Transcript
M44JnXoqGKw • Syarah Asmaul Husna #2: Kaidah -Kaidah Mengenai Al-Asma Al-Husna
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2638_M44JnXoqGKw.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu
ala taufiqi wtinani asadu alla
ilahaillallah wahdahu la syarikalahu
wa asadu anna muhammadan abduhuasul
ridwumma
sholli alaihi waa alihi wa asabi wa
ikhwani hadirin hadirat yang dirahmati
Allah subhanahu wa taala pada kesempatan
kali ini kita akan masuk pada pembahasan
berikutnya tentang kaidah-kaidah terkait
al-asmaul husna pada pertemuan lalu
telah kita bahas tentang urgensi belajar
alasmaul husna maka pada pertemuan ini
kita bahas kaidah-kaidah sebelum kita
masuk pada penjelasan tentang nama-nama
Allah ya. Al-Asmaul Husna disebutkan
dalam Al-Qur'an dalam empat ayat ya,
dalam empat ayat.
Ayat yang pertama dalam surah Ala'raf
kata Allah eh 180 kata Allah Subhanahu
wa taala, "Walillahil asmaul husna
fad'uhu biha." Fad'uhu biha. Ya
walillahil asmaul husna
fad'uhu biha. Kata Allah subhanahu wa
taala, bagi Allah asmaul husna. Allah
memiliki nama-nama yang indah. Berdoalah
dengannya. Jadi kita disuruh berdoa
dengan nama-nama Allah yang terindah.
Maka kita perlu mengenal sebagai kita
bertawasul dengan nama-nama tersebut
untuk minta kepada Allah Subhanahu wa
taala. Kemudian juga dalam surah Thaha
kata Allah Subhanahu wa taala, "Allahu
la ilaha illa hua lahul asmaul husna."
Sesungguhnya Allah tidak ada yang berhak
disembah kecualinya kecuali Allah. Bagi
dia nama-nama yang terindah. Kemudian
surat Al-Isra surah 17 ayat 10 kata
Allah Subhanahu wa taala, "Qulidullah
aidurahman ayyamma tadu falahul asmaul
husna." Ya kata Allah, "Kulidullah.
Eh abidurrahman
ayyamma tadu falahul asmaul husna.
Ayamma tadu
falahul asmaul husna.
Kata Allah berdoalah dengan menyebut
Allah boleh. Awiduurrahman atau serulah
ar-rahman. Mau Allah mau arrahman enggak
ada masalah. Kenapa? Ayma tadu falahul
asmaul husna. Mau berdoa dengan Allah,
dengan rahman boleh. Kenapa? Karena
Allah memiliki nama-nama yang terindah.
Di antara nama Allah ada Allah, ada juga
arrah arrahman.
Kemudian surah Al-Hasyr setelah Allah
sebutkan nama-nama Allah, wallahul
khaliqul bariul musawiru lahul asmaul
husna.
Al asmau alhusna. Ya, inilah ee
penyebutan Allah menegaskan dalam
Al-Qur'an bahwasanya Allah memiliki
nama-nama Allah yang indah. Nah,
sekarang apa kaidah-kaidah terkait
dengan asma Allah? Ee kita akan sebutkan
pertama tentang bagaimana menentukan ini
nama Allah atau bukan. Apa sih dawabit
atau syarat-syarat suatu nama dijadikan
nama Allah? Ini sudah ibu ya.
Oke. Atau syarat
syarat-syarat suatu nama
di ee apa namanya? Merupakan nama Allah.
Allah berfirman, "Ya,
walillahil asmaul husna."
Tadi dalam ee
surah Al-A'raf 180 ya, kata Allah,
"Walillahi
al-Asmau
alhusna
fad'uhu biha."
Bagi Allah nama-nama yang terindah ya.
Bagi Allah
nama-nama yang terindah.
Berdoalah dengan nama-nama tersebut.
Berdoalah
atau mintalah kepada Allah
kepada Allah dengan nama-nama tersebut.
Nah, dari
ayat ini ini surah Al-A'raf 180,
Allah mengatakan ada tiga ee
syarat ya,
tiga syarat untuk menentukan bahwasanya
itulah nama-nama Allah Subhanahu wa
taala ya.
Yang pertama di sini Allah mengatakan
walillah bagi Allah al-asma. Di sini ada
alif lam al-asma alhusna. Al alasma
alhusna. Alif lam di sini kalau dalam
bahasa Arab disebut ee dengan alif lam
al-ahdiyah. Kalau kita artikan yaitu
bagi Allah nama-nama tersebut yaitu
suatu yang sudah dikenal. Nama-nama
tersebut ya.
Jadi suatu yang dikenal ya. sehingga
nama-nama tersebut ini syarat pertama.
Jadi syarat-syarat syarat pertama yang
ee nama-nama tersebut
ee sudah di sudah dikenal, sudah makruf,
sudah dikenal.
Ya, kalau kita bilang roaitu rajulan,
aku melihat seorang laki-laki belum
dikenal. Tapi kalau saya pakai alif lam
roaitur rajul, saya mengenal si
laki-laki itu ada sin-nya. Jadi sudah
dikenal kalau asma nama-nama, tapi kalau
siapa yang al-asma si nama-nama itu.
Kalau bahasa Arab itu alif lam di antara
fungsinya menunjukkan al-ahdiyah itu
sesuatu yang sudah kita tahu. Sehingga
ketika Allah mengatakan walillahil
asmaul husna bagi Allah nama-nama
maksudnya nama-nama tersebut yang sudah
di dikenal. Yang sudah di dikenal. Nah,
oleh karenanya nama-nama yang karena
sudah dikenal yang nentukan adalah Allah
Subhanahu wa taala yang menentukan.
yang yang menamakan ee yang menentukan
adalah Allah
adalah Allah sendiri.
Dalam hadis Rasul sahu alaihi wasallam
berdoa untuk doa menghilangkan
kesedihan. Kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, "As'aluka bikulmin
huak samma bihi nafsak." Kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam, "As'aluka
bikulli ismin hua lak.
Sammaitahu bi sammaita bihi nafsakita
bihi nafsaka artinya ya Allah aku mohon
bertawasul dengan seluruh namamu yang
itu adalah nama engkau sammaita bihi
nafsak maknanya yang kau namakan dirimu
sendiri yang engkau
menamakan dirimu
dirimu mu
dengan nama-nama tersebut.
