Transcript
a1TtEy-JSNo • Kitab At-Thahawiyah #46: Serba-Serbi Iman
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2672_a1TtEy-JSNo.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu
ala taufikih wainanih ashadu alla
ilahaillallah wahdahu la syarikalahuim
lnih wa ashadu anna muhammadan abduhu wa
rasuluh daila ridwanumma sholli alaihi
wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwan.
Ee hadirin dan hadirat yang dirahmati
Allah subhanahu wa taala.
Insyaallah pada kesempatan kali ini kita
masuk pada pembahasan baru tentang
masalah iman. Ya, dalam
ee Thahawiyah, akidah Tahawiyah, Imam
Tahawi menyebutkan tentang masalah
takfir, pengkafiran ya, yang di mana
beliau membatasi takfir pada istihlal.
Nanti akan kita bahas. Kemudian setelah
itu beliau menyebutkan tentang definisi
iman menurut beliau ya. Dan pada masalah
ini ada kritikan terhadap al Imam Abu
Jafar at-Tahawi. Karena beliau dalam
definisi iman mengikuti mazhab murjiatil
fuqaha. Insyaallah nanti kita jelaskan
pada pertemuan berikutnya ya. Sebelum
kita masuk pada matan, kita akan
jelaskan secara sederhana tentang iman.
Dan ini pembahasan penting masalah iman.
Karena ee di balik masalah iman inilah
kemudian timbul perselisihan tentang
seorang dinyatakan mukmin atau muslim
atau tidak, dinyatakan kafir atau tidak.
Ya. Dan ee bidah yang pertama yang
dimunculkan oleh Muktazilah adalah
tentang al-asma wal ahkam. Ya, alasma
wal ahkam yaitu tentang apakah seorang
pelaku dosa besar dikatakan sebagai
kafir atau dikatakan sebagai mukmin
naqisul iman atau dikatakan fi manzila
bainal manzilatain.
Itu masalah asma yaitu khilaf tentang
ism nama bagi pelaku dosa besar. Apa
yang pas? Apakah kafir ataukah mukmin
naqisul iman ataukah fi manzilah bain
manzilatain. Kemudian masalah ahkam.
Hukumnya di dunia bagaimana dan hukumnya
di akhirat bagaimana. Ini bidah
Muktazilah pertama kali munculnya
gara-gara permasalahan ini.
Ee
pembahasan ini terus sangat penting
sampai sekarang. Karena kalau kita salah
paham, kita bisa mudah mengkafirkan
orang-orang. Dan bidah yang pertama kali
muncul adalah bidah khawarij. Ya,
pertama kali muncul bidah khawarij
karena juga salah dalam pemahaman
definisi iman sehingga mereka
mengkafirkan pelaku dosa dosa besar.
Bita pertama khawarij ya.
Ini terkait juga dengan masalah iman dan
takfiri juga muncul ee gara-gara salah
paham tentang masalah iman.
Sampai sekarang ada juga yang menyatakan
Firaun beriman ya gara-gara juga masalah
iman. Insyaallah nanti kita kita
singgung TB. Maka kajian kali ini adalah
pertama mukadimah tentang pembahasan
iman. Aliman,
al-iman secara bahasa ya dan juga secara
istilah secara bahasa dalam kamus-kamus
kita dapati ada empat makna disebutkan
oleh para ahli bahasa. Ada yang
mengartikan dengan siqah, yaitu masalah
kepercayaan. Karena beriman tercit
terkait dengan kepercayaan namanya
tumakninah, yaitu merasa tenang. Ini
disebutkan oleh ee Khalil bin Ahmad
Al-Farahidi ya. Ada juga menyatakan
maknanya iar dan ini yang dipilih oleh
Syekh Islam Ibnu Taimiyah bahwasanya
iman asal maknanya sangat mirip dengan
iqrar ya. Karena amana bihi aqaro bihi
ya menggunakan huruf ba lit'diyah mirip.
Dan banyak juga dari ahli bahasa
mengatakan iman secara bahasa artinya
attasdiq, pembenaran atau membenarkan.
Dan ini yang dipilih oleh kaum Murjiah
bahwasanya makna iman secara bahasa
adalah tasdik. Tentunya ada perselisihan
di kalangan para ulama tentang makna ee
iman secara bahasa.
Ee sebagian mengatakan seperti Raghib,
dia mengatakan alisma aliman adalah
tasdiq maa alam. Yaitu tasdiq wa ziadah.
Bukan hanya sekedar membenarkan, tapi
ada
hal tambahan dari sekedar membenarkan,
yaitu membenarkan hal-hal yang terkait
yang gaib. Ya. Ya. Benarkan hal-hal yang
perlu ada kepercayaan di situ. Itu baru
disebut dengan iman. Ya.
Kalau orang mengatakan langit di atas,
kita tidak mengatakan amantu. Enggak.
Karena itu suatu yang jelas. Tapi kalau
ada suatu yang perkara misalnya masalah
malaikat, kamu beriman, malaikat amantu
bil malaikah. Karena malaikat suatu yang
gaib. Jadi iman terkait dengan suatu
yang butuh kepercayaan, bukan suatu yang
jelas dan zahir ya. Dan ini semua saya
sudah bahas dalam syarah al-Aqidah Al
wasitiyah. Makanya saya tidak ulang.
Yang ingin baca lebih lanjut tentang
definisi iman secara bahasa. Terus ada
empat perbedaan antara aliman dengan
tasdiq. Dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah
rahimahullah. Itu semuanya dalam syarah
alkidahiyah jilid kelima. Antum bisa
baca ya ee di bekal Islam ya. Tib secara
istilah
apapun yang kita pilih dari makna
secara bahasa apakah siqah, apakah
tumakninah atau iqrar atau tasdik.
Kalaulah kita memilih bahwasanya iman
adalah tasdik secara bahasa, kalaulah
kita pilih pendapat tersebut sebagaimana
yang dipilih oleh banyak ulama terutama
dari kalangan ee almurjiah ya. Mereka
mengatakan bahwasanya iman maknanya
tasdik dan tasdq tempatnya di hati. Maka
kita katakan secara umum makna istilahi
selalu lebih khusus daripada makna
lghawi. Makna istilahi atau makna syar'i
lebih khusus daripada makna bahasa.
Sebagai contoh misalnya haji. Haji
secara bahasa maknanya al-qasdu.
Al-qasdu. Tetapi haji secara syari
adalah al-qasdu alhas. Yaitu tujuan
khusus. yaitu tujuan menuju Ka'bah
dengan ritual khusus disebut dengan ha
haji. Maka meskipun ada makna bahasa,
ketika kita ada makna syar'i, maka kita
kembalikan kepada makna syar'i. Dan
biasanya makna syar'i lebih khusus
daripada makna apa? Bahasa. Karena
al-qasdu bertujuan. Tujuan itu banyak.
Yang namanya haji syari tujuan pergi
menuju ka'bah melaksanakan manasik haji.
Ya, ini contoh. Contoh seperti umrah
secara bahasa maknanya ziarah. Tapi
apakah semua ziarah disebut umrah? Gak.
Umrah secara khusus makna syari adalah
ziarah dari tanah halal menuju tanah
haram. Itu namanya umrah. Jadi maknanya
yang syari selalu lebih spesifik. Contoh
puasa. Puasa maknanya limsak saum ya. E
apa namanya? Eh falan ukallimal yauma e
apa iniuman
ini. Aku bernazar untuk menahan diri
tidak berbicara. Jadi, saum maknanya
imsak ee menahan. Tapi apakah semua
menahan disebut puasa syari? Gak. Puasa
syar'i yaitu menahan khusus. Yaitu
menahan diri dari makan dan minum dari
terbit fajar sampai terbenar mata
matahari. Jadi selalu asumul khas
menahan yang khusus. Contoh terakhir
misalnya salat. Salat secara bahasa
artinya doa seperti Allah subhanahu wa
taala wasolli alaihim. Doain mereka ya.
Jadi salat secara bahasa artinya doa.
Tapi apakah syari
maknanya doa? Tidak. Secara syari doa
khusus yaitu doa yang dibuka dengan
takbiratul ihram dan diakhiri dengan
apa? Taslim. Yang kita tahu memang salat
itu isinya seluruh doa secara umum.
Dalam iftitah ada doanya. Ketika kita
berdiri, kita berdoa juga ee
ihdinasiratal mustaqim. Ee ketika kita
rukuk juga kita boleh berdoa
subhanakallahumma rabbana wnika
allahumagfirli. Ketika iktidal juga ada
doanya. Ketika sujud juga ada doanya ya.
Duduk di antara dua sujud. Rabbighfirli,
rabbighfirli isinya doa. Tetapi dia doa
yang khusus. Maka demikian juga kalau
kita terapkan pada masalah iman. Iman
secara bahasa kita tarulah kita memilih
pendapat iman maknanya tasdq. Ini
pendapat sebagian ahli bahasa. Tetapi
secara syari dia tasdik yang khusus.
Yaitu tasdik yang yastalzim al amal.
Yaitu pembenaran hati yang melazimkan
adanya amal.
perbuatan amal saleh. Jadi tidak cukup
hanya yang ada di hati. Kenapa kita
mengartikan ee iman secara syari dengan
amal? Karena terlalu banyak dalilnya.
Dan dalil itu semua saya tidak akan
ulangi lagi. Antum bisa baca dalam
syarah alkidah wasitiyah ya ee di jilid
5 ya. Karena kalau kita bahas itu n satu
kajian khusus ya. Dan saya pengin apa
yang disampaikan di sini tidak berulang
dari yang dalam akidah wasitiyah ya.
