Transcript
HNPUFL_WKU0 • Riyadush Shalihin 2.96: Larangan Meminta Jabatan
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2678_HNPUFL_WKU0.txt
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufiqihin ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuim wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh daila ridwan allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwan. Kita masih lanjutkan tentang hal-hal yang terkait dengan penguasa. Insyaallah ini mungkin pertemuan terakhir tentang penguasa. Baru pertemuan berikutnya kita masuk kitab yang baru, Kitabul Adab. Ya, kitabul adab ti bab ti bab berikutnya babun nah an sualil imarah bab tentang larangan minta jabatan wakhtiari tarkil wilayat dan memilih untuk tidak memegang jabatan idza lam yataayan alaihi kecuali jika memang dia ditunjuk ya dan harus dia yang menjadi pejabat tersebut auadu hajatun ilaihi atau memang hajah kondisi mendesak dia harus minta jabatan. Di sini ee Imam Nawawi rahimahullah memberi isyarat hukum asal bahwasanya tidak boleh meminta jabatan ya. Namun ada kondisi bahwasanya seorang boleh jadi pejabat ee ketika dia ditunjuk tidak ada pilihan lain atau kondisi mengharuskan dia untuk minta jadi jabatan ketika tidak ada yang bisa menjalankan. sehingga ini fardu kifayah dan ketika tidak ada yang bisa menjalankan menjadi fardu ain bagi dia. Jika tidak maka ee akan timbul banyak ee mudarat bagi masyarakat tib. Kemudian Al Imam Nawawi rahimahullah membawakan firman Allah Subhanahu wa taala. Tilkadul akhiratu najalu lilladina la yuriduna uluwan fil ardhi wala fasada walqibatu lil muttaqin. Itulah akhirat kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian di atas muka bumi dan juga tidak menginginkan kerusakan dan kesudahan yang indah bagi orang-orang yang bertakwa. Itu isyarat bahwasanya kebanyakan orang ketika ingin jadi pejabat yang mereka inginkan bukan kemaslahatan masyarakat, tapi ingin jadi top, jadi dihormati, jadi di dipuja-puja atau ditinggikan atau punya anak buah. Mereka merasa nyaman kalau jalan ke mana-mana dikawal. Ini namanya ingin ulu fil ard, ingin tinggi di atas muka bumi. Maka orang seperti ini tidak berhak mendapat surga. Kata Allah Subhanahu wa taala, "Tilkadarul akhiratu naj'aluha lilladina la yuriduna uluan fil ard." Sesungguhnya surga tersebut atau surga itu kami jadikan kami tidak jadikan bagi orang-orang yang menghendaki ketinggian di atas muka bumi dan juga menghendaki kerusakan. Maka ee biasanya orang minta-minta jabatan tujuannya bukan untuk kemaslahatan masyarakat. biasanya demikian ya, kecuali dari ada kondisi-kondisi tertentu yang buat dia terpaksa untuk maju untuk dipilih misalnya dan itu dalam kondisi ee darurat atau dia sudah ditunjuk maka dia harus maju. Ayat ini memberi peringatan kepada ee kita semua ya. Ya. Tayib. Eh kemudian al Imam Nawawi rahimahullah membawakan hadis. Wa an Abi Said Abdurrahman bin Samurah radhiallahu anhu qala qala li Rasulullah sallallahu alaihi wasallam itu dari Abdurrahman bin Samurah radhiallahu anhu. Beliau berkata, Rasul Sallahu Alaihi Wasallam berkata kepadaku ya Abdurrahman ibn Samurah. Wahai Abdurrahman bin Samurah. Abdurrahman bin Samura ini masuk Islam belakangan dan dulu namanya bukan Abdurrahman ada yang menamakan ada yang bilang namanya Abdul Ka'bah Abdu Fulan sehingga Rasulullah ganti dengan apa? Abdurrahman. Rasulullah ganti namanya dengan Abdurrahman. Jadi kalau ada nama yang tidak sesuai dengan islami atau mengandung makna-makna yang buruk maka sunahnya adalah di diganti. Ya. Abdurrahman bin Samurah. Wahai Abdurrahman bin Samurah. Ada saya ketemu orang namanya mufsidin. Mufsidin artinya perusak. Terus saya ketemu dia pas hajian, "Antum masih mufsidin?" "Masih," katanya mufsidin tapi haji. Alhamdulillah banyak yang namanya saleh belum haji. Namanya mfsidin dia sudah. Jadi ada nama-nama kadang-kadang ya kalau namanya mengandung makna kurang baik maka hendaknya di diganti. Kata Rasulullah, "La Abdurrahman bin Samra la tasalil imarah." "Wahai Abdurrahman jangan kau minta jabatan. Fainnaka inaha minhairi masalatin alaiha." Kalau kau dikasih jabatan tanpa minta maka kau akan dibantu oleh Allah Subhanahu wa taala untuk menjalankannya. Tapi kalau kau dapat jabatan karena mintaaiha maka kau akan diserahkan kepadamu sendiri. Itu Allah tidak bantu engkau. Ya waamin. Dan jika engkau bersumpah atas suatu sumpah farhair minha. Namun kau lihat ternyata ada yang lebih baik daripada sumpahmu tersebut. Failladzi huir. Maka kerjakanlah yang lebih baik. dan ee bayarlah kafarah dari sumpahmu yang kau batalkan. Muttafaqun alaih hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Hadis ini sangat jelas. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengingatkan, "Jangan kau minta jabatan ya. Tapi kalau kau datang jabatan tanpa kau minta ya Allah akan tolong engkau." Ya. Kenapa? Kalau orang tidak minta jabatan kemudian dikasih, maka dia merasa jabatan itu beban. Dia tidak minta tapi dikasih. Maka dia merasa itu jaban adalah beban pertanggungjawaban yang harus dia terpertanggungjawabkan di hadapan Allah subhanahu wa taala. Maka ketika dia menghadirkan dalam dirinya adalah beban tanggung jawab, maka dia akan menjalankan dengan baik dan Allah akan membantunya. Ya, karena ngurus orang tidak gampang ya. Enggak usah ngurus banyak orang ya. Ngurus orang-orang rumah sendiri aja terkadang su susah apalagi ngurus banyak orang. Tapi kalau kau mendapatkannya dengan minta ini menunjukkan kau semangat ya, maka Allah akan tinggalkan engkau dan kau dibiarkan ngurus sendiri. Dan kalau ngurus sendiri ya biasanya kita bersandar kepada diri kita yang penuh dengan kelemahan ya. Dan ini semisal kata Syekh Utsimin rahimahullah semisal seperti masalah harta ya. di mana Umar bin Khattab ya pernah diberikan sesuatu pemberian dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kata Umar, "Qa Rasul sahu alaih wasallam yinil." Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah memberikan aku pemberian. Faqulu aku berkata, "Aihi afqar ilaihi minni." Ya Rasulullah, berikan yang lebih butuh atau lebih miskin daripada aku. Itu aku cukup berikan aja kepada yang lebih miskin. Yaitu Umar gak ambil ya. Hatta maratan maalan. Kemudian Rasulullah kasih lagi suatu saat kasih harta lagi yang lain. Qullu faqulu aku mengatakan perkataan yang sama. Ilaihi minni berikan kepada yang lebih miskin daripada aku. Ahj ilaihi min yang lebih membutuhkan daripada aku. Maka Rasul sahu alaihi wasallam menegur eh Umar. Kata Rasulull sallahu alaihi wasallam, khuzhu. Ya, dalam riwayat fatamawalhu au tasadaq alaih. Ambillah tamawalhu itu gunakan untuk hartamu, untuk keperluanmu. Ya, atau kalau kau enggak perlu kau pengin sedekah silakan. Kemudian kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, waka minal ma wa anta girir musrifin w sail fhu. Harta yang datang kepadamu tanpa kau ada isyrof. Israf itu kecenderungan kepingin. Itu namanya israf. Ya. Ee hati selalu melirik ke harta tersebut ya. Walail kau tidak minta-minta ya. Maka fakhudhu maka ambillah ya. Wamala. Adapun yang kau dapatkan dengan karena kau jiwamu kepingin ya atau kau minta-minta ya. Kepengin itu meskipun tidak diungkapkan tapi kepingin. Itu berarti kita tamak kepada harta tersebut. Kemudian ternyata dikasih rezeki anak saleh. Jangan bilang begitu. Ini matanya hati hati lagi kepingin nih ya. Kata Nabi, "Ingatkan dua model jangan kau ambil. Pertama kalau kau musyrif alai itu kau kepingin niat-niat terus kepingin ya pengin harta orang bukan harta diri sendiri. Kalau harta sendiri ya okelah. Tapi kalau harta orang kemudian kau pengin dikasih ya meskipun tidak ungkapkan atau kau minta maka jangan ambil ya. Fala tutbhu nafsak maka jangan biarkan dirimu mengikuti harta tersebut. Tapi kalau datang tanpa kau cari-cari, tanpa kau minta-minta, ambil. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, ambil. Boleh kau gunakan. Kalau enggak kau sedekahkan. Maka sama dengan kata Syekh Utsimin rahimahullah, sama seperti jabatan. Kalau jabatan kita tidak minta-minta dikasih ya. Tapi kalau enggak minta kapan mau dikasih? Kalau enggak minta dikasih, kita enggak cari-cari ternyata dapat tugas, ya sudah jalankan. Kau akan dibantu oleh Allah Subhanahu wa taala. Tapi kalau kau minta-minta, kau akan dibiarkan. Ini maksud dari hadis ini ya. Maka ini larangan jangan minta jabatan. Rasulullah jelas mengatakan la tasalil imarah. Nanti akan datang di bab terakhir yang lebih tegas lagi. Sini Rasulullah mengatakan la tasalil imarah jangan minta jabatan. Kemudian Rasulullah menyebutkan lagi tambahan faedah. Wa halafta ala yamin. Kalau kau ternyata bersumpah atas suatu perkara kau bersumpah saya demi Allah saya akan begini. Ternyata kau lihat ada yang lebih baik maka jangan ragu-ragu untuk melakukan yang baik tersebut. Sumpahmu kau batalkan. Tapi bayar apa? Kafarah. Yaitu kafarah sumpah. Ya. Ya. Fakafaratuhu. Ee engkau memberi makanimuna ahlikum eh atau kiswatuhumqabaika kafaratuum wadanakum. Kalau kita bersumpah kemudian kita tidak kerjakan, maka kafarahnya adalah memberi makan 10 fakir miskin dari makanan tengah yang biasa kita makan, yang sedang biasa kita makan. Bukan makanan yang mahal, bukan juga makanan yang murah yang sedang, yang biasa kita makan kalau kita kasih makan keluarga. Kalau atau memberi pakaian 10 orang miskin atau memerdekakan budak, ini pilihan. memberi makan 10 fakir miskin atau memberi pakaian 10 fakir miskin atau merdekakan budak. Memerdekakan budak sudah enggak ada. Berarti tinggal dua pilihan. 