Allah ada
kata ilaihi naik kepadanya dan naik ke
mana ke atas ya sudah berarti Allah di
atas karena dikatakan naik kepadanya.
Ini dalil yang keempat. Yang kelima,
sebagian makhluk diangkat kepadanya.
Sebagian makhluk diangkat kepadanya
seperti Allah mengangkat Nabi Isa. Kata
Allah, wama qataluhu w shuhu wakin
syubbiha
lahum wtaluhu yakina barahullah ilaih.
Ya kata Allah, mereka tidak bunuh Nabi
Isa. Mereka tidak pernah menyalib Nabi
Isa. Ya, tapi ada orang yang diserupakan
dengan Nabi Isa. Kata Allah,
barofaahullahu ilaih. Akan tetapi Allah
angkat Nabi Isa kepada
Allah. Diangkat ke Allah. Berarti Allah
di mana? Di
atas. Demikian juga dalam ayat yang
lain, "Ya Isa inni mutawafika warofiuka
ilai." Wahai Isa, aku akan mewafatkan
engau dan aku akan angkat engkau
kepadaku. Warofiuka ilaiya," kata Allah,
"Aku akan angkat engkau kepadaku."
Berarti Allah di mana? Di
atas. Kemudian juga lafal ulu almutlq
secara mutlak. Wahual aliyul kabir.
Wahual aliyul adzim. Dialah Allah yang
maha agung, maha tinggi, maha agung.
Wahual aliyul kabir. Dialah Allah maha
tinggi, maha besar. Ya, ada salah
seorang dai di YouTube yang menolak
Allah di atas. Bahkan siapa yang nunjuk
Allah di atas? Kafir katanya. Tapi waktu
dia mensyarah surah ee ayat kursi,
wahual aliyul wahuwal aliyul adzim kata
maha tinggi dan maha agung. Ditunjuk
mana? Tunjuk ke atas. Jadi ee di sini
Allah maha tinggi dan maha agung, maha
tinggi dan maha besar. Aliyun hakim.
Allah maha
tinggi. Kemudian di antara dalil
bahwasanya Allah di
atas turun kitab darinya. Al-Qur'an
turun darinya. Allah berfirman,
"Tanzilul kitabi minallahil azizil
hakim." Turun. Al-Qur'an turun dari
Allah. Turun dari Allah. Selesainya
Allah berarti di atas karena Al-Qur'an
turun dari Allah. Allah juga berfirman,
"Tanzilul kitabi minallahil azizil
alim."
Alqur'an turun dari Allah yang maha
perkasa lagi maha berilmu. Inna anzalahu
fi lailatin fi lailatil qadar. Dalam
ayat yang fi lailatin mubarokah. Inna
anzalnahu kami turunkan Al-Qur'an.
Berarti dari atas ke bawah Allah
turunkan lewat malaikat Jibril. Malaikat
Jibril turunkan kepada siapa? Nabi
Muhammad sallallahu alaihi
wasallam. Kemudian juga Allah sebutkan
sebagian makhluknya khusus di sisinya.
Seperti firman Allah,
innalladzinaika la yastakbir
ibadati wala yastahsirun. Sesungguhnya
malaikat yang berada di sisi Rabbmu, di
sisi Rabbmu berarti dia tidak, berarti
dia di atas ya karena lebih dekat kepada
Allah Subhanahu wa taala. Maksudnya para
malaikat ya. Kalau Allah di mana-mana
tidak dikatakan ada di sisi Rabb, enggak
ada. Semuanya sama. Demikian ayat
berikutnya perhatikan. Walahu man fis
samawati wal ardhi waman aahu. Dan milik
Allahlah semua yang di langit dan yang
di bumi dan yang berada di sisinya.
Berarti Allah bedakan. Yang di langit
ada makhluknya, yang di bumi ada
makhluknya, yang di sisinya juga ada
makhluknya. Berarti beda. Allah tidak di
mana-mana. Di sisinya berarti di atas.
Mereka lebih tinggi lagi di sisi Allah
di daripada makhluk-makhluk yang yang
lainnya.
Kemudian juga ketika Rasulullah
menyebutkan Allah mencatat semuanya
dalam ee kitab yaitu dalam lauhil mahfuz
annahuahu fauqal arsy. Bahwasanya kitab
lauhil mahfuz di sisi Allah di atas
arsy. Lauhil mahfuz letaknya di mana? Di
atas arsy. Di sisi Allah. Karena Allah
di atas apa? Arsy. Jelas. Jadi ketika
disebut ada sebagian makhluk di sisi
Allah menunjukkan Allah maha tinggi.
