Transcript
ekqxIDkJPm8 • Kitab Al-Kabair #39: Menyikapi Fitnah Yang Benar
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2588_ekqxIDkJPm8.txt
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufqihi wattinani ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuim wa ashadu anna muhammadan abduhuasul ridwumma shli alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala, kita masih bahas tentang bab ee fitnah ya, majaa fil fitan tentang fitnah-fitnah. bagaimana cara kita mensikapinya yang benar. Karena kalau kita salah bersikap bisa menjerumuskan kita dalam dosa-dosa besar ya, bahkan sampai pertumpahan darah gara-gara fitnah ya. Ee paling tidak fitnah juga menyebabkan kalau kita terjun dalamnya bisa menimbulkan ee gibah, namimah, dan lain-lain. Maka seorang harus memiliki sikap yang benar dalam menghadapi fitnah yang terjadi di sekitarnya. Pada pertemuan lalu telah kita bahas tentang macam-macam fitnah. Kita masuk pada hadis an ibni Amr qala dari Ibnu Amr radhiallahu anhuma qala kunna maan Nabi sallallahu alaihi wasallam fi safarin. Suatu hari kami bersama Nabi dalam safar. Fanazalna manzilan. Kami lalu mampir suatu tempat. Faminna man yuslihu khibaahu. Di antara kami ada yang perbaiki kemahnya. Apa bikin kemah waminna man yantadil. Di antara kami ada yang ee apa? Latihan manah ya. Waminna man hua fi jasyarihi. Di antaranya ada yang ngurus hewan tunggangannya. Demikian kalau orang lagi safar mampir masing-masing dengan kesibukannya. Innada munadi rasulillah. Tiba-tiba ada tukang seru Rasulillah menyeru asalatu jamiah. Asalatu jamiah itu panggilan untuk berkumpul untuk salat. Biasanya karena ada salat kemudian ada pengumuman. Fajtama ila rasulillah sallallahu alaihi wasallam. Lalu kami pun berkumpul di sisi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Faqala kemudian Rasul sahu alaihi wasallam eh menyampaikan tentang hadis terkait fitnah. Ya. Innahu lam yakun nabiyun qobli illa kanaqan alaihi any yadulla ummatahu ala khairi ma ya'lamahu lahum. bahwasanya tidak ada seorang nabiku sebelumku kecuali wajib baginya untuk menunjukkan kepada umatnya kepada apa yang terbaik yang dia ketahui untuk mereka. Waunirum syar ma yamuhu lahum dan memperingatkan mereka atas keburukan yang dia ketahui. Itu Nabi menyampaikan seluruh kebaikan memperingatkan seluruh keburukan yang dia tahu. Wa inna ummatakum hadhi juila afiatuha fi awaliha. Dan umat kalian ini dijadikan keselamatannya di awalnya. Wasusibu akir balaun wa umurun tunirraunaha. Dan pada akhir umat ini akan ditimpa dengan bala yaitu bencana dan perkara-perkara yang kalian mengingkarinya. Maka datang akan datang fitnah-fitnah maka sebagian akan melembutkan, meringankan sebagian yang lain. Kemudian seorang berkata, "Muhlik, inilah fitnah yang akan membinasakan aku." Kemudian fitnah tersebut sirnaul fitnatu. Kemudian datang fitnah berikutnya mukmin. Maka seorang mukmin berkata, "Hadi, sekarang baru saya binasa. Sekarang baru saya binasa. ahabah jannah. Maka barang siapa yang ingin diselamatkan dari api neraka dan masuk surgaah, maka hendaknya kematian menjemputnya dan dia dalam kondisi beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan hendaknya dia bersikap kepada manusia, kepada masyarakat dengan sikap yang dia suka disikapi kepadanya. Waman baya imamanuqadi barang siapa yang membaiat seorang pemimpin penguasa kemudian dia memberikan ya tangannya dan dia menunjukkan keseriusannya dengan e dengan hatinyau maka hendaknya dia taat kepada penguasa tersebut yang telah di baaiat iniah semampunya fain jaa aku yunaziuhu kalau datang orang lain ingin mengganggu kepemimpinan Imam yang telah dia baiatbu ak maka bunuhlah orang yang datang belakangan. Hadis riwayat Muslim. Tap kita ulangi hadis ini. Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma bercerita bahwasanya mereka suatu hari bersafar bersama Nabi. Kemudian biasa mampir di tengah perjalanan ada yang sibuk ngurusin kemahnya. Maka ada yang sibuk latihan panah dan ada yang ngurusi hewan-hewan tunggangannya. Nah, tiba-tiba ada seru penyeru yang berkata, "Asalatu jamiah." Asalatul jamiah. Dahulu sebelum ada azan, seruan kalau ngumpulin orang dengan asalatu jamiah untuk salat lima waktu. Setelah ada azan, maka salat lima waktu tidak ada lagi asalatu jamiah. Kemudian setelah itu para ulama berselisih bagaimana dengan salat-salat yang membutulkan membutuhkan perkumpulan yang tidak ada azan seperti salat Id, Idul Fitr, Idul Hattah, salat istisqa apakah perlu mengucapkan asalatu jamiah khilaf sebah mengatakan perlu karena orang perlu berkumpul maka perlu dikatakan asalatu jamiah. Karena salat-salat tersebut salat Idul Fitri, Idul Adha, salat istisqa maka ini tidak ada azan. Maka boleh dipanggil untuk kumpul dengan asalatul jamiah. Seb mengatakan tidak perlu karena tidak ada sunahnya. Mazhab Syafi'iyah lebih longgar lagi. Bahkan kata mereka bukan cuma salat Id, Idul Fitri, Idil Adha ee sama salat istisqa bahkan seperti salat yang butuh ngumpul seperti salat tarawih. Maka boleh diserukan asalatu jamiah. Tapi intinya kalau untuk salat lima waktu tidak ada lagi salat jjamiah. Karena salat lima waktu cukup dengan apa? Azan. Oleh karena di antara kesalahan sebagian imam ketika mau salat mereka bilang asalatu jamiah. Ini di antara kesalahannya. Ya. Tapi adapun kalau orang mau salat jamiah salat Id, salat Idul Fitri, Idul Adha, kemudian salat teraih, maka ini ada khilaf di kalangan para ulama. Dalam hadis ini tiba-tiba ada penyuru mengatakan asalatu jamiah. Maka ini pun ada khilaf. Apakah mereka dipanggil hanya sekedar untuk perkumpulan saja? Karena salatul jamiah maknanya kumpul atau ada salat ketika itu sebatakan tentu ada salat. Setelah itu baru Rasulullah kasih nasihat. Wallahualam. Intinya ini seruan untuk berkumpul. Asalatu jamiah. Maka berkumpullah fajana ila rasulillah. Ada yang mengatakan sebenarnya mengatakan asalatul jamiah jadilah suatu perkataan untuk mengumpulkan. Isyarat untuk mengumpulkan meskipun buat bukan untuk salat. Meskipun bukan untuk salat. Sebagian ulama mengatakan ini tentu untuk salat ee karena ada lafal asalatu jamiah. Baru setelah itu Rasulullah kasih nasihat khilaf di kalangan para ulama. Kemudian ee Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu anhu berkata, "Fajtamaana ila rasulillah." Kami pun berkumpul menuju Rasulull sallallahu alaihi wasallam. Kemudian