Transcript
r9EeqkeDcPU • Kitab Ath-Thahawiyah #43: Merasa Aman Dari Makar Allah, Putus Asa Dari Rahmat Allah
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2620_r9EeqkeDcPU.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullah.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu
ala taufqihin ashadu alla ilahaillallah
wahdahu la syarika lahu takiman lya wa
asyhadu anna muhammadan abduhu wa
rasuluh ila ridwan. Allahumma sholli
alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa
ikhwani. Kita lanjutkan
ee kali ini kajian kita judulnya tentang
ee bahayanya merasa aman dari makar
Allah. Bahayanya merasa aman dari mak
Allah. Dari makar Allah. Al Imam Thahai
berkata, "Wal amnu
walasu yangani millatil Islam wasabilul
haqqi bainahuma
eh liahli sunah." Kata beliau, merasa
aman, merasa aman dari makar Allah
dan putus asa dari rahmat Allah.
Mengeluarkan seorang dari agama Islam
itu bahwasanya merasa aman dari makar
Allah dan putus asa rahmat Allah bisa
mengeluarkan orang dari Islam itu bisa
menjadi kekufuran.
itu bisa menjadi kekufuran ya bisa jadi
kufur
sehingga mengeluarkan dari agama Islam.
Kemudian wasabilu alaq dan jalan
kebenaran bainahuma adalah di antara
keduanya yaitu tidak putus asa dan juga
tidak merasa aman tapi menggabungkan
antara takut dan berharap. Takut dan
berharap li ahli sunah adalah bagi
ahlusunah wal jamaah.
Dan ini sesuai dengan perkataan thahawi
sebelumnya. Sebelumnya kita sudah bahas
pada pertemuan yang sebelumnya di mana
atahawi berkatail muhsin minalinum dan
seterusnya w alaihim. Kami berharap
kepada orang-orang yang saleh dari kaum
mukminin agar Allah mengampuni mereka.
Kemudian beliau berkata, "Wa na
alaihim." Dan kami tidak merasa aman
dari mereka karena tidak ada yang bisa
memastikan surga. Tetap saja meskipun
saleh kita tidak merasa aman dia pasti
masuk surga. kecuali yang setelah
dipastikan oleh syariat. Kemudian adapun
bagi pendosa wasastagfiru limusiihim
waakfu alaihim w nuqnituhum. Dan kita
mohon ampun bagi para pendosa dan kita
khawatir mereka masuk neraka akan tapi
kita tidak membuat mereka putus a putus
asa. Ya. Jadi kita tidak menjadikan
orang pelaku kebaikan merasa aman pasti
masuk surga. Sebaliknya kita juga tidak
menjadikan pelaku maksiat berputus asa.
Karena dua-duanya adalah dosa. Oleh
karena setelah membahas ini kemudian
beliau mengingatkan yang kita bahas
sekarang bahwasanya di antara dosa besar
adalah merasa aman dari ee makar Allah,
dari hukuman Allah dan merasa putus asa
dari kasih sayang Allah dan pertolongan
Allah. Ini di antara dua dosa besar.
Oleh karena yang benar adalah kita
berada di antara keduanya
antara khauf dan raja, antara takut dan
berharap. Yang wajib adalah
menggabungkan antara raja, berharap dan
khauf yaitu takut kepada Allah subhanahu
wa taala.
Dan alkhauf yang mahmud, takut yang
terpuji
yaitu yang menghalangi seseorang dari
perkara-perkara haram. Ini disebutkan
oleh Aliz ee bin Abd ee e Ibnu Abil Is
Al Hanafi. Ibnu Abil Is al-Hanafi dalam
syarah Thahawiyah beliau berkata,
"Alkhaufl mahud takut yang terpuji yaitu
yang menghalangi seorang dari
perkara-perkara haram. Namun jika
berlibihan berlebihan dikhawatirkan
jatuh pada al-qunut putus asa. Kalau
takutnya berlebihan
sehingga akhirnya melampaui batas
akhirnya menghilangkan raja. Kalau sudah
menghilangkan raja, tidak ada harapan
sama sekali, maka jatuh pada putus putus
asa. Jadi khaufnya juga enggak boleh
berlebihan sehingga membuat terjerumus
dalam putus asa. Dan Raja Almahmud
berharap yang terpuji.
Yaitu ada beberapa bentuk di antaranya
seorang yang melakukan melakukan
ketaatan berharap berharap pahalanya
diterima oleh Allah. Berharap pahala
diterima oleh Allah. Yang kedua, jika
dia berdosa lalu bertobat berharap
ampunannya. Kalau dia beramal saleh
berharap pahala dari Allah. Kalau dia
berdosa, dia bertobat, dia berharap
ampunan dari Allah. Dan kalau terkena
musibah dan dia berharap ada jalan
keluar, ada jalan keluar. Ini tiga
harapan. Nanti insyaallah kita bahas
pada pertemuan berikutnya tentang
arraja. Adapun bermaksiat tanpa amal
lalu berharap, maka ini adalah raja
alkadib. itu ee
berharap dusta, berharap yang dusta,
kadib atau temani hanya angan-angan atau
gurur, tertipu ya. Tertipu,
terpedaya terus apa? Angan-angan
kemudian harapan dusta. Harapan dusta.
Dia beramal tidak beramal saleh,
maksiat-maksiat aja. Terus dia berharap
masuk surga, berharap diampuni tanpa
beramal. Ini namanya harapan yang dusta.
Tayib. Jadi seorang mukmin berada di
antara khauf dan raja.
Kita lanjutkan. Adapun dalil-dalil akan
hal ini, ini sudah belum.
Adapun dalil-dalil, dalil-dalil
penggabungan keduanya antara raj dan
khauf. Ya, pertama dalil-dalil yang
memuji orang yang menggabungkan
keduanya, yaitu Allah memuji para
salihin yang mereka dalam ibadah mereka
menggabungkan antara berharap dan takut.
Ya, kalau dia ada dia betap pun besarnya
rasa takut kalau ada harapan tidak akan
putus asa. Paham? Orang ber takut kepada
Allah sebesar apapun takut tapi kalau
masih ada harapan maka dia tidak akan
putus asa. Betapapun dia berharap kepada
Allah kasih sayang Allah tapi dia masih
ada takut dia tidak akan merasa aman
dari tidak akan merasa aman dari ee
hukuman Allah Subhanahu wa taala. Oleh
karenanya ibadah yang benar adalah
ibadah menggabungkan keduanya antara
khauf dan raja. Di antaranya Allah
subhanahu wa taala memuji orang-orang
yang menggabungkan keduanya. Yang
pertama dalam surat azzumar ayat 9 Allah
berfirman, "Amman hua qonitun anaili
sajida waqimahul akirarjahmabbih."
Ataukah orang yang di malam hari
kemudian berdiri salat sajidan waqiman.
Apakah orang yang di malam hari taat
beribadah di tengah malam dalam kondisi
sajidan sujud qoiman dalam kondisi
berdiri? Itu sedang salat malam.
Bagaimana sifatnya? Yahdarul akhirat.
Dia takut sama hari akhirat. Takut.
Wararju rahmatabbi dan dia berharap
rahmat Allah Subhanahu wa taala. Jadi
dalam salat malamnya dia menggabungkan
keduanya. Allah berfirman, "Qul
yastawilladzina y'lamuna walladzina la
yalamun." Katakan apakah sama orang
berilmu tidak dengan orang tidak
berilmu? Ini syarat bahwasanya orang
berilmu harusnya beramal saleh. Di
antara amal saleh orang berilmu adalah
dia salat malam. Dan salat malamnya dia
menggabungkan antara takut dan ber
berharap.
ak
dia berharap akhirat dan takut kepada ee
takut kepada akhirat dan berharap rahmat
Allah. Ini Allah memuji
ini dalam surat Azzumar. Yang kedua,
Allah memuji orang-orang salat malam.