Kalau Allah di mana-mana maka tidak bisa
dikatakan sebagian makhluk di sisi
Allah. Karena semua makhluk akan
derajatnya sama karena Allah di
mana-mana. Kalau Allah tidak di dalam
alam, tidak di luar alam, maka tidak
bisa dikatakan sebagian makhluk di sisi
Allah. Karena Allah tidak bisa di sisi,
tidak ada satuun yang bisa di sisinya.
Karena dia tidak di luar alam, tidak
juga dalam alam. Paham? Ketika dikatakan
ada sebagian makhluk di sisi Allah,
berarti Allah
berposisi dan berarti dia di
atas. Paham atau
tidak? Kecepatan enggak ini?
Hah? Paham enggak? Paham ya?
Insyaallah masih ada 23 dalil ya.
Baru yang kesembil Allah di atas langit.
Dalilnya amintum
fisamaikum ard. Apa kalian merasa aman
dari Allah yang di atas langit? Yaitu
kalian di bumi, kalian merasa aman
karena Allah di atas, kalian merasa
aman. Jadi Allah mengatakan, "Kalian di
bumi kalian merasa aman dari zat yang di
atas langit."
Ya. Dan dan dalam Al-Qur'an misalnya
dalam hadis kata Rasulull sahu alaihi
wasallam, "Kalian tidak percaya
kepadaku." Wa ana aminum man fisama.
Sementara aku
kepercayaan zat yang di atas apa?
Langit. Jelas. fisama di fi kalau
maknanya adalah tinggi karena fi sama
bisa artinya tinggi. Sama itu bisa dua
makna bisa maknanya sekedar tinggi bukan
bukan berarti ee sama almabniyah bukan
berarti langit yang kita lihat sama
secara bahasa Arab bisa artinya apa?
Ting tinggi. Seperti Allah berfirman,
"Alamar kaifaballah matalan kalimatan
thibatan thibatin asluha tabitun wauha
fama." Tidak kalian melihat pohon yang
akarnya menancap dan ee dahannya
menjulang ke sama ke langit maksudnya ke
atas. Jadi asama dalam bahasa Arab bisa
artinya apa? Bisa artinya tinggi. Ya. Di
antaranya kalau dikatakan aamintum
fisama apa kalian merasa aman dari Allah
yang berada di ketinggian? Maka fi di
sini artinya di.
Tapi kalau sama yang dimaksud adalah
sama yang kita lihat yang langit dunia,
langit satu, kedua sampai ketujuh, maka
fi maksudnya adalah ala di atas. Jika
maknanya langit, maka fi maknanya adalah
ala itu di
atas. Seperti firman Allah, fasiru fil
ardhi. Ya, berjalanlah di bumi.
Maksudnya di atas di atas bumi. Paham?
Bukan kaki masuk di tanah. Enggak. Fi
maksudnya di di atas ya. fi juz fi
juzuin nakhli ya. Dan kami akan apa
namanya? Ee salib di atas di atas ee
batang batang kurma
ya. Jadi fi maknanya bisa di bisa
maknanya di a di atas. Kalau assama
maknanya adalah ketinggian berarti Allah
di keting ketinggian. Fi maknanya di.
Tapi kalau maknanya langit Allah di
langit makud di atas maksudnya di atas
la langit bukan berada di dalam langit
tapi di atas apa? Langit. Paham?
Berdasarkan dalil yang lain, Allah
karena langit baru kemudian air kemudian
arsy baru Allah di atas
arsy. Ini menunjukkan Allah di
atas. Kemudian dalil juga Allah di atas
arsy. Dan ini banyak ayat tujuh ayat ya.
Summastawa alal arsy arrahmanu alal
arsyaistawa. Sebagaimana kita jelaskan
pada pertemuan sebelumnya. Dalil banyak
menunjukkan Allah di atas ars dan arsy
adalah makhluk yang ter tertinggi. Dia
adalah ee atap dari surga al-firdaus ya.
Sehingga di atas arsy adalah Allah
subhanahu wa taala dan dia puncak dari
makhluk dan Allah di luar
makhluk.
