Transcript
VwXYePkVwmU • Kitab Ath-Thahawiyah #41: Sikap Yg Benar Dlm Mengkafirkan & Menyikapi Pelaku Dosa (Bag-3)
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2599_VwXYePkVwmU.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullah.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu
ala taufqihin asadu alla ilahaillallah
wahdahu la syarikalahuiman
wa asadu anna muhammadan abduhu rasul
ridwih allahumma sholli alaihi waa alihi
wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin dan
hadirat yang dirahmati Allah subhanahu
wa taala. Pada pertemuan kemarin kita
telah menyinggung bahwasanya dosa-dosa
ada tiga macam. Ada dosa-dosa yang
dilarang oleh syariat tapi tidak
mengkonsekuensikan tarquul iman. Inilah
yang dimaksud oleh perkataan thahawi ya.
Wala nkafir ahadan min ahlil qiblah
bidzambin. Kami tidak mengkafirkan
seorang pun ee orang beriman dengan satu
dosa kecuali dia menghalalkannya. Adapun
jika dosa-dosa melazimkan batalnya iman
ya seperti yang kita sebutkan kemarin
atau juga tidak meyakini wajibnya
perkara yang wajib yang jelas, tidak
meyakini haramnya perkara-perkara yang
halal haram yang jelas maka ini
mengkafirkan. Jika seorang pun
terjerumus dalam model dosa ee
jika seorang pun terjerumus dalam model
dosa dua dan ketiga, maka juga tidak
otomatis dikafirkan.
Maka harus iqamatul hujjah dan izalatus
syubah. Ya, perhatikan ini. Ee jika
terjerumus pada model kedosa kedua atau
ketiga ya.
atau ketiga
yang bisa mengkafirkan, maka tidak
otomatis kafir ya. Karena lagi pula
pengkafiran harus pertama terpenuhi
syarat, yang kedua
hilangnya penghalang. Ya, hilangnya
penghalang. Adapun syarat disebut oleh
para ulama seperti Ibnu Taimiyah dan
yang lainnya iqamatul hujjah, menegakkan
hujah. Kenapa harus ditegakkan hujah?
Karena Allah berfirman, w kunna
muadzibina hatta naba rasulah. Kami
tidak akan mengazab sampai kami utus
seorang rasul. Ya, kalau tidak ada yang
menyampaikan, tidak ada hujah, maka
tidak mungkin seorang diazab oleh Allah
subhanahu wa taala. Dan di zaman kita
tidak ada rasul, tapi yang menyampaikan
risalah para rasul. Yaitu intinya harus
sampai dakwah kepada mereka baru bisa
dikafirkan. Jika tidak sampai kepada
mereka maka tidak bisa dikafirkan. Yang
kedua Allah juga berfirman, "Kullama
ulqiya fiha faujun saalahum khazanatuha
alam yatikum nadir q bala q jaa nadirun
fakadzabna."
Ya, setiap kali dilemparkan dalam neraka
sekelombongan orang, maka penjaga neraka
bertanya, "Apakah tidak datang kepada
kalian pemberi peringatan?" Mereka
mengatakan, "Justru telah datang pemberi
peringatan, namun kami mendustakannya.
Berarti tidaklah mereka dimasukkan ke
neraka kecuali setelah datang pemberi
peringatan. Makanya para ulama
mengatakan harus ada iqamatul hujjah dan
harus izalatus syubhah. Menghilangkan
syubhat. Ini sering disampaikan oleh
Ibnu Taimiyah. Kalau ada seorang mukmin
kemudian dia melakukan kekufuran maka
tidak boleh kita kafirkan kecuali
setelah kita tegakkan hujah dan kedua
kita hilangkan apa? Syubhat.
Oleh karenanya Ibnu Taimiyah menukil
ijma ulama
ya. Ijma ulama
bahwa
dua model orang
tidak dikafirkan
meski melakukan kekufuran.
Meski melakukan kekufuran.
dua orang tersebut. Yang pertama ini
yang pertama yang tinggal di Badiyah di
dusun yang tinggal
di dusun
jauh dari sumber ilmu. Jauh dari sumber
ilmu.
Yang kedua yang baru masuk Islam.
Jadi ada orang dia secara zahir dia
Islam, dia mengatakan syahadatain.
Tapi mungkin misalnya dia menganggap
khamar itu halal, dia enggak tahu.
Enggak ada yang pernah bilang khamar itu
apa? Ha? Haram. Dia enggak tahu. Oh, dia
kan sudah lama Islam ya. Tapi dia selama
Islam dia enggak tahu, enggak ada yang
pernah nyampaikan. Maka orang ini
sepakat ulama dia tidak kafir karena dia
beruzur. Dia beruzur.
Yang kedua demikian juga yang baru masuk
Islam. baru masuk Islam banyak hal yang
dia belum tahu. Dia baru masuk, dia baru
menata ilmunya. Banyak hal-hal yang dia
tidak tahu. Ternyata ini syirik,
ternyata ini kufur. Dia belum tahu.
Sehingga kalau dia terjerumus masih
diberi apa? uzur. Oleh karenanya Ibnu
Taimiyyah mengatakan, "Seorang yang
diberi uzur adalah alladzi lam yatamakan
yang tidak bisa mendapatkan ilmu." Tidak
bisa mendapatkan ilmu. Di antara
sebabnya adalah dia tinggal di pedesaan
jauh jauh dari sumber ilmu. Yang kedua,
dia mungkin baru masuk Islam sehingga
tidak sempat untuk banyak belajar.
Meskipun yang pertama ini sekarang sudah
semakin sulit karena sekarang sumber
informasi di mana-mana. Tapi mungkin
terbayangkan seorang misalnya tinggal di
pedalaman
Afrika atau pendalaman Eropa ya. Ya.
Kemudian dia apa namanya? Islamnya
mungkin nenek moyang dia dulu sehingga
cuma tahu segitu Islam sunyi secuil.
Saya pernah ketemu dengan seorang Syekh.
Dia pergi ke perbatasan Cina. Di sana
orang tidak tahu salat Jumat itu wajib.
Orang tidak salat Jumat. Ini zaman
sekarang.
