Tafsir Surat Al-Fath #4: Ayat 18-26 - Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A
9hLewvLkC_s • 2025-11-21
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufihi wamtinani asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahu takiman lya wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasul ridwani allahumma sholli alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwan. Kita lanjutkan pembahasan kita dari surah al-Fath surah ke-48 kita sampai pada ayat ke-18. Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Laqad rallahuil mukmininakaarah faim maubihim faanzalain alaihimahum fathan qba." Dan sungguh Allah telah rida kepada kaum mukminin ketika mereka membayak engkau di bawah sebuah pohon. Maka Allah mengetahui apa isi hati mereka dan Allah maka Allah turunkan ketenangan kepada mereka dan Allah beri ganjaran kepada mereka dengan kemenangan yang dekat. Ayat ini salah satu dari sekian banyak ayat yang memuji para sahabat ya. Karena dalam Al-Qur'an banyak sekali ayat-ayat yang muji para sahabat. Di antaranya ayat ini Allah telah rida kepada mereka. Oleh karenanya di antara syiar khusus buat para sahabat kita bilang radhiallahu anhum. Radhiallahu anhum. Ya. Dan di sini Allah bercerita tentang 1400 atau 1500 para sahabat yang berangkat bersama Nabi untuk umrah ketika umrah al-Hudaibiyah. Sebagaimana sudah kita jelaskan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Dan ketika Rasulullah sahu alaii wasallam sampai di Hudaibiyah yang sekarang disebut dengan Sumaisi, Hudaibiyah sebagiannya sebagian kecil masuk tanah haram, sebagian besarnya di luar tanah haram yang dikenal dengan Sumaisi sekarang. Maka Rasulullah sahu alaihi wasallam pun ingin mengirim delegasi kepada orang-orang Quraisy. Maka ketika itu Rasul Sallahu Alaihi Wasallam ee mengirim Umar bin Khattab radhiallahu anhu agar bertemu dengan orang-orang musyrikin untuk negosiasi. Tapi Umar menyarankan, kata Umar, "Ya Rasulullah, saya tidak ada yang membelaku." Ya, tidak ada orang yang yaqdab li kabilahku tidak kuat, tidak ada yang membela aku. Dan kalau saya ke sana mungkin tidak tidak bisa memberikan apa-apa ya. Ee sebaiknya engkau mengirim Utsman bin Affan. Akhirnya Rasulull sahu alaihi wasallam mengirim Utsman bin Affan radhiallahu taala anhu. Akhirnya pergilah Utsman bin Affan radhiallahu anhu masuk dan bertemu dengan orang-orang kafir Quraisy. Dan bahkan ketika itu dia dipersilakan untuk umrah terlebih dahulu. Dikatakan kepada Utsman, "Silakan umrah, silakan tawaf." Kata Utsman, "Aku tidak akan tawaf sampai Rasulull sahu alaihi wasallam tawaf." Ya, saya tidak akan tawaf sampai Rasulullah sahu alaihi wasallam tawaf. Dan ternyata Utsman gak balik-balik. Utsman gak balik-balik. Bin Affan radhiallahu anhu enggak balik-balik. Sehingga Rasulullah menyangka Utsman telah dibunuh. Ada isu bahwasanya Utsman telah dibunuh. Maka ketika itu Rasul sahu alaihi wasallam pun memotivasi para sahabat untuk bertahan untuk sabar lawan musuh. Akhirnya Rasulullah membaiat mereka. Rasulullah membaiat mereka. Rasulullah tidak tahu ilmu gaib. Bagaimana kabar tentang Utsman? Rasulull sahu alaii wasallam tidak tahu. Nah, akhirnya Rasul sahu alaihi wasallam pun membaiat para sahabat sahabat di bawah sebuah pohon yaitu Syajaratus Samurah. Pohon yang terkenal di Arab ya yang banyak durinya pohon samurah ya. Maka Rasul sahu alaihi wasallam membaiat para sahabat di bawah pohon tersebut. Maka Allah abadikan dalam ayat ini. Bahkan dalam hadis Rasul sahu alaihi wasallam mengatakan tidak ada seorang pun yang membaiat di bawah pohon yang akan masuk neraka. Jadi mereka yang baiat Nabi di bawah pohon ini semuanya dijamin surga. Kecuali ada satu namanya ee Aljad bin Qais yang ketika itu dia seorang munafik ya. Maka dia saja yang tidak selamat. Adapun yang lainnya semuanya dijamin surga oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan jumlah mereka ada atau sebagian mengatakan 1500 orang. Kata Allah, Allah telah rida kepada mereka. Laq radhiallahu anil mukminin tahtajarah. Tatkala mereka membayat engkau di bawah sebuah pohon itu Allah rida kepada mereka. Dan ketika mereka sedang membaiat Nabi, Allah pun rida kepada mereka. Ya. Dan kalau Allah sudah rida ya menunjukkan mereka akan masuk surga. Waridwanum minallahi akbar. Dan keridaan Allah adalah lebih besar daripada segalanya. Ya. Dan rida Allah bahkan lebih besar daripada nikmat surga itu sendiri. Ketika Allah sudah mengatakan Allah rida kepada mereka maka ini isyarat bahwasanya mereka dijamin masuk surga dan apalagi Nabi telah menjamin mereka tidak bakalan disentuh oleh api neraka. Maka di antara para sahabat yang dia masuk surga secara takyin, secara person-person adalah 1400 orang yang ikut serta dalam perjanjian al-Hudaibiyah. Mereka semua dijamin surga dan dijamin tidak akan masuk neraka. Kenapa? Di antara sebabnya faalima ma fi qulubihim. Ya Allah mengetahui bagaimana isi hati mereka. Dan ini tazkiah rekomendasi Allah Subhanahu wa taala tentang keikhlasan para sahabat, tentang hati mereka ya. Dan banyak sekali Allah merekomendasi para sahabat terkait dengan hati hati mereka. Ya, seperti Allah Subhanahu wa taala lil fuqaril muhajirin muhajirinadina ukhju min diarim amwalim yabad minallahi waidwanaurunallahuasulahuika humusodquun. Ya Allah puji kaum Muhajirin yang kata Allah mereka ee terusir dari negeri mereka ya dan mereka mencari karunia Allah dan mereka mencari waridwana mencari keridaan Allah subhanahu waala. Kemudian Allah mengatakan ulaika humusodiqun dan mereka adalah orang-orang yang jujur iman mereka. Jadi mereka pergi meninggalkan kota Makkah untuk berhijrah ke Madinah karena iman mereka yang jujur. Ya. Kemudian juga Allah memuji orang-orang penduduk Madinah. dan seterusnya. Jadi banyak ya seperti juga nanti di akhir ayat ya Allah mengatakan di akhir surat alfat tentang para sahabat Muhammad Rasulullah maahu mereka sujud dan rukuk karena mereka mencari keridaan Allah Subhanahu wa taala. Jadi Allah berbicara tentang hati para sahabat bahwasanya yang direkomendasi oleh Allah bukan secara zahirnya aja. Zahirnya Allah sebutkan mereka rukuk, mereka sujud. Tapi Allah tidak hanya mencukupi, mencukupkan dengan mentazkiah zahirnya mereka hijrah, mereka bersedekah. Tapi Allah juga mentazkiah isi hati mereka bahwasanya mereka ulikumusodiqun, mereka iman yang jujur. Yabun