Ya. Jadi yang menentukan nama untuk
Allah adalah Allah sen sendiri. Allah
itu Allah sendiri.
Oleh karenanya ee ini menunjukkan
bahwasanya nama Allah harus ada da
dalilnya. Karena Allah yang menamakan
sendiri,
maka harus berdalil, harus pakai dalil.
Dalilnya dari mana? Al-Qur'an maupun Sun
sunah.
Al-Qur'an dan sunah. Sudah ini gak
mungkin kita bikin nama Allah sendiri.
Jadi syarat pertama ini adalah ini
adalah syarat pertama bahwasanya
nama-nama tersebut harus pakai dalil.
Inilah syarat pertama.
bahwasanya nama-nama Allah harus
berdalil. Kenapa harus berdalil? Karena
yang menamakan Allah siapa? Allah
sendiri.
Dan nama-nama tersebut kata Allah,
"Walillahil asmaul bagi Allah nama-nama
itu yang indah, yang terindah." Dari
sini ada beberapa kesalahan terkait ini.
Kesalahan kesalahan terkait syarat
pertama.
Dia bilang kesalahan
terkait syarat pertama.
Apa kesalahan tersebut? Di antaranya
misalnya menamakan Allah tanpa dalil
dengan tanpa dalil. Yaitu memberi nama
kepada Allah tanpa dalil.
tanpa dalil. Seperti apa? Seperti
orang-orang filsafat menamakan Allah
dengan alillatul ula. Seperti nama Allah
alillatul ula yaitu
sebab pertama.
Mereka menamakan Tuhan dengan sebab
pertama. Ya, ini contoh. Atau seperti
mereka namakan al-aqil
yang berakal, yang berpikir.
Gak ada Allah pernah menamakan dirinya
dengan yang ber berakal. Ya, ada
syarat-syaratnya secara secara makna
benar Allah tentu berpikir tapi Allah
tidak pernah menamakan dengan nama
al-Aqil.
Kemudian juga misalnya orang Nasra
menamakan dengan al-ab tuhan bapak.
Ya, Tuhan Bapak ini tentu juga adalah ee
penamaan yang ee yang salah ya, yang
salah ya. Yang salah karena kalau bapak
melazimkan punya apa? A anak ya. Adapun
penamaan alillatul ula ini orang-orang
falasifah ingin menjelaskan bahwasanya
Allah tidak mencipta. Tapi antara
hubungan Allah dengan makhluk adalah
hubungan sebab dan akibat. Ini bahasanya
panjang. Tidak mungkin kita bahas di
sini ya.
Yang kedua misalnya menamatkan nama
kepada kepada Allah tanpa dalil. Ee
pertama menamakan tanpa dalil. Yang
kedua misalnya adalah menetapkan nama
yang buruk bagi Allah.
Oh ini sudah ini ini sudah tadi sama ya.
Sebagian nama dengan ee sebagian nama
berkonsekuensi buruk.
Sebagian nama-nama tersebut di atas
berkonsekuensi buruk.
Tadi kita bilang kalau alab berarti
Allah bapak berarti Allah punya punya
anak.
Kalau illatul ula illatul ula apa kunsi
buruknya? Jadi begini orang falasifah
ini panjang lagi ya. Jadi mereka itu
tidak ingin bilang Allah mencipta. Jadi
mereka menolak sifat penciptaan. Kata
mereka, "Alam itu azali." Alam itu azali
bersama Allah Subhanahu wa taala. Jadi
Allah adalah sebab. Sementara alam
adalah ee almaul. Allah adalah laillah.
Alam adalah almaul. Dan keberadaan Allah
dan alam bersamaan sama-sama azali.
Sehingga mereka tidak bilang Allah
menciptakan, tetapi alam bersama dengan
Allah. Hanya saja Allah adalah sebab.
Alam adalah akibat. Ini panjang cuma
saya tidak pengin bahas ya. Cuma ini
menunjukkan bahwasanya nama alillatul
ula punya konsekuensi yang buruk yang
itu orang-orang falasifah ya menamakan
Tuhan dengan nama tersebut ya sehingga
menolak adanya penciptaan. Padahal Allah
Maha Pen pencipta. Dari tidak ada
menjadi ada. Jadi mereka bilang gak ada
Tuhan mencipta dari tidak ada menjadi
ada. Enggak mungkin. Enggak boleh Tuhan
begitu. Jadi Tuhan asbab makhluk adalah
akibat tanpa ada dari tidak ada menjadi
ada. Karena menurut mereka alam itu
adalah azali bersama Allah.
Ini tentu kekufuran.
Kemudian yang ketiga, tidak boleh
menamakan Allah dengan kias
atau menamakan Allah dengan kias. Ya,
ini tidak boleh
menamakan Allah dengan analogi, dengan
kias atau analogi.
Seperti nama Allah adalah aljawad.
Aljawad
itu maha dermawan. Ini ada
ini ee
ini nama Allah.
Kemudian ada yang pengin
mengkiaskan dengan misalnya assakhi
ini ada dalilnya nama Allah ada dalil.
Ada dalil.
Kemudian ada yang ingin menamakan
assakhi.
Assaki ini juga maknanya dermawan.
Tetapi kata para ulama assak tidak
boleh. Kenapa? karena dia mengandung
makna ee kelembekan atau kelemahan.
Sakhi itu ada makna karena mengandung
makna lemah,
mengandung
makna
lemah. Ya, meskipun secara bahasa Arab
sakhi juga maknanya adalah dermawan,
tapi beda dengan jawad. Jawad
menunjukkan kelapangan, keluasan.
Sehingga tidak boleh kita menamakan
Allah dengan assakhi. Adapun
aljawadilnya, ada dalilnya. Jadi tidak
boleh dengan analogi ya.
Contoh lagi misalnya
nama Allah alqawi.
Contoh nama-nama Alqawi.
Maha Kuat
ini ada ada dalilnya
maha kuat. Ini benar
tapi tidak boleh kita menamakan Allah
dengan aljalad. Adapun aljalad ini juga
sama maha kuat. Sama maknanya juga kuat
tapi ini salah. Kenapa? Karena kuat itu
seperti aljalad maknanya kayak sabar
terpaksa.
Seperti seorang kalau ee seorang yang e
pekerja dia keras, dia kerja keras dia
itu namanya jalat. Ini rajulun jalat ya.