Ini zaman sekarang. Mungkin dia
informasi pun enggak ngerti karena
bahasa Cina ya.
informasi mungkin belum tentu ada
internet karena jauh dari kampung
sehingga tidak ada internet, tidak ada
apa-apa sehingga sebagian mereka
menganggap salat Jumat tidak apa tidak
wajib. Padahal perkara yang semua orang
tahu tapi dia tidak tahu karena Islamnya
lama-lama pudar dan tidak ada yang
ngajarin dan mereka itu mau berkembang
tanpa ada yang mengajari. Ini contoh
tinggal di desa yang sangat sangat jauh
dan itu mungkin ada tapi mungkin semakin
sedikit ya. Seper tadi saya gambarkan di
perbatasan Cina jauh. Kalau mau ke sana
harus offroad jauh sekali harus jalan
lagi. Internet tidak ada, informasi pun
dia tidak mereka tidak mengerti kecuali
bahasa Cina. Sehingga kemungkinan banyak
hal mereka tidak ngerti. Sementara
mereka syahadatain. Tapi mereka
bagaimana hukumnya mereka muslim. Dan
ini ijma ulama. Ijma ulama. Adapun
selain daripada ini maka ini mahal
ijtihad. Maksudnya orang berijihad
apakah dia mungkin dikasih uzur atau
tidak. Ini khilaf di kalangan para
ulama. Apakah mungkin kita kasih uzur,
salah sendiri dia tidak mau cari ilmu?
Ee macam-macam ya. Oleh karenanya
Syekh Muhammad Abdul Wahab rahimahullah
berkata, "Aku tidak mengkafirkan orang
yang menyembah berhala di kuburan
Sayyidal Badawi liadami man yunabbihuhu
ala dalalik." Karena tidak ada yang
mengingatkannya sehingga aku tidak bisa
kafirkan. Ya, padahal dia orang Islam
lama, tinggal di Mesir lama tapi dia
enggak ngeh kalau ternyata ini syirik.
Dia enggak ngeh. Karena semua orang
bilang ini justru tauhid. Minta lewat
wali justru itu apa? Tauhid. Kalau
pengin cepat minta jangan langsung
minta. Minta lewat apa? Wali-wali.
Sehingga dia enggak pernah ngeh itu apa?
Syirik. Kata Syekh Abdul Wahab, "Saya
tidak bisa kafirin orang seperti ini."
Kenapa? Karena kemungkinan dia tidak
sampai ilmu kepadanya. Jangan bilang,
"Kenapa dia tidak cari ilmu?" Dia tidak
tahu kalau ini salah sama sekali. Tidak
terbetik kalau ini apa? Salah. Tidak
terbetik. Bagaimana kita bilang dia
enggak ada uzur? Sama Ibnu Taimiyah
sering bilang juga kalau perkata ini
sampaikan ya saya saya sudah sampaikan
kepada ulama mereka kepada qadi-qadi
mereka kalau saya ucapkan saya kafir
tapi kalau mereka enggak.
Dan ini semua saya nukil dalam ee buku
syarah akidah wasitatyaah jilid 5. Bisa
antum baca kembali tentang ee uzur bil
Jahl. Ya, intinya secara umum ada uzur
bil Jahl yang disepakati. Adapun selain
daripada dua model ini maka ini ijtihad.
Ada yang mengatakan tidak ada uzur, ada
yang mengatakan uzur. Kembali kepada
ijtihad masing-masing. Masing-masing
bertanggung jawab dengan ee vonisnya.
Kemudian ini terpenuhi syarat, ya. Yang
kedua, hilangnya penghalang. Hilangnya
penghalang ini juga semakin sulit
seorang di ee kafirkan karena bisa saja
dia terjerumus dalam
kekufuran tapi ternyata dia ada banyak
penghalang.
Contoh tadi karena kebodohan. Sudah kita
singgung tadi. Karena kebodohan ya.
Kebodohan misalnya dia tinggal di
pedalaman yang baru masuk Islam tidak
ngeh sama sekali karena takqlid. Ini
bodoh dia. Dia lam yatamakan. Dia tidak
sempat untuk bisa apa? Nuntut ilmu
sehingga informasi tidak sampai kepada
dia sehingga akhirnya terjerumus dalam
karena kebodohan. Contoh dia melakukan
kekufuran karena kesalahan tidak
sengaja. Khatab maksudnya kesalahan
dalam kurung tidak sengaja.
Tidak sengaja
seperti kisah pemilik unta yang ketika
dia terjebak di tengah padang pasir
kemudian untanya pergi. Setelah itu dia
merasa bakalan meninggal dunia.
Tiba-tiba untanya muncul lagi. Saking
gembiranya dia pegang tali kengkang
untanya. Dia berkata, "Allahumma anta
abdi wa an rbuk." Ya Allah sungguh saya
bersyukur kepada Engkau. Benar engkau
adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu.
Salah ngomong kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam ak minidatil farah. Dia
salah ngomong karena saking apa
gembiranya. Ucapan yang dia ucapkan
kufur atau bukan? Kufur. Dia bilang
Tuhan ya Allah engkau hambaku. Aku
Tuhanmu. Salah ngomong. Saking
gembiranya apakah dia kafir? Enggak.
Karena dia salah ngomong. Dia tidak
sengaja. Seang terkadang kepleset
ngomong. Ngomong tentang Allah. Salah
ngomong. ngomong biasa kepleset ngomong
apa tidak sadar apa yang dia omongkan
tidak sadar apa yang dia omongkan itu
namanya manusia tidak ada maksud
yang ketiga misalnya iqrah dipaksa
seperti kisah Ammar bin Yasir Ammar bin
Yasir ketika Yasir dibunuh bapaknya
Sumayyah ibunya juga dibunuh dia tidak
dibunuh karena dia berkata-kata kufur ya
sehingga turun ee
ayat yang membela Amr bin Yasir ya
sampai kalau dia disuruh lagi, silakan
ulangi lagi, tidak jadi masalah. Ya,
maka dia mengucapkan kata-kata kekufuran
karena diancam untuk dibunuh. Kalau
tidak ucapkan kata kufuran maka dia akan
dibunuh.