fad minallahi waidwana. Mereka mencari keridaan Allah Subhanahu wa taala. Allah menunjukkan memuji keikhlasan mereka. Seperti dalam ayat ini kata Allah, "Faalim fiubbihim." Allah tahu isi hati mereka. Allah tahu isi hati mereka. Ketika mereka membaiat Nabi, Allah tahu mereka tulus, mereka ikhlas. Bukan ada keinginan duniawi sama sekali. Mereka siap mati. Mereka siap membela Nabi sampai titik darah penghabisan ketika mereka membaiat Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka Allah mengatakan, "Faanzal sakinata alaihim." Maka Allah turunkan ketenangan kepada mereka. Dan Allah akan beri ganjaran memberi ganjaran kepada mereka kemenangan yang dekat. Kemenangan yang dekat maksudnya adalah perang ee ghanimah di perang Khaibar. Tib. Akhirnya para sahabat membaiat Nabi sallallahu alaihi wasallam dan Nabi membaiat dirinya dengan mewakili Utsman. Kata Nabi, "Ini tangan Utsman." Kemudian Nabi membaiat dirinya perwakilan dari Utsman. Karena Utsman wallahualam bagaimana nasibnya tidak diketahui apakah sudah meninggal atau belum. Ya, sampai disebut dalam sebagian riwayat ketika Utsman akhirnya datang, sebagian rat mengatakan, "Kau sudah tawaf ya? Kalian telah suun kepadaku." Kata Utsman. "Saya tidak akan tawaf sampai Nabi sallallahu alaihi wasallam apa? Tawaf." Sehingga sahabat mengatakan, "Benar Nabi, persangka Nabi daripada kami. Nabi telah membelamu dengan mengatakan, "Kau tidak bakalan tawaf sampai Nabi tawaf." Jadi Utsman radhiallahu anhu sudah dipersilakan oleh kaum musyrikin untuk tawaf, tapi dia tidak mau. Dia tidak tidak mau. Dan di sini kemuliaan Utsman bin Affan karena Rasul sahu alaihi wasallam membaiat Utsman dengan tangannya atas nama Utsman. Lebih baik daripada Utsman yang baiat langsung. Karena wakil menunjukkan keutamaan yang diwakili. Ketika Utsman diwakili oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dan menggunakan tangan Nabi untuk baiat Nabi sendiri menunjukkan keutamaan Utsman bin Affan radhiallahu taala anhu dan juga menunjukkan keberanian Utsman. ketika dia diutus oleh Nabi untuk masuk di markas kaum musyrikin dan kemungkinan dia dibunuh. Makanya ketika beliau datang terlambat diduga dia telah dibunuh. Ini menunjukkan keberanian Utsman bin Affan radhiallahu taala anhu untuk menjadi delegasi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam untuk masuk di tengah-tengah markas kaum musyrikin. Tib. Kisah pohon ini, pohon samurah ini disebut dengan syajarat ridwan. Karena eh Allah mengatakan laqad radhiallahuil mukminin. Allah telah rida kepada kaum mukminin. Ya, dalam ayat ini ya ini menunjukkan para sahabat radhiallahu anhum. Demikian juga dalam ayat yang lain surat taubah Allah mengatakan wasabiquunal awaluna minal muhajirin ansar walladina bisan radhiallahu anhum. Allah rida kepada para sahabat Muhajirin Anshar. Dan mereka juga rida kepada Allah. Ya, secara umum Allah rida kepada Muhajirin Anshar. Dan spesifik Allah juga menyebutkan Allah rida kepada 1400 sahabat yang membaiat Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka pohon tersebut dikenal dengan syjaratur ridwan. Yaitu pohon ridwan. Karena di situlah Allah memberi statement Allah rida kepada 1400 orang tersebut. Bagaimana si pohon ini? Maka dalam sebagian riwayat menunjukkan bahwasanya pohon ini ee tidak diketahui lagi tempatnya di mana ya. tempatnya di mana ya? Seperti dalam ee hadis ya. Datang seorang rawi ya Thariq bin Abdillah. Dia berkata, "Aku berhaji dan aku melewati suatu kaum yang mereka sedang salat di suatu tempat salat." Faqulu mahadal masjid. Apa tempat salat ini? Masjid-masudnya tempat orang salat. Qad syajarah. Ini adalah pohon yang di mana Rasul sahu alaihi wasallam membaiat para sahabat baiat ridwan. Baiat ridwan yang Allah sebut dalam surah al-Fatah. Faataitu Said ibn Musayyib faakhbartuhu. Aku pun mendatangi Said bin Musayyib. Aku mengabarkannya. Maka Said berkata, "Haddasani abi annahu faya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam." Kata Said, "Ayahku almusayyib atau almusayyib mengabarkan kepadaku dia termasuk orang yang membaiat Nabi di bawah pohon tersebut." Yaitu dari 15 orang tersebut tahta syajarah di bawah sebuah pohon. Falamma khajna minal amil muqbil anainaha falam naqdir alaiha. Ketika kami pergi lagi balik tahun berikutnya, tahun berikutnya kami kembali lagi menuju Makkah melewati tempat tersebut, maka kami lupa dan kami tidak tahu di mana posisi pohon tersebut. Maka Said kemudian mengomentari tentang perbuatan orang-orang yang sengaja salat di lokasi pohon tersebut. Kata Said ibn Musayyib, inna ashaba Muhammadin sallallahu alaihi wasallam lam yamuha waimtum antum. Para sahabat Nabi tidak tahu di mana tempat posisi pohon tersebut lagi. Sementara kalian mengetahui faantum a'lam. Kalau gitu kalian lebih pandai daripada para sahabat. Jadi sahabat tahun depan balik lagi sudah enggak tahu di mana pohon tersebut. Dan asar ini juga riwayat ini juga hadis ini dibawakan oleh Ibnu Katsir di tafsirnya. Ya, demikian juga diriwayatnya dari Ibnu Umar dengan ee makna yang sama. Kata Ibnu Umar radhiallahu anhu, radhiallahu anhu, Pak, Ibnu Umar, roj'na minal amil muqbil. Tahun berikutnya setelah kami membaiat Nabi, yaitu pada tahun 7 Hijriah. Karena baiat terjadi pada tahun 6 Hijriah. Pada tahun berikutnya kami kembali Ibnu Umar termasuk yang baiat Nabi ketika itu. Kata Ibnu Umar, "Tahun depan kami balik tidak ada dua orang. Dua orang di antara kami yang sepakat di mana pohon tersebut yang kami pernah membaiat Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kanat rahmatan minallah." Dan ini adalah rahmat dari Allah Subhanahu wa taala. Ya. Jadi di sini Ibnu Umar mengatakan, "Kami enggak tahu. Kami enggak tahu di mana pohon tersebut. Bahkan dua orang di antara kami enggak ada yang sepakat di mana pohon tersebut." Ya, ini menunjukkan bahwasanya ee posisi pohon tersebut sudah tidak diketahui. Ya, maka ada hikmahnya. Nawawi rahimahullah berkata, "Sbabu khofaiha." Sebabnya pohon tersebut lokasinya tidak diketahui lagi atau biha atau alatasu biha agar orang-orang tidak terfitnah dengan pohon tersebut. Lima jarah minalir. Karena di bawah pohon tersebut pernah terjadi kebaikan yaitu baiat. Dan Allah menurunkan keridan Allah dan Allah menurunkan sakinah kepada para sahabat ketika itu. Kalau seandainya pohon tersebut masih ada dan masih terjaga, dikhawatirkan