10 fakir miskin dikasih makan atau 10 fakir miskin dikasih pakai pakaian. Mana yang lebih murah? Kasih makan atau pakai pakaian? Makan. Ya. Kata Nabi, kata Allah Subhanahu wa taala, "Siapa yang tidak mampu maka fasiamu salah satu ayam." Baru puasa tiga 3 hari. Kalau mampu enggak boleh puasa. Kalau kalau mampu gak boleh puasa. Kalau enggak mampu enggak punya uang kasih makan orang. enggak punya uang kasih beli pakaian, maka puasa tiga 3 hari. Ya. Jadi, Rasulullah mengatakan kalau ada ee yang lebih baik daripada yang kau sumpahi, maka tinggalkan sumpahmu. Jangan ragu-ragu, tinggal bayar kafarah karena kita ingin pahala. Kita ingin pahala. Kalau lebih baik, lebih besar pahalanya, tinggalkan sumpahmu. Misalnya kita pernah bersumpah, "Saya, demi Allah saya akan bangun musala di sini misalnya." Ternyata kita lihat, "Ah, ini enggak pas tempatnya masih orang belum ada. adalah tempat lebih bagus. Ya sudah kita tinggalkan sumpah kita. Kita bayar kafarah, kita bangun ke tempat yang lebih maslahat. Karena kita hidup dicari apa? Cari pahala. Nah, ee munasabahnya atau keterkaitannya ini penting bagi penguasa pejabat. Terkadang pejabat kalau sudah bersumpah apalagi di hadapan anak buahnya, dia ada ego untuk meninggalkan sumpah tersebut. Maka Rasulullah mengisyaratkan meskipun kau pejabat dan kau sudah bersumpah meskipun di hadapan anak buahnya, jangan jangan ikuti egomu. Egomu. Kalau ada yang lebih maslahat, tinggalkan tinggalkan sumpah tersebut. Bayar kafarah dan ee laksanakan yang lebih baik. Boleh laksanakan dulu bayar kafarah atau bayar kafarah dulu baru laksanakan. Datang dalam dua riwayat ya. Ada Rasulullah mengatakan bayar dulu kafarah baru pindah kepada yang lebih baik. Dalam riwayat lakukan lebih baik dan bayar apa? kafarah. Tapi intinya kadang kita bersumpah kita lebih baik, jangan ragu-ragu untuk tinggalkan ya untuk kita ganti yang lebih lebih maslahat untuk akhirat akhirat kita. Apalagi kalau sumbah tersebut terkait dengan emosi di meol saya tidak akan bicara dengan kamu. Ternyata kita ngapain kita ribut-ribut sampai mati bertengkar sama dia. Ya sudahlah kita bayar kafarah kita ngomong sama dia, tinggalkan. Karena yang lebih baik adalah kita menyambung tali persatuan, tali persaudaraan. Apalagi kita bersumpah tidak berbicara dengan saudara sendiri. Tentu yang lebih baik adalah menyambung silatu silaturahmi. Maka batalkan sumpahmu, bayar kafarah kemudian ee lakukan yang lebih baik. Ini secara umum terkait dengan amir, pejabat atau secara umum kaum muslimin. Hadis berikutnya. Wa Abi Dzar radhiallahu anhu qala qala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dari Abu Dzar radhiallahu anhu bahwasanya Rasul sahu alaihi wasallam bersabda kepadaku ya Abu Dzar inni araka diifan wahai Abu Dzar aku melihatmu lemah wa inni uhibbu laka ma uhibbu linafsi dan aku menyukai untuk dirimu apa yang aku sukai untukku taamaranna alnain la taamarna jangan sekali-sekali kau menjadi pemimpin dua orang taw Dan jangan sekali-sekali kau ngurus harta anak yatim. Rawahu Muslim. Hadis riwayat Muslim. Ini juga peringatan keras dari Nabi kepada Abu Dzar al-Ghifari. Abu Dzar alghifari kita tidak ragukan akan ketakwaannya dan kesalehannya. Abu Dzar al-Ghifari orang sangat sangat saleh ya. Saking apa namanya? Sangat saleh. Terkenal sangat jauh daripada dunia. Orang terkenal zuhud Abu Dzar al-Ghifari ya. Radhiallahu taala anhu ya. Dan Abu Dzar al-Ghifari punya punya mazhab sendiri. Dia itu menganggap bahwasanya orang kalau punya harta kalau berlebihan harus kembalikan ke Baitul Mal. Ya, ini diselisihi oleh para sahabat yang lain. Dia menganggap kalau ada harta kau boleh harta secukupnya. Yang lebih kembalikan ke harta negara untuk kepentingan kaum kaum muslimin. Maka gak boleh orang kaya-kaya berfoe-fo enggak boleh kelebihan yang punya kelebihan kembalikan ke Baitul Baitul Mal. Dan dia sering mengingatkan orang-orang. tapi di oleh para sahabat yang lain. Artinya dia sangat zuhud. Ee tetapi untuk menjadi pemimpin, menjadi pejabat tidak di bukan hanya dibutuhkan ketakwaan, dibutuhkan juga keahlian ya profesionalitas dalam mengurusi jabatan. Makanya di antara tanda-tanda hari kiamat, idusidal amru ila giri ahlihi fantadirus saah. Kalau jabatan diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggu hari kiamat. Maka ini syarat menjadi pejabat dua syaratnya. Pertama takwa yaitu amanah. Yang kedua ahli. Kapan terkumpul keduanya amanah dan keahlian maka dia telah profesional dalam menjalankan jabatan. Jika salah satunya maka tidak profesional. Ahli tapi tukang korupsi. Ahli pintar lulusan ee S3 mana? S3 mungkin Yunani lulusan Yunani bahkan. Tapi ternyata dia tidak amanah, maka ini enggak benar. Atau amanah tapi bahlul. Sama aja amanah. Jujur, sering ke masjid tapi bahlul. Enggak bisa ngurus urusan. Ini juga gak gak boleh. Maka harus terkumpul keduanya. Itulah yang disebut oleh putri seorang saleh ketika menyuruh ayahnya untuk mempekerjakan Musa. Ya abatjirhu inna khair mantajarta alqawiul amin. Wahai ayahanda, pekerjakanlah si Musa. Sesungguhnya sebaik-baik orang yang kau jadikan pekerja adalah alqawi. Yaitu kuat ahli dalam bidangnya. Al-amin yang terpercaya. Terpercaya. Itulah yang diakui oleh Ifrid ketika Sulaiman Alaih Salam ee menanyakan, "Ayyukum yatini biarsiha qobatuni muslimin." Siapa di antara kalian anak buahku yang bisa mendatangkan singgasana Bilqis sebelum mereka datang menyatakan Islam atau menyerahkan diri? Kata ifrit, q ifrit minal jin. Berkata ifrit minal jin, anaika bihi qlaqu maqik inni alaihiqun amin. Aku akan mendatangkan singgahsana Ratu Bilqis sebelum kau berdiri dari singgahsanamu wahai Paduka wahai Sulaiman. Wa inni alaihiqun amin. Dan aku adalah kuat dan terpercaya. itu saya profesional karena jin bisa terbang dalam waktu cepat mikul singgahsana kemudian terbang beribu-ribu kilo mudah bagi jin ifrit. Ternyata ada yang lebih hebat daripada jin jin ifrit. Tapi