Kitab Al-Kabair #39: Menyikapi Fitnah Yang Benar
ekqxIDkJPm8 • 2025-10-11
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu
ala taufqihi wattinani ashadu alla
ilahaillallah wahdahu la syarikalahuim
wa ashadu anna muhammadan abduhuasul
ridwumma shli alaihi waa alihi wa
ashabihi wa ikhwani. Hadirin hadirat
yang dirahmati Allah subhanahu wa taala,
kita masih bahas tentang
bab ee fitnah ya, majaa fil fitan
tentang fitnah-fitnah. bagaimana cara
kita mensikapinya yang benar. Karena
kalau kita salah bersikap bisa
menjerumuskan kita dalam dosa-dosa besar
ya, bahkan sampai pertumpahan darah
gara-gara fitnah ya.
Ee paling tidak fitnah juga menyebabkan
kalau kita terjun dalamnya bisa
menimbulkan ee gibah, namimah, dan
lain-lain. Maka seorang harus memiliki
sikap yang benar dalam menghadapi fitnah
yang terjadi di sekitarnya. Pada
pertemuan lalu telah kita bahas tentang
macam-macam fitnah. Kita masuk pada
hadis an ibni Amr qala
dari Ibnu Amr radhiallahu anhuma qala
kunna maan Nabi sallallahu alaihi
wasallam fi safarin. Suatu hari kami
bersama Nabi dalam safar. Fanazalna
manzilan. Kami lalu mampir suatu tempat.
Faminna man yuslihu khibaahu. Di antara
kami ada yang perbaiki kemahnya.
Apa bikin kemah waminna man yantadil. Di
antara kami ada yang ee apa? Latihan
manah ya. Waminna man hua fi jasyarihi.
Di antaranya ada yang ngurus hewan
tunggangannya. Demikian kalau orang lagi
safar mampir masing-masing dengan
kesibukannya.
Innada munadi rasulillah. Tiba-tiba ada
tukang seru Rasulillah menyeru asalatu
jamiah. Asalatu jamiah itu panggilan
untuk berkumpul untuk salat. Biasanya
karena ada salat kemudian ada
pengumuman.
Fajtama ila rasulillah sallallahu alaihi
wasallam. Lalu kami pun berkumpul di
sisi Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam. Faqala kemudian Rasul sahu
alaihi wasallam
eh menyampaikan tentang hadis terkait
fitnah. Ya.
Innahu lam yakun nabiyun qobli illa
kanaqan alaihi any yadulla ummatahu ala
khairi ma ya'lamahu lahum.
bahwasanya tidak ada seorang nabiku
sebelumku kecuali wajib baginya untuk
menunjukkan kepada umatnya kepada apa
yang terbaik yang dia ketahui untuk
mereka. Waunirum syar ma yamuhu lahum
dan memperingatkan mereka atas keburukan
yang dia ketahui.
Itu Nabi menyampaikan seluruh kebaikan
memperingatkan seluruh keburukan yang
dia tahu. Wa inna ummatakum hadhi juila
afiatuha fi awaliha. Dan umat kalian ini
dijadikan keselamatannya di awalnya.
Wasusibu akir balaun wa umurun
tunirraunaha. Dan pada akhir umat ini
akan ditimpa dengan bala yaitu bencana
dan perkara-perkara yang kalian
mengingkarinya.
Maka datang akan datang fitnah-fitnah
maka sebagian akan melembutkan,
meringankan sebagian yang lain.
Kemudian seorang berkata, "Muhlik,
inilah fitnah yang akan membinasakan
aku."
Kemudian fitnah tersebut sirnaul
fitnatu. Kemudian datang fitnah
berikutnya mukmin. Maka seorang mukmin
berkata, "Hadi, sekarang baru saya
binasa. Sekarang baru saya binasa.
ahabah
jannah. Maka barang siapa yang ingin
diselamatkan dari api neraka dan masuk
surgaah,
maka hendaknya kematian menjemputnya dan
dia dalam kondisi beriman kepada Allah
dan hari akhirat.
Dan hendaknya dia bersikap kepada
manusia, kepada masyarakat dengan sikap
yang dia suka disikapi kepadanya. Waman
baya imamanuqadi
barang siapa yang membaiat seorang
pemimpin penguasa kemudian dia
memberikan ya tangannya
dan dia menunjukkan keseriusannya dengan
e dengan hatinyau
maka hendaknya dia taat kepada penguasa
tersebut yang telah di baaiat iniah
semampunya
fain jaa aku yunaziuhu kalau datang
orang lain ingin
mengganggu kepemimpinan
Imam yang telah dia baiatbu
ak maka bunuhlah orang yang datang
belakangan. Hadis riwayat Muslim. Tap
kita ulangi hadis ini.
Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma
bercerita bahwasanya mereka suatu hari
bersafar bersama Nabi. Kemudian biasa
mampir di tengah perjalanan ada yang
sibuk ngurusin kemahnya. Maka ada yang
sibuk latihan panah dan ada yang ngurusi
hewan-hewan tunggangannya. Nah,
tiba-tiba ada seru penyeru yang berkata,
"Asalatu jamiah." Asalatul jamiah.
Dahulu sebelum ada azan, seruan kalau
ngumpulin orang dengan asalatu jamiah
untuk salat lima waktu. Setelah ada
azan, maka salat lima waktu tidak ada
lagi asalatu jamiah. Kemudian setelah
itu para ulama berselisih bagaimana
dengan salat-salat yang membutulkan
membutuhkan perkumpulan yang tidak ada
azan seperti salat Id, Idul Fitr, Idul
Hattah, salat istisqa apakah perlu
mengucapkan asalatu jamiah khilaf sebah
mengatakan perlu karena orang perlu
berkumpul maka perlu dikatakan asalatu
jamiah. Karena salat-salat tersebut
salat Idul Fitri, Idul Adha, salat
istisqa maka ini tidak ada azan. Maka
boleh dipanggil untuk kumpul dengan
asalatul jamiah. Seb mengatakan tidak
perlu karena tidak ada sunahnya. Mazhab
Syafi'iyah lebih longgar lagi. Bahkan
kata mereka bukan cuma salat Id, Idul
Fitri, Idil Adha ee sama salat istisqa
bahkan seperti salat yang butuh ngumpul
seperti salat tarawih. Maka boleh
diserukan asalatu jamiah. Tapi intinya
kalau untuk salat lima waktu tidak ada
lagi salat jjamiah. Karena salat lima
waktu cukup dengan apa? Azan. Oleh
karena di antara kesalahan sebagian imam
ketika mau salat mereka bilang asalatu
jamiah. Ini di antara kesalahannya. Ya.