orang-orang Arab Badui dan orang-orang bodoh akan mengagungkan pohon tersebut. Wa ibadatuha dan dikhawatirkan mereka akan menyembah wa ibadatuhum dan mereka ibadatum iyaha dan mereka akan menyembah pohon tersebut. Taala dan hilangnya bekas pohon tersebut rahmat dari Allah. Ini annawawi mengomentari perkataan Ibnu Umar bahwasanya hilangnya lokasi pohon tersebut adalah rahmat dari Allah Subhanahu wa taala. Mereka gak tahu di mana posisinya. Karena kalau ada mungkin disembah. mungkin di disembah ya. Kemudian datang dalam riwayat-riwayat bahwasanya di antaranya ya sampai kepada berita kepada Umar ya bahwasanya ada orang-orang yang beribadah di dekat sebuah pohon ya seperti dalam eh suatu riwayat dari Aun Annafi dia berkata, "Kanasu yauna allatiq yuqquq laha syajaratu ridwan." Orang-orang mendatangi di zaman kekhilafaan Umar bin Khattab radhiallahu anhu itu jauh setelah kejadian tersebut. Ya, orang-orang datang ke sebuah pohon yang disebut sajiratul ridwan. Fayusunaha kemudian mereka salat di sisi pohon tersebut. Nafi berkata, "Fabagalika Umar bin Al Khattabi faadahum fiha wa amar biha faqtiat." Ya. Maka sampailah berita tersebut kepada Umar. Maka Umar memperingatkan mereka dan akhirnya Umar perintahkan agar pohon tersebut ditebang. Demikian juga kata disebutkan dari dengan sanad yang sahih kata Ibnu Hajar dari Nafi bahwasanya Umar sampai kepada beliau kabar bahwasanya sebuah kaum datangi sebuah pohon kemudian mereka salat di sisi pohon tersebut. Maka Umar fatawaadahum Umar ingatkan mereka jangan salat di situ. Akhirnya Umar perintahkan untuk memotong pohon tersebut. Ya, wallahuam bisawab. Pohon yang didatangi di zaman Umar itu bukan sujud ridwan tapi pohon yang diduga. Pohon yang di diduga ya. Sehingga Umar potong. Apakah pohon tersebut benar-benar pohon syirat ridwan? Karena masalahnya ee setahun setelah mereka membaiat Nabi sallallahu alaihi wasallam, ternyata para sahabat sudah tidak tahu di mana lokasinya. Dan kemudian muncul isu di zaman Umar, orang-orang datang ke pohon tersebut kemudian hendak dan kemudian salat di sisi pohon tersebut. Maka Umar suruh potong pohon tersebut. Berkata Ibnu Umar tadi, "Tidak diketahuinya posisi tadi kenapa? Rahmatan sebagai rahmat dari Allah Subhanahu wa taala." Dan benar ketika ada diduga pohon tersebut, akhirnya orang mencari berkah di situ. Dan Umar ini adalah wasilah yang bisa mengantarkan kepada hal-hal yang tidak diinginkan, kesyirikan, dan yang lainnya. Maka Umar memerintahkan untuk memotong pohon yang diduga sebagai pohon ridwan. Dan ini adalah salah satu semangat Umar untuk menjaga tauhid. Sebagaimana pernah kita ketahui juga terjadi di zaman Umar ketika ditemukan jasad Nabi Daniel Alaih Salam yang masih dalam kondisi utuh, maka Umar khawatir orang-orang akan terfitnah dengan jasad Nabi tersebut. Akhirnya Umar menyuruh di malam hari menggali sekitar puluhan lubang. Kemudian diletakkan Nabi Daniel tersebut salah satu lubang tersebut kemudian dikubur sehingga orang tidak tahu di mana kuburan Nabi Daniel. Kenapa? Kalau orang tahu mungkin digali lagi nanti digali lagi dan orang bisa terfitnah karena peribadatan hanya kepada Allah, pengagungan hanya kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan sudah terfitnah orang-orang sebelumnya yang mengkultuskan Uzair sehingga mengatakan Uzair ibnullah, Uzair adalah putra Allah. Dan sebelumnya juga sudah terbukti orang-orang mengkultuskan Nabi Isa Alaih Salam sehingga dikatakan Nabi Isa adalah anak Allah sehingga diibadahi. Dan sebelumnya lagi jauh di zaman Nabi Nuh mereka telah mengkultuskan Watsa, Yagut, Yauk, Nasr. Akhirnya disembah dan di zaman Nabi sallallahu alaihi wasallam mereka mengkultuskan Lata, seorang yang sangat saleh bagi-bagikan makanan kepada jemaah haji gratis. Akhirnya ketika meninggal dibuat berhala, akhirnya di disembah. Dan potensi menyembah orang-orang saleh itu ada. Ya. Dan sampai sekarang masih banyak kuburan-kuburan, orang-orang saleh kemudian didatangi diminta-mintai orang minta-minta kepada penghuni kuburan. Itulah syirkun saleh. Kesyirikan yang sangat sangat jelas. Kalau pohon ridwan saja yang diduga pohon ridwan yang sebenarnya mungkin ada nilai sejarahnya itu ditebang oleh Umar karena menjaga tauhid. Ya, bagaimana lagi kalau terkait dengan e manusia ya yang kemungkinan untuk dikultuskan sangat besar. Oleh karenanya ketika Nabi Daniel ketahuan jasadnya segera dikubur oleh Umar bin Khattab radhiallahu anhu. Digali banyak lubang agar tidak diketahui di mana lokasi kuburannya. Khawatir orang-orang terfitnah dengan jasad Nabi Daniel Alaih Salam. Tib di sini intinya pohon tersebut tidak diketahui di mana lokasinya. Meskipun kata Ibnu Hajar datang dalam sebagai riwayat Jabir bin Abdillah di masa hidupnya ketika dia sudah buta, dia mengatakan, "Kalau saya bisa lihat, saya akan tunjukkan di mana lokasi pohon tersebut." Ya, ada sahabat mungkin yang masih ingat ya, tetapi intinya ee kebanyakan sahabat sudah tidak tahu di mana lokasinya dan ada pohon yang diduga sebagai pohon Sayitur Ridwan. Apa itu benar pohon ridan atau cuma dugaan tetap dipotong oleh Umar bin Khattab radhiallahu taala anhu untuk menjaga agar orang-orang tidak terjerumus dalam kesyirikan. Sebagaimana kata Imam Nawawi, di antara rahmat Allah lokasi pohon tersebut dihilangkan oleh Allah. Kalau seandainya lokasi pohon tersebut pohon tersebut masih ada, khawatir akan diibadahi. Karena setan selalu ada. Kecuali setan sudah mati. Ya, mungkin kita enggak usah takut dengan syirik. Selama setan masih ada, iblis masih hidup atau sudah mati. Adik-adik, iblis masih hidup, sudah mati? Masih hidup. Masih hidup. Kalau iblis masih hidup berarti dia menggoda. Dan di antara yang paling dia gunakan agar orang terjerumus dalamnya adalah syirik. Maka dia akan semaksimal mungkin menjerumuskan alam kesyirikan dengan menghiasi hal-hal di antaranya dengan pengkultusan, gulu, berlebih-lebihan sampai terjerumus pada kesyirikan. Dan banyak orang-orang terjemus dalam kesyirikan gara-gara orang orang saleh. Saya sendiri pernah ketemu orang sekarang mahasiswa Madinah. Dia mengaji sama sama seorang orang saleh lah ya. Sampai dia ke mana-mana dia merasa dilihat oleh orang saleh tersebut sama gurunya. Sampai kalau dia mau maksiat dia takut ketahuan. Bukan karena takut kepada Allah tapi takut kepada orang saleh. Saya diskusi sama