Kata Allah, junubuhum
surat Asajad ayat 16 kata Allah, "Dan
lambung-lambung mereka jauh dari tempat
tidur." Yaitu mereka bangun malam.
Yadunbahum mereka berdoa kepada Allah
atau yaduna maksudnya mereka beribadah
kepada Allah khaufan waa dengan rasa
takut dan berharap. Tama ya itu tamak
berharap khaufan waa. Jadi mereka berdoa
mereka salat dengan menggabungkan dalam
diri mereka rasa takut dan rasa ber
berharap ya. Rasa takut rasa berharap.
Kemudian juga Allah memuji para nabi
para rasul. Kata Allah innahum kanu
yusariuna fil khairat. Sesungguhnya para
rasul mereka bersegera dalam melakukan
kebajikan
wana khin dan mereka berdoa kepada kami
atau beribadah kepada kami raqaban
waraba. Ragaban maksudnya berharap
ragbah. Rahaban maksudnya takut. Jadi
mereka nabi pun tidak pede saya pasti
gini gak mereka. Bahkan para nabi
orang-orang saleh justru mereka ada rasa
takut dan rasa harap ya.
Ada rasa takut dan rasa harap.
Kemudian juga tentang orang-orang yang
diibadahi oleh kaum musyrikin. Jadi
kesembahan orang musyrikin tu ada yang
menyembah di zaman Nabi orang musyrikin
banyak. Ada Ahlul Kitab, ada yang
menyembah Nabi Isa, ada yang menyembah
Lata, ada yang menyembah Uzza. Ya, di
antaranya ada yang menyembah orang-orang
saleh seperti eh Lata. Lata itu orang
saleh. Kana yalitiq lil hujjaj. Dia dulu
waktu masih hidup suka bagi-bagi makanan
gratis kepada jemaah haji. Tatkala
meninggal dibangunlah berhala kemudian
diibadahi. Allah berfirman, "Ada yang
menyembah malaikat." Orang musyrikin
juga ada yang menyembah malaikat.
Sehingga mereka menamakan malaikat
dengan bannatullah, putri-putri Allah
subhanahu wa taala. Jadi ada yang mereka
sembah orang-orang saleh. Di antara yang
makhluk-makhluk saleh yang mereka sembah
Nabi Isa, Lata, sama para mala malaikat.
Maka Allah berfirman, "Ulaikalladzina
yaduna." Orang-orang yang mereka sembah
itu orang-orang saleh ternyata mereka
juga beribadah kepada Allah. Yabbihim
wasilah. Mereka mencari kedekatan kepada
Allah.
Ayyuhum aqrab. Mana di antara mereka
yang lebih dekat kepada Allah? Itu
menunjukkan mereka bersaing agar mereka
lebih dekat kepada Allah subhanahu wa
taala. Waarjuna rahmatahu. Dan juga
mereka berharap rahmat Allah.
Waakhafuna.
Dan mereka takut kepada azab Allah.
Sungguh azab Rabbmu pantas untuk
ditakuti.
Jadi ternyata yang mereka ibadahi
ternyata juga beribadah kepada Allah.
Kalau gitu ngapain lagi beribadah kepada
mereka? Langsung aja ibadah kepada
siapa? Allah. Karena yang mereka ibadahi
tidak berhak untuk diibadahi karena
mereka sendiri sedang beribadah kepada
Allah dalam kondisi berharap dan takut.
Ini maksud ayat ini. Ini dijadikan dalil
oleh Syekh Abdul Wahab rahimahullah
bahwasanya sembahan orang musyrikin
dahulu ada juga yang hamba-hamba Allah
yang saleh seperti para malaikat Lata,
Isa yang Allah katakan ulaikalladzina
yadun. Orang-orang yang disembah oleh
mereka itu ternyata mereka sendiri
mencari kedekatan kepada Allah.
Waarjuna rahmatahu dan mereka berharap
rahmat Allah. Wakhafuna dan mereka takut
dengan azab Allah. Di sini digabungkan
antara berharap rahmat Allah dan takut
dengan azab Allah. Ini orang-orang
salihin mereka ternyata menggabungkan
antara raja dan khauf. Tib di sini Allah
bawakan mereka, Allah sebutkan sifat
mereka dalam rangka memuji mereka.
Berarti di antara ibadah yang agung
adalah beribadah dengan berharap dan
takut. Berharap dan takut tidak boleh
hanya berharap saja. Kalau berharap saja
ya maka akan merasa aman dari makar
Allah. Kalau takut saja maka akan putus
putus asa. Makanya ee
Ibnu Abil Iz Al-Hanafi menyebutkan,
"Siapa yang menyembah Allah dengan hanya
modal berharap saja tanpa ada rasa
takut, maka murjiah."
Siapa yang beribadah kepada Allah hanya
takut saja tanpa ada rasa berharap,
haruri yaitu khawarij. Dan siapa yang
mengaku beribadah karena cinta saja
tanpa rajak dan tanpa khauf zindiq. Ini
dinukil oleh Ibnu Ablis Alhani dalam
syarahnya. T dalil pertama. Dalil kedua,
dalil yang memerintahkan kita untuk
menggabungkan keduanya. Allah berfirman,
waduhu khaufan waa inna rahmatallahi
qorib minal muhsin. Dalam surat Ala'raf
ayat 56 kata Allah, "Beribadahlah kepada
Allah atau berdoalah kepada Allah."
Karena kalau disebut waduuhu doa bisa
maknanya doa berdoa, doaul masalah bisa
maknanya doa ibadah yaitu beribadah.
Beribadah juga disebut dengan doa. Jadi
kalau kita artikan waduhu khaufan waah
bisa jadi maknanya mintalah kepada Allah
dengan rasa takut dan berharap atau
beribadahlah kepada Allah dengan merasa
takut dan ber berharap. Di sini Allah
perintahkan ketika kita beribadah atau
berdoa kepada Allah harus menggabungkan
antara khauf dan raja. Khauf dan raja
ini dalil yang dalil yang menentukkan
untuk menggabungkan keduanya. Kemudian
yang ketiga,
Allah mengabarkan tentang dirinya
bahwasanya dia maha sayang sekaligus
azabnya juga sangat pedih. Sehingga
ketika Allah kabarkan dia maha
penyayang, kita jadi raja. Tapi ketika
Allah kabarkan bahwasanya dia azabnya
pedih membuat kita jadi kawa khawatir,
menjadi takut. Menjadi takut. Allah
berfirman dalam surah Al-Hijr. Nabbi
ibadi anni analofururah rahim. Wahai
Muhammad, kabarkanlah kepada
hamba-hambaku. Nabi yaitu naba artinya
berita penting. Yaitu kabarkanlah kepada
hamba-hambaku dengan berita penting ini.
Apa berita penting tersebut? Anni
analofurur rahim. Sesungguhnya aku ini
adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Kalau kita lihat ini aja maka
kita akan begitu mudah berharap kepada
Allah karena Allah maha pengampun dan
juga lagi maha penyayang. Tetapi wa anna
adzabi hualzabul alim. Tapi ingatlah
azabku adalah azab yang sangat pe pedih.
Maka menimbulkan rasa takut. Sini Allah
ingatkan silakan berharap tapi juga
harus takut kepada Allah.
Ya. Kemudian juga dalam ayat yang lain
surat Al-An'am 147.