Rasulullah kasih jangan. Rasulullah mengatakan, "Innahu lam lam yakun nabiyun qobli." Tidak ada seorang nabi pun sebelumku kecuali wajib baginya untuk menyampaikan kepada umatnya kebaikan yang dia tahu. Tidak boleh ada kebaikan yang dia sembunyikan. Semua kebaikan yang dia tahu dia beritahukan secara terperinci atau secara kaidah. Makanya Islam sudah sempurna ya. Kemudian syar yamuhum dan memperingatkan mereka dari keburukan yang dia tahu. Dia peringatkan mereka. Tidak ada keburukan yang Nabi tahu Nabi sembunyikan. Nabi akan ingatkan. Oleh karenanya dalam Islam kebaikan rinci dan keburukan juga rinci. Bisa secara detail, bisa secara global berupa kaidah. Oleh karena Islam adalah agama yang sempurna dari sisi penunjukan kebaikan maupun dari sisi peringatan terhadap keburukan. Dan Allah berfirman, "Alyaum akmaltu lakum dinakum." pada hari yang telah aku sempurnakan bagi kalian agama kalian. Dan ini termasuk ayat-ayat yang terakhir turun kepada Nabi ketika Nabi sedang haji wada. Ketika di Padang Arafah turunlah ayat ayat ini yang menunjukkan agama Islam sudah sempurna sehingga tidak perlu lagi kita membutuhkan ajaran dari luar ya. Baik filsafat Yunani maupun yang terkait dengan agama enggak perlu. Karena agama Islam sudah sempurna dari segala sisi. Sisi akidah, sisi ibadah, sisi akhlak, sisi muamalah. peraturan baik peraturan di keluarga, bertetangga, bermasyarakat sampai bernegara semua sudah lengkap. Tidak ada kebaikan sekecil apapun kecuali sudah Nabi sampaikan baik secara detail ataupun secara kaidah. Ya, demikian juga tidak ada keburukan kecuali Nabi sudah peringatkan baik secara terperinci maupun secara apa? Kaidah. Maka semua sudah dibahas. Semua sudah di dibahas sehingga kita tidak butuh kepada ee ajaran-ajaran yang yang lain. Islam sudah cukup untuk pelajari akidah. Enggak butuh filsafat-filsafat dari luar. Untuk bicara tentang kemasyarakatan tidak perlu dari luar. Maka semuanya sudah lengkap. Makanya kalau ada yang melakukan bidah, kita bilang, "Itu bidah yang kau lakukan itu Nabi tahu enggak?" Kalau dibilang Nabi tahu kok Nabi tidak sampaikan musibah. Nabi tahu enggak? Ya tahulah. Terus kok Nabi gak pernah sampaikan? Repot. Kalau dia bilang Nabi tidak tahu, terus kau tahu? Repot juga. Nabi enggak tahu, terus kau tahu musibah. Ya. Ya. Terus kalau Nabi taruhlah Nabi tidak tahu, sahabat tahu enggak? Kalau sahabat tahu harusnya sahabat paling semangat melakukan ibadah daripada kita. Mestinya mereka lakukan. Kalau sahabat tidak tahu terus kamu tahu? Repot. Repot. Makanya ketika Ibnu Mas'ud mendapati orang-orang sedang beribadah dengan zikir berjamaah, haliluiah. Bertahlilah 100 kali satu orang pimpin lailahaillallah ramai-ramai. Lailahaillallah lailahaillallah. Paduan suara. Kemudian subhanallah, subhanallah paduan suara. Allahu Akbar paduan suara. Maka Ibnu Masud tegur. Innakum jumtatinulmaum ashaba rasulillah. Cuma dua kemungkinan kalian mengungguli para sahabat atau kalian telah datang dengan bidah yang sesat karena kalian mengungguli sahabat. Karena sahabat masih hidup. Haulai sahabat rasulillah mutawafirun. Kata Ibnu Masud, "Lihat sahabat Nabi masih pada hidup. Waatuhul tuba. Lihat