intinya dia mengaku qawiyun amin yaitu kuat dan terpercaya. Demikian juga ketika Nabi Yusuf Alaih Salam ditawarin jabatan, sang raja berkata, "Innaka innakal yauma ladaina makinun amin." Sesungguhnya engkau wahai Yusuf hari ini makinun, mendapatkan kedudukan amin dan terpercaya. Dipercaya. Kau dapat kedudukan itu dapat jabatan kau terpercaya. Maka Yusuf sudah dipercaya, dia juga menunjukkan keahliannya. Dia mengatakan, "Qa'alni ala khazainil ardhi inni hafidun alim." Jadikanlah aku mendarahkan harta yang ngurusin harta negara. Kenapa ini hafizun alim? Karena aku ahli dalam hal ini. Aku bisa menjaga dan aku mengerti tentang masalah keuangan. Maka akhirnya dia diangkat menjadi bendaharawan harta negara ya, menteri keuangan ya. Maka dia mengumpulkan amin dan apa dan keahlian. Maka itu disebut dengan profesional. Maka orang yang tidak memenuhi persyaratan ini tidak bisa jadi penguasa, tidak bisa jadi pejabat. Abu Dzar siapa yang ragu tentang ketar sangat takwa, sangat zuhud, tidak ada ketertarikan dengan dunia sangat zuhud, super zuhud. Sampai punya pendapat yang mungkin berbeda dengan sahabat yang lainnya. Tetapi untuk masalah jabatan bukan cuma zuhud yang diperlukan tapi harus ada ke keahlian. Maka Rasulullah mengatakan, "La taamaranna alatnain." Jangan sekali-sekali kau memimpin dua orang karena saya cinta sama engkau. Inni uhibuk inni uhibbu linafsika ma uhibbu linafsi. Aku ingin kebaikan bagimu apa yang aku suka untuk diriku. Maka jangan sekali-sekali engkau menjadi pejabat untuk ngurusin dua orang aja. Jangan. Kenapa? Inni araka diifan. Aku melihat engkau lemah. Itu lemah bukan lemah iman, tapi lemah dalam profesionalitas. Lemah dalam keahlian. Karena ngurus orang enggak gampang, ada tanggung jawabnya. Kalau bisa jangan jadi pengurus ya. Ya. Apalagi jadi pembesar. Kalau bisa jangan karena kau lemah. Kemudian juga masalah harta. W tawalayanna ma yatim. Dan jangan sekali-sekali ngurus anak yatim harta. Mungkin kau niat baik ingin ngurus harta anak yatim, tapi kalau kau tidak pandai bahaya. Ya, karena di antara dosa besar adalah aklu malil yatim. Makan harta anak yatim tanpa hak. Allah berfirman, innalladina yauna amwalama inama ya fi butun wasir. Sesungguhnya orang-orang yang makan harta anak yatim dengan kezaliman sungguhnya mereka memasukkan api dalam dalam perut mereka dan mereka akan masuk neraka. Maksudnya apa? Boleh seorang ngurus anak yatim, ada yang kaya misalnya bapaknya meninggal dan dia punya harta banyak, emas banyak, batangan emas banyak, maka dia masih kecil enggak ada yang bisa ngurus. Yang ngurus misalnya ada orang pengin ngurus atau pamannya ngurus. Nah, kalau dia tidak pandai ngurus, kalau dia tidak amanah mungkin dia makan dari harta tersebut berlebihan. Kalau miskin boleh ikut makan, tapi yang wa wajar boleh. Kalau kaya enggak boleh makan dari harta anak yatim. Kemudian harta ini kadang dia masukkan dalam perdagangan, diinvestkanin kalau enggak ahli habis ludes harta anak yatim tersebut maka ngurus harta naik tidak gampang dan kalau dibiarkan kena zakat akan mengur harta yang yatim. Kalau diolah, dikelola, diolah, dikelola harus yang ahli. Kalau enggak harta tersebut bisa ludes. Maka tidak sama mengurusi harta orang biasa dengan harta anak yatim. Harta ini bahaya. Oleh karenanya Nabi mengatakan, "Engkau jangan pernah ngurus harta anak yatim. Ya, ini menguatkan bahwasanya ee masalah jabatan tidak semudah yang dibayangkan. Selain amanah harus ahli. Wa anhu qala dan juga dari Abu Dzar radhiallahu anhu qala qulu ya Rasulullah pernah aku minta jabatan. Aku berkata ya Rasulullah ala tastamiluni. Tidakkah kau jadikan aku petugasmu? Yaitu jadi pejabat jadi pengurus negara jadi ASN maksudnya ya. Tapi tingkatan jabatan. Maka Rasulullah menepukkan tangannya di atas pundakku.Q Rasulullah ber tanda sayang. Tanda sayang kepada Abu Dzar. Ya Abu Dzar innakaif. Wahai Abu Dzar engkau lemah. Wa innaha amanah. Sesungguhnya jabatan adalah amanah. Wa inna yaumalqiamati khizyun wadamah. Dan sesungguhnya pada hari kiamat jab jabatan itu hanyalah kehinaan dan penyesalan. Ak bihaqiha. Kecuali yang mengambil jabatan tersebut dengan haknya. Waadzi alaihi fiha. Dan bisa menunaikan eh amanah jabatan tersebut. Rawahu Muslim. Hadis riwayat Muslim. Di sini Rasulullah mengingatkan yang yang bisa ya hukum asal pejabat itu, hukum asal pejabat itu akan terhina ya dan akan menyesal. Akan terhina akan menyesal. Siapa pejabat yang tidak terhina dan tidak menyesal jika memenuhi persyaratan. Dia mendapatkan jabatan tersebut memang dengan haknya. Artinya dia ahli profesional, dia amanah. Yang kedua, dia menjalankan tugas dari tugas dari ee jabatan tersebut. Baru dia selamat dari hinaan dan penyesalan. Maka yang tidak memilih persyaratan ini pasti terhina, pasti menyesal. Siapa yang terhina dan jabatan pejabat yang pasti menyesal pasti terhina? Yang pertama adalah yang mengambil jabatan bukan haknya. Di mana bukan haknya? Dengan cara culas, dengan cara bohong, dengan cara bukan haknya. Ya. Dan dia juga tidak ahli dalam bidang itu tidak berhak. Yang berhak cuma yang amanah sama yang ahli. Dia tidak ahli, tidak amanah dengan cara