Kitab At-Thahawiyah #46: Serba-Serbi Iman
a1TtEy-JSNo • 2026-01-22
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufikih wainanih ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuim lnih wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh daila ridwanumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwan. Ee hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Insyaallah pada kesempatan kali ini kita masuk pada pembahasan baru tentang masalah iman. Ya, dalam ee Thahawiyah, akidah Tahawiyah, Imam Tahawi menyebutkan tentang masalah takfir, pengkafiran ya, yang di mana beliau membatasi takfir pada istihlal. Nanti akan kita bahas. Kemudian setelah itu beliau menyebutkan tentang definisi iman menurut beliau ya. Dan pada masalah ini ada kritikan terhadap al Imam Abu Jafar at-Tahawi. Karena beliau dalam definisi iman mengikuti mazhab murjiatil fuqaha. Insyaallah nanti kita jelaskan pada pertemuan berikutnya ya. Sebelum kita masuk pada matan, kita akan jelaskan secara sederhana tentang iman. Dan ini pembahasan penting masalah iman. Karena ee di balik masalah iman inilah kemudian timbul perselisihan tentang seorang dinyatakan mukmin atau muslim atau tidak, dinyatakan kafir atau tidak. Ya. Dan ee bidah yang pertama yang dimunculkan oleh Muktazilah adalah tentang al-asma wal ahkam. Ya, alasma wal ahkam yaitu tentang apakah seorang pelaku dosa besar dikatakan sebagai kafir atau dikatakan sebagai mukmin naqisul iman atau dikatakan fi manzila bainal manzilatain. Itu masalah asma yaitu khilaf tentang ism nama bagi pelaku dosa besar. Apa yang pas? Apakah kafir ataukah mukmin naqisul iman ataukah fi manzilah bain manzilatain. Kemudian masalah ahkam. Hukumnya di dunia bagaimana dan hukumnya di akhirat bagaimana. Ini bidah Muktazilah pertama kali munculnya gara-gara permasalahan ini. Ee pembahasan ini terus sangat penting sampai sekarang. Karena kalau kita salah paham, kita bisa mudah mengkafirkan orang-orang. Dan bidah yang pertama kali muncul adalah bidah khawarij. Ya, pertama kali muncul bidah khawarij karena juga salah dalam pemahaman definisi iman sehingga mereka mengkafirkan pelaku dosa dosa besar. Bita pertama khawarij ya. Ini terkait juga dengan masalah iman dan takfiri juga muncul ee gara-gara salah paham tentang masalah iman. Sampai sekarang ada juga yang menyatakan Firaun beriman ya gara-gara juga masalah iman. Insyaallah nanti kita kita singgung TB. Maka kajian kali ini adalah pertama mukadimah tentang pembahasan iman. Aliman, al-iman secara bahasa ya dan juga secara istilah secara bahasa dalam kamus-kamus kita dapati ada empat makna disebutkan oleh para ahli bahasa. Ada yang mengartikan dengan siqah, yaitu masalah kepercayaan. Karena beriman tercit terkait dengan kepercayaan namanya tumakninah, yaitu merasa tenang. Ini disebutkan oleh ee Khalil bin Ahmad Al-Farahidi ya. Ada juga menyatakan maknanya iar dan ini yang dipilih oleh Syekh Islam Ibnu Taimiyah bahwasanya iman asal maknanya sangat mirip dengan iqrar ya. Karena amana bihi aqaro bihi ya menggunakan huruf ba lit'diyah mirip. Dan banyak juga dari ahli bahasa mengatakan iman secara bahasa artinya attasdiq, pembenaran atau membenarkan. Dan ini yang dipilih oleh kaum Murjiah bahwasanya makna iman secara bahasa adalah tasdik. Tentunya ada perselisihan di kalangan para ulama tentang makna ee iman secara bahasa. Ee sebagian mengatakan seperti Raghib, dia mengatakan alisma aliman adalah tasdiq maa alam. Yaitu tasdiq wa ziadah. Bukan hanya sekedar membenarkan, tapi ada hal tambahan dari sekedar membenarkan, yaitu membenarkan hal-hal yang terkait yang gaib. Ya. Ya. Benarkan hal-hal yang perlu ada kepercayaan di situ. Itu baru disebut dengan iman. Ya. Kalau orang mengatakan langit di atas, kita tidak mengatakan amantu. Enggak. Karena itu suatu yang jelas. Tapi kalau ada suatu yang perkara misalnya masalah malaikat, kamu beriman, malaikat amantu bil malaikah. Karena malaikat suatu yang gaib. Jadi iman terkait dengan suatu yang butuh kepercayaan, bukan suatu yang jelas dan zahir ya. Dan ini semua saya sudah bahas dalam syarah al-Aqidah Al wasitiyah. Makanya saya tidak ulang. Yang ingin baca lebih lanjut tentang definisi iman secara bahasa. Terus ada empat perbedaan antara aliman dengan tasdiq. Dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Itu semuanya dalam syarah alkidahiyah jilid kelima. Antum bisa baca ya ee di bekal Islam ya. Tib secara istilah apapun yang kita pilih dari makna secara bahasa apakah siqah, apakah tumakninah atau iqrar atau tasdik. Kalaulah kita memilih bahwasanya iman adalah tasdik secara bahasa, kalaulah kita pilih pendapat tersebut sebagaimana yang dipilih oleh banyak ulama terutama dari kalangan ee almurjiah ya. Mereka mengatakan bahwasanya iman maknanya tasdik dan tasdq tempatnya di hati. Maka kita katakan secara umum makna istilahi selalu lebih khusus daripada makna lghawi. Makna istilahi atau makna syar'i lebih khusus daripada makna bahasa. Sebagai contoh misalnya haji. Haji secara bahasa maknanya al-qasdu. Al-qasdu. Tetapi haji secara syari adalah al-qasdu alhas. Yaitu tujuan khusus. yaitu tujuan menuju Ka'bah dengan ritual khusus disebut dengan ha haji. Maka meskipun ada makna bahasa, ketika kita ada makna syar'i, maka kita kembalikan kepada makna syar'i. Dan biasanya makna syar'i lebih khusus daripada makna apa? Bahasa. Karena al-qasdu bertujuan. Tujuan itu banyak. Yang namanya haji syari tujuan pergi menuju ka'bah melaksanakan manasik haji. Ya, ini contoh. Contoh seperti umrah secara bahasa maknanya ziarah. Tapi apakah semua ziarah disebut umrah? Gak. Umrah secara khusus makna syari adalah ziarah dari tanah halal menuju tanah haram. Itu namanya umrah. Jadi maknanya yang syari selalu lebih spesifik. Contoh puasa. Puasa maknanya limsak saum ya. E apa namanya? Eh falan ukallimal yauma e apa iniuman ini. Aku bernazar untuk menahan diri tidak berbicara. Jadi, saum maknanya imsak ee menahan. Tapi apakah semua menahan disebut puasa syari? Gak. Puasa syar'i yaitu menahan khusus. Yaitu menahan diri dari makan dan minum dari terbit fajar sampai terbenar mata matahari. Jadi selalu asumul khas menahan yang khusus. Contoh terakhir misalnya salat. Salat secara bahasa artinya doa seperti Allah subhanahu wa taala wasolli alaihim. Doain mereka ya. Jadi salat secara bahasa