Seorang laki yang kuat bekerja tapi dia
memaksa kayak ada beban yang harus dia
lakukan dengan sabar. Adapun Allah tidak
demikian. Allah melakukan semuanya
dengan mu mudah. Jadi secara makna
aljalad adalah kuat. Namun tidak boleh
untuk Allah karena mengandung makna
kayak terbebani.
Mengandung makna terbebani.
Bab ini kita bahas tentang syarat
pertama bahwasanya nama-nama Allah harus
dari Al-Qur'an maupun sun sunah. Contoh
lagi terakhir ya saya kasih contoh ini.
Jawad Alqawi. Contoh yang ketiga
misalnya adalah alalim.
Alalim nama Allah bukan nama Allah.
Maknanya maha mengetahui. Tidak boleh
kita menamakan dengan al-arif. Al-arif
pemilik makrifat. Ini salah. Kenapa
al-arif tidak boleh? Meskipun maknanya
sama-sama mengetahui. Karena al-arif itu
ada kesan.
Ada kesan mengetahui setelah kejahilan.
mengetahui setelah tadinya tidak tahu.
Tidak tahu ya maka kita tidak boleh
menamakan Allah dengan al-arif tapi yang
ada al-alim
mengetahui berilmu. Berilmu tidak di
tidak mesti didahului dengan
ketidaktahuan. Tapi kalau al-arif
seakan-akan berilmu setelah ketidak
ketidaktahuan. Maka tidak pantas untuk
nama Allah Subhanahu wa taala.
Bab. Ini syarat pertama. Paham, Ibu-ibu?
Ya. Iya. Ini ujian semakin berat.
Ini kita belajar kaidah-kaidah dulu
sehingga ketika kita masuk dalam bahasa
nama-nama Allah kita lebih paham ya.
Syarat pertama. Syarat kedua,
faduhu biha dari firman Allah Subhanahu
wa taala. Syarat kedua.
dari firman Allah, "Faduhu biha."
Berdoalah dengan nama-nama tersebut.
Dengan nama-nama tersebut.
Nah, berarti di antara syarat nama-nama
tersebut bisa digunakan untuk berdoa,
yaitu nama-nama tersebut
digunakan untuk berdoa.
Untuk berdoa. Nah, berdoa di sini faduhu
biha. Berdoalah. Ini ada dua makna.
Dua makna.
pertama adalah menyeru dengan nama
tersebut.
Menyeru nama tersebut
dalam doa.
Contoh kita mengatakan, "Ya razzaq,
wahai maha pemberi rezeki. Urzuqni
misalnya urzu zqni." Jadi, wahai razq
nama Allah apa? Ar arrazak. Kita bilang,
"Wahai
maha pemberi rezeki.
Berilah rezeki kepadaku." Ya, berilah
rezeki kepadaku. Jadi kita panggil Allah
ya razq. Ini namanya kita berdoa ketika
meminta.
Yang kedua ini namanya doaul masalah.
Kalau istilahnya doaul masalah. Ada
istilah nanti ibu-ibu namanya doa
masalah itu doa meminta. Doa meminta
ke kita ketika kita doa meminta, kita
menyebut nama Allah ya raz sesuai dengan
keinginan kita. Misalnya kita ingin
diampuni, kita bilang ya gfur. Apa ya?
Ya gfur misalnya kita bilang ya gfur.
Wahai maha pengampun igfirli.
Ampunilah aku. Ya kita meminta wahai
maha pengampun.
Ya warhamni wa anta khairur rahimin. Ya
Allah rahmatilah aku. Anta arhamurahin.
Engkau yang maha penya penyayang. Ya
Rahman, ya Rahim irhamni. Wahai
pengasih, wahai penyayang rahmatilah
aku. Ya Qawi, ya Aziz, wahai yang maha
kuat, yang maha perkasa. Misalnya
hancurkanlah mereka atau tolonglah aku.
Ini makna pertama. Makna kedua di antara
makna doa adalah duaul ibadah.
Doaul ibadah.
Doa maknanya ibadah. Doa jadi doa ada
maknanya meminta. Doa ada namanya
ibadah.
Maknanya ibadah. Apa maksudnya doa?
Maknanya ibadah yaitu kita
menghayati.
Menghayati
makna dari nama tersebut dalam
kehidupan. makna dari nama tersebut
dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh bagaimana kita beribadah dengan
Ar-Razak?
Beribadah
dengan Ar-Razak
maha pemberi rezeki adalah dengan
meyakini Allah maha pemberi rezeki.
Yakin bahwasanya rezeki semua dari Allah
yaitu yakin
semua rezeki dari siapa? Allah.
Dan ini penting ketika kita meyakini
rezeki semua dari Allah, kita tidak
bergantung kepada manusia. Yang kedua,
kita tidak akan mencari harta yang
haram. Allah kasih rezeki, saya enggak
mau yang haram. Har halal ada Allah
kasih. Saya punya jatah harta halal.
Saya tidak mau cari harta yang ha haram.
Ini contohnya kita ee meyakini
bahwasanya Allah memberi rezeki dalam
kehidupan masing misal kita punya anak,
takut, "Ah, kalau punya anak nanti siapa
yang kasih rezeki?" Bilang masing-masing
anak ada rezekinya. Itu maksudnya
keyakinan itu bukan kita sedang minta
razak, tapi kita yakini makna razak
dalam kehidupan kita se sehari. Banyak
orang beribadah
dia gara-gara cari ee banyak orang cari
rezeki gara-gara cari rezeki dia tidak
beribadah.
Padahal ketika dia beribadah, dia
beribadah kepada sang maha pemberi
rezeki. Supaya rezeki dia lancar,
beribadahlah kepada sang maha pemberi
rezeki. Karena yang memberi rezeki
adalah Allah Subhanahu wa taala. Makanya
Allah berfirman,
carilah di sisi Allah rezekimu.
Jangan yang adapun pekerjaan hanyalah
sebab. Ini contoh contoh lagi misalnya
beribadah
dengan gfur, alghfur.
Beribadah dengan gfur yakin
sebesar apapun dosa Allah mengampuni.
Sebesar apapun dosa
Allah tetap bisa mengampuni. Allah tetap
mengampuni jika bertobat.
Sehingga orang ketika terjerumus dalam
maksiat dia tidak putus asa. Dia tidak
putus asa. Dia sehingga kembali kepada
Allah. Nah, inilah makna faduhu biha.
Berdoalah kepada Allah dengan dua makna.