culas, dengan cara curang. Katanya politik adalah peperangan. Perang boleh menipu. Nipu sana, nipu sini. ya akhirnya dapat jabatan ini pasti terhina ya pasti terhina dan pasti menyesal. Yang kedua memang dia berhak secara profesional dia pintar. Yang lain bahlul-bahlul dia pintar sendiri. Dia ahli sudah punya pengalaman dan dia amanah. Tapi ternyata dia tidak menjalankan sesuai dengan SOP dalam aturan jabatan tersebut. gampangin tidak perhatian ya ee asal-asal kasih keputusan tidak sesuai prosedur. Ah ini namanya ini juga akan terhina dan akan menyesal. Maka saya katakan hukum asal pejabat adalah terhina dan menyesal. Penyesalan berkepanjangan. Apalagi jabatan tersebut hanya 5 tahun. Kalau dia tidak mulai persyaratan jangan coba-coba jadi pejabat. Jangan coba-coba jadi pejabat. ya, karena dia akan menyesal dalam waktu yang lama dan dia akan terhina dalam waktu yang lama. Kemudian hadis berikutnya an Abi Hura radhiallahu anhu dari Abu Hurairah radhiallahu anhu anna Rasulullah sallallahu alaihi wasallam qala Rasul sahu alaihi wasallam berkata, "Innakum satahuna alal imarah." Sesungguhnya kalian akan semangat untuk dapat jabatan wasatakunu nadamatan yaumalqiamah dan jabatan tersebut akan menjadi penyesalan pada hari kiamat. Kel arwahul Bukhari hadis riwayat Bukhari. Ya, akhi kita aja ngurus keluarga. Rasulah mengatakan roin wukum masulunati. Setiap kalian adalah pemimpin, penanggung jawab. Dan setiap kalian akan diminta perwab tugasnya. Seorang laki bertanggung jawab di rumahnya, dia katanya tentang istrinya, anak-anaknya. Seorang wanita penanggung jawab di rumahnya akan ditanya tentang urusan rumah, tentang belanja, akan ditanya oleh Allah, tentang anak-anak, tentang bibi, tentang orang rumah, akan ditanya. Ya, itu aja kita sudah bingung. Kalau ditanya tentang anak-anak, gimana ngurus anak kita. Emang mudah menjawabnya? Tidak mudah. Gimana lagi kalau ngurus banyak orang? Apalagi ngurus banyak orang. Tetapi kata Rasulullah, kalian akan semangat. Kenapa? Karena jabatan menjanjikan, menjanjikan kekayaan, menjanjikan ulu fil ard, dihormati orang ya orang enggak berani senggolsenggol kita karena kita apa? Pejabat ya. Ke mana-mana dikawal, ke mana-mana pakai patwal, tapi sudah enggak boleh pakai bunyi lagi. Ya boleh. Dulu kan kalau pakai bunyi keren. Jadi ya e mana bahkan pesawat bisa ditunda-tunda nanti belakangan setengah jam lagi saya baru datang. Ya sudah kadang harus tunda demi intinya kadang-kadang kita orang semangat. Kenapa? Karena ada kenikmatan duniawi yang didapatkan. ini jadi masalah bukan dalam rangka untuk kemaslahatan masya masyarakat ya. Maka hal inilah yang menjadikan penyesalan pada hari kiamat kelak. Tib ee bab berikutnya babu hati sultan walqadi wirihima minulatil umur alik wazirin shirul minhum. Sebelum saya lanjutkan, tadi kita sebutkan bab Imam Nawawi berkata, bab yang tadi kita bahas bab larangan untuk minta apa? Jabatan. Dan yang lebih baik adalah meninggalkan jabatan kecuali kalau dia ditunjuk atau kondisi mengharuskan dia demikian. Oleh karena dalam buku-buku fikih disebutkan asalnya tidak boleh minta jabatan kecuali dalam kondisi tertentu. Misalnya kita dikasih, kamu yang harus. ketika ditunjuk maka ya sudah dia harus kerjakan atau dia boleh mencalonkan dirinya kalau memang dia lihat tidak ada yang seperti dia calon semua gak bisa ini gimana dan dia memang niatnya untuk memperbaiki kondisi masyarakat bukan untuk duniawi, bukan untuk memperkaya diri bukan untuk ulu fil ard gak boleh kalau dalam rangka untuk dihormati kemudian dieluk-elukkan gak dia memang ini saya harus ngurus masyarakat kasihan saya punya keahlian maka dalam kondisi tersebut dia boleh memajukan diri nya saya tahu masalah ini. Biar saya yang jalanin saya punya kalian dalam hal ini. Ini boleh dalam kondisi apa? Darurat. Dalam kondisi da darurat ya. Adapun kalau kita tahu ada orang semisal kita, ya sudah mending kita tinggalin. Atau kita tahu ada yang lebih hebat, jangan coba maju. Kalau perlu kita kasih tahu dia yang lebih hebat daripada saya. Ngapain saya? Karena dia yang lebih pintar, lebih tahu maslahat apa? Masyarakat. Tapi apa ada yang seperti itu zaman sekarang? Mudah-mudahan masih ada ya. Konon ada saya diceritain ada seorang maju ketika ee pemilihan calon pejabat. Nah, ada calonnya ada empat kalau enggak salah. Semuanya maju satu cerita saya begini begini begini. Yang kedua juga pilihlah saya saya begini begini begini. Yang ketiga, maju, ada satu kawan maju dia di depan umum. Dia bilang, "Insyaallah kita semua baik, terserah kamu pilih yang mana." Dia bilang, "Semuanya baik, terserah pilih yang yang mana." Konon saya diceritain sama anak buahnya cerita dulu, Bapak ketika maju modelnya begitu. Dia maju, dia bilang, "Semua baik, terserah pilih yang mana." Tiib. Bab berikutnya babu hadis sultan walqadi wirihima minulatil umur alik wazirin saleh. Bab dorongan atau motivasi kepada sultan atau alqadi hakim atau selain keduanya yaitu yang memiliki menduduki jabatan-jabat yaitu qadi hakim kepala polisi, kepala tentara yang punya jabatan-jabatan, menteri yang semisal itu ee bupati kemudian gubernur ya semua. Al wazirin