Syarah Kitab Arbain #2: Islam, Iman dan Ihsan - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
L16D3pihbI8 • 2025-10-14
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu
ala taufiqihin ashadu alla ilahaillallah
wahdahu la syarika lahunih
wa ashadu anna muhammadan abduhu wa
rasul ridwan
allahumma sholli alaihi waa alihi
Hadirin hadirat yang dirahmati Allah
subhanahu wa taala. Kita lanjutkan
bahasan kita hadis yang kedua tentang
Islam, iman dan ihsan. Tafadal.
Bismillahi wasalatu wasalamu ala
rasulillah wa ala alihi wa ashabihi wa
mawalah waman tabiahum bisihsanin ila
yaumiddini wa baad.
Qalal muallifu rahimahullahu taala
maratibuddin
al islamu wal imanu wal ihsan
al haditusani
anar radhiallahu aidan qala bainama
nahnu julusun rasulillahi shallallahu
alaihi wasall yaumin thaulunadidu
bayadidu
la yur alaihiarfr
Kata Umar bin Khattab radhiallahu anhu,
"Tatkala kami sedang duduk di sisi
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
suatu hari, tiba-tiba muncul seorang
yang syadidu bayad yang bajunya sangat
putih. Syadidu sawad sya'ar dan
rambutnya sangat hitam.
Laur alaiiarfar
tidak terlihat padanya bekas safar dan
min ah seorang pun tidak mengenalnya.
Orang ini aneh ya. Kalau dia musafir
tentu kita tidak mengenalnya yaitu orang
luar kota datang kepada Nabi. Tentu
pakaiannya tidak akan putih tapi
tercampur dengan debu. Tentu rambutnya
tidak akan sangat hitam karena juga
semerawut atau tercampur dengan debu.
Apalagi zaman dahulu namanya orang
bersafar pasti ada bekas safar. Tetapi
orang ini enggak ada bekas safar sama
sekali. Kalau dia tidak bekas safar
berarti orang kompleks ini ya. Akamsi
ya. Nah, kompleks ini. Tapi ternyata
juga kami tidak ada yang kenal. Maka ini
aneh ya. Maka ini aneh. Terus.
Hatta jalasa ilan Nabi shallallahu
alaihi wasallam faasnada rukbatai ila
rukbatai.
Kemudian setelah itu dia langsung menuju
kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Lantas dia menyandarkan kedua lututnya
ke kedua lutut Nabi sallallahu alaihi
wasallam dan dia meletakkan kedua ee
telapak tangannya di atas paha dia ya.
Dan ini menunjukkan dia sedang ee dalam
kondisi
ee haiah thalibil ilm. Seorang yang
sedang menuntut ilmu dengan tawadu di
hadapan sang guru. Yaitu dengan ee
berduduk seperti duduk iftirasy ya.
Kemudian lututnya disandarkan kepada
lutut Nabi, mendekat kepada Nabi yaitu
murid mendekat kepada guru. Kemudian dia
meletakkan kedua telapak tangannya di
atas pahanya dia sehingga dengan penuh
tawadu di hadapan Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam.
Waqala, "Ya Muhammad akhbirniil Islam."
alaihi wasamallah
wa muhammadarasulullahujalaihibila
qq
faajibna
faajibna lahu yasalu
kemudian
Orang ini setelah duduk bersimpuh di
hadapan Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam kemudian dia bertanya.
Cumaannya dia mengatakan ya Muhammad.
Dia pakai nama ya Muhammad. Biasanya
kalau orang-orang tidak ada yang panggil
nama langsung kecuali Arab Badui. Orang
pasti mengatakan ya Rasulullah ya
Nabiallah. Tapi orang yang berkata, "Ya
Muhammad, wahai Muhammad, kabarkanlah
kepadaku tentang Islam." Maka Rasulull
sahu alaihi wasallam menjawab. Dia tanya
Rasulullah menjawab. Rasulullah
menjelaskan, "Islam adalah engkau
bersaksi, bersyahadah, tidak ada yang
berhak disembah kecuali Allah dan
Muhammad Rasulullah. Engkau menegakkan
salat, engkau membayar zakat, engkau
berpuasa Ramadan, engkau berhaji jika
kau mampu." Yaitu Rasulullah menyebutkan
rukun Islam yang lima. Qala shodqta,
kata orang ini yang bertanya, "Benar
engkau." Umar berkata, "Faajibna lahu."
"Kami heran dengan orang ini." Dia yang
nanya, tapi dia yang membenarkan. Dia
yang nanya apa itu Islam? Terus
Rasulullah jawab kata dia, "Benar
engkau." Maka kami pun heran. Lanjut.
Qakbir
iman qina
billahi waikatihi wautubihiuli
yaumil akirmqiri
qq.
Kemudian dia bertanya lagi, "Wahai
kabarkanlah kepadaku tentang iman."
Maka Rasulullah menjawab, "Iman adalah
engkau beriman kepada Allah, kepada
malaikatnya, kepada kitab-kitabnya,
kepada para rasulnya, kepada hari
akhirat dan engkau beriman kepada takdir
Allah baik maupun yang buruk." Itu
Rasulullah menyebutkan rukun iman yang
enam. Maka orang ini berkata, "Benar
engkau."
Q faakbirniil ihsan q anudlaha kaakau
faillam takun tarahu fnahu yar.
Q faakbir
qilab
[Musik]
yaar
Muslim.
Maka kemudian setelah Rasulullah jawab
tentang iman, dia bertanya lagi,
"Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan."
Maka Rasulullah menjawab, "Ihsan itu
engkau beribadah kepada Allah
seakan-akan kau melihat Allah. Jika kau
tidak mampu, maka sesungguhnya Allah
melihatmu." Dia bertanya lagi, "Kabarkan
kepadaku tentang kapan hari kiamat?"
Rasulullah menjawab, "Yang ditanya tidak
lebih tahu daripada yang bertanya." Dia
bertanya lagi, "Kalau gitu kabarkan
kepadaku tentang tanda-tanda hari
kiamat." Rasul menjawab, "Seorang
budak wanita melahirkan tuannya, majikan
wanitanya. Budak wanita melahirkan
majikan wanitanya. Dan engkau melihat
seorang yang tidak beralas kaki, tidak
berpakaian, miskin, penggembala kambing.
Tiba-tiba mereka
meninggikan bangunan, berlomba-lomba
dalam meninggikan bangunan.
Kemudian orang itu pun pergi. Aku pun
terdiam. Kemudian Rasulullah berkata
kepadaku, "Wahai Umar, tahukah kamu tadi
siapa yang bertanya?" Aku mengatakan
Allah dan Rasul lebih mengetahui. Maka
Rasulullah menjelaskan, "Sesungguhnya
itu adalah Jibril. Dia datang kepada
kalian untuk mengajarkan agama kalian."
Hadis ini riwayat al Imam Muslim dalam
sahihnya. Kalau hadis pertama, innamal
amalu bin niyat adalah hadis nomor satu
dalam sahih Bukhari. Kalau hadis ini
adalah hadis nomor satu dalam Sahih
Muslim. Hadis pertama dalam Sahih
Muslim. Dan hadis ini dikenal dengan
ummus sunah disebut oleh Qurtubi dan
juga disebutkan oleh Ibnqiql Iid. Ummus
Sunah induknya sunah. Ini mirip seperti
Al-Fatihah disebut dengan ummul Quran,
induknya Al-Qur'an. Kenapa disebut ummul
Quran Al-Fatihah? Karena seakan-akan
surat setelahnya dari surah Albaqarah
sampai surah an-Nas adalah syarah dari
kandungan surah al-Fatihah. Maka
demikian pula kalau kita kumpulkan
seluruh hadis ribuan hadis, semua ribuan
hadis tersebut kita bisa indukkan kepada
hadis ini. Maka dikenang dengan ummus
sunah. Karena semua hadis yang dibahas,
disampaikan oleh Nabi paling berbicara
tentang Islam atau iman atau ihsan.
Karena agama itu adalah Islam, iman, dan
ihsan.
Tib ee ikhwan dan akhwat yang dirahmati
oleh Allah subhanahu wa taala. Maka
sebelum kita menyampaikan tentang ee
apa namanya konten dari hadis ini,
ada sebab munculnya hadis ini atau
disampaikannya hadis ini. Sebabnya
adalah ketika muncul kelompok ahlul
bidah di Basrah yang dikenal dengan
Qadariah. Qadariah itu ee disebut
Qadariah maksudnya pengingkar takdir.
