File TXT tidak ditemukan.
Transcript
f6p6MfcR-Tc • Kitab Adab #19: Prasangkaan Yang Bukan Dosa - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2618_f6p6MfcR-Tc.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi al ihsani wasukr ala
taufiani asadu alla ilahaillallah
wahdahu la syarikalahuim
wa asadu anna muhammadan abduhuasul
ridwumma shli alaihi waa alihi wa
ashabihi wa ikhwani. Para hadirin
hadirat yang dirahmati Allah subhanahu
wa taala. Kita masih dalam Kitabul Adab
dalam rangka untuk perbaiki adab-adab
kita agar lebih baik sehingga kita bisa
berakhlak mulia, berhias dengan akhlak
yang indah dan mensucikan diri dari
akhlak yang buruk. Kita sampai pada bab
ke-58. Bab ya ayyuhalladina amanuibu
minna baasu.
Wahai orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan dari persangkaan.
Sesungguhnya sebagian persangka itah
dosa dan janganlah kalian tajasus yaitu
cari-cari kesalahan. Ya. Ee kemudian al
Imam Albukhari membawakan bab eh
dalilnya. Beliau berkata rahimahullah q
hadana Abdullah bin Yusuf q akbana Malik
Abi Zinadil
an abi huruh anhu rasul wasam ium
had. Waspadalah kalian dari persangkaan.
Sesungguhnya persangkaanahburuk-buruk
dusta. Wala tahasasu wala tajassasu.
Janganlah kalian mencari-cari kesalahan
dengan mendengar, dengar-dengar berita
atau dengan melihat-lihat.
W tanajasu dan jangan saling melakukan
najis. W tahasadu dan jangan saling
hasad. W tabagu dan jangan saling
membenci. W tadabaru, jangan saling
membelakangi. Waunu ibadallahi ikhwana.
Dan jadilah kalian saling bersaudara.
Hamba-hamba Allah yang saling
bersaudara.
Maka ayat ini ee bab ini menjelaskan
tentang kembali penekanan tentang ee
prasangka bahwasanya ee Allah menyuruh
kita menjauhi kebanyakan prasangka
karena sebagian prasangka itu adalah
dosa. Dan kalau sudah berprasangka
jangan diikuti dengan tajassus wala
tajassasu. Karena biasanya tajus itu
dibangun di atas prasangka. Setelah
berprasangka buruk dulu baru kemudian
mencari-cari tahu. Kalau tidak ada
prasangka tentu tidak perlu mencari tahu
biasanya. Oleh karenanya setelah
larangan dari suudon Allah bilang wala
tajassasu. Jangan tajassus yaitu dengan
melihat-lihat cari-cari tahu. Ya. Ee dan
penafsiran ayat ini didukung dengan
hadis Nabi yang dibawakan oleh Imam
Bukhari sallallahu alaihi wasallam
bersabda, "Iyakum wadonna waspadalah
kalian dari persangkaan."
Ya, kenapa?
Karena persangkaan adalah perkataan yang
paling dusta. Sudah kita jelaskan di
antara tafsirnya kenapa dikatakan
berpersangkaan adalah seburuk-buruk
dusta. Bahkan dia lebih lebih buruk
daripada dusta yang sesungguhnya.
Kenapa? Karena ketika orang berdusta dia
tahu dia berdusta. Tetapi ketika dia
berprasangka padahal prasangkanya salah
dia menyangka bahwasanya prasangkanya
benar. Sehingga persangkaan itu lebih
dusta daripada dusta yang ee nyata. Ya,
kalau boleh kita katakan prasangka itu
dusta kuadrat ya, karena dia sudah salah
dan dia menyangka dia benar. Makanya
beda dengan orang yang sengaja berdusta.
Dia tahu dia sedang dusta. Ya, oleh
karenanya dia membenarkan prasangkanya
tersebut padahal tanpa ada dalil, tanpa
ada
qarinah, tanpa ada indikator, setelah
itu dia melanjutkan, dia bertahasus
mencari-cari tahu. Makanya setelah
Rasulullah mengatakan faon akabul hadis,
sesungguhnya prasangkaan adalah eh
pembicaraan yang paling dusta.
Rasulullah mengatakan, "Wala tahasasu
wala tajassasu." Tentu sudah kita bahas
sebelumnya tahasus dengan tajassus. Di
antaranya tahasus adalah mencari-cari
kabar dengan mendengar-dengar berita.
Tajasus dengan melihat dengan melihat ee
melihat-lihat ya dengan kalau zaman
sekarang dengan mengklik mengklik ya
melihat-lihat di internet. Kalau tahasus
ya itu dengan bertanya-tanya.
Setelah itu ee larangan-larangan yang
lain wala tanajasu. Jangan saling
berbuat najas. Najas ee adalah ee
sengaja me apa namanya? menambah harga
padahal tidak ingin membeli hanya untuk
menjerumuskan orang lain. Misalnya
seorang penjual kerja sama dengan
temannya. Kemudian ketika ada pembeli
datang
menawar tentang harga barang jualannya,
maka temannya ini pura-pura, "Oh, ini
barang bagus, cuma saya enggak punya
uang." misalnya ini barang harusnya
lebih mahal daripada ini. Sehingga dia
seakan-akan menambah ee nilai dari
barang tersebut sehingga menjebak
pembeli tadi ingin beli padahal dia
tidak ingin beli yang ya yang yang
temannya ini hanya sekedar bersandiwara
sehingga mengesankan barang tersebut
barang yang mahal. Ini namanya najas
dari isarah. yaitu membuat orang
terprovokasi untuk membeli dengan dia
pura-pura seakan-akan barang ini mah
mahal berharga harganya lebih daripada
yang seharusnya saya pengin beli tapi
saya enggak punya uang atau dia nawar
dia sengaja nawar dengan harga yang
lebih tinggi. Bagaimana kalau segini? Ee
sehingga orang yang melihat tertarik
terprovokasi untuk membeli. Ini namanya
menipu saudara. Dia kerja sama dengan
penjual dan najas zaman sekarang seperti
ee misalnya apa namanya? iklan-iklan
ee kemudian
apa namanya ee apa istilahnya Rafi kalau
menjelaskan barang ini bagus apa namanya
ada istilahnya itu
ee dia kasih testimoni testimoni
testimoni palsu misalnya dia bilang,
"Oh, ini barang bagus, barang bagus."