sh hendaknya mengambil pembantu atau eh pendukung menteri atau apa namanya orang dekat stafkus apa stafsus ya stafsus staf khusus yang salehah minon walqabul minhum dan memperingatkan mereka agar hati-hati terhadap teman-teman yang buruk dan jangan menerima mereka sebagai staf khusus atau jangan jangan menerima nasihat mereka karena mereka orang buruk karena di sekelilingi pejabat ada yang baik ada yang buruk. buruk. Ini sunatullah. Ada yang baik, ada yang yang buruk. Ada yang tulus, ada yang tidak tulus. Ada udang di balik batu. Bahkan terkadang orang terdekat yang disuruh diyakini ternyata pengkhianat besar. Terjadi atau tidak terjadi? Bab qallahu taala seperti biasa nawi bawakan firman Allah. Qal Allahu taala, Allah berfirman, "Alakillau yaumaidin ba'duhum liba'din aduun illal muttaqin." Dan para kekasih ya pada hari tersebut akan saling bermusuhan. Yaitu orang yang dekat, para kawan-kawan dekat pada hari tersebut saling bermusuhan satu dengan yang lain. Altaqin kecuali yang bertakwa. Ya, maksudnya ini isyarat kalau jadikan teman apalagi teman dekat jangan sembarang orang. Kalau tidak bertakwa maka akan jadi musuh. Dan kita tidak pengin nambah musuh di akhirat. tidak ingin nambah musuh di akhirat. Tapi kalau teman dekat kita adalah orang saleh akan menjadi penolong, akan menjadi pemberi syafaat ya, akan menjadi pendukung kita pada hari kiamat. Adapun teman yang tidak saleh hanya tambah musuh. Pertemanan kita bukan di atas kesalehan akan nambah musuh pada hari kiamat kelak. Maka janganlah wahai pejabat mengambil staf khusus orang yang buruk. Jangan mengambil staf khusus orang yang buruk. Kemudian Imam Nawai membawakan hadis an Abi Said wa Abi Hurairat radhiallahu anhuma dari dua sahabat Abu Said alkhudri dan Abu Hurairah radhiallahu anhuma Rasulullah sallallahu alaihi wasallam q bahwasanya Rasul sahu alaihi wasallam bersabda ma baatallahu min nabiyinakfa min khalifah illaat lahu bitatan tidaklah Allah mengutus seorang nabi atau Allah menjadikan seorang khalifah kecuali biasanya ada baginya dua orang dekat diat Satu orang dekat dua model. Bitonatun tamuruhu bil marufiuhu alaih. Orang dekat circle yang circle ring satu yang menyuruh dia untuk berbuat kebajikan dan memotivasinya untuk berbuat kebajikan. Wabitana dan ada orang-orang dekat. Sebaliknya tamuruhu bisyar watahuduhu alaih yang motivasi untuk keburukan dan menyuruh untuk keburukan. Wal maksum. Adapun yang terjaga, man asamallah, yaitu orang yang dijaga oleh Allah. Rawahul Bukhari. Ini isyarat bahwasanya hati-hati, tidak semua orang yang dekat adalah orang baik. Karena ketika seorang punya jabatan, punya uang, punya harta, terpandang, pasti banyak yang mendekat. Di mana ada gula, ada apa? Ada semut. Nah, semut itu macam-macam ya. Semut macam-macam. Mencari gula ya, Tib. Ada semut yang baik, ada semut yang tidak baik. Ada teman yang baik, ada teman yang tidak tidak baik. Ada yang menasihati untuk akhiratnya. Maka peganglah staf yang baik seperti ini. Terlihat dari ibadahnya, terlihat dari tutur katanya, terlihat dari namanya kalau kita pengin cari tahu orang baik, insyaallah Allah kasih petunjuk. Tidak semua yang perkataannya manis, yang menunjukkan pengalaman hebat kemudian niat baik. Kita belum tentu kenal orang ini, maka waspada. Ini isyarat bahwasanya harus milah-milih. Tidak semua orang dekat dengan kita, berhasil dekat dengan kita. Harus kita dengar pendapatnya. Ya. Maka Rasulullah mengatakan, "Wal maksum yang bisa selamat adalah yang diselamatkan oleh Allah." Maka ini dalil harus minta kepada Allah. Ya Allah berikanlah aku bitanah yang baik. Ya Allah aku sekarang kau jadikan aku jabatan, pejabat. Kau berikan aku jabatan, berikanlah aku penolong-penolong, bitanah-bitonah yang baik. Karena Nabi mengatakan yang ter yang yang dijaga yang terjaga dari bitonah yang buruk hanyalah yang dijaga oleh siapa? Allah. Maka itu harus minta kepada Allah Subhanahu wa taala. Betapa banyak ee apa namanya? Negara hancur gara-gara pembisik yang yang buruk. Gara-gara pembisik yang yang buruk. Ya, seperti khilafah Alabbasiyah hancur gara-gara Ibnu Al-Alqami. Ya, salah seorang pembisik khalifah. Tapi ternyata bermazhab Syiah yang kemudian menjebak khalifah akhirnya dibunuh oleh ee apa namanya? Mongol atau tatar ya. Sebagaimana kisahnya yang masyhur ya karena pembisik tidak baik ya. Ya. Padahal dekat sudah dipercaya. Makanya agar bisa selamat harus berdoa kepada Allah subhanahu wa taala bisa jadi orang terdekat. Ternyata penjahat terbesar. Ternyata dia yang menyebarkan semua rahasia. Ternyata dia yang mengirim rahasia kepada musuh. Ternyata dia yang ikut menggulingkan sang penguasa untuk ikut menjatuhkan pejabat. Ini terjadi dari jabatan tinggi sampai jabatan jabatan rendah. Seorang terjatuh gara-gara teman teman dekatnya. Ya, sekarang jadikan teman karena sama-sama hobi. Ternyata dia membisiki. Nah, kita harus minta tolong kepada Allah. Ya Allah, ini yang bisiki saya banyak. Jagalah diriku agar aku tidak terjerumus pada bitanah yang buruk. Di sini Nabi di sini di sini di sini Nabi mengatakan ma baatallahu min nabiyin. Allah tidak mengutus seorang nabi kecuali ada yang