Pertama, memintalah dengan menyebut nama
Allah. Yang kedua, hayatilah makna-makna
tersebut dan gunakan dalam kehidupanmu
sehari hari-hari. Paham, Ibu-ibu?
Paham, ya? Ini penting kita. Jadi itulah
faduhu biha
doa ada dua doa almasalah doa di sini
maksudnya ada ada dua doa di sini
maknanya berdoalah dengan nama-nama
tersebut bisa doa meminta bisa doa
ibadah
sudah syarat kedua Ah,
sekarang kita lanjut syarat ketiga.
Syarat ketiga,
Allah berfirman, "Walillahil asmaul
husna". Sini al-asma
al-husna.
Alasma artinya nama-nama. Al-husna kalau
bahasa Arab artinya yang terindah.
Dia adalah ee apa namanya? Ee muannas
dari al-ahsan. Al-husna maksudnya kalau
bahasa Arab dia adalah maknanya yang ter
yang terindah.
Yang terindah. Sehingga di antara syarat
nama-nama Allah, nama itu secara zatnya
menunjukkan makna yang indah. Harus
menunjukkan
makna yang indah,
yang indah saja
tanpa mengandung makna yang buruk.
tanpa mengandung kemungkinan makna yang
buruk.
makna yang buruk.
Baik. Contoh. Contoh dua nama. Contoh.
Contoh alghofur. Al-Ghfur nama Allah.
Nama Allah
maha pengampun. Artinya apa? Maha
pengampun.
Dan dalam Al-Qur'an banyak sekali
alghfur. Ini adalah nama Allah. Apakah
ada makna kemungkinan makna yang buruk?
Gak ada. Orang yang memaafkan orang yang
ba kalau orang itu baik apalagi Allah
yang maha pengampun. Ini pujian kepada
Allah. Dia tidak mengandung makna buruk.
Ini adalah pujian.
Ini adalah indah dan pujian bagi Allah.
Sama alqawi al contoh ini ee ini contoh
apa yang ee contoh algfur yang
berikutnya misalnya yang mengandung nama
buruk.
Contoh misalnya kita bilang alfa'al
yang melakukan
alfa'al ya ini tidak disebut nama Allah.
Kenapa? Karena yang melakukannya tidak
menunjukkan pujian melakukan melakukan
apa? Paham? Padahal dalam Al-Qur'an ada
firman Allah fa'alul lima yurid. Dalam
Al-Qur'an ada nama fa'alul lima yurid.
melakukan apa yang tapi kalau sekedar
alfa'al yang maha melakukan gak
menunjukkan pujian secara tidak khusus
menunjukkan pujian
pujian dan keindahan
karena masih ada melakukan apa?
Melakukan banyak perbuatannya
bisa baik bisa buruk dan seterusnya ya.
Sama dalam Al-Qur'an Allah juga
mengatakan punya sifat yurid. Di antara
sifat Allah adalah yuridullah yuridu.
Tapi tidak kita katakan almurid. Almurid
yang maha berkehendak. Enggak juga. Ini
juga tidak. Karena yang maha berkehendak
tidak ada menunjukkan makna. Beda dengan
al-ahad yang maha esa. Terpuji enggak?
Terpuji secara secara zatnya langsung
terpuji. Attawaf yang maha menerima
tobat langsung terpuji. Ya,
seperti al-qadir yang maha kuasa
langsung terpuji. Enggak terpuji. Ya.
Arrahim yang maha penyayang langsung
terpuji enggak terpuji. Tapi kalau yang
maha berkehendak lah ini apa?
Berkehendak apa? Yang maha berbuat maka
tidak pantas untuk menjadi nama Allah.
Padahal di antara sifat Allah adalah
perbuatan. Di antara sifat Allah iradah,
kehendak. Paham bedanya?
Paham, Ibu-ibu?
Harus diulang.
Aduh, ini gimana mau ujian kalau begini?
Ulang.
Saya bilang di antara syarat ketiga
untuk menjadi nama Allah, dia harus
bersifat alhus al-husna. Al-husna itu
bahasa Arab artinya yang terindah.
Sehingga harus nama itu menunjukkan
langsung keindahan, tidak mengandung
kemungkinan makna yang yang buruk. Dan
nama-nama Allah rata-rata langsung
indah. Contoh alghfur yang maha
pengampun. Contoh lagi misalnya Al-Qadir
ya,
al-qadir.
Al-Qadir yang maha kuasa. Terpuji
enggak? Terpuji ya. Orang dengar ih ini
maha kuasa. Selesai berarti terpuji.
Misalnya al-ahad yang maha esa. Terpuji
enggak? Terpuji. Allah yang maha
disembah terpuji enggak? Terpuji. Ya.
Contoh. Alhayyu yang maha hidup terpuji
enggak? Terpuji. Jadi nama langsung
langsung terpuji. Maha kuasa,
Maha Esa,
Maha Disembah.
Maha hidup misalnya
al-alim maha beril maha ilmu. Maha
berilmu.
Ini contoh nama-nama Allah. Attawab maha
menerima taubat. Kita dengar langsung
langsung mengandung makna pujian. Tapi
kalau almurid maha berkehendak
dia tidak memiliki apa? Nilai pujian
secara khusus.
Kehendak macam-macam. Kehendak ini,
kehendak anu, paham? sama alfa'al yang
maha melakukan juga tidak menunjukkan
keindahan secara langsung secara khusus.
Oleh karenanya ee tidak dijadikan
sebagai nama Allah Subhanahu wa taala.
Sama seperti al-makir ini juga gak bisa.
Al-makir
maha pembuat makar.
Kenapa? Ini juga tidak bisa menjadi nama
Allah. Karena Allah hanya dipuji ketika
membuat makar kepada pembuat makar.
Tidak secara mutlak. Karena Allah
dipuji. Karena Allah hanya dipuji
jika berbuat makar
kepada para pembuat apa? Makar. Buat
makar kepada para pembuat makar.
Contoh Allah berfirman, "Wamakaru wa
makarallah wallah khairul muakirin."
Wamakaru
wa makarallah
wallahu khairul makirin.
Mereka berbuat rencana buruk, berbuat
makar. Kita ngerti bahasa Indonesia
makar, apalagi musim politik. Oh, ini
makar. Sudah ngerti.
Waru. Mereka berbuat makar.
Wamakarallah. Allah juga berbuat makar.
Tetapi makar Allah lebih hebat. Wallahu
khairul makirin. Tapi kita muji Allah.