Padahal dia enggak pernah pakai dia. Ini
barang enak, padahal dia enggak pernah
makan. ya sehingga ya dia dapat duit
dari testimoni tersebut ya ini contoh
najas sehingga membuat orang lain
terprovokasi untuk mem
membeli. Maka seorang kalau testimoni
yang jujur gak boleh bohong ya karena
bisa menipu. Setelah itu wala tahasadu
dan jangan saling hasad. Sudah kita
bahas pada sebelumnya. Wala tabaghadu
dan jangan saling membenci. Kata para
ulama, di antara sebab ee apa namanya?
Tahasadu dan tabagadu, saling saling
saling hasad, saling benci, di biasanya
dibangun di atas buruk sangka. Di atas
buruk sangka sehingga adanya hasad,
adanya benci, saling benci. Wala
tadabaru. Dan jangan saling boikot,
saling balik belakang. Ya. Waunu
ibadallahi ikhwana. Jadilah kalian
saling bersaudara. Al Imam Ibnu Hajar
menyebutkan ada riwayat yang lain di
antaranya wala eh w yabi ba'dukum
alaii akihi. Jangan seorang menjual di
atas jualan saudaranya. Demikian juga eh
Ibnu Hajar menyebutkan
akhi ya janganlah seorang wajulu wajulu
ada khitbati akhi. Janganlah seorang
melamar wanita yang sudah dilamar oleh
saudaranya. Hatta yangkiha au yatruk
sampai dia menikah saudaranya atau dia
tinggalkan wanita tersebut. Ya. Ya. Maka
jangan karena hal ini menimbulkan
permusuhan. Ya. Maka tidak boleh seorang
melamar di atas lamaran saudaranya.
Demikian juga dalam riwayat yang lain,
Ibnu Hajar juga menyebutkan ee wala
tanafasu dan janganlah kalian saling
bersaingan dalam urusan dunia.
Ya, seperti sabda Nabi sallallahu alaihi
wasallam eh
akikum.
Aku tidak khawatir kemiskinan menimpa
kalian, tapi khawatir dibukakan dunia
bagi kalian, maka kalian saling
berlomba-lomba.
Maka seorang jangan berlomba-lomba
urusan dunia karena lomba-lomba tadi
menimbulkan permusuhan.
Yang satu
ee mobilnya mewah, dia beli lagi mobil
lebih mewah dan temannya lihat, "Wah,
ini saingin saya." Dia tambah lagi. Dan
saling
ee lomba-lomba ini menimbulkan ee
kebencian
dan menghilangkan nilai persaudaraan.
Hai,
Muna. Muna
kedengaran Mun. Masukin kamar aja, Mon.
Hah?
Masukin kamar.
Afonan e suara anak-anaknya.
Ee, oke, kita lanjutkan. Ee,
maka ini semua larangan ya yang
menimbulkan permusuhan di antara
saudara. Di antaranya sebab awalnya
karena persangkaan persangkaan buruk,
berburuk sangat kepada saudara.
Ya, mungkin kalau dia beli sesuatu kita
bersangka buruk sehingga kita maunya
dia, akhirnya terjadilah permusuhan di
antara para saudara. Maka seorang
berusaha menghindar dari segala
perbuatan yang bisa merusak
persaudaraan.
Tib. Kemudian lanjutkan bab berikutnya,
bab ma yajuzu. Bab ma yajuzu minadzon.
Bab tentang persangkaan yang dibolehkan.
Persangkaan yang dibolehkan. Ya. Ee
Allah berfirman
ee kata Allah inna ba'don
ism.
Sesungguhnya sebagian perkara,
sebagian persangkaan adalah dosa.
Dosa. Tapi di sini Allah menggunakan
kata sebagian. Berarti ada menunjukkan
ada persangkaan yang tidak dosa. Berarti
ada
persangkaan yang tidak dosa.
Yang bukan dosa.
Para ulama menyebutkan apa saja
persangkaan yang bukan dosa? Di
antaranya pertama yang timbul
timbul dalam hati
yang tidak bisa yang tidak bisa dia
tolak.
Namun manusia lemah hati dia, bukan dia
yang mengatur hatinya. Tiba-tiba ada
waridat, ada lintasan kemudian
menyatakan membuat dia seuzun. Itu orang
begitu karena begini, karena begini,
karena begini. Maka seperti ini tidak
berdosa. Dima. Ini dimaafkan.
Caranya bagaimana? Jika ya
berusaha ditolak.
Talat
tidak bercokol dalam dada, tidak terus
bercokol
tidak melakukan konsekuensinya. Tidak
melakukan konsekuensinya.
Tidak melakukan konsekuensinya.