dekat-dekat buruk, yang dekat-dekat yang baik. Demikian juga khalifah. Berarti ustaz juga bisa demikian enggak? Bisa enggak ustaz ada pembisik yang baik, pembisik yang buruk? Bisa. Nabi aja bisa, apalagi ustaz. Ee pembisik yang buruk membawa dai tersebut kepada arah yang yang buruk. ya semakin duniawi semakin jauh semakin semakin semakin ternyata sangat halus karena pembisik tersebut ahli maka seorang harus waspada ya minta tolong kepada Allah subhanahu wa taala karena apalagi ustaz yang tidak punya pengalaman tidak tahu ya kemudian ada yang dekat selalu husnuzon kepada orang akhirnya ke bawah ya kita mau suruh suudon agak susah ketika husnudan ternyata kita kegiring karena kita ke kegiring akhirnya sebagaimana sebagian kejadian ada ustaz dimanfaatkan. Akhirnya karena dekat dengan ustaz, akhirnya orang kasih proyek sama temannya tersebut. Teman ustaz ternyata penipu. Akhirnya uang banyak hi hilang. Ya, ini berarti pembisik yang buruk. Dekat-dekat ustaz ada maunya supaya dipercaya sama orang. Ya, bahkan enggak usah dekat-dekat ya. Pernah ada kawan ya kawan dia ngerjain dulu rumah ngerjain rumah saya. Ngerjain rumah intinya dia kibulin saya ya. Enggak, enggak banyak ya. Paling berapa sih ya enggak banyak ya. Saya enggak usah bilang nanti antum kaget ya. Ternyata sedikit ya. Intinya sedikit intinya dia ngibulin. Saya maafinlah ya saya maafin ya sudahlah saya bilang ya dia juga cari uang. Ternyata dia foto rumah saya kemudian dia lapor ke orang ada orang ambil proyek sama dia. Saya ngerjain rumahnya Ustaz Firanda ini. Akhirnya orang itu ketipu ratusan juta. Dia lapor sama saya. Lah antum kenapa enggak tanya-tanya saya lah. Saya percaya kan dia. Ustaz enggak mungkin milih apa. Ustaz juga bahlul bisa ditipu. Akhirnya kawan kita ini ketika Ramadan dia kirim surat yang panjang ee dengan ini ya ini hati tergerak tangan apa minta maaf. Intinya kan saya sudah maafin cuma saya enggak mau bilang iya karena saya biar dia tersimpan dalam hatinya bahwasanya saya marah. Padahal saya sudah maafin cuma saya enggak jawab. Ya, karena kalau saya jawab ya sudah dimaafin aman nipu lagi nanti. Jadi maksudnya jangankan kita, Nabi pun ada yang mendekati yang buruk maupun yang api kita ustaz lemah, dai lemah ya lemah dekat orang macam-macam punya keinginan ada udang di balik rerempe ya maka waspada tib. Hadis berikutnya an Aisyah radhiallahu taala anha qalat qala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam idza aradallahu bil amiri khair ja'alah lahu wazir sidqin jika Allah menghendaki bagi seorang penguas seorang amir kebaikan maka Allah jadikan Allah buat bagi dia ada penolong yang baik wazir itu penolong ya menteri atau orang-orang dekat staf khusus yang baik wainasakarahu kalau sang amir lupa maka temannya ini akan mengingatkan waidakaro aanahu kalau sang amir beringat kebaikan maka dia akan bantu dia akan motivasi dia bantu dan dia tulus ada orang seperti tulus ya waza ar bihialik jaalahu su adapun kalau Allah keburukan bagi seorang amir Allah jadikan bagi dia penolong atau staf khusus yang buruk inasya lam yudakiru kalau dia lupa kebetulan amir lupa dia enggak diingatin wainakaro kalau amirnya lupa lam yuinu maka dia tidak kalau akhirnya amirnya ingat kebaikan tidak dibantu oleh staf khusus tersebut rawahu Abu Daud bisnadin jayid syarti muslim. Hadis riwayat Abu Daud dengan sanad yang baik sesuai dengan kriteria Sahih Muslim. Ya. Tib terakhir babun nah an tauliyatil imarati walqad wirihima minal wilayat liman saalaha haras alaiha faar biha. Bab larangan untuk mengangkat atau memberikan jabatan atau memberikan ee apa namanya? kedudukan sebagai hakim atau yang semisalnya jabatan-jabatan yang tinggi seperti ini, sebagai amir, sebagai pejabat, sebagai menteri, sebagai hakim, sebagai bupati dan jabat-jabat yang lain kepada orang yang minta. Minta atau tidak minta secara lisan, tapi haraso alaiha. Perhatikan Imam Nawawi detail. Dia bilang mungkin ada tiga ada tiga model. Pertama, minta terang-terangan. Saya dong jadi hakim, saya dong jadi pejabat. Ini kata Imam Nawawi, jangan kasih. Yang kedua tidak minta tapi semangat. Wah sedikit. Wah iya memang ustaz semangat kelihatan semangat. Kita bisa firasat ini semangat banget mau jadi hakim semangat banget mau jadi Pak Camat ini. Ini kayak semangat enggak dikasih karena kalau orang semangat kenapa kita tidak kasih? E kenapa tidak dikasih? Memang saya mau kasih. Saya enggak punya apa-apa ya. Kenapa semangat tidak dikasih? Karena kalau dia semangat dia akan menjaga apapun dilakukan dia akan menjaga jabatannya. Sehingga yang menjadi perhatian adalah apa? Jabatan. Bukan mikir masyarakat, tapi mikir jabatan. Jadi semangat untuk jadi pejabat. Yang ketiga, faarad biha atau yang tidak minta, tidak ngomong tapi nyindir-nyindir. Nyindir-nyindir. Nyindir-nyindir. Ya, misalnya ee bupati lagi cari staf khusus terus dia bilang, "Paling bagus Pak Bupati kalau staf khusus itu orang dekat." Maksudnya dia orang dekat. Itu yang dekatnya bagaimana? Ya maksudnya yang gemuk berkacamata. Pak misalnya artinya dia sindir-sindir ini nyindir enggak enggak usah dikasih enggak usah dikasih bab dalilnya