Tapi kita akan bahas kelanjutannya.
ee dan secara bahasa juga bahwasanya ee
perbuatan amal bisa membenarkan seperti
Rasul sahu alaihi wasallam bersabda,
"Alinani e kataballah libam hadahu
minzina mudrika mahal." Allah mencatat
bahwasanya setiap anak Adam pasti
kecipratan zina. Dia pasti kecipratan
dan dia tidak bisa menghindari.
Bagaimana bisa? Yaitu pasti dia
terjerumus dalam wasilah-wasilah,
sarana-sarana untuk zina. Kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam, "Alani
taznianum.
Sesungguhnya kedua mata berzina dan
zinanya adalah memandang. Kemudian wal
uzunani taznian wazinahum istima. Dan
telinga berzina itu mendengar hal-hal
yang bisa menimbulkan syahwat. Melihat
dengan hal yang bisa menimbulkan
syahwat. Kemudian juga ee tangan berzina
dan zinanya adalah menyentuh. Yaitu
meraba, menyentuh menimbulkan syahwat.
Kemudian eh Rasulullah sebutkan sampai
kata Nabi sallallahu alaihi wasallam,
"Wal farju yusdiquik yukadibu." Dan
kemaluan yang membenarkan itu semua atau
mendustakannya. Maksudnya kalau kemaluan
berzina beneran berarti dia membenarkan.
Di sini Rasul Sallahu Alaihi Wasallam
menyandarkan pembenaran pada amal.
Ternyata pembenaran secara syari bukan
hanya pada hati. Amal perbuatan juga
bisa disifati dengan pembenaran atau
pendus pendustaan. Makanya Rasulullah
mengatakan alfarju yusaddiquzalik au
yukadzibuh. Maka kemaluan membenarkan
apa yang telah di
apa apa yang telah dilakukan oleh
mukadimah-mukadimah mata melihat,
mendengar, ee berbicara, tangan,
sentuhan tinggal dibenarkan atau
kemeluan atau tidak. Maka tasdik yang
disebut dengan iman adalah tasdiqun
khas. Yaitu pembenaran khusus. Bukan
sekedar yang ada di hati, tapi
pembenaran yang melazimkan adanya amal
perbuatan.
Oleh karenanya kalau kita dapati
perkataan salaf tentang iman, maka
selalu mereka menyampaikan aliman qulun
wa amal. Ada perbuatan, ada perkataan,
ada perbuatan. Al Imam Albukhari
mengatakan, "Aku belajar lebih dari 1000
guru semuanya sepakat bahwasanya al iman
qulun wa amal." Imal itu perkataan dan
perbu perbuatan. Kenapa ditambah dengan
wa amal? Untuk membantah murjiah. Karena
murjiah mengatakan bahwasanya iman itu
cuma di hati. Bahwasanya amal perbuatan
bukan bagian daripada iman. Sementara
Imam albukhari menjelaskan bahwasanya
amal termasuk dari iman. Dan dalam Sahih
Bukhari, beliau membuat bab-bab yang
menjelaskan bahwasanya amal bagian
daripada iman. Dan beliau dalam iktikad
al Imam Bukhari, beliau berkata, "Aku
belajar dari bertemu dengan 1000 lebih
guru. Semuanya sepakat untuk mengatakan
iman itu qulun wa amal. Iman itu bukan
hanya perkataan, tapi dia juga adalah
perbuatan."
Tib. Ibarat-ibarat salaf banyak. Ada
yang mengatakan qulun wa amal, ada yang
mengatakan
waqulun wa amal. keyakinan, perkataan,
maupun perbuatan. Ada yang tambah lagi
wniyah dengan niat. Ada yang mengatakan
wal ittiba yaitu mengikuti sunah Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Tetapi
secara umum perkataan para salaf kembali
kepada dua lafal ini. Aliman qulun wa
amal. Ul perkataan dan perbuatan. Nah,
qul ini maksudnya dua ada dua. Ada qulul
qalb. Quul qalb maksudnya tasdiq wal
iktikad. Yaitu membenarkan dan meyakini.
membenarkan dan meyakini. Dan ul lisan
maksudnya syahadatain. Asyhadu alla
ilahaillallah wa asyhadu anna muhammadar
rasulullah. Ini ul amal ada tiga juga.
Ada amalul qalb seperti alkhauf warja
tawakal wat tawakul wal mahabbah cinta
ee dan semua amalan ikhlas ya ee tawadu.
Ini semua namanya amalanamalan hati. Dan
ada amalan lisan seperti zikir kepada
Allah, membaca Al-Qur'an, qiratul Quran.
Ini semua namanya amalul lisan. Kemudian
namanya amal jawari. Amal jawari seperti
salat, siam, haji. Ya, ini amal amal
tubuh. Amal jawari maksudnya anggota
tubuh. Sehingga
kalau kita bicara definisi iman, aliman
menurut ahlusunah wal jamaah ya,
sebagaimana dinukil oleh Al Imam Bukhari
bahkan Al Imam Syafi'i rahimahullah
beliau mengatakan iman itu perkataan,
perbuatan amal. tidak sah kecuali ada
tiga-tiganya. Kata al Imam Asyafi'i
rahimahullahu taala, harus ada ee
iktikad, harus ada ul, harus ada amal
perbuatan.
Inilah yang dimaksud dengan iman. Maka
iman itu cakupannya luas. Mencakup ulb,
perkataan hati, yaitu tasdiq,
pembenaran, dan iktikad. Bukan hanya
pembenaran semata. Karena murjiah nanti
hanya membatasi ini pembenaran doang.
Selainnya tidak dianggap sebagai iman.
Bahkan amalan hati seperti khauf, raja,
tawakal, mahabbah tidak dikatakan
sebagai iman. Mereka yang disebut iman
hanyalah sekedar majaz. Bahwasanya ee
ee bahwasanya amal perbuatan, amal
selain tasdik itu bukan iman, itu
hanyalah majaz. Karena mereka membatasi
makna iman secara istilah dengan makna
iman secara bahasa. Kata mereka, karena
dalam bahasa iman artinya tasdik,
pembenaran. Maka itu pula makna syari.
Saya ulangi, Murjiah mengatakan, karena
dalam bahasa secara bahasa iman maknanya
tasdik, pembenaran, maka secara istilah
juga maknanya pembe membenarkan atau
pembenaran. Selain itu bukan bagian
daripada iman. Kita bantah secara
sederhana. Selalu makna syar'i lebih
khusus daripada makna apa? Bahasa.
Paham? Saya ulangi tadi. Selalu makna
syar'i lebih khusus daripada makna
bahasa. Karena makna syari adalah
istilah syar'i. Kita ambil definisi ini
dari mana? Dari dalil-dalil. Kenapa kita
tahu salat secara bahasa artinya doa?
Tetapi salat kita definisikan secara
syari adalah doa khusus yang dimulai
dengan takbiratul ihram dan diakhiri
dengan apa? Taslim. Kenapa? Karena ada
dalil-dalil yang menunjukkan akal
tersebut. Kenapa umrah? Tidak kita
katakan makna umrah adalah ziarah.
Ziarah ke rumah orang tua namanya umrah.
Gak. Umrah adalah istilah syar'i. Dengan
dalil menunjukkan namanya umrah itu
ziarah khusus. ziaratun khasah, yaitu
ziarah dari tanah halal menuju tanah
haram dalam kondisi ihram untuk
melaksanakan tawaf dan sai, tahalul itu
namanya umrah. Jadi definisi khusus nama
secara bahasa iman artinya pembenaran
tetapi secara istilah syari bukan hanya
sekedar pembaran hati tapi itu
pembenaran yang menimbulkan konsekuensi
berupa amalan hati, berupa amalan
jawarih dan lain-lain. Karena kenapa
kita mendefinisikan demikian? Karena
dalil menunjukkan itu semua disebut
dengan iman. Dalilnya banyak sekali ya.
Contoh sederhana kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam, "Al imanu bidunaah."
Iman itu 70 sekian cabang. Aa kalimat
lailahaillallah. Yang paling tinggi
kalimat laillallah.
Yang paling rendah menghilangkan
gangguan dari jalan. Menghilangkan jali
jalan itu amal atau bukan? Amal.
Kemudian kata Rasulullah, "Wal hayat
sybatun minal iman." Dan bahwasanya rasa
malu adalah bagian daripada iman. Malu
adalah amalan hati. Amalan hati. Ya,
seperti di sini tadi kita bilang ee
amalul qalb di antaranya juga misalnya
al-haya
rasa malu ini amalan hati. Rasulullah
mengatakan alhaya minal minal iman sama
ya kata Rasulull sallahu alaihi wasallam
athuru satrul iman. Bersuci adalah
setengah daripada keimanan ya. Karena
kita salat ternyata berwudu juga bagian
daripada iman. Ya itu banyak dalil
menunjukkan amal termasuk iman. Kata
Allah wallahu liud imanakum.
Allah tidak menyia-nyakan iman kalian.
Ternyata ditafsirkan salat kalian.
Ternyata Allah menamakan salat dengan
apa? Iman. Sehingga selalu definisi
syari'i diambil dari dalil dan biasanya
ada kaitannya dengan definisi secara
etimologi, secara bahasa, namun secara
khusus. Dan dalil menunjukkan bahwasanya
iman itu tidak terbatas pada pembenaran
hati saja. Tapi baca Quran iman.
Berzikir kepada Allah juga apa? Iman.
Salat juga iman, haji juga iman. Puasa
juga iman. Ya, amal-amal hati, tawakal,
ikhlas itu juga adalah iman.