Iya.
Adapun kalau dia sudah berburuk sangka
kemudian melakukan konsekuensinya.
Konsekuensin seperti apa? Seperti dia
melakukan apa? Tahassus tadi. Tahassus
kemudian tajassus. Ya,
lebih parah lagi konsekuensinya jika dia
berhukum. Berhukum di atas menghukumi di
atas persangka tersebut.
Di atas prasangka tersebut.
Betapa banyak orang kemudian menghukumi
dia seprasangka tersebut. Padahal masih
prasangka kemudian dia bangun hukum di
atas prasangka tersebut maka ini adalah
dosa. Tapi ya kalau juga timbul kemudian
dia lawan, kemudian dia tolak dan dia
tidak melakukan konsekuensinya maka dia
dimaafkan. Dia dimaafkan.
Tib yang kedua di antaranya
jika
jika ada
indikatorindikator indikasi-indikasi
yang kuat
yang mengharuskan prasangka.
Prasangka
di antaranya apa? Misalnya contoh kisah
Nabi Yaakub Alaih Salam.
Nabi Yakub ketika anak-anaknya,
kakak-kakaknya Yusuf melaporkan
bahwasanya Yusuf dimakan oleh serigala
ya,
maka serigala makan Yusuf. Kemudian
mereka berkata, "Waana win dan kau
ayahanda tidak akan percaya sama kami.
Meskipun kami sudah jujur. Dan mereka
sudah datang malam-malam, mereka
menangis, mereka datangkan bukti yaitu
baju Yusuf penuh dengan darah."
Maka mereka datang terlambat
malam-malam.
Mereka datang malam-malam. Mereka lapor,
ee kami tadi sedang bermain-main.
Tahu-tahu Yusuf datang di eh serikala
datang makan Yusuf.
Kemudian ini bajunya.
Kemudian mereka taruh darah palsu di
bajunya. Ini semua indikator bahwasanya
Yusuf telah mati dimakan serigala. Tapi
ayahnya tidak percaya.
Ayahnya seuzon sama mereka. Kenapa?
Karena ada indikasi kuat yang
menunjukkan Yusuf belum mati. Ya, di
antaranya ayahnya tahu bahwasanya mereka
hasad sama Yusuf. Hasad sama Yusuf
sebelumnya. Kemudian ayahnya Yusuf
pernah bercerita dalam mimpinya, inni
roitu ahada asar kaukaban
wasamsalqaritumajidin.
Aku bermimpi melihat matahari rembulan
11 bintang sujud kepadaku. Dan mimpi itu
menunjukkan Yusuf akan menjadi orang
mulia. dan itu belum terjadi. Bagaimana
dia meninggal sebelum mimpinya ter di ee
terjadi. Dan Nabi Yakub tentu dia ahli
takwil mimpi. Maka dia merasa ini tidak
benar. Karena Yusuf pernah cerita mimpi
demikian-demikian dan itu ee harusnya
terjadi, tapi ini kok sudah mati sebelum
terjadi. Yang ketiga disebutkan
bahwasanya pakaian yang di Yusuf yang
dilimurin oleh darah e pakaian tersebut
tidak tercabik-cabik. Jadi pakaian tidak
tercabik-cabik. Namanya serigala kalau
menerkam manusia pastikan dia
cabek-cabek bajunya ya. Sehingga ada
robek-robeknya dan bekas kuku serigala
tentu ada bekasnya. Sehingga ketika Nabi
Yakub melihat itu semua, dia merasa ini
tidak benar. Ini tidak benar. Maka
ketika itu dia berprasangka dan dia
mengatakan qala balat lakum anfusukum
amro. Tapi kalian telah di
di
didominasi oleh hawa nafsu kalian. Ya.
Kemudian kata dia, "Fobrun jamil. Saya
hanya bisa ber bersabar." J percaya
Yusuf alaihi salam meninggal meninggal
dunia. Ini contoh. Maka seperti ini
tidak dosa. Persangkaan sebenarnya tidak
seikasi kuat. Dan di antaranya yang
ketiga ee
ee berukangka kepada
bersunggah kepada orang-orang yang
orang-orang yang terkenal jahat,
terkenal ee tukang maksiat misalnya.
Maksiat atau jahat misalnya. Ah, ini
yang dibawakan oleh Imam Bukhari dalam
ee hadis ini ya. Dalam hadisha ini
sesungguhnya kita tahu hukum asal
ee hukum asal husnudzan kepada
seorang muslim ya. Adapun kalau yang
yang saleh, adapun kalau tukang maksiat
maka tidak mengapa suudon kepadanya.
Saya bacakan dalilnya. Al Imam Albukhari
berkata,
Q hadana Said bin Ufair Q hadana an Uqil
an ibni Shab an Urwah an Aisyah qat dari
Aisyah qala Nabi sallallahu alaihi
wasallam Aisyah berkata Rasul wasallam
bersabda maun fulanan wa fulananifani
minaian
saya tidak saya tidak meyakini
bahwasanya si fulan dan si fulan dua
orang ini mengerti tentang agama kita
sedikit pun
minal munafikin. Lai menafsirkan maksud
Nabi dua orang dari kalangan munafikin
itu Nabi mengatakan menurut saya dua
orang ini tidak ngerti agama kita.