Ya.
Yang keempat
adalah ee
dia ada takwil-takwil yang salah. Takwil
yang salah seperti kisah
ee Qudamah bin Maz'un ya.
Saya bacakan kisahnya. Qudam bin Madun
ini ya, dia minum khamar bersama
beberapa kawan-kawannya
dengan menganggap bahwasanya khamar
adalah
halal. Khamar adalah apa? Halal. Ya.
Dia mentakwil firman Allah Subhanahu wa
taala dalam surah Al-Maidah ayat 93. Ya
Quran surah Al-Maidah ayat 93.
Jadi ada Rasulullah ditanya ya ketika
turun haramnya khamar. Haramnya khamar
termasuk belakangan dan turun di dalam
surat Almaidah. Innamal khamribu
laumflihun.
Sesungguhnya khamar haram intinya.
Jauhilah semoga kalian beruntung. Maka
sebagian sahabat ada yang sudah
meninggal.
Dan mereka dulu minum khamar karena
khamar dulu belum diharamkan.
Maka ketika turun khamar, turun ayat
pengharaman khamar, sebagian sahabat
tanya, "Ya Rasulullah, bagaimana
teman-teman kita yang dulu minum
khamar?"
Ini perbuatan setan ya.
Min amali setani fajitanibuhu. Perbuatan
setan. Maka tinggalkanlah mereka
bagaimana sudah meninggal dunia ya ee
sementara mereka minum khamar dan mereka
belum sempat bertobat karena dulu mereka
menyangka adalah karena dulu memang
belum diharamkan. Maka turunlah firman
Allah laisa alalladina amanu wailus
shihati junahun fima thimu mattaq waaman
wail shihatiqahsan
dan seterusnya. Kata Allah Subhanahu wa
taala,
"Tidak mengapa bagi orang-orang yang
beriman dan beramal saleh terhadap apa
yang mereka makan jika mereka
idamattaqwa amanu wail shihat." Jika
mereka bertakwa dan beriman dan beramal
saleh. Ini maksudnya kepada yang sudah
meninggal dulu mereka bertakwa dan
mereka minum khamar karena dulu khamar
memang belum diharam haramkan. Nah,
didengar oleh sahabat mungkin salah
dengar akhirnya bilang, "Yang penting
kita bertakwa khamar gak apa-apa yang
penting bertakwa. amal saleh minum
khamar. Akhirnya mereka minum khamar.
Mereka minum khamar ya
ee yaitu Qudamah bin Maz'un ya dan
sekelompok teman-temannya. Ada beberapa
orang yang juga minum khamar. Akhirnya
hal ini disampai sampai kepada Umar bin
Khattab. Maka Umar bin Khattab dan Ali
bin Abi Thalib dan seluruh sahabat ya ee
apa namanya?
Ee kalau tanya mereka, kalau mereka
mengakui keharaman mereka, maka mereka
akan dicambuk. Kalau mereka tetap
mengatakan halal, maka mereka akan
dibunuh. Ya. Eh, maka Umar menegur
Qudamah. Kata Umar, "Ama innaka laqa
waanta wail shihat lam tasrabul khamar."
Ayat ini maksudnya kalau kau bertakwa,
kalau kau beriman, kau beramal saleh,
kau tidak akan minum minum khamar. Ya,
karena ayat ini sudah turun untuk
orang-orang se sebelumnya
TB.
Akhirnya mereka pun berhenti. Mereka
tidak tahu kalau itu ternyata bukan
begitu paham ayat tersebut. Jadi mereka
salah paham. Mereka mentakwil ayat yang
harusnya tafsirannya bukan bukan
demikian. Akhirnya ketika mereka sadar
eh nadimu wa alimu, mereka pun menyesal
dan mereka tahu bahwasanya mereka
bersalah. Justru waisu minah dan mereka
kayaknya kita enggak bakalan diterima
tobatnya oleh Allah. Saking takutnya
mereka kepada Allah karena mereka
ternyata salah. Sudah minum khamar lama
mungkin baru ketahuan sama Umar. Mereka
merasa bersalah. Maka Umar nasihati
Qudamah bin Mad'un dengan membawakan
surat eh gofir him tanzil
kitaballahilambi
waqad.
Ya, bahwasanya Allah adalah gofiriambi
waq. Allah maha mengampuni dan menerima
taubat. Kemudian kata Umar, "Maari
muharam awalan amahillahian."
Saya tidak tahu dosamu mana yang lebih
parah wahai Qudamah. Dosa kau pernah
menghalalkan khamar atau dosa kau putus
asa dari ampunan Allah subhanahu wa
taala. Akhirnya dia pun ee apa namanya?
Ee bertobat ya. Dan jadi maksud saya ee
ini di antara penghalang meskipun
seorang terjerumus dalam
dosa yang mengkafirkan,
maka bisa jadi ada tak takwil yang
menghalangi mereka untuk dikafirkan.
Oleh karenanya ada perkara-perkara yang
seorang dikafirkan tidak perlu untuk
diiqamatil hujjah.
Misalnya dia tinggal di negeri kaum
muslimin dan dia dulu salat, tiba-tiba
dia bilang salat tidak wajib. Ini kafir
gimana ya? Tiba-tiba dia bilang salat
tidak wajib. Tidak perlu ini kamu kafir
tinggal kita suruh dia bertobat. Seperti
ini tidak perlu iqamatul hujjah ya. Ini
sudah jelas dia mengingkari sesuatu yang
merupakan landasan orang Islam
bahwasanya ee namanya salat itu wa
wajib. Demikian juga kalau ada yang
mengatakan orang Nasrani, Yahudi,
Buddha, Hindu, semua masuk surga. Ini
enggak perlu kita ikumatil hujjah.
Orang seperti begini langsung keluar
dari Islam. Yang kita perlu kita suruh
mereka bertobat. Karena ini mereka
mengingkari hal yang sudah orang semua
sudah tahu. L ngapain Nabi berdakwah
kalau kalau ternyata semua masuk surga?
Nabi kurang kerjaan. Kalau semua orang
masuk apa? Surga.
Semua masuk surga.