Faqul rabbukum du rahmatin wasiah wala
yuradduilmil
mujriminin. Kata Allah, "Katakanlah
rabmu rahmati wasiah. Rabbmu Allah
pemilik rahmat yang luas. Tetapi ingat
wala yuraddu buhu tidak ada yang bisa
menolak hukuman Allah siksaan Allah anil
kaumil mujrimin. Kalau ada orang mujrim
Allah siksa enggak ada yang bisa bela
mereka. Ini menimbulkan rasa raja dan
juga takut. Allah kasih hukuman maka
enggak ada yang bisa menangkasnya atau
gak ada yang bisa menangkisnya, enggak
ada yang bisa membela mereka. Kemudian
ayat yang lain Allah juga kabarkan,
innabaka sariul iqobi wa innahu gofurur
rahim. Sesungguhnya Allah siksaannya
sangat cepat tetapi dia juga maha
pengampun lagi maha penyayang. Ini
menimbulkan rasa takut kepada Allah dan
juga rasa berharap kepada Allah.
Kemudian juga dalam ayat yang lain, inna
rabbakau magfirat linasi ala dulihim wa
innabakaadidul iqab. Sesungguhnya Rabbmu
pemilik ampunan kepada manusia. Meskipun
mereka zalim Allah mudah memaafkan
mereka. Meskipun mereka zalim Allah bisa
ampuni mereka. Tapi ingat wa
innaakaadidulqab.
Tetapi Allah juga siksaannya sangat
keras. Allah siksaannya sangat keras. Ya
Allah menyebutkan tentang nikmat surga.
Fala taam nafsun ma ukium min quti aun.
Kata Allah orang masuk surga tidak tahu
apa yang Allah siapkan baginya di surga.
Kemudian dalam hadis qudsi Allah
mengatakan
aku siapkan bagi penghuni di surga
nikmat yang mereka tidak lihat tidak
pernah mata mereka melihatnya. Wunun
samiat dan tidak ada telinga yang pernah
mendengarnya.
Dan tidak pernah terbitlah mereka. Yaitu
nikmat yang luar biasa. Allah mengatakan
dalam Alquranun
jaun.
Satu jiwa pun tidak ada yang tahu apa
yang Allah siapkan. Nikmat surga yang
buat mereka bahagia karena amal saleh
yang mereka kerjakan. Itu tentang nikmat
surga di luar daripada khayalan.
Ternyata untuk azab neraka juga
demikian.
Fayaumaidin la yuadzibu adzabahu ahad.
Maka pada hari itu tidak ada yang bisa
mengazab seperti azabnya Allah. Wiquu
ahad. Dan tidak ada yang bisa
membelenggu seperti belenggunya Allah.
Jadi sebagaimana nikmat surga
di luar daripada khayalan, di luar
daripada apa namanya yang kita
khayalkan, demikian juga siksaan neraka
juga di luar daripada yang kita
khayalkan. Sama-sama mengerikan. Kalau
kita ingat membaca tentang nikmat surga,
kita timbul harapan. Kalau kita dengar
tentang azab neraka, kita menjadi takut.
Inilah itulah makanya ee apa namanya
menimbulkan dalam diri kita khauf dan
raja.
Tib. Dalil yang keempat tentang larangan
putus asa. Allah larang putus asa. Kalau
orang putus asa berarti harus berharap.
Kalau bilang jangan putus asa berarti
harus ada apa? Harapan. Kata Allah ya ee
qala wam yaqnatu rahmatiun.
Kata Ibrahim, "Siapa yang putus asa dari
rahmat Allah kecuali orang-orang yang
sesat?" "Tidaklah putus asa dari rahmat
Allah kecuali orang yang sesat." Maka
dilarang putus asa. Demikian juga
perkataan Nabi Yakub, "Wa tayasu
miruhillah innahu laasuillahul
kafirun." Janganlah kalian merasa putus
asa dari pertolongan Allah. Sesungguhnya
yang putus asa dari pertolongan Allah
hanyalah orang-orang kafir. Ketika Allah
melarang untuk putus asa, berarti
melazimkan harus berharap. asa. Demikian
juga ada larangan merasa aman dari makar
Allah. Ya, seperti dalam
ahlul qura ayatum bayata wahum naimun.
Apakah penduduk suatu negeri merasa aman
ketika datang azab Allah di malam hari
sementara mereka sedang tidur? Awa ahlul
qurumun.
Apakah penduduk satu negeri merasa aman?
Tiba-tiba datang siksaan Allah di waktu
dhha sementara mereka sedang
bermain-main tanpa mereka duga.
Makallah. Apakah mereka merasa aman dari
makar Allah? Hukuman Allahun.
Tidak ada yang merasa aman dari makar
Allah kecuali orang-orang yang merugi.
Allah juga berfirman,
wahun. Dalam surat Yusuf,
surat Yusuf ayat 107. Lihat juga Quran
12 ayat 107. Kata Allah, "Afaaminu an
tatiahum gasyatu minzabillah." Apakah
mereka merasa aman? Diturunkan ayat
mereka tidak beriman. Terus apakah
mereka merasa aman? Akan datang
tiba-tiba hukuman dari Allah. Ya,
sementara mereka ehumus
atau tiba-tiba hari kiamat baktatan
tiba-tiba wahum la yasy'urun. Dan mereka
dalam kondisi tidak menyadari. Jadi
inilah dalil-dalil ketika Allah melarang
untuk merasa
aman, maka ini melazimkan ada khauf.
Melazimkan ada khauf. Jadi lima model
dalil
yang menjadikan bahwasanya ee
seorang menggabungkan antara rasa raja
dan khauf. Ya,
tadi juga mungkin saya tambahkan yang
nomor 6.
Allah mengabarkan
tentang nikmat surga
yang sempurna.
Namun Allah juga
mengabarkan tentang siksaannya.
Makanya kalau kita lihat biasanya kalau
Allah sudah cerita tentang penghuni
neraka, nanti Allah cerita tentang
penghuni surga. Kalau sudah cerita
tentang surga, Allah biasanya cerita
tentang apa? Neraka. Sehingga seorang
antara takut dan berharap. Antara takut
dan dan berharap. Ya.
Tayib.
Kita lanjutkan ya.
Sekarang kita bahas dosa besar yang
pertama. Alamnu min makrillah. Yaitu
merasa aman dari makar Allah. Ya Allah
berfirman, fala yau makrallah illalul
khirun. Dalam surat Ala'raf tadi, tidak
ada yang merasa aman dari hukuman Allah.
Makrar maksudnya hukuman Allah ya.
Hukuman Allah.
Tidak ada yang merasa aman dari hukuman
Allah kecuali orang-orang yang merugi.
Yang merugi.
Baik. Apa yang dimaksud dengan makar?
Apa yang dimaksud dengan makar? Makar
secara bahasa
ali iqa bil khasm min haitu la yasur.
Itu mencelakakan musuh tanpa ia duga
atau tanpa dia sadari. Itu namanya apa?
Makar. Kita sudah sama-sama ngerti kan
kita bahasa Indonesia disebut apa?
Makar. tipu daya, makar, rencana untuk
memberikan keburukan kepada lawan
namanya makar itu rencana. Kemudian ada
sisi dia tidak sadar, dia tidak sadar
ternyata dia terkena hukuman. Ya. Dan
makar dua model. Pertama, makar yang
tercela. Ya.
Makar ada dua. Pertama, makar yang
tercela. Yang kedua, makar yang terpuji.
Makar yang tercela jika ditempelkan atau
ditimpakan kepada orang yang tidak
berhak. Orang baik-baik kita bikin makar
sama dia. Tentu ini adalah ee
kecurangan, ini adalah pengkhianatan.
Tentu tidak boleh kita memberi makar
kepada orang tidak berhak. Tapi yang
kedua, terpuji jika dikenakan orang yang
berhak. Dia buat makar, kita balas
dengan makar.
Makanya datang dalam banyak ayat Allah
berbuat makar.
Tetapi Allah tidak dinamakan dengan
almakir, maha pembuat makar. Kenapa?
Karena Allah hanya dipuji
sebagai pembuat makar bagi orang yang
buat makar. Yaitu Allah balas makar
mereka. Karena di antara syarat
nama-nama Allah, dia harus terpuji
secara sendiri. Seperti alghfur, maha
pengampun secara umum terpuji, arrahim.