artinya doa. Tapi apakah syari maknanya doa? Tidak. Secara syari doa khusus yaitu doa yang dibuka dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan apa? Taslim. Yang kita tahu memang salat itu isinya seluruh doa secara umum. Dalam iftitah ada doanya. Ketika kita berdiri, kita berdoa juga ee ihdinasiratal mustaqim. Ee ketika kita rukuk juga kita boleh berdoa subhanakallahumma rabbana wnika allahumagfirli. Ketika iktidal juga ada doanya. Ketika sujud juga ada doanya ya. Duduk di antara dua sujud. Rabbighfirli, rabbighfirli isinya doa. Tetapi dia doa yang khusus. Maka demikian juga kalau kita terapkan pada masalah iman. Iman secara bahasa kita tarulah kita memilih pendapat iman maknanya tasdq. Ini pendapat sebagian ahli bahasa. Tetapi secara syari dia tasdik yang khusus. Yaitu tasdik yang yastalzim al amal. Yaitu pembenaran hati yang melazimkan adanya amal. perbuatan amal saleh. Jadi tidak cukup hanya yang ada di hati. Kenapa kita mengartikan ee iman secara syari dengan amal? Karena terlalu banyak dalilnya. Dan dalil itu semua saya tidak akan ulangi lagi. Antum bisa baca dalam syarah alkidah wasitiyah ya ee di jilid 5 ya. Karena kalau kita bahas itu n satu kajian khusus ya. Dan saya pengin apa yang disampaikan di sini tidak berulang dari yang dalam akidah wasitiyah ya. Tapi kita akan bahas kelanjutannya. ee dan secara bahasa juga bahwasanya ee perbuatan amal bisa membenarkan seperti Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "Alinani e kataballah libam hadahu minzina mudrika mahal." Allah mencatat bahwasanya setiap anak Adam pasti kecipratan zina. Dia pasti kecipratan dan dia tidak bisa menghindari. Bagaimana bisa? Yaitu pasti dia terjerumus dalam wasilah-wasilah, sarana-sarana untuk zina. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Alani taznianum. Sesungguhnya kedua mata berzina dan zinanya adalah memandang. Kemudian wal uzunani taznian wazinahum istima. Dan telinga berzina itu mendengar hal-hal yang bisa menimbulkan syahwat. Melihat dengan hal yang bisa menimbulkan syahwat. Kemudian juga ee tangan berzina dan zinanya adalah menyentuh. Yaitu meraba, menyentuh menimbulkan syahwat. Kemudian eh Rasulullah sebutkan sampai kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Wal farju yusdiquik yukadibu." Dan kemaluan yang membenarkan itu semua atau mendustakannya. Maksudnya kalau kemaluan berzina beneran berarti dia membenarkan. Di sini Rasul Sallahu Alaihi Wasallam menyandarkan pembenaran pada amal. Ternyata pembenaran secara syari bukan hanya pada hati. Amal perbuatan juga bisa disifati dengan pembenaran atau pendus pendustaan. Makanya Rasulullah mengatakan alfarju yusaddiquzalik au yukadzibuh. Maka kemaluan membenarkan apa yang telah di apa apa yang telah dilakukan oleh mukadimah-mukadimah mata melihat, mendengar, ee berbicara, tangan, sentuhan tinggal dibenarkan atau kemeluan atau tidak. Maka tasdik yang disebut dengan iman adalah tasdiqun khas. Yaitu pembenaran khusus. Bukan sekedar yang ada di hati, tapi pembenaran yang melazimkan adanya amal perbuatan. Oleh karenanya kalau kita dapati perkataan salaf tentang iman, maka selalu mereka menyampaikan aliman qulun wa amal. Ada perbuatan, ada perkataan, ada perbuatan. Al Imam Albukhari mengatakan, "Aku belajar lebih dari 1000 guru semuanya sepakat bahwasanya al iman qulun wa amal." Imal itu perkataan dan perbu perbuatan. Kenapa ditambah dengan wa amal? Untuk membantah murjiah. Karena murjiah mengatakan bahwasanya iman itu cuma di hati. Bahwasanya amal perbuatan bukan bagian daripada iman. Sementara Imam albukhari menjelaskan bahwasanya amal termasuk dari iman. Dan dalam Sahih Bukhari, beliau membuat bab-bab yang menjelaskan bahwasanya amal bagian daripada iman. Dan beliau dalam iktikad al Imam Bukhari, beliau berkata, "Aku belajar dari bertemu dengan 1000 lebih guru. Semuanya sepakat untuk mengatakan iman itu qulun wa amal. Iman itu bukan hanya perkataan, tapi dia juga adalah perbuatan." Tib. Ibarat-ibarat salaf banyak. Ada yang mengatakan qulun wa amal, ada yang mengatakan waqulun wa amal. keyakinan, perkataan, maupun perbuatan. Ada yang tambah lagi wniyah dengan niat. Ada yang mengatakan wal ittiba yaitu mengikuti sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tetapi secara umum perkataan para salaf kembali kepada dua lafal ini. Aliman qulun wa amal. Ul perkataan dan perbuatan. Nah, qul ini maksudnya dua ada dua. Ada qulul qalb. Quul qalb maksudnya tasdiq wal iktikad. Yaitu membenarkan dan meyakini. membenarkan dan meyakini. Dan ul lisan maksudnya syahadatain. Asyhadu alla ilahaillallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Ini ul amal ada tiga juga. Ada amalul qalb seperti alkhauf warja tawakal wat tawakul wal mahabbah cinta ee dan semua amalan ikhlas ya ee tawadu. Ini semua namanya amalanamalan hati. Dan ada amalan lisan seperti zikir kepada Allah, membaca Al-Qur'an, qiratul Quran. Ini semua namanya amalul lisan. Kemudian namanya amal jawari. Amal jawari seperti salat, siam, haji. Ya, ini amal amal tubuh. Amal jawari maksudnya anggota tubuh. Sehingga kalau kita bicara definisi iman, aliman menurut ahlusunah wal jamaah ya, sebagaimana dinukil oleh Al Imam Bukhari bahkan Al Imam Syafi'i rahimahullah beliau mengatakan iman itu perkataan, perbuatan amal. tidak sah kecuali ada tiga-tiganya. Kata al Imam Asyafi'i rahimahullahu taala, harus ada ee iktikad, harus ada ul, harus ada amal perbuatan. Inilah yang dimaksud dengan iman. Maka iman itu cakupannya luas. Mencakup ulb, perkataan hati, yaitu tasdiq, pembenaran, dan iktikad. Bukan hanya pembenaran semata. Karena murjiah nanti hanya membatasi ini pembenaran doang. Selainnya tidak dianggap sebagai iman. Bahkan amalan hati seperti khauf, raja, tawakal, mahabbah tidak dikatakan sebagai iman. Mereka yang disebut iman hanyalah sekedar majaz. Bahwasanya ee ee bahwasanya amal perbuatan, amal selain tasdik itu bukan iman, itu hanyalah majaz. Karena mereka membatasi makna iman secara istilah dengan makna iman secara bahasa. Kata mereka, karena dalam bahasa iman artinya tasdik, pembenaran. Maka itu pula makna syari. Saya ulangi, Murjiah mengatakan, karena dalam bahasa secara bahasa iman maknanya tasdik, pembenaran, maka secara istilah juga maknanya pembe membenarkan atau pembenaran. Selain itu bukan bagian daripada iman. Kita bantah