Allah makarnya terhebat bagi orang-orang
yang buat makar. Jadi mereka bikin makar
Allah balas dengan makar Allah. Mana
yang lebih hebat? Makar mereka atau
makar Allah? Makar Allah. Tapi kita
enggak mungkin menamakan Allah dengan
almakir. Sang pembuat makar. Kesannya
jelek.
Jadi Allah hanya dipuji ketika Allah
membuat makar kepada para pembuat makar.
Adapun kalau cuma Allah sang pembuat
makar enggak enggak pantas. Maka makir
bukan nama Allah. Ini contoh maksud saya
nama Allah itu secara zatnya langsung
menunjukkan kepada puji pujian.
Paham?
Masih bingung lagi ibu-ibu?
Salah bapak-bapak sudah paham. Ibu-ibu
yang jadi masalah.
Nama Allah Al-Hakim yang maha bijak.
Terpuji enggak? Langsung enggak perlu.
Sudah dalam se segala kondisi maha
al-Hakim maha terpuji. Ee pasti terpuji.
Dalam kondisi pun terpuji. Al-Hakim Maha
Bijak. Misalnya
Al-Quddus Maha Suci terpuji enggak?
Terpuji. Al-Aziz maha perkasa terpuji
enggak? Terpuji. Selesai. Tapi kalau
Almakir alfaal gak jelas pujiannya tidak
langsung secara langsung. Dari sini
nama-nama Allah harus ee memberi pujian
secara langsung. Ini kaidah pertama bisa
kita sarikan bahwasanya untuk menentukan
nama Allah harus memenuhi tiga
persyaratan. Syarat pertama harus datang
dalam Al-Qur'an dan sun sunah. Karena
nama-nama Allah yang kasih. Gak boleh
kita bikin nama-nama sendiri. Alab,
alillatula, alaqil. Enggak boleh.
Ee syarat yang kedua bisa digunakan
untuk berdo berdoa. Doa ada berapa tadi,
Ibu-ibu? Dua. Doalul masalah sama doaul
ibadah. Yang ketiga, dia harus maknanya
indah secara langsung. Penunjukan
keindahan secara langsung. Tidak
mengandung makna yang tidak baik atau
makna yang buruk. Ini kaidah pertama.
Tib. Sekarang kita masuk pada kaidah
yang kedua.
Kaidah kedua.
Nama-nama Allah
Jumlah nama Allah tidak terbatas. Jumlah
nama Allah tidak terbatas.
Jumlah nama Allah tidak ter sebagian
orang menyangka nama Allah cuma 99
padahal tidak. Ya. Adapun sabda Nabi
sallallahu alaihi wasallam eh apa
namanya? Innalillahi tisatan asman
miatan wahidan man asal jannah. Kata
Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Ya
Allah punya
99 nama.
100 - S. Siapa yang menguasainya?
Menguasainya maka masuk surga.
Sebagian orang menyangka 99 ini adalah
pembatas. Tidak. Tapi ini adalah bukan
bukan batasan. Perhatikan. Bukan
batasan,
tapi menunjukkan spesial. Tapi
menunjukkan spesial.
Seperti saya mengatakan, "Saya punya dua
anak yang hafal Quran."
Apakah berarti anak saya cuma dua? Gak.
Mungkin saya punya anak yang lain, tapi
yang hafal Quran cuma dua. Dua orang.
Selatan, Nabi mengatakan Allah punya 99
nama. Siapa yang mau saya mau surga?
Bukan berarti nama cuma 99.
Tapi ini 99 nama spesial hendaknya
diperhatikan lebih dalam karena sebab
masuk surga. Tapi Allah punya nama-nama
yang lain. Allah tidak membani untuk
seluruh nama. Tapi Allah khususkan 99-9
ini yang mungkin sangat berkaitan dengan
kehidupan kita sehari-hari.
Padahal nama Allah lebih banyak daripada
itu. Ya, paham ini maksudnya ya. Jadi ee
bukan batasan tapi menunjukkan spesial
sehingga penting untuk dipahami
untuk dipahami
dihayati dan diamalkan dan diamal
dihayati
dan diamalkan.
Bisa jadi 599 ini makna yang paling
global, yang paling makna yang paling
dalam atau yang digunakan dalam
kehidupan kita sehari-hari. Bisa jadi
ini nama-nama yang paling penting,
nama-nama yang
sangat urgen
atau sangat penting dalam kehidupan kita
sehari-hari.
Penting dalam kehidupan sehari-hari.
kehidupan di dunia sehari-hari.
Adapun dalil bahwasanya nama Allah lebih
daripada 99
banyak ya. Pertama dalil-dalilnya tiga
dalil. Dalil-dalilnya
pertama dalam hadis doa penolak
kesedihan. Dalam doa penolak kesedihan
kata nabi tadi,
asaluka bikul. Kata Nabi, "Aku mohon
kepada engkau dengan semua namamu.
Samaita bihi nafsak yang engkau
menamakan dirimu dengan nama-nama
tersebut." Azaltahu fi kitabik. Atau
nama-nama tersebut yang nama-nama
tersebut kau turunkan di Al-Qur'an.
Aamtahu ahadan min khalqik. Dan ada
nama-nama yang kau ajarkan kepada
nabimu. Jadi nama-nama di Al-Qur'an ada
di sunah. Paham? Ada ahi
indak atau kau sembunyikan dalam ilmu
gaibmu. Nabi mengatakan nama-nama Allah
itu
ada ada yang di Al-Qur'an.
Anzalta fi kitabik yang di Al-Qur'an.
Kemudian kata kata kata Nabi lagi, "Awam
a min khq atau kau ajarkan kepada
seorang dari hambamu yaitu yang lewat
Nabi yang Nabi diajarkan." Berarti dalam
hadis kan Nabi diajarkan berarti dalam
apa? Dalam hadis.
Kemudian kata kata kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam, "Ata bihi ilmibak,
nama-nama yang kau simpan dalam ilmu
gaibmu yang kau
engkau simpan dalam ilmu gaibmu yang
engkau simpan
dalam ilmu gaibmu."
Nah, inilah yang menjadikan bahwasanya
nama-nama Allah itu ada yang tidak Nabi
tidak tahu dan bukan di Al-Qur'an.
Berarti ada nama yang bukan di Al-Qur'an
dan Nabi juga tidak tahu. Berarti nama
Allah tidak terbatas. Yang di Al-Qur'an
hadis ada nama-nama yang Allah simpan.