Pengingkar takdir ya. Bukan disebut
qadari karena dia menetapkan takdir,
tidak. Tetapi dia qadariah karena
menolak apa? Tak takdir. Dan qadariah
ada dua. Qadariah ada dua, ya.
Qadariah ada dua. Yang pertama disebut
dengan ee gulat alqadariyah atau
qadiratul gulat.
Ini yang ekstrm. Qodariah ekstrem.
Kemudian yang kedua adalah al-qadariyah.
Yang kenal sekarang Al-Qadariyah
almuktazilah. Qadariah Muktazilah yang
biasa
yang Muktazilah.
Syiah rafidah juga demikian. Adapun
kalau dari ekstremity mereka mengatakan
Allah
tidak tahu
apa yang akan terjadi.
Akan terjadi.
Allah hanya tahu setelah terjadi.
Hanya tahu setelah terjadi.
Maka mereka mengingkari ilmullah asabiq.
di sini mengingkari
ilmullah
asabiq. Ilmu Allah yang mendahului yang
di lauhil mahfud ya yang Allah catat.
Jadi sebenarnya kalau sebelum Allah
menciptakan sesuatu kan Allah
mentakdirkan dan Allah merencanakan.
Kemudian Allah tulis di lauhil mahfud
kata mereka gak ada. Allah tidak ada
mentakdirkan dulu, mencatat dulu,
mengetahui dulu. Tapi Allah ciptakan.
Nanti apa yang terjadi baru Allah tahu.
Makanya mereka menamakan alamru unuf,
yaitu perkara langsung terjadi tanpa
didahului dengan perencanaan.
Yaitu perkara-perkara
terjadi
tanpa tanpa planning, tanpa perencanaan.
Perencanaan itulah yang disebut dalam
istilah kita dengan takdir. Yaitu tanpa
tak takdir.
Ini orang-orang ini hukumnya kafir.
Mereka ini apa? ka kafir karena menolak
ilmu Allah subhanahu wa taala maka
disebut dengan gulat yaitu ekstrem
ekstrem qadariah. Kemudian muncul
qadariah belakangan disebut qadar
muktazilah yaitu mereka hanya menyatakan
bahwa
ee af'alullah giriru makhluk af'alul
makhluk af'alul
ibad
giriru makhluqah.
bahwasanya perbuatan hamba,
perbuatan-perbuatan hamba bukan ciptaan
Allah, bukan ciptaan Allah, bukan
makhluk.
Ah, mereka ini tidak dikafirkan. Ini
tidak kafir, tapi mereka hanya ahlul
bidah, tidak dikafirkan.
Kenapa? Karena tidak menolak ilmu Allah.
Karena masih menetapkan
menetapkan
ilmu Allah sabit.
Ini bedanya. Tapi mereka terjerumus
dalam bidah. Nah, bidah qadariah ini
akan kita bahas karena seharusnya selain
Allah kalau Allah alhamdulillahi rabbil
alamin. Segala puji bagi Allah penguasa
alam semesta. Apa itu alalamin? Alalamin
itu semua makhluk. Apa itu makhluk?
Semua ghairullah itu makhluk. Selain
Allah itu pasti makhluk. Nah, kita
manusia makhluk. Semua perbuatan kita
makhluk. Ucapan kita makhluk, perbuatan
kita makhluk. Harusnya demikian.
Maka semua yang selain Allah adalah
makhluk. Maka di antara semua yang
selain Allah adalah makhluk adalah
perbuatan hamba. Perbuatan hamba ini
juga merupakan makhluk. Ini diingkari
oleh qadariah Muktazilah dengan
dalil-dalil mereka, dengan logika
mereka. Tentunya bukan saatnya kita
bahas sekarang. Saya hanya menyampaikan
kepada ikhwan dan akhwat bahwasanya ee
ada dua qadariah. Qadariah yang muncul
awal kali, pertama kali muncul qadar
yang ekstrem di zaman Ibnu Umar
radhiallahu taala anhu. Dan ini
disebutkan dalam Sahih Muslim sebab
kenapa Ibnu Umar menukil dari bapaknya
Umar bin Khattab tentang hadis Jibril
ini.
Dari Yahya binmar, dia berkata,
"Sesungguhnya yang pertama kala
takdir itu menolak takdir adalah di
Basrah itu di Iraq namanya Ma'bad
Aljuhani." Namanya Ma'bad Juhani. Oleh
karenanya Yahya bin Ma'mar ingin
bertanya kepada sahabat yang masih
hidup. Kata dia, "Saya pun pergi bersama
Humaid bin Abdurrahman Al-Himyari. Dua
orang, dua orang tabiin. Kami pun pergi
berhaji atau umrah. Lalu kami berkata,
"Seandainya kami sempat bertemu dengan
salah seorang dari sahabat Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam. Lalu kami
akan bertanya tentang perkataan mereka
ini, akidah mereka ini bagaimana."
Alhamdulillah Allah memberikan taufik
kepada kami sehingga kami bertemu dengan
Ibnu Umar yaitu Abdullah bin Umar. Dia
sedang masuk masjid. Maka kami pun apa
namanya? Faktanaftuhu ana itu kami
mengepungnya satu sebelah kanan, satu
sebelah kiri.
Ya. Kemudian aku menyangka sahabatku
akan membiarkan aku yang berbicara. Maka
aku pun sebagai jubirnya juru bicara.
Maka aku berkata, "Wahai Abu
Abdurrahman, wahai Ibnu Umar, telah
muncul di dari sisi kami sekelompok
orang mereka baca Al-Qur'an dan mereka
mendalami ilmu." Lalu dia sebutkan
tentang bagaimana orang-orang tersebut.
Waahum yazumuna alaqadar. Namun mereka
saking berdalam-dalam tentang ilmu,
mereka menyangka tidak ada takdir. Waal
am unuf. bahwasanya segala perkara
terjadi tanpa planning dulu dari Allah
Subhanahu wa taala. Ini maksudnya
kelompok Ma'alul Juhani. Maka apa kata
Ibnu Umar? Faidza laqita ulaik. Kalau
kau bertemu lagi dengan mereka
faakbirhumni bariun minhum. Sampaikan
kepada kelompok tersebut sungguhnya aku
berlepas diri dari mereka
dan mereka berlepas diri dariku. Wallzi
yahu bihi Abdullah bin Umar. Demi Allah
yang Ibnu Umar bersumpah dengannya.
Seandainya salah seorang dari mereka
memiliki emas sebesar gunung Uhudu.
Kemudian dia infakkan
masa sebesar gunung Uhud tersebut Allah
tidak akan terima. Hatta ymina bilqadar
sampai dia beriman kepada takdir.
Haddasani Abi Umar bin Khattab. Baru
kemudian dia menyebutkan hadis Jibril
ini yang di mana dalam hadis Jibril
tersebut ketika Rasulullah bertanya
faakbirniil iman kabarkanlah kepadaku
tentang iman. Maka Rasulullah berkata di
antaranya bilqari kau beriman bahwasanya
segala yang terjadi baik maupun yang
buruk semua adalah dengan takdir Allah.
Nah, orang-orang ini mereka menolak.
Kenapa mereka menolak bahwasanya
perbuatan bahwasanya Allah ee punya ilmu
tentang semua yang akan terjadi? Karena
mereka enggak mungkin Allah menghendaki
suatu keburukan sehingga mereka
mengatakan ini terjadi tanpa
sepengetahuan Allah. Semua terjadi tanpa
planing Allah. Maka mereka hukumnya
kafir karena mereka menolak ilmullahi
asabiq. Maka Ibnu Umar berkata,
"Seandainya mereka punya emas sebesar
gunung Uhud diinfakkan, tidak akan
diterima karena mereka kafir. Baru
diterima kalau mereka beriman kepada
takdir." Ini asbabul wurud atau apa?
Sebab kenapa bukan asbabul wurud, tapi
sebab kenapa Ibnu Umar menyampaikan
hadis dari ayahnya Umar bin Khattab yang
dikenal dengan hadis Jibril karena
muncul bidah yang namanya bidah
qadariyah. Dan bidah sudah muncul sejak
zaman para sahabat. Dan bidah yang
pertama kali muncul adalah Khawarij.