Ya. Tapi kalau al-makir
yang membuat makar tidak terpuji,
dengarnya tidak terpuji. Mak kita bilang
Allah terpuji membuat makar bagi orang
yang membuat makar buruk. Maka Allah
balas dengan makar a yang lebih hebat
dari bermakar makar dia. Seperti juga
Allah tidak diberi nama dengan alfa'al.
Padahal Allah menyebut tentang dirinya
fa'alul lima yurid. Yang maha berbuat
apa yang dia kehendaki. Tapi Allah tidak
namakan alfa'al. Tidak boleh seorang
menamakan anaknya Abdul Fa'al. yaitu zat
yang maha aktif. Kenapa? Karena
aktivitas ada yang baik, ada yang bu
buruk. Maka nama Allah itu di antara
syaratnya selain harus dari Al-Qur'an
dan sunah, yang kedua secara zatnya
memberi makna sempurna. Tidak perlu
dikhususkan dengan kondisi tertentu. Dia
secara zatnya begitu didengar memberikan
makna kesempurnaan. Seperti arrahim maha
penyayang. Selesai. Gfur maha pengampun
ya maha baik. Sudah dengar langsung itu
maknanya terpuji. Tapi kalau maha
berbuat enggak. Karena berbuat ada
berbuat apa dulu ya? Ya, sama Allah
tidak namakan juga almutakallim. Makanya
tidak boleh seorang namakanya Abdul
Mutakallim. Karena almutakallim bukan
nama Allah. Karena berbicara macam-macam
apa isi konten bicara tersebut ya.
Sehingga tidak dinamakan Allah dengan
al-mutakallim. Sama almurid. Allah yang
maha berkehendak. Berkehendak juga ee
sifat Allah iradah tapi Allah tidak
disebut dengan almurid. Karena kehendak
juga macam-macam. Nah, demikian juga di
antara perbuatan Allah. Allah buat
makar. Tetapi Allah tidak disebut dengan
al-makir. Karena makar itu tidak selalu
baik.
Dia hanya baik bagi jika ditimpakan
kepada orang yang juga berbuat ma makar.
Makanya Allah ketika menyebut dirinya
berbuat makar dalam posisi sedang
menghadapi para pembuat ma makar. Paham?
Paham tidak? Jadi gak boleh kita namakan
Allah dengan ma makir karena dia tidak
terpuji secara mutlak. Yang nama Allah
itu yang terpuji secara mutlak. Alghfur,
al-Afu yang maha pengampun, albar yang
maha baik, arrahim yang maha sayang,
alwas yang maha luas, Almajid yang maha
agung. Ya itu itu secara umum secara
mutlak dia terpuji. Tapi kalau al-fa'al
yang maha berbuat ya berbuat apa dulu?
Almutakallim maha berbicara, berbicaraan
macam-macam ya. Almurid yang berkenal
almakir pembuat makar ya. Ini enggak
bisa. Dia hanya terpuji ketika membuat
makar kepada yang berbuat makar. Coba
kita lihat ayat-ayat Allah. Di sini
Allah memuji dirinya seperti firman
Allah yang pertama. Wakaru wa makarallah
wallahu khairul makirin.
Surah Al Imran ayat 54.
Kenapa Allah turunkan ayat ini? Wakar
makarullahirul makirin. Mereka berbuat
makar dan Allah juga bikin makar dan
Allah sebaik-baik berbuat makar. Itu
makar Allah lebih daripada mereka. Ya,
ini Allah cerita tentang orang-orang
Yahudi yang kerja sama dengan Romawi
yang ingin bunuh Nabi Isa. Mereka bikin
makar. Ya
Allah mengatakan, "Falam ahasa isa
minhumulf qallah." Tatkala Isa, Nabi Isa
mengetahui keingkaran Bani Israil yaitu
orang Yahudi, maka dia berkata, "Man
ansariallah." yaitu mereka kufur
menantang. Kata Nabi Isa, "Siapa yang
ingin menolongku?" Qwarullah.
Kata Hawariun, "Kami penolong Allah,
penolong Allah untuk menolong engkau."
Ya. Kemudian ternyata mereka bikin
makar, mereka
kerja sama Romawi dengan Yahudi. Mereka
laporkan di mana Nabi Isa alaihi salam
kemudian datangi. Mereka pengin tangkap,
mereka pengin bunuh. Ternyata Allah
bikin makar. Kata Allah, wqtalu wabuhu.
Mereka tidak pernah membunuh Isa dan
mereka tidak pernah menyalibnya.
Walakinbihahum. Tetapi ada orang
diserupakan dengan Nabi Isa.
Barfaahullahu ilaih. Bahkan Allah angkat
Nabi Isa. Kata Allah, wqtuhu yakina.
Mereka tidak membunuh Nabi Isa dengan
yakin. Mereka bikin makar, Allah makarin
mereka sehingga yang mereka tangkap
bukan Nabi Isa orang lain. Dan itu di
akhirat nanti mereka di dibalas oleh
Allah Subhanahu wa taala. Jadi di sini
kita lihat bagaimana makar dibalas
dengan apa? Makar. Ketika membalas
dengan yang lebih hebat maka situ Allah
terpuji.
Seperti juga wayamkuruna dalam surat
al-Anfal wayamkurun yamkurullah wallahu
khairul makirin. Mereka buat makar dan
Allah juga bikin makar. Allah
sebaik-baik pembuat makar. Ini kisah
tentang
orang-orang orang-orang Quraisy yang
ingin nabi Nabi Muhammad sallallahu
alaihi wasallam. Waamu bikalladina
kafaru
liyukrijukaituka
yaqtuluka yukrijuk.
Untuk mereka rapat dipimpin oleh Abu
Jahal mimpin rapat orang-orang Quraisy.
Kemudian mereka
bikin makar. Apa yang harus mereka
lakukan pada Muhammad? Ada yang kasih
ide di penjara dibelenggu. Ada yang
mengatakan dibunuh.
Ada yang mengatakan diusir ya kata Allah
wayamun mereka bikin makaramkurullah.
Allah juga bikin makar sama mereka.
Wallah khairul makirin dan Allah
sebaik-baik bikin makar. Akhirnya mereka
bulat keputusan harus di ada perwakilan
dari berbagai macam suku Quraisy untuk
menikah Muhammad sekali tikaman. Kalau
satu orang bunuh nanti perang perang
suku berjalan terus di antara Quraisy.
Ada Quraisy ada Bani Hasyim ada berbagai
ee Bani Makhzum. Banyak kabilah-kabilah
kecil. Kalau Bani Makhzum aja yang
bunuh, akan timbul peperangan saudara
antara Bani Hasyim dengan Bani Makhzum.
Dan kalau Muhammad terbunuh, bukan cuma
orang muslim yang marah. Keluarga
Muhammad Bani Hasyim yang kafir pun akan
marah. Akhirnya mereka punya ide, jangan
satu kabilah yang bunuh. Seluruh kabilah
datangkan perwakilan kemudian tikam
ramai-ramai. Tikam siapa? Rasulullah
ramai-ramai. Itu makar mereka. Ternyata
Allah selamatkan Nabi Muhammad
sallallahu alaihi wasallam. Ini kisahnya
panjang dalam kisah hijrah Nabi Muhammad
sallallahu alaihi wasallam. Mereka bikin
makar, tapi Allah juga bikin makar dan
makar Allah lebih baik.
Kemudian juga kata Allah wakaru makran
warna makron wahum la yasyurun. Ini
kisah tentang Nabi Saleh.