Tib. Kemudian yang
ke-11 hamba-hamba mengangkat tangannya
ketika berdoa. Ini di antara dalil
bahwasanya Allah di atas. Dalam hadis
kata Rasul sahu alaihi wasallam,
"Innallaha yastahyi min abdihi
rofaudahuma sifran." Allah malu jika
hambanya mengangkat kedua tangannya
kepada
Allah. Kepadanya kata Allah mengangkat
kepadanya. Lalu Allah kembalikan kedua
tangannya kosong. Mengangkat kepadanya
berarti ke arah mana? Ke arah atas.
Orang berdoa semuanya begini. Enggak ada
yang begini ya. Apalagi begini enggak
ada apalagi begini ke mana-mana enggak
ada semuanya ke atas enggak ada ya.
Kata Allah, "Hamba mengangkat kedua
tangannya ke arahku." Berarti arah Allah
di mana? Di
[Musik]
atas. Paham? Sudah
difoto? Sudah, ya.
Lanjut. Sekarang yang ke-12.
Allah turun ke langit dunia setiap malam
dalam hadis yanziluna tabarak wa taala
hqul akhir minil fakulu ya hal minin
faastajibahu mustagfirin faagfiralah hal
minah rab-rab kita turun di langit dunia
ketika tinggal sepertiga malam yang
terakhir turun dari atas ke bawah
kemudian Allah mencari hambanya adakah
hambaku yang berdoa akan aku kabulkan
adakah hambaku yang memohon ampun akan
aku ampunkan adakah yang meminta akan
aku kabulkan permintaannya. Ini jelas.
Nanti kita akan bahas mungkin sifat
nuzul. Tapi intinya ini jelas. Enggak
mungkin kita bilang yang turun rahmat
Allah. Kalau rahmat Allah cuma turun di
di langit ngapain? Enggak sampai kita
paham. Berarti rahmat cuma gantung kan
bilang yanzilu rabbuna rab kami. Rabb
kita turun di di langit dunia ketika
tinggal sepertiga malam yang terakhir.
Selesai. Kalau ditakwil itu adalah
rahmat berarti rahmatnya cuma gantung di
langit. Ngapain? Paham? Kalau ditakwil
itu malaikat, masa malaikat berani
berkata, "Siapa mohon ampun kepadaku
akan aku ampuni." Mana malaikat berkata
demikian? Yaakl minhum inni ilahu min
dunih fzalika najisi jahanam. Ya, siapa
di antara malaikat berani mengatakan,
"Aku adalah Tuhan selain Allah, kami
akan azab dia dengan neraka jahanam."
Malaikat enggak ada yang berani bilang,
"Siapa minta kepadaku akan aku kabulkan.
Siapa yang beristigfar akan aku ampuni."
Mana malaikat berani? Yang benar itu
Allah Subhanahu wa taala. Ya, berarti
Allah dari atas. Kemudian juga isyarat
dari Nabi kepada Allah dengan jarinya.
Ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam
di haji, Rasulullah bertanya kepada para
sahabat,
"Ya eh antum
masuluna antum qilun." Wahai para
sahabatku, kalian akan ditanya oleh
Allah tentang aku. Apa yang akan kalian
jawab kalau kalian ditanya bagaimana
tentang dakwah Muhammad? Maka para saat
berkata,
"Nashaduq risalah umah." Kami bersaksi
bahwasanya engkau telah menyampaikan
risalah Allah dan kau telah melakukan
yang terbaik bagi umat ini dan kau telah
berjihad dengan jihad yang benar dan
seterusnya. Maka Rasulullah angkat
jarinya. Rasulullah mengat
Allahummashad. Allahummashad. Rasul, "Ya
Allah saksikanlah mereka. Ya Allah
saksikanlah mereka. Kalau Allah tidak di
atas ngapain Nabi tunjuk ke atas? Ini
bohong aja. Ngebohongin 100.000 sahabat.
Paham? Jelas. Kira-kira kalau ada orang
ada Arab Badui masuk Islam kan ada orang
Badui bar Islam ikut hajian. Kalau Nabi
bilang gini terus ternyata Allah tidak
di atas berarti Nabi ngapusi. Paham?