Keyakinan-keyakinan terhadap malaikat,
terhadap macam-macam juga i iman. Maka
definisi yang paling komprehensif, yang
lengkap sehingga semua dalil bisa kita
akomodir adalah definisi ahlusunah wal
jamaah. Bahwasanya iman itu qulun wa
amal. L tadi qulul qolb sama ul li
lisan. Ulul qalbi yaitu tasdik,
pembenaran dan keyakinan. Keyakinan
macam-macam. Keyakinginan terhadap
malaikat, terhadap kitab suci, terhadap
rasul banyak. Kemudian ul lisan itu
syahadatain. Asyhadu alla ilahaillallah
asadu muhammadar rasulullah. Adapun amal
luas ada amalan hati, amalan lisan, sama
amal apa? Anggota tubuh. Amal hati apa?
Misalnya
misalnya khauf, raja, tawakul, apalagi
mahabbah, malu dan macam-macam. Ini
semua amalan hati ya. Husnudzan kepada
Allah itu amalan hati. Kemudian amalan
lisan seperti zikir, baca Al-Qur'an,
amar makruf nahi mungkar itu amalan apa?
Lisan. Seorang menyamp sekarang amalan
lisan juga termasuk tulisan amalul
lisan. Seorang menyeruh kepada kebaikan.
Amal jawarih seperti puasa, salat, haji,
jihad, dan lain-lain. Maka dengan
demikian ini definisi yang paling
komprehensif dan ini yang disampaikan
oleh para salaf, dinukil oleh banyak
ulama. Di antaranya Imam albukhari. Dia
mengatakan, "Saya belajar lebih daripada
1000 ulama. semuanya mengatakan iman
adalah qulun wa amal. Kenapa beliau
menyatakan ini? Untuk membantah
orang-orang murjiah yang sudah muncul
sejak zaman beliau yang mengatakan
bahwasanya amal bukan bagian daripada
iman. Tiib yang penting antum paham
dulu. Paham sampai sini ada yang tidak
bertanya?
Paham ya. Ada yang bertanya?
Hah? Enggak ya. Alhamdulillah. Kalau
tidak bertanya cuma dua kemungkinan.
paham atau bingung apa yang mau
ditanyakan ya.
Tib. Sekarang tiga kaidah pembeda
ahlusunah dan ahlul bidah. Tiga pembeda.
Ahlusunah meyakini bahwasanya pertama
iman tersebut alamal minal iman. Ini
pembeda utama bahwasanya amal bagian
daripada iman. Amal bagian daripada
iman. Bahkan amal adalah salah satu dari
tiga perkara yang harus pada iman. Ya.
Jadi mahiyatul iman dia benar adalah
rukun daripada iman. Makanya kata Imam
Syafi'i dan yang lainnya tidak sah iman
kecuali dengan amal. Tidak terbayangkan
ada seorang katanya beriman tapi tidak
punya amal sama sekali. Itu tidak
terbayangkan.
Imannya berarti iman yang enggak enggak
benar ya. selalu ada keterkaitan ad
zahir dan apa dan batin. Seperti kata
Nabi sallallahu alaihi wasallam, inna
fil jasadi mudghtu atal jasadu wa
fasadat fasadal jasadu ala wahqb.
Sesungguhnya dalam hati dalam tubuh
manusia ada segumpal daging yaitu hati.
Kalau dia baik maka baik pula yang yang
lainnya. Kalau dia buruk maka buruk pula
yang yang lainnya. Kalau orang mengaku
dalam hatinya saya beriman tapi enggak
ada amal sama sekali. Menurut ahlusunah
itu bukan orang beriman. Karena amal
adalah bagian yang rukun dalam iman.
Harus ada qulun wa amalun. Gak mungkin
iman cuma qulun tanpa amal. Apalagi
sekedar pembenaran tanpa ada amal. Dan
ini ijma ulama. Saya nukil perkataan
banyak ulama dalam syarah akidah
wasitiyah. Antum bisa lihat di antaranya
perkataan Imam Syafi'i yang dinukil oleh
Alalakai. Imam Syafi'i mengatakan iman
itu adalah ee apa namanya? Ee iktikad
kemudian amal dan perkataan.
Wala yujizu ahaduha illa bil ukhro
kamaqala. Dan tidak sah salah satunya
kecuali dengan yang lainnya. Harus
tiga-tiganya ada. Harus tiga-tiganya
ada. Ya. Maka orang beriman harus ada
amalnya ya. Dan di antaranya misalnya di
antara syarat lailahaillallah untuk
diterima adalah alinqad. Alinqad itu
apa? Tunduk dengan ada bukti amal. Itu
baru benar bahwasanya dia telah
menjalankan lailahaillallah. Sebagaimana
disebut oleh para ulama tentang syarat
lailahaillallah. Tib.
Ini adalah pertama amal bagian daripada
iman. Kemudian beda dengan murjiah yang
mengeluarkan amal dari iman. Mereka
mengatakan amal bukan bagian daripada
iman. Kata murjiah nanti kita sebutkan
kelompok-kelompok murjiah setelah ini.
Kata mereka amal bukan dari bagian
daripada iman.
Ini pertama. Yang kedua, sama halnya
dengan alwaidiyah khawarij dan
muktazilah. Alkhawarij dan muktazilah
mirip ahlusunah. Mirip ahlusunah dari
sisi bahwasanya amal bagian daripada
iman. Amal bagian daripada iman. Tetapi
bagi mereka seluruh amal wajib adalah
rukun iman. Sehingga siapa yang
meninggalkan satu amal wajib maka dia
kafir keluar daripada Islam. Makanya
amal wajib apapun yang dilanggar atau
dosa besar dilakukan oleh seorang maka
dia telah keluar dari iman. Beda dengan
ahlusunah. Ahlusunah amal itu ada tapi
tidak seluruh amal. Merupakan rukun
daripada iman. Mereka sebut dengan
jinsul amal. Bahwasanya harus ada amal.
yaitu amal yang menunjukkan dia seorang
beriman. Ya, sehingga tidak mungkin ada
seorang beriman tanpa amal sama sekali.
Adapun murjiah, adapun ee khawarij dan
muktazilah kata mereka, "Seluruh amal
wajib itu adalah rukun. Siapa yang
meninggalkan satu amal wajib maka
imannya batal." Imannya batal. Jadi di
sini perhatikan ada beda antara
Ahlusunah sama Al-Waidiyah. Al-Waidiyah
itu maksudnya Khawarij dan Muktazilah.
Al-Waidiyah itu al-waid bahasa Arab dari
ancaman. Yaitu selalu me mendominasikan
masalah ancaman. Allah mengancam
demikian bahwasanya pelaku dosa besar di
neraka. Rasulullah mengancam pelaku dosa
besar di neraka. Kata mereka, "Ancaman
ini harus terjadi. Harus terjadi." Jadi
mereka hanya melihat dalil dari satu
sisi. Murjiah disebut al-w'diyah.
Al-wdiyah hanya memandang dalil-dalil
bahwasanya pelaku dosa ada yang masuk
surga. pelaku dosa. Sehingga mereka
melihat ini kata mereka namanya janji
Allah pasti ter terjadi. Mereka disebut
dengan al-wa'diyah. Al-Wa'ad artinya
janji. Siapa al-wa'diyah? Murjiah. Yang
hanya melihat pada dalil-dalil yang
memberi harapan. Al-Waidiyah
yaitu kelompok Khawarij dan Muktazilah
hanya melihat pada ancaman-ancaman
mereka dengan ahlusunah. Sama dari sisi
bahwasanya amal harus ada pada iman.
Bedanya bahwasanya ahlusunah mengatakan
ada namanya jinsul amal, yaitu orang
tetap harus beramal. Tetapi bukan
seluruh amal. Adapun
khawarij dan muktazilah ada amal wajib
ditinggalkan, maka orang keluar daripada
ian. Orang keluar daripada iman.
Sehingga seluruh amal wajib seakan-akan
rukun iman. Tib. Ini ee
terkait
kaidah yang pertama.
Ah, ini baru saya tanya lagi. Paham atau
tidak? Hah? Paham atau tidak?
Hah? Ulang lagi
dikit. Enggak bisa dikit. Harus banyak
kalau diulang. Saya ulang ya. Nantilah
kita ulang lagi belakangan. Tayib. Yang
kedua, kaidah aliman yatajazza. Menurut
akidah ahlusunah, iman itu bisa
dibagi-bagi. Dia bukan satu kesatuan,
tapi dia bisa dibagi-bagi.
Oleh karenanya iman itu ibarat pohon.
Dan Rasulullah sahu alaihi wasallam
mengatakan bahwasanya iman itu
bercabang-cabang.
Ada 70 sekian cabang. Yang paling tinggi
cabang lailahaillallah. Yang paling
rendah adalah menghilangkan gangguan
dari jalan dan rasa malu bagian daripada
iman. Sehingga kalau kita ibaratkan iman
dengan pohon, maka kalau ada cabang yang
hilang, pohon tersebut masih hidup
enggak? Masih. Semakin banyak cabang
hilang, semakin sakit enggak pohon
tersebut? Tapi masih ada pohonnya?
Masih. Kapan pohonnya hilang? Jika
akarnya di tebang. Akarnya ditebang baru
pohonnya apa? Hilang. Iman pun demikian.
Iman pun demikian. Selama seorang masih
punya asal iman, pokok iman, ya, maka
dia masih dikatakan beriman meskipun dia
melakukan banyak maksiat. Ya, misalnya
dia ternyata berzina, ternyata dia
mencuri, tapi dia masih punya pokok
iman, maka orang ini belum kafir. Ya,
ini menunjukkan dalam akidah ahlusunah,
iman itu bercabang-cabang, bisa
terbagi-bagi. Bisa hilang sebagian,
tidak melazimkan hilang seluruhnya.
