Transcript
nawDJ4JFKco • Kitab Al-Kabair #42: Ikut Berpartisipasi Dalam Keributan Di Zaman Fitnah
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2637_nawDJ4JFKco.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu
ala taufikin asadu alla ilahaillallah
wahdahu la syarikalahuiman
wa asadu anna muhammadan abduhu waasul
ridwan allahumma shli alaihi waa alihi
wa ashabi wa ikhwan pada pertemuan lalu
telah kita bahas tentang bahayanya
ee menumpakkan darah
seorang muslim ya maka bab berikut masih
terkait yaitu ketika terjadi fitnah
Al Imam e Syekh Muhammad Abdul Wahab
rahimahullah berkata, "Babun taksirus
sawadi fil fitan." Bab tentang
ikut meramaikan, ya. Ikut ee meramaikan
ya, ikut berpartisipasi
dalam keributan ketika di zaman fitnah
atau dalam ketika terjadinya
fitnah-fitnah.
Maksudnya kalau timbul fitnah di antara
kaum muslimin, kita jangan ikut-ikutan.
Kalau kita ikut-ikut nimbrung, ikut-ikut
turun ke jalan, ya. Ya. Ini seakan-akan
kita ikut meramaikan.
Kalau sudah ikut meramaikan biasanya
semakin semangat. Kalau sudah semakin
semangat di sini terjadi pertumpahan
darah. Kemudian beliau membawakan hadis
an Abi Hurairah radhiallahu anhu anna
rasul sahu alaihi wasallam qal. Rasul
sahu alaihi wasallam bersabda man hamala
alainilaha falaisa minna. Siapa yang
mengangkat senjata ditujukan kepada
kami, maka bukan dari golongan kami.
Waman ghasyana falaisa minna. Siapa yang
melakukan gis kecurangan maka bukan dari
kami. Hadis riwayat Muslim rawahu
Muslim.
Ee
di sini Rasulullah sahu alaihi wasallam
memberi peringatan, siapa yang
mengangkat senjata ditujukan kepada
sesama kaum muslimin, maka bukan dari
golongan kami. Dan ini ee menunjukkan
peringatan keras bukan dari kami ya,
bukan dari kami. Seakan-akan bukan dari
kaum muslimin tapi bukan diartikan
berarti kafir enggak. Tetapi ini
ungkapan litaglid kata Imam Ahmad
menunjukkan ee penegasan yang keras.
Siapa yang hancungkan pedang
diarahkan kepada kami bukan dari kami.
Ya. Ya. Menunjukkan peringatan keras
dari Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam. Dan kalau terjadi di fitnah,
fitnah itu peperangan di antara kaum
kaum muslimin. Maka ee biasanya pedang
senjata ditujukan kepada sesama muslim.
Makanya saya mengingat hadis dari atau
riwayat asar disebutkan oleh Al Imam
Bukhari dalam Aladabul Mufrad. Ketika
ada seorang ee meninggal kemudian dia
berwasiat agar untanya digunakan
fisabilillah.
Maka kemudian ada seorang berkata,
"Serahkan untamu kepadaku karena saya
akan masuk dalam pasukan Ibnu Zubair
akan berjihad." Kan ayahmu ingin untanya
digunakan fisabilillah. Biarkan untamu
untukku
agar saya gunakan fisabilillah. Maka
sang anak bilang, "Tunggu dulu, Om. Kita
tanya dulu sama Ibnu Umar."
Akhirnya mereka pergi ke Ibnu Umar.
Kemudian dia cerita, "Ayah saya
meninggal dan ini untanya diwasiatkan
untuk fisabilillah. Sementara om saya
pengin menggunakan unta ini dalam
pasukan Ibnu Zubair." Maka Ibnu Umar
kemudian mengingatkan
namanya jihad itu kalau muslimin lawan
lawan kaum musyrikin. Maka serahkan unta
tersebut di jalan Allah. Tapi kalau sama
muslim mending kau meninggalkannya.
Karena ketika terjadi fitnah antara
pasukan kaum muslimin di Madinah dengan
pasukan kaum muslimin di Syam, antara
Ibnu Zubair dengan ee Abdul Malik bin
Marwan ya tentunya Ibnu Umar memandang
ini fitnah maka tidak usah ikut-ikutan
dan itu fikihnya Ibnu Umar radhiallahu
taala anhuma ya. Maka kalau sudah
terjadi fitnah kita angkat senjata kita
tujukan kepada sesama muslim. Ini bahaya
ya, karena kita tahu betapa dahsyatnya,
bahayanya menumpahkan darah seorang
muslim.
Makanya ketika Utsman mau dibunuh,
Utsman berkata kepada para pemberontak
ketika itu, "Apa alasan kalian ingin
bunuh saya?" Bukankah Rasulullah
bersabda, "Ladillam muslim biat
bahwasanya darah seorang muslim tidak
halal kecuali karena tiga perkara."
Anfsu bin nafsi.
Jika seorang sudah menikah kemudian
berzina silakan dirajamin sampai mati. W
nafsu binafsi atau seorang membunuh
orang lain silakan dia dikisos dibunuh.
Atau orang yang murtad almufariqu lidini
almufar jamaah wal mufariqul bidini.
Yang murtad silakan dibunuh saya.
Salahnya di mana? Saya tidak berzina,
saya tidak bunuh orang dan saya tidak
murtad. Mereka tidak peduli dan mereka
membunuh siapa? Utsman bin Affan. Ya,
makanya kita tidak boleh mengangkat.
Jangankan membunuh, mengancungkan
senjata menuju kepada seorang muslim ini
terlaknat. Perbuatan terlaknat ya.
Apalagi sampai ikut nimbrung, ikut
meramaikan, memprovokasi kemudian
terjadi pertumpahan darah. Makanya Syekh
Abdul Lahab mengatakan hati-hati
meskipun terkadang seorang masuk dalam
rombongan mereka, saya tidak cuma
ikut-ikutan. Saya tidak ada tujuan
seperti mereka. Saya tidak ingin bunuh
sama saudara muslim, cuma ikut nimbrung,
kumpul sama mereka, ngobrol sama mereka.
itu termasuk ikut mera meramaikan,
dilarang sudah ter kalau ada nuansa
fitnah dan ada potensi akan terjadi
pertumpahan darah sama kaum muslimin
menjauh sejauh-jauhnya.