Yang Allah simpan berarti bukan di
Al-Qur'an,
bukan juga di hadis.
Paham, Ibu-ibu? Paham? Dan ini dalil
yang pertama.
Dalil yang kedua.
Nabi sallallahu alaihi wasallam
ketika
ee bercerita tentang syafaatul uzma
ketika
nanti
di hari kiamat
Nabi diajari nama-nama baru.
Ajari nama-nama baru.
Jadi kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam dia cerita Rasulull sahu alaihi
wasallam cerita nanti hari kiamat ketika
syafaatul uzma ketika orang-orang minta
syafaat kepada Nabi Adam, Nabi Adam
menolak kepada Nabi Nuh. Nabi Nuh
menolak kepada Nabi Ibrahim, Nabi
Ibrahim menolak kepada Nabi Musa, Nabi
Musa menolak, Nabi Isa, Nabi Isa menolak
sampai kepada Nabi Muhammad. Kata Rasul
sahu alaihi wasallam, "Tumma
yaftahullahu alaiya." Kemudian Allah
ajarkan kepadaku min mahamidihi tentang
pujian-pujian kepada Allah wusnana
alaihi dan sanjungan kepada Allah. Saian
lam yaftahu ala ahadin qobli yang Allah
tidak pernah ajarkan kepada seorang
sebelumku. Jadi Nabi baru tahu dalam
riwayat yang lain kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam, "La uhsinahan sekarang
saya belum tahu.
Nanti hari kiamat Nabi diajari nama-nama
baru. Berarti Nabi sekarang gak tahu."
Ini dalil bahwasanya Nabi belum
menguasai seluruh nama Allah. Karena ada
nama Allah yang baru Nabi ajar, Allah
ajarkan ketika hari kia kiamat. Paham
ibu-ibu? Sisi pendalilannya. Berarti
nama Allah tidak terbatas pada Al-Qur'an
dan sunah saja.
Demikian juga dalam hadis yang dalil
yang ketiga.
Ketika salat malam,
Nabi berdoa,
"La uhsianaan alik anta kama asnit
nafsik." Kata Nabi, "La
uhsi uhsi
sana alaik
anta kama
asnaita ala nafsik." Yang maknanya, "Ya
Allah, aku tidak mampu menguasai seluruh
pujian kepadamu." Perhatikan. Aku tidak
mampu menguasai seluruh pujian bagimu.
Aku tidak mampu
menguasai
seluruh pujian bagimu.
Engkau sebagaimana engkau yang memujimu.
Yang bisa menguasai hanyalah engkau.
Anta kama asnaita ala nafsik. Artinya
yang menguasai cuma dirimu sen sendiri.
Berarti Nabi tidak bisa. Kalau Nabi
menguasai seluruh nama Allah, Allah Nabi
akan bisa memuji Allah dengan seluruh
nama-namanya. Tetapi ternyata Nabi tidak
mampu menguasai seluruh pujian kepada
Allah Subhanahu wa taala.
Paham, Ibu-ibu?
Anta kama asnaita ala nafsik, yaitu
engkau yang bisa memuji dirimu sendiri.
Anta kama asnaita ala nafsik. Maknanya
engkau yang bisa memuji dirimu sendiri.
Berarti ada nama-nama Allah yang kita
tidak yang Nabi tidak kua kuasai.
Ini ada mobil Honda B2490 SMA. Boleh
minta kuncinya parkir depan pagar orang.
Honda B2490. tolong kasih
HB.
Kemudian dalil yang keempat, Ibu-ibu
yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala,
bahwasanya nama Allah bukan cuma 99.
Dalil yang keempat
ternyata setelah dikumpul,
ternyata
setelah dicek
ada 150 nama dalam Al-Qur'an maupun
sunah. 150 dalam Al-Qur'an ada 100 150
na nama. Kurang lebih 150 nama
menunjukkan lebih daripada 99
nama.
Paham, Ibu-ibu?
Ternyata setelah dicek dalam Al-Qur'an
dan sunah ada berapa? 196 nama. Ini
sudah
150 nama. Jadi bukan cuma 99. Setelah
dicek Al-Qur'an dan sunah, dicek,
dikumpulin ternyata ada 150 nama. Ini
yang ada aja 150 nama. Bagaimana lagi
yang Allah simpan dalam ilmu gaibnya?
150 nama
dalam Quran dan hadis. Ya, dalam
Al-Qur'an dan hadis.
Dan hadis
150 nama. Kurang lebih 150 nama dalam
Al-Qur'an dan hadis. Sehingga
menunjukkan bahwasanya nama Allah bukan
cuma 99. Nah, 99 itu cuma nama spesial.
Dari situ khilaf di antara 150 nama ini
mana yang 99 khilaf di kalangan para
ulama? Mereka sepakat pada 89, mereka
khilaf pada 10.
Jadi di 50 ini siapa mana nama-nama yang
dipilih untuk menjadi 99 nama yang
hendaknya diberi perhatian lebih
spesifik?
Yang hendaknya diberi perhatian lebih
spesifik ternyata mereka sepakat pada
berapa? 89.
Dari 90 dan 89. Sepakat semua ulama
inilah termasuk 99 nama. Adapun 10nya
ada khilaf di kalangan mereka tetapi
mereka berusaha mencari 99 nama terut.
Intinya ee nama Allah lebih daripada 99.
Ini agar apa faedahnya kita membahas
ini? Agar kita tahu bahwasanya Allah itu
maha indah lebih daripada yang kita
bayangkan.
Yang kita tahu namanya saja 150 ini
sudah luar biasa sifat-sifat Allah.
Ternyata sifat-sifat Allah lebih
daripada itu.
Itu faedahnya. Faedahnya apa? Agar kita
tahu kita tidak mampu untuk memuji
Allah. Bahwasanya Tuhan kita tuh jauh
lebih indah daripada tidak bisa sampai
akal kita. Sedangkan yang 99 nama atau
150 nama yang kita pelajari saja sudah
menunjukkan bagaimana indahnya Allah.
Bagaimana lagi yang lebih yang tidak
kita keta ketahui?
Paham, Ikhwan? Ikhwan paham terus
akhwat, Ibu-ibu paham enggak? Insyaallah
ya lihat aja nanti ujiannya.
Tayib.
Kalau sudah kita lanjutkan kaidah
berikutnya.