Tapi adapun kalau orang mau salat jamiah
salat Id, salat Idul Fitri, Idul Adha,
kemudian salat teraih, maka ini ada
khilaf di kalangan para ulama. Dalam
hadis ini tiba-tiba ada penyuru
mengatakan asalatu jamiah. Maka ini pun
ada khilaf. Apakah mereka dipanggil
hanya sekedar untuk perkumpulan saja?
Karena salatul jamiah maknanya kumpul
atau ada salat ketika itu sebatakan
tentu ada salat. Setelah itu baru
Rasulullah kasih nasihat. Wallahualam.
Intinya ini seruan untuk berkumpul.
Asalatu jamiah. Maka berkumpullah fajana
ila rasulillah. Ada yang mengatakan
sebenarnya mengatakan asalatul jamiah
jadilah suatu perkataan untuk
mengumpulkan. Isyarat untuk mengumpulkan
meskipun buat bukan untuk salat.
Meskipun bukan untuk salat. Sebagian
ulama mengatakan ini tentu untuk salat
ee karena ada lafal asalatu jamiah. Baru
setelah itu Rasulullah kasih nasihat
khilaf di kalangan para ulama. Kemudian
ee Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu
anhu berkata, "Fajtamaana ila
rasulillah." Kami pun berkumpul menuju
Rasulull sallallahu alaihi wasallam.
Kemudian Rasulullah kasih jangan.
Rasulullah mengatakan, "Innahu lam lam
yakun nabiyun qobli." Tidak ada seorang
nabi pun sebelumku kecuali wajib baginya
untuk menyampaikan kepada umatnya
kebaikan yang dia tahu. Tidak boleh ada
kebaikan yang dia sembunyikan. Semua
kebaikan yang dia tahu dia beritahukan
secara terperinci atau secara kaidah.
Makanya Islam sudah sempurna ya.
Kemudian syar yamuhum dan memperingatkan
mereka dari keburukan yang dia tahu. Dia
peringatkan mereka. Tidak ada keburukan
yang Nabi tahu Nabi sembunyikan. Nabi
akan ingatkan. Oleh karenanya dalam
Islam kebaikan rinci dan keburukan juga
rinci. Bisa secara detail, bisa secara
global berupa kaidah. Oleh karena Islam
adalah agama yang sempurna dari sisi
penunjukan kebaikan maupun dari sisi
peringatan terhadap keburukan. Dan Allah
berfirman, "Alyaum akmaltu lakum
dinakum." pada hari yang telah aku
sempurnakan bagi kalian agama kalian.
Dan ini termasuk ayat-ayat yang terakhir
turun kepada Nabi ketika Nabi sedang
haji wada. Ketika di Padang Arafah
turunlah ayat ayat ini yang menunjukkan
agama Islam sudah sempurna sehingga
tidak perlu lagi kita membutuhkan ajaran
dari luar ya. Baik filsafat Yunani
maupun yang terkait dengan agama enggak
perlu. Karena agama Islam sudah sempurna
dari segala sisi. Sisi akidah, sisi
ibadah, sisi akhlak, sisi muamalah.
peraturan baik peraturan di keluarga,
bertetangga, bermasyarakat sampai
bernegara semua sudah lengkap. Tidak ada
kebaikan sekecil apapun kecuali sudah
Nabi sampaikan baik secara detail
ataupun secara kaidah. Ya, demikian juga
tidak ada keburukan kecuali Nabi sudah
peringatkan baik secara terperinci
maupun secara apa? Kaidah. Maka semua
sudah dibahas. Semua sudah di dibahas
sehingga kita tidak butuh kepada ee
ajaran-ajaran yang yang lain. Islam
sudah cukup untuk pelajari akidah.
Enggak butuh filsafat-filsafat dari
luar. Untuk bicara tentang
kemasyarakatan tidak perlu dari luar.
Maka semuanya sudah lengkap.
Makanya kalau ada yang melakukan bidah,
kita bilang, "Itu bidah yang kau lakukan
itu Nabi tahu enggak?" Kalau dibilang
Nabi tahu kok Nabi tidak sampaikan
musibah.
Nabi tahu enggak? Ya tahulah. Terus kok
Nabi gak pernah sampaikan?
Repot. Kalau dia bilang Nabi tidak tahu,
terus kau tahu? Repot juga. Nabi enggak
tahu, terus kau tahu musibah. Ya.
Ya. Terus kalau Nabi taruhlah Nabi tidak
tahu, sahabat tahu enggak? Kalau sahabat
tahu harusnya sahabat paling semangat
melakukan ibadah daripada kita. Mestinya
mereka lakukan. Kalau sahabat tidak tahu
terus kamu tahu? Repot.
Repot. Makanya ketika Ibnu Mas'ud
mendapati orang-orang sedang beribadah
dengan zikir berjamaah, haliluiah.
Bertahlilah 100 kali satu orang pimpin
lailahaillallah ramai-ramai.
Lailahaillallah lailahaillallah. Paduan
suara. Kemudian subhanallah, subhanallah
paduan suara. Allahu Akbar paduan suara.
Maka Ibnu Masud tegur. Innakum
jumtatinulmaum
ashaba rasulillah. Cuma dua kemungkinan
kalian mengungguli para sahabat atau
kalian telah datang dengan bidah yang
sesat
karena kalian mengungguli sahabat.
Karena sahabat masih hidup. Haulai
sahabat rasulillah mutawafirun. Kata
Ibnu Masud, "Lihat sahabat Nabi masih
pada hidup.
Waatuhul tuba. Lihat bejana-bejana Nabi
belum belum pecah juga. Masih ada.
Baru saja Nabi meninggal, sahabat enggak
ada yang ibadah seperti kalian. Cuma dua
kemungkinan kalian lebih unggul dari
para sahabat karena bikin ibadah yang
sahabat tidak tahu. Atau yang kedua,
kalian melakukan bidah yang se sesat.