Enggak ada yang masuk neraka. Semua
masuk apa? Sur surga. Ya. Kalau syirik
enggak apa-apa kok. Yang disembah juga
adalah Allah. Enggak apa-apa menyembah
Nabi Isa, Isa juga Allah. nyembah
berhala. Berhala juga Allah. Semua
ciptaan Allah. Semuanya menggambarkan
tentang keesaan Allah. Sudah ini seperti
gini gak perlu iqamatul hujah. Tinggal
kita suruh mereka bertobat. Yang
iqamatul hujah itu yang tidak sampai
hujah kepadanya atau ada syubhat seperti
kesalahan seperti begini sudah jelas
langsung bisa mengkafirkan. Ya
tayib. Oleh karenanya para ulama
membahas antara takfirul mutlak dengan
takfir almayyan. Takfir mutlak itu hukum
perbuatan kafir. Adapun ketika vonis
persoon per persoon maka butuh terpenuhi
syarat dan hilangnya penghalang.
Ya, butuh terpenuhnya syarat dan
hilangnya penghalang. Ya,
paham sampai sini.
Dari sini semakin menyulitkan ee seorang
tidak mudah-mudah mengkafirkan
orang-orang orang lain. Ya, tidak mudah
mengkafirkan orang lain. Tapi boleh
mengkafirkan kalau memang sudah
terpenuhi syarat dan hilangnya
penghalang. Wallahuam bisawab.
Tib kita lanjutkan.
Kemudian kita lanjut ee perkataan
At Thaahawi rahimahullah. Wala naquulu
la yadurru maal imani dambun liman
amilahu.
Eh la yadur maal imaniambun liman
amilahu.
Yaitu perkataan kami tidak berkata. Kami
tidak berkata dosa tidak memberi mudarat
kepada pelakunya jika beriman.
Ahlusunah mengatakan bahwasanya dosa
pasti memberi pengaruh. Adapun murjiah
mengatakan
yang gulat murjia ekstrem mengatakan
yang penting kau beriman dosa apapun
tidak mempengaruhi.
Pendapat ini, perhatikan pendapat ini
dinisbahkan kepada sebagian murjiah.
Akan tapi tidak diketahui siapa
tokohnya.
Tapi tidak semua murjiah. Tidak semua
murjiah. Murjiah banyak macam. Murjiah.
Banyak macam ya. Jadi, ada murjiah
gulat, ada murjiah ekstrem, ada murjiah
yang biasa ya, ada Karamiah, ada
Asyairah, ada Jahmiyah. Berbagai macam
model murjiah.
Adapun Murjiah yang mengatakan dosa
tidak punya pengaruh terhadap iman sama
sekali, maka ini dinisbahkan kepada
sebagian murjiah. Namun kata Ibnu
Taimiyah, saya tidak tahu siapa
pengucapnya, tokohnya siapa, enggak
tahu. Cuma ketika ahlusunah membantah
perkataan mujah, di antaranya mereka
membantah perkataan ini. Berarti
perkataan ini pernah ada.
Cuma siapa pengucapnya tidak dikenali.
Ini disebut Ibnu Taimiyah dalam Majmul
Fatawa jilid 7181.
Beliau mengatakan ada tapi bukan semua
perkataan murjiah. Karena murjiah yang
lain mengakui bahwasanya dosa punya
pengaruh. Dosa punya pengaruh. Mereka
hanya permasalahan dalam definisi iman.
Bahwasanya iman hanyalah tasdik, hanya
pembenar. Insyaallah kita akan bahas
pada kesempatannya. Tetapi mereka
sepakat bahwasanya dosa punya pengaruh.
Yang mengatakan dosa tidak mempengaruhi
iman sama sekali. Ini hanya sebagian
murjiah, yaitu murjiah yang ekstrem.
Adapun ahlusunah, dosa pasti memberi
pengaruh terhadap iman pelakunya ya di
dunia apalagi di akhirat. Dan yang
paling membahas panjang lebar adalah
Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya
Addawa Add Waddawa. Addwaddawa atau
Jawabul Kahfi. Aljawabul Kahfi ya. Ee
beliau menyebutkan tentang puluhan
dampak dari maksiat di dunia maupun di
di akhirat ya.
Dan dampak yang pertama adalah menimpa
hati sese seseorang.
Mungkin orang bilang dampak maksiat
terkait ekonominya, terkait dengan
kesehatan. Enggak dampak pertama
mengenai hatinya. Hatinya kata Rasul
sahu alaihi wasallam,
innal abda idamaamban
[Musik]
nuqitat fiqbihi nuktatun sauda.
Sesungguhnya seorang jika melakukan dosa
maka ternoda dalam hatinya satu titik
noda hitam. Ya. Dan kalau sudah ada
titik-titik hitam, maka pengaruh
hatinya. Mungkin dia tidak semangat
ibadah, mungkin dia futur, mungkin dia
jadi candu maksiat, banyak hal. Jadi
jangan sangka bahwasanya dosa mungkin
jadi miskin. Banyak orang pendosa malah
kaya raya. Banyak. Tidak banyak. J
mungkin khusyuk susah. Khusyuk susah.
Tawakal kepada Allah susah. Justru
pertama kali yang diserang oleh dosa
adalah apa? Ha? Hati. ini terpengaruh di
di di dunia ya tentang kebahagiaan dia,
tawakal dia, husnudan dia kepada Allah.
Makanya kata Ibnu Qayyim kenyataan
menunjukkan pelaku maksiat susah
husnudzan kepada Allah. Susah karena
hatinya sudah ternoda dengan banyak
titik-titik hitam. Di akhirat tentu dosa
punya pengaruh bisa mengakibatkan azab
bagi pelaku-pelaku dosa tersebut. Ya.