Ngerti ngapusi enggak? Ya bohong orang
Arab ya. Ya Allah saksikanlah ini nunjuk
ke atas gimana? Terus katanya Allah
tidak di atas. Terus Nabi ngapain
begini? Nabi ngapain begini? Nabi
ngapain
begini? Tib. Kemudian di antara dalil
bahwasanya Nabi bertanya kepada seorang
wanita, "Ainallah?" Berarti tanya posisi
dalam bahasa Arab aina maksudnya apa? Di
mana? Jelas. Ainallah? Dan jawabannya
jelas. Fisama di atas langit.
Selesai. Man ana? Siapa engkau? Siapa
aku? Anta Rasulullah. Engkauah
Rasulullah. Kata Rasulullah, atika
fainnaha mukminah. Bebaskan dia.
Merdekakan dia. Wanita mukminah.
Kemudian berikutnya kelanjutan dari
ke-14. Nabi mempersaksikan orang yang
menyatakan Allah di langit dengan iman.
Ini tadi hadis tadi. Ketika ada seorang
sahabat ingin memerdekakan budaknya,
Rasulullah panggil. Rasulullah tes dulu.
Kata Rasulull sallallahu alaihi
wasallam, "Ainallah? Di mana Allah?"
Hadis sahih riwayat
Muslim. Fisama Allah di langit. Man ana?
Siapa engkau? Siapa aku? Kata dia,
"Engkau Rasulullah." Kata aik fainnaha
mukminah. Hebbat merekakan dia
sesungguhnya seorang wanita mukminah.
Jelas
ya, bahwasanya ee Allah di atas langit.
Tib yang ke-16 Allah mengabarkan Firaun
mengingkari pernyataan Musa bahwa Allah
di langit. Jadi, Nabi Musa mengabarkan
Allah di langit. Maka Firaun ingin
mendustakan Nabi Musa. Maka dia suruh
Haman bikin bangunan yang tinggi. Waq
firun
ya asbab
asbabati
Musaahi Musa inuh.
Kata Firaun, "Wahai Haman,
Win." Kata Firaun, "Wahai Haman, ee
buatlah bangunan yang tinggi supaya saya
bisa sampai di langit, ya, pintu-pintu
langit agar aku bisa buktikan bahwasanya
Musa pendusta. Aku ingin melihat
Tuhannya Musa. Menurutku dia pendusta."
Jadi, apa tujuan Firaun bikin bangunan
tinggi? Untuk membuktikan Tuhan tidak di
langit. Sehingga dia mengatakan,
"Menurutku Musa berdusta." Berdusta apa?
Berdusta mengabarkan Tuhannya di mana?
Di di langit. Maka dia ingin buktikan
Musa pendusta. Dia pengin naik ke
langit. Tuhanmu di langit. Saya cek dulu
ada atau tidak. Ya. Maka kata Ibnu
Qayyim, "Siapa yang menetapkan Allah di
langit maka dia Musawi, dia pengikut
Musa Alaihi Salam. Dan siapa yang
menolak Allah di langit ingin
membuktikan Allah tidak di langit, maka
dia Firauni." Pengikut siapa? Firaun.
Ini jelas sekali ya, bahwasanya Firaun
menolak Allah di langit, makanya dia
bilang, "Bangun tinggi, saya pengin
cek." Menurut saya Musa pendusta, mana
ada Tuhannya di langit. Kenapa dia ingin
mengecek? Karena ada pernyataan Musa
Alaih Salam bahwasanya Allah di langit.
Sehingga dia ingin buktikan bahwasanya
Musa bahwasanya Allah tidak di langit.
Paham tidak? Paham.
Paham. Kemudian ini yang ke-16. Yang
ke-17. Ketika Nabi Mikraj bolak-balik
naik antara Allah dan Musa, Nabi
menerima perminta ee perintah salat 50
waktu. Kemudian Nabi turun ketemu Nabi
Musa di langit ke berapa? Kelima kalau
tidak salah ya. Keenam ya? Keenam. Tujuh
Ibrahim ya. Keenam. Kemudian Nabi Musa
bertanya berapa? 50. Berat minta fatlub
minhu takfif. Irji ilbik fatlub minhu
takfif.
Baliklah kepada Tuhanmu dan minta
keringanan. Umatmu tidak bakalan mampu.
Saya sudah coba umatku Bani Israel
mereka tidak mampu. Akhirnya Rasulullah
balik. Balik diturunkan 5 jadi 45. Turun
lagi dia Musa. Berapa? 45. Balik lagi.