Kemudian disusuli oleh orang Syiah.
Kemudian ee Alqadariyah. Kemudian muncul
ee Muktazilah Wasil bin Atha. Kemudian
muncul bidah-bidah yang lain, Jahmiyah
dan seterusnya ya dan seterusnya.
Dan itu sudah muncul sejak zaman para
sahabat. Bab sekarang kita masuk kepada
ee konten dari hadis. Sebelum kita
sampai hadis, di sini
ee ada beberapa adab yang bisa kita
ambil.
Yang pertama, ikhwan dan akhwat yang
dirahmati Allah subhanahu wa taala ya,
beberapa faedah ya, faedah-faedah
adabiah, ya terkait adab.
Ini kita belum masuk kontennya ya,
terkait adab yang pertama ya.
Adab seorang penuntut ilmu. Adab
penuntut ilmu
kepada guru.
Kepada guru. Yaitu dengan apa? Merendah
tawadu. Merendah
dan tawadu.
Ya. Bagaimana Jibril Alaihi Salam sedang
menjelma sebagai seorang Arab Badui.
Kemudian duduk dengan di hadapan Nabi
sallallahu alaihi wasallam dengan
bersimpuh meletakkan kedua tangannya
dengan penuh sopan santun. Kemudian
berbicara kepada Nabi sallallahu alaihi
wasallam. Yang kedua,
memakai pakaian yang rapi.
Memakai pakaian yang rapi.
Yang rapi.
Baik guru maupun murid. Guru maupun
murid.
Kalau murid dalilnya apa? Dalilnya
karena Jibril datang dalam bentuk orang
yang berpakaian syadidu
e bayad waadidu sawadi sa'ar. Yaitu baju
yang putih, baju putih bersih,
putih bersih.
Kemudian rambut hitam maksudnya rapi.
Rambut rapi hitam menunjukkan seorang
menuntut ilmu di antaranya dia
berpakaian yang baik. Kemudian adapun
guru, kenapa disebut guru? Karena Jibril
Alaih Salam meskipun dia sedang
berlagak sebagai seorang murid, dia juga
seorang guru. Makanya Rasul sahu alaih
wasallam di akhir hadis mengatakan, "H
jibrilu yuallimukum dinakum." Jibril
datang untuk mengajarkan kepada kalian
agama kalian. Maka Jibril juga sama
sebagai guru, dia juga berpakaian yang
ee yang rapi. Dan ini menunjukkan
tentang ee apa namanya? perhatian
terhadap majelismajelis ilmu. Seorang
berusaha rapi yang baik ya kemudian
datang sehingga serius. Karena kita tahu
bahwasanya kondisi yang segar kemudian
bersih itu memotivasi seorang untuk
serius dalam nuntut nuntut ilmu. Serius
dalam nuntut nuntut ilmu. Sebisa mungkin
ya kita tahu banyak juga yang ee tidak
bisa rapi karena kondisi dan situasi
tapi selama bisa rapi, bisa datang
dengan baik maka hendaknya dia lakukan.
Kemudian yang ketiga ya,
adab di antaranya dekatnya dekatnya
penuntut ilmu dengan gurunya.
Ilmu dengan gurunya.
Ya, bagaimana Jibril Alaih Salam ee
dekat dengan Nabi sallallahu alaihi
wasallam. bersimpul di hadapan Nabi.
Dan di antara ee adab tadi yang sudah
disebut pertama adalah tawadu. Seorang
murid tawadu di hadapan gurunya. Sampai
ketika Musa Alaih Salam menuntut ilmu
kepada Khadir dan kita tahu semua ulama
sepakat bahwasanya Musa lebih utama
daripada Khadir. Musa di antara ulul
azmi minar rasul. Dan disebutkan dalam
Al-Qur'an banyak sekali cerita Musa.
Khadir cuma sekali disebutin ya. Dan eh
Musa lebih mulia daripada Khadir. Namun
dalam kondisi ini Musa sedang menuntut
ilmu kepada Khadir yang Musa tidak tahu.
Maka Musa alaihi salam merendahkan
dirinya. Hal attabiuka alaimani mimmaim
rusda. Maka Musa berkata, "Wahai Khadir,
bolehkah aku mengikutimu agar engkau
mengajarkan aku dari ilmumu?" Dia tidak
perintah, "W, saya mau belajaru." Dia
bilang, "Bolehkah aku mengikutimu?"
Ini Musa dia lebih berilmu daripada
Khadir. Dia lebih dekat dengan Allah
daripada Khadir. Tapi ketika dia
sekarang statusnya sebagai penuntut
ilmu, maka dia tawadu di hadapan
gurunya. Karena dia yang nuntut ilmu
kepada Khadir. Makanya ilmu itu tidak
diraih, kata Ibnu Abbas, oleh orang yang
mustahil dan mustakbir, oleh orang yang
pemalu dan orang yang sombong. Ya, kalau
sombong mungkin dia enggak akan diajari
oleh gurunya. Seorang kalau butuh ilmu
dia tunjukkan dia beradab di hadapan
guru. Di antaranya karena sebagai bentuk
penghormatan terhadap ilmu. Ilmu ini
sedang ada pada orang ini. Maka saya
tawadu di hadapannya karena dia sedang
berilmu. Jangankan kita, bahkan malaikat
tawadu kepada orang pencari ilmu. Wa
inal malaikata ajataha.
Ya
sungguhnya para malaikat meletakkan
sayap-sayapnya buat apa? Ridbil
ilmibilmi bima yasna. Karena rida kepada
penuntut ilmu tentang apa yang dia
lakukan. Penuntut ilmu. Malaikat saya
tawadu di hadapan penuntut ilmu. Maka di
antara adab jangan sombong di hadapan
guru tapi bertawadu. Meskipun mungkin
kita punya ilmu yang guru kita tidak
tahu tapi kita sekarang status sebagai
penuntut ilmu. Maka hendaknya kita
tawadu. Kemudian di antaranya adab juga
terkait
ya
ingat ibu-ibu maksudnya kalau kita jadi
guru atau murid nuntut pakai baju yang
bagus tapi bukan bukan bersolek
berlebihan ya bukan bukan bersolek
berlebihan itu yang rap yang yang
menunjukkan pakaian penuntut ilmu ya
putih bersih bukan pakaian bersaleh ya
bukan pakaian artis kita pakai buat
pengajian gak maksudnya pakaian yang
menunjukkan adab, kesopanan ketika
nuntut ilmu. Tib yang keempat ee
sabarnya guru terhadap murid.
Nah, di sini Jibril Alaih Salam sedang
menjelma menjadi seorang Arab Badui.
Makanya dia panggil ya Muhammad. Dia
sebut nama ya Muhammad. Padahal kita
tahu dalam di antara di antara adab kata
Allah, "La taj'alu dua arasuli
bainakumai ba'dikum ba'd."
Janganlah kalian memanggil Rasulullah ya
di antara kalian seperti memanggil satu
di antara kalian itu kita panggil nama
langsung. Tapi kalau Rasulullah harus
dipanggil ya Rasulullah, ya Nabi Allah
ya. Tidak panggil nama ya Muhammad. Nah,
orang ini manggil Nabi dengan nama ya
Muhammad dan Rasulullah sabar.
Oleh karenanya bisa jadi seorang guru
mendapati sikap murid yang ee kurang
sopan, maka hendaknya dia bersabar
karena tujuan dia adalah untuk
mendakwahi sang murid. Ya. Kemudian di
antaranya bahwasanya di antara adab yang
ke berapa ini? Yang ke kelima. Bertanya
bertanya adalah ibadah.
Perhatikan nih. Bertanya itu adalah
ibadah. Allah berfirman, "Apa dalilnya
ibadah?" Kata Allah, "Fas'alu
ahlikri
inuntum la tlamun." Bertanyalah. Allah
perintah. Berarti bertanya adalah
perintah. Maka seorang ketika bertanya
dia berusaha menghandirkan dirinya. dia
sedang beribadah sehingga kalau dia
bertanya maka dia akan mendapatkan
pahala. Bukan cuma guru yang menjawab
dapat pahala, murid yang bertanya juga
akan dapat apa? Pahala. Oleh karenanya
pertanyaan itu bisa kalau tidak benar
bisa timbulkan fitnah. Betapa banyak
pertanyaan bikin fitnah, bikin ribut di
antara kaum muslimin, bikin
gontok-gontokan.