Maka di sini ee
At Thaahawi mengatakan, "Kami tidak
mengkafirkan pelaku dosa selama dia
tidak menghalalkannya." Ya, sebagaimana
perincian yang kita sebutkan pada
pertemuan lalu. Namun kami juga tidak
berkata bahwasanya dosa tidak punya
pengaruh. Yang benar dosa pasti punya
apa? Pengaruh. Wal bud kata Ibnu Qayyim,
pasti punya pengaruh. Enggak mungkin
enggak. Dosa itu pasti punya pengaruh
dan pengaruhnya bisa langsung dalam
hati. Adapun efek belakangan terkait
dengan kehidupan misalnya tentang
kesehatan, tentang ee hal-hal lain bisa
jadi belakangan, tapi akan ada dampaknya
seperti racun. Racun kalau masuk tidak
langsung memberi efek sedikit-sedikit
sampai akhirnya mematikan. Dosa seperti
itu. Kalau tidak segera bertobat, dia
akan akumulasi kemudian berikan efek
yang dahsyat tanpa disadari oleh ee
pelakunya. Maka seorang kalau berdosa
segera bertobat kepada Allah Subhanahu
wa taala.
Dan di akhirat seorang melakukan dosa
paling tidak akan di
ingatkan oleh Allah Subhanahu wa taala.
Ya, makanya Fudhail bin Iad berkata,
"Waata
minka wain af."
Malu kepada Engkau ya Allah meskipun kau
ampuni. Ya, karena dalam sebagian
riwayat Allah mengatakan, "Wahai fulan,
bukankah kau pernah melakukan ini?
Melakukan dosa ini kata dia, Naam."
"Benar ya Allah. Bukankah pernah
melakukan dosa ini di tempat ini."
"Benar, ya Allah."
Jadi dosa-dosanya Allah ingatkan ini
sudah hal yang sangat memalukan.
Ketika dia bertemu Allah kemudian Allah
ingatkan tentang dosa-dosa yang dia
lakukan meskipun dimaafkan sungguh
memalukan.
Jadi dosa pasti berdampak
Tib. Setelah itu ee At Thaahawi
melanjutkan
ee pernyataan tentang pernyataan beliau
tentang akidah. Beliau berkata,
"Warju lil muhsinina minal mukminin an
yafua anhum." Dan kami berharap bagi
orang-orang yang berbuat baik dari
kalangan kaum mukminin agar Allah
mengampuni mereka.
Wudukilumul jannah. Dan agar Allah
memasukkan mereka dalam surga
birahmatihi dengan rahmat Allah
Subhanahu wa taala. Wamanu alaihim.
Namun kami tidak merasa aman atas
mereka. Ya, kami berharap tapi belum
tentu mereka masuk surga. Artinya ada
orang saleh-saleh kata mereka orang
saleh dari kalangan mukminin. Kami
berharap dosa mereka semua diampuni
dan semoga Allah mengukkan mereka dengan
dalam surga ya. Namun kami tidak merasa
aman terhadap mereka karena belum tentu.
Kenapa? Yang kita lihat cuma zahirnya.
Kita enggak tahu amal batinnya. Kita
enggak tahu bagaimana hakikatnya di sisi
Allah Subhanahu wa taala. W nasat lahum
bil jannah. Dan kami tidak akan
mengatakan mereka ee pasti mau surga.fir
liihim. Dan kami mohon ampunan buat para
pelaku dosa di antara mereka. Waakhafu
alaihim. Dan kami khawatir mereka masuk
neraka. Wala nuqnituhum. Namun kami
tidak mengatakan pasti masuk neraka.
Kami tidak buat mereka putus asa. Kami
tidak buat mereka pasti e untuk putus a
putus asa.
Tapi di sini ada banyak pembahasan. Ada
pertama ee kalimat pertama, kami
berharap bagi orang yang baik untuk
masuk diampuni oleh Allah dan masuk
surga. Namun kami tidak merasa aman
terhadap mereka. Bukan berarti mereka
pasti masuk surga. Makanya kami tidak
mempersaksikan mereka pasti masuk surga.
Orang pelaku maksiat kami harapkan agar
Allah ampuni dosa-dosa mereka dan kami
khawatir atas mereka tapi kami tidak
memastikan mereka masuk neraka.
Jangan buat mereka putus asa. Karena
urusan surga dan neraka urusan siapa?
Allah Subhanahu wa taala. Tib.
Kita bahas sekarang ya kaidah-kaidah
terkait pernyataan di atas.
Saya ulangi, orang yang baik kita
berharap mereka masuk sur surga. Kami
kita berharap diampuni dosa-dosanya.
Namun kita tidak merasa mereka pasif.
Kita tidak merasa aman atas mereka
karena belum tentu mereka masuk surga.
Kenapa? Karena kita tidak tahu hakikat
amal mereka. Pertama, amal mereka
diterima atau tidak kita enggak tahu.
Amal zahirnya terima atau tidak kita
enggak tahu. Terus amal batin mereka
kita tidak tahu. Yang kita lihat cuma
zahir. Enggak ada indikator misalnya
kelihatan gak kelihatan. Kita enggak
tahu. Kita cuma lihat zahirnya. zahirnya
pun kita enggak tahu diterima atau tidak
oleh Allah. Terus batin mereka kita
enggak tahu.
Batin mereka kita tidak tahu. Sama
pelaku dosa pun demikian. Kita zahirnya
mereka melakukan maksiat bisa jadi batin
mereka baik. Kita enggak tahu. Sehingga
dua-duanya tidak bisa kita pastikan.
Yang berbuat baik tidak bisa kita
pastikan masuk surga. Kita hanya
berharap mereka mau surga. Yang berbuat
maksiat kita tidak pastikan masuk
neraka. Tapi kita khawatir mereka masuk
apa? Neraka. Paham? Tayib. berapa
kaidah? Nanti kita lanjut lagi
insyaallah. Yang pertama,
dalil-dalil menunjukkan bahwa Allah
Subhanahu wa taala
ee
tidak mengazab pelaku maksiat jika
diazab dengan detail, dengan detail
seluruh dosanya.
Akan tetapi sebagian saja. Jadi Allah
mengazab kalau orang masuk neraka cuma
mengazab sebagian dosa, tidak seluruh
dosa dosanya.
Misalnya seorang punya dosa 1000,
dalil-dalil menunjukkan Allah tidak
mengazab 1000-ya. Allah mungkin mengazab
mungkin kurang dari 900, 800, 500, 300.
Wallahualam. Dari sekian banyak dosanya.