45. Setiap kali Rasulullah balik kurang
lima. Berarti berapa kali
bolak-balik ya? Kalau 10 habis
nol.
Enggak salat kalau
begitu tinggal iling ya. Enggak
bolak-balik bolak-balik sampai dari 50
jadi berapa? 40 ya. Sampai tinggal lima.
Dan disebut Rasulullah aku bolak-balik
antara Allah Rabbku dan Musa.
Bolak-balik atas bawah atas
bawah. Paham?
Baik. Sebelum saya saya lupa saya
tambahkan lagi yang 24 ya.
Rasulullah hampir melihat
Allah ya. Hampir lihat
Allah ya. Terkait Isra Mikraj ketika
Rasul sahu alaihi wasallam sudah dekat
dengan Allah maka Abu Dzar bertanya
kepada Nabi, "Ya Rasulullah, hal roaita
rabbak?" "Wahai Rasulullah, apakah kau
lihat Rabbmu?" Kata Nabi, "Nurun anna
arah ada cahaya. Bagaimana aku bisa
melihatnya?" Sampai para sahabat khilaf.
Nabi lihat Allah atau tidak? Kenapa
mereka khilaf? Karena mereka tahu Nabi
sudah dekat dengan siapa? Allah. Karena
mereka tahu Nabi ketemu siapa? Allah.
Ketika mereka tahu Nabi sudah ketemu
Allah, sudah dekat dengan Allah,
sehingga khilaf di kalangan mereka, Nabi
lihat atau tidak. Seandainya Nabi tidak
di langit, Allah tidak di langit, Nabi
ketemu siapa? Kalau gitu enggak adakan
ada khilaf di kalangan para sahabat.
Ngerti pendalilannya? Saya ulangi. Nabi
naik ke langit, Sidratul Muntaha ketemu
siapa? Ketemu Allah. Ini di oleh para
sahabat bahwasanya Allah, Nabi ketemu
Allah. Makanya timbul khilaf di kalangan
mereka. Apakah Nabi lihat Allah atau
tidak? Sehingga Nabi ditanya, "Engkau
lihat Allah?" Nabi berkata, "Ada cahaya.
Bagaimana saya bisa melihatnya?"
Seandainya Allah tidak di langit, apakah
ada khilaf di kalangan para sahabat?
Nabi lihat Allah atau tidak? Tentu tidak
ada. Mereka bilang nabi tidak ketemu
Allah. Kalau ada yang tanya, "Ya
Rasulullah, apa engkau lihat Tuhanmu?"
"Batmu, saya lihat Tuhanmu. Saya di atas
tidak ada Tuhan." Harusnya kalau Tuhan
tidak ada. Jawaban Nabi begitu. Emang
saya ketemu Tuhan di atas? Siapa yang
bilang Tuhan di atas? Kalau tidak ada
Allah di atas, mungkin Rasulullah
jawabnya. Bukan begitu. Maksudnya bahasa
kita
ya. Rasulullah bahasanya sungguh indah
ya. Astagfirullah. Ma maksudnya Tuhan
tidak di situ. Ini akidah sesat. Tuhan
tidak di mana-mana. Tidak di atas, tidak
di bawah. Ngapain tanya saya ketemu
Tuhan? Kira-kira begitu ya. Karena
Rasulullah harus membenarkan akidah
umatnya. Tapi Rasulullah membenarkan
pertanyaan tersebut. Rasulullah bilang
tidak bisa karena ada apa? Ada hijab.
Selesai. Berarti sudah dekat dengan
Allah. Memang ketemu
Allah. Makanya orang-orang yang
memperingatkan memperingati Isra Mikraj
dari dulu saya kalau ikuti acara Isra
Mikraj selalu ustaznya bilang nabi
ketemu Allah di langit ketujuh ke atas
Sidratul Muntaha. Semua bilang begitu.
Ini belakangan aja baru bilang. Siapa
bilang? Itu
belakangan. Belakangan ada syubhat. Iya.
Enggak. Dulu ke antum ikut Isra Mikraj
cuma ustaznya bilang apa?
Nabi ketemu siapa di langit? Ketemu
Allah. Enggak ada enggak ada khilaf di
kalangan kita semuanya. Semuanya bilang
Nabi ke atas ketemu Allah. Jibril pun
tidak ikut dalam rangka mengikut
menerima perintah salat. Sekarang muncul
belakangan ahlul bidah bilang, "Ya,
siapa bilang Nabi ketemu Allah di atas?"