Ya, oleh karenanya pertanyaan ada dua.
Perhatikan pertanyaan
ada dua. Yang pertama
yang baik.
Yang kedua adalah yang yang buruk.
Di antara bentuk pertanyaan yang baik
adalah
benar-benar untuk mencari tahu.
Benar-benar untuk mencari tahu.
Ikhlas karena Allah bukan karena riya.
Yang kedua misalnya untuk
memberi faedah kepada penanya murid yang
lain untuk memberi faedah
kepada murid-murid yang lain meskipun
dia pun tahu jawabannya seperti yang
terjadi pada kisah ini murid-murid yang
lain. Jibril Alaih Salam dia sudah tahu
jawabannya tapi dia tanya Nabi
sallallahu alaihi wasallam supaya
didengar oleh para sahabat yang lain.
Makanya Nabi berkata di akhir, "Hibrilu
atakum yuallimukum dinakum." Ini Jibril
datang untuk mengajar kalian, tapi dia
ngajari kalian dengan bentuk perta
pertanyaan. Kita boleh untuk beri faedah
tanya, "Ustaz, bagaimana hukum ini?"
Karena yang lain pada tidak tahu. Maka
ustaz pun menjawab, "Kita niat baik."
Niat niat baik. Ya, oleh karenanya,
betapa banyak orang bertanya pahalanya
luar biasa. Perhatikan orang Arab Budui
banyak tanya kepada Nabi, tapi
pertanyaan mereka polos. Benar-benar
mereka pengin tahu. Akhirnya jawaban
Nabi jadi hadis banyak. Seperti seorang
Bad Arab Badui mengatakan fanada. Dia
berteriak
ee kaifa shaulil? Bagaimana salat malam?
Rasulullah jawab salatul lail matna
masna. Itu yang tanya orang Arab Badui.
Salat malam itu dua rakaat. Dua rakaat.
Faid khya ahadukum subha falyusolli
wahidatan tutiruahu maq sha. Kalau
seorang khawatir segera terbit fajar
maka witirlah satu rakaat. Itu
pertanyaan orang Arab Badui.
Subhanallah. Ternyata sampai sekarang
kita bahas dan dia juga dapat pahala
karena dia bertanya kepada Nabi dengan
pertanyaan yang benar-benar Paulos
pengin tahu jawaban. Demikian juga
misalnya seorang bertanya, "Ya
Rasulullah, ausini berilah wasiat
kepadaku." Kata Rasulullah, "La taqdab."
Subhanallah. Sampai sekarang kita dapat
faedah, "Jangan marah. La taqdab wala
jannah. Jangan kau marah, mak kau masuk
sur surga."
Tahu tahu enggak, Ibu-ibu? Hadis ini apa
tadi? La taqdab wakal jannah. Jangan
marah, jangan suka ngomel ibu-ibu ya.
Kalau masuk surga jangan suka ngomel.
Kemudian lihatlah ee ketika ada Arab
Badui bertanya, "Ya Rasulullah, mata
saah Rasulullah, kapan hari kiamat?" Dan
dia bertanya bukan karena iseng-iseng,
enggak. Memang dia pengin tahu hari
kiamat kapan. Maka Rasulullah balik
bertanya sama dia, "Ya wadalah karena
Rasulullah tidak tahu kepada hari
kiamat." Kata Rasulullah, "Apa yang kau
siapkan untuk hari kiamat?" Maka dia
menjawab,
aku tidak mempersiapkan diriku bertemu
hari kiamat dengan banyak salat. Aku
salat tapi tidak banyak, aku sedekah
tapi tidak banyak, aku puasa tapi tidak
banyak. Dia polos. Akan tapi aku cinta
kepada Allah dan rasulnya. Maka Rasul
mengatakan, "Anta ma ahbabta." Kau akan
bersama dengan orang yang kau cintai.
Subhanallah. Ini faedah ternyata buat
luar biasa sampai sekarang. Sampai kata
Anas, "Aku tidak mendapati karunia dalam
setelah Islam." Maarial muslimun maarial
muslimun. "Tidaklah kaum muslimin
bergembira ba'dal Islam setelah nikmat
Islam seperti mereka mengetahui sabda
Nabi, "Almaru
ahab." Seorang akan dikumpulkan bersama
dengan siapa yang dia cintai. Ini kabar
gembira.
uhib nabi wa abu bakrin wa umar wa akuna
maahum bihubbi iyahum waamal bali maka
aku cinta kepada nabi aku cinta kepada
abu kata anas aku cinta kepada umar dan
aku berharap bisa dikumpulkan bersama
mereka meskipun aku tidak bisa beramal
seperti mereka jadi maksud saya kalau
orang bertanya tulus dia sedang
beribadah bukan cuma yang menjawab dapat
pahala yang bertanya juga dapat pahala
lihatlah Ibnu Taimiyah rahimahullah
betapa Banyak risalah yang dia tulis
gara-gara pertanyaan risalah tadmuriyah.
Kenapa dia tulis untuk ahli tadmur? Ada
yang bertanya risalah marrakisiyah sama
siapa yang ada yang bertanya dari Marqis
dari di daerah maghrib. Kemudian ada
yang bertanya akidah wasitiah. Kenapa
ada ahli wasit? Ada seorang penduduk
negeri wasit bertanya sama beliau.
Beliau tulis risalah akidah al-Aqidah
alwasitiyah sekarang betapa banyak
manfaatnya. Dan Majmu Fatawa itu
kebanyakan pertanyaan. Bagaimana
pendapat Anda yang mulia? Begini. Imam
Ibn Taimiyah jawab-jawab sampai
dikumpulkan sekarang 36 jilid. Itu semua
dari pertanyaan. Jadi kalau seorang
bertanya dengan tulus maka dia akan
dapat pahala. Ada model pertanyaan yang
buruk ya. Di antaranya
untuk ngetes-ngetes aja. Ngetes ustaz.
Dia enggak tahu. Cuma dia bosok ngetes
ustaz. Ini apa faedahnya dia ngetes?
Kalau kalau tidak tahu sudah ustaz punya
kekurangannya buat apa ya? Dak tahu
kalau ustaz berilmu ya tanya. Kalau
enggak ya enggak usah tanya untuk ribat
ustaz dia tunjukkan bahwasanya dia
pandai. Dia tanya ustaz bagaimana begini
dalam buku ini, dalam buku ini, dalam
buku ini, dalam buku ini. Wah, orang
terpesona ini. Orang bacaannya banyak
sekali. Ternyata dia bertanya untuk ri
untuk menunjukkan dia banyak baca. yaitu
misalnya dia banyak literasi
dia tunjukkan sehingga orang dengar
terpesona dalam buku ini pendapat ini
mazhab ini, mazhab ini, mazhab ini dalam
buku ini. Woh, bagaimana menurut ustaz?
Uh, ini orang atau untuk misalnya
untuk pansos apa pansos itu apa? Numpang
beken.
Tanya sama ustaz kemudian ustaz jawab
kemudian dia diskusi. Jadi siapa ini
terkenal numpang bek? Numpang apa? Beken
ya? atau dengan niat lain ya tadi untuk
misalnya menjatuhkan ustaz niat-niat
buruk niat-niat buruk untuk memecah
belah dan ini banyak terjadi pertanyaan
untuk memecah belah
syekh bagaimana hukum begini dia tahu
ada temannya begitu dia pertanyaan tidak
sempurna kemudian syekhnya menjawab atau
ustaznya menjawab tanpa mendengar
informasi yang lengkap dari dua belah
pihak akhirnya timbul keributan, timbul
perpecahan ini semua pertanyaan
niat-niat buruk. Oleh karena seorang
harus tahu bahwasanya bertanya adalah
ibadah maka hendaknya dia bertanya
dengan dengan baik. Tayib kita masuk
pada pembahasan.
Maka dalam hadis ini Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam ee didatangi
Jibril dan Jibril Alaih Salam bertanya
tentang tiga hal secara umum yang
dikenal dengan maratibuddin. Ya,
maratibuddin
yaitu tingkatan tingkatan agama.