secara sederhana. Selalu makna syar'i lebih khusus daripada makna apa? Bahasa. Paham? Saya ulangi tadi. Selalu makna syar'i lebih khusus daripada makna bahasa. Karena makna syari adalah istilah syar'i. Kita ambil definisi ini dari mana? Dari dalil-dalil. Kenapa kita tahu salat secara bahasa artinya doa? Tetapi salat kita definisikan secara syari adalah doa khusus yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan apa? Taslim. Kenapa? Karena ada dalil-dalil yang menunjukkan akal tersebut. Kenapa umrah? Tidak kita katakan makna umrah adalah ziarah. Ziarah ke rumah orang tua namanya umrah. Gak. Umrah adalah istilah syar'i. Dengan dalil menunjukkan namanya umrah itu ziarah khusus. ziaratun khasah, yaitu ziarah dari tanah halal menuju tanah haram dalam kondisi ihram untuk melaksanakan tawaf dan sai, tahalul itu namanya umrah. Jadi definisi khusus nama secara bahasa iman artinya pembenaran tetapi secara istilah syari bukan hanya sekedar pembaran hati tapi itu pembenaran yang menimbulkan konsekuensi berupa amalan hati, berupa amalan jawarih dan lain-lain. Karena kenapa kita mendefinisikan demikian? Karena dalil menunjukkan itu semua disebut dengan iman. Dalilnya banyak sekali ya. Contoh sederhana kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Al imanu bidunaah." Iman itu 70 sekian cabang. Aa kalimat lailahaillallah. Yang paling tinggi kalimat laillallah. Yang paling rendah menghilangkan gangguan dari jalan. Menghilangkan jali jalan itu amal atau bukan? Amal. Kemudian kata Rasulullah, "Wal hayat sybatun minal iman." Dan bahwasanya rasa malu adalah bagian daripada iman. Malu adalah amalan hati. Amalan hati. Ya, seperti di sini tadi kita bilang ee amalul qalb di antaranya juga misalnya al-haya rasa malu ini amalan hati. Rasulullah mengatakan alhaya minal minal iman sama ya kata Rasulull sallahu alaihi wasallam athuru satrul iman. Bersuci adalah setengah daripada keimanan ya. Karena kita salat ternyata berwudu juga bagian daripada iman. Ya itu banyak dalil menunjukkan amal termasuk iman. Kata Allah wallahu liud imanakum. Allah tidak menyia-nyakan iman kalian. Ternyata ditafsirkan salat kalian. Ternyata Allah menamakan salat dengan apa? Iman. Sehingga selalu definisi syari'i diambil dari dalil dan biasanya ada kaitannya dengan definisi secara etimologi, secara bahasa, namun secara khusus. Dan dalil menunjukkan bahwasanya iman itu tidak terbatas pada pembenaran hati saja. Tapi baca Quran iman. Berzikir kepada Allah juga apa? Iman. Salat juga iman, haji juga iman. Puasa juga iman. Ya, amal-amal hati, tawakal, ikhlas itu juga adalah iman. Keyakinan-keyakinan terhadap malaikat, terhadap macam-macam juga i iman. Maka definisi yang paling komprehensif, yang lengkap sehingga semua dalil bisa kita akomodir adalah definisi ahlusunah wal jamaah. Bahwasanya iman itu qulun wa amal. L tadi qulul qolb sama ul li lisan. Ulul qalbi yaitu tasdik, pembenaran dan keyakinan. Keyakinan macam-macam. Keyakinginan terhadap malaikat, terhadap kitab suci, terhadap rasul banyak. Kemudian ul lisan itu syahadatain. Asyhadu alla ilahaillallah asadu muhammadar rasulullah. Adapun amal luas ada amalan hati, amalan lisan, sama amal apa? Anggota tubuh. Amal hati apa? Misalnya misalnya khauf, raja, tawakul, apalagi mahabbah, malu dan macam-macam. Ini semua amalan hati ya. Husnudzan kepada Allah itu amalan hati. Kemudian amalan lisan seperti zikir, baca Al-Qur'an, amar makruf nahi mungkar itu amalan apa? Lisan. Seorang menyamp sekarang amalan lisan juga termasuk tulisan amalul lisan. Seorang menyeruh kepada kebaikan. Amal jawarih seperti puasa, salat, haji, jihad, dan lain-lain. Maka dengan demikian ini definisi yang paling komprehensif dan ini yang disampaikan oleh para salaf, dinukil oleh banyak ulama. Di antaranya Imam albukhari. Dia mengatakan, "Saya belajar lebih daripada 1000 ulama. semuanya mengatakan iman adalah qulun wa amal. Kenapa beliau menyatakan ini? Untuk membantah orang-orang murjiah yang sudah muncul sejak zaman beliau yang mengatakan bahwasanya amal bukan bagian daripada iman. Tiib yang penting antum paham dulu. Paham sampai sini ada yang tidak bertanya? Paham ya. Ada yang bertanya? Hah? Enggak ya. Alhamdulillah. Kalau tidak bertanya cuma dua kemungkinan. paham atau bingung apa yang mau ditanyakan ya. Tib. Sekarang tiga kaidah pembeda ahlusunah dan ahlul bidah. Tiga pembeda. Ahlusunah meyakini bahwasanya pertama iman tersebut alamal minal iman. Ini pembeda utama bahwasanya amal bagian daripada iman. Amal bagian daripada iman. Bahkan amal adalah salah satu dari tiga perkara yang harus pada iman. Ya. Jadi mahiyatul iman dia benar adalah rukun daripada iman. Makanya kata Imam Syafi'i dan yang lainnya tidak sah iman kecuali dengan amal. Tidak terbayangkan ada seorang katanya beriman tapi tidak punya amal sama sekali. Itu tidak terbayangkan. Imannya berarti iman yang enggak enggak benar ya. selalu ada keterkaitan ad zahir dan apa dan batin. Seperti kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, inna fil jasadi mudghtu atal jasadu wa fasadat fasadal jasadu ala wahqb. Sesungguhnya dalam hati dalam tubuh manusia ada segumpal daging yaitu hati. Kalau dia baik maka baik pula yang yang lainnya. Kalau dia buruk maka buruk pula yang yang lainnya. Kalau orang mengaku dalam hatinya saya beriman tapi enggak ada amal sama sekali. Menurut ahlusunah itu bukan orang beriman. Karena amal adalah bagian yang rukun dalam iman. Harus ada qulun wa amalun. Gak mungkin iman cuma qulun tanpa amal. Apalagi sekedar pembenaran tanpa ada amal. Dan ini ijma ulama. Saya nukil perkataan banyak ulama dalam syarah akidah wasitiyah. Antum bisa lihat di antaranya perkataan Imam Syafi'i yang dinukil oleh Alalakai. Imam Syafi'i mengatakan iman itu adalah ee apa namanya? Ee iktikad kemudian amal dan perkataan. Wala yujizu ahaduha illa bil ukhro kamaqala. Dan tidak sah salah satunya kecuali dengan yang lainnya. Harus tiga-tiganya ada. Harus tiga-tiganya ada. Ya. Maka orang beriman harus ada amalnya ya. Dan di antaranya misalnya di antara syarat lailahaillallah untuk diterima adalah alinqad. Alinqad itu apa? Tunduk dengan ada bukti amal. Itu baru benar bahwasanya dia telah menjalankan lailahaillallah. Sebagaimana disebut oleh para ulama tentang syarat lailahaillallah. Tib. Ini adalah pertama amal bagian