Saya dulu punya kawan orang Libya kita
sering makan bareng sih sering jalan
bareng. Terus kemudian ada ribut di
antara dua kabilah ketika itu di Libya
karena teman saya itu meninggal
rahimahullah. Kemudian saya tanya kenapa
dia meninggal? Ada dua kabilah kemudian
ingin perang maka dia masuk dia
damaikan. Dia damaikan akhirnya damai.
Ketika dia keluar dari tempat
perdamaiannya ditembak. Subhanallah.
Kalau sudah musim fitnah kadang-kadang
padahal dia niatnya baik mendamaikan itu
pun dia kena imbasnya dia pun dibunuh.
Karena ada yang tidak suka perdamaian.
Tidak suka perdamaian. Makanya kalau ada
segala sesuatu yang bisa menimbulkan
fitnah pertumpahan darah sama kaum
muslimin, kita jauh ya. kita menjauh.
Apalagi bilang jihad, jihad ya. Jihad
mau lawan siapa? Orang ada orang kafir
mau kita perangi. Ternyata sesama
muslim. Ujung-ujungnya masalah dunia,
ujung-ujungnya masalah kekuasaan,
ujung-ujungnya masalah masalah harta,
bukan masalah agama. Buktinya yang
ribut-ributri ribut itu kalau dikasih
jabatan langsung diam. Iya. Benar atau
tidak benar? Berarti kan bukan urusan
agama, tapi urusan apa? Duit.
Kemudian menyuarakan dengan
jihad-jihadnya
TB. Kemudian al Imam ee Muhammad bin
Wahab rahimahullah membawakan riwayat
wafil Bukhari dalam Sahih Bukhari an
Muhammad bin Abdurrahman bin Abil Aswad
an Muhammad bin Abdurrahman
eh
Abil Aswad ya
qala quti ala ahlil madinati baun
faktutibtu fihi atau faktatabtu fihi
diputuskan akan ada pasukan untuk
menyerang jadi penduduk Madinah
ee memilih pasukan untuk menyerang
penduduk Syam.
Khilaf di antara fitnah ketika itu
penduduk Madinah melawan pasukan dari
Syam. Dan aku pun terdaftar atau
mendaftarkan diriku untuk masuk dalam
pasukan tersebut.
Falaqitu Ikrimah
faakhbart. Kemudian saya ketemu dengan
Ikrimah. Ikrimah muridnya Ibnu Abbas,
seorang tabiin yang mulia. Saya kabarkan
bahwasanya terjadi
ee penduduk Madinah mau kirim pasukan
perang melawan penduduk negeri Syam
sama-sama Muslim dan saya sudah daftar
saya akan ikut pasukan perang melawan
mereka. Maka saya ketemu dengan Ikrimah.
Ikrimah berkata atau dia berkata,
"Fanahani asyaddan nahyi." Maka Ikrimah
pun melarangku dengan larangan yang
keras. Waqala. Dan dia berkata,
"Akhbarani Abdullah bin Abbas telah
mengabarkan kepadaku Ibnu Abbas itu
guruku."
Anna unasan minal muslimin kanu maal
musyrikin. Sesungguhnya sekelompok
manusia bersama sekelompok orang bersama
kaum muslimin yaitu sekelompok orang
dari kaum muslimin kanu maal musyrikin.
Mereka bergabung bersama kaum musyrikin
yukirunawadal musyrikin. Mereka ikut
meramaikan pasukan kaum musyrikin ala
rasulillah sallallahu alaihi wasallam
untuk menyerang Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam. Jadi maksudnya dulu ada
sebagian sahabat tidak ikut berhijrah
padahal mereka untuk mampu untuk
berhijrah. Mereka tidak ikut berhijrah
ketika para sahabat sudah berhijrah ke
Madinah mereka tidak berhijrah. Mereka
tetap di Makkah padahal mereka muslimin
dan mereka beriman. Tidak ada keraguan
tentang keimanan mereka. Cuma mereka ada
urusan dunia. Mungkin mikir keluarga,
mikin kerjaan, mikin macam-macam.
sehingga sebagian mereka tidak ikut
hijrah.
Ketika terjadi perang perang Badar, maka
mereka ini dipaksa untuk ikut dalam
rombongan kaum musyrikin. Dan mereka
tahu mud mereka tidak mau ikut perang
tapi dipaksa.
Dan ini seakan-akan ikut meramaikan
pasukan kaum musyrikin. Meskipun niatnya
tidak sama. Mereka tidak ingin menyerang
Nabi. Bahkan mereka beriman kepada Nabi.
Tapi keberadaan mereka dalam saf Abu
Jahal ini memperbanyak
meramaikan safnya Abu Abu Jahal. Ya.
Maka Ikrimah menceritakan perkataan Ibnu
Abbas tentang kisah mereka ini. Jadi
mereka dibawa ke rombongan pasukan kaum
musyrikin. Yukiruna sawadal musyrik.
Meramaikan
saf atau pasukan kaum musyrikin untuk
menyerang Rasulullah sahu alaihi
wasallam. Fayati sahmu yurma bihi
fayusibu
ahadahum fayqtulahu. Maka kemudian
tiba-tiba ada panah. Mereka tidak ikut
perang karena mereka tidak ingin
menyerang pasukan kaum muslimin. Tapi
ada panah akhirnya mengenai mereka.
Salah seorang dari mereka ini akhirnya
meninggal. A yudrab fayuqtal atau di di
dipenggal
dengan pedang akhirnya meninggal dunia.
Dihantam dengan pedang akhirnya
meninggal dunia. Apakah mereka dapat
uzur? Mereka tidak dapat uzur. Allah
mengatakan faanzalallah. Allah turunkan
firmannya. Innalladina tawaumikatu
anfusim. Sesungguhnya orang-orang yang
diwafatkan oleh malaikat dalam kondisi
menzalimi diri mereka sendiri. Jadi
ketika mereka tidak berhijrah, akhirnya
dipaksa keluar bersama pasukan Abu
Jahal, akhirnya terbunuh. Mereka tidak
dapat uzur karena mereka ikut meramaikan
pasukan kaum musyrikin. Ini yang
diingatkan oleh Ikrimah. Kau jangan
ikut-ikutan ni. Kalau kau ikut-ikutan
ikut dalam pasukan, meskipun kau mungkin
tidak berniat membunuh seorang muslim
pun dari pasukan Syam, tapi kok ikut
meramaikan dan nanti kalau tiba-tiba ada
panah kena engkau, kok salah sendiri.
Kenapa masuk dalam rombongan? Ya, maka
Ikrimah melarang dengan larangan keras.
Jangan ikut-ikutan
kalau ada musim fitnah jangan
ikut-ikutan memperkeruh meramaikan salah
satu dari dua saf yang terjatuh dalam
hal fit fitnah.