Kenapa? Dalil-dalil menunjukkan mereka
dikeluarkan sebelum selesai
ee selesai jatah siksaannya. Dengan apa?
Di antaranya dengan syafa syafaat.
Makanya Ibnu Katsir ketika menafsirkan
firman Allah, wahal nujazi illal kafur.
Dan tidaklah kami membalas setimpal
kecuali orang-orang kafir. Kami tidak
membalas setimpal kecuali orang-orang
kafir. Kata Ibnu Katsir, shadqallahulzim
la yuaqibu bimitli fi'lihi illal kafur.
Allah tidak. Demi sungguh Allah maha
benar. Allah tidak mengazab seseorang
sesuai setimpal dengan perbuatannya
kecuali orang-orang ka kafir. Adapun
orang non kafir yaitu orang mukmin tidak
diazab setimpal dengan dosanya. Kalaupun
mereka masuk neraka, maka mereka diazab
selesai sebelum jumlah dosanya. Paham
maksudnya? Saya ulangi. Kalau orang ini
punya dosa 1000, kalaupun dia diazab,
dia tidak akan diazab dengan 1000 dosa
tersebut, tapi kurang daripada hal
tersebut. Dalilnya apa? Dalilnya banyak.
Di antaranya hadis-hadis syafaat.
Malaikat beri syafaat. Beri syafaat
berarti apa? Berarti mereka keluar
sebelum waktunya. Iya. Enggak. Itu
namanya syafaat. Mereka keluar sebelum
waktunya.
Syafaatil malaikah kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam, para malaikat beri
syafaat. Wasyafaatil anbiya, para nabi
juga memberi syafaat. Wasyafaal
mukminun, kaumin juga memberi syafaat.
Wabaqi rahmatu rabbil alamin. Kemudian
syafaat Allah, Allah keluarkan mereka.
Bukan syafaat, tapi rahmat Allah. Rahmat
Allah.
Rahmat Allah. Allah keluarkan
orang-orang dari neraka dengan kehendak
Allah Subhanahu wa taala. Jadi
dikeluarkan sebelum waktunya.
Dikeluarkan sebelum wak waktunya. Ini
menunjukkan
ee dan ini mungkin kita bisa katakan
inna rahmati e sabaqat gadobi.
Sesungguhnya rahmatku mendahului
kemurkaanku.
Buktinya Allah tidak mengazab secara
detail pelaku dosa. Kalaupun mereka
masuk neraka ee
tetapi sebelum waktunya.
Paham? Yang pertama.
Yang kedua, azab ditimpakan atas dosa
yang dilakukan langsung juga dosa yang
dia adalah penyebabnya atau dia ada
andilnya.
Jadi, pelaku dosa Allah azab dan juga
yang punya andil dalam dosa tersebut.
Ya, maksudnya ee diazab karena dosanya
baik dia lakukan secara langsung maupun
dia tasabbuban ataupun dia sebab
munculnya dosa yang lain. Allah
berfirman, "Liyahmilu azarahum kamilatan
yaumalqiamah wamin azarilladina
yudillunahum bihir ilm." Hendaknya
mereka memikul dosa-dosa mereka secara
sempurna pada hari kiamat dan juga
dosa-dosa orang yang mereka sesatkan.
Man dalla
falahu ajruha wa ajru man amila biha.
Siapa yang menunjukkan kepada kesesatan
maka bagi dia dosa kesesatan tersebut
dan dosa orang yang mengamalkan
kesesatan tersebut. Kenapa? Karena dia
membuka jalan terjadinya kesesatan, maka
dia juga mendapatkan dosa meskipun orang
lain yang melakukan karena dia sebab
terjadinya maksiat tersebut. Ya, sama
seperti Rasulull sahu alaihi wasallam
mengatakan, "Tidaklah seorang pun
dibunuh secara zalim kecuali anak Adam
yang pertama ikut memikul dosanya."
Liannahu awalu man sannal qatal. Karena
dia yang pertama kali mencontohkan
membunuh tanpa sebab.
Membunuh dengan kezaliman. Tidak ada
seorang pun terbunuh dengan kezaliman
kecuali anak Adam yang pertama ikut
memikul apa dosanya. Kira yang pertama
kali mencontohkan dia punya dosa jariah.
Jadi hati-hati seorang ketika melakukan
dosa jangan pikir
dia saja tapi efek dari dosa yang dia
lakukan bisa mengenai banyak o banyak
orang ya. Jadi gampangannya seorang
misalnya ee wanita kemudian keluar di
menampilkan auratnya sehingga
menyebabkan banyak orang yang
bermaksiat. Semakin banyak bermaksiat,
semakin banyak dosa. Kemudian dari situ
mungkin maksiat-maksiat yang lain
membuat orang kemudian ingin melakukan
zina gara-gara melihat dia. Maka banyak
maksiat terjadi, dia juga kena. Semua
maksiat yang timbul gara-gara perbuatan
dia, dia juga ikut menanggung dosa
dosanya.
Ikut menanggung dosanya. Ya.
Kemudian berikutnya
pendosa
ee
pendosa mukmin. Kalau ada orang mukmin
berdosa, pendosa mukmin dia orang mukmin
dia baru masuk neraka jika dosanya lebih
berat, dosanya lebih berat. Jadi
ditimbang dulu dosanya lebih berat baru
masuk neraka dan tidak mendapatkan
ampunan maupun syafaat.
Ada orang dosanya lebih banyak tapi
ternyata Allah ampun ya sudah tidak jadi
masuk neraka. Atau dia mau masuk neraka
ternyata dapat syafaat sebelum masuk
neraka tidak jadi masuk apa? Neraka.
Tapi kalau dia dosanya lebih berat
setelah ditimbang di mizan dan ternyata
dia tidak diampuni
dan juga tidak dapat syafaat maka dia
baru masuk nera neraka. Jadi masuk
neraka itu harus dosa lebih berat tidak
diampuni dan juga apa?
tidak mendapat syafaat. Tib. Kaidah yang
keempat. Dalil-dalil menunjukkan akan
ada pelaku dosa yang pasti diazab dan
akan ada juga yang pasti diampuni.