daripada iman. Kemudian beda dengan murjiah yang mengeluarkan amal dari iman. Mereka mengatakan amal bukan bagian daripada iman. Kata murjiah nanti kita sebutkan kelompok-kelompok murjiah setelah ini. Kata mereka amal bukan dari bagian daripada iman. Ini pertama. Yang kedua, sama halnya dengan alwaidiyah khawarij dan muktazilah. Alkhawarij dan muktazilah mirip ahlusunah. Mirip ahlusunah dari sisi bahwasanya amal bagian daripada iman. Amal bagian daripada iman. Tetapi bagi mereka seluruh amal wajib adalah rukun iman. Sehingga siapa yang meninggalkan satu amal wajib maka dia kafir keluar daripada Islam. Makanya amal wajib apapun yang dilanggar atau dosa besar dilakukan oleh seorang maka dia telah keluar dari iman. Beda dengan ahlusunah. Ahlusunah amal itu ada tapi tidak seluruh amal. Merupakan rukun daripada iman. Mereka sebut dengan jinsul amal. Bahwasanya harus ada amal. yaitu amal yang menunjukkan dia seorang beriman. Ya, sehingga tidak mungkin ada seorang beriman tanpa amal sama sekali. Adapun murjiah, adapun ee khawarij dan muktazilah kata mereka, "Seluruh amal wajib itu adalah rukun. Siapa yang meninggalkan satu amal wajib maka imannya batal." Imannya batal. Jadi di sini perhatikan ada beda antara Ahlusunah sama Al-Waidiyah. Al-Waidiyah itu maksudnya Khawarij dan Muktazilah. Al-Waidiyah itu al-waid bahasa Arab dari ancaman. Yaitu selalu me mendominasikan masalah ancaman. Allah mengancam demikian bahwasanya pelaku dosa besar di neraka. Rasulullah mengancam pelaku dosa besar di neraka. Kata mereka, "Ancaman ini harus terjadi. Harus terjadi." Jadi mereka hanya melihat dalil dari satu sisi. Murjiah disebut al-w'diyah. Al-wdiyah hanya memandang dalil-dalil bahwasanya pelaku dosa ada yang masuk surga. pelaku dosa. Sehingga mereka melihat ini kata mereka namanya janji Allah pasti ter terjadi. Mereka disebut dengan al-wa'diyah. Al-Wa'ad artinya janji. Siapa al-wa'diyah? Murjiah. Yang hanya melihat pada dalil-dalil yang memberi harapan. Al-Waidiyah yaitu kelompok Khawarij dan Muktazilah hanya melihat pada ancaman-ancaman mereka dengan ahlusunah. Sama dari sisi bahwasanya amal harus ada pada iman. Bedanya bahwasanya ahlusunah mengatakan ada namanya jinsul amal, yaitu orang tetap harus beramal. Tetapi bukan seluruh amal. Adapun khawarij dan muktazilah ada amal wajib ditinggalkan, maka orang keluar daripada ian. Orang keluar daripada iman. Sehingga seluruh amal wajib seakan-akan rukun iman. Tib. Ini ee terkait kaidah yang pertama. Ah, ini baru saya tanya lagi. Paham atau tidak? Hah? Paham atau tidak? Hah? Ulang lagi dikit. Enggak bisa dikit. Harus banyak kalau diulang. Saya ulang ya. Nantilah kita ulang lagi belakangan. Tayib. Yang kedua, kaidah aliman yatajazza. Menurut akidah ahlusunah, iman itu bisa dibagi-bagi. Dia bukan satu kesatuan, tapi dia bisa dibagi-bagi. Oleh karenanya iman itu ibarat pohon. Dan Rasulullah sahu alaihi wasallam mengatakan bahwasanya iman itu bercabang-cabang. Ada 70 sekian cabang. Yang paling tinggi cabang lailahaillallah. Yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan dan rasa malu bagian daripada iman. Sehingga kalau kita ibaratkan iman dengan pohon, maka kalau ada cabang yang hilang, pohon tersebut masih hidup enggak? Masih. Semakin banyak cabang hilang, semakin sakit enggak pohon tersebut? Tapi masih ada pohonnya? Masih. Kapan pohonnya hilang? Jika akarnya di tebang. Akarnya ditebang baru pohonnya apa? Hilang. Iman pun demikian. Iman pun demikian. Selama seorang masih punya asal iman, pokok iman, ya, maka dia masih dikatakan beriman meskipun dia melakukan banyak maksiat. Ya, misalnya dia ternyata berzina, ternyata dia mencuri, tapi dia masih punya pokok iman, maka orang ini belum kafir. Ya, ini menunjukkan dalam akidah ahlusunah, iman itu bercabang-cabang, bisa terbagi-bagi. Bisa hilang sebagian, tidak melazimkan hilang seluruhnya. Ulangi. Jika hilang sebagian tidak melazimkan hilang seluruh seluruhnya. seperti pohon. Kalau ada dahan atau cabang atau ranting dipatahkan tidak melazimkan pohon itu hilang. Yang benar pohon tersebut berubah atau tidak setelah dipatahkan cabangnya berubah menjadi lebih buruk. Iya enggak? Tetapi apakah pohonnya hilang? Tidak. Pohonnya masih ada tidak lagi sempurna, tetapi pohonnya masih ada. Sehingga aliman yatajazza. Iman bisa dibagi-bagi. Yang bagi adalah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Nabi mengatakan iman 70 sekian ca cabang. Sehingga kalau ada cabang di hilang-hilang tidak lengkap tetap dikatakan beriman kecuali yang hilang adalah asal iman yaitu pokok atau akar iman. Tib. Oleh karenanya kalau kita ibaratkan iman ada namanya aslul iman. Aslul iman disebut mutlaqul iman. Ini kalau hilang maka kafir. Asul iman banyak ya. Seperti iman kepada Allah. Ini termasuk as iman. Tidak beriman Allah. Kafir iman kepada takdir. Siapa yang tidak beriman kepada takdir, dia termasuk asul iman. Orang kafir. Meskipun dia beriman kepada lima, satu tidak beriman kafir. Orang tidak beriman pada malaikat kafir. Ya. Ya. Kata Allah, "Man yakfur billahi wa malaikati wa kutubi war yaumil akhir faqad." Siapa yang tidak beriman kepada Allah, kepada kitab-kitabnya, kepada malaikat, kepada kitabnya, kepada para rasul, kepada hari akhirat, maka dia telah tersesat. Maka dia telah kafir. Ya, ada orang beriman kepada seluruhnya tapi tidak beriman pada hari kebangkitan. Kafir. Makanya kenapa Ibnu Sina dikafirkan oleh Al-Ghazali? Karena dia ketika berbicara tentang hari akhirat, dia mengatakan bahwasanya yang dibangkitkan cuma ruh, bukan jasad. Gak mungkin jasad dibangkitkan. Dia tidak beriman kalau jasad bisa dibangkitkan. Sehingga dia dikafirkan oleh Al-Ghazal dalam kitabnya Tahafudul Falasifah dan juga dalam Almunkit minadal. Dia mengatakan kafir ya. Kenapa? dia beriman pada lima atau yang lainnya, tapi tidak beriman kepada hari akhirat sebagaimana yang dijelaskan Al-Qur'an dan sunah. Ini namanya asrul iman. Asrul iman kalau hilang kafir, tapi di atasnya kamalul iman wajib. Ada iman yang jadi sempurna. Setelah seorang punya asul iman, maka dia menyempurnakan pohon keimanannya dengan perkara-perkara yang wajib. Seperti salat lima waktu, berbakti kepada orang tua. Ini semua iman ya, yang wajib-wajib ya. Tapi kalau dia tidak lakukan dia tetap beriman. Cuma dia berdosa. Dia naqisul iman. Imannya kurang