Maka demikianlah berlaku pada seluruh
bidah. Kemudian mereka berkata kepada
Ibnu Mas'ud, "Ya Aba Abdurrahman ma
nuidu khaira. Kami begini tidaklah niat
kami kecuali kebaikan." Maka Ibnu Masud
berkata, "Wakam muridinil khair lan
yusibahu." Betapa banyak yang ingin
kebaikan tidak mendapatkannya.
Oleh karenanya kita kalau ibadah enggak
usah spekulasi yang jelas-jelas aja
masih banyak belum bisa kita kerjakan.
Ngapain kita spekulasi bikin
ibadah-ibadah apa ba? baru. Kalau ini
memang kebaikan,
tentu Nabi dan sahabatnya pasti tahu.
Ya, kalau kalian bilang ini mereka tidak
tahu dan ini penyempurna, berarti agama
belum sem sempurna.
Oleh karenanya kelaziman dari kita
membenarkan bidah-bidah yang muncul
belakangan
menunjukkan bahwasanya agama belum
sempurna. Agama baru sempurna sampai
muncul bidah terakhir.
Kalau bidah terakhir sudah tutup baru
agama sem sempurna. Makanya Imam Malik
berkata,
"Man manistahsana bidatan faqad zaama
anna muhammadan khaar risalah." Siapa
yang menganggap baik suatu bidah, maka
dia telah menuduh Muhammad sallallahu
alaihi wasallam berkhianat terhadap
risalah Allah. Berarti seakan-akan ada
yang disembunyikan atau Rasulullah tidak
tahu. Kemudian dia dia tahu dia tahu.
Ya,
itu berkait dengan ibadah, terkait juga
dengan akidah. Seperti ketika fitnah
khalqul Quran ketika Imam Ahmad
berdialog, Imam Ahmad bertanya, "Kau
menyeru kepada Al-Qur'an adalah makhluk.
Apakah Rasulullah pernah menyerukannya?"
Tidak pernah. Tib setelah Rasulullah,
apakah Abu Bakar pernah menyeru umat
untuk berkeyakinan Al-Qur'an itu
makhluk? Tidak juga tib Umar tidak juga
Utsman tidak juga Ali tidak juga harus
gimana? Lantas ngapain kau serukan
sesuatu yang Nabi Abu Bakar Umar dan
Utsman tidak pernah menyerukannya? Ini
akidah ini tidak ada di zaman Nabi dan
para sahabat. Kenapa sekarang tiba-tiba
kau serukan?
Itulah bidah. Ada bidah di zaman ini
yang di zaman Nabi tidak ada tapi
sekarang menjadi wajib.
Contoh bidah tahlilan. Tahlilan tidak
ada. Nabi tidak pernah tahlilan
istrinya, anak-anaknya,
sahabat-sahabatnya meninggal. Sahabat
ribuan sahabat enggak ada yang tahlilan
seperti model sekarang. Hari pertama 2 3
4 7 40 100000 ya bikin makanan
ramai-ramai tidak pernah juga.
Enggak ada ya. Kemudian tidak ada di
zaman Nabi, tidak ada di zaman para
sahabat, tidak ada di zaman empat imam
mazhab, tidak ada. Tiba-tiba sekarang
jadi wajib. Meskipun tidak dikatakan
wajib secara lisan, tetapi secara hal,
secara kondisi seakan-akan hukumnya apa?
Wa wajib. Buktinya kalau orang tidak
melakukan dicela, bahkan sebagian
diboikot.
Jadi gimana sesuatu yang zaman Nabi
tidak ada sekarang dibilang apa? Wajib.
Gimana pertanggung jawab kita di hadapan
Allah? Mau pakai dalil apa? Kita bilang
wajib. Oh, enggak. Kita enggak
mewajibkan. Tapi kondisi menunjukkan
apa? Wajib. Kalau tidak dilakukan, ah
kau tidak sayang sama orang tuamu. Kau
kubur seperti kubur kucing, kau gini,
kau gini dicela. Ya, jadi kan wajib
namanya. Engak wajib.
Jadi, ee seorang terkadang melakukan
bidah, dia tidak memikirkan
konsekuensinya
ya. Padahal Nabi mengatakan, "Tidak ada
seorang nabi pun kecuali menyampaikan
seluruh kebaikan yang dia tahu dan
peringatkan umatnya dari seluruh
keburukan yang dia tahu. Islam sempurna
dari sisi penjelasan kebaikan dan dari
sisi penjelasan kebu keburukan secara
detail atau secara kaidah."
Akhirnya kalau sudah dilakukan bidah,
sunah hilang. Sunahnya orang kalau
meninggal kita bantu, kita yang bawa
makanan karena mereka sedang susah. Ini
sebaliknya malah mereka semakin apa? Su
susah ya.
Tib. Kemudian Rasulullah menyebutkan di
antara keburukan yang Rasulullah ingin
ingatkan tentang fitnah yang akan
muncul. Kata Rasulullah, "Wa in umatakum
hadi juilai fi awaliha." Umat kalian ini
diberikan keselamatan di awal. Ada yang
mengatakan di zaman Abu Bakar dan Umar
tidak ada fitnah ya yang dahsyat.
Dan adapun akhir umat ini yaitu zaman
Utsman, maka akan datang balapetaka,
bencana, perkara-perkara yang kalian
ingkari.
Kemudian Rasulullah berkata, "Akan
timbul fitnah." Watajiul fitnatu. Akan
datang fitnah yang dahsyat, bukan fitnah
biasa. Fayurqiqu ba'duha ba'd. Saking
dahsyatnya fitnah tersebut, maka yang
datang setelahnya akan menjadikan yang
sebelumnya terasa ringan.
Fitnah datang dahsyat, tapi yang datang
lebih dahsyat sehingga menjadikan yang
sebelumnya terasa ringan. Watajiul
fitnatu fayl mukmin. Saking dahsyatnya
fitnah, sampai ketika tiba fitnah
tersebut, seorang mukmin berkata,
"Muhlikati, aku akan binasa dalam fitnah
ini." Isyarat ini bisa fitnah terkait
pertumpahan darah. Tankasif. Kemudian
fitnah tersebut hilang. Ternyata dia
selamat. Dia tidak binasa dalam fitnah
tersebut.
Watajiul fitnatu. Kemudian datang fitnah
yang lebih dahsyat.