Dan banyak sahabat ketika terjadi fitnah
mereka tidak ikut-ikutan. Makanya ketika
terjadi fitnah antara Ali bin Abi Thalib
dengan Muawiyah yang ikut serta mungkin
cuma 30 sahabat. Sisanya enggak ada
ribuan sahabat enggak ada yang
ikut-ikutan. Enggak ada yang
ikut-ikutan. Bahkan Ali bin Abi Thalib
sebagai amirul mukminin ketika itu tidak
bisa memaksa sahabat untuk ikut dalam
pasukannya. Karena sahabat memang ini
fitnah tidak ikut
itu. Padahal Ali bin Abi Thalib. Gimana
lagi kalau zaman kita kemudian ini bukan
Ali bin Abi Thalib, bukan Muawiyah.
Bahlul, vs Bahlul. Terus kita
ikut-ikutan, sayang. Sayang. Terus
mending yang diperjuangkan akhirat,
terkadang yang diperjuangkan dunia.
Terus kita bunuh orang atau kita
terbunuh, ngapain? Hidup cuma sekali.
Jangan spekulasi.
Pokoknya semua yang berbau fitnah bisa
menimbulkan potensi pertumpahan darah.
Hindar, menghindar, menghindar. Gak
usah. Jangan ikut-ikutan ngomong, jangan
provoka, jangan provokasi
menjauh. Kenapa? Ini fitnah antara
muslim dengan muslim yang yang lain.
Kemudian ee Syekh Abdul Lahab
rahimahullah membawakan e sabda Nabi
sallallahu alaihi wasallam, "Waqul
sallallahu alaihi wasallam, walakin man
radiya wataba." Akan tetapi siapa yang
rida dan mengikuti ini hadis terkait
dengan Rasulullah kabarkan akan ada
penguasa yang ee yang zalim ya.
Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam,
"Innahu yustammalu alaikum umaro fatifun
watunkirun." Akan dijadikan menguasai
kalian para amir-amir, para
penguasa-penguasa.
yang kalian tahu ada ada
kebaikan yang mereka lakukan dan ada
perkara mungkar yang mereka lakukan. Ini
penguasa kadang melakukan kebaikan,
kadang melakukan kebu keburukan.
Kadang kebaikannya lebih banyak, kadang
keburukannya lebih banyak. Adapun
terkait dengan keburukan mereka, faman
kariha faqad baria. Siapa yang benci
dengan perbuatan buruk penguasa maka dia
telah berlepas diri. Waman ankaro. Siapa
yang mengingkari faqad salima maka dia
telah selamat. Walakin yang tidak
selamat siapa? Walakin man radya yang
rida dengan kemungkaran penguasa wataba
bahkan mengikuti maka ini yang yang ya
yang yang berbahaya ya.
Di sini ee
Syekh Abdul Wahab rahimahullah
membawakan asar ini. Mengingatkan
bahwasanya terkadang muncul fitnah dan
kita status sebagai rakyat kemudian
terjadi peperangan sesama muslim
misalnya, maka tidak mesti kita harus
taat kepada penguasa. Tidak mesti harus
taat kepada penguasa. Kalau kita disuruh
untuk masuk perang sama kaum muslimin,
tidak harus taat. Kita melihat itu
kemungkaran. Gak usah ikut-ikutan.
Tib. Waktu Ali melawan Muawiyah,
Ali yang lebih tepat dengan kebenaran.
Tapi apakah semua sahabat ikut Ali?
Tidak. Mereka enggak ikut. Karena yang
mereka memandang ini adalah fit fitnah.
Mereka mereka menjauh. Mereka menjauh
ya. Beda ketika menyerang Khawarij.
Mereka mengarang Khawarij. Semangat
sahabat untuk menyerang siapa? Khawarij.
Karena khawarij jelas
mengkafirkan, menyesatkan dan
seluruhnya. Maka semangat menyerang
Khawarij. Ali pun semangat menyerang
Khawarij. Tapi ketika berhadapan dengan
kubu Muawiyah, ada masalah yang terjadi.
Sebagaim sudah kita jelaskan ketika
Utsman terbunuh radhiallahu anhu.
Kemudian timbul masalah di belakang di
balik itu semuanya berijtihad ingin
kebaikan. Ya, oleh karenanya tidak semua
kemudian
ee ketika penguasa melakukan kemungkaran
kita aminkan. Dan ini saya selalu
ingatkan kita akidah ahlusunah wal
jamaah adalah taat kepada penguasa pada
yang baik. Kalau puasa melakukan
kemungkaran tidak boleh memberontak sama
sekali tidak boleh kecuali mereka kafir.
Kecuali mereka kafir. Itu kafir pun
kafir yang jelas. Bukan dikafir-kafirin.
Benar-benar kafir yang jelas. Pindah
agama kek injak Quran eh Nabi nak
maki-maki Nabi Muhammad ya itu baru
kafir yang benar-benar jelas. Adapun
cuma masih remang-remang, tidak boleh.
Itu pun boleh memberontak kalau mampu
untuk mengkudeta, menggulingkan. Kalau
tidak mampu maka tidak boleh
memberontak. Selama dia masih muslim
meskipun kebejatannya kayak apapun tidak
boleh memberontak. Ini akidah ahlusunah
wal jamaah. Tetapi bukan berarti semua
yang dia ucapkan, yang dia katakan kita
aminkan. Enggak. Kalau dia menyatakan
karena memang pemerintah Nabi pasti
benar terus kan. Enggak. Kadang benar
kadang sa salah. Kalau benar kita
dukung, kalau salah kita jangan ikuti.
Ya, kita jangan ikuti. Ya, makanya
Rasulullah mengatakan, "Siapa yang
bersabar dengan kezaliman penguasa,
tidak memberontak bersabar, dia akan
bertemu denganku di telaga." Ya. Ya.
Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam
bahwasanya akan ada ararah yaitu akan
ada penguasa-penguasa yang hanya
mengentingkan dirinya, mementingkan
keurusan keluarganya, pribadinya dan
menggunakan orang-orang yang tidak ahli
diletakkan di jabatan-jabatan, sementara
yang ahli ditinggalkan. Kata Nabi, "Akan
muncul orang-orang seperti itu." Kata
Nabi sallallahu alaihi wasallam,
"Isbiru, bersabarlah kalian." Hatta
talquni alal haud sampai kalian bertemu
aku di telaga. Menunjukkan sabar dengan
pemerintah yang zalim selama mereka
masih muslim.
adalah sebab seorang bertemu dengan
Nabi, telaga Nabi sallallahu alaihi
wasallam. Tapi Rasulullah ingatkan,
barang siapa yang ee kemudian melihat
kemungkaran dari penguasa kemudian dia
rod wataba rid dengan kemungkaran
tersebut bahkan mengikuti wasoddaqahum,
bahkan membenarkan semua keputusan
mereka, mengaminkan seluruh kemungkaran
mereka, dia tidak akan bertemu dengan
Nabi di telaga. Jadi ee kita di tengah
kalau penguasa menyuruh kepada kebaikan
kita dukung semaksimal mungkin. Kalau
mereka melakukan kesalahan kita ber
bersabar dan jangan diikuti. Seakan-akan
Syekh Abdul Wahab mengatakan kalau ada
penguasa kemudian ngajak berperang
melawan sama kaum muslimin gak usah di
diikuti. Tidak perlu diikuti. Karena ini
mengajak kita terjerumus dalam fitnah.
Kalau sudah begitu akan berdampak pada
pertumpahan darah sama kaum kaum
muslimin. Ini terkadang terjebak dengan
kondisi yang mengerikan.
Tiib. Kita lanjutkan bab berikutnya.
Babun zikrul uquq. Bab tentang dosa
durhaka kepada kedua orang tua.
Waqulullahi taala. Dan firman Allah
Subhanahu wa taala, aniskurli
waliwalidaika ilaial masir.
Dan bersyukurlah kepadaku dan juga
kepada kedua orang tuamu.
Kepada akulah tempat kembali. Di sini
Allah mengagungkan hak kedua orang tua
sampai Allah menggandengkan antara
perintah bersyukur kepadanya dengan
perintah bersyukur kepada kedua orang
orang tua. Dan Allah ingatkan bahwasanya
kalian akan kembali kepadaku. Itu Allah
akan menilai bagaimana cara kalian
berterima kasih kepada bersyukur kepada
kedua orang tua. Ya. Karena jasa orang
tua yang begitu besar sampai Allah
gandengkan antara ee bersyukur kepada
Allah dengan bersyukur kepada kedua
kedua orang tua.
Oleh karenanya, siapa yang tidak
bersyukur malah membalas kebaikan orang
tua dengan keburukan, maka dia
terjerumus dalam dosa besar, yaitu
durhaka kepada kedua orang tua. Datang
dalam hadis yang masyhur ketika Rasul
sahu alaih wasallam mengatakan, "Ala
unabbiukum biakbaril kabair." Maukah
kabarkan kepada kalian tentang dosa
besar yang paling besar? Qulna bala ya
Rasulullah. Kata para sahabat tentu ya
Rasulullah apa itu dosa-dosa besar yang
paling besar? Dosa besar banyak di
antara dosa-dosa besar tersebut ada yang
paling besar. Maka Rasulullah berkata al
isyrqu billah. Syirik kepada Allah.
Kemudian kata Nabi yang kedua, wa uququl
walidain. Durhaka kepada kedua orang
tua. Durhaka kepada kedua orang tua.
Maka
ee dosa yang paling besar terkait dengan
Allah adalah syirik. Allah yang
menciptakan kamu. Allah yang berikan
rezeki kepadamu. Allah yang menyediakan
alam semesta buatmu. Allah yang
menerbitkan matahari. Allah yang
memberikan udara bagimu. Semuanya terus
kau menyembah selain Allah. Nam tidak
tahu bersyukur. Itulah syirik. Orang
yang syirik tidak tahu berterima kasih
kepada Allah Subhanahu wa taala. Saya
sering bilang, seandainya yang
menciptakan saya dua zat, Allah dan zat
yang lain, maka zat yang lain itu harus
saya sembah juga sebagai bentuk terima
kasih saya kepada zat tersebut. Tetapi
yang menciptakan kita cuma siapa? Allah.
Mencipta al sama saya cuma Allah. Maka
siapa yang menyembah Allah, menyembah
selain Allah tidak tahu berterima kasih.
Makanya di antara dosa paling besar
terkait dengan hak Allah adalah syirik
kepada Allah Subhanahu wa taala. Karena
dia beribadah kepada selain Allah,
bersama Allah.
Nah, di antara terkait dengan manusia
yang paling besar jasanya kepada kita
adalah kedua orang tua.
Ibu yang mengandung kita sudah gak bisa
kita gak bisa kita balas budinya. Nah,
ternyata harusnya kita berterima kasih,
kita balas dengan bentuk durhaka, maka
ini wajar merupakan dosa paling paling
besar paling besar kepada ee Allah
subhanahu wa taala karena terkait dengan
durhaka kepada kedua orang tua.
Dan banyak ayat-ayat yang menggandengkan
antara hak Allah dengan hak orang tua.
Di antaranya ayat ini, aniskurli
waliwalida. Berterima kasihlah kepada
Allah dan berterima kasih kepada kedua
orang tua. Demikian juga firman Allah,
waqab rbuka alla tabudu illa iyahu wabil
walidain ihsana. Allah memerintahkan,
bertauhidlah kalian dan berbaktilah
kepada kedua orang tua. Ini dalil
bahwasanya di antara konsekuensi tauhid
kepada Allah adalah berbakti kepada
kedua kedua orang tua. Allah juga
berfirman, "Waudullaha wala tus bih
wabil walidaini ihsana." Beribadah
kepada Allah jangan syirik. Berbaktilah
kepada kedua orang tua. Allah juga
berfirman,
wabil ihsana. Kemarilah aku kabarkan
kepada kalian perkara yang Allah
haramkan kepada kalian. Jangan buat
syirik dan berbaktilah kepada kedua
orang tua. Sering Allah gandengkan
antara hak Allah dengan hak kedua orang
tua agar kita tahu bahwasanya hak kedua
orang tua sangat agung mengalahkan
segala yang yang lain. Makanya ketika
Rasulullah ditanya, "Man ahsanasi
bisohabati?" Man ahaqunasi bisohabati?
Ya Rasulullah, siapa orang yang paling
berhak untuk kita baikin? Kata Nabi,
"Ummuk, ibumu tummaan." Kemudian siapa?
Ibumu. Kemudian siapa? Ibumu, kemudian
ayahmu. Itu orang tua yang paling berhak
untuk kita baikin. Sebagian orang kalau
sama kawannya masyaallah bermuka manis,
senyum murah ee murah senyum, ramah sama
orang tuanya. Dia asal ngomong, asal
bicara ya.