ya. Kenapa? Karena dia meninggalkan perkara yang wajib sehingga tidak meraih kesempurnaan iman wajib. Disebut dengan kamal iman alwajib. Ini perkara-perkara wajib yang harus dia lakukan. Kalau dia lakukan maka dia sempurna ee kesempurnaan yang wajib. Ya, kalau dia meninggalkan maka dia tetap beriman tapi dia berdosa. Lebih tinggi lagi kamalul iman almustahab. Jadi pohonnya lebih rindang lagi gampangannya. Setelah ada akarnya, ada batangnya, ada dahan-dahannya yang wajib kemudian banyak lagi bunga-bunganya, banyak lagi buah-buahnya. Ini namanya mustahab. Sehingga dia tidak mencukupkan imannya hanya pada yang wajib saja. Bahkan yang sunah-sunah pun dia k kerjakan. Ya, dia salat sunah, dia salat malam, dia baca Quran. Ini sunah-sunah. Sunah-sunah dia banyak bersedekah, sunah-sunah dia kerjakan. Ini semua iman yang membuat pohon keimannya semakin rindang. semakin rindang sehingga imannya semakin kuat, semakin kokoh. Ya, maka dalam akidah ahlusunah kalau ada dahan-dahan potong buah-buah jatuh ya imannya berkurang tapi tetap dia beriman. Ada orang malas salat malam, malas puasa sunah bagaimana imannya? Dia berdosa atau tidak? Berdosa atau tidak? Tidak. Dia telah mencapai kamal wajib, yaitu kesempurnaan yang wajib. Paham? Tapi dia belum mencapai kamal yang mustahab. Nah, kita hidup ini kita sedang memelihara pohon keimanan kita. Memelihara pohon keimanan keimanan kita. Karena nanti derajat di akhirat sesuai dengan iman. Sesuai dengan iman. Semakin tinggi iman seseorang, semakin tinggi surganya. Semakin lebih cantik bidadarinya. Benar atau tidak benar? Wallahualam. Jelas. Bukan wallahuam. Jelas. Allah maha adil. Masa bidadarinya sama. Bidadari sama atau beda? Apa kata Nabi sallallahu alaihi wasallam? Siapa yang beradam amarahnya padahal dia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah akan panggil dia pada hari kiamat di hadapan khalay umum. Lalu Allah suruh dia pilih bidadari mana yang dia suka. Berarti bidadarinya bermacam-macam. Enggak. Kalau semua pilihan sama ngapain pilih? Sama semua modelnya. Ini beda dari AI sama semua. Berarti ketika disuruh pilih berarti berbeda berbeda-beda. Sama di surga juga darajatunil masing-masing zaraj sesuai dengan sesuai dengan tingkatan. Maka semakin pohon keimanan seorang semakin rindang, semakin banyak buahnya, semakin banyak bunganya, maka surganya semakin apa? Tinggi. Maka seorang berusaha menyempurnakan imannya. Jangan, jangan hanya terbatas pada asrul iman. Yang penting saya yang penting saya masuk surga saja. Enggak. Itu tentu yang paling utama. Tapi yang lebih utama bagaimana meningkatkan level di di surga. Maka sempurnakan asrul iman dikerjakan kesempurnaan wajib dikerjakan kesempurnaan mustahab juga dikerjakan. Ini menunjukkan bahwasanya al iman yatajazza. Menurut ahlusunah iman itu bisa terbagi-bagi. Paham? Ini penting. Jadi kalau yang kafir kalau asul iman yang hilang. Paham? Saya ulangi sini. Kalau asrul iman hilang jadi apa? Kafir. Kalau kamal iman wajib hilang jadi apa? Ber berdosa. Kalau kamal iman mustahap hilang tidak berdosa. Tapi imannya kurang sem sempurna. Tib. Adapun Muktazilah dan murjiah memandang iman satu kesatuan. Nanti kita bahas. Jika hilang sebagian maka hilang seluruhnya. Mereka menganggap iman itu secara dalil aqli aja mereka mengatakan seperti angka 10. Angka 10 kalau diambil satu bukan 10 lagi. Jadi berapa? Jadi berapa? Enggak, bukan gitu. Maksud angka 10 kalau diambil satu jadi berapa? Semilan ya. Bukan 10 lagi. 10 lagi. Sehingga mereka mengatakan seperti ada mereka seperti saken jabin saya seperti ada suatu makanan ya di diibaratkan dia harus ada ee setarah nano-nano lah. Sekarang sudah enggak ada nanano kan masih ada. Maksudnya ada ada manisnya, ada asamnya. Kalau diambil manisnya sudah tidak disebut lagi nano. Nano harus ada manisnya, ada asem asamnya ada apa asinnya baru manis asem-asin nano nano. Masih ada itu. Masih iklan lagi di masjid. Ini contoh aja. Kalau diambil asinnya sudah jadi disebut dalam J menurut mereka demikian. Jadi kalau iman itu diambil sebagian hilang seluruhnya. Jadi iman itu harus total tidak bisa diambil sebagian. Kapan diambil sebagian maka imannya buyar. tidak dikatakan lagi sebagai nano-nano, tidak dikatakan lagi sebagai angka se 10. Paham? Paham. Tib kalau kita bantah gampang kita bilang benar. Tapi angka 10 memang tidak 10 lagi. Jadi 9 tetapi tetap masih ada angkanya. Enggak masih ada. 9 itu hakikatnya kan 10 - 1. Kamu namakan 9, saya namakan 10 - 1. Karena angkanya masih ada. Angkanya masih masih ada. Ibarat pohon kita ibaratnya seperti pohon. Ketika dipotong cabang-cabangnya dia masih dikatakan pohon. Enggak pohon. Tapi apakah sama seperti semula atau berubah? Berubah. Tadinya pohon sempurna jadi pohon rindang jadi tidak lagi rin rindang tetapi tetap dikatakan pohon. Akidah sunah sederhana. Bahwasannya orang kenapa terlalu banyak dalil Rasulullah tidak mengkafirkan pelaku dosa besar seperti orang bunuh diri. Rasulullah tidak salatkan. Tapi kata Rasulullah salatin saudara kalian. Berarti muslim enggak? Muslim berarti bunuh diri tidak tidak kafir. Ada orang pezina Rasulullah salah salatkan. Ada orang pencuri dipotong tangan apa kafir enggak. Setelah dipotong tangan, dia masih hidup bersebagaimana dengan kaum muslimin yang menunjukkan pelaku dosa besar tidak tidak kafir. Ya, berarti imannya masih ada. Cuma imannya ku kurang. Pohonnya masih ada meskipun tidak tidak sempurna pohon pohonnya. Kecuali dia tanam lagi, dia kembangkan lagi, dia bertobat lagi, ya bisa pohonnya rindang kembali. Tayb. Jadi ini termasuk poin penting yang membedakan antara akidah ahlusunah dengan akidah ahlul bidah. Ahlul bidah mengatakan iman satu kesatuan. Kalau hilang sebagian idzahaba ba'duhu zahaba kulluhu. Kalau hilang sebagian, maka akan hilang seluruhnya. Paham sampai sini? Paham. Makanya dari situ ketika kita bicara tentang tadi al-waidiyah, mereka mengatakan amal bagian daripada iman. Kalau ada sebagian amal hilang, kafir atau tidak kafir. Kafir atau keluar dari iman seperti Muktazilah mengatakan manzilah bain manzilatain. Tapi intinya bukan lagi orang beriman. Ahlusunah gak. Iman bisa terbagi-bagi. Tiib. Kemudian yang terakhir ini juga pembeda antara ahlusunah dengan yang lainnya adalah al iman yazid waquus. Aliman itu bisa bertambah dan bisa berkurang. Yazidu bitah bertambah