Enggak ada Allah di atas. Subhanallah.
Terus ngapain Abu Abu Dzar bertanya, "Ya
Rasulullah, engkau lihat
Tuhanmu?" Memang Tuhan di atas? Siapa
bilang saya ketemu Tuhan? Gak ada Tuhan
di atas. Jangan sesat akidahmu. Dan Nabi
tidak pernah menunda kalau kemungkaran
Nabi pasti akan tegur. Dan Nabi tidak
menegur. Justru Nabi membenarkan
sallallahu alaihi wasallam. Benar saya
di atas ketemu Allah cuma saya tidak
bisa me melihat. Tib ee kita lanjutkan.
Jadi saya tekankan bahwasanya ee
peristiwa Al-Isra wal Mikraj itu bukti
bahwasanya Allah berada di atas.
Ole seb mengatakan siapa yang
mengingkari Allah di atas seakan-akan
dia mengingkari mukjizat alisra wal
Mikraj. Terus Nabi sampai ke atas. Apa
kemuliaan Nabi kalau Nabi tidak ketemu
siapa? Allah. Berbicara langsung dengan
Allah. Ya. Oleh karenanya ee Isra Mikraj
menunjukkan Allah di atas. Kemudian
berikutnya dalil
ke-18. Penghuni surga melihat Allah di
arah atas. Dalam hadis kata rasul sahu
alaih wasallam,
"Inakumakum ayanan
atauananalqar lailatal
badriati." Kalian benar-benar akan
melihat Allah ayanan. Maksudnya muayana
langsung atau ayanan. Bisa dibaca ayan
tapi dibaca ayanan. Sebagaimana kalian
melihat rembulan di malam bulan purnama.
Kalau lihat rembulan ke mana? Ke atas
atau ke bawah? Ke atas. Makanya ee Nabi
mengatakan launi. Kalian tidak akan
desak-desakan. Beda kalau pusat
pandangannya di depan, maka ada yang
orang tinggi kita kurang lihat. Tapi
kalau lihat ke atas enggak perlu
desak-desak. Sem menunjukkan Allah di
atas. Makanya tidak mungkin sempurna
menolak Allah di atas kecuali harus
menolak tentang melihat Allah Subhanahu
wa taala. Dan yang komitmen adalah
Muktazilah. Muktazilah mengatakan Allah
tidak di atas dan Muktazilah mengatakan
Allah tidak mungkin
dilihat. Yang aneh asyairah mutaakhirin
mereka mengatakan Allah tidak di atas
tapi Allah bisa dilihat di akhirat.
Terus lihatnya ke mana?
Allah tidak di atas, tidak diarah, tapi
Allah bisa dilihat. Namanya lihat kan di
depan mata kita, enggak namanya melihat
ber katanya Allah bisa dilihat tapi
tidak di depan mata. Terus
gimana? Terus bagaimana coba? Allah bisa
dilihat tetapi tidak di hadapan mata.
Makanya itu namanya bukan dilihat, itu
namanya dikhayalkan.
Makanya Asyairah yang yang ngerti
bahwasanya itu adalah kontradiktif
mereka mengatakan rukyah qalbiah seperti
muktazilah itu cuma tambahan ilmu aja
penglihatan batin bukan penglihatan apa
mata. Karena mengatakan Allah tidak
diarah sementara mengatakan Allah bisa
lihat dengan mata ini mustahil. Tidak
mungkin menggabungkan dua hal yang
bertentangan. Kalau menetapkan tetapkan
sekalian Allah diarah dan juga bisa
dilihat. Kalau enggak tolak sekalian
seperti Muktazilah. Tidak bisa dilihat
tidak diarah. Jelas. Adapun mengatakan
Allah bisa dilihat tapi bukan diarah
repot terus ngelihat ke
mana? E enggak enggak bisa ya enggak
bisa tayib. Ini di antara dalil
bahwasanya Allah di atas penghuni surga
melihat Allah ke atas. Kemudian dalil
yang berikutnya Allah disifati dengan
azzahir seperti sabda Nabi. Antal awal
waisa qblaka antal akhir waisa ba'da.
Antazahir laun fauqai antal batin laun.