Apalagi kemarin sempat timbul syubhat
tersebar di luar negeri. Saya dikirimkan
oleh sebagian kawan yang waktu itu di
luar negeri. Simbul syubhat disebarkan
oleh sebagian orang nonmuslim bahwasanya
orang tua memang wajib untuk ngurusin
anak. Jadi jangan pernah merasa ya itu
memang kewajibanmu punya anak saya wajib
bagimu untuk ngurusin apa saya. Sehingga
menghilangkan rasa terima kasih dari
anak kepada orang tua. Ini sempat
tersebar di Genzet Genz
ya. Sampai seakan-akan orang tua kalau
enggak ngurusin anak ya kalau dia
ngurusin kita itu kewajiban dia. Kalau
enggak ngurusin ya kurang ajar gitu ya.
Sehingga ketika disebarin syubhat
bahwasanya memang itu kewajiban orang
tua, kewajiban orang tua ya seakan-akan
ya sudah itu kewajibannya sehingga anak
tidak merasa punya rasa ber terterima
kasih.
Oleh karenanya Allah ingatkan bahwasanya
jasa orang tua sangat ee sangat banyak.
Dan Allah mengatakan dalam ayat ini, "Wa
ilaiyal masir." Dan kepadakulah kalian
angkat kembali, yaitu sikapmu dalam
berterima kasih kepada kedua orang
tuamu. Akan saya nilai, akan ada
hasilnya di hari akhirat. Bab kita
lanjutkan hadis berikutnya. An ibni Amr
radhiallahu anhuma.
Beliau berkata, "Aqbal rajulun Nabi
sallallahu alaihi wasallam faqala." Ada
seorang datang menemui Nabi dan dia
berkata, "Ubayuka alal hijrati wal
jihadi abil aj minallah." Ya Rasulullah,
aku ingin membayat engkau itu mengambil
janji setia untuk apa? Untuk hijrah.
Saya meninggalkan kampungku untuk hijrah
menuju engkau. Yang kedua, wal jihad
fisabilillah. Dan saya ingin berjihad,
bersumpah setia untuk berjihad,
mengorbankan jiwa, ragaku, hartaku untuk
Allah subhanahu wa taala. Kemudian dia
tegaskan, "Abtagil ajro minallah." Saya
melakukan ini semua murni untuk mencari
pahala dari Allah. Bukan enggak ada
urusan duniawi, ninggalkan kampung
halaman.
mengorbankan jiwa raga, mencari pahala
di sisi Allah. Maka ini niat yang tulus
atau tidak tulus? Pengorbanan luar
biasa. Apa kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam? Hal min walidaika ahadun
hayyun. Apakah masih ada dari dua orang
tuamu yang masih hidup? Satu orang, dua
orang masih hidup. Qala naam bal
kilaahuma.
Kata dia, "Naam ya Rasulullah." Bahkan
dua-duanya masih hidup. Ayah masih
hidup, ibu masih hidup. Qala fatabtil
ajro minallahi taala. Benar kau ingin
cari pahala dari Allah? Q naam. Benar.
Saya ini mau hijrah meninggalkan kampung
halaman ingin jihad mati untuk mencari
pahala. Benar kau ingin cari pahala?
Kata dia. Benar. Kata Nabi, "Farji ila
walidaika faahsin shbatahuma." Kalau
memang kau ingin cari pahala, balik
kedua orang tuamu dan pergaulilah mereka
dengan cara yang terbaik. Akhrajahu wf
muslim. Hadis sahih Bukhari dan Muslim.
Hadis lafal riwayat Muslim. Lihat orang
ini punya niat yang luar biasa. Tapi
Rasulullah ingatkan dia, "Benar kau cari
pahala?" Benar ya, ada pahala lebih
besar daripada jihad.
Yaitu berbakti kepada kedua orang tua.
Makanya saya motivasi antum yang orang
tuanya masih hidup.
Bayangkan kalau kita disuruh jihad
sekarang. Tahu-tahu misalnya pemerintah
bilang, "Ayo jihad berangkat menuju ke
Palestina lawan Benyamin di Tanaho
misalnya.
Tinggalkan anak istri ya. Tinggalkan
anak istri, tinggalkan kerjaan,
uang semua keluarkan. Beratlah baru
pergi pikir pikiran macam-macam mestinya
berat karena perjalanan jauh, biaya
banyak, letih lawan musuh, mungkin
kemampuan berperang tidak ada. Berat.
Kita bayangkan suruh ke sana berat.
Ternyata ada yang lebih berat, lebih
besar daripada itu pahalanya. Berbakti
sama orang tua.
Jadi kalau kita malas untuk berbakti
sama orang tua, ingat jihad itu susah.
Susah itu ternyata masih ada pahala yang
lebih besar yaitu berbakti kepada orang
orang tua. Sehingga kita semangat untuk
berbakti kepada kedua orang tua. Saya
sering bilang, berbakti kepada orang tua
mewakili banyak ibadah. Mungkin engkau
tidak banyak salat malam, mungkin engkau
tidak hafal Quran, mungkin engkau kurang
sedekah, mungkin engkau mungkin mungkin
mungkin mungkin. Tapi kalau kau berbakti
orang tua mungkin mewakili banyak
ibadah. Mewakili banyak ibadah dan bakti
kepada orang tua menghapuskan banyak
dosa. Menghapuskan banyak dosa. Makanya
ketika ada seorang yang belajar sihir,
dia datang kepada Ibnu Abbas karena dia
menyesal. Dia bilang, "Adakah mungkin
Allah mengampuniku?" Tanya
sahabat-sahabat. "Enggak ada yang
jawab." Tidak ada yang jawab. Tidak ada
yang jawab. Karena dosa yang dilakukan
sangat besar, itu melakukan praktik
sihir. Akhirnya ketemu Ibnu Abbas, Ibnu
Abbas mengatakan, "Kau masih punya ibu?"
"Masih. Berbaktilah sama ibumu. Bisa
menghapuskan dosa syirik syirikmu."
Makanya Rasul sahu alaihi wasallam
mengatakan, "Ragima anf celaka." Man
adraka abawahial
kibar tma lam yadil jannah. Celaka orang
yang masih sempat bertemu kedua orang
tuanya di masa jompo kemudian dia tidak
bisa masuk surga. Ini orang celaka.
Kenapa? Kesempatan dia cari pahala
terbesar di depan mata. Namun dia
lalaikan.
Cukup kau berbakti pada orang tua
mewakili banyak amal ibadahmu. Siapa
yang mampu jihad? Berat. Apalagi jihad
di zaman Nabi. Zaman jihad zaman Nabi
mungkin tidak semudah sekarang. Berjalan
ratusan kilo, bawa barang-barang berat
kemudian melihat kilatan-kilatan pedang.