Maka yang pertama
ee maratubiddin yang pertama adalah
al-Islam.
Al Islam. Islam ini ditafsirkan oleh
Nabi dengan rukun is rukun Islam ya.
Lima rukun Islam.
Apa saja Ibu-ibu? Sudah hafal belum?
Satu apa? Syahadtainatain.
Syahadatain. Yang kedua
apa?
Salat. Yang ketiga
zakat.
Yang keempat
puasa Ramadan.
Yang kelima haji bagi yang mampu haji.
Setelah itu ee Rasulullah ditanya lagi.
Maka beliau ditanya tentang iman. Maka
beliau menjawab tentang iman. Aliman.
Iman. Maka Rasulullah menjawab dengan
enam rukun I iman.
Yaitu iman kepada Allah.
Pada Allah. Terus apa?
Pada malaikat.
Malaikat-malaikatnya. Kemudian apa?
Kitab-kitabnya.
Kemudian para rasul.
para rasul. Kemudian yang kelima,
hari akhir.
Yang keenam apa? Tak takdir. Qadar.
Rukun rukun iman. Perhatikan kalau kita
perhatikan di sini, aliman dan Islam
disebutkan dalam satu konteks. Kalau
disebut dalam satu konteks, dalam satu
konteks, maka rukun Islam ini terkait
dengan amalan zahir. Amal-amal zahir.
Adapun rukun iman ini terkait dengan
amal-amal ba amal-amal batin. Amal-amal
batin. Sehingga saya sempat lihat di
situ kalau kita gambarkan Islam ibarat
atau agama ini ibarat pohon. Kalau kita
ibaratkan
apa namanya agama itu ibarat pohon. Jika
jika agama atau iman
ibarat pohon,
maka kita bisa bagi seaknya ini adalah
tanah. Maka rukun iman tuh di bawah
semuanya ada enam ya. Iman kepada Allah
ini akarnya
iman kepada Al. Kemudian ada enam ya
satu. Ya, dua
ya, satu
dua ya tiga misalnya ya. Iman kepada
Allah kemudian kepada apa? Malaikat
kepada
kitab
rasul kemudian apa? Rasul kemudian apa?
hari akhir
kemudian
takdir.
Nah, adapun yang di atas ibarat pohon
yang kelihatan zahir ibarat pohon
kemudian ada cabang-cabangnya
ya misalnya gini. Maka ini adalah
syahadatain. Ini rukun pertama, rukun
kedua, rukun ketiga, rukun keempat,
rukun keelima, kemudian baru daunnya.
Ya.
Ya, ini gampangnya. Maka
iman terkait dengan hal-hal yang tidak
kelihatan. Adapun Islam terkait dengan
hal-hal yang zahir ya. Tetapi kita tahu
bahwasanya yang zahir itu tumpuannya
adalah yang bagian mana? Bagian bawah.
Bagian bawah. Setelah itu baru kemudian
Rasulullah ditanya tentang ihsan. Yang
ketiga,
al-ihsan.
Ali-ihsan itu apa? Maka Rasulullah
menyebutkan dua tingkatan. Anbudallaha
kaanaka tarahu. Engkau beribadah kepada
Allah seakan-akan engkau melihat Allah.
Faillam takun tarahu fainnahu yaro.
Kalau kau tidak melihat Allah maka
yakinlah Allah meli melihatmu. Maka
ihsan itu kondisi dalam menjalankan iman
dan Islam. Maka al-ihsan
adalah kondisi
seseorang
dalam menjalankan
ibadah.
Ibadah iman atau ihsan. Ihsan atau Islam
atau iman. Islam atau i iman. Maka
seorang dalam menjalankan Islam atau
iman ya maka dia meyakini bahwasanya
Allah sedang melihatnya atau dia
meyakini dia sedang melihat Allah
subhanahu wa taala. Ini gambaran maka
disebut dengan maratibuddin. Karena
Islam, iman, dan ihsan adalah
tingkatan-tingkatan agama.
Nah, dari sini kalau kita mau kita mau
buat ee himpunan, paham Ibu-ibu ini?
kita buat himpunan, maka kita bisa bikin
himpunan misalnya yang paling besar
disebut dengan alislam.
Kemudian di dalamnya ada namanya aliman.
Aliman.
Di dalamnya lagi ada al ihsan. Al-ihsan.
Orang yang Islam belum tentu iman. Orang
iman belum tentu ihsan. Jadi ini derajat
yang paling tinggi.
Derajat yang paling tinggi.
Karena orang yang Islam berarti dia
masih
perhatian kepada zahirnya kurang
terhadap batinnya.
Ya, untuk mencapai derajat iman dia
harus perhatian sama batin juga. Makanya
Allah mengatakan dalam Al-Qur'an qatilu
amanna qulam tumminu wakin qulu aslamna.
Ya, berkata orang Arab Badu dalam surat
Al-Hujurat, orang Arab berkata, "Kami
sudah beriman." Maka Allah mengatakan,
"Lam tumminu, kalian belum beriman."
Walakin qulu aslama. Tapi katakanlah
kalian masih Islam. Walamma yadulil
imanu fiubikum. Iman belum masuk dalam
hati kalian. Perhatikan iman.
E walam yadkil imanu fi qulubikum
fi qulubikum.
Ini dalil-dalil dalil-dalil bahwa
bahwa derajat iman
lebih tinggi dari apa? Is Islam.
Ini di antaranya kata Allah membantah
orang-orang Badui yang mengatakan
mengaku beriman. Kata Allah walakinlu
aslamna kalian baru masuk Islam. Walamma
yadil imanu fi qulubikum. Iman kalian
belum masuk dalam hati. Ini di antara
dalil bahwasanya
iman lebih tinggi daripada
Islam. Ya, demikian dalam firman Allah
Subhanahu wa taala.
minal mukminin
fiha bait minal muslimin. Dalam surat eh
azzariyat kata Allah subhanahu wa taala,
"Faakhrojna
manana fiha minal mukminin."
Fama wajna fiha
giriro baitin minal muslimin.
Perhatikan ini cerita kaum Nabi Luth
yang diselamatkan. Ketika Allah turunkan
azab kepada kaum Nabi Luth, Allah
berkata, perhatikan. Faakrajna manana
fiha minal mukminin. Maka kami
selamatkan dari negeri tersebut dari
kalangan kaum mukminin. Siapa? Nabi Luth
dan dua putrinya. Selamat.
Fama wajna fiha girir baiti minal
muslimin. Yang kami dapati di kampung
tersebut ada hanya satu rumah. Satu
rumah rumahnya kaum muslimin. Kenapa
Allah bedakan mukminin dengan muslimin?
Kata para ulama, karena yang selamat
benar-benar orang beriman, adapun
pemilik rumah ada istrinya Nabi Luth.
Dan zahir dia, dia munafik. Dia
menampakkan keislaman di hadapan siapa?
Nabi Nabi Luth. Sehingga dia seakan-akan
minal muslimah, tetapi dia bukan minal
muslimah.
Karena rumah itu yang tempati adalah
orang mukmin, orang muslim. Maka Allah
membuat standar paling rendah. Kata
Allah, "Fama wajadina fiha girro baitin
minal muslimin." Kami tidak dapati rumah
yang selamat kecuali rumahnya apa?
Kaum muslimin. Maksudnya Nabi Nuh, Nabi
Luth dan putrinya dan istrinya. Tapi
yang selamat cuma yang beriman. Ini
dalil bahwasanya beda antara mukmin
dengan muslim.
Demikian juga ketika dalam hadis ketika
ee Rasulullah ee Rasulullah memuji Amr
bin Ash kata Rasul sahu alaihi wasallam,
"Aslamas waana Amr bin Ash." Subhanallah
orang-orang Islam. Adapun Amr bin Ash
iman berarti Amr bin Ash memiliki
kedudukan yang spesial. Karena
Rasulullah berkata aslamanas orang-orang
Islam. Adapun Amr bin Ash, iman wa amana
Amr bin As. Demikian juga dalam hadis
Saad bin Abi Waqqas radhiallahu taala
anhu ketika Rasulullah membagi pemberian
kepada orang-orang, ada satu orang yang
tidak dibagi. Kata Rasulullah, kata Saad
bin Abi Waqqas, "Ya Rasulullah, kau
berikan kepada orang-orang sementara kau
tidak beri kepada si fulan. Wa inni
laarahu mukminan." Padahal menurutku dia
seorang mukmin. Kata Nabi, "A musliman."