bejana-bejana Nabi belum belum pecah juga. Masih ada. Baru saja Nabi meninggal, sahabat enggak ada yang ibadah seperti kalian. Cuma dua kemungkinan kalian lebih unggul dari para sahabat karena bikin ibadah yang sahabat tidak tahu. Atau yang kedua, kalian melakukan bidah yang se sesat. Maka demikianlah berlaku pada seluruh bidah. Kemudian mereka berkata kepada Ibnu Mas'ud, "Ya Aba Abdurrahman ma nuidu khaira. Kami begini tidaklah niat kami kecuali kebaikan." Maka Ibnu Masud berkata, "Wakam muridinil khair lan yusibahu." Betapa banyak yang ingin kebaikan tidak mendapatkannya. Oleh karenanya kita kalau ibadah enggak usah spekulasi yang jelas-jelas aja masih banyak belum bisa kita kerjakan. Ngapain kita spekulasi bikin ibadah-ibadah apa ba? baru. Kalau ini memang kebaikan, tentu Nabi dan sahabatnya pasti tahu. Ya, kalau kalian bilang ini mereka tidak tahu dan ini penyempurna, berarti agama belum sem sempurna. Oleh karenanya kelaziman dari kita membenarkan bidah-bidah yang muncul belakangan menunjukkan bahwasanya agama belum sempurna. Agama baru sempurna sampai muncul bidah terakhir. Kalau bidah terakhir sudah tutup baru agama sem sempurna. Makanya Imam Malik berkata, "Man manistahsana bidatan faqad zaama anna muhammadan khaar risalah." Siapa yang menganggap baik suatu bidah, maka dia telah menuduh Muhammad sallallahu alaihi wasallam berkhianat terhadap risalah Allah. Berarti seakan-akan ada yang disembunyikan atau Rasulullah tidak tahu. Kemudian dia dia tahu dia tahu. Ya, itu berkait dengan ibadah, terkait juga dengan akidah. Seperti ketika fitnah khalqul Quran ketika Imam Ahmad berdialog, Imam Ahmad bertanya, "Kau menyeru kepada Al-Qur'an adalah makhluk. Apakah Rasulullah pernah menyerukannya?" Tidak pernah. Tib setelah Rasulullah, apakah Abu Bakar pernah menyeru umat untuk berkeyakinan Al-Qur'an itu makhluk? Tidak juga tib Umar tidak juga Utsman tidak juga Ali tidak juga harus gimana? Lantas ngapain kau serukan sesuatu yang Nabi Abu Bakar Umar dan Utsman tidak pernah menyerukannya? Ini akidah ini tidak ada di zaman Nabi dan para sahabat. Kenapa sekarang tiba-tiba kau serukan? Itulah bidah. Ada bidah di zaman ini yang di zaman Nabi tidak ada tapi sekarang menjadi wajib. Contoh bidah tahlilan. Tahlilan tidak ada. Nabi tidak pernah tahlilan istrinya, anak-anaknya, sahabat-sahabatnya meninggal. Sahabat ribuan sahabat enggak ada yang tahlilan seperti model sekarang. Hari pertama 2 3 4 7 40 100000 ya bikin makanan ramai-ramai tidak pernah juga. Enggak ada ya. Kemudian tidak ada di zaman Nabi, tidak ada di zaman para sahabat, tidak ada di zaman empat imam mazhab, tidak ada. Tiba-tiba sekarang jadi wajib. Meskipun tidak dikatakan wajib secara lisan, tetapi secara hal, secara kondisi seakan-akan hukumnya apa? Wa wajib. Buktinya kalau orang tidak melakukan dicela, bahkan sebagian diboikot. Jadi gimana sesuatu yang zaman Nabi tidak ada sekarang dibilang apa? Wajib. Gimana pertanggung jawab kita di hadapan Allah? Mau pakai dalil apa? Kita bilang wajib. Oh, enggak. Kita enggak mewajibkan. Tapi kondisi menunjukkan apa? Wajib. Kalau tidak dilakukan, ah kau tidak sayang sama orang tuamu. Kau kubur seperti kubur kucing, kau gini, kau gini dicela. Ya, jadi kan wajib namanya. Engak wajib. Jadi, ee seorang terkadang melakukan bidah, dia tidak memikirkan konsekuensinya ya. Padahal Nabi mengatakan, "Tidak ada seorang nabi pun kecuali menyampaikan seluruh kebaikan yang dia tahu dan peringatkan umatnya dari seluruh keburukan yang dia tahu. Islam sempurna dari sisi penjelasan kebaikan dan dari sisi penjelasan kebu keburukan secara detail atau secara kaidah." Akhirnya kalau sudah dilakukan bidah, sunah hilang. Sunahnya orang kalau meninggal kita bantu, kita yang bawa makanan karena mereka sedang susah. Ini sebaliknya malah mereka semakin apa? Su susah ya. Tib. Kemudian Rasulullah menyebutkan di antara keburukan yang Rasulullah ingin ingatkan tentang fitnah yang akan muncul. Kata Rasulullah, "Wa in umatakum hadi juilai fi awaliha." Umat kalian ini diberikan keselamatan di awal. Ada yang mengatakan di zaman Abu Bakar dan Umar tidak ada fitnah ya yang dahsyat. Dan adapun akhir umat ini yaitu zaman Utsman, maka akan datang balapetaka, bencana, perkara-perkara yang kalian ingkari. Kemudian Rasulullah berkata, "Akan timbul fitnah." Watajiul fitnatu. Akan datang fitnah yang dahsyat, bukan fitnah biasa. Fayurqiqu ba'duha ba'd. Saking dahsyatnya fitnah tersebut, maka yang datang setelahnya akan menjadikan yang sebelumnya terasa ringan. Fitnah datang dahsyat, tapi yang datang lebih dahsyat sehingga menjadikan yang sebelumnya terasa ringan. Watajiul fitnatu fayl mukmin. Saking dahsyatnya fitnah, sampai ketika tiba fitnah tersebut, seorang mukmin berkata, "Muhlikati, aku akan binasa dalam fitnah ini." Isyarat ini bisa fitnah terkait pertumpahan darah. Tankasif. Kemudian fitnah tersebut hilang. Ternyata dia selamat. Dia tidak binasa dalam fitnah tersebut. Watajiul fitnatu. Kemudian datang fitnah yang lebih dahsyat. Maka mukmin berkata, "Hadi, had sekarang baru saya akan binasa." Maka Rasulullah ingatkan bagaimana kematian semua akan orang rasakan, tapi bagaimana kondisimu ketika mati. Ini yang penting. Mati semua orang akan mati. Tapi bagaimana matimu? Itu yang penting. Kita mati mau ketabrak mobil, mau sakit, mau kecelakaan, mau sakit perut, mau kena jantung, ya kena stroke, ya, macam-macam mati, ya. jatuh dari pesawat. Banyak orang mati lagi lari tahu-tahu mati. Ya, kemarin ada teman bilang temannya umur 52 tahun hobi lari sepekan dua kali lari meninggal ketika lari. Subhanallah. Olahraga pengin hidup ternyata malah meninggal. Dan banyak seperti itu. Kita enggak tahu mati kapan. Tapi yang penting bukan bukan matinya. Yang penting bagaimana kondisimu ketika mati. Maka Rasulullah berkataan ahabba yuhzainar. Siapa yang ingin diselamatkan dari neraka waudkalal jannata dan dimasukkan dalam surga faltati maniyatu. Hendaknya kematian menimpa menjemputnya. Wahua yminu billahi walumil akhir. Yang paling penting ketika meninggal dalam kondisi beriman kepada Allah dan hari akhirat. Mau meninggal ketabrak, mau meninggal kecelakaan, mau meninggal sakit perut, mau meninggal jantungan, mau meninggal apapun sebabnya ya dengan pedang atau tanpa pedang. Man lam yamut bisaifin mata bihairihi taadadil asbabu wal mautu wahid. Siapa yang tidak meninggal