Ya, berat ya.
Coba bayangkan sahabat perang Muktah
jalan dari Madinah menuju Muktah.
Madinah Muktah mungkin 1000 kilo
kita mungkin kalau suruh perang jalan
1000 kilo belum sampai sudah mati di
tengah jalan sakit inilah sakit anulah
video call lah misk lah apa. Aduh sudah
dekat bentar lagi tak mati dulu sebelum
ketemu.
Sampai di sana ternyata musuh 200.000
bayangkan 3.000 lawan 200.000.
Berat ini Rasulullah berbicara jihad di
zaman beliau. Tapi Rasul bilang, "Benar
kau ingin pahala?" "Benar ya Rasulullah.
Ya udah pulang ke orang tuamu berbakti
sama mereka." Lebih afdal daripada
jihad. Makanya ketika Rasulullah
ditanya, "Ayul amali ahabbuallah, amalan
apa yang boleh dicintai oleh Allah?"
Kata Rasulullah, "Shatu ala wqtiha,
salat pada di awal waktu." Ayu. Kemudian
apa hadis Ibnu Masud? Kata Rasul sahu
alaihi wasallam, "Birul walidain."
Berbakti kepada kedua orang tua. Ayu.
Kemudian apa kata Rasulullah? Yang
ketiga, aljihadu fi sabilillah. Maka
birul walidain lebih tinggi daripada
jihad fi sabilillah. Maka yang masih
punya orang tua jangan lewatkan
kesempatan luar biasa untuk mencari
pahala yang terbaik. Tapi ingat berbakti
sama orang dulu itu amal saleh. Jangan
dipublish.
Ini lagi dorong ibu nih. Lagi inilah
lagi anulah, lagi anah.
Ini amal saleh bukan untuk diriakkan.
Saya sudah belikan ibu saya ini, saya
sudah bangunkan ibu saya ini. Saya
enggak usahlah itu amal saleh cari
pahala karena Allah subhanahu wa taala.
Maka Rasul mengatakan, "Farji ila
walidaika." Kembalilah. Enggak usah
jihad, enggak usah hijrah. Bayangkan dua
amal saleh dikalahkan, hijrah dan jihad.
Yang satu saja sudah bikin orang masuk
surga. Hijrah saja bisa bikin masuk
surga. Jihad saja bisa bikin masuk
surga. Tetapi kata Nabi, "Kalahkan
dua-duanya. Enggak usah hijrah, enggak
usah jihad. kembali sama orang tua
berbakti sama mereka berdua ya lebih
ringan pahalanya lebih ringan lebih
ringan pekerjaannya pahalanya lebih be
besar
kita lanjutkan hadis berikutnya
wa an Muawiyah
bin Jahimah radhiallahu taala anhu anna
jahimah jaa ilan Nabi sallallahu alaihi
wasallam faqala ada seorang sahabat
datang kepada Nabi dan dia berkata, Ya
Rasulullah, aradu an akzua waqad jiu
astasyiruka. Ya Rasulullah, saya ingin
jihad dan saya datang untuk meminta
pendapatmu. Astasyir itu ingin cari
pendapat. Bagaimana pendapatmu?
Rasulullah langsung tanya, "Fahalaka min
um." Kau punya ibu? Subhanallah. Ini dia
ee almustasyar muktaman. Orang dimintai
pendapat, dia harus amanah memberikan
pendapat yang terbaik. Kalau orang
datang sama kita minta pendapat, kita
berusaha carikan pendapat yang terbaik
semampu kita. Dia kerjakan enggak
kerjakan urusan dia. Tapi kita di akan
ditanya oleh Allah ketika kita diminta
apa? Saran. Kewajiban kita adalah
memberi saran yang terbaik. Kita tahu
jawaban kita ini akan dihisab oleh Allah
Subhanahu wa taala. Almustasyar
muktaman. Orang yang diminta dimintai
nasihat maka dia sedang diberi amanah.
Maka Rasulullah pasti memberi isyarat
yang terbaik. Saran yang terbaik buat
orang ini ketika dia bilang, "Ya
Rasulullah, saya ingin jihad. Saya ingin
pendapat saran darimu." Kata Rasulull
sallahu alaihi wasallam, "Fahalaka min
umum, kau masih punya ibu?"
Kata orang tersebut, "Naam." Iya. Kata
Rasul sahu alaihi wasallam, "Falzam,
lazimilah ibumu fainnal jannata
tahtarijaiha." Karena surga berada di
bawah kedua kakinya. Udah, enggak usah
jihad. Berjuang, berbakti kepada ibu.
Karena surga berada di bawah telapak
kaki ibu. Ini isyarat bahwasanya ketika
Rasulullah mengatakan surga di kaki
ibumu agar kau merunduk dan merendah
tawadu di hadapan ibu. Jangan pernah
mentang-mentang di hadapan ibu.
Mentang-mentang kita sudah kaya,
mentang-mentang kita pintar,
mentang-mentang kita sudah bergelar,
mentang-mentang kita sudah sekolah,
jangan pernah mentang-mentang di hadapan
orang orang tua. Sebab betap pun tinggi
ilmu kita, betapaapun banyaknya harta
kita, betapapun tinggi jabatan kita sama
ibu, kata Nabi, surganya di bawah
telapaknya untuk menunjukkan kita
merendah kepada kedua orang tua. Wfit
lahuma janaul minarahm. Rendahkanlah
dirimu kepada kedua orang tuamu dengan
penuh kasih kasih sayang. Orang yang
paling utama kita rendahkan diri kita
adalah kedua orang tua terutama ibu ibu
kita. Karena Rasulullah mengatakan,
"Falzam yaitu senantiasa berbakti sama
orang tuamu." Ilam luzum yaitu
senantiasa. Bukan berbakti sekali-sekali
doang.
Datang ketemu orang tua cuma setahun
sekali.
Setahun sekali kemudian bawa roti
kongguan.
Terus pulang ambil dua karung beras dari
orang tua. Ini ini bukan berbakti. ini
nyolong dari orang tua. Sampai saya
pernah cerita gini, ada yang bilang,
"Benar, Ustaz. Kemarin ada kawan dia
pergi ke rumah orang tuanya kemudian dia
bawa hadiah sedikit. Dia bawa dua karung
beras, akhirnya naik motor jatuh karena
enggak bisa belok." Oh, benar benar.