Maka mukmin berkata, "Hadi, had sekarang
baru saya akan binasa." Maka Rasulullah
ingatkan bagaimana
kematian semua akan orang rasakan, tapi
bagaimana kondisimu ketika mati. Ini
yang penting. Mati semua orang akan
mati. Tapi bagaimana matimu? Itu yang
penting.
Kita mati mau ketabrak mobil, mau sakit,
mau kecelakaan,
mau sakit perut, mau kena jantung, ya
kena stroke, ya, macam-macam mati, ya.
jatuh dari pesawat.
Banyak orang mati lagi lari tahu-tahu
mati. Ya, kemarin ada teman bilang
temannya umur 52 tahun
hobi lari sepekan dua kali lari
meninggal ketika lari. Subhanallah.
Olahraga pengin hidup ternyata malah
meninggal. Dan banyak seperti itu. Kita
enggak tahu mati kapan. Tapi yang
penting bukan bukan matinya. Yang
penting bagaimana kondisimu ketika mati.
Maka Rasulullah berkataan ahabba
yuhzainar. Siapa yang ingin diselamatkan
dari neraka waudkalal jannata dan
dimasukkan dalam surga faltati maniyatu.
Hendaknya kematian menimpa menjemputnya.
Wahua yminu billahi walumil akhir. Yang
paling penting ketika meninggal dalam
kondisi beriman kepada Allah dan hari
akhirat. Mau meninggal ketabrak, mau
meninggal kecelakaan, mau meninggal
sakit perut, mau meninggal jantungan,
mau meninggal apapun sebabnya ya dengan
pedang atau tanpa pedang.
Man lam yamut bisaifin mata bihairihi
taadadil asbabu wal mautu wahid. Siapa
yang tidak meninggal karena pedang akan
mati karena lainnya. Sebab banyak tapi
semuanya mengantarkan kepada kematian.
Maka hendaknya dia dijemput oleh
kematian dalam kondisi beriman kepada
Allah dan hari akhirat.
Dan yang kedua, dia hendaknya bersikap
kepada orang lain, kepada masyarakat
dengan sikap yang dia sukai diberikan
kepadanya. Maka ini yang paling penting
itu berakhlak mulia. Sebelum kau
bersikap sama orang, kau renungkan.
Bagaimana kalau itu saya di posisi dia,
apa yang harus saya lakukan? Seorang
ingin bersikap kepada orang tuanya, dia
renungkan, seandainya saya jadi orang
tua, saya pengin apa? Lakukanlah.
Seorang ingin berakhlak mulia kepada
istrinya. Dia bayangkan seing saya jadi
istri saya penginnya gimana? Penginnya
apa? Dibelikan emaslah,
disayang, dimanja kalau punya duit ya.
Tidak dibentak-bentak, diulus-ulus
kepalanya, bukan disendul-sendul. Ya,
ini kalau saya seorang wanita ingin
bersikap baik kepada suami, dia
bayangkan seinya saya jadi suami saya
penginnya apa? Penginnya ditaati, pengin
dilayani. Ya. Ya. Kalau perlu disuapin,
ya.
Seperti itu, ya. Kalau saya pengin
bersikap akhlak mulia kepada anak,
kira-kira apa yang saya inginkan?
Bayangkan saya jadi anak kecil penginnya
apa? Pengin ditelepon orang tua, pengin
diajak jalan-jalan. Itu akhlak yang
mulia. Kalau saya pengin bersikap baik
sama tetangga, bayangkan si tetangga
gimana ya? Pengin kalau tetangga saya
lewat yang mungkin lebih kaya, dia
salamin saya. Kalau ada makanan
bagi-bagi
seperti itu. Kalau pengin jadi berakhlak
kepada anak buah, gimana anak buah? Ya
tegur siapa anak buah. Kalau kerja lebih
banyak dikasih bonus seperti itu ya.
Jadi akhlak mulia di antara definisi
akhlak mulia bersikap kepada orang lain
dengan sikap yang kau suka jika disikapi
kepada kepadamu.
Kalau ingin beraksi sama orang tua apa?
berbuat sama orang tua
tawar berikan yang kenali apa keperluan
orang tua. Orang tua pengin gini kasih
orang tua tahu. Kebiasaan orang tua
harus kenal anak yang cerdas tahu
hobinya orang tuanya apa. Dia harus
ngerti
jangan ditanya-tanya, "Mak, mau ini
enggak?" "Mak, mau ini enggak?" Mamanya
bilang, "Enggak." "Enggak enggak." "Udah
belikan aja." Tau mama suka makan sate,
belikan sate.
Bosan, Nak. Na, kalau bosan ganti lagi
cari yang lain. Kenali kesenangan orang
orang tua. Jangan tanya-tanya. Karena
orang tua kadang-kadang sungkan mau
bilang iya iya malu dia. Kasih aja orang
tua dia gitu ni. Enggak enggak enggak.
Tapi akhirnya dia makan juga dia segan.
Makanya saya pernah sering sampaikan ada
seorang baru sadar selama ini dia
ternyata kurang baik sama ayahnya.
Ketika dia sudah tua anaknya sering
bilang, "Abi mau makan ini enggak?"
Padahal dia pengin. Abi mau begini
enggak? dia sadar ternyata dulu dia juga
begitu. Harusnya hadirkan saja ya. Oleh
karenanya kalau ingin berakhlak mulia
bayangkan kita pada posisi orang
tersebut kira-kira dia sukanya apa. Kita
lakukan ya sama-sama sama pembantu, sama
sopir, sama siapapun ya. Itulah akhlak
kemuliaan. Itulah yang mendatangkan
husnul khatimah.
Iman kepada Allah dan hari akhirat
aplikasinya dengan akhlak yang mulia
kepada orang lain. Ya, sampai jangan
sampai jangan suka merasa unggul. Kata
Nabi sallallahu alaihi wasallam, eh, la
yuminu ahadukum hatta yuhibakihim
yuhibbufsih. Tidak akan beriman seorang
sampai dia menghendaki pada saudaranya
apa yang dia suka untuk dirinya. Ibnu
Rajab ketika menafsirkan firman Allah
dalam syarah hadis mad bani jaian
eh ketika menafsirkan firman Allah
subhanahu wa taala tilkul akiratu
najaluadina laiduna uluwan fil ard w
fasada itulah surga kami siapkan kepada
orang yang tidak pengin ketinggian di
dunia yaitu tidak pengin dia bersendiri
dalam keutamaan tersebut dia pengin dia
sendirian dia pengin dia yang ustaz
paling top sendiri dia pengin dia yang
paling diunggulkan Bukan semuanya.