Bilang muslim. Dia bilang, "Ya
Rasulullah, saya lihat dia seorang
mukmin." Kata Nabi, "Muslim." Bilang,
"Muslim sampai tiga kali atau dua kali."
Kenapa? Karena Amr bin Ash sedang
berbicara. Kalau bilang dia beriman,
berarti Amr bin ee Sa'ad bin Abi Waqqas
sedang berbicara tentang hati. Maka
Rasulullah bilang, "Jangan nilai
hatinya, nilai dulu zahirnya." Maka
Rasulullah berkata, "Awa musliman atau
muslim."
Ini dalil bahwasanya beda antara iman
dengan Islam. Tayib. Ya. Jadi dalilnya
tadi di antaranya perkataan Nabi
sallallahu alaihi wasallam, "Aslamas
wa amana
Amr bin Ash." Kemudian juga tadi kata
Saad bin Abi Waqqas, "Inni
arahu
mukminan." Kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, "A musliman."
Kata Abdul bin Ass, "Kenapa kau tidak
kasih sedekah kepada orang itu? Padahal
menurut saya dia beriman." Kata Nabi,
"Ucapkan saja muslim." Kenapa? Nabi
mengajarin untuk nilai zahirnya saja
dulu. Nilai zahirnya dulu.
Karena kalau mukmin ini berarti nilai ha
nilai hati. Sementara nilai hati tidak
ada yang tahu kecuali siapa? Allah. Maka
Rasulullah ajarkan bilang aja atau
muslim dia orang baik atau muslim.
Demikian juga doa ketika kita mendoakan
orang dalam salat jenazah.
Allahumma man ahyaitahu minna faahyihi
alal is islam.
Ya Allah, siapa yang Kau hidupkan di
antara kami, maka hidupkanlah di atas
Islam dan siapa yang Kau wafatkan di
antara kami mewafatkan di atas iman.
Kenapa? Kalau wafat amal zahir enggak
bisa dibawa, tapi iman bisa dibawa. Maka
di sini dibedakan antara Islam dengan
iman. Secara umum ibu yang dirahmati
Allah Subhanahu wa taala bahwasanya
Islam terkait dengan zahir, iman terkait
dengan batin, ihsan adalah kondisi yang
tinggi ketika sedang berislam dan
beriman.
Akan tetapi perhatikan ini hukum asal
bahwasanya ini semua Islam dan iman
dibedakan. Ini
jika Islam dan iman disebutkan dalam
satu konteks.
Dalam satu konteks.
Disebut satu konteks. Maka iman
terkait dengan batin. Islam terkait apa?
Zahir. Ibu-ibu sabar ya. Belajar ya
jangan ngelamun.
Ya.
Tetapi jika iman dan Islam disebutkan
secara bersendirian, Islam to atau iman
th, kalau disebut Islam tha atau iman
tha, maka Islamnya iman, imannya Islam.
Ini dalam kaidah bahasa Arab disebutkan
dua lafal-lafal. Perhatikan lafal-lafal
yang jika disebutkan bareng,
disebutkan berbarengan.
Maka berbeda maknanya.
Berbeda maknanya.
Namun jika disebut satu saja, Namun jika
disebut satu saja,
salah satunya saja,
maka maknanya mencakup yang kedua,
maka maknanya mencakup yang lainnya.
Ya, ini dalam istilah disebut idza dua
lafal idza ijtamaa
iftarqo
waidza iftaraqo
ijtamaa.
Contoh
lafal seperti apa? Miskin, ka miskin dan
fakir.
Fakir kalau disebutkan berbarengan maka
fakir lebih parah daripada miskin.
Innamaqatu lil fuqar wal masakin.
Sungguhnya sedekah buat para fakir, buat
para miskin. Fakir apa? Fakir yang
penghasilannya tidak mencukupi setengah
keperluannya. Adapun miskin yang
penghasilannya lebih dari setengah
keperluannya. Artinya kalau ada orang
kebutuhan R juta per bulan, ternyata
penghasilan cuma R1 juta, fakir atau
miskin, Ibu-ibu?
Dia punya kebutuhan R juta sebulan,
ternyata gajinya cuma sejuta. Fakir atau
miskin? Fakir. Karena tidak memenuhi
setengah dari kebutuhannya. Demikian
juga kalau dia cuma Rp1.500 fakir. Tapi
kalau penghasilannya Rp3 juta sementara
kebutuhannya R juta, fakir atau miskin?
Miskin. Karena miskin itu adalah
penghasilannya
lebih dari setengah kebutuhannya tapi
belum mencapai keper keperluan. Tapi
kalau disebutkan salah satu saja ya
miskin ya fakir. Ini orang miskin ya
entah miskin entah fakir. Artinya orang
fakir. Fakir kalau disebut satu lafaz
saja fakir sama dengan miskin. Miskin
sama dengan fakir. Tapi kalau
digabungkan keduanya maka berbeda.
Contoh lagi yang kedua, albir wat taqwa.
Takwa dan albir ini kalau digabungkan
albir terkait kebajikan,
attaqwa terkait dengan meninggalkan
maksiat kalau digabungkan.
Seperti Allah berfirman, "Wata taawanu
alal birri wat taqwa." Taring
tolong-menolong dalam
kebajikan-ketakwaan. Maksudnya
tolong-menolong dalam melakukan
kebajikan, tolong-menolong dalam
meninggalkan kemaksiatan. Tapi kalau
hanya disebut bir saja atau takwa saja,
bir sama dengan takwa. Contoh, wallahu
yuhibbul muttaqin. Allah mencintai orang
yang bertakwa. Maksudnya apa? Yang
meninggalkan maksiat melakukan
kebajikan. Sehingga takwa mencakup bir
karena yang disebut cuma takwa doang.
Sama kalau disebut albir saja juga
mencakup takwa. Laisal birra anwallu
wujuhakum. Laisal biru
magrib wakinal birana billah. Ya. Dan
seterusnya biru dan seterusnya. Ini
albir mencakup takwa. Takwa mencakup
bir. Jadi kalau disebut salah satunya
sama dengan, kalau disebut bareng-bareng
berbeda. Di antaranya adalah Islam dan
iman. Islam dan apa? Iman.
Coba contoh yang dipisah. Contoh tadi
kita sebutkan yang dipisah disebutkan
salah satunya saja.
Salah satunya. Contoh ya.
Banyak ini yang ini banyak. Contoh
misalnya doa Nabi Nabi Yusuf alaihi
salam.
Tawaffani musliman wa alhiqni bisolihin.
Tib. Wafatkan aku dalam kondisi muslim.
Muslim sini maknanya amalan zahir atau
mencakup iman?
Mencakup karena cuma disebut muslim
doang. Ya beda kalau Nabi Yusuf berkata,
"Tawa musliman mukminan." Baru kita
tafsirkan. Muslim amal zahir, mukmin
amal batin. Tapi ketika disebutkan salah
satunya berarti ya Islam ya iman, Muslim
ya mu mukmin. Paham ya? Misalnya Allah
ee berfirman ya.
Ya ayyuhalladzina amanu
kutiba alaikumusam tib. Ini amanu ini
mencakup Islam atau iman juga atau iman
doang?
iman ya Islam dua-duanya karena disebut
cuma masalah i iman. Paham ibu-ibu?
Mukmin ya muslim. Muslim ya mukmin.
Contoh lagi ee
apa namanya? Misalnya Allah berfirman,
"Innaddina
al Islam." Tiib. Islam sini mencakup
iman atau tidak mencakup iman? Memang
terima cuma amalan zahir, amalan batin
Allah tidak terima. Dua-duanya Allah
terima. Ini maksud saya ini kaidah dalam
ee syariat. Jika dua kata disebutkan
berbarengan dalam satu konteks, maka
maknanya beda. Tapi kalau disebut salah
satunya mencakup yang lain.
Mudah-mudahan Ibu-ibu paham.
Paham, Ibu-ibu.
Alhamdulillah. Yang telahamkan Ibu-ibu,
ya.
Baik. Sekarang kita bahas tentang ihsan.