dia. Akhirnya sekarang dia sudah jadi dia sudah kenal sunah dan dia jadi ustaz. Alhamdulillah awalnya dia begitu. Dia merasa ke mana-mana dilihat oleh gurunya tersebut sehingga dia mau macam-macam dia takut ini guru saya lihat. Jadi takutnya bukan kepada Allah tapi takutnya kepada orang yang saleh tersebut. Ini kesyirikan. Ini kesyirikan. Tib kita lanjutkan. Maka karena mereka hati yang tulus siap mati untuk membela Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Taat kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Allah mengatakanim. Allah tahu ketulusan mereka. Allah tahu sifat setia. Wafa mereka, setia, maka Allah turunkan ketenangan pada hati mereka. Ya. Kemudian juga sehingga mereka tenang, siap siap berkorban. Mereka tenang. Waabahum fathan qoriba. Dan Allah janjikan kepada mereka ee Allah kemenangan yang disegerakan. Yang disebut kemenangan tersebut adalah perang Khaibar. Jadi setelah mereka pulang dari mereka berangkat pada bulan Zulkaidah. Jadi perjanjian Hudaibiyah ini terjadi pada bulan Zulkadah. Kemudian mereka balik sebulan setelahnya yaitu pada tahun awal tahun 7 Hijriah. Maka mereka menyerang Khaibar dan mereka menang. Dan Allah mengatakan Allah janjikan untuk membalas mereka dengan kemenangan yang disegerakan. Maksudnya adalah Fathu Khaibar. Fathu Khaibar. Dan Allah berfirman, "Dan mereka akan mendapatkan ganonimah yang banyak." Wallahu azizan hakima. Dan Allah adalah maha perkasa lagi maha bijaksana. Ternyata di balik peristiwa Al-Hudaibiyah di mana Nabi dan para sahabat tidak jadi umrah ketika itu sebagaimana sudah kita jelaskan dan akhirnya mereka masuk dalam perjanjian damai selama 10 tahun dengan orang-orang Quraisy. Tidak terjadi perang, terjadi gejatan senjata. Sebagaimana kita ceritakan pada awal-awal kajian tentang surah Al-Fath. Akhirnya mereka pulang. Mereka pulang dan setelah itu mereka berkesempatan untuk menyerang Yahudi di Khaibar. Seandainya mereka tidak ada perjanjian damai dengan orang-orang Quraisy, tentu orang-orang Quraisy akan membantu Yahudi Khaibar. Tetapi karena mereka dalam perjanjian dengan orang-orang Quraisy sehingga mereka bisa konsen, fokus menyerang Yahudi Khaibar tanpa diganggu oleh orang-orang Quraisy. Dan ini adalah hikmahnya. Akhirnya para sahabat menang dan Khaibar adalah negeri yang sangat kaya raya. Makanya dalam sebagian riwayat istri Nabi berkata, "Kami tidak pernah kenyang kecuali setelah Khaibar ditaklukkan." Karena banyak sekali ee harta Khaibar ya, terutama dari hasil buminya yang luar luar biasa. Kata Allah mengatakan, Allah berfirman, "Whanimatanha dan mereka akan mengambil ganimah yang banyak dari Khaibar." Wallahu azizan hakima. Dan Allah maha perkasa lagi maha bijaksana. Subhanallah. Allah mampu mengalahkan siapapun yang Allah kehendaki. Tapi semua yang berjalan di atas muka bumi ini ada hikmahnya, ada aturannya, ada perjuangan. Ya, ada perjuangan. Allah ingin ada yang berjihad, Allah ingin ada yang berdakwah, Allah ingin ada yang berjuang. Ya, kalau Allah mampu Allah matikan iblis selesai. Kalau Allah kalau Allah ingin Allah matikan iblis selesai. Allah matikan Yahudi selesai. Tapi semua yang terjadi ada hikmahnya. Makanya Allah mengatakan, "Wakanu azizan." Allah maha perkasa. Tetapi semua yang Allah takdirkan hakiman di atas hikmah yang Allah kehendaki. Kemudian Allah berfirman lagi, waakumullahunaha. Dan Allah janjikan kepada kalian gonimah-ganimah yang banyak yang kalian akan mengambilnya. Faajalakum hadi. Dan Allah segerakan yang ini, yaitu Khaibar. Allah segerakan. Khaibar Allah segerakan. yang lain Allah masih janjikan. Dan kata para ulama in dalil bahwasanya jika para mujahidin mereka berjihad niat benar-benar karena Allah. Tidak ada niat untuk duniawi sama sekali bahkan tidak ada niat untuk mencari gonimah. Lantas mereka dapat ganonimah maka tidak mengurangi jatan mereka di akhirat. Tidak mengurangi jatah mereka di akhirat karena mereka tulus. Oleh karenanya 1400 orang sahabat ini ketika mereka tulus membaiat Nabi sallallahu alaihi wasallam, Allah berikan mereka ganjaran gonimah. Seandainya ganjaran gonimah mengurangi pahala mereka di akhirat, maka rugi mereka mengambil gonimah tersebut. Tetapi ternyata Allah berikan ganjaran tersebut, ganon tersebut tidak mengulangi pahala mereka di akhirat kelak sama sama sekali. Ya, sama sekali. Karena mereka niatnya murni untuk akhirat ya. murni untuk akhirat. Ya, para ulama hanya mengatakan pahala di akhirat bisa berkurang jika niat akhirat tercampur dengan duniawi. Selain ri tercampur dengan duniawi. Selama niat akhirat lebih mendominasi, namun ada niat duniawi, maka ini bisa mengurangi ganjaran di akhirat. Ya, se dalam hadis jika seorang berjihad kemudian mengambil gani taajalu ya, maka pasukan yang berangkat berjihad kemudian ingin mengambil ghanimah kemudian dia mengambil gonimah tersebut maka dia telah mereka telah menyegerakan dua pertiga pahala mereka yaitu pahala mereka di akhirat berkurang. Adapun kalau niatnya murni karena Allah Subhanahu wa taala kemudian mendapatkan kemenangan, mendapatkan ganonimah, maka tidak mengurangi pahala mereka di akhirat sama sekali. Wallahu taala alam bawab. Allah berfirman, "Dan Allah janjikan kepada kalian." Di sini kata para ulama, tadinya Allah menggunakan dan ganonimah yang banyak yang mereka ambil. Maksudnya para sahabat yang baiat Nabi di bawah pohon ridwan. Pada ayat berikutnya, pada ayat ke-20 Allah mengatakan waadakumullah. Allah ganti kata ganti dengan kum antum. Kata ganti orang kedua jamak. Yang tadi kata ganti orang ketiga jamak. Hum. Mereka mengambil gonimah yang banyak. Maksudnya para sahabat yang baiat di bawah pohon riduan. Sekarang Allah menggunakan kata ganti antum. Allah janjikan kalian untuk mendapatkan ganimah yang banyakha yang kalian ambil. Yaitu ini berlaku bukan cuma kepada para sahabat tapi seluruh kaum muslimin sampai hari kiamat kelak. Ya, dengan syarat mereka beriman bertakwa kepada Allah, maka mereka bisa meraih ganimah-ghanimah yang lain yang banyak. Faajalakum. Dan Allah menyegerakan yang ini yaitu ganimah di perang Khaibar. Dan Allah menahan tangan-tangan orang lain untuk menyerang kalian yaitu dengan hikmah Allah Subhanahu wa taala. Sehingga ketika kaum muslimin menyerang Khaibar, orang-orang Quraisy tidak membantu Yahudi karena mereka dalam perjanjian damai dengan kaum kaum muslimin. Ini perjanjian Hudaibiyah. Dan ini hikmahnya sehingga kaum muslimin bisa konsentrasi melawan Yahudi Khaibar. Walitakuna ayat lil mukminin. Dan ini sebagai bukti bagi orang-orang yang beriman bahwasanya Allah tolong mereka dengan cara Allah Subhanahu wa taala. Padahal ketika mereka para sahabat melakukan perjanjian Hudaibiyah, mereka sedih. Sebagaimana sudah kita ceritakan, mereka sedih karena mereka harus pulang tidak jadi umrah dan mereka harus menyembelih unta-unta mereka dan mereka harus pulang perjalanan 450 kilo 400 kiloan tanpa ada hasil umrah tanpa melihat Ka'bah sama sekali. Tapi ternyata itu cara Allah agar mereka menang dalam perang Khaibar. Setelah itu mereka akan menaklukkan Makkah pada tahun 8 Hijriah. Allah punya cara sendiri. Makanya Allah mengatakanin bahwasanya kejadian ini merupakan tanda kebesaran Allah, bukti kebesaran Allah bagi kaum mukmininahum mustaqima. Dan Allah beri petunjuk kepada kalian kepada jalan yang lurus. Kepada jalan yang yang lurus. Setelah itu Allah berfirman lagi tentang gonimah yang lain pada ayat ke-21. Kata Allah subhanahu wa taala, "Wauk lam taqdiru alaiha. Dan ada kemenangan-kemenangan yang lain yang belum kalian mampui atasnya. Qatallahu biha dan Allah telah menguasainya. Wallahu alain qodir. Dan sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Ayat ini kata para ulama terkait dengan ee kemenangan kaum muslimin di kemudian hari. bahwasanya sekarang ada tempat-tempat yang kalian tidak mampui. Waukhra lam taqdiru alaiha. Dan ada ghanimah-gonimah yang kalian belum mampui di saat itu, yaitu Persia, Romawi kalian belum mampu. Ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah tahun 6 Hijriah, kaum muslimin belum mampu menyerang Romawi. Kaum muslimin belum mampu menguasai Persia. Tapi kata Allah nanti kalian akan menguasai. Makanya Allah mengatakan, "Lam taqdiru alaiha." Kalian belum mampu saat ini, tapi nanti kalian akan mampu. Qatallahu biha. Allah telah menguasainya dan Allah akan berikan kepada kalian pada waktunya. Sehingga akhirnya di zaman Umar bin Khattab radhiallahu anhu, akhirnya ditaklukkanlah Persia. Kemudian juga ditaklukkan sebagian Romawi, ya. Kemudian Baitul Maqdis dikuasai oleh ee Umar bin Khattab radhiallahu anhu. Ya, di zaman kekhilafahan Umar bin Khattab radhiallahu taala anhu. Tapi kata Allah ketika itu, sekarang kalian belum belum mampu tapi nanti kalian akan mendapatkannya. Wanallahu ala kulliin qodir. Dan itu semua Allah maha kuasa. itu mudah bagi Allah untuk menangkan kalian di kesempatan-kesempatan yang lain. Kemudian Allah mengatakan, "Walau qot lakumulladzina kafaru lawallaul adbar tumma la yajiduna waliya w nasir." Ya, seandainya orang-orang kafir menyerang kalian, yaitu orang-orang Quraisy menyerang kalian ketika itu, ya lawalla adbar, mereka akan kabur mundur. Tumma la yajiduna wali w nasir. Kemudian mereka tidak akan mendapati walian, yaitu yang ngurus mereka wala nasiran maupun yang menolong mereka. Itu Allah menenangkan kaum musyrik, kaum muslimin. Tenang. Seandainya kalian perang, kalian akan menang. Kenapa orang kafir ketika menyerang kalian mereka akan kabur? Mereka akan kabur selama kalian beriman dan bertakwa. Dan kalau mereka sudah kabur tidak ada yang bisa ngurusin mereka dan mereka tidak akan menemukan penolong. Beda kalau kabur masih berharap ada penolong sehingga balik lagi nyerang. Tapi mereka kalau nyerang kalian wahai kaum mukminin, mereka kabur balik belakang dan mereka tidak ada tidak akan mendapatkan wali yang mengurusin mereka dan juga tidak akan mendapatkan nasirah yang akan menolong menolong mereka yang menunjukkan kekalahan mereka akan parah jika berperang melawan kalian. Ini pujian dan memberi semangat kepada kaum mukminin. Yang penting bertakwa. Sunatallahillati qod khalat minqobl. Inilah tradisi Allah atau sunatullah, ketentuan Allah. yang telah berlaku sejak duluah dan kalian tidak akan mendapati perubahan bagi peraturan Allah Subhanahu wa taala. Sunatullah maksudnya tradisi yang berlaku. Allah tradisi yang berlaku di bumi ini bahwasanya kaum mukminin kalau perang melawan kaum musyrikin selama kaum beriman pasti menang. Pasti menang. Mereka pasti kabur karena kemenangan di tangan Allah Subhanahu wa taala. Dan ketika kaum muslimin kalah pasti ada yang salah dengan kaum muslimin. Ada yang salah dengan kaum muslimin. Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Dan ayat-ayat yang menunjukkan sunatullah yang berlaku ini sangat banyak. Seperti firman Allah subhanahu wa taala, "Ya ayyuhalladzina amanu inansurullaha yansurkumit aqdamakum." Wahai orang yang beriman, jika kalian menolong Allah, Allah akan tolong kalian dan Allah akan kokohkan kaki-kaki kalian. Kata Allahu inallahumakatillah umur. Kata Allah Subhanahu wa taala, "Sungguh Allah akan menolong orang-orang yang menolong Allah." Pasti menang. Enggak mungkin enggak menang. Kata Allah Subhanahu wa taala, "Laqarakumullahu fiwair." Sungguh Allah telah menolong kalian dalam banyak peperangan. yang tolong Allah subhanahu wa kemenangan dari Allah subhanahu wa taala. Allah juga berfirman, "Laq nasarakumullah badri waumillah." Sungguh Allah telah menolong kalian dalam perang Badar padahal jumlah kalian cuma sedikit. Allah berfirman, "Kamim fiatin qilinabat fiatan bidnillah." Betapa banyak jumlah sedikit mengalahkan jumlah yang yang banyak. Kemenangan di tangan Allah. Kata Allah subhanahu wa taalaikal mulkaasyaul mimya tasyaikalir. Dialah Allah Subhanahu wa taala ya pemilik kekuasaan. Kau berikan kekuasaan kepada siapa yang kau hendaki. Kau cabut kekuasaan dari siapa yang kau kehendaki. Kau muliakan siapa yang kau kehendaki. Dan kau hinakan siapa yang kau kehendaki. Semua kemenangan dari Allah Subhanahu wa taala. Dan ini suatu yang pasti. Jika beriman bertakwa pasti menang. Tapi kalau tidak beriman tidak bertakwa repot. Makanya saya akan bacakan bagaimana nasihat Umar bin Khattab ketika Umar bin Khattab radhiallahu anhu mengirim Saad bin Abi Waqqas untuk menyerang Persia. Nasihat yang sangat indah ya yang menunjukkan bahwasanya peraturan Allah kalau terjadi peperangan, orang kafir pasti kabur. Itu pasti terjadi dengan syarat kita beriman dan bertakwa. Namun kenapa kalau terjadi sebaliknya? Terjadi sebaliknya karena kita bermasalah. Karena kita bermasalah. Kurang iman, kurang takwa, kurang percaya kepada Allah Subhanahu wa taala. Bersandar kepada kemampuan, bersandar kepada jumlah yang banyak. Lupa bahwasanya kemenangan murni hanya karena Allah. Terjebak dalam ujub, terjebak dalam kemampuan, merasa pede dan banyak hal sehingga menjadikan kaum muslimin tidak menang-menang. Saya bacakan perkataan nasihat Umar bin Khattab ketika mengutus Saad bin Abi Waqqas untuk menyerang apa Persia? Jumlah mereka sedikit. Perjalanan jauh dari Madinah menuju Irak jauh menuju Persia jauh. Pasukan sedikit musuh terlalu banyak. Apa kata Umar bin Khattab radhiallahu anhu? Amma ba'du. Fainni amuruka waman maaka minal ajn bqwallah alal. Aku perintahkan engkau wahai Saad bin Waqqas dan juga kepada seluruh pasukan untuk bertakwa kepada Allah dalam setiap kondisi. Faqwallah udal adu. Sesungguhnya takwa kepada Allah itulah senjata terbaik untuk ngelawan musuh. Waal makid har dan dia strategi terbaik dalam peperangan. Takwa kepada Allah strategi terbaik. Dan saya perintahkan engkau w Saad bin Abi Waqqas dan juga kepada pasukanmu untuk lebih waspada kepada maksiat daripada waspada kepada musuh kalian. Ini Saad bin Waqqas yang dinasati oleh Nabi sudah dijamin surga oleh oleh Nabi. Nabi mengatakan Saad fil jannah. Saad bin Waqqas di surga. Tetapi meskipun dijamin surga tetap dinasihati oleh Umar. Umar bilang apa? Kau dan pasukanmu bertakwa kepada Allah. Senjata terbaik adalah takwa. Ya. Dan hati-hati dengan maksiat. Lebih harus hati-hati dari kepada maksiat daripada hati-hati kepada musuh kalian. Sesungguhnya dosa-dosa pasukan lebih menakutkan daripada musuh mereka. Lebih mengkhawatirkan daripada musuh mereka. Insir muslim adihim. Sesungguhnya kaum muslimin dimenangkan oleh Allah karena maksiat musuh mereka. Kalau bukan karena takwa dan maksiat mereka, takwa kita dan maksiat mereka, tentu kita tidak punya kekuatan. Lianna adanaim. Karena jumlah pasukan kita tidak seperti jumlah pasukan mereka. Jauh. Mereka sangat banyak. W uddatuna kauddatihim. Dan persiapan kita, senjata kita tidak seperti senjata mereka. Kaum muslimin, apa senjatanya zaman itu? Sederhana, panah. Sementara orang Romawi, orang-orang Persia sudah jadi negara mungkin ribuan tahun yang lalu. Kaum muslimin baru saja jadi negara kecil di Madinah baru puluhan tahun. Sementara Romawi atau Persia yang mereka lawan sudah ribuan tahun. Di ditinjau dari jumlah pasukan kaum muslimin punya puluhan ribu. Mereka mungkin 1 juta pasukan. Gak ada gak ada perbandingan. Ditinjau dari alat-alat peperangan mereka jauh. Mereka peralatan peperangan besi dan macam-macam hebat. tidak sama dengan kaum muslimin. Makanya Umar mengatakan ditinjau dari jumlah kita kalah, ditinjau dari peralatan kita kalah. Cuma buat kita menang apa? Kita takwa mereka maksiat. Itu yang buat kita menang. Kemudian kata Umar bin Khattab radhiallahu anhu, fawa filiah lahum. Kalau ternyata kita sama-sama maksiat, kita maksiat, mereka juga maksiat, maka mereka akan lebih kuat daripada kita. Karena kita hanya bisa menang dengan ketakwaan kita. Kita tidak pernah menang dengan kekuatan fisik kita, kekuatan senjata kita. Wamu. Kemudian Umar melanjutkan nasihatnya kepada Saad bin Abi Waqqas. Ketahuilahna alikum fiirikum minallahunaalun. Ketahuilah ketika kalian berjalan dari Madinah menuju Al-Qadisiyah, menuju tempat peperangan, menuju markas orang Persia, sungguhnya bersama kalian hafadah malaikat yang mencatat amal kalian. Malaikat-malaikat tersebut tahu apa yang kalian kerjakan. Subhanallah. Umar ingatkan tentang bahaya maksiat karena malaikat terus mencatat. Fastahyu minhum. Maka malulah kepada malaikat-malaikat tersebut. Walu bimaasillah. Jangan kalian bermaksiat kepada Allah. Waum fisabilillah. Sementara kalian sedang berjihad di jalan Allah subhanahu wa taala itu jangan campurkan jihad dengan maksiat. Wala taquulu inna aduana syarun minna falan yusallat alaina wain asana. Jangan sempat kalian bilang syubhat. Kalian bilang meskipun kita bermaksiat musuh lebih buruk kita pasti akan menang. Karena ditinjau dari maksiat kita enggak ada bandingannya dengan kekufuran mereka. Kalau gitu bakalan kita menang. Ini syubhat kata Umar. Lihat betapa banyak kaum ternyata dikuasai oleh kaum yang lebih buruk daripada mereka. Contohnya apa? Lihatlah ketika Bani Israil yang mereka masih beriman kepada Allah, namun mereka bermaksiat, mereka riba, mereka makan haram, mereka menghilangkan hukum-hukum Had, akhirnya mereka dikuasai oleh Bukhtan Nasar Majusi. Padahal kalau ditinjau dari kesyirikan, Majusi lebih parah daripada Bani Israil. Tapi ketika sama-sama maksiat sudah Allah tidak tolong. Akhirnya kalah dengan yang lebih buruk meskipun lebih lebih buruk. Maka mintalah kepada Allah pertolongan untuk menjaga diri kalian agar tidak maksiat sebagaimana kalian minta pertolongan kepada Allah untuk mengalahkan musuh-musuh kalian. Nasihat luar biasa. Karena sunatullah berlaku bahwasanya kalau orang yang beriman pasti Allah tolong, musuh pasti kabur. Allah mengatakan dalam ayat ini, kafar. Seandainya kalian diperangi oleh orang kafir, mereka akan kabur. Mereka akan kabur dan mereka tidak akan mendapatkan pengurus maupun penolong mereka. Bismillah. Allah berfirman, "Sunatallah minq ini peraturan Allah, tradisi Allah, sunatullah yang telah berlaku sejak dulu. Kau tidak akan mendapati peraturan Allah berubah. Yang penting bertakwa pasti menang." amumina. Kata Allah, "Allah janjikan kepada orang beriman di antara kalian beramal saleh, Allah akan menjadikan mereka berkuasa di atas muka bumi dan Allah ya akan rida dengan agama mereka dan Allah akan menjadikan rasa takut mereka dengan keamanan. Jadi, siapa yang beriman dia akan ditolong oleh Allah Subhanahu wa taala." Ini mencakup ee apa namanya? Urusan besar, urusan negara. Tapi secara umum ini a juga berlaku pada urusan kecil kita. Kalau kita beri yang bertakwa, kita akan ditolong dalam urusan pribadi masing-masing orang. Kapan kita tidak ditolong? Ketika kita menjauh dari Allah. Kalau kita dekat dengan Allah, Allah mengatakan, "Wallahu yuhibbusirin." Allah mencipta orang yang sabar. Allah bersama orang-orang yang bertakwa. Ya, siapa yang bertakwa saya yang bersabar Allah akan bersama dia. Nabi Yusuf berkata, "Innahuqiasbirallahin." Siapa yang bersabar dan bertakwa, bertakwa bersabar, Allah tidak akan menyenyakan orang yang beramal saleh. Pasti ada hasil indahnya, pasti ada happy ending-nya. Inasbiru