Dalil-dalil menunjukkan ada pelaku dosa
yang pasti diazab tidak diampuni dan ada
pelaku dosa yang di diampuni. Dalilnya
banyak terlalu banyak dalil pelaku dosa
masuk neraka. Hadisnya mutawatir.
Sehingga mereka diberi syafaat mereka
keluar. Mereka ini pelaku dosa atau
bukan? Diazab di neraka. Diazab di
neraka. Kemudian dapat syafaat keluar.
Berarti dalil menunjukkan ada orang
pelaku dosa tidak diampuni. Benar atau
tidak? Ada tidak diampuni masuk neraka.
Dan ada juga yang diampuni oleh Allah
seperti hadis bitaqah diampuni oleh
Allah subhanahu wa taala ya. Seperti
hadis yang Allah tunjukkan kau pernah
melakukan gini, kau pernah gini. Iya,
iya. Iya. Kata Allah, "Waqad satartu
alaika fid dunya." Dulu saya pernah saya
tutupin dosa-dosamu ketika dunia. Wa
agfir lakal yaum. Dan sekarang aku
ampun. Ini dosa-dosa yang dia tidak
sempat bertobat. Dosa-dosa yang tidak
sempat bertobat. Kata Allah, "Dulu saya
tutup aib-aibmu. Sekarang saya ampuni
engkau." Berarti dalil menunjukkan ada
dua model manusia. Model pelaku dosa
pasti diazab dan model pelaku dosa pasti
diampu ampuni. Makanya semua dosa selain
syirik kita bilang tahta masyiatillah.
Sesuai kehendak Allah. Tahta
masyiatillah. Innallaha la yagfiru
ayusraka bih wagfiru ma dunalik lim
yasya. Allah tidak mengampuni dosa
syirik. Tapi selain syirik terserah
terserah Allah. Kalau Allah ingin
ampuni, Allah ampuni. Kalau Allah ingin
azab, Allah aab.
Dari sini
ada beberapa ee pendapat yang keliru,
ya. Ini perhatikan
pendapat-pendapat yang keliru.
Di antaranya
ee
yang mengatakan bahwasanya yang satu
para fasik, para fasik itu pelaku dosa
besar pasti diazab.
Pasti di azab. Ini pendapat siapa?
Pendapat Muktazilah. Ya,
Muktazilah dan Khawarij. Ya,
kalau Khawarij bilang orang fasik pelaku
dosa besar kafir. Kalau Muktazilah fil
manzilah bainal manzilatain. Tapi mereka
tidak akan selamat. Makanya mereka
mengingkari hadis-hadis syafaat.
Mereka mengingkari hadis-hadis syafaat.
Hadis-hadis syafaat mereka enggak ada.
Pokoknya kalau k besar enggak ada tahta
masyiatillah pasti masuk apa? Neraka.
Ini sesat.
Yang kedua, sebaliknya semua orang
fasik, semua muwahid,
muwahid ahli tauhid meski fasik
pasti diampuni. Pasti diampuni.
Ini tadi murjiah gulat ya. Gulat
murjiah. Murjiah ekstrem
yang kita tadi sebutkan pendapatnya
yaitu la yadurru
ee ee apa? alan bidam ya bahwasanya la
yadur ma al imanambun bahwasanya dosa
tidak mempengaruhi iman yang mereka
berkata dosa tidak mempengaruhi iman
oke paham ini juga sesat karena kita
tahu dal-dal menunjukkan ada yang diazab
dan ada yang diam diampun
yang ketiga yaitu ee yang menyatakan
bahwasanya nya wallahuam kata mereka.
Wallahuam ya. Kata dia ee abstin apa
namanya? Abs abst
kata dia mungkin mungkin semuanya Allah
azab dan mungkin semuanya Allah ampuni.
Kata dia, "Mungkin
semuanya Allah azab
atau sebaliknya." atau sebaliknya.
Mungkin semuanya Allah juga ampuni.
Benar atau salah? Ini
salah. Karena dalil menunjukkan ada yang
diazab, ada yang diam diampuni juga
pendapat ini keliru.
Dan ini sebagian ahlul kalam menyatakan
demikian. Ya.
Kemudian juga ada pendapat yang lebih
parah. Dia mengatakan
ya ini 1 2 3 4.
Bahwasanya tidak ada azab di akhirat.
semuanya akan masuk surga.
Tidak ada azab di akhirat.
Semuanya masuk surga. Ya,
bahkan mereka bilang mukmin kafir
semuanya masuk masuk surga. Allah hanya
nakut-nakutin aja.
Allah hanya apa? Nah, ini ini tersebar
di zaman sekarang. Pendapat zaman
sekarang. pendapat mungkin orang
perasaan sufi gitu-gitu yang ekstrem ah
enggak ada semua masuk masuk surga masa
Allah azab makhluk yang dia ciptakan
pakai perasaan sehingga orang bilang
enggak Allah cuma nakut-nakuti saja
supaya hidup yang benar pas mati
semuanya masuk apa sur surga ini bahaya
seperti ini. Filsafat-filsafat
mengerikan seperti ini orang zindik.
Kalau perkataan seperti ini orang semua
maksiat. Kalau gitu beruntunglah per
maksiat senang di dunia, senang di
akhirat kalau semuanya masuk surga orang
beriman rugi dong. Iya enggak?
Mereka enak senang-senang minum khamar,
zina, narkoba, terus mati masuk surga.
Setengah mati kita enggak boleh makan
ini, enggak boleh makan anu, enggak
boleh ini, enggak boleh anu, terakhir
ketemu di surga. Ente bahlul kenapa dulu
tidak senang-senang?
Hebat seperti ini. Kita rugi kalau
begitu. Ini semua perkataan yang yang
salah. Semua perkataan yang salah.
Tib. Terakhir kita akan bahas kaidah
yang berikutnya. Tadi ee kata ee At
Thaahawi, "Kami berharap orang-orang
yang berbuat ihsan yafu anhum agar Allah
mengampuni mereka." saya.
Dan ini ee
kata Ibnu Taimiyah rahimahullah ya.
Yang keempat sekarang kaidah yang kelima
ada sekitar
10 sebab.
Seorang mukmin diampuni.