Ulangi. Jika hilang sebagian tidak
melazimkan hilang seluruh seluruhnya.
seperti pohon. Kalau ada dahan atau
cabang atau ranting dipatahkan tidak
melazimkan pohon itu hilang. Yang benar
pohon tersebut berubah atau tidak
setelah dipatahkan cabangnya berubah
menjadi lebih buruk. Iya enggak? Tetapi
apakah pohonnya hilang? Tidak. Pohonnya
masih ada tidak lagi sempurna, tetapi
pohonnya masih ada. Sehingga aliman
yatajazza. Iman bisa dibagi-bagi. Yang
bagi adalah Nabi sallallahu alaihi
wasallam. Nabi mengatakan iman 70 sekian
ca cabang. Sehingga kalau ada cabang di
hilang-hilang tidak lengkap tetap
dikatakan beriman
kecuali yang hilang adalah asal iman
yaitu pokok atau akar iman.
Tib. Oleh karenanya kalau kita ibaratkan
iman ada namanya aslul iman. Aslul iman
disebut mutlaqul iman. Ini kalau hilang
maka kafir. Asul iman banyak ya. Seperti
iman kepada Allah. Ini termasuk as iman.
Tidak beriman Allah. Kafir iman kepada
takdir. Siapa yang tidak beriman kepada
takdir, dia termasuk asul iman. Orang
kafir. Meskipun dia beriman kepada lima,
satu tidak beriman kafir. Orang tidak
beriman pada malaikat kafir. Ya. Ya.
Kata Allah, "Man yakfur billahi wa
malaikati wa kutubi war yaumil akhir
faqad." Siapa yang tidak beriman kepada
Allah, kepada kitab-kitabnya, kepada
malaikat, kepada kitabnya, kepada para
rasul, kepada hari akhirat, maka dia
telah tersesat. Maka dia telah kafir.
Ya, ada orang beriman kepada seluruhnya
tapi tidak beriman pada hari
kebangkitan. Kafir. Makanya kenapa Ibnu
Sina dikafirkan oleh Al-Ghazali? Karena
dia ketika berbicara tentang hari
akhirat, dia mengatakan bahwasanya yang
dibangkitkan cuma ruh, bukan jasad. Gak
mungkin jasad dibangkitkan. Dia tidak
beriman kalau jasad bisa dibangkitkan.
Sehingga dia dikafirkan oleh Al-Ghazal
dalam kitabnya Tahafudul Falasifah dan
juga dalam Almunkit minadal. Dia
mengatakan kafir ya. Kenapa? dia beriman
pada lima atau yang lainnya, tapi tidak
beriman kepada hari akhirat sebagaimana
yang dijelaskan Al-Qur'an dan sunah. Ini
namanya asrul iman.
Asrul iman kalau hilang kafir, tapi di
atasnya kamalul iman wajib. Ada iman
yang jadi sempurna. Setelah seorang
punya asul iman, maka dia menyempurnakan
pohon keimanannya dengan perkara-perkara
yang wajib. Seperti salat lima waktu,
berbakti kepada orang tua. Ini semua
iman ya, yang wajib-wajib ya. Tapi kalau
dia tidak lakukan dia tetap beriman.
Cuma dia berdosa.
Dia naqisul iman. Imannya kurang ya.
Kenapa? Karena dia meninggalkan perkara
yang wajib sehingga tidak meraih
kesempurnaan iman wajib. Disebut dengan
kamal iman alwajib.
Ini perkara-perkara wajib yang harus dia
lakukan. Kalau dia lakukan maka dia
sempurna ee kesempurnaan yang wajib. Ya,
kalau dia meninggalkan maka dia tetap
beriman tapi dia berdosa. Lebih tinggi
lagi kamalul iman almustahab.
Jadi pohonnya lebih rindang lagi
gampangannya. Setelah ada akarnya, ada
batangnya, ada dahan-dahannya yang wajib
kemudian banyak lagi bunga-bunganya,
banyak lagi buah-buahnya. Ini namanya
mustahab. Sehingga dia tidak mencukupkan
imannya hanya pada yang wajib saja.
Bahkan yang sunah-sunah pun dia k
kerjakan. Ya, dia salat sunah, dia salat
malam, dia baca Quran. Ini sunah-sunah.
Sunah-sunah dia banyak bersedekah,
sunah-sunah dia kerjakan. Ini semua iman
yang membuat pohon keimannya semakin
rindang. semakin rindang sehingga
imannya semakin kuat, semakin kokoh. Ya,
maka dalam akidah ahlusunah kalau ada
dahan-dahan potong buah-buah jatuh ya
imannya berkurang tapi tetap dia
beriman. Ada orang malas salat malam,
malas puasa sunah
bagaimana imannya? Dia berdosa atau
tidak? Berdosa atau tidak? Tidak. Dia
telah mencapai kamal wajib, yaitu
kesempurnaan yang wajib. Paham? Tapi dia
belum mencapai kamal yang mustahab.
Nah, kita hidup ini kita sedang
memelihara pohon keimanan kita.
Memelihara pohon keimanan keimanan kita.
Karena nanti derajat di akhirat sesuai
dengan iman. Sesuai dengan iman. Semakin
tinggi iman seseorang, semakin tinggi
surganya. Semakin lebih cantik
bidadarinya. Benar atau tidak benar?
Wallahualam. Jelas. Bukan wallahuam.
Jelas.
Allah maha adil. Masa bidadarinya sama.
Bidadari sama atau beda?
Apa
kata Nabi sallallahu alaihi wasallam?
Siapa yang beradam amarahnya padahal dia
mampu untuk melampiaskannya, maka Allah
akan panggil dia pada hari kiamat di
hadapan khalay umum. Lalu Allah suruh
dia pilih bidadari mana yang dia suka.
Berarti bidadarinya bermacam-macam.
Enggak. Kalau semua pilihan sama ngapain
pilih? Sama semua modelnya. Ini beda
dari AI sama semua.
Berarti ketika disuruh pilih berarti
berbeda berbeda-beda. Sama di surga juga
darajatunil masing-masing zaraj sesuai
dengan sesuai dengan tingkatan. Maka
semakin pohon keimanan seorang semakin
rindang, semakin banyak buahnya, semakin
banyak bunganya, maka surganya semakin
apa? Tinggi. Maka seorang berusaha
menyempurnakan imannya. Jangan, jangan
hanya terbatas pada asrul iman. Yang
penting saya yang penting saya masuk
surga saja. Enggak. Itu tentu yang
paling utama. Tapi yang lebih utama
bagaimana meningkatkan level di di
surga. Maka sempurnakan asrul iman
dikerjakan kesempurnaan wajib dikerjakan
kesempurnaan mustahab juga dikerjakan.
Ini menunjukkan bahwasanya al iman
yatajazza. Menurut ahlusunah iman itu
bisa terbagi-bagi.
Paham? Ini penting.
Jadi kalau yang kafir kalau asul iman
yang hilang. Paham? Saya ulangi sini.
Kalau asrul iman hilang jadi apa? Kafir.
Kalau kamal iman wajib hilang jadi apa?
Ber berdosa. Kalau kamal iman mustahap
hilang tidak berdosa. Tapi imannya
kurang sem sempurna. Tib. Adapun
Muktazilah dan murjiah memandang iman
satu kesatuan. Nanti kita bahas. Jika
hilang sebagian maka hilang seluruhnya.
Mereka menganggap iman itu secara dalil
aqli aja mereka mengatakan seperti angka
10. Angka 10 kalau diambil satu bukan 10
lagi. Jadi berapa?
Jadi berapa? Enggak, bukan gitu. Maksud
angka 10 kalau diambil satu jadi berapa?
Semilan ya. Bukan 10 lagi. 10 lagi.
Sehingga mereka mengatakan seperti ada
mereka seperti saken jabin saya seperti
ada suatu makanan ya di diibaratkan
dia harus ada ee setarah nano-nano lah.
Sekarang sudah enggak ada nanano kan
masih ada. Maksudnya ada ada manisnya,
ada asamnya. Kalau diambil manisnya
sudah tidak disebut lagi nano. Nano
harus ada manisnya, ada asem asamnya ada
apa asinnya baru manis asem-asin nano
nano.
Masih ada itu. Masih iklan lagi di
masjid. Ini contoh aja. Kalau diambil
asinnya sudah jadi disebut dalam J
menurut mereka demikian. Jadi kalau iman
itu diambil sebagian hilang seluruhnya.
Jadi iman itu harus total tidak bisa
diambil sebagian. Kapan diambil sebagian
maka imannya buyar. tidak dikatakan lagi
sebagai nano-nano, tidak dikatakan lagi
sebagai angka se 10. Paham? Paham. Tib
kalau kita bantah gampang kita bilang
benar.
Tapi angka 10 memang tidak 10 lagi. Jadi
9 tetapi tetap masih ada angkanya.
Enggak masih ada. 9 itu hakikatnya kan
10 - 1. Kamu namakan 9, saya namakan 10
- 1. Karena angkanya masih ada. Angkanya
masih masih ada. Ibarat pohon kita
ibaratnya seperti pohon. Ketika dipotong
cabang-cabangnya dia masih dikatakan
pohon. Enggak pohon. Tapi apakah sama
seperti semula atau berubah? Berubah.