Maksudnya dua orang ini munafik menurut
saya. Jadi berarti kan Nabi berprasangka
buruk kepada dua orang ini. Tapi kata La
mungkin dua orang itu orang dua orang
munafik. Kemudian juga dalam hadis eh
Imam Bukhari berkata, "Qasan Yahya bin
Buhair Qan
waqala al Nabi wasam yauman
aluallahu alaihi wasallam yauman." Kata
Aisyah, "Suatu hari Rasul sahu alaihi
wasallam menemuiku masuk rumahku dan dia
berkata, "Ya Aisyah, wahai Aisyah, maun
fulan wa fulanifani minadzi nahnu alaih,
menurutku saya tidak menduga si fulan
dan si fulan itu mengerti tentang agama
yang kita anuti ini, yaitu Nabi
sallallahu alaihi wasallam menduga dia
adalah orang munafik." Tib. Berarti ee
kedua orang ini nampak tanda-tanda
kemunafikan
ya. ee tanda-tanda kemunafikan. Dan
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
tidak memastikan dia orang munafik atau
bukan. Karena memang ee ada orang-orang
munafik yang Rasul sahu alaihi wasallam
tidak tahu. Ya Allah berfirman eh wamin
ahlil madinati maradu alan nifaq lauhum
nahnu nahnu naamuhum. Ya. Ya. Bahwasanya
di antara orang munafik ada yang engkau
tidak tahu dan kami mengetahuinya.
Eh, dalam ayat yang lain juga kata
Allah, "La tamamunahumullahu yamuhum."
Kalian tidak mengetahuinya sementara
Allah mengetahui mereka. Jadi, ada orang
munafik yang Nabi tidak tahu sehingga
Nabi
masih menggunakan persangka. "Menurutku
saya menyangka orang ini bukan orang
Islam dua orang ini." Yaitu makanya ana
fulan wani lafani minian yaitu
Rasulullah berkata ee saya menurut ee
apa saya menurut saya mereka berdua
bukan orang Islam. Menurut saya, mereka
berdua bukan orang Islam. Di sini Rasul
Sallahu Alaihi Wasallam berprasangka
buruk kepada mereka karena mereka adalah
orang-orang yang terkenal dengan
kemaksiatan mereka. Dengan kemaksiatan
mereka. Oleh karenanya
jika seorang nampak melakukan keburukan
maka boleh disudoni. Ya. Eh kata kata
Ibnu Mulaqin suudan jaizun ahl inirq.
Berburuk sangka boleh menurut para ulama
jika kepada orang yang menampakkan
keburukan.
Mujanibani ahli salah menjauh dari
orang-orang yang saleh. Girir musyahidin
shawati fil jamaah. Tidak hadir dalam
salat jemah. Orang tidak sir salat jemah
ya tanpa ada sebab boleh diburukin
sangka. Waqadq Ibnu Umar kata Ibnu
Malakin telah berkata Ibnu Umar
radhiallahu anhuma faqat shatil isya
washi asan. Kami kalau tidak di salat
subuh dan salat Isya, kami tidak
mendapati si fulan, maka kami buruk
sangka kepadanya.
Kami buruk sangka. Mungkin dia sakit,
mungkin dia orang buruk. Kenapa salat
Isya tidak hadir, salat subuh tidak
hadir? Ya, jangan-jangan orang munafik
ya. Ya. Nah, makanya asqal shawat
almunafikin salatul isya wasatul fajar.
Salatul isya wasalatul fajar. Salat yang
paling berat bagi orang munafik adalah
salat isya dan salat subuh. Ya, makanya
kalau tidak ada orang tidak hadir salat
Isya, salat subuh, maka dicurigai oleh
para sahabat. Ya. Ee
tib dari sini kita tahu bahwasanya
ya
suudon ya
ee
berburuk sangka.
haram
jika dituju kepada jika kepada
orang-orang yang
zahirnya baik,
zahirnya baik. Ya, inilah yang ee dalam
Al-Qur'an Allah Subhanahu wa taala ee
me apa namanya? Melarang untuk suudan
dan memerintahkan untuk berbaik sangka.
Seperti dalam surat Annur ayat 12 ya, 24
ayat 12 saya bacakan. Kata Allah
Subhanahu wa taala,
ya
laula id
samumuhu
donal mukminuna
wal mukminatu
bianfusihim
khair
kata Allah subhanahu wa taala saat
kenapa tidak ketika kalian mendengar
tentang berita kita tuduhan Aisyah
berzina haditatul ifik. Wahai kalian
kaum mukminin, kenapa kalau ketika
kalian mendengar ya, kenapa orang-orang
beriman dan orang-orang wanita beriman,
laki-laki beriman tidak berprasangka
baik kepada diri mereka sendiri? Kenapa
tidak berprasangka baik
kepada diri mereka sendiri?
Perhatikan sini.
Jadi berprasangka buruk kepada orang
sama seperti berprasangka buruk pada
diri sendiri. Sini ibarat dari Allah
seperti itu ya. Seperti wukum ba jangan
sampai kalian menggibas sebagian yang
lain. Allah berfirman anfusakum, "Jangan
kalian bunuh diri kalian." Di antara
makna bunuh diri kalian maksudnya kalian
bunuh saudara kalian karena kalian
bersaudara. Sehingga dianggap membunuh
saudara seperti membunuh diri sendiri.
Seperti Allah berfirman juga ee dalam
tadi w ee
apa namanya? E
dalam surat Alhujurat kata Allah
Subhanahu wa taala eh
walmizu anfusakum wabu bilqab walmizu
anfusakum. Jangan kalian mencela diri
kalian sendiri. Siapa yang mencela diri
sendiri? Enggak ada. Tapi maksudnya
sesama kaum mukminin jangan saling
mencela. Karena suum ini kalau mencela
yang lain sama seperti mencela diri
sendiri. Kenapa? Karena kaum ini satu
kesatuan. Satu kesatuan.