Tidak. Kalau dia pengin semua orang
seperti dia.
Di antaranya inilah tanda husnul
khatimah. Walyati ilanas alladzi yuhibbu
yuta il. Sebagaimana kau suka kau
dikenal orang sehingga orang mengambil
manfaat darimu. Orang juga biarin aja.
Biar aja orang juga seperti dirimu kau
senang. Biar orang bisa ambil manfaat,
biar dia juga bisa diambil manfaat dari
orang lain. Sebagaimana kau suka
pengajian ramai, kau juga senang kalau
yang lain juga pengajian apa? Ramai.
Adapun muncul dalam diri pengin saya
sendiri yang paling ramai, pengin saya
sendiri yang paling terkenal, pengin
saya sendiri yang paling heboh, pengin
saya sendiri yang paling
ini bukan akhlak yang mulia. Ini berarti
ingin ulu fil ard.
Tilkul akhiratu najalu lilladina la
yuriduna uluan fil ard. Itulah surga
kami siapkan bagi orang yang tidak ingin
ketinggian, tidak ingin bersendirian
dalam
keistimewaan. Ya, kita berpacu tapi kita
ingin orang juga seperti kalau kita
dapat kebaikan, kita pengin saudara kita
juga seperti apa? Seperti kita ya.
Adapun kita ingin hebat sendiri maka ini
bukan husnul khatimah. Orang seperti ini
tidak bukan husnul khatimah. Dan orang
seperti ini tidak dapat surga.
Sebagaimana ditafsirkan oleh Ibnu Rajab
al-Hambali.
Kemudian Rasulullah ingatkan tentang
fitnah yang mungkin menimbulkan
pertumpahan darah. Karena fitnah mungkin
menimbulkan perteman darah. Kata Nabi,
"Waman baya imaman." Siapa yang baiat
imam fafq yadihi kemudian dia sudah
serahkan tangannya. Tentunya tidak semua
orang baiat kepada imam secara langsung.
perwakilan-perwakilan rakyat hanyalah
mengikuti ya ahlul wal aqad ya seluruh
orang-orang pembesar-pembesar mereka
yang perwakilan-perwakilan masyarakat
mereka yang membaiat imam adapun rakyat
mengikuti watamarataqbi sudah memberikan
ee buah hatinya itu dia sudah
menunjukkan keseriusannya loyalnyau
maka hendaknya dia taat kepada penguasa
tersebut semaksimal mungkin fain jaa
akar Kalau ada orang yang lain ingin
merebut kekuasaan yang pertama ya
yunaziuhu
fadribu unuqal akar ingin ganggu
pemimpin yang pertama kata Nabi,
bunuhlah yang kedua
karena kalau tidak dibunuh akan terjadi
kerusakan.
Maka dibunuh ini dari bab e kaidah
irtikabu akidarain
menempuh melakukan kemudratan yang
paling ringan demi untuk menolak
kemudratan yang lebih besar. Ya, di
depan kita ada dua kemudaratan.
Kita biarkan orang kedua sehingga umat
Islam terpecah dua. Akhirnya terjadi dua
kubu besar akhirnya bunuh-bunuhan.
Ini kemudratan pertama. Kemudratan
kedua, kita bunuh saja yang baru muncul
ini
sehingga yang meninggal cuma sedikit.
Ketika keduanya tidak bisa dihindari
maka ditempuh kemudroratan yang ringan
untuk menolak kemudroratan yang be
besar. Maka Rasulullah suruh bunuh yang
ke kedua. Paham? Nah.
Jadi seorang tahu menempatkan diri
ketika terjadi fitnah. Terjadi fitnah.
Para ulama mencontohkan seperti
waka'atul harrah ya. Ketika di Madinah
ketika sekelompok orang memberontak
kemudian melepaskan ketaatan dari Yazid
bin Muawiyah karena dianggap melakukan
kefasikan. Maka Ibnu Umar tidak mau.
Ibnu Umar bilang kita gimana? Sampai
Ibnu Umar datang kepada pemimpin mereka.
Salah seorang diangkat jadi pemimpin
untuk memberontak. Maka Ibnu Umar datang
kepada dia.
Kemudian orang tersebut mengatakan,
"Bentangkan yaitu beri penghormatan
kepada Ibnu Umar. Silakan duduk. Ibn
saya datang bukan untuk ini. Saya datang
untuk mengingatkan kepada engkau tentang
hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam."
Yaitu siapa yang sudah baiat harusnya
dia taat. Tidak boleh memberontak
selama orang tersebut tidak ka tidak
kafir. Yazid bin Muawiyah masih tertuduh
fasik ketika itu. Masih tertuduh apa?
Fasik. Bukan tertuduh kafir. Maka Ibnu
Umar tidak memberontak.
Akhirnya mereka memberontak. Akhirnya
Yazid mengirim pasukan. Akhirnya
dihabisi oleh pasukan Yazid bin
Muawiyah. Terlepas mana salah mana
benar. Tetapi aturan menyatakan
bahwasanya kita kalau sudah baiat kita
tidak boleh berkhia berkhianat.
Maka Ibnu Umar bertahan ketika itu
bahkan menasihati.
Tayib.
Kemudian hadis berikutnya, walahu an Abi
Hurair radhiallahu anhu itu dalam eh
sahih ya dari Abu Hurairah radhiallahu
anhu dalam Sahih Muslim marfuan secara
marfu
Rasulullah sahu alaihi wasallam bersabda
badiru bilali fitananil
mudlim
dahuluilah bersegeralah untuk beramal
sebelum datang fitnah-fitnah yang
seperti potongan-potong potongan malam
yang gelap.
Jadi itu Rasulullah ingatkan akan datang
fitnah-fitnah yang sangat gelap seperti
potongan-potongan malam yang gelap.
Saking gelapnya isyarat kalau kau jalan
kau tidak tahu,
tidak kelihatan sehingga kau bisa
terjatuh, kau bisa masuk dalam apa
jurang ya karena gelap.
Sampai-sampai kata Nabi, "Yusbihur
rajulu mukminan waumsi kafiran." Ada
orang yang di pagi hari masih beriman,
sore harinya sudah kafir. Waumsi
mukminan. Sore hari mukmin wusbihu
kafiran. Paginya sudah kafir. Yabiuahu
biarin minad dunya. Dia jual agamanya
karena kepentingan duniawi.
Maka di antara cara untuk selamat dari
fitnah adalah dengan beramal saleh
sebelum datang fitnah tersebut. Apa
fungsinya? Kalau kau sering beramal
saleh, nanti Allah jaga engkau ketika
muncul fitnah-fitnah tersebut. Makanya
Rasulullah mengatakan, "Segeralah
beramal sebelum datang fitnah dan bisa
jadi fitnah yang datang tersebut membuat
engkau mati. Bisa jadi bisa engkau
binasa dalam fitnah tersebut. Maka
sebelum kau binasa beramal saleh. Karena
kalau sudah binasa tidak mungkin bisa
beramal saleh." Seperti tadi fitnah kata
Nabi, "Datang fitnah watajiul fitnatu
wakul mukmin muhlikati." Ketika datang
fitnah sangat dahsyat, seorang mukmin
berkata, "Inilah kebinasaanku saya." Dia
merasa dia bakalan mati. Tankasif.
Kemudian ternyata fitnah tersebut
hilang. Watajiul fitnu. Ternyata datang
fitnah lebih dahsyat lagi. Mukmin. Maka
seorang mukmin berkata, "Hadi hadi,
sekarang saya binasa. Sekarang saya
binasa." Rasulullah suruh perkuat iman,
perkuat amal saleh. Yang mau mati tetap
mati. Cuma mati di saat fitnah jangan
lupa beriman kepada Allah dan hari
akhirat dan jangan lupa beramal saleh
dengan berakhlak muli mulia. Maka sini
kata Rasulullah, "Sibukkanlah dengan
amal-amal, bersegeralah dengan
amal-amal. sebelum datang fitnah-fitnah
seperti potongan-potongan gelap, malam
gelap gulit itu gelap. Saking gelapnya
sampai ada orang tidak sadar dia tadi
pagi beriman, sore sudah kafir.
Zaman sekarang itu sangat mungkin. Dia
pagi salat subuh masih salat.
Siang-siang dia buka internet, dia baca
syubhat-syubhat liberal, syubhat-syubhat
ateis.
Dia baca syubhat-syubhat ahlul bidah
yang sampai derajat kekufuran.
Terpengaruh.
maka sore sudah ka kafir. Sebaliknya
sore dia masih muslim, masih salat asar,
salat magrib, salat Isya, habis isya dia
buka internet atau diskusi sama orang
ateis kemudian ragu,
kemudian jadi kafir. Karena untuk kafir
dari Islam tidak harus ganti agama.
Cukup kau ragu dengan Islam benar atau
tidak maka kau sudah kafir. Atau kau
membenarkan agama lain yang musyrik bisa
masuk surga, kau juga sudah kafir.
Tidak perlu kau bilang Tuhan tidak ada.
Engkau cukup mengatakan,
"Saya belum bisa pastikan Tuhan ada."
Agnostik. Saya tidak bisa mengatakan
Tuhan tidak ada tapi saya belum
menemukan dalil bahwasanya Tuhan itu
ada. Itu namanya podo wae.
Podo wae. Enggak percaya sama tu Tuhan.
Keyakinan butuh keyakinan, bukan
keraguan. Keraguan. Yakin jadi ragu
sudah bukan orang beriman lagi.
Dan itu sangat mungkin.
Oleh karenanya di antara yang menjaga
seorang dari fitnah adalah dengan banyak
amal saleh. Banyak amal amal saleh.
Walahu. Demikian juga dalam Sahih Muslim
hadis berikutnya. An Maqil bin Yasar
marfuan. Dari Maqil bin Yasar dari Nabi
sallallahu alaihi wasallam secara marfu.
Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "Al
ibadatu fil harji kahijratin ilaiya."
Ibadah di zaman fitnah. seperti hijrah
kepadaku.
Di sini ada keutamaan beribadah di zaman
fitnah berupa pahalanya seperti hijrah.
Dan kita tahu hijrah kepada Nabi
pahalanya sangat besar. Ketika Amr bin
Ash radhiallahu anhu ingin masuk Islam,
dia berkata, "Ya Rasulullah, mudda
yadaka fala ubayika. Bentangkan
tanganmu, aku akan membaiat engkau. Aku
ingin masuk Islam." Nabi pun bentangkan
tangannya ternyata amsaka. Amar bin As
tahan tangannya. Kata Nabi, "Malak ya
Amar, kenapa kau tidak baiat?" Kata Amr
bin Ash, "Uriidu an asarit, saya ingin
punya syarat ya Rasulullah." Apa
syaratmu? An yugfar. Agar aku diampuni
dosa-dosaku yang terlalu karena Amar
merasa dosanya banyak. Maka Rasulullah
berkata alimta ya Amar, tidakkah kau
tahu Amr? Anal islama yahdimu qlahu.
Islam kalau kau masuk Islam akan
menghapuskan dosa sebelumnya.
Akan menghapuskan dosa sebelumnya.
Bawasnya hijrah akan menghapuskan
dosa-dosa sebelumnya.
Dan haji pun demikian. Maka hijrah luar
luar biasa pahalanya ya.
Dan Rasulullah sering menyebut
innalladzina amanu walladzina hajaru
wahadu. Allah menggandingkan iman,
hijrah sama jihad. Ya kaum Muhajirin di
mulia dengan dengan sifat dengan laqab
gelar Muhajirin.
Apalagi hijrahnya kepada Rasulullah
bukan hijrah sembarang.
Rasulullah mengatakan, "Ibah di
tengah-tengah fitnah seperti hijrah dari
Makkah menuju Madinah. Luar biasa
pahalanya." Besar. Kenapa bisa demikian?
Kata para ulama, karena ketika musim
fitnah banyak orang tidak ibadah.
Orang sibuk dengan fitnah, tenggelam
dalam fitnah atau komentarin fitnah atau
ngikuti perkembangan fitnah.
Kalau enggak terjun dalam fitnah
atau ikuti perkembangan apa fitnah atau
ngomentari fitnah atau menganalisi.
Menganalisa apa? Fit
fitnah. Jadi habis waktunya kapan mau
ibadah. Sehingga benaknya pikirannya
berputar pada fitnah yang tidak ada
habis-habisnya.