Madin tisu rahtin
eh yufsidun fil ardhi wuslihunqamu
billahitannahu
wa ahlahu tumaqulanna liwalihi ma
syahidna. Ee kata kata mereka gini aja,
kita bunuh saleh, kita bunuh saleh
caranya gimana? Ada seilan orang mereka
sepakat kumpul ayo kita bersumpah dengan
nama Allah. Kita bikin rencana datang
malam-malam kalau saleh lagi salat Isya,
kita bunuh dia. Terus kita bunuh
keluarganya terus kita besok kita
pura-pura enggak tahu. Ma syahidna ahli.
Kami kita tidak menyaksikan bagaimana
Saleh mati. Kami tidak tahu rencana
mereka pengin bunuh Nabi Saleh
diam-diam. Ternyata Allah mengatakan
wakaru makran. Mereka bikin makar.
Waakarna makran. Kami juga punya makar.
Wahum la yasyun. Mereka tidak. Akhirnya
mereka lagi kumpul di goa. Tahu-tahu
datang batu menutup mereka. Mereka mati
dulu sebelum kaum Nabi Saleh yang yang
lain.
Tayib.
Jadi secara umum ini semua makar.
Perbuatan maksiat
ada juga yang Allah sebut dengan makar.
Contoh Allah berfirman,
"Walladina yamkurunati lahumabunadid
wruika hua yabur." Ya. Dan orang-orang
yang berbuat makar dosa-dosa bagi mereka
azab yang pedih
dan makar ee dan makar mereka akan
sirna. Ya. Kata Mujahid dan Said bin
Zubair dan salaf yang lain, "Siapa yang
Allah sebut pembuat makar ini?
Perhatikan agar kita hati-hati jangan
sampai kita terjerummus dalam makar."
Kemudian Allah berbuat makar sama kita.
Kata jadi makar bukan cuma yang
dilakukan oleh kaum Yahudi, bukan
dilakukan juga oleh ee kaum Quraisy,
bukan juga kaumnya Nabi Saleh. Enggak.
Ini tadi Allah sebut semua makar karena
jelas sekali nampak makar ingin bunuh
Nabi. Makar ingin bunuh Nabi. Ternyata
di antara tafsiran makar walladinaat
kata Mujid said bin Jubair, "Humul murun
bialihim yakni yamkuruna binas
yuhimunaahum fiatillah." Mereka adalah
orang-orang yang riak dengan amal
mereka. Yaitu mereka berbuat makar
kepada manusia. Mereka mengesankan,
mereka taat kepada Allah. Ternyata
mereka ria. Jadi orang ria menurut
mujahid dan sebagian salaf adalah
pembuat makar. Pembuat makar.
Dan orang yang riak ini akan dibalas
makarnya di dunia sebelum di akhirat.
Ya, makanya di antara kenapa sebab orang
mati suul khatimah
dalam hadis kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, "Inna ahadakum l yaalu biamali
ahlil jannah fima yabdulinas wahua min
ahlinar." Sungguh salah seorang dari
kalian melakukan amal saleh menurut
pandangan manusia ternyata dia penghuni
neraka. Ya, itu ternyata hatinya enggak
beres. Jadi kelihatannya melakukan amal
saleh, ternyata hatinya enggak beres.
Jadi, dia bikin makar nipu manusia
seakan-akan dia orang saleh tapi Allah
tahu isi hatinya sehingga akhirnya dia
di ujungnya suul khatimah. Kalau enggak
dia, kalau kelihatannya juga tidak suul
khatimah di akhirat nanti Allah bikin
makar sama dia. Kata Rasul sahu alaihi
wasallam, "Man samma samallahu bih waman
yurillahu bih." Siapa yang ketika di
dunia sumah atau riya, hari kiamat Allah
permalukan. Di antara tafsiran disebut
oleh Ibnu Hajar rahimahullah, yaitu
ketika dia hadir di hari kiamat,
diperlihatkanlah pahala salatnya, pahala
sedekahnya. Dia sudah senang, tahu-tahu
Allah hancurkan semuanya. Karena selama
ini dia menipu manusia, dia mencoba
menipu Allah, maka Allah bongkar dia,
Allah bikin makar bagi dia pada hari
kiamat kel. Ya
kata Allahu kamalifanin
alai kata Allahina amanah.
Kata Allah, "Wahai orang yang beriman,
janganlah kalian batalkan pahala sedekah
kalian dengan alman, mengungkit-ngungkit
wal dan menyakiti hati orang yang kalian
bantu." Maka perumpamaan orang yang
bersedekah tapi mengungkit-ngungkit dan
menyakiti hati orang yang dia bantu
seperti orang yang berinfak ri. Kemudian
kata Allah, "Famatuhu, infak orang ri
itu permusalan seperti apa?" Kamali
shofwanin alaihi. Orang yang bersedekah
beramal saleh karena ri seperti batu
licin di atasnya ada tanah yang subur.
Maksudnya apa? Orang kalau lihat tanah
subur ini kayaknya ini bagus kalau
ditanam-tanaman akan tumbuh. Ternyata
tanah subur tersebut di atas batu tidak
ada nilainya. Tapi menurut pandangan
manusia yang tidak tahu di balik tanah
tersebut ada batu licin dianggap ini
tanah subur. Kata Allah fasobahuilun
farqolda. Tiba-tiba terkena hujan yang
keras hancur hilang semua tanah
tersebut. Tinggal batu yang licin tidak
bisa ditanamin apa-apa. Ibarat pahala
mereka yang banyak tiba-tiba han hancur.
Jadi orang riya itu pembuat makar.
Menipu Allah, menipu menipu manusia. Ya,
sama seperti orang-orang munafik pembuat
makar. Ya. Yukadiunallah.
Innal munafiqina yukadiunallah
wahua kadiuhum. Dan Allah akan menipu
mereka. Bab ini di antara makna makar.
Demikian juga di antara makna makar
adalah istihza dan takzib. Pendustaan
namanya makar. Allah namakan makar.
Seperti Allah berfirman,
rahmatan.
Ketika kami menimpakan manusia dengan
rahmat setelah mereka merasakan
penderitaan.
Tiba-tiba mereka berbuat makr terhadap
ayat kami. Kata sebagian salaf maksudnya
istihza wat takzib. Mereka mengejek ayat
kami. Mereka mendustakan ayat kami.
Qulillahu asrau makro. Ketahuilah
bahwasanya Allah lebih cepat makarnya
itu lebih cepat pembalasannya. Inna
rusulana yaktubuna ma tamkurun.
Sesungguhnya para malaikat mencatat apa
yang kalian lakukan. Jadi ngejek
ayat-ayat juga disebut makar oleh Allah
subhanahu wa taala. Mendustakan
ayat-ayat disebut juga makar oleh Allah
subhanahu wa taala.
Ya,
demikian juga di antara makna makar
adalah menipu orang menyampaikan
membungkusi kesesatan ya dengan
dalil-dalil perkataan yang
dihiasi-ihasi. Kata Ibnu Katsir
seperti firman Allah ya eh waqad makaru
makrahum waallahi makruhum
wainana makruh litazula minul jibal.
Kata Ibnu Katsir, wal muradu bil
makriuna, yang dimaksud dengan makar
yang dilakukan oleh orang musyrikin di
sini adalah duauhum ilalati
bizrufin minal maqal. Yaitu mereka
menyeru kepada kesesatan dengan
menghias-hiasinya
dengan kata-kata yang indah dengan
dalil-dalil dalil apa? dalih-dali ya wal
fi'al dengan perkataan perbuatan
dihiasi-hiasi. Kama qala taala ikhbaron
anumi Nuh. Sebagaimana Allah mengabarkan
tentang kaum Nabi Nuh. Kata Allah,
"Wamaru makran kubbar." Kaum Nabi Nuh
bikin makar yang besar. Jadi, di antara
makar kata Allah maksudnya adalah orang
menghiasi kesesatan dengan perkataan
yang batil. Dihias-hiasi. Dia tahu batil
tapi dihiasi. Ini dia sedang berbuat
makar. Tahu kesesatan tapi dia makanya
ketika bertemu
orang-orang yang lemah dengan
orang-orang yang bos-bos mereka, bos-bos
mereka mengatakan, "Kami gak pernah
halangi kalian." Ananuodanakum.