Ibu-ibu ini penting. Ihsan dan ini yang
sangat urgen dalam kehidupan kita
sehari-hari.
al-ihsan.
Jadi dengan demikian, Ibu-ibu, kita
jangan hanya memperhatikan amalan zahir
doang, kita juga perhatikan amalan
batin. Jadi belajar bukan cuma fikih
wudu, fikih salat, fikih haji, belajar
juga akidah. Iman kepada Allah, iman
kepada itu adalah pondasi. Sangat
penting kita belajar akidah. Jangan
dianggap remeh. Karena akidah ini
pondasi luar biasa. Kalau pondasinya
kuat, maka pahala amal zahirnya lebih
tinggi. Dulu para sahabat kenapa amal
mereka pahalanya banyak dibandingkan
orang belakangan? Karena iman mereka
tinggi. Sampai Rasulullah mengatakan,
"Ya la anna ahadakum anfqla uhudinahaban
maag mudhaifahu wifahu." Kalau salah
seorang di infak emas besar gunung Uhud
tidak akan sama dengan infak sahabat
meskipun hanya satu genggam, dua genggam
gandum atau setengah gandam. Apa yang
membedakan? Karena iman sahabat sangat
tinggi. Kuatnya iman mempengaruhi
kualitas ibadah.
Kuatnya iman mempengaruhi kualitas apa?
Ibadah. Jadi benar kita belajar amal
zahir penting. Salat, zakat, puasa, haji
itu penting. Tetapi jangan lupa untuk
belajar akidah, masalah ke keimanan.
Tib. Di antara yang menjadikan suatu
amal berkualitas adalah ihsan. Ihsan
tadi dua ting dua tingkatan.
Tingkatan yang pertama anbudallah
kaarahu. Ibadah kepada Allah seperti
melihat Allah
seperti melihat Allah.
Perhatikan di sini Rasulullah
menggunakan kata kalimat seperti karena
memang tidak mungkin melihat Allah.
Selama masih hidup tidak akan bisa lihat
Allah. Kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, "Taamu annakumakum hatta
tamutu." Ketahuilah, kalian tidak akan
bisa melihat Allah sampai kalian ma
mati. Nabi Musa melihat Allah tidak
bisa. Dia pun pingsan. Falamma tajalla
rbuhu lil jabali ja'alah dakka w Musaqo.
Tatkala Allah bertajalli memperlihatkan
dirinya lewat gunung. Gunung pun hancur,
Musa pun pingsan. Tidak mampu. Kenapa?
Tubuh kita enggak kuat. Kita lihat
matahari aja enggak kuat. Lihat orang
ngelas aja kita enggak kuat. Lihat
malaikat enggak bisa. Lihat jin enggak
bisa.
Lihat Allah juga tidak mampu. Nabi
Muhammad sallallahu alaihi wasallam
sudah dekat dengan Allah ketika Isra
Mikraj. Ditanya oleh Abu Dzar, "Hal
roita rabbak?" "Apa kau lihat Allah?"
Kata Nabi Muhammad sallallahu alaihi
wasallam, "Nurun anna arahu gak bisa.
Ada cahaya yang menghalangi. Bagaimana
aku bisa lihat Allah Subhanahu wa
taala?" Ya,
bagaimana aku bisa melihat Allah
subhanahu wa taala? Maka ini tingkatan
pertama, ibadah kepada Allah seperti
melihat Allah Subhanahu wa taala. Tapi
tidak mungkin bisa melihat karena Nabi
mengatakan seper seperti itu. Terus
bagaimana Ustaz cara mewujudkan ini?
Saya ingin sampai tingkatan pertama.
Kalau tingkatan kedua insyaallah bisa.
Kedua apa?
Ibadah kepada Allah dengan yakin Allah
sedang melihatmu.
Beribadah
dengan yakin
Allah sedang melihatmu.
Faam takun fainnahu yar. sedang
melihatmu. Ini insyaallah lebih mudah.
Ini disebut dengan muraqabatullah.
Merasa diawasi oleh Allah. Senantiasa
merasa diawasi.
Ini ibadah yang agung. Tetapi bisakah
kita sampai pada derajat yang pertama?
Ini yang paling pertanyaan. Bisakah kita
sampai derajat pertama? Bagaimana
caranya aplikasinya? Aplikasi sederhana.
Para ulama mengatakan itu dengan
penglihatan hati.
Penglihatan hati.
menghadirkan seakan-akan di depan dia
seakan-akan di hadapan Allah seakan-akan
dia sedang di hadapan Allah
di hadapan Allah subhanahu wa taala. Ya,
kalau kita bayangkan kita sedang, kita
bisa bayangkan saya sedang di hadapan
seorang raja maka kita akan tunduk dan
khusyuk. Apalagi kita di hadapan Rabbul
alamin. Allah Subhanahu wa taala yang
berada di atas arsy. Tetapi semua yang
di bawahnya dalam genggamannya. Semua
ubun-ubun makhluk di tangannya. Semua
keputusan adalah di tangannya. Dia di
atas tapi dia mengetahui seluruh apa
yang ada di bawah. Peraturannya berlaku
sampai seluruh yang ada di bawah
seluruhnya. Aamintum man fisama ayaksif
bikumul ard. Apa kalian merasa aman?
Allah di atas kemudian kalian merasa
aman. Kalian akan dibenamkan oleh Allah.
Meskipun Allah di atas, Allah maha
mengetahui segala segalanya. Maka dia
hadirkan bahwasanya kekuasaan Allah luar
biasa. Maka dia beribadah seakan-akan
sedang melihat Allah Subhanahu wa taala.
Sebagaimana ada yang mengatakan seperti
seorang membayangkan dia di surga lantas
dia melihat wajah Allah Subhanahu wa
taala. Maka dia ketika melihat wajah
Allah tentu dia akan sangat cinta kepada
Allah, sangat takut kepada Allah, sangat
berharap kepada Allah. Sehingga dia
menghadirkan dalam batinnya sedang
melaporkan dirinya di hadapan Rabbul
Alamin. Maka itu membuat dia khusyuk.
Ya, kita sedang melapor salat, sedang
melapor kepada Allah, sedang
berkeluhkusa, berhadapan dengan Allah.
Tentu kita tidak akan bisa bayangkan
zatnya karena tidak kita tidak tahu zat
Allah. Tapi kita sedang membayangkan
seakan-akan kita sedang di hadapan
Allah. Itu bisa. Kalau kita seorang
berusaha bahwasanya sedang di hadapan
Allah, maka dia sedang berhadapan Allah,
maka dia akan langsung otomatis khusyuk.
Ini agak susah memang. Tetapi kalau dia
tidak mampu ini, derajat yang kedua dia
yakin Allah sedang melihat saya.
Itu lebih bisa. bahwasanya Allah maha
melihat, maha mendengar.
Nah, siapa yang menjalankan ini, maka
dia akan kualitas ibadahnya tinggi dan
kalau dia bisa sertakan dalam
kehidupannya sehari-hari, maka dia telah
mencapai derajat Islam dia lewati,
derajat iman dia lewati, tembus ke
derajat ihsan. Dan hanya sedikit
orang-orang yang muhsinun
hanya sedikit. Makanya kenapa orang bisa
memaafkan karena dia tahu orang Allah
sedang melihat dia, Allah sedang
mengawasinya. Kenapa dia bisa bersedekah
dengan baik? Atau saya sedang
bersedekah. Allah sedang melihat saya
sehingga dia bisa melakukan itu semua.
Kenapa dia tidak butuh riak? Ngapain
saya riak? Sementara zat yang maha
agung, yang maha mulia, kalau dia memuji
maka itu terpuji. Kalau dia mencela itu
yang tercela. Manusia enggak. Makanya
ketika Nabi Muhammad sallallahu alaihi
wasallam dipanggil oleh Arab Badui, "Ya
Muhammad, ukhruj ilaina. Wahai Muhammad,
keluarlah ketemu kami. Sesungguhnya
madhuna zainamunain.
Kami ingin puji engkau Muhammad. Karena
kalau kami memuji engkau akan mulia.
Kalau kami cela engkau akan buruk. Kata
Nabi. Nabi keluar kata Nabi,
"Dzalikallah." Yang begitu hanya Allah
yang begitu. Kalau muji pasti terpuji.