Ternyata kejadian saya padahal cuma
bercanda aja.
Subhanallah.
Falza maksudnya sering telepon kek,
datang kek, semampu kita tentunya. Kalau
kita enggak mampu ya sudahlah. Kalau
semampu kita, lazimi orang tua sebisa
sebagi kita ya. sebisa kita semampu kita
yang semaksimal bisa kita lakukan.
Karena surga di bawah telapak kaki ibu.
Hadis berikutnya
an Abi Hurairat radhiallahu taala anhu
dari sahabat Abu Hurairah anna rajulan
qala. Ada seorang lelaki berkata, "Ya
Rasulullah, manquasi bihusnbati."
Siapa orang yang paling berhak yang aku
baikin dia dalam pergaulan? Siapa orang
yang paling berhak untuk aku baikin?
Qala ummuka ibumu qala tumma man
kemudian siapa ummuka kata nabi ibumu
qma man kemudian siapa nabi menjawab
yang ketiga siapa juga i ummuka ibumu
qala tumma man kemudian siapa qala abuka
ayah ayahm jadi ibu berapa kali tig ayah
berapa kali sekali ini bukan ibunya ada
tiga bukan ya ini ibu yang sama ibumu
Ibumu.
[tertawa]
Katanya, "Ibu harus ada tiga." Enggak.
Ibu cuma satu, ya. Ibu kandung cuma sa
satu. Cuma ditekankan tiga tiga kali.
Perhatikan di sini, orang ini tahu
bahwasanya di antara ibadah adalah
pergaulan, di antara ibadah adalah
interaksi sama manusia, akhlak kepada
sama manusia. Nah, orang siapa sih yang
paling utama kita berbuat baik
kepadanya?
Rasulullah mengatakan ibumu. Kemudian
ibumu kemudian ibumu. Sebagian orang
ketika dia punya hutang budi sama orang
lain, dia lupa orang tuanya. Ketemu
orang, orang ini baik, kasihkan dia
kerjaan. Sehingga dia sampai dia
berkata, "Orang ini telah menawanku
dengan kebaikannya." Tiba
ibumu tidak menawanmu dengan kebaikan
ibumu?
Sampai dia lupakan orang tuanya.
Rasulullah bilang, "Siapa?" Rasulullah
ditanya, "Siapa orang yang paling berhak
untuk kita baik?" Rasulullah tidak
mengatakan orang yang kasih kau kerjaan
yang paling utama kau baikin.
Orang yang kasih kau mobil gratis yang
utama kau baikin. Enggak. Rasulullah
tetap mengatakan apa? Ibu ibumu. K orang
kadang lupa sama kedua orang tuanya.
Itu temannya baik sama temannya terus
orang tuanya sudah enggak dianggap.
Memang enggak dianggap.
Maka ini kesalahan tib Rasulullah
mengatakan ibumu, ibumu, ibumu tiga
kali. Di sini ada dua pendapat di
kalangan para ulama. Pendapat pertama
jumhur ulama mereka mengatakan karena
ibu punya hak untuk dibaikin tiga kali
lipat daripada ayah.
Makanya disebut tiga kali. Kenapa sebut
tiga kali? Karena ada tiga kebaikan ibu
yang tidak disertai oleh ayah.
Apa? Pertama mengandung. Yang mengandung
cuma siapa? Ibu. Ayah enggak ikut
mengandung, cuma meletakkan benih.
Kemudian, "Assalamualaikum." [tertawa]
Yang mengandung siapa? Ibu.
Yang melahirkan siapa? Ibu. Yang
menyusui siapa? Ibu. Ya. Maka tiga ini
tidak diikuti oleh ayah. Adapun tarbiah,
ayah ikut serta.
Dari sini ee Allah berfirman,
"Hammalathu ummuhu kurhan waathu kurhan
wamlalu
syahro." Ibunya mengandungnya dalam
kondisi tidak menyenangkan.
Ibu mengandung sakit tidak enak,
muntah-muntah, mual, tapi dia senang
anaknya di dalam. Cuma kondisi dia tidak
menyenangkan.
Wadu Quran ketika melahirkan juga tidak
menyenangkan. Tapi dia gembira menunggu
kapan anaknya keluar. Tapi kesakitan dia
hadapi.
Kemudian
wahamlu fisuh syahr. Kemudian
mengandungnya dan menyusunya selama 30
30 bulan. Kata para ulama, ini dalil
bahwasanya anak minimal 6 bulan di dalam
kandungan kalau menyusi 2 tahun. 2 tahun
tambah 6 bulan sama 30 30 bulan. Makanya
disebutkan sebagian fuqaha kalau seorang
menikah ternyata 5 bulan kemudian
melahirkan ini bukan berarti bukan
anaknya. Karena anak melahirkan normal
minimal berapa? En 6 bulan. ini baru
menikah 4 bulan sudah keluar anak normal
lah. Ini bukan anak yang syar syari
tib.
Ee
di sini
Allah menyebutkan tiga perkara
mengandung, melahirkan, sama menyu
menyusui. Maka jumhur ulama, majelis
ulama berdalil inilah sebabnya kenapa
Nabi mengatakan ibumu, ibumu, ibumu.
Sehingga berbakti kepada ibu tiga kali
lipat daripada ayah. Berbeda dengan
pendapat kalau tidak salah pendapat
ulama Malikiyah kata mereka tidak. Bakti
kepada ibu sama ayah sama saja.
Bakti sama ibu sama ayah sama sama-sama
50%.
Bukan tiga kali lipat ayah, ibu tiga
kali lipat gak. Adapun Rasulullah
mengatakan ibu ibuibu untuk menekankan
karena seorang sering lupa berbakti
kepada ibu. Apalagi di zaman tersebut
wanita dihinakan sehingga banyak durhaka
kepada ibu. Makanya Rasulullah
mengatakan, "Innallaha ee kari lakum
salasan." Ya, sungguhnya ee arah alaikum
umahat. Sesungguhnya Allah mengharamkan
bagi kalian durhaka kepada
kepada ibu. Wawa'dal banat. Mengharamkan
kalian untuk menguburkan anak perempuan
hidup-hidup. Di sini Rasulullah tidak
mengatakan Allah mengharamkan durhaka
kepada ayah, tapi Rasulullah mencukupkan
Allah mengharamkan durhaka kepada ibu.
Karena itu yang sering terjadi di zaman
itu.
Karena siapa mau durhaka sama ayah,
tinggal ditonjok sama ayah.