Apa kami pernah menghalangi kalian? Tapi
kalian memang sendiri yang sesat. Kami
enggak pernah menghalangi kalian.
Orang-orang yang tertipu berkata, "Bal
makrul laili naharurunana."
Tapi kalian setiap hari siang malam
bikin makar kepada kami, menyuruh kami
untuk berbuat syirik. Allah menamakan
dakwahnya para pembesar kepada anak buah
supaya syirik dengan namanya ma makar.
Kenapa? Karena mereka akan menghiasi.
Coba kalau kau syirik akan begini, kau
akan syirik begini, kalau kau nyembah
ini akan begini. Itu namanya makar. Itu
namanya makar. karena menutupi kebatilan
dengan perkataan yang dihiasi.
Secara umum ee inilah makar-makar dan
Allah akan balas makar tersebut di dunia
maupun di di akhirat. Ini adalah makna
makar secara umum ya. Makna makar secara
umum. Siapa yang mengajak kepada
kesesatan berarti dia telah berbuat
makar. Dan kalau Allah kasih makar
kepada mereka maksudnya Allah beri
hukuman di dunia ataupun di akhirat.
Tayib yang kita bahas. Jangan merasa
aman dari makar Allah. Yaitu Allah bisa
kasih kau hukuman tanpa kau sadari.
Allah bisa kasih kau hukuman tanpa kau
sadari akibat maksiat yang kau lakukan.
Akibat maksiat yang kau lakukan.
Tayb.
Sekarang apa hukum merasa aman dari
makar Allah? Hukum rasa am dari makar
Allah bisa kafir bisa juga tidak sampai
kafir. Kafir kapan? Jika disertai dengan
pendustaan terhadap ancaman-ancaman
Allah atau ragu atau merendahkannya. Dia
merasa aman. Apa ancaman Allah? Enggak
ada itu ancaman Allah ya. Ah ragu Allah
cuma ngancam-ngancam doang. Enggak ada
enggak ada buktinya. Ini namanya ragu
dengan ancaman Allah sehingga dia merasa
aman karena dia tidak membenarkan
ancaman Allah. Ketika dia merasa aman,
dia kafir karena dia mendustakan ayat
Allah. Ini contoh pertama.
Yang kedua, merasa aman karena
ketergantungan
hingga syirik. Hingga syirik seperti
merasa aman jika dekat dengan Syekh
Fulan yang bisa menolak hukuman Allah.
Oh, tenang saya dekat sama Syekh fulan.
Syekh fulan kalau saya diazab dia bisa
hadang azab Allah Subhanahu wa taala.
Ini saya sudah ini kalau seperti ini dia
kafir karena syiriknya. Bergantung
kepada
ee bergantung kepada syekh-syekh
tertentu yang dia merasa aman.
bahwasanya dia yakini syekh tersebut
bisa menghadang seperti ada yang
mengatakan tidaklah Allah menurunkan
azab kecuali Allah minta izin sama si
fulan. Ini gimana seperti ini ya
kayaknya enggak masuk akal tapi ada yang
meyakini demikian ya atau kafir jika
tidak ada rasa takut sama sekali pada
Allah. Kalau rasa takut hilang sama
sekali ini kafir juga dia merasa aman
tidak tidak takut sekali sama sekali
sama Allah rajnya hilang. Ini bukan
orang iman.
Kemudian atau merasa aman hingga tidak
beramal sama sekali. Tenang, enggak usah
beramal. Allah maha pengampun. Aman.
Aman. Enggak usah salat masuk surga
aman. ya tidak beramal sama sekali juga
ka kafir. Jadi kalau sudah kondisi satu
dari empat ini maka dia ka kafir ya.
Entah karena mendustakan ayat Allah atau
karena ada keyakinan kesyirikan atau
tidak ada rasa takut sama rasa takut
sama sekali atau tidak beramal sama
sekali maka ini kondisi kafir. Adapun
tidak sampai kafir jika tadi tidak
sampai pada derajat yang pertama yaitu
masih ada rasa takut kepada Allah namun
ini dosa dosa besar. Dia merasa aman
meskipun ada rasa takut tapi dia merasa
aman. ini bisa jadi dosa dosa besar
tapi tidak sampai mengeluarkan dari
agama
tayib. Kita lanjutkan
sebab
sebab-sebab merasa aman dari makar
Allah. Kenapa orang merasa aman dari
makar Allah? Pertama sebabnya banyak.
Pertama terlalu sering maksiat sehingga
hati hati sudah mati.
Karena setiap kita bermaksiat dikasih
titik hitam.
abdunitat
fiqbih nukatun sauda. Setiap maksiat
kasih noda hitam. Kalau noda hitam dia
sudah hatinya dia ada rasa harap tapi ee
dia rasa takut tapi tidak tidak bernilai
dibanding rasa amannya. Sehingga dia
hatinya sudah mati. Sudah mati mau
enggak ada rasa takut dia sudah hati
mati. Dia mau bunuh orang, dia mau
maksiat, dia mau apa, dia tidak, dia
merasa aman. Dia merasa aman.
Ini ngeri kalau sudah gini, dia mau
apapun, dia mau zina, dia mau mencuri,
dia tidak merasa takut sama sekali.
Tidak takut kalau Allah kasih mati dia
saat itu. Dia enggak ada rasa takut sama
sekali karena hatinya sudah mati.
Terlalu sering maksiat bikin hati mati.
Kemudian yang kedua, sering maksiat tapi
tidak juga ditegur oleh Allah. Ini
istidraj. Dia maksiat, mencuri aman,
tidak ada apa-apa. Itu masih saja
sehat-sehat. Dia zina lagi aman, ekonomi
juga masih lancar. Zina kedua tertutup,
enggak ada yang tahu. Zina ketiga
aman-aman saja, tambah duit, tambah
banyak. E tinggi keempat tambah
happy-happy. Tidak ada. Allah kasih
istraj, istidraj. Sehingga ketika dia
diistidraj oleh Allah, dia merasa aman.
Karena terbukti dia bermaksiat
berulang-ulang, tidak ada teguran.
Ini juga bisa bikin orang merasa aman
dari hukuman Allah Subhanahu wa taala.
Ini sering maksiat tapi tidak juga
ditegur oleh Allah.
Yang ketiga, sudah ditegur oleh Allah
tapi begitu natural tegurannya sehingga
tidak merasa sama sekali itu teguran,
tapi hanya suatu yang biasa dan alami.
Suatu biasa dan alami.
Makanya ketika Allah binasakan Firaun,
Allah mengatakan eunajika.
Kata Allah, "Pada hari ini kami
selamatkan jasadmu wahai Firaun supaya
menjadi peringatan bagi orang-orang
setelahmu." Kenapa? Karena banyak
manusia lalai dari ayat-ayat Kami. Itu
Allah sudah kasih banyak teguran, banyak
peringatan gara-gara begini. Jadi, tapi
enggak enggak dianggap. Enggak dianggap.
Maka betapa banyak orang melakukan
maksiat ditegur oleh Allah, dia tidak
merasa ini paling berbahaya karena
sangat natural.
Ya, kita sudah melihatnya kenyataan
seperti ada orang misalnya menjatuhkan
dusta atas nama orang, nanti 20 tahun
kemudian dia dibalas oleh Allah dan dia
tidak merasa, dia tidak bilin gara-gara
dosaku yang dulu. Karena begitu
naturalnya seakan-akan itu maksiat apa?