dengan ketaatan. Wanquusu bil maksiat berkurang dengan kemaksiatan. Ya. Maka ketaatan dengan berbagai macam modelnya yang terkait dengan kewajiban, terkait dengan ee yang mustahap, maka ini menambah keimanan sese seseorang. Poin-poinnya apa? Banyak sudah saya bahas di dalam syara akidahi. Saya tidak ulang. Saya cuma isyarat aja. Berkurang dengan apa? Dengan maksiat. Maksiat terkait dengan hati. Maksiat terkait dengan lisan, maksiat terkait dengan anggota badan. Karena cabang-cabang keimanan terkait dengan hati, terkait dengan lisan, terkait dengan anggota badan. Maka jika dilakukan maksiat maka imannya berkurang. Pohon keimannya semakin kering, semakin berkurang, semakin layu. Kenapa? Karena banyak dia melakukan cabang-cabang kemaksiatan ya, sehingga menjadikan imannya berkurang dan berkurang berkurang bisa hilang. Bisa hilang kalau sampai pada kekufuran. Asul asul apa namanya? Maka dikatakan almaasi baridul kufur. Bahwasanya maksiat itu menggiring seorang kepada kekufuran. Kalau seorang terus maksiat, maksiat lama-lama dia hatinya bermasalah, lama dia ragu dengan Tuhan. Akhirnya dia ragu. Ketika dia ragu, dia terjemus dalam kekufuran. Adapun murjiah, maka mereka mengatakan iman tidak bertambah, tidak ber berkurang. Karena iman satu kesatuan. Iman saya sama dengan iman para rasul. Iman saya dengan iman Jibril. Jadi mereka menganggap iman itu satu seperti satu paket yang dia merupakan pokok iman yang semua orang sama imannya sama. Ini model segini ini ya. Misalnya nilainya lima nilainya semuanya mau Jibril, mau Muhammad, mau saya sama. Abu Bakar dengan saya imannya sama. Maksudnya asal imannya sama ya. Padahal tidak ya. Keyakinan juga berbeda satu dengan yang yang lain. Keyakinan kepada Allah bertingkat-tingkat. Keyakinan kepada malaikat bertingkat-tingkat. Keyakinan kepada hari akhirat juga bertingkat-tingkat. Tayib. Paham sampai sini? Insyaallah. Insyaallah. Bab kita lanjutkan. Sekarang ahlul bidah terkait dengan iman, kita bisa bagi menjadi dua. Mereka pertama sepakat dengan satu kesepakatan iman, satu kesatuan. Jika hilang sebagian, maka hilang seluruhnya. Sehingga mereka mengatakan al iman la yataba'ad atau la yatajazza. Iman tidak terbagi-bagi. Ya, jadi istilah mereka gampangannya iman laajazza tidak terbagi-bagi. Sehingga jika satu kesatuan jika hilang sebagian maka hilang seluruhnya. Tayib. Al-Waidiyah. Mereka menganggap karena iman satu kesatuan dan bagi mereka sama dengan ahlusunah amal termasuk daripada iman. Kata mereka, maka seluruh amal wajib adalah rukun iman. Jika hilang sebagian amal wajib maka hilang seluruhnya. Inilah sebabnya kenapa mereka mengatakan secara teori kalau ada orang melakukan dosa besar misalnya tidak berbakti sama orang tua maka orangnya kafir. Ya. Orang tidak bayar zakat maka orang apa kafir. Kenapa? Ada amal yang dia tidak kerjakan. Sementara setiap amal adalah rukun daripada iman dan iman kalau hilang sebagian hilang seluruh seluruhnya. Paham? Sehingga kalau ada orang meninggalkan sebagian amal maka otomatis dia telah keluar dari iman. Inilah khawarij dan muktazilah. Khawarij mengatakan jika hilang sebagian amal misalnya pelaku dosa besar maka dia kafir. Mereka mengkafirkan pelaku dosa besar. Adapun Muktazilah mengatakan jika hilang sebagian amal fi manzilah bainal manzilatain keluar daripada iman. ee keluar daripada iman, tapi bukan kafir, tapi di antara iman dan kufur. Mereka bilang, "Tapi bukan lagi orang beriman." Kenapa? Karena iman satu kesatuan. Jika hilang sebagian, hilang seluruhnya. Siapa yang misalnya tidak bayar zakat atau tidak puasa atau tidak berbakti kepada orang tua, berarti ada amal yang dia tinggalkan. Kalau ada amal yang ditinggalkan, berarti ada sebagian iman yang hilang. Dan kaidahnya kalau sebagian iman hilang maka hilang seluruhnya. Cuma bedanya khawarij mengatakan kafir keluar dari iman kecemplung ke kufur. Adapun Muktazilah mengatakan keluar dari iman tidak ke kufur tapi di antara iman dan kafir. Fil manzilah bainal manzilatain. Yaitu suatu kedudukan di antara dua kedudukan. Apa namanya? Yaitu namanya di akhirat neraka. Akhirat neraka sama di akhirat neraka bukan di surga. Karena yang berhak untuk dapat surga hanyalah orang-orang beriman. Tapi mereka sepakat jika hilang sebagian iman hilang seluruhnya. Paham ini mazhab Al-Waidiyah? Paham? Kenapa disebut Al-Waidiyah? Karena mereka mendominasi hadis-hadis dalil-dalil tentang ancaman. Kata mereka, "Ancaman harus terjadi." Allah mengatakan, "Siapa yang begini di neraka? Siapa begini di neraka." Berarti kalau hilang sebagian amal, hilang seluruh iman. Alwa'diyah yaitu kaum Murjiah mereka mengatakan banyak dalil. Mereka lihat dalil-dalil yang menunjukkan janji, banyak dalil yang menunjukkan pelaku dosa besar tidak kafir. Tapi syubhatnya sama. Syubhatnya sama antara Murjiah dengan Muktazilah dan Khawarij. Antara Al-Waidiyah dan Al-Wa'diyah syubhatnya sama. Berangkat dari syubhat yang sama kemudian mereka berpisah di tengah jalan. Syubhat yang sama bahwasanya iman tidak terbagi-bagi. Paham? Iman tidak terbagi-bagi. Jadi menurut mereka dalil-dalil menunjukkan bahwasanya ada pelaku dosa besar tidak kafir padahal mereka meninggalkan amal. Kalau begitu amal bukan daripada iman. Karena kalau kita bilang amal daripada iman terus ada ditinggalkan kafir seperti Muktazilah atau khawarij yang mengkafirkan orang yang meninggalkan amal. supaya kita tidak kafirkan orang-orang pelaku dosa besar karena ada dalil-dalil yang menunjukkan pelaku dosa besar tidak kafir. Maka kita bagaimana solusinya? Solusinya kita bilang amal bukan dari iman. Amal bukan dari iman. Karena mereka punya syubhat yang sama. Jika ditinggalkan sebagian iman maka hilang seluruh apa? Iman. Nah, supaya tidak kafir maka amal bukan dari iman. Sehingga kalau ditinggalkan orang tetap beriman. Paham? Inilah yang menjadikan mereka akhirnya mengatakan bahwasanya iman hanya sekedar tasdik. Dan inilah yang menjadikan Razi, saya nukil dalam Wasitiah, Arrazi ulama abad ke-6 dia bantai Imam Syafi'i. Dia ngaku Imam Syafi'i. Imam Syafi'i berkata, kata dia Imam Imam Syafi'i radhiallahu anhu berkata, "Bahwasanya iman harus ada tiga. Ada ada apa? Iktikad, ada qul, ada amal. Tetapi amal ini kita sampai kapan orang bisa sempurna menjalankan amal? Kita ragu bisa menjalankan amal. Kalau kita ragu menjalankan