Tadinya pohon sempurna jadi pohon
rindang jadi tidak lagi rin rindang
tetapi tetap dikatakan pohon. Akidah
sunah sederhana. Bahwasannya orang
kenapa terlalu banyak dalil Rasulullah
tidak mengkafirkan pelaku dosa besar
seperti orang bunuh diri. Rasulullah
tidak salatkan. Tapi kata Rasulullah
salatin saudara kalian. Berarti muslim
enggak? Muslim berarti bunuh diri tidak
tidak kafir. Ada orang pezina Rasulullah
salah salatkan. Ada orang pencuri
dipotong tangan apa kafir enggak.
Setelah dipotong tangan, dia masih hidup
bersebagaimana dengan kaum muslimin yang
menunjukkan pelaku dosa besar tidak
tidak kafir. Ya, berarti imannya masih
ada. Cuma imannya ku kurang. Pohonnya
masih ada meskipun tidak tidak sempurna
pohon pohonnya. Kecuali dia tanam lagi,
dia kembangkan lagi, dia bertobat lagi,
ya bisa pohonnya rindang kembali.
Tayb.
Jadi ini termasuk poin penting yang
membedakan antara akidah ahlusunah
dengan akidah ahlul bidah. Ahlul bidah
mengatakan iman satu kesatuan. Kalau
hilang sebagian idzahaba ba'duhu zahaba
kulluhu. Kalau hilang sebagian, maka
akan hilang seluruhnya.
Paham sampai sini?
Paham. Makanya dari situ ketika kita
bicara tentang tadi al-waidiyah,
mereka mengatakan amal bagian daripada
iman. Kalau ada sebagian amal hilang,
kafir atau tidak kafir. Kafir atau
keluar dari iman seperti Muktazilah
mengatakan manzilah bain manzilatain.
Tapi intinya bukan lagi orang beriman.
Ahlusunah gak. Iman bisa terbagi-bagi.
Tiib. Kemudian yang terakhir ini juga
pembeda antara ahlusunah dengan yang
lainnya adalah al iman yazid waquus.
Aliman itu bisa bertambah dan bisa
berkurang. Yazidu bitah bertambah dengan
ketaatan. Wanquusu bil maksiat berkurang
dengan kemaksiatan.
Ya. Maka ketaatan dengan berbagai macam
modelnya yang terkait dengan kewajiban,
terkait dengan ee yang mustahap, maka
ini menambah keimanan sese seseorang.
Poin-poinnya apa? Banyak sudah saya
bahas di dalam syara akidahi. Saya tidak
ulang. Saya cuma isyarat aja. Berkurang
dengan apa? Dengan maksiat. Maksiat
terkait dengan hati. Maksiat terkait
dengan lisan, maksiat terkait dengan
anggota badan. Karena cabang-cabang
keimanan
terkait dengan hati, terkait dengan
lisan, terkait dengan anggota badan.
Maka jika dilakukan maksiat maka imannya
berkurang. Pohon keimannya semakin
kering, semakin berkurang, semakin layu.
Kenapa? Karena banyak dia melakukan
cabang-cabang kemaksiatan ya, sehingga
menjadikan imannya berkurang dan
berkurang berkurang bisa hilang. Bisa
hilang kalau sampai pada kekufuran. Asul
asul apa namanya? Maka dikatakan almaasi
baridul kufur. Bahwasanya maksiat itu
menggiring seorang kepada kekufuran.
Kalau seorang terus maksiat, maksiat
lama-lama dia hatinya bermasalah, lama
dia ragu dengan Tuhan. Akhirnya dia
ragu. Ketika dia ragu, dia terjemus
dalam kekufuran.
Adapun murjiah, maka mereka mengatakan
iman tidak bertambah, tidak ber
berkurang. Karena iman satu kesatuan.
Iman saya sama dengan iman
para rasul. Iman saya dengan iman
Jibril. Jadi mereka menganggap iman itu
satu seperti satu paket yang dia
merupakan pokok iman yang semua orang
sama imannya sama. Ini model segini ini
ya. Misalnya nilainya lima nilainya
semuanya mau Jibril, mau Muhammad, mau
saya sama. Abu Bakar dengan saya imannya
sama. Maksudnya asal imannya sama ya.
Padahal tidak ya. Keyakinan juga berbeda
satu dengan yang yang lain. Keyakinan
kepada Allah bertingkat-tingkat.
Keyakinan kepada malaikat
bertingkat-tingkat. Keyakinan kepada
hari akhirat juga bertingkat-tingkat.
Tayib.
Paham sampai sini? Insyaallah.
Insyaallah. Bab kita lanjutkan.
Sekarang ahlul bidah terkait dengan
iman, kita bisa bagi menjadi dua.
Mereka pertama sepakat dengan satu
kesepakatan iman, satu kesatuan.
Jika hilang sebagian, maka hilang
seluruhnya. Sehingga mereka mengatakan
al iman la yataba'ad atau la yatajazza.
Iman tidak terbagi-bagi. Ya, jadi
istilah mereka gampangannya
iman laajazza tidak terbagi-bagi.
Sehingga jika satu kesatuan jika hilang
sebagian maka hilang seluruhnya. Tayib.
Al-Waidiyah.
Mereka menganggap karena iman satu
kesatuan dan bagi mereka sama dengan
ahlusunah amal termasuk daripada iman.
Kata mereka, maka seluruh amal wajib
adalah rukun iman. Jika hilang sebagian
amal wajib maka hilang seluruhnya.
Inilah sebabnya kenapa mereka mengatakan
secara teori kalau ada orang melakukan
dosa besar misalnya tidak berbakti sama
orang tua maka orangnya kafir. Ya. Orang
tidak bayar zakat maka orang apa kafir.
Kenapa? Ada amal yang dia tidak
kerjakan. Sementara setiap amal adalah
rukun daripada iman dan iman kalau
hilang sebagian hilang seluruh
seluruhnya. Paham? Sehingga kalau ada
orang meninggalkan sebagian amal maka
otomatis dia telah keluar dari iman.
Inilah khawarij dan muktazilah. Khawarij
mengatakan jika hilang sebagian amal
misalnya pelaku dosa besar maka dia
kafir.
Mereka mengkafirkan pelaku dosa besar.
Adapun Muktazilah mengatakan jika hilang
sebagian amal fi manzilah bainal
manzilatain keluar daripada iman.
ee keluar daripada iman, tapi bukan
kafir, tapi di antara iman dan kufur.
Mereka bilang, "Tapi bukan lagi orang
beriman."
Kenapa? Karena iman satu kesatuan. Jika
hilang sebagian, hilang seluruhnya.
Siapa yang misalnya tidak bayar zakat
atau tidak puasa atau tidak berbakti
kepada orang tua, berarti ada amal yang
dia tinggalkan. Kalau ada amal yang
ditinggalkan, berarti ada sebagian iman
yang hilang. Dan kaidahnya kalau
sebagian iman hilang maka hilang
seluruhnya. Cuma bedanya khawarij
mengatakan kafir keluar dari iman
kecemplung ke kufur. Adapun Muktazilah
mengatakan keluar dari iman tidak ke
kufur tapi di antara iman dan kafir. Fil
manzilah bainal manzilatain. Yaitu suatu
kedudukan di antara dua kedudukan. Apa
namanya? Yaitu namanya
di akhirat neraka. Akhirat neraka sama
di akhirat neraka bukan di surga. Karena
yang berhak untuk dapat surga hanyalah
orang-orang beriman. Tapi mereka sepakat
jika hilang sebagian iman hilang
seluruhnya. Paham ini mazhab
Al-Waidiyah?
Paham? Kenapa disebut Al-Waidiyah?
Karena mereka mendominasi hadis-hadis
dalil-dalil tentang ancaman. Kata
mereka, "Ancaman harus terjadi." Allah
mengatakan, "Siapa yang begini di
neraka? Siapa begini di neraka." Berarti
kalau hilang sebagian amal, hilang
seluruh iman.
Alwa'diyah
yaitu kaum Murjiah mereka mengatakan
banyak dalil. Mereka lihat dalil-dalil
yang menunjukkan janji, banyak dalil
yang menunjukkan pelaku dosa besar tidak
kafir. Tapi syubhatnya sama. Syubhatnya
sama antara Murjiah dengan Muktazilah
dan Khawarij. Antara Al-Waidiyah dan
Al-Wa'diyah syubhatnya sama. Berangkat
dari syubhat yang sama kemudian mereka
berpisah di tengah jalan. Syubhat yang
sama bahwasanya iman tidak terbagi-bagi.
Paham? Iman tidak terbagi-bagi. Jadi
menurut mereka dalil-dalil menunjukkan
bahwasanya ada pelaku dosa besar tidak
kafir padahal mereka meninggalkan amal.
Kalau begitu amal bukan daripada iman.
Karena kalau kita bilang amal daripada
iman terus ada ditinggalkan kafir
seperti Muktazilah atau khawarij yang
mengkafirkan orang yang meninggalkan
amal. supaya kita tidak kafirkan
orang-orang pelaku dosa besar karena ada
dalil-dalil yang menunjukkan pelaku dosa
besar tidak kafir. Maka kita bagaimana
solusinya? Solusinya kita bilang amal
bukan dari iman.
Amal bukan dari iman. Karena mereka
punya syubhat yang sama. Jika
ditinggalkan sebagian iman maka hilang
seluruh apa? Iman. Nah, supaya tidak
kafir maka amal bukan dari iman.
Sehingga kalau ditinggalkan orang tetap
beriman. Paham? Inilah yang menjadikan
mereka akhirnya mengatakan bahwasanya
iman hanya sekedar tasdik. Dan inilah
yang menjadikan Razi, saya nukil dalam
Wasitiah, Arrazi ulama abad ke-6 dia
bantai Imam Syafi'i. Dia ngaku Imam
Syafi'i. Imam Syafi'i berkata, kata dia
Imam Imam Syafi'i radhiallahu anhu
berkata, "Bahwasanya iman harus ada
tiga. Ada ada apa? Iktikad, ada qul, ada
amal. Tetapi amal ini kita sampai kapan
orang bisa sempurna menjalankan amal?