Nah, tiba-tiba ada orang tidak ikut itu
dia sibuk ibadah. Luar biasa. Dia tidak
seperti kebanyakan orang dia sibuk
ibadah di saat itu ibadah pahalanya luar
biasa.
Kemudian dikatakan hijrah karena dia
meninggalkan sesuatu demi menyelamatkan
agamanya. Apa itu hijrah? Hijrah itu
meninggalkan tempat tinggal untuk
menyelamatkan agama. Para sahabat dulu
meninggalkan Makkah padahal di situ
kampung halamannya, di situ rumahnya, di
situ pekerjaannya, di situ keluarganya.
Tinggalin supaya agama sela selamat.
kabur bawa lari agama daripada menetap
akhirnya terfit fitnah. Nah, sama orang
kalau masuk fitnah agamanya bisa rusak
maka dia tinggalkan fitnah tersebut
untuk ibadah seperti berhijrah kepada
Nabi sallallahu alaihi wasallam. Jadi
ada kemiripan yaitu meninggalkan sesuatu
karena sesuatu, meninggalkan fitnah
untuk ibadah seperti berhijrah kepada
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
Dan ada makna lain bahwasanya hijrah itu
biasanya meninggalkan suatu yang
menyenangkan. Dunianya dia tinggalkan
demi untuk selamat agamanya. Maka
seorang ketika meninggalkan fitnah
bukankah nonton fitnah menyenangkan?
Ada enggak fitnah yang tidak
menyenangkan? Semua menyenangkan. Fitnah
wanita menyenangkan fitnah politik
menyenangkan fitnah syahwat
menyenangkan, fitnah musik menyenangkan,
fitnah semua enak ditonton. tonton,
dikomentari, diikuti perkembangan, tapi
dia tinggalkan semua itu sibuk
beribadah. Ibadahnya di zaman seperti
itu seperti hijrah kepada Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam. Makanya kita
renungkan
kalau lagi sarana fitnah, lihat metsos
mikir-mikirin ini fitnah bukan. Kalau
fitnah tinggalin aja deh, mending baca
Quran. Baca Quran. Kalau enggak ibadah
lain, telepon silaturahmi, telepon ibu,
telepon kakak, telepon adik. Kalau
enggak nonton yang bermanfaat, ninggalin
itu semua. Sibuk beribadah dengan ibadah
apapun.
yang bisa kita lakukan sehingga kita
tidak tenggelam dalam fit fitnah. Kalau
tenggelam dalam fitnah akhirnya asyik
keterusan.
Kemudian
hadis berikutnya
walahuma dalam sahih Bukhari sahih
Muslim an Hudzaifah dari Hudzaifah anna
Umar qal dari Hudzaifah bahwasanya Umar
radhiallahu anhu berkata Umar sedang
kumpul sama sahabat Umar berkata ayyukum
yahfadu Nabi sallallahu alaihi wasallam
fil fitan siapa di antara kalian yang
hafal hadis Nabi perkataan Sabda Nabi
tentang fitnah. Faqulu ana kata
Hudzaifah saya ya ya Umar amirul
mukminin ini zaman amirul mukminin Umar.
Faqala hat kata Umar ayo sebutkan hadis
apa tentang fitnah. Faaka alaihi jari
kau berani menyebutkan hadis tentang
fitnah.
Faqulu aku berkata karena Hudzaifah ini
banyak menghafal hadis-hadis tentang
fitnah-fitnah. Kata kata Hudzaifah
samakl aku mendengar Rasul sahu al
wasallam bersabda,
"Fitnatul fi ahlihi waliadii wari
tukiratu wasamu wasqatu amru bil
munkar." Fitnah seorang lelaki terkait
keluarganya, anak, istrinya, terkait
hartanya, terkait anaknya, terkait
tetangganya bisa dihapuskan dosa-dosanya
dengan salat, puasa, sedekah, amar
makruf nahi mungkar. Ini dalil
bahwasanya ini fitnah keseharian. Fitnah
keseharian yang kita hadapi terkait
dengan istri.
Istri ujian bagi kita.
Apa kita bisa menunaikan hak istri? Kita
berakhlak baik sama istri. Terkadang
kita salah dalam hak istri.
Salah ini bisa dihapuskan dengan salat,
puasa,
sedekah, amal nahi mungkar. Kemudian
juga walihi. Fitnah terkait harta. Harta
fitnah. Wa fitnatu umatil mal. Fitnah
umatku adalah harta kita. Mungkin
berlebihan penggunaannya, mungkin kita
pelit, mungkin kita apa fitnah. Kita
tidak lulus dalam fitnah harta. Maka di
antara yang bisa menghapuskannya adalah
dengan salat dan sedekah, puasa, amar
mak nahi mungkar. Fitnah terkait anak.
Seorang terfitnah dengan anaknya
harusnya dia didik, harusnya dia
arahkan, harusnya dia penuhi
kebutuhannya. Ya mungkin dia ada kurang
tidak menunaikan hak anaknya
atau dia terbawa oleh anaknya, terlalu
manjakan anaknya.
sehingga anaknya akhirnya salah didikan
atau dia akhirnya gara-gara anaknya dia
malas bersedekah. Ini fitnah terkait
anak sehingga muncul dosa-dosa. Dia
tidak lulus dari fitnah tersebut maka
dosa-dosanya bisa diampuni dengan salat,
puasa, sedekah, amar nahi mungkar.
Fitnah terkait tetangganya. Tetangga
juga fitnah.
Kita enggak pernah sapa, enggak pernah
menunaikan hak tetangga, enggak pernah
cek-cek bagaimana kondisi kesehatannya,
gak tahu dia lapar atau kenyang. cuekin
aja masing-masing sibuk dengan dirinya.
Akhirnya kita tidak lulus dalam
menyikapi tetang tetangga dosa kita.
Nah, dosa ini bisa dihapuskan dengan
salat, puasa, sedekah, amar mfah
mungkar. Ini fitnah tapi fitnah
keseharian yang setiap orang
mengalaminya.
Belum tentu kita bisa mensikapi istri
dengan baik, anak dengan baik, harta
dengan baik, tetangga dengan baik
sehingga kita berdosa karena tidak lulus
dalam menghadap fitnah ujian tersebut.
Maka Umar berkata, "Laisa hidu?" Saya
bukan pengin fitnah biasa-biasa begini.