apa saya bacakan an Abi Musa alas radhiallahu anhu qala dari Musa alas dia berkata dakaltu alan Nabi sallallahu alaihi wasallam wa ana warajulani min bani amm dan dua orang dari sepupu-sepupku yaitu dari satu suku tiga orang kami bertiga. faqala ahaduhuma. Maka salah satunya dari dua orang tadi berkata, "Ya Rasulullah, amirna ala ba' ma wallakallahu azza waalla." Ya Allah, jadikanlah aku sebagai amir pada sebagian wilayah atau jabatan yang Allah telah serahkan kepada engkau. Waqal akalik, "Saya juga ya Rasulullah." faqala kata rasulah wasallam in wallahi nuwal ahadanalahu kata nabi sungguh kami demi Allah tidak bakalan akan angkat pejabat bagi orang yang minta-minta ahadan harai atau seorang yang tidak minta tapi semangat untuk mendapatkannya tidak bakalan kami kasih muttafun alai ini dalil bahwasanya untuk urusan jabatan kita kalau kasih jabatan ke orang kita juga ditanya oleh Allah bukan bahkan kita kasih selesai urusan gak kau milih itu juga ditintai pertanyaan oleh Allah subhanahu wa taala. Maka jangan sembarang bilih asal nunjuk aja, asal nunjuk aja ya kau nunjuk kok akan dimintai jawab bertanggung jawaban oleh Allah Subhanahu wa taala. Dan dalam memberi jabatan tidak boleh ada enggak enak enggak enak pekew-pekewuhu ini karena keluarga ini karena ini karena hutang budi. Enggak ada hutang-hutang budi dalam urusan ini. Enggak boleh hutang budi kemudian jadi punya. Enggak boleh. Yang ada ini ahli atau tidak. Kalau kau pilih yang tidak ahli, binasa kau hari kiamat kelak. Jadi yang binasa bukan yang diangkat aja, yang milih juga gak boleh sembarang. Yang milih juga enggak boleh sembarang. Ya tentunya ketika ada ini tentunya tidak ada yang sempurna. Maksud saya kalau antum jadi pejabat terus ada angkatan abu antum lihat ada tiga calon semuanya buruk tapi ada yang lebih baik. Antum harus berpikir mana yang lebih baik untuk rakyat, untuk masyarakat bukan karena teman saya, adik saya. Kalau kebetulan yang antum lihat yang terbaik adalah saudara antum, enggak ada masalah. Ya, enggak ada masalah. Kebetulan baik ya. Seperti Muawiyah radhiallahu anhu, dia sudah jadi gubernur di zaman Umar. Ketika zaman Utsman tetap dilanjutkan. Ya, kebetulan Muawiyah dan Utsman ada hubungan apa sama dari Bani Umayyah. Tapi bukan karena bukan karena Pek-PU, karena Muawiyah sebelumnya sudah ditunjuk oleh Umar yang tidak ada hubungan. Umar dari Quraisy tapi Adawi. Kemudian Muawiyah dari Umawi. Sama-sama Quraisy tapi beda ya. Maka gak boleh ada PKU-PKU dalam urusan ini. Karena ketika kita milih, kita akan ditanya oleh Allah Subhanahu wa taala. Sama seperti rakyat ketika memilih akan ditanya oleh Allah Subhanahu wa taala. Suaranya tidak boleh dibeli. Ada serangan fajar, kemudian serangan magrib, serangan ee sepertiga malam yang terakhir. Ah, antum pilih antum ditanya oleh Allah Subhanahu wa taala. Maka hukumnya haram. Berarti kita diriswah, kita diibarah, kita terima terlaknat ya. Hati-hati enggak boleh ya, Ustaz. Kalau saya ambil aja tapi saya enggak pilih. Ini kasihan maksudnya sudah ambil diambil tuh hadiah bersyarat. Kau ambil dengan syarat kau pilih apa? Saya. Sama-sama ngerti enggak? Dia bukan bagi gratis. Secara urf dia kasih hadiah bersyarat kau ambil dengan syarat kau pilih saya. Begitu ambil kita enggak pilih dia buat beli nasi goreng. Ustaz aduh repot. Enggak usah uang syubhat. Uang apa? Syubhat. K tanya, "Ustaz, gimana yang bawain? Yang bagi-bagiin sama kerja sama." Maka kita hidup di zaman sekarang beraman dulu. Kalau zaman sekarang luar biasa seorang mencalonkan dirinya, mengelu-lukan dirinya, memuji-muji dirinya, merendahkan pihak lawan. Lengkap semua janji bertumpuk-tumpuk. Ini gimana hari kiamat nanti? Alhamdulillah antum rakyat jelata. Alhamdulillah. Saya bilang, "Enggak gampang loh. Antum maju, antum eluk-elukan, bahkan foto aja di Photoshop apa di apa?" Iya, di Photoshop ya. Ya, tambah cantik, tambah ganteng, tambah anu, tambah kurus macam. Kemudian belum muji-muji saya gini, saya akan ini jelek-jelekan yang lihat lawan kita pendusta gini gini gini. Kalau ada aibnya dibongkar, wah sudah ngeri. Semua pelanggaran dilakukan. Setelah itu minta-minta, "Pilih saya, pilih saya. Janji ada 100, janji yang dikerjakan 101. Bohong semua. Ngeri ngeri, ngeri. Janji ini, janji ini, janji ini, janji ini. Ngeri. Ini gimana kalau hari kiamat kelak? Kemudian kalau punya uang beli suara. Ini rakyat dibohongi. Sudah ada kelompok rakyat milik dia ini. Kemudian kepemimpinannya jual suaranya kepada kelompok lain. Ini kan enggak berkhianat kepada rakyat. Ini gimana? Hari kiamat nanti semua hadis Nabi dilanggar. Tidak ahli. Yang penting pandai ngelobi. Ya sudahlah. Alhamdulillah. Ini sekedar nasihat. Kalau mau jadi pemimpin mikir-mikir. Kalau bisa alhamdulillah antum bertakwa ee dapat surga surga yang tinggi. Tapi kalau antum enggak bisa, jangan coba-coba. Mending jadi rakyat apa? Jelata, jualan gorengan. daripada masuk kemudian ternyata musibah besar, antum tidak bakalan mampu untuk menjawab pertanyaan Allah dan hanyalah kehinaan dan apa? Penye penyesalan. Tapi demikian saja. Wabillahi taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.