Tapi kalau sama ibu dimaki-maki, ibu
enggak bisa apa-apa. Sehingga potensi
untuk durhaka kepada ibu lebih besar
daripada potensi durhaka kepada ayah.
Sehingga Rasulullah mengucapkan ummuka
ummuka, ummuka tiga kali. Bukan untuk
menyatakan ibu tiga kali lipat, tapi
dalam rangka untuk menekankan. Karena
potensi berbakti kepada ee berurhaka
kepada ibu lebih besar daripada potensi
berbakti berdurhaka kepada a ayah.
Makanya Allah sebutkan juga dalam
Al-Qur'an tentang hamil, melahirkan,
menyusui, karena itu adalah kebaikan ibu
yang terlupakan.
Beda dengan ayah. Kita lihat ayah kasih
uang, ayah cari nafkah, ayah yang
belikan ini, ayah yang belikan anu, kita
lihat kita sudah besar. Tapi ketika
dalam kandungan kita enggak ingat
apa-apa. Kita menyusui, disusui, kita
jugaak ingat apa-apa. Ya, ketika masih
kecil kita enggak ingat. Ketika kita
sudah bisa mengerti itu sudah tidak
terjadi. Yang terjadi bapak baik bawakan
makanan, belikan ini buat ibu-ibu yang
nerima. Sehingga kebaikan orang tua yang
justru di situ sangat krusial,
sangat vital, itu kita lupakan. Makanya
perlu Allah ingatkan sendiri. Allah
ingatkan sendiri. Makanya ikhwan mungkin
yang belum menikah, belum punya anak,
mungkin lupa. Tapi nanti kalau antum
menikah, antum menikah berusaha temani
istri kalau mela melahirkan. Biar tahu
dulu antum begitu nyusahin orang tua.
Ternyata susah ketika apa mau anak kita
lahir susah, istri kita mual-mual minta
inilah alasannya ngidamlah.
E kita ikut susah ya ikut susah. Tapi
saya sering cerita kawan saya pas naik
bis tahu-tahu istrinya bilang, "Abi,
saya pengin makan rujak." Kata kawan
saya, "Siap nanti dibelikan." Bukan
rujak yang lagi dimakan ibu itu. Aduh.
Akhirnya teman saya datang. Eh, Om Afan,
Om. Eh, minta dong. Intinya dikasih
karena dia lagi enggak pengin rujaknya
itu, bukan rujak yang lain. Dia ada aja.
Nanti kalau bilang ini kan ngidam, masa
enggak ngerti. Punya dalil banyak minta
sesuatu. Akhirnya suami juga ikut susah.
Ah, itu kita dulu waktu kecil ngerepotin
kedua orang tua. Yang repot bukan ibu
kita, bapak kita juga ikut reot.
Oleh karenanya Allah ingatkan langsung
karena ini di antara kebaikan orang tua
yang ter yang terlupakan. Yang
terlupakan. Oleh karenanya Allah
sebutkan Nabi sebutkan tiga kali bukan
tiga kali lipat dari ayah tetapi sama
cuma perlu diingatkan berbakti kepada
ibu karena potensi durhaka kepada ibu
lebih lebih besar.
Maksud saya jangan sampai orang salah
paham. Ketika ibu sama bapak ada masalah
kita harus bela ibu tiga kali. Enggak.
Gak boleh. Gak boleh. Tetap kita menilai
kebenaran atau kita tidak ikut-ikutan.
Ya,
bukankah juga kita binnya ke ibu atau ke
bapak? Ke bapak. Rasulullah mengatakan
inna in inna ee apa namanya? Anta wauka
liabik. kau dan hartamu milik bapakmu.
Ketika ada orang tua ingin mengambil
harta dari anaknya, dia mengeluh kepada
Nabi. Dia mengatakan, "Kau dan hartamu
milik bapakmu."
Ya, oleh karenanya kita sebagai anak
berbakti kepada keduanya, baik ayah
maupun ibu semaksimal mungkin. Cuma
hati-hati, jangan durhaka sama ibu.
Karena kalau kita angkat suara di depan
bapak, mungkin bapak mukul kita. Tapi
kalau angkat suara depan ibu, ibu hanya
bisa diam dan menangis. Maka dua-duanya
harus berbakti. Ingat susahnya orang tua
ketika mengandung dan melahirkan
ti hadis berikutnya wal Bukhari an ibni
Amr radhiallahu anhuma marfuan dari
Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma.
Alkabair al israqu billah waqul walidain
waqatlun nafs wal yaminul gamus. Durhaka
kepada eh dosa-dosa besar ini dosa-dosa
besar yang sangat besar. Pertama syirik
kepada Allah. Yang kedua, durhaka kepada
kedua orang tua. Yang ketiga, membunuh
orang lain. Yang keempat, yaminil gamus,
yaitu sumpah palsu untuk mendapatkan
harta orang. Gamus artinya ee tenggelam.
Maksudnya kalau orang sudah bersumpah
dengan sumpah tersebut menenggelamkan
dirinya dalam api nera neraka. Dan ini
orang lakukan demi untuk dapat harta.
Dia bilang, "Demi Allah, demi Allah."
Dia bersumpah untuk merampas harta
orang, merampas tanah orang, merampas
jabatan orang. Dia berani bersumpah.
Dan sumpah seperti itu namanya Imul
Gamus. Dosa besar akan menenggelamkan
dia dalam neraka neraka jahanam. Intinya
di sini ee Rasulullah sahu alaihi
wasallam menyebutkan di antara dosa
besar setelah syirik adalah durhaka
kepada kedua kedua orang tua. Maka
ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah
subhanahu wa taala jangan sekali-sekali
kita durhaka kepada kedua orang tua
kita. Jangan pernah memandang mereka
dengan pandangan sinis. Jangan memandang
dengan pandangan kesal kepada kedua
orang tua. Jangan pernah merasa ee apa?
merasa tinggi di hadapan orang tua. Ya,
jangan pernah ngangkat suara di hadapan
orang tua. Kalau kita ada ribut dengan
orang tua, meskipun orang tua yang
salah, tetap kita dengan lembut. Bukan
begitu, Bu. Bukan begitu Umi. Kamu bukan
begitu, Bi. Bukan begitu Umi. Tetap
harus lembut
Ibu ini. Ah, itu sayaot kita angkat
suara.
Jangan sampai kita menyesal setelah kita
meninggal. Setelah ibu kita meninggal,
meninggal dunia. apapun yang terjadi
tetap suara lem lembut ya kalau kita
tahu bagaimana pban orang tua kita
kepada kepada kita bab demikian saja
wabillah taufik hidayah asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh