Transcript
9hLewvLkC_s • Tafsir Surat Al-Fath #4: Ayat 18-26 - Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2634_9hLewvLkC_s.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu
ala taufihi wamtinani asadu alla
ilahaillallah wahdahu la syarikalahu
takiman lya wa ashadu anna muhammadan
abduhu wa rasul ridwani allahumma sholli
alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwan.
Kita lanjutkan pembahasan kita dari
surah al-Fath surah ke-48 kita sampai
pada ayat ke-18.
Allah Subhanahu wa taala berfirman,
"Laqad rallahuil mukmininakaarah
faim maubihim
faanzalain alaihimahum fathan qba."
Dan sungguh Allah telah rida kepada kaum
mukminin ketika mereka membayak engkau
di bawah sebuah pohon. Maka Allah
mengetahui
apa isi hati mereka dan Allah maka Allah
turunkan ketenangan kepada mereka dan
Allah beri ganjaran kepada mereka dengan
kemenangan yang dekat.
Ayat ini salah satu
dari sekian banyak ayat yang memuji para
sahabat
ya.
Karena dalam Al-Qur'an banyak sekali
ayat-ayat yang muji para sahabat. Di
antaranya ayat ini Allah telah rida
kepada mereka. Oleh karenanya di antara
syiar khusus buat para sahabat kita
bilang radhiallahu anhum. Radhiallahu
anhum. Ya. Dan di sini Allah bercerita
tentang
1400 atau 1500 para sahabat yang
berangkat bersama Nabi untuk umrah
ketika umrah al-Hudaibiyah. Sebagaimana
sudah kita jelaskan pada
pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Dan ketika Rasulullah sahu alaii
wasallam sampai di Hudaibiyah
yang sekarang disebut dengan Sumaisi,
Hudaibiyah sebagiannya sebagian kecil
masuk tanah haram, sebagian besarnya di
luar tanah haram yang dikenal dengan
Sumaisi sekarang.
Maka Rasulullah sahu alaihi wasallam pun
ingin mengirim delegasi kepada
orang-orang
Quraisy. Maka ketika itu Rasul Sallahu
Alaihi Wasallam ee
mengirim Umar bin Khattab radhiallahu
anhu agar bertemu dengan orang-orang
musyrikin untuk negosiasi. Tapi Umar
menyarankan, kata Umar, "Ya Rasulullah,
saya tidak ada yang membelaku." Ya,
tidak ada orang yang yaqdab li kabilahku
tidak kuat, tidak ada yang membela aku.
Dan kalau saya ke sana mungkin tidak
tidak bisa memberikan apa-apa ya. Ee
sebaiknya engkau mengirim Utsman bin
Affan. Akhirnya Rasulull sahu alaihi
wasallam mengirim Utsman bin Affan
radhiallahu taala anhu. Akhirnya
pergilah Utsman bin Affan radhiallahu
anhu masuk
dan bertemu dengan orang-orang kafir
Quraisy. Dan bahkan ketika itu dia
dipersilakan untuk umrah terlebih
dahulu. Dikatakan kepada Utsman,
"Silakan umrah, silakan tawaf." Kata
Utsman, "Aku tidak akan tawaf sampai
Rasulull sahu alaihi wasallam tawaf."
Ya, saya tidak akan tawaf sampai
Rasulullah sahu alaihi wasallam tawaf.
Dan ternyata Utsman
gak balik-balik. Utsman gak balik-balik.
Bin Affan radhiallahu anhu enggak
balik-balik. Sehingga Rasulullah
menyangka Utsman telah dibunuh. Ada isu
bahwasanya Utsman telah dibunuh. Maka
ketika itu Rasul sahu alaihi wasallam
pun
memotivasi para sahabat untuk bertahan
untuk sabar
lawan musuh. Akhirnya Rasulullah
membaiat mereka. Rasulullah membaiat
mereka. Rasulullah tidak tahu ilmu gaib.
Bagaimana kabar tentang Utsman? Rasulull
sahu alaii wasallam tidak tahu. Nah,
akhirnya Rasul sahu alaihi wasallam pun
membaiat para sahabat sahabat di bawah
sebuah pohon yaitu Syajaratus Samurah.
Pohon yang terkenal di Arab ya yang
banyak durinya pohon samurah ya. Maka
Rasul sahu alaihi wasallam membaiat para
sahabat di bawah pohon tersebut. Maka
Allah abadikan dalam ayat ini. Bahkan
dalam hadis Rasul sahu alaihi wasallam
mengatakan tidak ada seorang pun yang
membaiat di bawah pohon yang akan masuk
neraka. Jadi mereka yang baiat Nabi di
bawah pohon ini semuanya dijamin surga.
Kecuali ada satu namanya ee Aljad bin
Qais yang ketika itu dia seorang munafik
ya. Maka dia saja yang tidak selamat.
Adapun yang lainnya semuanya
dijamin surga oleh Nabi sallallahu
alaihi wasallam. Dan jumlah mereka ada
atau sebagian mengatakan 1500 orang.
Kata Allah, Allah telah rida kepada
mereka. Laq radhiallahu anil mukminin
tahtajarah. Tatkala mereka membayat
engkau di bawah sebuah pohon itu Allah
rida kepada mereka. Dan ketika mereka
sedang membaiat Nabi, Allah pun rida
kepada mereka. Ya. Dan kalau Allah sudah
rida ya menunjukkan mereka akan masuk
surga. Waridwanum minallahi akbar. Dan
keridaan Allah adalah lebih besar
daripada segalanya. Ya. Dan rida Allah
bahkan lebih besar daripada nikmat surga
itu sendiri. Ketika Allah sudah
mengatakan Allah rida kepada mereka maka
ini isyarat bahwasanya mereka dijamin
masuk surga dan apalagi Nabi telah
menjamin mereka tidak bakalan disentuh
oleh api neraka. Maka di antara para
sahabat yang dia masuk surga secara
takyin, secara person-person adalah 1400
orang yang ikut serta dalam perjanjian
al-Hudaibiyah. Mereka semua dijamin
surga dan dijamin tidak akan masuk
neraka.
Kenapa? Di antara sebabnya faalima ma fi
qulubihim. Ya Allah mengetahui bagaimana
isi hati mereka. Dan ini tazkiah
rekomendasi Allah Subhanahu wa taala
tentang keikhlasan para sahabat, tentang
hati mereka ya. Dan banyak sekali Allah
merekomendasi para sahabat terkait
dengan hati hati mereka. Ya, seperti
Allah Subhanahu wa taala lil fuqaril
muhajirin muhajirinadina ukhju min
diarim amwalim yabad minallahi
waidwanaurunallahuasulahuika
humusodquun. Ya Allah puji kaum
Muhajirin yang kata Allah mereka ee
terusir dari negeri mereka ya dan mereka
mencari karunia Allah dan mereka mencari
waridwana mencari keridaan Allah
subhanahu waala. Kemudian Allah
mengatakan ulaika humusodiqun dan mereka
adalah orang-orang yang jujur iman
mereka. Jadi mereka pergi meninggalkan
kota Makkah untuk berhijrah ke Madinah
karena iman mereka yang jujur. Ya.
Kemudian juga Allah memuji orang-orang
penduduk Madinah.
dan seterusnya. Jadi banyak ya
seperti juga nanti di akhir ayat ya
Allah mengatakan di akhir surat alfat
tentang para sahabat Muhammad Rasulullah
maahu
mereka sujud dan rukuk karena mereka
mencari keridaan Allah Subhanahu wa
taala. Jadi Allah berbicara tentang hati
para sahabat bahwasanya yang
direkomendasi oleh Allah bukan secara
zahirnya aja. Zahirnya Allah sebutkan
mereka rukuk, mereka sujud.
Tapi Allah tidak hanya mencukupi,
mencukupkan dengan mentazkiah zahirnya
mereka hijrah, mereka bersedekah. Tapi
Allah juga mentazkiah isi hati mereka
bahwasanya mereka ulikumusodiqun, mereka
iman yang jujur. Yabun fad minallahi
waidwana. Mereka mencari keridaan Allah
Subhanahu wa taala. Allah menunjukkan
memuji keikhlasan mereka. Seperti dalam
ayat ini kata Allah, "Faalim fiubbihim."
Allah tahu isi hati mereka. Allah tahu
isi hati mereka. Ketika mereka membaiat
Nabi, Allah tahu mereka tulus, mereka
ikhlas. Bukan ada keinginan duniawi sama
sekali. Mereka siap mati. Mereka siap
membela Nabi sampai titik darah
penghabisan ketika mereka membaiat Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Maka Allah
mengatakan, "Faanzal sakinata alaihim."
Maka Allah turunkan ketenangan kepada
mereka.
Dan Allah akan beri ganjaran memberi
ganjaran kepada mereka kemenangan yang
dekat. Kemenangan yang dekat maksudnya
adalah perang ee ghanimah di perang
Khaibar.
Tib. Akhirnya para sahabat membaiat Nabi
sallallahu alaihi wasallam dan Nabi
membaiat dirinya dengan mewakili Utsman.
Kata Nabi, "Ini tangan Utsman." Kemudian
Nabi membaiat dirinya perwakilan dari
Utsman. Karena Utsman wallahualam
bagaimana nasibnya tidak diketahui
apakah sudah meninggal atau belum. Ya,
sampai disebut dalam sebagian riwayat
ketika Utsman akhirnya datang, sebagian
rat mengatakan, "Kau sudah tawaf ya?
Kalian telah suun kepadaku." Kata
Utsman. "Saya tidak akan tawaf sampai
Nabi sallallahu alaihi wasallam apa?
Tawaf." Sehingga sahabat mengatakan,
"Benar Nabi, persangka Nabi daripada
kami. Nabi telah membelamu dengan
mengatakan, "Kau tidak bakalan tawaf
sampai Nabi tawaf." Jadi Utsman
radhiallahu anhu sudah dipersilakan oleh
kaum musyrikin untuk tawaf, tapi dia
tidak mau. Dia tidak tidak mau. Dan di
sini kemuliaan Utsman bin Affan karena
Rasul sahu alaihi wasallam membaiat
Utsman dengan tangannya atas nama
Utsman. Lebih baik daripada Utsman yang
baiat langsung. Karena wakil menunjukkan
keutamaan yang diwakili. Ketika Utsman
diwakili oleh Nabi sallallahu alaihi
wasallam dan menggunakan tangan Nabi
untuk baiat Nabi sendiri menunjukkan
keutamaan Utsman bin Affan radhiallahu
taala anhu dan juga menunjukkan
keberanian Utsman.
ketika dia diutus oleh Nabi untuk masuk
di markas kaum musyrikin dan kemungkinan
dia dibunuh. Makanya ketika beliau
datang terlambat diduga dia telah
dibunuh. Ini menunjukkan keberanian
Utsman bin Affan radhiallahu taala anhu
untuk menjadi delegasi Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam untuk masuk
di tengah-tengah markas kaum musyrikin.
Tib. Kisah pohon ini, pohon samurah ini
disebut dengan syajarat ridwan. Karena
eh Allah mengatakan laqad radhiallahuil
mukminin. Allah telah rida kepada kaum
mukminin. Ya, dalam ayat ini ya ini
menunjukkan para sahabat radhiallahu
anhum. Demikian juga dalam ayat yang
lain surat taubah Allah mengatakan
wasabiquunal awaluna minal muhajirin
ansar walladina bisan radhiallahu anhum.
Allah rida kepada para sahabat Muhajirin
Anshar.
Dan mereka juga rida kepada Allah. Ya,
secara umum Allah rida kepada Muhajirin
Anshar. Dan spesifik Allah juga
menyebutkan Allah rida kepada 1400
sahabat yang membaiat Nabi sallallahu
alaihi wasallam. Maka pohon tersebut
dikenal dengan syjaratur ridwan. Yaitu
pohon ridwan. Karena di situlah Allah
memberi statement Allah rida kepada 1400
orang tersebut. Bagaimana si pohon ini?
Maka dalam sebagian riwayat menunjukkan
bahwasanya
pohon ini ee tidak diketahui lagi
tempatnya di mana ya. tempatnya di mana
ya?
Seperti dalam ee hadis ya.
Datang seorang rawi ya Thariq bin
Abdillah. Dia berkata, "Aku berhaji dan
aku melewati suatu kaum yang mereka
sedang salat di suatu tempat salat."
Faqulu mahadal masjid. Apa tempat salat
ini? Masjid-masudnya tempat orang salat.
Qad syajarah. Ini adalah pohon yang di
mana Rasul sahu alaihi wasallam membaiat
para sahabat baiat ridwan. Baiat ridwan
yang Allah sebut dalam surah al-Fatah.
Faataitu Said ibn Musayyib faakhbartuhu.
Aku pun mendatangi Said bin Musayyib.
Aku mengabarkannya. Maka Said berkata,
"Haddasani abi annahu faya Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam." Kata Said,
"Ayahku almusayyib atau almusayyib
mengabarkan kepadaku dia termasuk orang
yang membaiat Nabi di bawah pohon
tersebut." Yaitu dari 15 orang tersebut
tahta syajarah di bawah sebuah pohon.
Falamma khajna minal amil muqbil
anainaha falam naqdir alaiha. Ketika
kami pergi lagi balik tahun berikutnya,
tahun berikutnya kami kembali lagi
menuju Makkah melewati tempat tersebut,
maka kami lupa dan kami tidak tahu di
mana posisi pohon tersebut.
Maka Said kemudian mengomentari tentang
perbuatan orang-orang yang sengaja salat
di lokasi pohon tersebut. Kata Said ibn
Musayyib, inna ashaba Muhammadin
sallallahu alaihi wasallam lam yamuha
waimtum antum.
Para sahabat Nabi tidak tahu di mana
tempat posisi pohon tersebut lagi.
Sementara kalian mengetahui faantum
a'lam. Kalau gitu kalian lebih pandai
daripada para sahabat. Jadi sahabat
tahun depan balik lagi sudah enggak tahu
di mana pohon tersebut.
Dan asar ini juga riwayat ini juga hadis
ini dibawakan oleh Ibnu Katsir di
tafsirnya.
Ya,
demikian juga diriwayatnya dari Ibnu
Umar dengan ee makna yang sama. Kata
Ibnu Umar radhiallahu anhu, radhiallahu
anhu, Pak, Ibnu Umar, roj'na minal amil
muqbil. Tahun berikutnya setelah kami
membaiat Nabi, yaitu pada tahun 7
Hijriah. Karena baiat terjadi pada tahun
6 Hijriah.
Pada tahun berikutnya
kami kembali
Ibnu Umar termasuk yang baiat Nabi
ketika itu. Kata Ibnu Umar, "Tahun depan
kami balik tidak ada dua orang. Dua
orang di antara kami yang sepakat di
mana pohon tersebut yang kami pernah
membaiat Nabi sallallahu alaihi
wasallam. Kanat rahmatan minallah." Dan
ini adalah rahmat dari Allah Subhanahu
wa taala. Ya.
Jadi di sini Ibnu Umar mengatakan, "Kami
enggak tahu. Kami enggak tahu di mana
pohon tersebut. Bahkan dua orang di
antara kami enggak ada yang sepakat di
mana pohon tersebut." Ya, ini
menunjukkan bahwasanya ee posisi pohon
tersebut sudah tidak diketahui. Ya,
maka ada hikmahnya.
Nawawi rahimahullah berkata,
"Sbabu khofaiha." Sebabnya pohon
tersebut lokasinya tidak diketahui lagi
atau
biha atau alatasu
biha agar orang-orang tidak terfitnah
dengan pohon tersebut.
Lima jarah minalir. Karena di bawah
pohon tersebut pernah terjadi kebaikan
yaitu baiat.
Dan Allah menurunkan keridan Allah dan
Allah menurunkan sakinah kepada para
sahabat ketika itu.
Kalau seandainya pohon tersebut masih
ada dan masih terjaga, dikhawatirkan
orang-orang Arab Badui dan orang-orang
bodoh akan mengagungkan pohon tersebut.
Wa ibadatuha dan dikhawatirkan mereka
akan menyembah wa ibadatuhum dan mereka
ibadatum iyaha dan mereka akan menyembah
pohon tersebut.
Taala dan hilangnya bekas pohon tersebut
rahmat dari Allah. Ini annawawi
mengomentari perkataan Ibnu Umar
bahwasanya hilangnya lokasi pohon
tersebut adalah rahmat dari Allah
Subhanahu wa taala. Mereka gak tahu di
mana posisinya. Karena kalau ada mungkin
disembah.
mungkin di disembah ya.
Kemudian datang dalam riwayat-riwayat
bahwasanya di antaranya ya sampai kepada
berita kepada Umar ya bahwasanya ada
orang-orang yang beribadah di dekat
sebuah pohon ya
seperti dalam eh suatu riwayat dari Aun
Annafi dia berkata, "Kanasu yauna
allatiq yuqquq laha syajaratu ridwan."
Orang-orang mendatangi di zaman
kekhilafaan Umar bin Khattab radhiallahu
anhu itu jauh setelah kejadian tersebut.
Ya,
orang-orang datang ke sebuah pohon yang
disebut sajiratul ridwan. Fayusunaha
kemudian mereka salat di sisi pohon
tersebut.
Nafi berkata, "Fabagalika Umar bin Al
Khattabi faadahum fiha wa amar biha
faqtiat."
Ya. Maka sampailah
berita tersebut kepada Umar. Maka Umar
memperingatkan mereka dan akhirnya Umar
perintahkan agar pohon tersebut
ditebang.
Demikian juga kata disebutkan dari
dengan sanad yang sahih kata Ibnu Hajar
dari Nafi bahwasanya Umar sampai kepada
beliau kabar bahwasanya sebuah kaum
datangi sebuah pohon kemudian mereka
salat di sisi pohon tersebut. Maka Umar
fatawaadahum
Umar ingatkan mereka jangan salat di
situ. Akhirnya Umar perintahkan untuk
memotong pohon tersebut. Ya, wallahuam
bisawab. Pohon yang didatangi di zaman
Umar itu bukan sujud ridwan tapi pohon
yang diduga. Pohon yang di diduga ya.
Sehingga Umar potong. Apakah pohon
tersebut benar-benar pohon syirat
ridwan?
Karena masalahnya ee setahun setelah
mereka membaiat Nabi sallallahu alaihi
wasallam, ternyata para sahabat sudah
tidak tahu di mana lokasinya. Dan
kemudian muncul isu di zaman Umar,
orang-orang datang ke pohon tersebut
kemudian hendak dan kemudian salat di
sisi pohon tersebut. Maka Umar suruh
potong pohon tersebut. Berkata Ibnu Umar
tadi, "Tidak diketahuinya posisi tadi
kenapa? Rahmatan sebagai rahmat dari
Allah Subhanahu wa taala." Dan benar
ketika ada diduga pohon tersebut,
akhirnya orang mencari berkah di situ.
Dan Umar ini adalah wasilah yang bisa
mengantarkan kepada hal-hal yang tidak
diinginkan, kesyirikan, dan yang
lainnya. Maka Umar memerintahkan untuk
memotong pohon yang diduga sebagai pohon
ridwan.
Dan ini adalah salah satu semangat Umar
untuk menjaga tauhid. Sebagaimana pernah
kita ketahui juga terjadi di zaman Umar
ketika ditemukan jasad Nabi Daniel Alaih
Salam yang masih dalam kondisi utuh,
maka Umar khawatir orang-orang akan
terfitnah dengan jasad Nabi tersebut.
Akhirnya Umar menyuruh di malam hari
menggali sekitar puluhan lubang.
Kemudian diletakkan Nabi Daniel tersebut
salah satu lubang tersebut kemudian
dikubur sehingga orang tidak tahu di
mana kuburan Nabi Daniel. Kenapa? Kalau
orang tahu mungkin digali lagi nanti
digali lagi dan orang bisa terfitnah
karena
peribadatan hanya kepada Allah,
pengagungan hanya kepada Allah Subhanahu
wa taala. Dan sudah terfitnah
orang-orang sebelumnya yang
mengkultuskan
Uzair sehingga mengatakan Uzair
ibnullah, Uzair adalah putra Allah. Dan
sebelumnya juga sudah terbukti
orang-orang mengkultuskan Nabi Isa Alaih
Salam sehingga dikatakan Nabi Isa adalah
anak Allah sehingga diibadahi. Dan
sebelumnya lagi jauh di zaman Nabi Nuh
mereka telah mengkultuskan Watsa, Yagut,
Yauk, Nasr. Akhirnya disembah dan di
zaman Nabi sallallahu alaihi wasallam
mereka mengkultuskan Lata, seorang yang
sangat saleh bagi-bagikan makanan kepada
jemaah haji gratis. Akhirnya ketika
meninggal dibuat berhala, akhirnya di
disembah. Dan potensi menyembah
orang-orang saleh itu ada. Ya. Dan
sampai sekarang masih banyak
kuburan-kuburan, orang-orang saleh
kemudian didatangi diminta-mintai orang
minta-minta kepada penghuni kuburan.
Itulah syirkun saleh. Kesyirikan yang
sangat sangat jelas. Kalau pohon ridwan
saja yang diduga pohon ridwan yang
sebenarnya mungkin ada nilai sejarahnya
itu ditebang oleh Umar karena menjaga
tauhid. Ya,
bagaimana lagi kalau terkait dengan e
manusia ya yang kemungkinan untuk
dikultuskan sangat besar. Oleh karenanya
ketika Nabi Daniel ketahuan jasadnya
segera dikubur oleh Umar bin Khattab
radhiallahu anhu. Digali banyak lubang
agar tidak diketahui di mana lokasi
kuburannya. Khawatir orang-orang
terfitnah dengan jasad Nabi Daniel Alaih
Salam.
Tib di sini intinya pohon tersebut tidak
diketahui di mana lokasinya. Meskipun
kata Ibnu Hajar datang dalam sebagai
riwayat Jabir bin Abdillah di masa
hidupnya ketika dia sudah buta, dia
mengatakan, "Kalau saya bisa lihat, saya
akan tunjukkan di mana lokasi pohon
tersebut." Ya, ada sahabat mungkin yang
masih ingat ya, tetapi intinya ee
kebanyakan sahabat sudah tidak tahu di
mana lokasinya dan ada pohon yang diduga
sebagai pohon Sayitur Ridwan. Apa itu
benar pohon ridan atau cuma dugaan tetap
dipotong oleh Umar bin Khattab
radhiallahu taala anhu untuk menjaga
agar orang-orang tidak terjerumus dalam
kesyirikan. Sebagaimana kata Imam
Nawawi, di antara rahmat Allah lokasi
pohon tersebut dihilangkan oleh Allah.
Kalau seandainya lokasi pohon tersebut
pohon tersebut masih ada, khawatir akan
diibadahi.
Karena
setan selalu ada. Kecuali setan sudah
mati. Ya, mungkin kita enggak usah takut
dengan syirik. Selama setan masih ada,
iblis masih hidup atau sudah mati.
Adik-adik,
iblis masih hidup, sudah mati?
Masih hidup. Masih hidup. Kalau iblis
masih hidup berarti dia menggoda. Dan di
antara yang paling dia gunakan agar
orang terjerumus dalamnya adalah syirik.
Maka dia akan semaksimal mungkin
menjerumuskan alam kesyirikan dengan
menghiasi
hal-hal
di antaranya dengan pengkultusan, gulu,
berlebih-lebihan sampai terjerumus pada
kesyirikan.
Dan banyak orang-orang terjemus dalam
kesyirikan gara-gara orang orang saleh.
Saya sendiri pernah ketemu orang
sekarang mahasiswa Madinah. Dia mengaji
sama sama
seorang
orang saleh lah ya. Sampai dia ke
mana-mana dia merasa dilihat oleh orang
saleh tersebut sama gurunya. Sampai
kalau dia mau maksiat dia takut
ketahuan. Bukan karena takut kepada
Allah tapi takut kepada orang saleh.
Saya diskusi sama dia. Akhirnya sekarang
dia sudah jadi dia sudah kenal sunah dan
dia jadi ustaz. Alhamdulillah awalnya
dia begitu. Dia merasa ke mana-mana
dilihat oleh gurunya tersebut sehingga
dia mau macam-macam dia takut ini guru
saya lihat. Jadi takutnya bukan kepada
Allah tapi takutnya kepada orang yang
saleh tersebut. Ini kesyirikan. Ini
kesyirikan.
Tib kita lanjutkan. Maka karena mereka
hati yang tulus siap mati untuk membela
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
Taat kepada Nabi sallallahu alaihi
wasallam. Allah mengatakanim.
Allah tahu ketulusan mereka. Allah tahu
sifat setia. Wafa mereka, setia, maka
Allah turunkan ketenangan pada hati
mereka. Ya. Kemudian juga sehingga
mereka tenang, siap siap berkorban.
Mereka tenang. Waabahum fathan qoriba.
Dan Allah janjikan kepada mereka ee
Allah kemenangan yang disegerakan. Yang
disebut kemenangan tersebut adalah
perang Khaibar. Jadi setelah mereka
pulang dari mereka berangkat pada bulan
Zulkaidah. Jadi perjanjian Hudaibiyah
ini terjadi pada bulan Zulkadah.
Kemudian mereka balik sebulan setelahnya
yaitu pada tahun awal tahun 7 Hijriah.
Maka mereka menyerang Khaibar dan mereka
menang. Dan Allah mengatakan Allah
janjikan untuk membalas mereka dengan
kemenangan yang disegerakan. Maksudnya
adalah Fathu Khaibar. Fathu Khaibar.
Dan Allah berfirman,
"Dan mereka akan mendapatkan ganonimah
yang banyak." Wallahu azizan hakima. Dan
Allah adalah maha perkasa lagi maha
bijaksana. Ternyata di balik peristiwa
Al-Hudaibiyah
di mana Nabi dan para sahabat tidak jadi
umrah ketika itu sebagaimana sudah kita
jelaskan dan akhirnya mereka masuk dalam
perjanjian damai selama 10 tahun dengan
orang-orang Quraisy. Tidak terjadi
perang, terjadi gejatan senjata.
Sebagaimana kita ceritakan pada
awal-awal kajian tentang surah Al-Fath.
Akhirnya mereka pulang. Mereka pulang
dan setelah itu mereka berkesempatan
untuk menyerang Yahudi di Khaibar.
Seandainya mereka tidak ada perjanjian
damai dengan orang-orang Quraisy, tentu
orang-orang Quraisy akan membantu Yahudi
Khaibar. Tetapi karena mereka dalam
perjanjian dengan orang-orang Quraisy
sehingga mereka bisa konsen, fokus
menyerang Yahudi Khaibar tanpa diganggu
oleh orang-orang Quraisy. Dan ini adalah
hikmahnya. Akhirnya para sahabat menang
dan Khaibar adalah negeri yang sangat
kaya raya. Makanya dalam sebagian
riwayat istri Nabi berkata, "Kami tidak
pernah kenyang kecuali setelah Khaibar
ditaklukkan." Karena banyak sekali ee
harta Khaibar ya, terutama dari hasil
buminya yang luar luar biasa. Kata Allah
mengatakan, Allah berfirman,
"Whanimatanha
dan mereka akan mengambil ganimah yang
banyak
dari Khaibar." Wallahu azizan hakima.
Dan Allah maha perkasa lagi maha
bijaksana. Subhanallah. Allah mampu
mengalahkan
siapapun yang Allah kehendaki. Tapi
semua yang berjalan di atas muka bumi
ini ada hikmahnya, ada aturannya, ada
perjuangan.
Ya, ada perjuangan. Allah ingin ada yang
berjihad, Allah ingin ada yang
berdakwah, Allah ingin ada yang
berjuang. Ya,
kalau Allah mampu Allah matikan
iblis selesai. Kalau Allah kalau Allah
ingin Allah matikan iblis selesai. Allah
matikan Yahudi selesai. Tapi semua yang
terjadi ada hikmahnya. Makanya Allah
mengatakan, "Wakanu azizan." Allah maha
perkasa. Tetapi semua yang Allah
takdirkan hakiman di atas hikmah yang
Allah kehendaki.
Kemudian Allah berfirman lagi,
waakumullahunaha.
Dan Allah janjikan kepada kalian
gonimah-ganimah yang banyak yang kalian
akan mengambilnya. Faajalakum hadi. Dan
Allah segerakan yang ini, yaitu Khaibar.
Allah segerakan. Khaibar Allah
segerakan. yang lain Allah masih
janjikan.
Dan kata para ulama in dalil bahwasanya
jika para mujahidin mereka berjihad niat
benar-benar karena Allah. Tidak ada niat
untuk duniawi sama sekali bahkan tidak
ada niat untuk mencari gonimah. Lantas
mereka dapat ganonimah maka tidak
mengurangi jatan mereka di akhirat.
Tidak mengurangi jatah mereka di akhirat
karena mereka tulus. Oleh karenanya 1400
orang sahabat ini ketika mereka tulus
membaiat Nabi sallallahu alaihi
wasallam, Allah berikan mereka ganjaran
gonimah. Seandainya ganjaran gonimah
mengurangi pahala mereka di akhirat,
maka rugi mereka mengambil gonimah
tersebut. Tetapi ternyata Allah berikan
ganjaran tersebut, ganon tersebut tidak
mengulangi pahala mereka di akhirat
kelak sama sama sekali. Ya, sama sekali.
Karena mereka niatnya murni untuk
akhirat ya. murni untuk akhirat. Ya,
para ulama hanya mengatakan pahala di
akhirat bisa berkurang jika niat akhirat
tercampur dengan duniawi. Selain ri
tercampur dengan duniawi. Selama niat
akhirat lebih mendominasi, namun ada
niat duniawi, maka ini bisa mengurangi
ganjaran di akhirat. Ya,
se dalam hadis jika seorang berjihad
kemudian mengambil gani taajalu
ya, maka pasukan yang berangkat berjihad
kemudian ingin mengambil ghanimah
kemudian dia mengambil gonimah tersebut
maka dia telah mereka telah
menyegerakan dua pertiga pahala mereka
yaitu pahala mereka di akhirat
berkurang.
Adapun kalau niatnya murni karena Allah
Subhanahu wa taala kemudian mendapatkan
kemenangan, mendapatkan ganonimah, maka
tidak mengurangi pahala mereka di
akhirat sama sekali. Wallahu taala alam
bawab.
Allah berfirman,
"Dan Allah janjikan kepada kalian." Di
sini kata para ulama, tadinya Allah
menggunakan
dan ganonimah yang banyak yang mereka
ambil. Maksudnya para sahabat yang baiat
Nabi di bawah pohon ridwan. Pada ayat
berikutnya, pada ayat ke-20 Allah
mengatakan waadakumullah. Allah ganti
kata ganti dengan kum antum. Kata ganti
orang kedua jamak. Yang tadi kata ganti
orang ketiga jamak. Hum.
Mereka mengambil gonimah yang banyak.
Maksudnya para sahabat yang baiat di
bawah pohon riduan. Sekarang Allah
menggunakan kata ganti antum.
Allah janjikan kalian untuk mendapatkan
ganimah yang banyakha
yang kalian ambil. Yaitu ini berlaku
bukan cuma kepada para sahabat tapi
seluruh kaum muslimin sampai hari kiamat
kelak. Ya, dengan syarat mereka beriman
bertakwa kepada Allah, maka mereka bisa
meraih ganimah-ghanimah yang lain yang
banyak. Faajalakum. Dan Allah
menyegerakan yang ini yaitu ganimah di
perang Khaibar.
Dan Allah menahan tangan-tangan orang
lain untuk menyerang kalian yaitu dengan
hikmah Allah Subhanahu wa taala.
Sehingga ketika kaum muslimin menyerang
Khaibar,
orang-orang Quraisy tidak membantu
Yahudi karena mereka dalam perjanjian
damai dengan kaum kaum muslimin. Ini
perjanjian Hudaibiyah. Dan ini hikmahnya
sehingga kaum muslimin bisa konsentrasi
melawan Yahudi Khaibar. Walitakuna ayat
lil mukminin. Dan ini sebagai bukti bagi
orang-orang yang beriman bahwasanya
Allah tolong mereka dengan cara Allah
Subhanahu wa taala. Padahal ketika
mereka para sahabat melakukan perjanjian
Hudaibiyah, mereka sedih. Sebagaimana
sudah kita ceritakan, mereka sedih
karena mereka harus pulang tidak jadi
umrah dan mereka harus menyembelih
unta-unta mereka dan mereka harus pulang
perjalanan 450 kilo 400 kiloan tanpa ada
hasil umrah tanpa melihat Ka'bah sama
sekali. Tapi ternyata itu cara Allah
agar mereka menang dalam perang Khaibar.
Setelah itu mereka akan menaklukkan
Makkah pada tahun 8 Hijriah. Allah punya
cara sendiri. Makanya Allah mengatakanin
bahwasanya kejadian ini merupakan tanda
kebesaran Allah, bukti kebesaran Allah
bagi kaum mukmininahum
mustaqima. Dan Allah beri petunjuk
kepada kalian kepada jalan yang lurus.
Kepada jalan yang yang lurus.
Setelah itu Allah berfirman lagi tentang
gonimah yang lain pada ayat ke-21.
Kata Allah subhanahu wa taala, "Wauk lam
taqdiru alaiha.
Dan ada kemenangan-kemenangan yang lain
yang belum kalian mampui atasnya.
Qatallahu biha dan Allah telah
menguasainya.
Wallahu alain qodir. Dan sesungguhnya
Allah maha kuasa atas segala sesuatu.
Ayat ini kata para ulama terkait dengan
ee kemenangan kaum muslimin
di kemudian hari. bahwasanya sekarang
ada tempat-tempat yang kalian tidak
mampui. Waukhra lam taqdiru alaiha. Dan
ada ghanimah-gonimah yang kalian belum
mampui di saat itu, yaitu Persia, Romawi
kalian belum mampu.
Ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah
tahun 6 Hijriah, kaum muslimin belum
mampu menyerang Romawi. Kaum muslimin
belum mampu menguasai Persia. Tapi kata
Allah nanti kalian akan menguasai.
Makanya Allah mengatakan, "Lam taqdiru
alaiha." Kalian belum mampu saat ini,
tapi nanti kalian akan mampu. Qatallahu
biha. Allah telah menguasainya dan Allah
akan berikan kepada kalian pada
waktunya. Sehingga akhirnya di zaman
Umar bin Khattab radhiallahu anhu,
akhirnya ditaklukkanlah Persia. Kemudian
juga ditaklukkan sebagian Romawi, ya.
Kemudian Baitul Maqdis dikuasai oleh ee
Umar bin Khattab radhiallahu anhu. Ya,
di zaman kekhilafahan Umar bin Khattab
radhiallahu taala anhu. Tapi kata Allah
ketika itu, sekarang kalian belum belum
mampu tapi nanti kalian akan
mendapatkannya. Wanallahu ala kulliin
qodir. Dan itu semua Allah maha kuasa.
itu mudah bagi Allah untuk menangkan
kalian di kesempatan-kesempatan yang
lain.
Kemudian Allah mengatakan,
"Walau qot lakumulladzina kafaru
lawallaul adbar tumma la yajiduna waliya
w nasir." Ya, seandainya orang-orang
kafir menyerang kalian, yaitu
orang-orang Quraisy menyerang kalian
ketika itu, ya
lawalla adbar, mereka akan kabur mundur.
Tumma la yajiduna wali w nasir. Kemudian
mereka tidak akan mendapati walian,
yaitu yang ngurus mereka wala nasiran
maupun yang menolong mereka. Itu Allah
menenangkan kaum musyrik, kaum muslimin.
Tenang. Seandainya kalian perang, kalian
akan menang.
Kenapa orang kafir ketika menyerang
kalian mereka akan kabur? Mereka akan
kabur selama kalian beriman dan
bertakwa. Dan kalau mereka sudah kabur
tidak ada yang bisa ngurusin mereka dan
mereka tidak akan menemukan penolong.
Beda kalau kabur masih berharap ada
penolong sehingga balik lagi nyerang.
Tapi mereka kalau nyerang kalian wahai
kaum mukminin,
mereka kabur balik belakang dan mereka
tidak ada tidak akan mendapatkan wali
yang mengurusin mereka dan juga tidak
akan mendapatkan nasirah yang akan
menolong menolong mereka yang
menunjukkan kekalahan mereka akan parah
jika berperang melawan kalian. Ini
pujian dan memberi semangat kepada kaum
mukminin. Yang penting bertakwa.
Sunatallahillati qod khalat minqobl.
Inilah
tradisi Allah atau sunatullah, ketentuan
Allah.
yang telah berlaku sejak duluah
dan kalian tidak akan mendapati
perubahan bagi peraturan Allah Subhanahu
wa taala. Sunatullah maksudnya tradisi
yang berlaku. Allah tradisi yang berlaku
di bumi ini bahwasanya kaum mukminin
kalau perang melawan kaum musyrikin
selama kaum beriman pasti menang. Pasti
menang. Mereka pasti kabur karena
kemenangan di tangan Allah Subhanahu wa
taala. Dan ketika kaum muslimin kalah
pasti
ada yang salah dengan kaum muslimin. Ada
yang salah dengan kaum muslimin.
Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah
subhanahu wa taala. Dan ayat-ayat yang
menunjukkan sunatullah yang berlaku ini
sangat banyak. Seperti firman Allah
subhanahu wa taala, "Ya ayyuhalladzina
amanu inansurullaha yansurkumit
aqdamakum." Wahai orang yang beriman,
jika kalian menolong Allah, Allah akan
tolong kalian dan Allah akan kokohkan
kaki-kaki kalian.
Kata Allahu
inallahumakatillah
umur. Kata Allah Subhanahu wa taala,
"Sungguh Allah akan menolong orang-orang
yang menolong Allah."
Pasti menang. Enggak mungkin enggak
menang. Kata Allah Subhanahu wa taala,
"Laqarakumullahu fiwair." Sungguh Allah
telah menolong kalian dalam banyak
peperangan. yang tolong Allah subhanahu
wa kemenangan dari Allah subhanahu wa
taala. Allah juga berfirman, "Laq
nasarakumullah badri waumillah." Sungguh
Allah telah menolong kalian dalam perang
Badar padahal jumlah kalian cuma
sedikit.
Allah berfirman, "Kamim fiatin qilinabat
fiatan bidnillah." Betapa banyak jumlah
sedikit mengalahkan jumlah yang yang
banyak. Kemenangan di tangan Allah. Kata
Allah subhanahu wa taalaikal mulkaasyaul
mimya
tasyaikalir.
Dialah Allah Subhanahu wa taala ya
pemilik kekuasaan.
Kau berikan kekuasaan kepada siapa yang
kau hendaki. Kau cabut kekuasaan dari
siapa yang kau kehendaki.
Kau muliakan siapa yang kau kehendaki.
Dan kau hinakan siapa yang kau
kehendaki. Semua kemenangan dari Allah
Subhanahu wa taala. Dan ini suatu yang
pasti. Jika beriman bertakwa pasti
menang. Tapi kalau tidak beriman tidak
bertakwa
repot. Makanya saya akan bacakan
bagaimana nasihat Umar bin Khattab
ketika Umar bin Khattab radhiallahu anhu
mengirim Saad bin Abi Waqqas untuk
menyerang Persia.
Nasihat yang sangat indah ya
yang menunjukkan bahwasanya peraturan
Allah kalau terjadi peperangan, orang
kafir pasti kabur. Itu pasti terjadi
dengan syarat kita beriman dan bertakwa.
Namun kenapa
kalau terjadi sebaliknya? Terjadi
sebaliknya karena kita bermasalah.
Karena kita bermasalah. Kurang iman,
kurang takwa,
kurang percaya kepada Allah Subhanahu wa
taala. Bersandar kepada kemampuan,
bersandar kepada jumlah yang banyak.
Lupa bahwasanya kemenangan murni hanya
karena Allah. Terjebak dalam ujub,
terjebak dalam kemampuan, merasa pede
dan banyak hal sehingga menjadikan kaum
muslimin tidak menang-menang.
Saya bacakan perkataan nasihat Umar bin
Khattab ketika mengutus Saad bin Abi
Waqqas untuk menyerang apa Persia?
Jumlah mereka sedikit. Perjalanan jauh
dari Madinah menuju Irak jauh menuju
Persia jauh.
Pasukan sedikit musuh terlalu banyak.
Apa kata Umar bin Khattab radhiallahu
anhu? Amma ba'du.
Fainni amuruka waman maaka minal ajn
bqwallah alal. Aku perintahkan engkau
wahai Saad bin Waqqas dan juga kepada
seluruh pasukan untuk bertakwa kepada
Allah dalam setiap kondisi. Faqwallah
udal adu. Sesungguhnya takwa kepada
Allah itulah senjata terbaik untuk
ngelawan musuh.
Waal makid har dan dia strategi terbaik
dalam peperangan. Takwa kepada Allah
strategi terbaik.
Dan saya perintahkan engkau w Saad bin
Abi Waqqas dan juga kepada pasukanmu
untuk lebih waspada kepada maksiat
daripada waspada kepada musuh kalian.
Ini Saad bin Waqqas yang dinasati oleh
Nabi sudah dijamin surga oleh oleh Nabi.
Nabi mengatakan Saad fil jannah. Saad
bin Waqqas di surga. Tetapi meskipun
dijamin surga tetap dinasihati oleh
Umar. Umar bilang apa? Kau dan pasukanmu
bertakwa kepada Allah. Senjata terbaik
adalah takwa.
Ya. Dan hati-hati dengan maksiat. Lebih
harus hati-hati dari kepada maksiat
daripada hati-hati kepada musuh kalian.
Sesungguhnya dosa-dosa pasukan lebih
menakutkan daripada musuh mereka. Lebih
mengkhawatirkan daripada musuh mereka.
Insir muslim adihim. Sesungguhnya kaum
muslimin dimenangkan oleh Allah karena
maksiat musuh mereka.
Kalau bukan karena takwa dan maksiat
mereka, takwa kita dan maksiat mereka,
tentu kita tidak punya kekuatan. Lianna
adanaim. Karena jumlah pasukan kita
tidak seperti jumlah pasukan mereka.
Jauh. Mereka sangat banyak. W uddatuna
kauddatihim. Dan persiapan kita, senjata
kita tidak seperti senjata mereka. Kaum
muslimin, apa senjatanya zaman itu?
Sederhana, panah. Sementara orang
Romawi, orang-orang Persia sudah jadi
negara mungkin ribuan tahun yang lalu.
Kaum muslimin baru saja jadi negara
kecil di Madinah baru puluhan tahun.
Sementara Romawi atau Persia yang mereka
lawan sudah ribuan tahun. Di ditinjau
dari jumlah pasukan kaum muslimin punya
puluhan ribu. Mereka mungkin 1 juta
pasukan.
Gak ada gak ada perbandingan. Ditinjau
dari alat-alat peperangan mereka jauh.
Mereka peralatan peperangan besi dan
macam-macam hebat. tidak sama dengan
kaum muslimin. Makanya Umar mengatakan
ditinjau dari jumlah kita kalah,
ditinjau dari peralatan kita kalah. Cuma
buat kita menang apa? Kita takwa mereka
maksiat. Itu yang buat kita menang.
Kemudian kata Umar bin Khattab
radhiallahu anhu, fawa filiah lahum.
Kalau ternyata kita sama-sama maksiat,
kita maksiat, mereka juga maksiat, maka
mereka akan lebih kuat daripada kita.
Karena kita hanya bisa menang dengan
ketakwaan kita. Kita tidak pernah menang
dengan kekuatan fisik kita, kekuatan
senjata kita. Wamu. Kemudian Umar
melanjutkan nasihatnya kepada Saad bin
Abi Waqqas. Ketahuilahna alikum fiirikum
minallahunaalun. Ketahuilah ketika
kalian berjalan dari Madinah menuju
Al-Qadisiyah, menuju tempat peperangan,
menuju markas orang Persia, sungguhnya
bersama kalian hafadah malaikat yang
mencatat amal kalian. Malaikat-malaikat
tersebut tahu apa yang kalian kerjakan.
Subhanallah. Umar ingatkan tentang
bahaya maksiat karena malaikat terus
mencatat.
Fastahyu minhum. Maka malulah kepada
malaikat-malaikat tersebut. Walu
bimaasillah. Jangan kalian bermaksiat
kepada Allah. Waum fisabilillah.
Sementara kalian sedang berjihad di
jalan Allah subhanahu wa taala itu
jangan campurkan jihad dengan maksiat.
Wala taquulu inna aduana syarun minna
falan yusallat alaina wain asana. Jangan
sempat kalian bilang syubhat. Kalian
bilang meskipun kita bermaksiat musuh
lebih buruk kita pasti akan menang.
Karena ditinjau dari maksiat kita enggak
ada bandingannya dengan kekufuran
mereka. Kalau gitu bakalan kita menang.
Ini syubhat kata Umar.
Lihat betapa banyak kaum ternyata
dikuasai oleh kaum yang lebih buruk
daripada mereka. Contohnya apa?
Lihatlah ketika Bani Israil yang mereka
masih beriman kepada Allah, namun mereka
bermaksiat, mereka riba, mereka makan
haram, mereka menghilangkan hukum-hukum
Had, akhirnya mereka dikuasai oleh
Bukhtan Nasar Majusi. Padahal kalau
ditinjau dari kesyirikan, Majusi lebih
parah daripada Bani Israil.
Tapi ketika sama-sama maksiat sudah
Allah tidak tolong. Akhirnya kalah
dengan yang lebih buruk meskipun lebih
lebih buruk.
Maka mintalah kepada Allah pertolongan
untuk menjaga diri kalian agar tidak
maksiat sebagaimana kalian minta
pertolongan kepada Allah untuk
mengalahkan musuh-musuh kalian. Nasihat
luar biasa.
Karena sunatullah berlaku bahwasanya
kalau orang yang beriman pasti Allah
tolong, musuh pasti kabur. Allah
mengatakan dalam ayat ini,
kafar.
Seandainya kalian diperangi oleh orang
kafir, mereka akan kabur. Mereka akan
kabur dan mereka tidak akan mendapatkan
pengurus maupun penolong mereka.
Bismillah.
Allah berfirman, "Sunatallah
minq ini peraturan Allah, tradisi Allah,
sunatullah yang telah berlaku sejak
dulu.
Kau tidak akan mendapati peraturan Allah
berubah. Yang penting bertakwa pasti
menang."
amumina.
Kata Allah, "Allah janjikan kepada orang
beriman di antara kalian beramal saleh,
Allah akan menjadikan mereka berkuasa di
atas muka bumi
dan Allah ya akan rida dengan agama
mereka dan Allah akan menjadikan rasa
takut mereka dengan keamanan.
Jadi, siapa yang beriman dia akan
ditolong oleh Allah Subhanahu wa taala."
Ini mencakup ee apa namanya? Urusan
besar, urusan negara. Tapi secara umum
ini a juga berlaku pada urusan kecil
kita. Kalau kita beri yang bertakwa,
kita akan ditolong dalam urusan pribadi
masing-masing orang.
Kapan kita tidak ditolong? Ketika kita
menjauh dari Allah. Kalau kita dekat
dengan Allah,
Allah mengatakan,
"Wallahu yuhibbusirin." Allah mencipta
orang yang sabar.
Allah bersama orang-orang yang bertakwa.
Ya,
siapa yang bertakwa saya yang bersabar
Allah akan bersama dia. Nabi Yusuf
berkata, "Innahuqiasbirallahin."
Siapa yang bersabar dan bertakwa,
bertakwa bersabar, Allah tidak akan
menyenyakan orang yang beramal saleh.
Pasti ada hasil indahnya, pasti ada
happy ending-nya.
Inasbiru watattaqu la yadurukum. Waasbir
wattaqu laadurukum kaidukum kaiduhum.
Ya, kalau kalian bersabar bertakwa, maka
mereka tidak akan beri mudarat kepada
kalian.
Tib kita lanjutkan. Setelah itu pada
ayat ke-24 Allah berfirman, "Wahu kafa
aidiahum waidakumai."
Dialah Allah yang telah menahan tangan
mereka dari menyerang kalian.
Dan Allah menahan kalian dari menyerang
mereka. Bibatni Makkah di daerah Makkah
ya di kota Makkah. M'di anfarakum
alaihim. Setelah Allah menjadikan kalian
mampu menangkap mereka. Wallahu bima
tammaluna bir. Dan sesungguhnya Allah
mengetahui apa yang kalian Allah melihat
apa yang kalian lakukan. Ini ayat
terjadi
sebag disebutkan oleh Tahir Ibnu Asyur
tentang ayat ini turun tentang ketika
Rasul Sallahu Alaihi Wasallam sedang
mengirim
atau sedang mengirim apa terjadi diskusi
antara delegasi kaum muslimin dengan
delegasi kaum musyrikin, kaum Quraisy.
Tiba-tiba ada sekelompok orang Quraisy
berjumlah 80 orang. Mereka bawa pedang
kemudian mereka ingin menyerang kaum
muslimin. Dianggap kaum muslimin lagi
lalai. Mereka ingin menyerang. Tapi
ternyata Rasulullah tahu akhirnya Rasul
Sallahu Alaihi Wasallam menyerang mereka
dan akhirnya tertangkap 80 orang
tersebut. Tadinya mereka menyerang
diam-diam ternyata ketahuan mereka malah
ketangkap. Setelah mereka ketangkap
ternyata Rasul Sallahu Alaihi Wasallam
tidak membunuh mereka. Rasul sahu alaihi
wasallam suruh lepaskan.
Rasulullah suruh lepaskan. Karena kalau
80 tersebut terbunuh pasti terjadi
peperangan. Rasulullah lagi tidak ingin
berperang. Rasul Sallahu Alaihi Wasallam
datang untuk umrah bukan untuk apa?
Perang. Kata Rasulullah lepaskan.
Akhirnya mereka pulang. Makanya Allah
itu nikmat kata Allahum.
Dialah Allah yang telah mencegah mereka
menyerang kalian
dan mencegah kalian membunuh mereka.
Setelah Allah menjadikan kalian mampu
menangkap mereka.
Allah maha melihat semua yang kalian
lakukan. Ya, tujuannya baik. Ternyata di
balik itu artinya terjadilah perjanjian
Hudaibiyah dan akhirnya ada kemenangan
perang Khaibar, ada Fatu Makkah dan
seterusnya. Setelah itu ada
kebaikan-kebaikan kaum muslimin banyak
yang banyak orang kafir masuk Islam.
Seperti saya sudah sampaikan ketika
terjadi perjanjian Hudaibiyah kaum
muslimin jumlahnya sekitar cuma 2.000.
Tahun 6 Hijriah kaum muslimin jumlahnya
cuma 2.000 atau 3.000. Ketika Fatu
Makkah
perj kaum muslimin sudah jumlahnya
10.000. Berarti ada orang masuk Islam
7.000 dalam waktu 2 tahun kurang berapa
ribu? 7.000. Dan ini luar biasa. Padahal
Nabi berdakwah sejak beliau menjadi nabi
sampai tahun 6 Hijriah itu berapa? 13 +
6 19 tahun yang masuk Islam cuma
3.000-an. Tapi ketika terjadi perin
Hudaibiyah terjadi interaksi antara kaum
musyrikin dengan kaum muslimin, genjatan
senjata. Ada yang ke Makkah, ada yang ke
Madinah. Akhirnya mereka mengenal Islam
dengan tenang. Akhirnya 7.000 orang
masuk Islam.
Ternyata itu di antara kemenangan.
Makanya Allah menamakan Hudaibiyah
dengan fathan kemenangan. Di antaranya
7.000 orang masuk Islam dan di antaranya
Rasulullah akhirnya mudah untuk
mengalahkan Yahudi di Khaibar. Setelah
itu kemudian mengalahkan orang-orang
Makkah di Fatu Makkah pada tahun 8
Hijriah.
Kemudian Allah
lanjut apa sudah nih? Lanjut sebentar ya
biar kita tinggalkan dua ayat terakhir
pertemuan berikutnya.
Allah berfirman ayat 25.
Mereka orang kafir, orang Quraisy.
Masjidil Haram. Allah mencela mereka.
Mereka mencegah kalian untuk umrah.
Padahal kode etik ketika itu kalau ada
yang umrah tidak boleh dicegah.
Siapapun datang untuk beribadah di
Ka'bah enggak boleh dicegah. Dan kaum
muslimin datang ketika itu Nabi bersama
14 orang datang untuk beribadah.
Harusnya mereka tidak boleh dicegah.
Maka ketika orang kafir Quraisy mencegah
mereka untuk masuk tanah haram, maka ini
perbuatan tercela. Karena Nabi tidak
sedang berperang mau ibadah. Harusnya
kalau ibadah secara kode etik negara
ketika itu dibiarkan. Tapi mereka
ternyata tidak membiarkan.
Kata Allah, "Wal hadya maufan
mahillah." Di antara akibatnya akhirnya
hewan-hewan hadyu tidak bisa sampai ke
tempatnya.
Apa itu hadyu? Hady adalah hewan yang di
bawa ketika umrah atau ketika haji untuk
dipotong di Makkah. Kalau dahulu had itu
dibawa umrah dan haji. Tapi sekarang had
cuma buat haji. Padahal zaman dahulu had
umrah juga dibawa. Terkadang hewannya
dilepas aja tanpa orangnya. Dilepas
sampai Makkah untuk disembelih karena
Allah subhanahu wa taala.
Dan ketika Nabi umrah dengan 1000 orang,
Nabi bawa dengan sahabat sekitar 70 ekor
unta untuk disembelih di Makkah.
Gara-gara mereka tertahan tidak bisa
umrah, Allah mengatakan, "Wal hadyu
maufan ayabahillah." Makufan yaitu
tertahan dari akafa.
Makuf yaitu tertahan dari hewan-hewan
tersebut tertahan tidak bisa sampai pada
tempatnya, tidak sampai bisa masuk tanah
haram. Karena Nabi sallallahu alaihi
wasallam di Hudaibiyah di tanah halal.
tidak bisa masuk tanah haram untuk
disembelah disembelih.
Kata Allah Subhanahu wa taala, "Dan
kalau bukanlah karena laki-laki kaum
mukminin dan perempuan yang kaum
mukminat yang tidak kalian ketahui
sehingga kalian bisa membunuh mereka
yang menyebabkan kalian ditimpa dengan
kesusahan tanpa sepengetahuan kalian,
tentu Allah akan menahan tangan, tentu
Allah akan menjadikan mereka berperang
melawan kalian."
Jadi maksudnya ayat ini di antara hikmah
Allah jelaskan apa hikmahnya kalian
tidak perang lawan orang Quraisy. Bukan
kita sampaikan ketika terjadi peran
Hudaibiyah Umar ngajak perang. Umar
mengatakan, "Ya Rasulullah, ngapain kita
ngalah? Kita perang aja lawan mereka ya
Rasulullah. Alisa qotlana fil jannah
waqlum finar." Bukankah kalau kita
berjihad yang mati di antara kita masuk
surga, yang mati mampus mereka masuk
neraka. Kata Nabi benar. Kemudian kata
Umar, "Kalau gitu falim, ngapain kita
mengalah?" Kata Rasulullah, "Inni
Rasulullah wasastu asih." Saya ini
utusan Allah dan saya tidak akan
bermaksiat kepada Allah. Artinya saya
melakukan perjanjian Hudaibiyah ini
perintah Allah. Saya enggak bisa apa-apa
lagi. Dan kita tahu kebiasaan Nabi kalau
belum ada wahyu, Nabi berdiskusi dalam
segala hal. Ketika be peperangan, perang
Badar, Rasulullah diskusi, perang Uhud
Rasulullah diskusi, perang Khondq
Rasulullah diskusi. Bahkan Rasulullah
mengambil pendapat sahabat ketika
Hudaibiyah Rasulullah tidak diskusi.
Kenapa Rasulullah tidak musyawarah,
tidak diskusi? Karena perintah Allah.
Dia mengatakan, "Saya utusan Allah
wasastu aih." Dan saya tidak akan
membangkang perintah Allah. Saya disuruh
perjanjian Yud ini yang suruh Allah.
Enggak mungkin saya perang. Ternyata
Allah jelaskan hikmah-hikmahnya kenapa
tidak perang. Ya tadi banyak sudah kita
sebutkan. Di antara hikmahnya
karena ketika itu ada orang-orang di
Makkah yang masuk Islam yang
menyembunyikan Islam. Mereka yang takut
dengan keluarga mereka baik laki-laki
maupun perempuan. Kalau kalian
menyerang, bisa jadi kalian membunuh
mereka orang-orang ini.
Kata Nabi, "Kalian tidak tahu siapa
mereka. Karena mereka menyembunyikan
Islam mereka. Mereka takut kalian masuk
mungkin mereka dipaksa perang, akhirnya
mereka di dibunuh oleh kalian sendiri."
Kalau kalian melakukan demikian, maka
kalian akan dicerca, dihina. Akan dikata
orang Quraisy, "Lihat Muhammad bunuh
umatnya sendiri. Lihat Muhammad
melakukan peperangan di tanah suci. Akan
banyak fitnah." Maka di antara hikmah
Allah, Allah bilang, "Gak usah perang.
Allah lebih tahu tentang hikmah yang
terbaik." Meskipun Umar waktu itu protes
sama para sahabat semuanya pengin apa?
Perang. Tapi yang lebih tahu hikmah
siapa? Allah subhanahu wa taala. Allah
bilang enggak? Enggak.
Maka Allah jelaskan di antara hikmahnya,
kalian kalau masuk menyerang tentu akan
membunuh kaum muslimin, kaum muslimat
yang kalian tidak mengenal mereka.
Akhirnya kalian ditimpa dengan
kesusahan, akan dihina, akan diejek,
akan dinyinyir, akan dibully oleh
orang-orang musyrikin. Maka Allah
mencegah mereka untuk berperang.
Kemudian Allah ada hikmah berikutnya.
Kenapa tidak jadi perang? Kata Allah,
"Liyudkilallahu
fi rahmatihi may yasya." Agar Allah
masukkan orang-orang yang Allah
kehendaki dalam rahmatnya. Benar. Agar
orang-orang tersebut selamat dirahmati
oleh Allah Subhanahu wa taala. Agar kaum
muslimin dapat rahmat sehingga menang
dalam Khaibar dan perang-perang
berikutnya. Agar orang-orang kafir
Makkah tadi dapat rahmat sehingga mereka
masuk Islam. Dan banyak mereka akhirnya
masuk apa? Islam.
Ternyata hikmahnya banyak ya di balik
perjanjian Al-Hudaibiyah tersebut. Kata
Allahuasya
rahmatiasya agar Allah masukkan siapa
yang Allah kehendaki dalam rahmatnya.
Sehingga mengenai orang-orang kaum
muslimin, kaum minat yang mustatafin
yang susah yang menyembunying Islam
mereka agar kaum muslimin mendapatkan
gonimah. Agar kaum muslimin dijamin
surga oleh Allah Subhanahu wa taala agar
mereka terpuji diingat karena mereka
pernah membaiat Nabi di bawah sebuah
pohon.
dan juga agar orang-orang kafirin bisa
masuk Islam dan akhirnya banyak masuk
Islam. Abu Sufyan masuk Islam, Ikrimah
bin Abi Jahal masuk Islam, Safan bin
Umayyah masuk Islam, tokoh-tokoh Quraisy
ya, Khalid bin Walid masuk Islam ya.
Banyak hikmah luar biasa. Makanya ini
sebagai contoh bahwasanya tidak semua
yang kita rencanakan itu lebih baik.
Kalau makanya kalau ada sunah Nabi
kerjakan aja, maka Nabi kerjakan urusan
belakangan, urusan belakangan, urusan
Tuhan, bukan urusan kita. Yang penting
ketika kita mengerjakannya karena Allah
Subhanahu wa taala. Kita ikut prosedur.
Prosedurnya gimana? Allah sudah kasih
prosedur itu pasti yang terbaik buat
kamu. Gak usah kau macam-macam. Ikut aja
prosedur. Apa yang terjadi biarkanlah
terjadi. Kelihatannya buruk nanti
ujungnya apa in indah. Lihat ini
kelihatannya buruk.
Enggak jadi umrah. Pulang balik sedih,
jalan lagi 450 kilo. Unta-unta
disembelih. Enggak jadi disembelih di
tanah haram.
Ibarat kita sudah berangkat, sudah bayar
habis-habisan sampai ke Makkah ternyata
visa ziarah
suruh pulang. Sedih atau tidak?
Sedih enggak? Jadi ini sudah berangkat
jauh-jauh kita mending naik pesawat. Ini
Nabi jalan jalan berjalan dengan
perjalanan darat mungkin seminggu.
Bayangkan di bawah terik matahari
kemudian debu bawa unta. Gak bisa jalan
cepat-cepat. unta 70 mau di mau
disembelih sampai di ujung enggak jadi.
Tapi lihat hikmahnya luar luar biasa
yang mungkin tidak direnungkan oleh para
sahabat sehingga mereka baunya perang
perang perang saja.
Sampai kata seorang sahabat siapa? Sahal
bin Naif atau siapa? Dia berkata,
"Ittahimu ryakum. Curigailah diri
kalian. Sungguh ketika peristiwa Abu
Jandal, peristiwa Hudaibiyah, kami
memprotes kepada Nabi. Kami protes
kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam.
tidak tahu hikmahnya. Ketika Nabi
bilang, "Gak, ini perintah Allah,
kemudian Nabi cukur rambutnya, Nabi
potong untanya, semua sahabat bilang ini
sudah enggak bisa berubah lagi. Sudah
mereka ikuti." Ternyata di balik itu
banyak hikmah. Di antaranya kata Allah,
"Liyudkillallahu fi rahmatihi yasya."
Agar Allah masukkan dalam rahmatnya
siapa yang Allah kehendaki. Lau
tazayyalu lazabadina kafaru minaban
alima. Seandainya laki-laki beriman dan
wanita-wanita mukminah tersebut bisa
terpisahkan, tentu kami suruh kalian
perang. Tapi enggak. Karena enggak bisa
ya sudah jangan.
Maka di sini sebagian ulama dari para
ulama fikih mengatakan kalau terjadi
peperangan misalnya kemudian ada orang
musyrik berlindung di balik wanita
muslimah maksudnya di balik orang muslim
maka gak boleh kita bunuh orang muslim
tadi gak boleh kita serang dia karena
bisa membunuh orang muslim tadi ya di
antara pendapat karena tadi Allah
melarang kaum muslimin untuk menyerang
karena ada orang-orang beriman di situ
yang dikhawatirkan akan terkena dampak
ikut terbunuh. Wallahuam bawab.
Tib ayat terakhir jaina kafaruat
jahiliyah. Tatkala orang-orang kafir
menanamkan dalam hati mereka
kesombongan. Hamiah itu fanatisme.
Hamiah itu fanatisme jahiliah.
Buktinya apa? Fanisme jahiliah mereka
harusnya
membiarkan Nabi dan para sahabat untuk
umrah. Ini karena ini kode etik.
Yang mau umrah tidak boleh dilarang.
Tapi kenapa mereka larang? Karena mereka
malu. Mereka enggak mau dibilang, "Lihat
Muhammad dan pasukannya masuk sementara
kaum Quraisy tidak berdaya." Mereka gak
mau ada isu memalukan. Jadi mereka paksa
melarang. Paksa melarang enggak mau
malu. Padahal sebenarnya enggak usah
malu. Datang aja kaum muslimin datang
karena itu ingin bukan ingin perang,
ingin umrah. Harusnya kalau ingin umrah
dibiarin. Tapi karena mereka takut
dikatakan lihat Muhammad datang dengan
pasukannya dan kaum musyrikin, kaum
Quraisy hanya duduk tidak bisa berkutik.
Sehingga ini memalukan mereka. Karena
hamiah tersebut untuk menolak rasa malu
tersebut akhirnya mereka melarang mereka
melanggar kode etik mereka sendiri
bahwa kode etik mengatakan tidak boleh
melarang orang untuk umrah tapi akhirnya
mereka larang. Allah sebut dengan
hamiyatal jahiliyah dan ini sindiran
kepada mereka karena semua yang
sandarkan kepada jahiliyah menunjukkan
kebodohan ketololan.
Faanzalahu sakinah rasul. Sebaliknya
Allah menurunkan ketenangan kepada
rasulnya. Tenang.
Dan akhirnya kaumin juga diberikan
ketenangan oleh Allah Subhanahu wa
taala.
Dan Allah melazimkan mereka kalimat
takwa itu kalimat tauhid.
Dan mereka lebih berhak untuk
mendapatkan ketakwaan tersebut atau
kalimat tauhid tersebut. Wa ahlaha dan
mereka ahli tauhid. Dan ini salah satu
ayat pujian kepada sahabat. Karena
ketika Allah mengatakan Allah melazimkan
para sahabat untuk memegang kalimat
tauhid lailahaillallah kata Allahu
ahaqqo biha. Dan mereka lebih berhak
untuk memegang kalimat takwa tersebut
daripada orang-orang kafir Quraisy. Wa
ahlaha dan mereka ahli tauhid. Ini
pujian kepada para sahabat yang
menunjukkan sifat mereka terpatri di
atas tauhid.
Wallahu bikulliin alima. Dan Allah maha
mengetahui segala sesuatu.
Demikian yang bisa sampaikan ikhwan dan
akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa
taala. Insyaallah tinggal dua ayat kita
pertemuan berikutnya ee tentang dua ayat
yang indah tentang keutamaan para
sahabat insyaallahu taala. Wallahu taala
alam bawab. Demikian saja. Wabillahi
taufik hidayah. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.