Kita ragu bisa menjalankan amal. Kalau
kita ragu menjalankan amal, berarti
bagian rukun amal ini ada keraguan.
Kalau keraguan berarti orang kufur.
Kalau begitu Imam Syafi'i salah yang
benar. Jadi maksud saya dia tahu
akidahnya Imam Syafi'i tapi dia
selisihi.
Paham? Jadi Arrazi ini abad keenam
menyelisihi Imam Syafi'i abad ee ketiga
ya. Dan Imam Syafi'i makruflah dan
akidah dia seperti akidah ahlusunah
bahwasanya amal bagian dari iman. Dan
itu diakui oleh Ar-Rzi dan saya nukilkan
dalam buku saya syarah akidah wasitiyah.
Dan dia bantah Al Imam Syafi'i
rahimahullahu taala karena menurut dia
logik Imam Syafi'i tidak benar. Dia
menganggap Imam Syafi'i seperti ee
pemahaman Al-Waidiyah kalau hilang
sebagian hilang seluruhnya ya. Sehingga
dia mengatakan kalau iman itu ada
iktikad ada perkataan, ada amal tiib.
Iktikad mudah kata dia.
Perkataan juga mu mudah menjadi repot
amal. Apakah kita bisa menjalankan
seluruh amal wajib? Tentu kita ragu bisa
menjalankan atau tidak. Ketika kita
ragu, maka ada bagian dari rukun iman
yang kita ragukan. Padahal namanya iman
itu adalah keyakinan yang pasti. Dan
semua yang menimbul keraguan membatalkan
keimanan. Kalau begitu supaya kita yakin
iman ini dibuang. Jangan dimasukkan
dalam rukun I iman. Berarti rukun iman
cuma dua, tasdik apa dan ul. Intinya dia
tidak setuju kalau ada amal. Paham atau
tidak?
Yang benar
ini perkataan Rzi mengkritiki siapa? Al
Imam Syafi'i. Makanya kita bilang gimana
orang-orang ini katanya akidahnya Imam
Syafi'i. Imam Syafi'i dibantah. Imam
Syafi'i dibantah.
Imam Syafi'i dibantah.
Tib. Oleh karenanya supaya mereka tidak
mengkafirkan orang mereka bilang amal
harus dikeluarkan. Sehingga iman hanya
terkait dengan tasdik. Tib murjiah. Ada
beberapa kelompok. Ada empat kelompok
secara umum
semua qadrul musytarak yaitu mereka
sepakat satu irisan yang disepakati oleh
mereka semua amal bukan dari iman.
Paham? Murji itu mengatakan amal bukan
daripada iman. Paham? Tetapi mereka juga
berkelompok-kelompok. Yang pertama
adalah gulatul murjiah. Murjiah ekstrem.
Nukilannya semua ada dalam masyarakat
wasiti. Saya tidak akan ulangi lagi. Ee
itu Jahmiyah. Jahmiyah mengatakan aliman
almafah. Iman yang penting mengenal,
mengetahui. Orang sudah mengetahui
tentang kebenaran, maka sudah dikatakan
beriman tanpa harus membenarkan.
Ini lebih ringan daripada membenarkan.
Ada yang tahu tidak membenarkan.
Benar atau tidak? Ada yang tahu tapi
tidak membenarkan.
Membenarkan lebih tinggi derajatnya
daripada sekedar mengetahui.
Contoh yang mengetahui tidak membenarkan
siapa? Contohnya
Abu Thalib. Siapa lagi?
Yahudi. Yahudi tahu Nabi atau tidak
tahu. Yarifunahu kama y'rifuna abnaahum.
Mereka mengenal Nabi, kebenaran Nabi
sebagaimana mereka mengetahui anak-anak
mereka. Tapi mereka tidak beriman.
Mereka membenarkan. Makanya kalau kita
mengambil pendapat Jahm bin Safwan,
aliman adalah sekedar makrifah, hanya
sekedar mengetahui.
Ini apa? melazimkan melazimkan siapa
yang beriman?
Melazimkan Abu Thalib
dan apa? Dan Yahudi beriman.
Iblis juga beriman. Iblis mengetahui
tidak? Tahulah iblis tahu dan juga
iblis. Dan iblis beriman semuanya. Iblis
mengatakan, "Ana khair khalaqtani minar
khalaqtahu minin." Saya engkau ciptakan.
Iblis tahu Allah ciptakan dia dari api
dan kau ciptakan Adam dari apa? tanah.
Gimana saya sujud sama dia? Jadi iblis
ngerti mengetahui. Kalau sekedar
mengetahui adalah keimanan, maka Abu
Thalib juga beriman. Dia berkata dalam
syairnya wqimamin
sungguh aku telah tahu agama terbaik
manusia adalah agamanya Muhammad, agama
ponakanku. Kalau bukan takut cercaan dan
celaan, tentu kau akan dapati aku
terang-terangan beriman. Tapi dia enggak
beriman. Padahal dia bukan sekedar
mengetahui, bahkan dia membenarkan. Oleh
karenanya ini perkataan yang paling
buruk yang mengatakan bahwasanya
mengetahui kebenaran sudah dianggap
sebagai beriman. Tambah lagi iblis.
Terus siapa lagi? Fir Firaun. Firaun
tahu kebenaran Musa enggak? Tahu kata
Nabi Musa kepada Firaunqus.
Sungguh Firaun engkau telah tahu tidak
yang menurunkan mukjizat ini adalah
kecuali pencipta langit dan bumi.
Sungguh engkau telah tahu. Kata Nabi.
Kata Nabi Musa kepada Nabi kepada
Firaun. Laqod alimta. Sungguh kau telah
tahu Nabi Musa benar atau bohong? Benar.
Allah nukil perkataan dia. Dia langsung
memvonis Firaun. Dia berkata, "Sungguh
kau telah tahu bahwasanya tidak ada yang
menurunkan mukjizat ini kecuali pencipta
langit dan bumi." Berarti Firaun punya
makrifah enggak? Punya. Kalau
berdasarkan murjiah, Firaun ber iman
berdasarkan Jahmiyah. Jadi ini gulatul
murjiah. Ini pendapat siapa?
Jahmiyah.
Dia gulatul murjiyah. Murjiah ekstrem.
Kata mereka, kata di kata mereka aliman
alma'rifah. Iman hanya sekedar
mengetahui. Tib. Yang kedua,
Alkarramiyah.
Pengikut Muhammad bin Karram. Karramiyah
dia mengatakan aliman l bis bilisan.
Alqul bilisan saja. Jadi menurut mereka
seharusnya kalau kelaziman yang penting
orang mengatakan asyhadu alla ilahadu
muhammadar rasulullah. Maka orang
beriman. Bagaimana bantahannya?
Bagaimana bantahannya?
Kalau begitu siapa yang beriman? Orang
munafik. Kalau gitu orang munafik
beriman. Ya,
pengakuan lisan kata dia, pengakuan
lisan sudah cukup.
Jam cukup kalau begitu melazimkan siapa?
Munafik
beriman.
Tapi mereka tahu munafik kafir kata
mereka. Munafik secara dunia mereka
beriman tapi di akhirat neraka. Lah ini
enggak mungkin. Padahal Allah
menjanjikan orang beriman masuk surga
sehingga membatasi iman hanya pada
lisan. Tidak benar. Ini pendapat
mengikut e karramiyah. Jadi pendapat
yang batil juga. Bahkan dia
menghilangkan tasdik. Yang penting cukup
perkataan maka seorang dikatakan
beriman. Tentu jawabannya mudah. Kalau
begitu kelazimannya bahwasanya orang
munafik beriman.
Orang munafik beriman
tayb.
Yang ketiga, almurjiah
yang biasa dan ini adalah orang-orang
Asyairah mereka mengatakan bahwasanya al
iman hanyalah tasdq, hanyalah pembenaran
hati di hati.
Ini disebutkan dalam buku-buku mereka
seperti dalam Tufatul Murid, syarah
Jauharat Tauhid ya. Nanti kita kita
singgung ya. Ini namanya kata mereka
aliman itu cuma pembenaran saja.
Pembenaran saja.
Murjiatul fuqaha ini kebanyakan dari
pengikut Al Imam Abu Hanifah
rahimahullah disebut murjiatul fuqaha
karena mereka murjiah tapi banyak
orang-orang berilmu yang terjerumus
dalam pemahaman yang keliru ini ya. Di
antaranya al Imam Abu Hanifah dan
guru-gurunya ya dan beberapa ahli fikih.
Sehingga Imam Imam Ibnu Taimiyyah
menyebutkan mereka murjiatul fuqaha.
Sampai ada yang mengatakan karena
kesalahan mereka yang paling ringan
daripada yang lainnya disebut murjiatu
ahli sunah. murjiahnya ahli ahli sunah
karena kesalahan mereka yang paling
ringan. Mereka mengatakan namanya iman
itu attasdiq bilqalb dan qolb lisan. Ada
dua
pembenaran dengan hati dan ucapan dengan
apa? lisan. Jadi selain meyakini harus
ada ekspresi asyhadu alla ilahaillallah
wa asyhadu muhammadar rasulullah.
Meskipun tidak beramal tetap dikatakan
beriman. Tidak beramal sama sekali tetap
beriman.
Ini bedanya dengan ahlusunah. Ahlusunah
memasukkan amal dalam definisi I iman.