Walmusakum wabq. Jangan kalian saling
mencela dan jangan sekalian memberi
gelar dengan gelar keburukan. Padahal
dalam ayatnya secara letterleknya jangan
kalian mencela diri kalian dan jangan
kalian memberi gelar kepada diri kalian
gelar yang buruk. Ya. Jadi seorang
mukmin yang mencela mukmin yang
seakan-akan mencela dirinya sendiri.
Kenapa? Karena kaum adalah satu
kesatuan. Sama Allah berfirman anfusakum
inallah bikum rahima. Jangan kalian
bunuh diri kalian. Di antara makna
jangan kalian membunuh sesama mukmin.
Karena bunuh seperti bunuh diri sendiri.
Sama seperti ini kata Allah.
Kenapa kalian tidak berprasangka baik
pada diri kalian sendiri?
Sehingga kalau kita berperasa buruk sama
saudara seperti kita menjatuhkan diri
kita sendiri. mungkin harus terlihat
satu, harus saling sayang menyayangi.
Ya, maka di sini Allah memuji atau
menyeru agar berprasangka baik. Jangan
seperti yang telah terjadi menduga
Aisyah berzina. Maka berburuk sangka
haram jika pada orang-orang zahirnya
baik, orang-orang mukmin.
Tapi dia boleh
ya
jika pada tadi yang sudah dibaca saya
bacakan perkataan Ibnu Malakin jika pada
orang-orang yang menampakkan keburukan,
menampakkan kejahatan, keburukan
ada orang modelnya pegang parang tek
aalan ya suudan ini jangan-jangan begal.
Jangan malah kita husnuzun. Oh enggak.
Ini kawan lewat aja ini dibegal sama
orang. Enggak. Kalau kelihatan buruk,
maka kita boleh suudon.
Boleh suuzon seperti yang terjadi pada
hadis ini bahwasanya mereka menampakkan
kemunafikan
atau maka Nabi pun curiga. Maka Nabi
mengatakan menurutku mereka ini orang
munafik. Menurutku mereka adalah orang
orang munafik. Adapun orang beriman maka
kita berusaha untuk berbaik sangka ya
dalam perbuatannya, dalam perkataannya,
dalam sikapnya. Berbaik sangka.
Ya, seperti kata Umar bin Khattab
radhiallahu taala anhu, eh,
janganlah kau berprasangka buruk
menafsirkan
perkataan yang keluar dari saudaramu
dengan perkataan buruk, dengan
penafsiran buruk, sementara kau masih
dapatkan penafsiran yang baik. Selama
bisa ditafsirkan tafsiran yang baik,
tafsirkan yang baik. Dan itu bagi orang
beriman. Orang yang jelas-jelas nakal
maka tidak perlu kita berbaik sangka
kepadanya atau yang indik indikator
terlalu kuat mungkin bagaimana berik
sangka. Sementara indukator semua
mengatakan dia begitu susah ya. Maka ini
ee tidak mengapa jika memang
mengharuskan berburuk sangka. Tapi hukum
asal seorang berbaik sangka.
Baik. Kita lanjutkan.
ini
eh babu sitril mukmin ala nafsihi. Babu
sitril mukmin ala nafsihi. Bab
berikutnya yaitu bab seorang muslim
menutup aibnya sendiri. Kita biasanya
dengar ee disunahkan menutup aib orang
lain. Seperti dalam hadis man satara
musliman satarahullahu
fid dunya wal akhirah
atau satarahullahu yaumalqiamah. Siapa
yang menutup aib seorang mukmin, Allah
akan tutup aibnya dunia maupun di
akhirat.
Sebagaimana kita dianjurkan menutup aib
orang lain, kita juga aib kita, kita
tutup sendiri. Jangan buka. Apalagi aib
diri sendiri.
Apalagi aib diri sendiri. Ya.
Dan itu berpahala dan itu bermanfaat
bagi kita. Ya,
saya sebutkan di sini perkataan ee Ibnu
Mulaqin tentang keutamaan orang yang
menutup aib dirinya sendiri. Ya, ada
beberapa manfaat
ya,
manfaat
menutup aib sendiri.
Yang pertama adalah kata beliaufa
bihi
apa ini? Yastadilluhu.
Tidak dihina. Tidak dihina oleh orang
lain.
Karena kalau orang menampakkan aibnya
dia jadi ibah ninaan direndahkan.
Kalau dia menampakkan orang akan
yastadiluhu yastadilunahu merendahkan
dia, yastakifunahu meremehkan dia, tidak
dihina oleh orang lain dan tidak
diremehkan. Ini manfaat pertama ya.
Kemudian karena maksiat liannal
maasiillu ahlaha. Karena maksiat
menjadikan pelakunya hina.
Ya.
Kemudian yang kedua annahu inamban
yujibul hadul
fid dunya.
Dua, jika jika dosa tersebut
[Musik]
mengkonsekuensikan atau melazimkan
melazimkan adanya hukum had
hukum had dan tidak ketahuan maka
dia tidak dituntut.
tidak dituntut untuk dihukum
karena tidak ketahuan.
Tarulah dia berzina diam-diam sudah dia
tutup. Dia tidak isi sama orang. Kalau
ketahuan kan dia di akan dipanggil oleh
mahkamah kemudian akan dituntut dituntut
untuk dilakukan kepadanya ditegakkannya
hukum H.