Musibah biasa aja. Musibah biasa biasa
saja ya. Tapi tidak merasa. Dia pernah
zalim sama orang kemudian Allah balas
mungkin tidak langsung. Kalau balas
mungkin dia rasa dibalasnya mungkin 6
tahun kemudian, 7 tahun kemudian dan dia
tidak sadar. Dia merasa cuma natural
saja. Ya, padahal bagi orang yang lihat
kondisi dia tahu ini sebab dia pernah
lakukan kezaliman 6 tahun lalu, 7 tahun
lalu. Ah, ini membuat orang juga merasa
aman sehingga Allah sudah tegur tapi dia
tidak merasa karena dianggap suatu yang
biasa itu kejadian alami. Bukan karena
maksiat yang saya lakukan. Sehingga dia
tetap merasa aman dari hukuman Allah
Subhanahu wa taala. Azan tib azan dulu
baru kita lanjut.
Tib. Ini tadi di antara sebab merasa
aman tadi. Begitu banyak teguran tapi
sudah tidak indahkan karena terlalu
natural dianggap biasa aja kayaknya
bukan gara-gara dosa dia. Jadi dia
merasa aman. Dia bilas saya ini ya
sebagaimana yang lainnya saya tidak
bukan hukuman sehingga dia merasa aman.
Yang keempat juga bahaya ujub terhadap
amal sendiri ya. Dia merasa mungkin
sudah banyak amal saleh, dia sudah
merasa melakukan banyak amal merasa
aman. Ya. Kita kalau kita lihat para
salihin tidak demikian ya. Ya, seperti
Allah menyebutkan tentang wallina
dan orang-orang yang melakukan ibadah
apa yang mereka lakukan
sementara hati mereka takut bahwasanya
mereka akan dikembalikan kepada Allah.
Oleh karenanya
karena mereka takut mereka cepat dalam
melakukan kebajikan itu setelah mereka
berinfak, salat malam, sedekah, puasa
mereka tidak ujub. Karena sudah ujub
aman. Saya sudah bangun masjid besar
kok, saya sudah ini kok, saya sudah apa
merasa aman. Merasa aman. Saya sudah
haji sekian kali, saya sudah dakwah,
saya sudah. Ketika dia ujub, dia merasa
aman ya. Dia merasa aman ini bahaya.
Atau karena
ujub karena merasa aman dengan nasabnya
ini juga bahaya. Dia mungkin nasab
kepada
seseorang salihin, ya saya keturunan
siapa? Atau saya nasab kepada nabi
misalnya. Sebagian mereka ya tidak semua
tertentu banyak yang saleh di antara
mereka. Tapi sebagian mereka ada yang
berlebihan sampai ada yang mengatakan ee
saya disampaikan ya kalau orang nasabnya
baik ya ibarat nasab emas. Emas kalau
diletakkan di comberan tetap saja jadi
emas. Jadi kau maksiat sebagaimana
banyak pun tetap saja kau emas. Emas
tetap emas. Bayangkan ini kan bahaya
seperti ini. Seperti ada juga yang apa
menyampaikan ya seperti bukankah kalian
tiap salat berdoa buat zurat rasul?
ada
kalian satu dunia doain kita katanya
sebagian mereka ya jadi aman didoain
sama
masa doain sejuta-juta orang miliaran
manusia kemudian eib apakah Nabi
mengajarkan demikian kepada anak-anaknya
kepada cucu-cucunya merasa aman gak gak
jadi kadang-kadang karena merasa
keturunan itu Nabi tidak pernah
mengajarkan Nabi mengatakan man bihi
amalu lam yus bihiasab siapa yang
amalnya lambat Tidak menjadikan
nasabnya, tidak menjadikan dia cepat.
Yaitu yang pertama Allah lihat bukan
nasab. Yang Allah lihat apa? Amal.
Ya. Yang Allah lihat amal. Seorang
merasa aman, nyaman, tenang aja. Ya,
tenang tenang saja. Pokoknya kalau
keturunan ini pasti begini. Ini enggak
enggak boleh seperti itu. Ini buat
merasa aman dari dari makrullah. Ya,
Lagi tadi. Tenang, kalau emas masukin
comberan tetap apa? Tetap emas comberan
[tertawa]
Tayib. Tentu banyak di antara mereka
yang baik, yang saleh ini ada
orang-orang bahlul di antara mereka. Tib
di antaranya misalnya
karena kebodohan hanya melihat pada
nas-nas yang menunjukkan pada raja.
Melihat nas raja pokoknya bertauhid
masuk surga. Wain zana wain sarq
meskipun mencuri berzina masuk surga.
Jadi dia cuma lihat hadis-hadis seperti
ini. Tenang aja pezina kasih minum
anjing masuk surga aman. Tinggal cari
anjing. Kalau enggak ada anjing kasih
kucing. Jadi cuma lihat dal-dal seperti
ini, lupa dalil-dalil yang lain.
Bahwasanya ada orang diazab gara-gara
gibah. Orang diazab gara-gara riba,
diazab gara-gara banyak. Iya. Gara-gara
nyiksa kucing. Banyak dosa-dosa kecil
buat orang di sebab diazab. Tapi kalau
hanya lihat dalil-dalil yang memberikan
harapan sehingga dia merasa aman. Ya,
saya pernah ditanya gitu, "Ustaz, kenapa
waktu berceramah di Makkah saya bahas
tentang masalah ee zina, hukumnya rajam?
Ada yang tanya, "Ustaz, kenapa
nakut-nakutin? Ustaz, ada pezina kasih
minum anjing selamat." Iya, maksudnya
[tertawa]
bukan begitu juga kali. Maksudnya dia
tanya ada dalil pezina kasih minum
anjing selamat sama surga. Kok aduh
bahaya kalau lihat gini mau zina mau apa
yang penting cari anjing. Habis zina
cari anjing.
Ini lihat kalau lihat hadis seperti ini
aja jadi merasa aman. Tib di antaranya
terpedaya dengan janji manis dari
tokoh-tokoh sesat. Tenang kalau ikut
kami pasti masuk surga. Tenang. Nah ini
seperti tokoh-tokoh gitu. Saya perah
dengar ceramah seorang kelompok kita
pasti masuk surga. Dia bilang gitu. Nah
itu kan mengerikan seperti itu. Saya
pernah dengar ceramah seperti itu. Orang
sudah tobat alhamdulillah. Waktu dia
belum tobat dia ngomong gitu. Kalau ikut
kelompok kita pasti masuk surga. Uh,
ngeri kali. Berani dia aja belum teman
surga. Karang dia tobat, alhamdulillah,
subhanallah. Sekarang dia enggak berani
jamin-jamin orang. Atau tenang aja,
kalau masuk kelompok kita pasti masuk
surga. Kelompok lain masuk surga pun
gara-gara kita. Wah, ini ngeri juga
[tertawa] ini. Jadi orang merasa aman
begitu pasti merasa aman.
Atau pokoknya kalau atau ada yang kiai
sesat, tenang saya nanti pasang kemah
neraka. Pokoknya yang masuk kemah saya
enggak jadi masuk neraka. Wih,
masyaallah.
Kemah terbuat dari apa? Udah kebakar
dulu kemahmu.
Ya, jadi ada yang menjamin. Misalnya
tadi,
"Tenang, Kas masuk surga. Kalau saya
masuk surga semua murid saya masuk dulu.
Saya paling terakhir." Ya, orang semua
kan pengin ngaji sama dia. Saya murid
antum, Pak Kiai, Pak Ustaz. Oh, tenang
saya kalau surga semua murid saya masuk
rusur. Saya terakhir. Tenang aja. Wih,
jadi orang kan jadi apa? pengin
sudah memperbudak dirinya pada kiai
tersebut. Kiainya jamin
nanti saya terakhir. Gitu semua sudah
masuk k masuk pintu ditutup enggak bisa.
Subhanallah. Gimana dia jamin? Dia saja
belum tentu masuk surga. Ada orang ada
yang ngomong kayak gitu. Jadi orang ada
yang foto sama dia, tenang foto masuk
surga. Ah seperti jaminan-jaminan
beginilah yang buat orang merasa apa?