amal, berarti bagian rukun amal ini ada keraguan. Kalau keraguan berarti orang kufur. Kalau begitu Imam Syafi'i salah yang benar. Jadi maksud saya dia tahu akidahnya Imam Syafi'i tapi dia selisihi. Paham? Jadi Arrazi ini abad keenam menyelisihi Imam Syafi'i abad ee ketiga ya. Dan Imam Syafi'i makruflah dan akidah dia seperti akidah ahlusunah bahwasanya amal bagian dari iman. Dan itu diakui oleh Ar-Rzi dan saya nukilkan dalam buku saya syarah akidah wasitiyah. Dan dia bantah Al Imam Syafi'i rahimahullahu taala karena menurut dia logik Imam Syafi'i tidak benar. Dia menganggap Imam Syafi'i seperti ee pemahaman Al-Waidiyah kalau hilang sebagian hilang seluruhnya ya. Sehingga dia mengatakan kalau iman itu ada iktikad ada perkataan, ada amal tiib. Iktikad mudah kata dia. Perkataan juga mu mudah menjadi repot amal. Apakah kita bisa menjalankan seluruh amal wajib? Tentu kita ragu bisa menjalankan atau tidak. Ketika kita ragu, maka ada bagian dari rukun iman yang kita ragukan. Padahal namanya iman itu adalah keyakinan yang pasti. Dan semua yang menimbul keraguan membatalkan keimanan. Kalau begitu supaya kita yakin iman ini dibuang. Jangan dimasukkan dalam rukun I iman. Berarti rukun iman cuma dua, tasdik apa dan ul. Intinya dia tidak setuju kalau ada amal. Paham atau tidak? Yang benar ini perkataan Rzi mengkritiki siapa? Al Imam Syafi'i. Makanya kita bilang gimana orang-orang ini katanya akidahnya Imam Syafi'i. Imam Syafi'i dibantah. Imam Syafi'i dibantah. Imam Syafi'i dibantah. Tib. Oleh karenanya supaya mereka tidak mengkafirkan orang mereka bilang amal harus dikeluarkan. Sehingga iman hanya terkait dengan tasdik. Tib murjiah. Ada beberapa kelompok. Ada empat kelompok secara umum semua qadrul musytarak yaitu mereka sepakat satu irisan yang disepakati oleh mereka semua amal bukan dari iman. Paham? Murji itu mengatakan amal bukan daripada iman. Paham? Tetapi mereka juga berkelompok-kelompok. Yang pertama adalah gulatul murjiah. Murjiah ekstrem. Nukilannya semua ada dalam masyarakat wasiti. Saya tidak akan ulangi lagi. Ee itu Jahmiyah. Jahmiyah mengatakan aliman almafah. Iman yang penting mengenal, mengetahui. Orang sudah mengetahui tentang kebenaran, maka sudah dikatakan beriman tanpa harus membenarkan. Ini lebih ringan daripada membenarkan. Ada yang tahu tidak membenarkan. Benar atau tidak? Ada yang tahu tapi tidak membenarkan. Membenarkan lebih tinggi derajatnya daripada sekedar mengetahui. Contoh yang mengetahui tidak membenarkan siapa? Contohnya Abu Thalib. Siapa lagi? Yahudi. Yahudi tahu Nabi atau tidak tahu. Yarifunahu kama y'rifuna abnaahum. Mereka mengenal Nabi, kebenaran Nabi sebagaimana mereka mengetahui anak-anak mereka. Tapi mereka tidak beriman. Mereka membenarkan. Makanya kalau kita mengambil pendapat Jahm bin Safwan, aliman adalah sekedar makrifah, hanya sekedar mengetahui. Ini apa? melazimkan melazimkan siapa yang beriman? Melazimkan Abu Thalib dan apa? Dan Yahudi beriman. Iblis juga beriman. Iblis mengetahui tidak? Tahulah iblis tahu dan juga iblis. Dan iblis beriman semuanya. Iblis mengatakan, "Ana khair khalaqtani minar khalaqtahu minin." Saya engkau ciptakan. Iblis tahu Allah ciptakan dia dari api dan kau ciptakan Adam dari apa? tanah. Gimana saya sujud sama dia? Jadi iblis ngerti mengetahui. Kalau sekedar mengetahui adalah keimanan, maka Abu Thalib juga beriman. Dia berkata dalam syairnya wqimamin sungguh aku telah tahu agama terbaik manusia adalah agamanya Muhammad, agama ponakanku. Kalau bukan takut cercaan dan celaan, tentu kau akan dapati aku terang-terangan beriman. Tapi dia enggak beriman. Padahal dia bukan sekedar mengetahui, bahkan dia membenarkan. Oleh karenanya ini perkataan yang paling buruk yang mengatakan bahwasanya mengetahui kebenaran sudah dianggap sebagai beriman. Tambah lagi iblis. Terus siapa lagi? Fir Firaun. Firaun tahu kebenaran Musa enggak? Tahu kata Nabi Musa kepada Firaunqus. Sungguh Firaun engkau telah tahu tidak yang menurunkan mukjizat ini adalah kecuali pencipta langit dan bumi. Sungguh engkau telah tahu. Kata Nabi. Kata Nabi Musa kepada Nabi kepada Firaun. Laqod alimta. Sungguh kau telah tahu Nabi Musa benar atau bohong? Benar. Allah nukil perkataan dia. Dia langsung memvonis Firaun. Dia berkata, "Sungguh kau telah tahu bahwasanya tidak ada yang menurunkan mukjizat ini kecuali pencipta langit dan bumi." Berarti Firaun punya makrifah enggak? Punya. Kalau berdasarkan murjiah, Firaun ber iman berdasarkan Jahmiyah. Jadi ini gulatul murjiah. Ini pendapat siapa? Jahmiyah. Dia gulatul murjiyah. Murjiah ekstrem. Kata mereka, kata di kata mereka aliman alma'rifah. Iman hanya sekedar mengetahui. Tib. Yang kedua, Alkarramiyah. Pengikut Muhammad bin Karram. Karramiyah dia mengatakan aliman l bis bilisan. Alqul bilisan saja. Jadi menurut mereka seharusnya kalau kelaziman yang penting orang mengatakan asyhadu alla ilahadu muhammadar rasulullah. Maka orang beriman. Bagaimana bantahannya? Bagaimana bantahannya? Kalau begitu siapa yang beriman? Orang munafik. Kalau gitu orang munafik beriman. Ya, pengakuan lisan kata dia, pengakuan lisan sudah cukup. Jam cukup kalau begitu melazimkan siapa? Munafik beriman. Tapi mereka tahu munafik kafir kata mereka. Munafik secara dunia mereka beriman tapi di akhirat neraka. Lah ini enggak mungkin. Padahal Allah menjanjikan orang beriman masuk surga sehingga membatasi iman hanya pada lisan. Tidak benar. Ini pendapat mengikut e karramiyah. Jadi pendapat yang batil juga. Bahkan dia menghilangkan tasdik. Yang penting cukup perkataan maka seorang dikatakan beriman. Tentu jawabannya mudah. Kalau begitu kelazimannya bahwasanya orang munafik beriman. Orang munafik beriman tayb. Yang ketiga, almurjiah yang biasa dan ini adalah orang-orang Asyairah mereka mengatakan bahwasanya al iman hanyalah tasdq, hanyalah pembenaran hati di hati. Ini disebutkan dalam buku-buku mereka seperti dalam Tufatul Murid, syarah Jauharat Tauhid ya. Nanti kita kita singgung ya. Ini namanya kata mereka aliman itu cuma pembenaran saja. Pembenaran saja. Murjiatul fuqaha ini kebanyakan dari pengikut Al Imam Abu Hanifah rahimahullah disebut murjiatul fuqaha karena mereka murjiah tapi banyak orang-orang berilmu yang terjerumus dalam pemahaman yang keliru ini ya. Di antaranya al Imam Abu Hanifah dan guru-gurunya ya dan beberapa ahli