Ya.
Kemudian di antara ee yang ketiga, di
antara manfaat menutup aib sendiri
ee
Allah bisa ampuni. Allah bisa ampuni
bisa ampuni dosa-dosanya
dosa-dosanya tersebut ya. Maka datang
hadisnya kullu umati muafan al
mujahirin. Semua umatku diberi
keselamatan dan dimaafkan kecuali yang
menampakkan maksiat.
Ya.
Kemudian di antaranya
keempat,
jika dia
tidak menutup aibnya,
menutup aib dosanya sendiri,
seakan-akan dia
dia meremehkan
meremehkan
maksiat.
atau dia ngeyel, dia ngeyel sehingga
berani nampakkan dia meremehkan. Dia
meremehkan maka seorang berusaha menutup
aib dirinya sendiri.
Tib kita bacakan hadisnya.
Imam Bukhari berkata, "Qala hadasana
Abdul Aziz bin Abdillah qala hadana
Ibrahim bin Sa'ad." Ini an ibni akhi
ibni ibni akhi ibni Syihab. An ibni
Syihabin an Salim bin Abdillah. Q samu
aba hurai yaakul Abu Hurairah berkata
rasulah wasam yaqul ras wasallam
bersabda
umati mua mujahirin setiap seluruh
umatku muafan muafan itu asalnya dari
alafu atau dari alafiah alafiah
keselamatan dan dia satu kata dengan
al-afu jadi bisa bisa dimaknakan seluruh
umatku selamat atau dimaknakan seluruh
umatku dimaafkan atau dimaknakan seluruh
umatku dibiarkan tidak dihukum oleh
Allah subhanahu wa taala Ya, dari karena
alafu bisa maknanya tark. Jadi, al
muafan bisa dari alafiah yaitu setiap
umatku akan selamat atau dari al-afu
setiap umatku akan diampuni.
Atau dari alafu bimakna tarq semua
umatku akan dibiarkan tidak dihukum.
Illal mujahidin kecuali yang menampakkan
terang-terangan.
J maksiat depan-depan, joget
depan-depan, buka aurat, kemudian
disooting, kemudian diviralkan. Namanya
tidak punya malu. Orang seperti ini
tidak dimaafkan.
Kenapa? Seakan-akan dia ngeyel,
seakan-akan dia menentang Allah. Seakan
menentang Allah. Kemudian kata Nabi, "Wa
inal mujaharati
amalan." Di antara bentuk
terang-terangan adalah seorang melakukan
amal maksiat di malam hari. Yusbihu
waqarahullah.
Kemudian di pagi hari Allah telah tutup
aibnya. Kemudian dia cerita fqulu ya
fulan ya fulan amiltul bari kaza waz.
Tadi malam saya melakukan
demikian-demikian.
Dia cerita ini menunjukkan dia meskipun
tidak dia viralkan, tidak dia shoting,
tidak dia, tapi dia cerita sama satu
orang ngapain dia cerita. Ini salah satu
mujaharah meskipun mujaharah
kecil-kecilan. Beda kalau dia shooting
kemudian dia di konser orang buka aurat
macam-macam. Ini namanya
terang-terangan. Ini dia hanya buka
kepada satu orang tapi sudah termasuk
mujaharah. Dia mengatakan, "Ya fulan
amiltul barihata waz." Ya, tadi malam
saya begini-begini. Waq bata yasturuhu
wusbihu yakifuallahi
anhu. Padahal semalam Allah telah tutup
aibnya, pagi hari dia buka sitar yang
Allah berikan kepadanya. Ini repot.
Ini namanya di antara bentuk ee
terang-terangan sehingga Allah tidak
ampuni orang seperti ini. Maka jika
seorang melakukan maksiat, dia jangan
cerita sama siapapun.
Jangan cerita sama siapapun. Sama
istrinya tidak dia cerita, sama suaminya
tidak dia cerita. Tidak boleh. Karena
Allah telah menutup aibnya dan inilah di
antara karunia Allah Subhanahu wa taala.
Kata Allah, "Wasikumiratan."
Allah telah menyempurnakan nikmat bagi
kalian yang nampak maupun yang yang
zahir maupun yang batin. Sebah
menafsirkan yang batin maksudnya Allah
tutup aib-aib. Di antara nikmat aib
Allah tutup. Sampai seorang salaf ketika
ee
ditutup aibnya, dia berkata, "Saya tidak
tahu mana yang lebih nikmat yang agung.
Apakah Allah memberikan aku nikmat
ibadah ataukah Allah menutup aib-aibku?
Di antara nikmat Allah yang agung adalah
ditutupnya aib seseorang. Maka jangan
dia ingkari nikmat tersebut dengan
bercerita sana sini. Tidak boleh
ya. Tidak tidak boleh ya.
Tayib. Maka dia hendaknya ee menutup
aibnya sendiri. Kemudian hadis kedua al
Imam Bukhari berkata, "Musad
Abu Awqadah."
Ini di antara manfaat kalau menutup aib
di hari kiamat kelak.
Muhrizar
rasul wasam.
Ada seorang datang kepada Ibnu Umar. Dia
berkata Rasulullah, "Ya wahai Umar,
wahai Ibnu Umar, apa hadis yang kau
dengar dari Rasulullah tentang najwa?"
Karena itu omongan berdua yaitu antara
Allah dengan hambanya tanpa ada
perantara tidak ada pihak ketiga.
Ya.