watattaqu la yadurukum. Waasbir wattaqu laadurukum kaidukum kaiduhum. Ya, kalau kalian bersabar bertakwa, maka mereka tidak akan beri mudarat kepada kalian. Tib kita lanjutkan. Setelah itu pada ayat ke-24 Allah berfirman, "Wahu kafa aidiahum waidakumai." Dialah Allah yang telah menahan tangan mereka dari menyerang kalian. Dan Allah menahan kalian dari menyerang mereka. Bibatni Makkah di daerah Makkah ya di kota Makkah. M'di anfarakum alaihim. Setelah Allah menjadikan kalian mampu menangkap mereka. Wallahu bima tammaluna bir. Dan sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian Allah melihat apa yang kalian lakukan. Ini ayat terjadi sebag disebutkan oleh Tahir Ibnu Asyur tentang ayat ini turun tentang ketika Rasul Sallahu Alaihi Wasallam sedang mengirim atau sedang mengirim apa terjadi diskusi antara delegasi kaum muslimin dengan delegasi kaum musyrikin, kaum Quraisy. Tiba-tiba ada sekelompok orang Quraisy berjumlah 80 orang. Mereka bawa pedang kemudian mereka ingin menyerang kaum muslimin. Dianggap kaum muslimin lagi lalai. Mereka ingin menyerang. Tapi ternyata Rasulullah tahu akhirnya Rasul Sallahu Alaihi Wasallam menyerang mereka dan akhirnya tertangkap 80 orang tersebut. Tadinya mereka menyerang diam-diam ternyata ketahuan mereka malah ketangkap. Setelah mereka ketangkap ternyata Rasul Sallahu Alaihi Wasallam tidak membunuh mereka. Rasul sahu alaihi wasallam suruh lepaskan. Rasulullah suruh lepaskan. Karena kalau 80 tersebut terbunuh pasti terjadi peperangan. Rasulullah lagi tidak ingin berperang. Rasul Sallahu Alaihi Wasallam datang untuk umrah bukan untuk apa? Perang. Kata Rasulullah lepaskan. Akhirnya mereka pulang. Makanya Allah itu nikmat kata Allahum. Dialah Allah yang telah mencegah mereka menyerang kalian dan mencegah kalian membunuh mereka. Setelah Allah menjadikan kalian mampu menangkap mereka. Allah maha melihat semua yang kalian lakukan. Ya, tujuannya baik. Ternyata di balik itu artinya terjadilah perjanjian Hudaibiyah dan akhirnya ada kemenangan perang Khaibar, ada Fatu Makkah dan seterusnya. Setelah itu ada kebaikan-kebaikan kaum muslimin banyak yang banyak orang kafir masuk Islam. Seperti saya sudah sampaikan ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah kaum muslimin jumlahnya sekitar cuma 2.000. Tahun 6 Hijriah kaum muslimin jumlahnya cuma 2.000 atau 3.000. Ketika Fatu Makkah perj kaum muslimin sudah jumlahnya 10.000. Berarti ada orang masuk Islam 7.000 dalam waktu 2 tahun kurang berapa ribu? 7.000. Dan ini luar biasa. Padahal Nabi berdakwah sejak beliau menjadi nabi sampai tahun 6 Hijriah itu berapa? 13 + 6 19 tahun yang masuk Islam cuma 3.000-an. Tapi ketika terjadi perin Hudaibiyah terjadi interaksi antara kaum musyrikin dengan kaum muslimin, genjatan senjata. Ada yang ke Makkah, ada yang ke Madinah. Akhirnya mereka mengenal Islam dengan tenang. Akhirnya 7.000 orang masuk Islam. Ternyata itu di antara kemenangan. Makanya Allah menamakan Hudaibiyah dengan fathan kemenangan. Di antaranya 7.000 orang masuk Islam dan di antaranya Rasulullah akhirnya mudah untuk mengalahkan Yahudi di Khaibar. Setelah itu kemudian mengalahkan orang-orang Makkah di Fatu Makkah pada tahun 8 Hijriah. Kemudian Allah lanjut apa sudah nih? Lanjut sebentar ya biar kita tinggalkan dua ayat terakhir pertemuan berikutnya. Allah berfirman ayat 25. Mereka orang kafir, orang Quraisy. Masjidil Haram. Allah mencela mereka. Mereka mencegah kalian untuk umrah. Padahal kode etik ketika itu kalau ada yang umrah tidak boleh dicegah. Siapapun datang untuk beribadah di Ka'bah enggak boleh dicegah. Dan kaum muslimin datang ketika itu Nabi bersama 14 orang datang untuk beribadah. Harusnya mereka tidak boleh dicegah. Maka ketika orang kafir Quraisy mencegah mereka untuk masuk tanah haram, maka ini perbuatan tercela. Karena Nabi tidak sedang berperang mau ibadah. Harusnya kalau ibadah secara kode etik negara ketika itu dibiarkan. Tapi mereka ternyata tidak membiarkan. Kata Allah, "Wal hadya maufan mahillah." Di antara akibatnya akhirnya hewan-hewan hadyu tidak bisa sampai ke tempatnya. Apa itu hadyu? Hady adalah hewan yang di bawa ketika umrah atau ketika haji untuk dipotong di Makkah. Kalau dahulu had itu dibawa umrah dan haji. Tapi sekarang had cuma buat haji. Padahal zaman dahulu had umrah juga dibawa. Terkadang hewannya dilepas aja tanpa orangnya. Dilepas sampai Makkah untuk disembelih karena Allah subhanahu wa taala. Dan ketika Nabi umrah dengan 1000 orang, Nabi bawa dengan sahabat sekitar 70 ekor unta untuk disembelih di Makkah. Gara-gara mereka tertahan tidak bisa umrah, Allah mengatakan, "Wal hadyu maufan ayabahillah." Makufan yaitu tertahan dari akafa. Makuf yaitu tertahan dari hewan-hewan tersebut tertahan tidak bisa sampai pada tempatnya, tidak sampai bisa masuk tanah haram. Karena Nabi sallallahu alaihi wasallam di Hudaibiyah di tanah halal. tidak bisa masuk tanah haram untuk disembelah disembelih. Kata Allah Subhanahu wa taala, "Dan kalau bukanlah karena laki-laki kaum mukminin dan perempuan yang kaum mukminat yang tidak kalian ketahui sehingga kalian bisa membunuh mereka yang menyebabkan kalian ditimpa dengan kesusahan tanpa sepengetahuan kalian, tentu Allah akan menahan tangan, tentu Allah akan menjadikan mereka berperang melawan kalian." Jadi maksudnya ayat ini di antara hikmah Allah jelaskan apa hikmahnya kalian tidak perang lawan orang Quraisy. Bukan kita sampaikan ketika terjadi peran Hudaibiyah Umar ngajak perang. Umar mengatakan, "Ya Rasulullah, ngapain kita ngalah? Kita perang aja lawan mereka ya Rasulullah. Alisa qotlana fil jannah waqlum finar." Bukankah kalau kita berjihad yang mati di antara kita masuk surga, yang mati mampus mereka masuk neraka. Kata Nabi benar. Kemudian kata Umar, "Kalau gitu falim, ngapain kita mengalah?" Kata Rasulullah, "Inni Rasulullah wasastu asih." Saya ini utusan Allah dan saya tidak akan bermaksiat kepada Allah. Artinya saya melakukan perjanjian Hudaibiyah ini perintah Allah. Saya enggak bisa apa-apa lagi. Dan kita tahu kebiasaan Nabi kalau belum ada wahyu, Nabi berdiskusi dalam segala hal. Ketika be peperangan, perang Badar, Rasulullah diskusi, perang Uhud Rasulullah diskusi, perang Khondq Rasulullah diskusi. Bahkan Rasulullah mengambil pendapat sahabat ketika Hudaibiyah Rasulullah tidak diskusi. Kenapa Rasulullah tidak musyawarah, tidak