Ini bukan yang saya tanya kepada engkau
wahai Huzaifah. Ini tamuju bahri. Tapi
saya tanya kepada engkau tentang fitnah
yang bergejolak seperti ombak di lautan.
Fitnah besar. Faquluak wha amirin. Apa
urusanmu dengan fitnah tersebut? Inna
bainaka baban mugqon. Sesungguhnya
antara engkau dengan fitnah yang dahsyat
tersebut ada pintu yang menghalangi.
Yaitu Abuzaif ingin berkata, "Engkau
tidak bertemu dengan fitnah tersebut.
Ngapain tanya-tanya?" Itu fitnah
belakangan.
Karena Rasulullah mengatakan, "In inna
hadil umma juilati afiyatuha fi
awaliha." Umat ini dijadikan
kenyamanannya di awal. Zaman Abu Bakar,
zaman Umar gak ada fitnah.
Tetapi muncul di zaman siapa? Utsman
radhiallahu anhum. Maka Hudzaifah
berkata, "Apa urusanmu dengan fitnah
yang dahsyat tersebut? Antara engkau
dengan munculnya fitnah yang dahsyat
tersebut ada pintu."
Faqala Umar bertanya, "Yuftahul babu am
yuksar." Itu itu pintu yang menghalangi
antara aku dengan fitnah tersebut
terbuka sehingga muncul fitnah atau
hancur sehingga tidak bisa tertutup
lagi.
Kata Hudzaifah, "Bal yuksar."
pintu tersebut dihancurin.
Maksudnya kalau sudah muncul fitnah
enggak berhenti.
Beda kalau pintu tersebut bisa ditutup
ya tutup lagi fitnahnya enggak datang
berhenti. Tapi ketika pintu tersebut
dirusak maka tidak akan pernah tertutup
muncul fitnah tersebut berkelanjutan.
Ini terjadi pada zaman Utsman. Nanti
akan kita singgung.
Qalika ajadu all yugl. Kalau gitu tidak
akan tertutup lagi pintu penghalang
tersebut.
Hudzfah Umar yamil bab. Maka sang perawi
berkata, "Apakah Umar tahu siapa yang
dimaksud dengan bab pintu tersebut?
Penghalang antara dia dengan fitnah."
Qala naam
kama ana duna gadin allaila. Sebagaimana
eh apa namanya? Selain siang adalah
malam ya.
Sebelum besok adalah malam ini. Yaitu
penghalang antara kita dengan besok
adalah malam. Kalau malam lewat maka
tiba besok hari.
inni hadanisa bilal aku menyampaikan
kepadanya hadis yang bukan eh bukan
merupakan kesalahanumil
bab kami senggan untuk bertanya
kepadanya siapa yang dimaksud dengan
babna masruk kami bertanya kepada masruk
sang perawi lagi perawi di atasnya
isalhu.
Maka Masruk tanyakanlah kepada Hudzaifah
fasaalahu. Aku bertanya kepada Hudzaifah
siapa yang dimaksud dengan pintu? Faqala
Umar. Umar itulah pintu itu sendiri.
Ya, ketika Umar meninggal maka akan
datang fitnah-fitnah
yang tidak akan pernah berhenti lagi.
Ya,
maka ini menunjukkan bahwasanya fitnah
bertingkat-tingkat dan ada fitnah
keseharian. Fitnah keseharian tadi
fitnah istri, fitnah anak, fitnah harta,
fitnah apaagi? Fitnah wanita, fitnah
medsos. Itu fitnah sehari-hari.
Kalau mau selamat fitnah metsos, kuota
kuotanya jangan jangan diperpanjang
kuotanya. Selamat fitnah metsos.
Kalau selamat fitnah anak, enggak punya
anak. Kalau punya anak pasti ada fitnah
apa? Anak.
Kalau pengin selamat punya istri jomblo
melolo terkena fitnah yang lain. Semua
ada resiko. Ya, semua ada resiko. Pengin
enggak ada fitnah tetangga, jangan
bertetangga. Ya. Ya enggaklah kita
bertetangga ya itu fitnah tidak bisa
kita hindari. harus kita hadapi. Tapi
tadi alhamdulillah solusinya dengan
salat, sedekah, puasa, dosa-dosa yang
terkait dengan fitnah tersebut bisa
diampuni. Tapi ini fitnah yang dahsyat,
fitnah yang tidak biasa. Berarti fitnah
ada dua, dua model dalam hidup ini.
Demikian kita ada fitnah keseharian, ada
fitnah yang dahsyat yang menghadang
kita. Di situlah kita butuh lebih dekat
kepada Allah, lebih bertakwa kepada
Allah agar bisa lolos dari fitnah
tersebut, ujian-ujian kehidupan. Nah,
para ulama menjelaskan adalah dengan
wafatnya fitnah tersebut, wafatnya Umar,
kemudian setelah itu ee
wafatnya Utsman bin Affan ya, Utsman bin
Affan radhiallahu taala anhu. Secara
singkat,
Utsman bin Affan radhiallahu anhu
kayaknya enggak cukup waktu 5 menit
jadi enggak bisa disingkat-singkatin ya.
Karena begitu Utsman meninggal dunia
akan muncul berbagai macam fitnah.
Fitnah perang Jamal, setelah itu fitnah
perang Sifin. Kemudian setelah itu
terjadi
ee Hakamain. Setelah itu kemudian
ee
Hasan lengser. Kemudian setelah itu di
dilanjutkan oleh apa? Muawiyah. Setelah
itu Muawiyah meninggal Yazid. Ketika
Yazid naik, timbul fitnah lagi. Ya,
Abdullah bin Zubair kemudian menjadi
khalifah setelah wafatnya Yazid. Ya. Dan
banyak di antaranya terbunuhnya di zaman
Yazid terbunuhnya siapa? Cucu Nabi
siapa? Al-Husin. Ya. Sebelumnya Hasan
diracun. Dan berbagai macam fitnah yang
menimpa umat umat ini.
Karena waktu sudah mau habis, insyaallah
kita lanjutkan
pada pertemuan berikutnya. Insyaallah
saya akan ringkaskan ee
kejadian-kejadian besar dan bagaimana
sikap kita menghadapi
ee fitnah-fitnah tersebut ya ee dengan
sikap yang lebih tepat. Demikian saja.
Wabillah hidayah. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Resume Requeue
Read
file updated 2026-02-12 01:16:44 UTC
Categories
Manage