fikih. Sehingga Imam Imam Ibnu Taimiyyah menyebutkan mereka murjiatul fuqaha. Sampai ada yang mengatakan karena kesalahan mereka yang paling ringan daripada yang lainnya disebut murjiatu ahli sunah. murjiahnya ahli ahli sunah karena kesalahan mereka yang paling ringan. Mereka mengatakan namanya iman itu attasdiq bilqalb dan qolb lisan. Ada dua pembenaran dengan hati dan ucapan dengan apa? lisan. Jadi selain meyakini harus ada ekspresi asyhadu alla ilahaillallah wa asyhadu muhammadar rasulullah. Meskipun tidak beramal tetap dikatakan beriman. Tidak beramal sama sekali tetap beriman. Ini bedanya dengan ahlusunah. Ahlusunah memasukkan amal dalam definisi I iman. Gak mungkin ada orang beriman kalau tidak punya amal sama sekali. Ada kelaziman antara batin dengan zahir. Ini pendapat ahlusunah. Adapun murjiatul fuqaha kata mereka bahwasanya ee hanya tasdik dan ul lisan. Maka sudah dikatakan orang beriman bahwasanya amal tidak termasuk daripada iman. Tib. Kita kembali kepada pendapat ketiga yang saya tadi Asyairah. Asyairah dalam itu Fathul Murid ya. Mereka mengatakan apa? Aliman apa? Cuma tasdik. Aliman at-tasdiq. Pembenaran. Membenarkan. Tib. Mereka tidak bahas sama sekali masalah amal. Adapun al-amal setelah itu alqul bilisan. Q bilisan itu apa? Syahadatain. Ya. Apa? Syaha syahadatain. Adapun al-amal maka ini tidak ada dalam kamus mereka. Dalam kamus mereka. Nah mereka pembahasan tentang syahadatain qbil amal ini ada khilaf di kalangan mereka. Dua pendapat khilaf. Pendapat pertama mengatakan alqul bilisan ini adalah syartul iman. Syartul iman. Pendapat kedua mengatakan syatrul iman. Syartul iman maksudnya apa? Seorang kata mereka seorang kalau sudah meyakini maka dia sudah beriman. Tapi untuk diterapkan di dunia sebagai orang mukmin dia harus mengucapkan, dia harus mengucapkan asyhadu alla ilaha illall muhammadar rasulullah. Sehingga kita bisa bermuamalah dengan dia sebagai seorang beriman. Tapi seandainya dia tidak mau ucapkan, dia tidak mengucapkan asyhadu alla ilahadu muhammadar rasulullah, maka dia beriman di sisi Allah. Tapi kita bermuamalah dengan dia sebagai orang kafir, tetapi imannya sah. Maka disebut dengan syartul iman. Yaitu kenapa disebut syarat? Karena dia keluar daripada mahiyah. Bukan bagian dari iman. Bukan bagian dari iman. Karena iman hanyalah tasdik. Karena iman hanya amal hati. Hanya apa? Tas tasdik. Sementara lisan bukan mengir iman. Tetapi adalah tetapi syarat untuk dimuamalahi sebagai seorang mukmin. muamalahi sebagai seorang mukmin. Nah, dari mana kita tahu dia orang beriman kalau tidak berucap? Biar kalau orang bisu ya cerita ya dia bisa tulis. Tapi kalau orang bisa ngomong tidak bilang asyhadu muhammadar rasulullah dari mana kita telah beriman? Ya sudah kita sikap kalau dia mati dikuburkan di kuburan orang kafir kita tidak salatkan tetapi dia di sisi Allah beriman berdasarkan definisi iman un makanya mereka khilaf. Heroklius beriman atau tidak? Ibnu Hajar sebutin dalam Fathul Bari Heroklius tidak kalau kita tidak beriman tapi dia membenarkan Nabi atau tidak membenarkan tapi dia tidak mengucapkan syahadatain. Bahkan ketika dia berdiskui sama Abu Sufyan dia mengatakan saya sudah saya sudah menunggu-nunggu nabi tersebut dan saya tidak duga kalau muncul dari kalian dari bangsa Arab. Saya pikir dari bangsa Bani Israil. Kalau dia datang saya akan cuci kedua kakinya. Saya akan tunduk kepadanya. Dia menyebutkan tentang itulah nabi yang kami tunggu-tunggu. Dia ngakui, tapi buktinya dia tidak berani mengucapkan syahadatain. E kenapa? Karena rakyatnya tidak mau. Rakyatnya tidak tidak mau. Bahkan dia memerangi kaum muslimin dalam peperangan. Makanya ketika perang Tabuk Rasulullah serang dia enggak mau datang. Dia takut lawan Nabi. Dia enggak datang. Tidak jadi perang perang Tabuk. Tapi perang yang lain setelah dia setelah Rasulullah meninggal dia perang. Dia berperang. Berperang. Ini saja ada khilaf. Kalau ahlusunah kalau tidak tidak beriman dia tidak pernah syahadatain ya. Dia kafir di dunia dan kafir di sisi Allah Subhanahu wa taala. Karena syarat iman harus tiga. Hati, perkataan, maupun perbuatan. Dia enggak pernah salat, enggak pernah puasa, enggak pernah melakukan syiar-syiar Islam. Gak ada sama sekali tidak pernah syahadatin. Gimana kita katakan orang beriman? Apa bedanya dengan Abu Thalib? Abu Thalib di neraka. Bukan di neraka. Tetapi kalau kita mengikut definisi Asyairah bahwasanya iman hanyalah tasdq. Meskipun tidak syahadatain, dia beriman di sisi Allah. Kalau beriman di sisi Allah berarti bisa masuk surga. Benar atau tidak? Kayak gitu. Yang kedua ini murjiatul fuqaha satrul iman. Syat maksudnya bagian bagian dari iman ini seperti seperti murjiatul fuqaha. Foha bahwasanya kalau tidak syahadatain kafir. Kalau tidak kalau tidak syahadatain maka kafir di sisi Allah dan juga di sisi kaum muslimin. Kalau ini tadi apa? kafir di sisi sisi manu sisi muslimin beriman di sisi Allah bab ini demikian definisi ee syair paham? Sekarang kita mau bahas ini berapa menit lagi? 3 menit. Sekarang di antara yang menakjubkan sebagian ulama-ulama di Mesir dari Al-Azhar ya tentu dibantah juga oleh ul-ulama Azhar yang lain. Tapi ada sebagian ulama profesor Al-Azhar namanya kalau tidak salah doktor nanti antum lihat di YouTube ada dr. Yasri Jabr dia mengatakan Firaun mungkin masuk surga. Firaun mungkin masuk apa? Sur surga. Ya, satu lagi saya lupa tadi namanya Dr. Ahmad Karimah atau siapa dia apa ya? Ahmad Karimah dia mengatakan bagaimana Firaun? Wallahuam wala takfu ma laisa laka bihi ilm. Wallahuam di surga atau di neraka? Firaun masih di ragu. Di surga apa di neraka? Firaun aja masih ragu apalagi Abu Jahal. Abu Jahal jadi gelar Firaun umat ini. Firaun aja masih ragu, apalagi Abu Abu Jahal. Baik. Kalau dalam akidah ahlusunah enggak mungkin kita bilang dia beriman. Karena dia tidak pernah syahadatain dan dia tidak pernah melaksanakan apa? Dia tidak pernah kecuali di akhir hayatnya dia mengatakan amantu annahu la ilahailladzi amanat bihi bani israil dan itu terlambat. Makanya Allah cela dia. Dia tidak pernah tunduk selama itu berdakwah di kepada dakwah Nabi Musa alaihi salam. Dia tidak pernah tunduk. Ti azan aja dulu. Tayib. Kita bicara tentang iman Firaun. Khilaf. Iman Firaun tentunya tidak ada khilaf ya. Ahlusunah semuanya mengakui bahwa
Resume
Requeue
Categories