diskusi? Karena perintah Allah. Dia mengatakan, "Saya utusan Allah wasastu aih." Dan saya tidak akan membangkang perintah Allah. Saya disuruh perjanjian Yud ini yang suruh Allah. Enggak mungkin saya perang. Ternyata Allah jelaskan hikmah-hikmahnya kenapa tidak perang. Ya tadi banyak sudah kita sebutkan. Di antara hikmahnya karena ketika itu ada orang-orang di Makkah yang masuk Islam yang menyembunyikan Islam. Mereka yang takut dengan keluarga mereka baik laki-laki maupun perempuan. Kalau kalian menyerang, bisa jadi kalian membunuh mereka orang-orang ini. Kata Nabi, "Kalian tidak tahu siapa mereka. Karena mereka menyembunyikan Islam mereka. Mereka takut kalian masuk mungkin mereka dipaksa perang, akhirnya mereka di dibunuh oleh kalian sendiri." Kalau kalian melakukan demikian, maka kalian akan dicerca, dihina. Akan dikata orang Quraisy, "Lihat Muhammad bunuh umatnya sendiri. Lihat Muhammad melakukan peperangan di tanah suci. Akan banyak fitnah." Maka di antara hikmah Allah, Allah bilang, "Gak usah perang. Allah lebih tahu tentang hikmah yang terbaik." Meskipun Umar waktu itu protes sama para sahabat semuanya pengin apa? Perang. Tapi yang lebih tahu hikmah siapa? Allah subhanahu wa taala. Allah bilang enggak? Enggak. Maka Allah jelaskan di antara hikmahnya, kalian kalau masuk menyerang tentu akan membunuh kaum muslimin, kaum muslimat yang kalian tidak mengenal mereka. Akhirnya kalian ditimpa dengan kesusahan, akan dihina, akan diejek, akan dinyinyir, akan dibully oleh orang-orang musyrikin. Maka Allah mencegah mereka untuk berperang. Kemudian Allah ada hikmah berikutnya. Kenapa tidak jadi perang? Kata Allah, "Liyudkilallahu fi rahmatihi may yasya." Agar Allah masukkan orang-orang yang Allah kehendaki dalam rahmatnya. Benar. Agar orang-orang tersebut selamat dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala. Agar kaum muslimin dapat rahmat sehingga menang dalam Khaibar dan perang-perang berikutnya. Agar orang-orang kafir Makkah tadi dapat rahmat sehingga mereka masuk Islam. Dan banyak mereka akhirnya masuk apa? Islam. Ternyata hikmahnya banyak ya di balik perjanjian Al-Hudaibiyah tersebut. Kata Allahuasya rahmatiasya agar Allah masukkan siapa yang Allah kehendaki dalam rahmatnya. Sehingga mengenai orang-orang kaum muslimin, kaum minat yang mustatafin yang susah yang menyembunying Islam mereka agar kaum muslimin mendapatkan gonimah. Agar kaum muslimin dijamin surga oleh Allah Subhanahu wa taala agar mereka terpuji diingat karena mereka pernah membaiat Nabi di bawah sebuah pohon. dan juga agar orang-orang kafirin bisa masuk Islam dan akhirnya banyak masuk Islam. Abu Sufyan masuk Islam, Ikrimah bin Abi Jahal masuk Islam, Safan bin Umayyah masuk Islam, tokoh-tokoh Quraisy ya, Khalid bin Walid masuk Islam ya. Banyak hikmah luar biasa. Makanya ini sebagai contoh bahwasanya tidak semua yang kita rencanakan itu lebih baik. Kalau makanya kalau ada sunah Nabi kerjakan aja, maka Nabi kerjakan urusan belakangan, urusan belakangan, urusan Tuhan, bukan urusan kita. Yang penting ketika kita mengerjakannya karena Allah Subhanahu wa taala. Kita ikut prosedur. Prosedurnya gimana? Allah sudah kasih prosedur itu pasti yang terbaik buat kamu. Gak usah kau macam-macam. Ikut aja prosedur. Apa yang terjadi biarkanlah terjadi. Kelihatannya buruk nanti ujungnya apa in indah. Lihat ini kelihatannya buruk. Enggak jadi umrah. Pulang balik sedih, jalan lagi 450 kilo. Unta-unta disembelih. Enggak jadi disembelih di tanah haram. Ibarat kita sudah berangkat, sudah bayar habis-habisan sampai ke Makkah ternyata visa ziarah suruh pulang. Sedih atau tidak? Sedih enggak? Jadi ini sudah berangkat jauh-jauh kita mending naik pesawat. Ini Nabi jalan jalan berjalan dengan perjalanan darat mungkin seminggu. Bayangkan di bawah terik matahari kemudian debu bawa unta. Gak bisa jalan cepat-cepat. unta 70 mau di mau disembelih sampai di ujung enggak jadi. Tapi lihat hikmahnya luar luar biasa yang mungkin tidak direnungkan oleh para sahabat sehingga mereka baunya perang perang perang saja. Sampai kata seorang sahabat siapa? Sahal bin Naif atau siapa? Dia berkata, "Ittahimu ryakum. Curigailah diri kalian. Sungguh ketika peristiwa Abu Jandal, peristiwa Hudaibiyah, kami memprotes kepada Nabi. Kami protes kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. tidak tahu hikmahnya. Ketika Nabi bilang, "Gak, ini perintah Allah, kemudian Nabi cukur rambutnya, Nabi potong untanya, semua sahabat bilang ini sudah enggak bisa berubah lagi. Sudah mereka ikuti." Ternyata di balik itu banyak hikmah. Di antaranya kata Allah, "Liyudkillallahu fi rahmatihi yasya." Agar Allah masukkan dalam rahmatnya siapa yang Allah kehendaki. Lau tazayyalu lazabadina kafaru minaban alima. Seandainya laki-laki beriman dan wanita-wanita mukminah tersebut bisa terpisahkan, tentu kami suruh kalian perang. Tapi enggak. Karena enggak bisa ya sudah jangan. Maka di sini sebagian ulama dari para ulama fikih mengatakan kalau terjadi peperangan misalnya kemudian ada orang musyrik berlindung di balik wanita muslimah maksudnya di balik orang muslim maka gak boleh kita bunuh orang muslim tadi gak boleh kita serang dia karena bisa membunuh orang muslim tadi ya di antara pendapat karena tadi Allah melarang kaum muslimin untuk menyerang karena ada orang-orang beriman di situ yang dikhawatirkan akan terkena dampak ikut terbunuh. Wallahuam bawab. Tib ayat terakhir jaina kafaruat jahiliyah. Tatkala orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan. Hamiah itu fanatisme. Hamiah itu fanatisme jahiliah. Buktinya apa? Fanisme jahiliah mereka harusnya membiarkan Nabi dan para sahabat untuk umrah. Ini karena ini kode etik. Yang mau umrah tidak boleh dilarang. Tapi kenapa mereka larang? Karena mereka malu. Mereka enggak mau dibilang, "Lihat Muhammad dan pasukannya masuk sementara kaum Quraisy tidak berdaya." Mereka gak mau ada isu memalukan. Jadi mereka paksa melarang. Paksa melarang enggak mau malu. Padahal sebenarnya enggak usah malu. Datang aja kaum muslimin datang karena itu ingin bukan ingin perang, ingin umrah. Harusnya kalau ingin umrah dibiarin. Tapi karena mereka takut dikatakan lihat Muhammad datang dengan pasukannya dan kaum musyrikin, kaum Quraisy hanya duduk tidak bisa berkutik. Sehingga ini memalukan mereka. Karena hamiah terseb
Resume
Requeue
Categories