Aman. atau mencari rida rida si ustaz
tertentu. Dia mau maksiat, dia mau
jingkrak-jengkra, dia mau nyanyi-nyanyi,
dia mau ini. Yang penting bawa amplop
kasih kiai ke si ustaz. Ustaznya sudah
cium tangan, selesai.
Jadi mana seperti ini? Akhirnya merasa a
aman. Yang penting ada tenang sama si
ini sama si ini. Tenang
ya. Siapa mau dapat syafaat sama saya,
saya kasih syafaat. Masyaallah.
macam-macam sama saya enggak ada
syafaat.
Jadi kalau ada kayak begini repot ya,
repot sehingga merasa aman. Ini terjadi
orang merasa aman dengan janji-janji
seperti ini. Tenang nanti saya bawa kamu
saya gandeng bawa ke surga. Subhanallah.
Engkau saja belum tentu masuk surga.
Gimana gandeng orang bawa ke sur ke
surga? Ya, oleh karenanya hati-hati ada
kayak gini-gini buat orang merasa aman.
Tib.
Sekarang kita bagaimana agar kita tidak
merasa aman dari makar Allah? Banyak hal
membuat kita merenungkan agar kita tidak
merasa aman. Di antaranya belum tentu
amal kita diterima.
Kenapa? Nabi Ibrahim saja berdoa,
"Rabbana taqobbal minna innaka ant
samiul alim
wata alaina."
Lihat Nabi Ibrahim Alaih Salam.
Nabi Ibrahim alaihi salam berdoa,
"Rabbana taqobbal minna innaka." Dia
bangun Ka'bah kemudian dia merasa tidak
merasa aman. Lihat tadi Quran surah 2
ayat 127. Nabi Ibrahim, Nabi Ismail
bangun Ka'bah. Bukan bangun Masjid
Asunah.
Ka'bah masjid paling top sedunia. Ya,
jemaahnya sampai jutaan. Bangun dengan
kerja keras, pergi ke lembah belah batu,
pikul batu. Berat kerjaan.
Itu pun dia masih bilang, "Taqobbal
minna." Nabi Ibrahim aja masih takut
tidak diterima amalnya. Ini orang-orang
PD.
Kalau kita tidak tahu amal kita
diterima, kita jangan merasa aman.
Merasa aman.
Tadi yang sudah sebutkan juga ciri-ciri
penghuni surga dalam surah almukminun.
Ulaika filhairat yaitu surah 23
dari ayat
90 sampai 61. 60 sampai 61 tidak.
Tayib. Kemudian juga kita tidak merasa
aman. Kita khawatir hati kita tidak peka
lagi. Mati karena suka maksiat. Hati
tidak peka.
Kalau sudah sering maksiat hati menjadi
hitam sedikit-sedikit. Tidak peka. Rasa
takut mulai hilang, mulai terbiasa
maksiat. Rasa takut mulai hilang.
Kalaupun kita tidak merasa aman secara
total, tapi rasa takut kita mulai
berkurang sehingga merasa aman lebih
besar karena kita suka maksiat. Kenapa
rasa takut kita berkurang? Ya,
mengurangi rasa takut karena maksiat.
Bab. Kemudian bukankah dalam hadis
banyak contoh-contoh gara-gara satu
maksiat bikin masuk neraka? Banyak.
Seperti e hadis yang banyak sekali
gibah. Rasulullah bertemu dengan orang.
Kenapa orang ini disiksa nyakar-nyakar?
Karena gibah.
Kita sering gibah. Ya,
Imam Ahmad ketika ditanya,
"Bak orang,
apakah kau menganjurkan orang menikah
pada zaman-zaman seperti ini?" Kata Imam
Ahmad,
seandainya seorang punya istri dua agar
menjaga dirinya,
kata Imam Ahmad, jangan sampai dia
melihat pandang yang haram maka akan
menggugurkan amalnya. Imam Ahmad sampai
pandangan haram aja dia khawatir bisa
mengukurkan apa? Amal. Maksud saya
mereka merasa ya karena maksiat itu satu
bisa bikin bahaya ya. Orang gara
gara-gara
menzalimi kucing masuk neraka apalagi
zalimi manusia.
Dikatakan inna fulanah tusolil watasumun
nahar. Si fulanah ibu ini suka salat
malam suka puasa sunah suka bersedekah
tasadaq. Wafi lisani
tapi dia ada lisannya suka ganggu
tetangganya. Kata Rasul fiha tidak ada
hiya finar dia di neraka. Gak ada
kebaikan untuk seperti ini karena suka
ganggu tetangganya. Padahal dia rajin
salat padahal dia apa? Rajin sedekah
rajin pu puasa. Ternyata gara-gara zalim
berentangannya masuk neraka. Maksudnya
ada dalil-dalil menunjukkan satu maksiat
bikin orang masuk neraka membuat kita
takut. Rasulullah mengatakan yamsani ada
seorang berjalan pakai dua jubah dia
ujub dengan jubahnya.
Tiba-tiba Allah benamkan di atas muka
bumi gara-gara dia sombong dengan apa?
bajunya. Ya, bisa orang sombong dengan
bajunya, sombong dengan ee rumahnya,
sombong dengan mobilnya, sombong dengan
mogenya, bisa saja orang kita enggak
tahu. Oleh karenanya kalau satu maksiat
terkadang bisa menjerumuskan orang, maka
orang takut kepada Allah, tidak merasa
aman. Kemudian buat kita tidak merasa
aman, kita enggak tahu bagaimana akhir
hayat kita. Ini gak tahu. Terus merasa
aman.
Kemudian juga satu maksiat bisa merubah
seseorang. Satu maksiat gara-gara kau
tahu ini sudah salah tapi hawa nafsumu
ini bisa berefek pada masa depanku bisa
menjadikan sebab kau bisa berubah total.
Kata Allah, "Kami balikkan hati mereka
dan mata mereka sebagaimana mereka tidak
beriman di awal kali." Dan ini bahaya
sekali.
Ada kebenaran depan mata. Kita tahu itu
benar tapi kita sombong, kita angkuh.
Dan ini sombong paling berbaik sombong
kepada Allah. Makanya ketika Rasul
Sallahu Alaihi Wasallam dijelaskan,
ditanya tentang sombong kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam, "Walakin
alkibr ya batarul haqamtunas." Sombong
itu menolak kebenaran dan merendahkan
manusia. Jadi dua tingkat. Kenapa
Rasulullah menyebutkan menolak kebenaran
lebih dulu? Karena sombong kepada Allah.
Allah sudah ini dia tahu benar tapi dia
nolak sombong. Yang kedua baru sombong
di atas manusia. Mana lebih bahaya?
Sombong atas Allah atau sombong manusia?
K Allah. Dia tahu ini sudah haram tapi
dia menentang. Dia tahu itu haram.
searnya dia enggak tahu. Okelah dengan
ijtihad dia dia mengatakan tapi dia
sudah tahu tapi dia berusaha menakwilah
ini seperti ini bisa membuat efek
akhirnya dia semakin sesat gara-gara
satu masalah gara-gara dia pernah
sombong kepada Allah Subhanahu wa taala
dan kita lihat terjadi sebagian contoh
ketika mulai angkuh mulai menolak dalil
akhirnya terus terus
enggak tahu ujungnya bagaimana oleh
karenanya banyak hal yang buat kita
jangan pernah merasa aman dari ee dari
hukuman Allah. Betapa pun banyak ibadah
kita, betapa banyak puasa sedekah kita
saman. Kita enggak tahu bagaimana nasib
kita, enggak tahu dimit atau tidak, kita
ikhlas atau tidak. Wallahu taala alam
bawab. Bab demikian saja. Wabillahi
taufik hidayah. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.