Gak mungkin ada orang beriman kalau
tidak punya amal sama sekali. Ada
kelaziman antara batin dengan zahir. Ini
pendapat ahlusunah. Adapun murjiatul
fuqaha kata mereka bahwasanya
ee
hanya tasdik dan
ul lisan. Maka sudah dikatakan orang
beriman bahwasanya amal tidak termasuk
daripada iman. Tib. Kita kembali kepada
pendapat ketiga yang saya tadi Asyairah.
Asyairah dalam itu Fathul Murid ya.
Mereka mengatakan apa? Aliman apa? Cuma
tasdik. Aliman
at-tasdiq.
Pembenaran. Membenarkan.
Tib. Mereka tidak bahas sama sekali
masalah amal. Adapun al-amal
setelah itu alqul bilisan.
Q bilisan itu apa? Syahadatain. Ya. Apa?
Syaha syahadatain.
Adapun al-amal maka ini tidak ada dalam
kamus mereka. Dalam kamus mereka. Nah
mereka pembahasan tentang syahadatain
qbil amal ini ada khilaf di kalangan
mereka. Dua pendapat khilaf.
Pendapat pertama mengatakan alqul
bilisan ini adalah
syartul iman.
Syartul iman. Pendapat kedua mengatakan
syatrul iman.
Syartul iman maksudnya apa? Seorang kata
mereka seorang kalau sudah meyakini maka
dia sudah beriman. Tapi untuk diterapkan
di dunia sebagai orang mukmin dia harus
mengucapkan,
dia harus mengucapkan asyhadu alla ilaha
illall muhammadar rasulullah. Sehingga
kita bisa bermuamalah dengan dia sebagai
seorang beriman.
Tapi seandainya dia tidak mau ucapkan,
dia tidak mengucapkan asyhadu alla
ilahadu muhammadar rasulullah, maka dia
beriman di sisi Allah. Tapi kita
bermuamalah dengan dia sebagai orang
kafir, tetapi imannya sah.
Maka disebut dengan syartul iman. Yaitu
kenapa disebut syarat? Karena dia keluar
daripada mahiyah.
Bukan bagian dari iman.
Bukan bagian dari iman. Karena iman
hanyalah tasdik.
Karena iman
hanya amal hati. Hanya apa? Tas tasdik.
Sementara lisan bukan mengir iman.
Tetapi adalah tetapi
syarat
untuk dimuamalahi sebagai seorang
mukmin.
muamalahi
sebagai seorang mukmin. Nah, dari mana
kita tahu dia orang beriman kalau tidak
berucap?
Biar kalau orang bisu ya cerita ya dia
bisa tulis. Tapi kalau orang bisa
ngomong tidak bilang asyhadu muhammadar
rasulullah dari mana kita telah beriman?
Ya sudah kita sikap kalau dia mati
dikuburkan di kuburan orang kafir kita
tidak salatkan tetapi dia di sisi Allah
beriman berdasarkan definisi iman un
makanya mereka khilaf. Heroklius beriman
atau tidak? Ibnu Hajar sebutin dalam
Fathul Bari Heroklius tidak kalau kita
tidak beriman tapi dia membenarkan Nabi
atau tidak membenarkan tapi dia tidak
mengucapkan syahadatain. Bahkan ketika
dia berdiskui sama Abu Sufyan dia
mengatakan saya sudah saya sudah
menunggu-nunggu nabi tersebut dan saya
tidak duga kalau muncul dari kalian dari
bangsa Arab. Saya pikir dari bangsa Bani
Israil. Kalau dia datang saya akan cuci
kedua kakinya. Saya akan tunduk
kepadanya. Dia menyebutkan tentang
itulah nabi yang kami tunggu-tunggu. Dia
ngakui, tapi buktinya dia tidak berani
mengucapkan syahadatain. E kenapa?
Karena rakyatnya tidak mau. Rakyatnya
tidak tidak mau. Bahkan dia memerangi
kaum muslimin dalam peperangan. Makanya
ketika perang Tabuk Rasulullah serang
dia enggak mau datang. Dia takut lawan
Nabi. Dia enggak datang. Tidak jadi
perang perang Tabuk. Tapi perang yang
lain setelah dia setelah Rasulullah
meninggal dia perang. Dia berperang.
Berperang.
Ini saja ada khilaf. Kalau ahlusunah
kalau tidak tidak beriman dia tidak
pernah syahadatain ya. Dia kafir di
dunia dan kafir di sisi Allah Subhanahu
wa taala. Karena syarat iman harus tiga.
Hati, perkataan, maupun perbuatan. Dia
enggak pernah salat, enggak pernah
puasa, enggak pernah melakukan
syiar-syiar Islam. Gak ada sama sekali
tidak pernah syahadatin. Gimana kita
katakan orang beriman? Apa bedanya
dengan Abu Thalib? Abu Thalib di neraka.
Bukan di neraka. Tetapi kalau kita
mengikut definisi Asyairah bahwasanya
iman hanyalah tasdq. Meskipun tidak
syahadatain, dia beriman di sisi Allah.
Kalau beriman di sisi Allah berarti bisa
masuk surga. Benar atau tidak?
Kayak gitu. Yang kedua ini murjiatul
fuqaha satrul iman. Syat maksudnya
bagian bagian dari iman ini seperti
seperti murjiatul fuqaha.
Foha bahwasanya kalau tidak syahadatain
kafir. Kalau tidak
kalau tidak syahadatain
maka
kafir
di sisi Allah
dan juga di sisi kaum muslimin.
Kalau ini tadi apa? kafir
di sisi sisi manu sisi muslimin
beriman di sisi Allah
bab ini demikian definisi ee syair
paham?
Sekarang kita mau bahas ini berapa menit
lagi? 3 menit.
Sekarang
di antara yang menakjubkan sebagian
ulama-ulama di Mesir dari
Al-Azhar ya tentu dibantah juga oleh
ul-ulama Azhar yang lain. Tapi ada
sebagian ulama profesor Al-Azhar namanya
kalau tidak salah doktor nanti antum
lihat di YouTube ada dr. Yasri Jabr dia
mengatakan Firaun mungkin masuk surga.
Firaun mungkin masuk apa? Sur surga. Ya,
satu lagi saya lupa tadi namanya Dr.
Ahmad Karimah atau siapa dia apa ya?
Ahmad Karimah dia mengatakan bagaimana
Firaun? Wallahuam wala takfu ma laisa
laka bihi ilm. Wallahuam di surga atau
di neraka? Firaun masih di ragu. Di
surga apa di neraka? Firaun aja masih
ragu apalagi Abu Jahal. Abu Jahal jadi
gelar Firaun umat ini. Firaun aja masih
ragu, apalagi Abu Abu Jahal. Baik. Kalau
dalam akidah ahlusunah enggak mungkin
kita bilang dia beriman.
Karena dia tidak pernah syahadatain
dan dia tidak pernah melaksanakan apa?
Dia tidak pernah kecuali di akhir
hayatnya dia mengatakan amantu annahu la
ilahailladzi amanat bihi bani israil dan
itu terlambat. Makanya Allah cela dia.
Dia tidak pernah tunduk selama itu
berdakwah di kepada dakwah Nabi Musa
alaihi salam. Dia tidak pernah tunduk.
Ti azan aja dulu.
Tayib. Kita bicara tentang iman Firaun.
Khilaf.
Iman Firaun tentunya tidak ada khilaf
ya. Ahlusunah semuanya mengakui
bahwasanya iman Firaun ya.
Kalau iman Firaun jadi dikhilafkan
apagilah yang yang lainnya. Menurut
ahlusunah
tentunya bukan ahlusunah saja, hampir
seluruh umat Islam. Umat Islam tidak ada
keraguan
bahwasanya ka kafir. Bahkan adalah imam
dari kekufuran. ya, imam dari
orang-orang kekufuran ya. Seperti saya
bacakan dalam
surah Al-Qasas ya.
Allah berfirman contohnya dalam surat
Alqas 40. Faaknaahu wa junudahum
yammi kaifaqibatimin.
Kata Allah, "Maka kami pun menghukum
Firaun dan juga pasukannya. Kami
tenggelamkan dalam laut. Fanzur,
lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang
zalim. Allah mensifati Firaun dan
pengikutnya dengan orang-orang apa?
Zalim itu mati dalam kondisi zalim. Mati
dalam kondisi apa? Zalim. Kemudian juga
Allah berfirman, "Waalnahum aimmatan
yaduna ilanar." Kami jadikan mereka
imam-imam yang menyeru kepada neraka
jahanam. Waumalqiamati la yunsarun. Dan
pada hari kiamat mereka tidak ditolong
sama sekali. Firaun dan para pengikutnya
tidak ditolong. Artinya kekal dalam
neraka jahanam.
Allah juga mengatakan
laknah kami ikutkan sertakanlah laknat
kepada mereka di dunia
minal maqbuhin dan pada hari kiamat
mereka dijauhkan rahmat Allah subhanahu
wa taala. Dalam surat Hud juga Allah
mengatakan, "W amru firuna birasyid
yaqdumahu yaumalqiamati faahumunar."
Perkara Firaun tidaklah lurus, maka dia
di hari kiamat di neraka bagian depan
giring kaumnya menuju neraka jahanam.
Kira-kira yang menggiring masuk di luar
atau masuk belakangan?
Masuk di luaran, masuk neraka jahanam.
Tidak ada orang yang paling bejat di
alam semesta seperti apa? Firaun. Allah
sebutkan dalam Al-Qur'an banyak sekali.
Mungkin orang kafir yang paling banyak
disebutkan siapa? Firaun yang paling
bejat. Firaun. Firaun. Firaun. Firaun.
Firaun.