Engkau adalah yang maha awal tidak ada
yang sebelummu sesuatu. yang engkau
adalah akhir dan tidak terakhir pun
setelahmu. Engkau adalah zahir yang di
atas tidak ada yang di atasmu segala
sesuatu. Engkau adalah batin, yaitu
tidak ada yang ee tersembunyi dari
ilmumu. Ya, sini fauq laisa fauqai anta
zahir tidak ada yang di atasmu. Berarti
Allah yang maha
atas. Kemudian juga Allah datang untuk
mulai persidangan pada hari kiamat.
Wajauka wal malakuffan. Allah datang
mulai menjalankan persidangan di padang
mahsyar. Berarti Allah datang dari arah
atas menuju kepada makhluk untuk
menyidang mereka kapan? Di padang
mahsyar. Bagaimana yang kita enggak
tahu? Pokoknya kita beriman bagaimananya
yang tahu hanya Allah Subhanahu wa
taala. Karena kalau kita mau
membayangkan bagaimana datangnya Allah,
kita pasti menggunakan data makhluk
seperti saya sudah jelaskan, enggak usah
dibayangin. Pokoknya kita ngerti. Allah
datang kemudian menjalani persidangan,
menyidang mereka.
Kemudian
ke-21 dalam hadis malaikat Israfil
melihat ke atas ke arah Arsy siap tunggu
perintah. Kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, "Inna thhibur." Sungguhnya
ujung mata ee apa namanya?
Pandangan e sahibusur, yaitu yang siap
malaikat Israfil yang siap meniup
sangkakala.
bihi mustaidun yurahwal ar sejak
ditugaskan ka nanti yang bagian tugas
meniup sangkakala sejak saat itu dia
selalu memandang ke atas ke arah
arsy ke arah arsyemandang ke arah
arsyata yar
qlaaif dia khawatir diperintahkan
sebelum dia berkedip maka dia selalu
lihat ke atas kenapa lihat ke atas
karena Allah di mana di
atas aaii kaukabaniriyan
Seakan kedua kedua matanya seperti
bintang yang sangat
bercahaya. Ini malaikat apa? Israfil.
Tapi sejak itu dia sudah siap melihat ke
atas. Kalau Allah enggak di atas ngapain
lihat ke
atas? Tiib. Dalil yang
ke-22. Ketika Musa hendak melihat Allah,
maka Allah suruh melihat ke arah atas.
Musa bertemu dengan Allah. Musa berkata,
"Rabbi arini anzur ilaik." Dalam surat
Ala'raf, "Ya Rabbku, tunjukkanlah
dirimu." Rasul Nabi Musa ingin melihat
zat Allah. Kenapa Nabi Musa sudah rindu?
Karena Rasulullah, Nabi Musa sudah
mendengar bicara langsung dengan Allah.
Dan Rasulullah merasakan kebahagiaan
ketika dia sudah mendengar suara Allah
langsung dia pengin lihat zat Allah.
Pengin lihat zat Allah. Maka kata Allah,
"Lantaroni, kau tidak mampu melihatku di
dunia. Enggak mampu. Tidak bisa. Walakin
ilal jabal." Lihatlah. Kalau kau mau
coba lihat ke arah gunung.
Yaq kalau kau masih gunung masih tetap
kokoh kau akan melihatku suruh lihat ke
mana ke arah
atasaj ketika tajalla taj
maksudnyaar ketika Allah menampakkan
dirinya di gunung jaalahu gunung pun
hancur
musq maka musa pun pingsan maksudnya
Allah ingin menunjukkan dirinya dari
arah mana arah atas tapi musuh ini dalil
bahwasanya Allah di atas Ya, kalau lu di
mana-mana coba lihat ke bawah, lihat ke
sumur saya di mana-mana kan bisa itu.
Lihat.
Paham? Tib. Dalil yang
ke-23. Turunnya malaikat dari sisi
Allah.
Ya Allah mengatakan, "Yunazzilul
malaikata biruhi min amri alasya min
ibadi." Allah menurunkan malaikat dengan
Al-Qur'an dari perintahnya ee atas
perintahnya kepada siapa yang Allah
kehendak. Jadi Allah turunkan malaikat
berarti posisi Allah di mana? Di di
atas. Allah turunkan malaikat. Yaitu
Allah menurunkan malaikat Allah di atas.
TB. Ini 24 sisi
pendalilan ya. Ee masing-masing ada
dalilnya banyak. Ini dua pendalilan.