Perlu diketahui ada hadis disebutkan
gini. Walillahi eh apa? Lillahi
tisatunasman.
Allah punya 99 nama. Man ah jannah.
Siapa yang menguasainya masuk surga
yaitu
disebutkan 99 tapi itu hadisnya ma diif.
Semua hadis yang menunjukkan 99 nama itu
hadisnya diif. yang sahih cuma sampai
pada lafal Allah punya 99 nama yang yang
khusus, spesial. Adapun perinciannya
semua datang dalam sanad yang lemah.
Makanya para ulama khilaf tentang 99
nama tersebut. Tapi mereka sepakat pada
angka berapa? 89.
Tib. Paham sampai sini, Ibu-ibu.
Kita masuk pada kaidah ketiga
atau saya jelaskan tadi saya ulangi.
Jadi
nama Allah
kita tegaskan aja biar biar masuk ujian.
Nama Allah dalam Al-Qur'an
dan Asunah
kurang lebih berapa tadi? 150 nama.
Dari 150 nama dicari berapa? 99 apa nama
spesial?
Para ulama sepakat pada 89. Para ulama
sepakat
pada 89 nama.
Adapun penentuan 10-nya ada khilaf.
Adapun
penentuan 10 sisanya
10 sisanya
ada perselisihan.
Paham?
Sampai sini, Ibu-ibu. Tib kita lanjut.
Kaidah ke berapa sekarang? Ketiga.
Kaidah ketiga.
Setiap nama pasti mengandung sifat.
Setiap nama
pasti mengandung sifat.
Karena Allah tidak memiliki nama
tersebut kecuali mengandung sifat.
Misalnya arrahim, nama Allah Maha
Penyayang. Berarti Allah punya sifat r
rahmat. Pasti Allah punya sifat rat ya.
Sifat
dan nama-nama Allah. Jadi misalnya
misalnya arrahim.
Arrahim ini ini apa namanya? Maha apa?
Maha penya penyayang.
Berarti Allah mengandung sifat rah
rahmat. Sifat arrah arrahmat. Sifat
sayang.
Sifat sayang. Karena Allah tidak
dikatakan
maha penyayang kecuali memiliki sifat
menya menyayang. Ini sudah jelas.
Berarti setiap nama pasti mengandung
apa? si sifat. Dari sini di antara
bantahan orang yang mengatakan sifat
Allah cuma tujuh misalnya atau delapan.
Kita bilang nama Allah banyak. Gimana
dibatasi nama Allah? Sifat Allah cuma tu
tujuh. Padahal setiap nama pasti
mengandung si sifat.
Enggak mungkin sifat Allah cuma tuuh.
Sifat Allah banyak. Semakin banyak sifat
Allah semakin terpuji. Enggak. Seb
mereka hanya membatasi nama Allah. Cuma
sifat Allah cuma berapa? Tujuh. Yaitu
alilmu, alqudrah, al-iradah, alhayat,
assama wal bashar wal kalam. Mereka
bilang sifat Allah cuma tujuh. Ilmu,
kekuasaan atau kudrah, iradah, kehendak,
kehidupan, maha hidup. Terus mendengar,
melihat, berbicara cuma tujuh. Ada
tambah satu idrak, yaitu menguasai. Yang
benar nama Allah. Setiap nama Allah
mengandung apa si? S si sifat. Karena
nama Allah sangat banyak bahkan lebih
daripada yang kita ketahui, maka
sifat-sifat Allah sangat banyak. Sifat
kesempurnaan. Setiap sifat pasti sem
sempurna. mengandung sifat
yang sifat tersebut sempurna.
Sempurna.
Makanya dalam terjemahan kita tambah
maha. Karenanya,
karenanya dalam terjemahan kita tambah
maha
untuk membedakan kita tambah maha
untuk membedakan dengan sifat makhluk.
Untuk membedakan sifat makhluk.
Contoh dalam Al-Qur'an, sifat mendengar
dan melihat bagi makhluk dan sifat
mendengar dan melihat bagi manusia.
Sifat contoh ini ayat di sinilah
contoh
sifat
mendengar.
Mendengar
dan melihat.
Pertama
bagi Allah
dalam Al-Qur'an ya. Yang kedua bagi
makhluk.
Kata Allah Subhanahu wa taala dalam
Al-Qur'an ee
inna khalaqnal insana min nutfatin
amsyajin nabtalihi faja'alnahu samian
basir. Kata Allah Subhanahu wa taala di
sini,
"Faja'alnahu
samian basir."
Perhatikan. Kata Allah, "Kami jadikan
manusia tersebut mendengar dan melihat.
Kami jadikan
jadikan manusia tersebut
mendengar dan melihat. Mendengar
dan melihat. Berarti manusia bisa
mendengar, bisa melihat, enggak? Bisa.
Ternyata Allah ini yang saya carikan
ayatnya
dalam surah Al-Insan surah 76 ayat 2.
Ini Quran surah Al-Insan surah 76 ayat
2.
Nah, Allah juga sebutkan dalam Al-Qur'an
tentang Allah. Bagi Allah ayatnya sama
samian basiron. Kata Allah subhanahu wa
taala, waallahu
samian
basir. Perhatikan.
Wakallahu samian basirah. Surat Annisa
ayat 58.
Ee 134
Quran surah An-Nisa
4 134.
Lihat juga dalam surat ayat 58 sama
samian basira. Innallaha kana samian
basira. Wakallah samian basira. Allah
sesungguhnya Allah itu apa? Mendengar
dan apa? Dan melihat. Berarti sama dong
dengan manusia. Benar. Maknanya sama.
Tetapi kita untuk bedakan kita tambah
sini maha.
Karena meskipun Allah mendengar dan
melihat seperti manusia, tapi dua hal
yang berbeda. Perhatikan sini contoh
untuk membedakan ya.
Ee misalnya melihat
melihat
Allah makhluk.
Bedanya apa? Kalau makhluk
penglihatannya terbatas.
terbatas. Allah tanpa ba tanpa batas.
Makhluk terbatas banyak. Kalau enggak
ada cahaya enggak bisa lihat. Kalau di
balik tembok enggak bisa lihat. Terlalu
kecil enggak bisa lihat. Terlalu jauh
enggak bisa lihat. Nempel di mata juga
enggak bisa lihat. Terbatas.
Kemudian juga didahului dari tidak bisa
lihat. Didahului
dari tidak bisa lihat. Bayi tidak
langsung bisa apa? Lihat. Kemudian
nantinya melemah. Melemah. Lama-lama
pakai kacamata lama-lama silinder lihat
istrinya jadi dua.