Tayib. Adapun murjiah ada khilaf. Adapun
ahlul bidah ya. Ya. Timbul khilaf ya.
Khilaf.
Ada yang mengatakan
Firaun di surga.
Ini adalah pendapat dari siapa? Ibnu
Arabi ya. Muhyiddin Ibnu Arabi yang
terkenal, sufi terkenal yang punya fusul
hikam. Dalam kitab Fusul Hikam
dia mengatakan Firaun di surga. Firaun
di di surga. Kenapa dia beriman kepada
Nabi Musa? Ya dalilnya apa? Allah
mengatakan waqitu alika mahabbatan
minni. Kami berikan rasa cinta kepada
engkau wahai Musa. Sehingga Firaun kalau
lihat Musa, Firaun selalu sayang sama
Musa. Ya quratu aini walak. Kata
istrinya, "Inilah kebahagiaanku dan
kebahagiaanmu wahai Firaun." Jadi Firaun
sayang sama Nabi Musa. Sampai ketika
gaduh-gaduh di Mesir dia mengatakan,
"Daruni aqtul Musa waladuabbah." Ayo
dorong saya untuk bunuh Musa. Karena dia
tidak mau pengin bunuh Musa. Dia pengin
bilang, "Ayo dorong saya, motivasi
saya." Ini semua omong kosong. Ya. Ya.
Jadi dia memang pengibur Nabi Musa ya.
Jadi ee makanya dia mengejar Nabi Musa
dan pengikutnya ya. Jadi dia mereka
mengatakan bahwasanya ee Firaun beriman
dan masuk surga. Dalilnya dalam surat
Yunus, tatkala falam adquul gak, tatkala
Firaun mau tenggelam, dia berkata,
"Amantu annahu la ilahaillalladzi amanat
bihi banu israil wa ana minal muslimin."
Sekarang saya beriman, tidak ada
sembahan yang berhak disembah kecuali
Tuhannya Bani Israil. Lailaha illallah
kemudian tenggelam. Berarti dia terakhir
mati bilang apa? Lailahall. Rasulullah
bersabda, "Manana akhiru kalamih
lailahaillallah dakal jannah. Siapa yang
perkataan terakhir laillallah masuk
surga." Berarti Firaun di surga. Ini
pendapatnya siapa? Ibnu Arabi.
Kalau Firaun aja surga, apalagi yang
lainnya.
Pendapat yang lain ini pendapat seperti
disebut oleh Yasar Jabr. Dia mengatakan
mungkin mungkin Firaun dia ingin
menjamakan dalil. Dalil-dalil dalam
Al-Qur'an banyak. Firaun di neraka.
Mungkin Firaun di neraka.
Di neraka. Setelah itu masuk surga.
Setelah itu masuk surga.
Dia bilang itu yang bilang Firaun di
neraka. lagi wahabi kata dia wahabi
neraka padahal bukan wahab selurus
seluruh ahli tafsir mengatakan mau
berbagai macam mau muktazilah mau
asyairah semuanya mengatakan Al-Qur'an
apa Firaun di apa di neraka maka Firaun
masuk neraka tapi kemudian masuk surga
satu lagi dokter mengatakan Ahmad Karim
kata dia wallahuam
apakah dia di surga neraka kita tidak
mendahului Allah gimana Allah sudah
sebutin di neraka ya kena bilang lagi
wallahu wallahuam ini musykilah
orang-orang orang Mesir. Kenapa? Di
antara sebabnya karena mereka
membanggakan nenek moyang mereka Firaun.
Jadi di mana-mana mereka pasang Firaun,
Firaun, Firaun, Firaun. Sampai sekarang
dibuka museum terbaru, patung Ramses
yang diduga sebagai Firaun dipajang di
situ. Inilah Firaunnya Musa. Di mereka
yakini Firaun Musa. Maka mereka
bangga-bangga nenek moyang kita tanda
peradaban tanda tanda tanda gimana
gimana. Sehingga mereka ingin masukkan
nenek moyang mereka ke surga.
Ini problem masalahnya.
masalah ya.
Sementara iman Firaun ketika akan
meninggal dunia itu tidak diterima.
Tidak diterima oleh Allah subhanahu wa
taala. Bahkan itu Allah mengkabulkan
doanya Nabi Musa.
Ee
seperti
dalam surat Yunus ya. Nabi Musa berdoa
dalam surat Yunus ayat 88. Waq musaana
innakaita firuna wahu zinatanwalan
filtid dunya rbana liasudduilik.
Kata Nabi Musa, "Ya Allah, sesungguhnya
Engkau telah memberikan Firaun dan
pengikutnya perhiasan dan harta di dunia
dan mereka gunakan untuk menghalangi
dari jalanmu ya Allah amwali." Ya Allah
hancurkan harta mereka wasjudih.
Kuncilah hati mereka yutabalim.
Jangan buat mereka beriman kecuali
setelah melihat azab.
itu apa namanya? Ee Musa ingin Firaun
tidak sadar kecuali sampai melihat apa?
Azab. Artinya ketika dia melihat azab
imannya sudah tidak bermanfaat.
Karena iman itu kalau sudah terlihat
azab dan sudah nyawa di kerongkongan
atau muayanah sudah lihat malaikat maut
tidak bermanfaat lagi.
Ya.
Dalam surat Ghafir Allah berfirman,
catat ini dalam surat ee
dalam surat Gfir ayat 84. Kata Allah,
"Falammaau baana qu amanna billahi
wahdah." Tatkala mereka melihat siksaan
kami, mereka beriman. Bukan cuma Firaun
aja. Ini sebelumnya sudah ada
orang-orang sebelum Firaun ya. Q amanna
billahi wahdah.
Kami beriman kepada Allah semata. W
kafarna bima kunna bihi musyrikin. Dan
kami kufur kepada sekutu-sekutu yang
kami syirikkan kepada Allah. Falam yakfa
imanuhum lamu ba'sana. Kata Allah,
"Tidak bermanfaat iman mereka tatkala
melihat siksaan kami." Sudah tidak
manfaat. Sudah tidak manfaat. Dan Firaun
baru beriman setelah melihat azab dia
mau tenggelam. Demikian juga dalam ayat
yang lain kata Allah, "Waitisati
taubatu." Sebentar saya jadikan aja.
Kata Allah Subhanahu wa taala dalam
surat Annisa dari ayat eh 17 18 kata
Allah inallah
faikullah.
Sesungguhnya tobat itu Allah terima bagi
orang yang melakukan kemaksiatan
kemudian bertobat sebelum meninggal
dunia. Maka mereka yang Allah terima
tobatnya dan Allah maha berilmu, maha
maha bijak. Kemudian kata Allah,
waisbatilladina
yaalunat. Dan Allah tidak menerima tobat
dari orang-orang yang melakukan
dosa-dosa. Hatta had ahadahumul maut.
Ketika datang kematian mereka berkata
qala ininiutulan sekarang saya bertobat.
Ini diterima atau tidak? Tidak.
Walladzina yamutuna wahum kuffar.
Demikian juga yang mati kafir tidak
diterima. Jadi Allah bagi dua. Ada yang
mati kafir tidak sempat bertobat. Ada
yang bertobat ketika nyawa sudah di
kerongkongan atau sudah melihat malaikat
maut tidak diterima.
Makanya Nabi sallam mengatakan,
"Innallahaqbalat
abdi malam yugir." Allah menerima tobat
seorang hamba sebelum nyawanya
dikorongan. Amantu aman tu percuma.
Makanya Firaun bertobat ketika sudah
melihat azab malaikat maut.
Maka Allah mengatakan, dia mengatakan,
"Amantu annahu la ilaha illalladzi
amanat bihi baniu israil." Aku beriman
dengan Tuhan yang diimani oleh Bani
Israil. Kata Allah, alana sekarang baru
kau bertobat waqblu.
Sementara kau bermaksiat sebelumnya.
Waunta minal mufsidin. Percuma kata
Allah subhanahu wa taala. Makanya Allah
cela sekarang baru bertobat tidak ada
manfaatnya. Dalam hadis yang hasan
Jibril mengatakan, "Wahai Rasulullah,
tidak kau lihat seandainya waktu Firaun
mau mengucapkan iman, saya ambil lumpur
saya masukkan ke dalam mulutnya biar
tidak banyak qat kamit. Istigfar,
istigfar. Enggak ada sifar-sifmu.
Ee Jibril tidak pengin Allah ampuni dia.
Jadi Firaun mati kafir. Nah, kalau kita
dalam definisi imam menurut ahlusunah,
dia enggak mungkin beriman karena dia
tidak pernah bersaksi lailahaillallah
dan dia tidak beramal selama selama itu
tidak ada. Tapi kalau definisi murjiah,
terutama murjiah gulat mungkin beriman
karena Firaun ada pengakuan.
Allah mengatakan wajahadu biha was
anfusum. Mereka ngeyel kepada Musa
kepada mukjizat-mukjizat Nabi Musa. Was
padahal hati mereka meyakini. Jadi ada
keyakinan Firaun membenarkan. Dia
membenarkan Musa dan Allah Musa berkata,
"Laq alimta sungguh kau telah tahu tidak
ada yang menurunkan ini kecuali pencipta
langit dan bumi." Maka dalam definisi
murjiah, terutama murjiah yang gulat,
Firaun masih mungkin beriman ya. Dan
kalau beriman maka mungkin masuk sur
surga tentunya. Ini kalau dalam definisi
ahlusunah enggak enggak mungkin.
Wallahuam bisawab. Ee demikian saja
ee insyaallah kita lanjutkan dua pekan
lagi.
Ee wabillahi taufik hidayah.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.