Kemudian ee
bagaimana tentang hadis tentang najwa
pembicaraan dua pihak tanpa orang ketiga
tanpa ada penterjemah. Q. Maka
Rasulullah dijelaskan qadnu ahadukumbihi
fahu alai. Seorang dekat dengan Rabbnya
sampai Allah meletakkan sitarnya
kepadanya. Itu tidak ada yang tahu
kecuali mereka berdua antara Allah dan
dia. Fayakulu. Kemudian Allah bertanya
kepada dia, "Amilta kaza?" Bukankah kau
telah melakukan demikian-demikian? Fayak
naam. Orang lain pada enggak tahu. Cuma
mereka berdua, Allah dan sang hamba.
Bukankah kau telah melakukan maksiat
demikian-demikian? Wquulu naam. Allah
bertanya lagi, amil w bukankah kau telah
maksiat begini demikian? Fak naam kata
dia, "Benar ya Allahuq."
Allah kemudian menetapkan bahwasanya kok
benar begini, benar begini, begini. Dan
dia ngaku semuanya Allah berfirman
kepadanya, "Inni satartu alaika fid
dunya." Waktu dunia aku tutup dosamu.
Gak ada yang tahu. Dan dia tidak cerita.
Karena kalau dia cerita berarti dia
bongkar sitar tersebut. Apa manfaatnya
di akhirat?
Maka hari ini aku ampuni engkau. Ini di
antara manfaat orang nutup aibnya
sendiri bahwasanya dia sangat mungkin
diampuni oleh Allah subhanahu wa taala
berdasarkan dua hadis yang kita
sebutkan. Yang pertama, umatifan
mujahirin. Setiap umatku dimaafkan
kecuali yang terang-terangan melakukan
maksiat. Yang kedua, hadis ini. Kau di
dunia aku tutup aibmu. Maka pada hari
kiamat Allah lanjutkan ee kenikmatan
yang Allah berikan anugerah dengan
mengampuninya.
Dan ini di antara dalil bahwasanya
rahmat Allah mendahului kemurkaannya.
Inna rahmati
dalam hadis kata Allah Subhanahu wa
taala hadis qudsi, "Sungguhnya rahmatku
mendahului kemurkaanku." Bagaimana
tidak? Kalau Allah murka tentunya Allah
akan mengazab kita setiap kita
bermaksiat.
Tetapi ternyata Allah tidak mengazab.
Allah biarkan. Subhanallah. Allah
biarkan, Allah biarkan. Kemudian di
akhirat Allah ampuni. Luar biasa.
Ini hadis sangat menghibur bagi kita ya.
Siapa sih di antara kita yang tidak
bermaksiat? Semua kita pasti terjumus
dalam maksiat,
dalam kesendirian ketika tidak sama
orang. Namanya syahwat terkadang ee
mendominasi ya.
ee maka seorang jangan sampai cerita
kepada siapapun ya agar dia mendapatkan
keutamaan ini. Kean bahwasanya Allah
Subhanahu wa taala akan mengampuninya
pada hari ee kiamat kelak. Dari sini ee
hukum asal bahwasanya rahmat Allah
mendahului kemurkaannya. Dan ini juga
menunjukkan hukum asal Allah menutup aib
seseorang. Hukum asal. Makanya kalau ada
seorang aibnya dibuka biasanya bukan
kejadian pertama kali.
tapi sudah berulang-ulang sehingga Allah
akhirnya membongkar
aibnya. Hampir jarang orang melakukan
suatu kemaksiatan kemudian dibongkar
langsung. Karena hukum asal Allah
menutup aibnya. Hukum asal ya ketika
ketahuan berarti biasanya dia sudah
berulang-ulang melakukan ee
dosa tersebut. Waliadzubillah. Dan ini
ancaman berat bagi orang-orang yang
memamerkan dosa-dosanya. Maka di antara
yang saya perlu ingatkan kepada
kawan-kawan yang berhijrah,
kalau hijrah gak perlu cerita aib-aib
masa lalu, terutama aib yang buruk ya.
Ya, beda kalau misalnya orang mungkin
pernah syirik, syirik untuk aib. Terus
dia cerita saya dulu begini untuk
insyaallah bukan aib yang menghinakan
seseorang. Saya pernah syirik, saya
pernah menyembah berhala kemudian saya
tobat, kemudian seperti sebagian orang
misalnya saya dulu pemusik kemudian saya
tobat. ini ee insyaallah tidak
menimbulkan apa namanya suatu yang dosa
yang menghinakan karena orang anggap
biasa ya beda kalau bilang saya dulu
pendusta ini kan suatu dosa yang
menghina dulu saya berzina ini tidak
boleh seperti itu. Dulu saya narkoba
tidak perlu ya tidak perlu ini karena
bisa merendahkan dirinya sendiri ya.
Tapi kalau ee makanya Salman al-Farisi
ketika dia dulu majusi, Rasulullah suruh
cerita kepada sahabat agar menjadi
pelajaran bahwasanya dia dulu majusi
kemudian dia ee beriman ya. Ya, kalau
ada maslahat ya. Oleh karena kalau orang
berhijab tidak semua dosa dia ceritakan.
Kemudian kalau dia sudah
tobat gak perlu dia tampakkan dosanya
lagi. Seperti ada sebagian ikhwan,
subhanallah sudah bertobat tapi dia
pamer-pamerkan tatonya.
Jangan tato ditutup itu aib, itu dosa
buruk ditutup. Gak usah pamer-pamer
apalagi kemudian masih menunjukkan
tatonya.