Iya. Enggak silinder bisa lihat dua
enggak? Jadi jadi dua.
Sudah dua tadi. Tahu-tahu jadi dua kamu.
Kenapa? Mata melemah. Melemah. Jadi
sama-sama melihat tetapi melihat Allah
berbeda.
Mendengar juga demikian ya. Berbeda. Ini
contoh tentang melihat. Melihat Allah.
Melihat makhluk sama-sama maknanya.
Jadi, setiap sifat pasti setiap nama
pasti mengandung apa? Sifat.
Dan setiap sifat pasti sempur sempurna.
Makanya kita tambah maha. Apa faedahnya
kita tahu kaidah ketiga ini? Bahwasanya
kita tahu sifat Allah sangat ba banyak.
Faedah
karena nama Allah tidak terbatas 99
tidak terbatas.
99 berarti juga demikian juga sifat Al
Paham enggak? Demikian juga sifat Allah.
Sifat-sifat Allah.
Kemudian semakin banyak sifat
Allah semakin terpuji. Enggak
sifat Allah semakin agung.
Satu aja sudah bikin agung apalagi ba.
Ini faedahnya.
ini faedahnya
paham
kita lanjut ya.
Kita lanjut kaidah ke berapa? Kaidah
keempat.
Kaidah keempat.
Empat. Nama Allah.
Nama-nama Allah. Asma al-asma
alhusna.
Alasmaul husna itu ee a'lamun wa ausf
ya.
Sebagai fungsinya sebagai nama.
Sebagai nama disebut dengan a'lamun.
a'lamun
dan fungsinya sebagai penunjuk sifat dan
ausfungsinya
sebagai penunjuk sifat.
Sebagai penunjuk sifat
sudah kita bahas tadi kan setiap nama
mengandung apa?
Baik.
Maka jika ditinjau dari jika ditinjau
dari nama berdasarkan tinjauan ini,
tinjauan sebagai nama,
sebagai nama-nama,
maka semua nama menunjukkan kepada Al.
Maka maka semua nama menunjukkan pada
satu zat.
Semua nama
menunjukkan pada satu zat. Siapa?
Kepada satu zat
yaitu Allah.
Makanya disebut dengan
ee asma Allah. Kalau ditinjau dari al'
alam dia mutaradifah. Disebut istilahnya
mutaradifah.
Mutaradifah itu bahasa Arab artinya
sinonim.
Sinonim.
maknanya sama. Saya contoh contoh ya.
Allahu dengan alghofur eh enggak usah
gitu.
Ee alghofur
sama dengan attawab, maha pemberi taubat
sama dengan alqawi
sama dengan apaagi misalnya
arrahim.
Karena semuanya sama dengan Al Allah.
Paham? Jadi kalau ditinjau dari nama
tidak ada bedanya. Al-Ghafur, At-Tawab
semuanya menunjukkan kepada siapa?
Allah. Ini namanya berarti semua nama
sinonim. Sinonim di ditinjauan sebagai
fungsinya sebagai na nama. Karena kita
bilang arrahim bukan bukan zat yang lain
ya arrahim ya alghfur semuanya maksudnya
adalah Al Allah. Maka ditinjau dari
penamaan semua nama Allah sinonim.
Paham?
Ini kaidah ini kenapa? Untuk bantah
orang-orang Muktazilah.
Adapun fungsinya sebagai penunjuk sifat,
maka ditinjau berdasarkan tinjauan ini.
Tunjaka
nama Allah satu berbeda dengan yang
lainnya. Setiap nama Allah
berbeda dengan nama yang lain.
Kenapa berbeda dengan nama yang lain?
Karena sifatnya beda-beda. Paham?
yang lain. Paham, Ibu-ibu? Maka kita
bilang algfur tidak sama dengan attawaf.
Tidak. Attawaf juga tidak sama dengan
alqawi.
Alqawi juga tidak sama dengan ar rahim.
Kenapa tidak sama? Karena alghfur
mengandung makna almagfirah. Sifat apa?
Almagfirah. Attawab maksudnya qabulut
taubah.
Qobulut taubah. Menerima taubat. Alqawi
mengandung sifat apa? Alquwat. Kekuatan.
Arrahim mengandung sifat arrahmat.
Dan almagfirah tidak sama dengan
menerima tobat, tidak sama dengan
kekuatan, tidak sama dengan kasih
sayang.
Beda dengan ini. Kalau ini sama semua.
Yang sebelah kiri ini sama semua karena
menunjukkan kepada zat yang sama yaitu
siapa? Al.
Adapun yang ini beda semua karena setiap
nama mengandung sifat yang ber berbeda.
Paham?
Adapun Muktazilah mereka mengatakan
setiap nama Allah tidak mengandung
sifat.
Muktazilah mengatakan setiap nama Allah
tidak mengandung sifat. Makanya setiap
nama Allah semuanya sama. Sama-sama
kepada Allah tidak ada mengandung sifat.
Nah, kita bantah dengan kaidah yang ini
bahwasanya jika ditinju dari sifat nama
Allah berbeda satu dengan yang yang
lainnya.
Sudah, Ibu-ibu kayaknya sudah ya. Nanti
ujian semakin berat.
Bapak-bapak sih kuat aja Ibu-ibu yang
belum tentu kuat.
Yang penting paham dulu ya. Kalau
Muktazilah, perhatikan faedah
Muktazilah.
Faidah
Muktazilah menolak sifat Allah. Kenapa?
Maksudnya panjang Muktazilah menolak
sifat-sifat Allah.
Sehingga mereka berkata sehingga menurut
mereka
nama Allah semuanya sinonim.
Semuanya
sinonim
karena kosong dari si sifat. Karena
kosong dari sifat.
Jadi nama Allah hanya sekedar nama
karena tidak mengandung sifat. Ya
arrahim ya gfur sama saja semuanya
Allah. Adapun kalau ahlusunah nak
tinjauan apa dulu? Kalau tinjauan nama
sinonim, tapi kalau tinjauan sifat
berbeda satu nama dengan nama yang yang
lainnya.
Demikian saja ibu yang dirahmati Allah
subhanahu wa taala kajian kita.
Insyaallah kita bertemu di
pengajian berikutnya dan biasa ujian
dulu ya. Bab demikian saja. Wabillahi
taufik hidayah. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.