Diampuni. Ibn Ibnu Abil Izah Hanafi ee
menyebutkan ada sekitar 12 ya, sekitar
ee 12 sebab seorang mungkin di diampuni.
Ya, saya sebutkan secara singkat ya.
Yang pertama
taubat
ya. Mungkin dia bermaksiat tapi di
ujungnya mungkin dia bertobat. Kita
enggak tahu. Paham? Yang kedua, sebab
pertama dia tobat. Ini dalam syarah
thahawiyah ada. Saya tidak akan panjang
lebar k pengajian saya ada pengajian
khusus tentang ini. Sebab-sebab diampuni
dosa. Sekedar saya singkat saja. Yang
kedua adalah istigfar
juga kita bahas apa bedanya tobat dan
istigfar. Kemudian yang ketiga ee
misalnya ee kebaikan-kebaikan hasanatul
mahiyat. Alhasanatu almahiyah. Yaitu
amal saleh yang menggugurkan dosa-dosa.
Amal saleh yang mengugurkan dosa seperti
kalau puasa maka diampuni dosa-dosa.
Haji diampuni dosa-dosa, sedekah
mengampuni dosa-dosa. Ini namanya
alhasanatul mahya. Mungkin dia maksiat
tapi dia juga punya amal saleh yang bisa
mengugurkan apa? dosa-dosa.
Yang keempat di antaranya
musibah-musibah.
Musibah-musibah yang dialami sakit, ee
sedih, gelisah,
ee lapar, ya. E ya semuanya apa? musibah
diomelin orang, diomelin istri
mengurangi dosa tidak mengurangi dosa
diomelin suami mengurangi dosa ya banyak
hal dielin bos sedih, buat kita nangis
ini semua kalau kita sabar mengurangi
apa doa musibah-musibah mengugurkan dosa
muslim nasabin w wasin w hamin wala azan
wala hazanin hatta tidak suatuun yang
menimpa seorang mukmin letihletih juga
letih sakit sedih, gelisah ganggu
gangguan orang sampai duri kecuali akan
mengampuni dosa dosa-dosanya. Berapa
menit lagi Ustaz?
Du
2 menit. Ayo masih lanjut TB. Yang
kelima, azab kubur.
Azab kubur ada dua model. Ada azab kubur
yang merupakan mukadimah kemudian akan
berlanjut lebih parah seperti azab kubur
yang menimpa orang kafirin. Seperti
menimpa Firaun dan pengikutnya, penimpa
ahlusodom, pelaku homoseksual,
menimpa ee kaum Nuh. Ya, itu mukadimah
selanjutnya lebih parah. Dan ada orang
beriman yang enggak diazab kemudian
mengugurkan dosa-dosa sebagian dosa
mereka cukup diazab di ee kubur.
Kemudian yang keenam misalnya apa? Doa
orang beriman. Doa kaum mukminin
untuknya.
Kaum mukminin berdoa doakan dia semoga
diampuni. Semoga diampuni. Ya Allah
berilah penerangan pada kuburannya. Ya
Allah ampuni dosa-dosanya azab enggak
jadi diazab. jadi diazab atau azabnya di
dikurangi. Ya. Yang ketujuh adalah
ee amal yang di amal yang diilakukan
untuknya
seperti sedekah atas nama dia, haji atas
nama dia, umrah atas nama dia, maka bisa
menggugurkan dosa-dosanya. Ya. Ya.
Sebagian ulama berpendapat beri hadiah
ya. Hadiah baca Quran ini khilaf. Tapi
intinya yang disepakati umrahkan dia,
hajikan dia, sedekah atas nama nama dia.
Yang kedelapan, dahsyat kedahsyatan hari
kiamat.
Hari kiamat
ini ee mengurangi dosa-dosa di antaranya
wallahuam bisawab ya.
Eh eh ini ini kata kata Ibnu Taimiyah
mengurangi dosa-dosa seperti antaranya
himpitan qabar. Damatul qabar. Kalau
orang masuk kuburan dihimpit. Ini adalah
SOP yang harus dilewati oleh semua yang
masuk masuk kuburan. Makanya Nabi
mengatakan laalima minha lanaja Saad bin
Muad. Kalau ada yang selamat tentu Saad
bin Muad akan selamat. Dia pun yang
ketika meninggal arsy bergetar dia pun
tidak selamat dari apa? Himpitan apa?
Kubur. Tapi itu mengurangi apa? dosa
dosa-dosa seperti orang sakaratul maut
juga dialami. Nomor
adalah ee
apa namanya?
Ee jika melewati sirat ya di qantarah.
Di qantarah.
Kalau sudah sirat dilewati di qantarah
maka akan dikisos antara mereka. Ini
pembahasan panjang ya. Sudah lewat sirat
tinggal masuk surga. Tungguh di kontoro
ada sebagian dosa-dosa yang mereka di
saling memaafkan di antara mereka ya.
Ada yang mengatakan
qisas di Qontar itu adalah qisos yang
Allah tunda. Karena sebelumnya qisos di
padang mahsyar dahsyat masalah-masalah
besar.
Mungkin orang tidak memaafkan. Ada
sebagian qisos ditunda di kontoro
sehingga orang yang penting sudah
selamat sudahlah saya maafin. Ada yang
mengatakan demikian sehingga dia
dimaafkan.
Di antaranya dahsyat hari kiamat tadi
kita bilang apa? Datul qabar.
ini di kubur di umatul qabar himpitan
kubur. Kemudian di antaranya ee siksaan
di atas sirat.
Di atas sirat. Di atas sirat
dicabik-cabik. Seorang dicabik-cabik
ternyata selamat. Cabik-cabikan itu
adalah hukuman bagi sebagian dosanya.
Karena dosanya tidak membuat dia harus
masuk neraka. Tapi dikurangi dengan
dicabik-cabik tapi akhirnya dia selamat.
10. Syafaat.
Syafaat. Syafaatnya orang beri syafaat.
Yang ke-11 ampunan Allah.
Ampunan Allah ya. Selain apa? Syafaat
tayib.
Nanti kita bahas lagi azan ya. Silakan.
Demikian. Wabillahi taufik hidayah.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.