Enggak perlu seperti itu. Maka seorang
berusaha menutup aibnya karena Allah
telah ee menyembunyikan aibnya. Maka
tidak perlu dia cerita kepada orang lain
agar sempurna ampunan Allah baginya pada
hari kiamat kelak.
Jadi ingat jangan cuma
ee menutupi aib orang. aib diri sendiri
lebih utama untuk ditutupi. Ya.
Ee
yang dimaksud dengan hadis tadi yang
Allah tutupi adalah hadis yang tidak
kaitannya dengan kezaliman orang. Adapun
kalau terkait dengan kezaliman terhadap
orang tentu akan ada sidang. Jadi
diingatkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul
Bari beliau berkata eh anal murad
bidzunub fi hadis Ibn Umar ma yakunu
bainal mari warabbihi itu dosa antara
dia dengan rabnya. Dan hukum asal Allah
mengampu dosa-dosa. Tapi kalau dosa
antara dia dengan hamba-hamba yang lain,
maka ini hukum masalah ada tuntutan.
Kata Ibnu Hajar, duna madalimil ibad.
Bukan terkait dengan berzalim kepada
orang lain. Ya
hadis anahahtajual muqasah.
Dan dan dalil-dalil menunjukkan
bahwasanya kalau berbuat zalim sama
orang maka akan ada sidang, ada qisas.
Ya, ada qisas. Dan ini dan juga hadis
syafaat menunjukkan ada sebagian orang
beriman diazab di neraka kemudian
dikeluarkan dengan syafaat. Dan ini di
hadis banyak seperti ini ya. Eh oleh
karenanya Ibnu Hajar berkata
majmu ah minalinqamin.
Maka hadis-hadis kumpulan hadis-hadis
ini ada hadis yang Allah maafkan, ada
hadis yang ternyata Allah sidang
kemudian masukkan neraka kemudian Allah
keluarkan lagi. Bahwasanya pelaku
maksiat dari kemudian ada dua model pada
hari kiamat. Kalau ahaduhuma man
maksiatuhu bainah wainabbihi. Yang
pertama orang yang maksiatnya antara ini
dengan Allah.
Maka hadis Ibnu Umar yang sedang kita
bahas ini ya
menunjukkan ada dua orang yang maksiat
ter dengan Allah ada dua model juga.
Yang pertama kismun takunu maksiat
masturatan fid dunyaah
alaihiqamah
wahuq.
Adapun yang pertama adalah orang yang
maksiatnya antara dengan Allah dia
sembunyikan dan Allah tutup aibnya. maka
Allah akan ampuni pada hari kiamat
kelak. Model kedua, maksiatnya antara
dengan Allah. Kemudian dia mujaharatan
dia tampakkan dia cerita ya. Maka
mafhumnya dia tidak akan diampuni oleh
Allah subhanahu wa taala.
Kemudian model maksiat yang kedua,
alqismutani.
Orang-orang yang maksiatnya antara dia
dengan hamba yang lain itu kezaliman.
Maka ini juga ada dua model. Yang
pertama dosa-dosanya lebih banyak
daripada kebaikannya. maka mereka ini
masuk neraka jahanam kemudian
dikeluarkan dengan syafaat. Kemudian
model kedua, orang-orang yang ee
ee yang kedua yang kebaikannya sama
dengan keburukannya, maka ini tidak
masuk surga ya
sampai terjadi qisas atau sidang di
antara
mereka ya. Sebagaimana ditunjukkan dalam
satu hadis yang lain ya.
Tib. Jadi ee
apa namanya?
Jadi ee dosanya lebih banyak daripada
kebaikan, maka dimasukkan neraka
kemudian dikeluarkan. J. Kalau kita mau
gambarkan ya kata Ibnu Hajar,
model
manusia
di akhirat
yang pertama yang dosanya
antara dia dengan Allah
dan Allah saja.
Maka ini juga ada dua model. Yang
pertama yang dosanya tertutupi, dosanya
dia tutupi,
maka ini diampuni.
Diampuni oleh Allah.
Yang kedua, yang dosanya terbongkar.
yang dosanya terbongkar, yang dosanya
dia umbar
atau dia ceritakan, maka ini tidak
diampuni.
Yang kedua adalah yang dosanya
terkait dengan hak hamba lain, terkait
dengan
hamba yang lain.
Maka ini ee
wajib
wajib ada qisas.
Qisos atau sidang ya.
Maka dilihat ya kalau ternyata dosanya
dosanya lebih banyak
maka konsekuensinya masuk neraka. Kalau
tidak dimaafkan masuk neraka.
Lalu ujungnya keluar dengan syafaat,
ujungnya
akan ke surga.
Ya.
Yang kedua, jika dosanya sama dengan
dosanya
sama dengan kebaikannya.
Maka ini tidak masuk surga. Nanti
ujungnya juga masuk surga. Ini disebut
mungkin dengan disebut dengan e
ashabul aram bab ya. Ya, mungkin ada
penjelasan lebih dalam tapi intinya
inilah disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam
Fathul Bari.
Bab, mungkin sampai di sini saja ee para
hadirin hadirat yang dirahmati Allah
subhanahu wa taala. Ee maka hendaknya
kita beradab di antaranya beradab di
hadapan Allah. Kita tidak membongkar
dosa atau aib kita yang sudah ditutup
oleh Allah subhanahu wa taala agar kita
selamat di dunia maupun di akhirat.
Wallahu taala alam bawab. Wallahu taala
alam bab. Demikian saja ikhwan dan
akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa
taala. Kurang maaf. Wabillah taufik
hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.