Kalau ternyata kita katakan semua harus
ditakwil, semua ini harus ditakwilnya
Allah tidak di atas. Ini kan susah. Maka
wajib bagi seorang Jahmiyah atau seorang
Asyairah Asy'ari atau seorang Muktazili
untuk mentawil semua ini. Oh ini
maksudnya begini, ini maksudnya begini,
ini maksudnya sampai 24 sisi mereka
takwil. Susah atau tidak? Susah kalau
mau ditakwil semua. Karena dalilnya
bukan saya dalilnya banyak. Ini mau
ditakwil semua repot. Lantas kalau gitu
mana nas yang tegas tentang kebenaran
Allah? Jadi nas itu kan dalalahnya ada
namanya nas, ada namanya ee zahir, ada
namanya muawal. Kalau nas itu tegas
bahwasanya tidak bisa ditakwil lagi
begini seperti bilangan ya ee 12 bulan
ya 12 misalnya. Ee kalau zahir tuh ada
dua kemungkinan, dua. Tetapi yang kuat
yang salah satunya namanya zahir. Kalau
muawwal ada kemungkinan tapi yang marju
diambil. Tib. Kita tanya kalau kamu
bilang ini semua ditakwil mana nasnya
yang tegas mengatakan Allah tidak di
luar alam, tidak di dalam alam? Mana
nasnya? Sebutkan pernyataan Allah,
pernyataan Nabi, pernyataan sahabat.
Allah tidak di luar alam, tidak dalam
alam, atau pernyataan Allah di
mana-mana, mana nasnya? Sehingga kita
berpegang kepada nas itu. Kemudian kita
takwil semuanya. Kan begitu cara
mentakwil. Ini kita pegang, yang lain
kita takwil karena bertentangan dengan
ini. Mana dalilnya? Enggak ada se pakai
logika. Oh, kalau Allah di atas berarti
Allah berarah. Kalau berarah berarti
Allah berfisik. Allah berfisik berarti
Allah jisim. Kalau jisim berarti tasbih
dengan makhluk. Ini semua logika. Ini
mau dikemanakan 24 sisi pendalilan ini
mau
dikemanakan. Sehingga kalau kita katakan
24 sisi pend ini semuanya harus
ditakwil. Jadilah Al-Qur'an isinya semua
ayat takwil. Takwil semua. Berarti
Al-Qur'an katanya kitabun mubin, kitab
yang jelas, kitab yang menjelaskan.
Hudan kitab petunjuk. Huda lil muttaqin.
Mana huda? Penyesat bukan petunjuk.
Kalau ternyata semua ini ternyata tidak
benar. Rasulullah begini ternyata
bohong. Rasulullah begini ternyata
bohong. Allah bilang Allah turun
keturunan malaikat ternyata bohong.
Semuanya bohong kan. Berarti kalau ini
berarti semuanya bohong cuma bahasa
kiasan. Kalau gitu yang nas
mana? Yang nas mana? Kalau nasnya enggak
ada terus apa namanya ini Al-Qur'an
jadilah dalilnya semua isinya takwil
tib. Kalau
dikatakan ini semua ayat
mutasyabihat maka jadil Al-Qur'an
kebanyakannya
mutasyabihat ya. Kita tanya mana
muhkamnya kalau gitu? Mana muhkamnya?
Kita tidak mengatakan ini ayat
mutasyabihat kecuali ada muh muhkamnya.
Muhkamnya mana? Baru kita hukumi seluruh
banyak ini adalah mutasyabihat. Bahkan
kata Ibnu Rusyd
bahwasanya syariat dibangun di atas
Allah tuh. Di atas rat dibangun di atas
apa? Keyakinan Allah di atas. Makanya
Quran turun dari atas, malaikat turun
dari atas, rahmat turun dari atas,
malaikat lapor dari bawah ke atas. Ini
kalau semua dirubah Allah tidak di atas
agak susah
mengaturnya. Karena kalau kita bicara
syariat semuanya menetapkan Allah di
atas.
Paham TB? Sampai sini dulu syubhatnya.
Nanti saya imam dulu ya. Oke, demikian
saja. Wallahu taam. Saya tidak buka
pertanyaan. Pertanyaan banyak tentang
syubhat. Insyaallah nanti kita jawab eh
pertemuan berikutnya. Wabillahi taufik
hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.