Kalau buruk pasti mencela pasti tercela.
Itu hanya Allah. Manusia orang baik
dicela ternyata yang dicela baik. Ada
orang dipuji-puji ternyata dia buruk.
Itu manusia.
Adapun Allah kalau Allah muji pasti
terpuji. Kalau Allah cela pasti tercela.
Maka ketika seorang menghadirkan dalam
dirinya bahwasanya Allah sedang
melihatnya, sedang mengawasinya,
Allah sedang menilainya, dia tidak butuh
dengan penilaian netizen. Dia tidak
butuh dengan penilaian orang. Dia akan
terhindar dari ria, dia tidak akan dia
akan terhindar dari sumah. Kenapa dia
tahu Allah sedang melihat saya? Sudah.
W w taf'alu min khairin w tunfiqu min
khairin ylamuhullah. Apa yang kau
lakukan? Allah tahu. Selesai. Dia tahu
Allah sedang melihatnya. maka kualitas
ibadahnya tinggi. Dia melewati Islam,
dia lewati iman, dia lewati, dia
menembus sampai pada derajat ihsan. Dan
ini butuh perjuangan
sehingga melengkaplah derajat ihsan pada
dalam di dirinya. Demikian ibu-ibu yang
dirahmati Allah Subhanahu wa taala.
Semoga Allah menjadikan kita semua
hamba-hambanya yang mukminin dan
muhsinin ya. Wallahu taala aam bisawab.
Oh iya, ditegur masih ada yang hari
kiamat.
Ya sudah kita lanjut sebentar.
Kemudian Rasulullah ditanya tentang hari
kiamat. Faakbirni anisaah. Maka
Rasulullah mengatakan, "Mal masulu
minil." Yang ditanya tidak lebih tahu
daripada yang bertanya. Dalam bahasa
kita yang lain itu la adri. Itu maknanya
apa? La la adri. Cuma Rasulullah ada
include dia ingin mengatakan, "Bukan
saya aja yang tidak tahu. Engkau yang
bertanya pun juga tidak tahu." Padahal
malaikat Jibril sangat dekat dengan
Allah. Itu pun yang sering komunikasi
langsung dengan Allah. Malaikat Jibril
itu pun tidak tahu. Apalagi saya. Tapi
kita dua-dua sama tidak tahu. Maka
Rasulullah berkata, "Mal masulu anha."
Yang ditanya itu saya tidak lebih tahu
daripada yang bertanya.
Sama-sama tidak tahu. Dan itu rahasia
Allah. Innallahahu ilmus saah.
Sesungguhnya di antara ilmu yang Allah
sembunyikan adalah ilmu tentang hari
kiamat. Benar. Rasul sahu alaihi
wasallam menyebutkan tanda-tandanya,
tapi kapan pastinya tidak ada yang tahu.
Rasulullah kabarkan hari kiamat pasti
hari Jumat. Tapi Jumat yang mana? Di
tahun yang mana? Di bulan yang mana?
Di minggu yang mana? Enggak ada yang
tahu. Yang tahu hanya Allah Subhanahu wa
taala. Kemudian ketika Rasul Sallahu
Alaihi Wasallam tidak tahu, maka kalau
ada yang bilang hari kiamat tinggal 30
tahun lagi gedabrus.
itu dukun nekad nekad jadi dukun. Oleh
karenanya kadang-kadang saya heran ada
sebagian dai lebih nekad daripada dukun.
Dukun aja enggak berani ngeramal gitu.
Ini sang dai lebih nekad ngeramal. Oh,
umur kita kiamat tinggal sekian puluh
tahun. Sampai di antara mereka ada yang
jualan, ayo kita beli kuda. Karena hari
kiamat nanti perang dengan kuda.
Akhirnya jualan kuda
sampai bikin kampung hari akhirat.
Maksudnya kampung hari akhir zaman
akhirnya jualan.
Ini kalau orang sudah tahu entar lagi 30
tahun lagi hari kiamat, ngapain saya
bangun rumah? Ngapain saya buka usaha?
Entar lagi mati. Ya benar hari kiamat
dekat, tapi tidak boleh kau sebutkan
sekian puluh tahun, sekian enggak boleh.
Ini dukun. Dukun aja enggak berani.
Dukun aja enggak berani. Ini ustaz
berani ngeramal hari kiamat
kapan-kapannya. Yang Nabi mengatakan
Jibril aja enggak tahu terus kau tahu
bagaimana ceritanya.
Dan banyak orang terpesona pakai
hitung-hitunganlah. Inilah inilah inilah
gak gak boleh
ulama tidak boleh kita ikuti. Dalil
banyak tegas menunjukkan bahwasanya
tidak ada yang tahu hari kiamat. Nabi
pun tidak tidak tahu. Tib. Namun di
antara rahmat Allah untuk menjelaskan
bahwasanya hari kiamat pasti akan datang
maka ada tanda-tanda hari kiamat. Dan
tanda hari kiamat banyak puluhan. Ada
buku asratus saah asugra alkubra.
Asratus saah tanda-tanda kiamat terjadi
laqad jaa asratuha. Ada ada ee apa
namanya? Tanda-tanda ada dua. Ada
asratus sa alkubra tanda-tanda besar
hari kiamat. Ada asratus saah assugra
tanda-tanda kecil hari kiamat. Kalau
yang kubra itu menjelang dan itu
biasanya terkait dengan hal yang luar
biasa seperti Dajjal yang tidak wajar
dengan ee perkara yang terjadi di alam
semesta ini. Munculnya turun munculnya
Dajjal turunnya Nabi Isa dari ee langit.
Kemudian ada hewan bisa berbicara
matahari terbit dari barat. Ini hal yang
luar biasa. Baik kejadian di dunia atau
ataupun di langit disebut asratus saah
alkubra. Dan ada asratus saah sugra
yaitu tanda-tanda akan terjadi hari
kiamat yang masih jauh dari terjadi hari
kiamat. Bukan menjelang hari kiamat. Di
antaranya
Rasulullah ditanya, "Faakbirni an
amaratiha." Kalau gitu kabarkanlah
kepadaku tentang tanda-tanda hari
kiamat. Kata Jibril. Nabi menjawab,
"Antalidal amatu rbataha."
Pertama, Nabi sebutkan dua tanda. Tentu
tandanya banyak. Di antaranya kau akan
mendapati seorang anak perempuan ee
ee seorang wanita melahirkan majikan
perempuannya. Seorang wanita melahirkan
majikan perempuan. Apa maksudnya ini?
Ini mengisyaratkan bahwasanya akan
terjadi banyak alfutuhat alislamiyah.
Yaitu bahwasanya Islam akan melebar
berkuasa sehingga banyak negara-negara
akhirnya ditaklukkan oleh kaum muslimin.
Sehingga ditaklukkan akhirnya ada
anak kecil yang dijadikan tawanan.
Anak kecil wanita dijadikan tawanan.
Ibunya tidak. Ibunya selamat. Anaknya
diambil. diambil oleh kaum muslimin,
dirawat, kemudian dia jadi muslimah.
Dia jadi muslimah, kemudian dia kaya,
kemudian dia beli budak. Kebetulan yang
dia beli ibunya sendiri.
Ini mungkin terjadi. Ini salah satu
tafsiran. Makanya dikatakan antalidul
amatu rbata. Seorang budak wanita
melahirkan majikan perempuannya.
Bagaimana kok bisa demikian? Tadi
ceritanya ada anak kecil ditawan. Anak
ini kafirah asalnya. Kemudian ditawan,
kemudian masuk Islam, kemudian jadi
orang kaya, kemudian dia beli budak.
Ternyata budak tersebut ibunya dan dia
tidak tahu.
Sehingga dia merintahin ibunya sendiri
padahal ibunya tidak tahu. Ada yang
mengatakan maknanya adalah majazi.
Maksudnya dia menjelang hari kiamat akan
terjadi kedurhakaan besar-besaran sampai
seorang anak perempuan merintah ibunya
seperti pembantunya sendiri. Ibunya
diomel-omelin, dibentak-bentak tanpa
digaji, dimarah-marahin. Ada atau tidak?
Mungkin belum sampai segitu. Tapi memang
sekar
Resume Requeue
Read
file updated 2026-02-12 01:16:15 UTC
Categories
Manage