karena pedang akan mati karena lainnya. Sebab banyak tapi semuanya mengantarkan kepada kematian. Maka hendaknya dia dijemput oleh kematian dalam kondisi beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan yang kedua, dia hendaknya bersikap kepada orang lain, kepada masyarakat dengan sikap yang dia sukai diberikan kepadanya. Maka ini yang paling penting itu berakhlak mulia. Sebelum kau bersikap sama orang, kau renungkan. Bagaimana kalau itu saya di posisi dia, apa yang harus saya lakukan? Seorang ingin bersikap kepada orang tuanya, dia renungkan, seandainya saya jadi orang tua, saya pengin apa? Lakukanlah. Seorang ingin berakhlak mulia kepada istrinya. Dia bayangkan seing saya jadi istri saya penginnya gimana? Penginnya apa? Dibelikan emaslah, disayang, dimanja kalau punya duit ya. Tidak dibentak-bentak, diulus-ulus kepalanya, bukan disendul-sendul. Ya, ini kalau saya seorang wanita ingin bersikap baik kepada suami, dia bayangkan seinya saya jadi suami saya penginnya apa? Penginnya ditaati, pengin dilayani. Ya. Ya. Kalau perlu disuapin, ya. Seperti itu, ya. Kalau saya pengin bersikap akhlak mulia kepada anak, kira-kira apa yang saya inginkan? Bayangkan saya jadi anak kecil penginnya apa? Pengin ditelepon orang tua, pengin diajak jalan-jalan. Itu akhlak yang mulia. Kalau saya pengin bersikap baik sama tetangga, bayangkan si tetangga gimana ya? Pengin kalau tetangga saya lewat yang mungkin lebih kaya, dia salamin saya. Kalau ada makanan bagi-bagi seperti itu. Kalau pengin jadi berakhlak kepada anak buah, gimana anak buah? Ya tegur siapa anak buah. Kalau kerja lebih banyak dikasih bonus seperti itu ya. Jadi akhlak mulia di antara definisi akhlak mulia bersikap kepada orang lain dengan sikap yang kau suka jika disikapi kepada kepadamu. Kalau ingin beraksi sama orang tua apa? berbuat sama orang tua tawar berikan yang kenali apa keperluan orang tua. Orang tua pengin gini kasih orang tua tahu. Kebiasaan orang tua harus kenal anak yang cerdas tahu hobinya orang tuanya apa. Dia harus ngerti jangan ditanya-tanya, "Mak, mau ini enggak?" "Mak, mau ini enggak?" Mamanya bilang, "Enggak." "Enggak enggak." "Udah belikan aja." Tau mama suka makan sate, belikan sate. Bosan, Nak. Na, kalau bosan ganti lagi cari yang lain. Kenali kesenangan orang orang tua. Jangan tanya-tanya. Karena orang tua kadang-kadang sungkan mau bilang iya iya malu dia. Kasih aja orang tua dia gitu ni. Enggak enggak enggak. Tapi akhirnya dia makan juga dia segan. Makanya saya pernah sering sampaikan ada seorang baru sadar selama ini dia ternyata kurang baik sama ayahnya. Ketika dia sudah tua anaknya sering bilang, "Abi mau makan ini enggak?" Padahal dia pengin. Abi mau begini enggak? dia sadar ternyata dulu dia juga begitu. Harusnya hadirkan saja ya. Oleh karenanya kalau ingin berakhlak mulia bayangkan kita pada posisi orang tersebut kira-kira dia sukanya apa. Kita lakukan ya sama-sama sama pembantu, sama sopir, sama siapapun ya. Itulah akhlak kemuliaan. Itulah yang mendatangkan husnul khatimah. Iman kepada Allah dan hari akhirat aplikasinya dengan akhlak yang mulia kepada orang lain. Ya, sampai jangan sampai jangan suka merasa unggul. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, eh, la yuminu ahadukum hatta yuhibakihim yuhibbufsih. Tidak akan beriman seorang sampai dia menghendaki pada saudaranya apa yang dia suka untuk dirinya. Ibnu Rajab ketika menafsirkan firman Allah dalam syarah hadis mad bani jaian eh ketika menafsirkan firman Allah subhanahu wa taala tilkul akiratu najaluadina laiduna uluwan fil ard w fasada itulah surga kami siapkan kepada orang yang tidak pengin ketinggian di dunia yaitu tidak pengin dia bersendiri dalam keutamaan tersebut dia pengin dia sendirian dia pengin dia yang ustaz paling top sendiri dia pengin dia yang paling diunggulkan Bukan semuanya. Tidak. Kalau dia pengin semua orang seperti dia. Di antaranya inilah tanda husnul khatimah. Walyati ilanas alladzi yuhibbu yuta il. Sebagaimana kau suka kau dikenal orang sehingga orang mengambil manfaat darimu. Orang juga biarin aja. Biar aja orang juga seperti dirimu kau senang. Biar orang bisa ambil manfaat, biar dia juga bisa diambil manfaat dari orang lain. Sebagaimana kau suka pengajian ramai, kau juga senang kalau yang lain juga pengajian apa? Ramai. Adapun muncul dalam diri pengin saya sendiri yang paling ramai, pengin saya sendiri yang paling terkenal, pengin saya sendiri yang paling heboh, pengin saya sendiri yang paling ini bukan akhlak yang mulia. Ini berarti ingin ulu fil ard. Tilkul akhiratu najalu lilladina la yuriduna uluan fil ard. Itulah surga kami siapkan bagi orang yang tidak ingin ketinggian, tidak ingin bersendirian dalam keistimewaan. Ya, kita berpacu tapi kita ingin orang juga seperti kalau kita dapat kebaikan, kita pengin saudara kita juga seperti apa? Seperti kita ya. Adapun kita ingin hebat sendiri maka ini bukan husnul khatimah. Orang seperti ini tidak bukan husnul khatimah. Dan orang seperti ini tidak dapat surga. Sebagaimana ditafsirkan oleh Ibnu Rajab al-Hambali. Kemudian Rasulullah ingatkan tentang fitnah yang mungkin menimbulkan pertumpahan darah. Karena fitnah mungkin menimbulkan perteman darah. Kata Nabi, "Waman baya imaman." Siapa yang baiat imam fafq yadihi kemudian dia sudah serahkan tangannya. Tentunya tidak semua orang baiat kepada imam secara langsung. perwakilan-perwakilan rakyat hanyalah mengikuti ya ahlul wal aqad ya seluruh orang-orang pembesar-pembesar mereka yang perwakilan-perwakilan masyarakat mereka yang membaiat imam adapun rakyat mengikuti watamarataqbi sudah memberikan ee buah hatinya itu dia sudah menunjukkan keseriusannya loyalnyau maka hendaknya dia taat kepada penguasa tersebut semaksimal mungkin fain jaa akar Kalau ada orang yang lain ingin merebut kekuasaan yang pertama ya yunaziuhu fadribu unuqal akar ingin ganggu pemimpin yang pertama kata Nabi, bunuhlah yang kedua karena kalau tidak dibunuh akan terjadi kerusakan. Maka dibunuh ini dari bab e kaidah irtikabu akidarain menempuh melakukan kemudratan yang paling ringan demi untuk menolak kemudratan yang lebih besar. Ya, di depan kita ada dua kemudaratan. Kita biarkan orang kedua sehingga umat Islam terpecah dua. Akhirnya terjadi dua kubu besar akhirnya bunuh-bunuhan. Ini kemudratan pertama. Kemudratan kedua, kita bunuh saja yang baru muncul ini sehingga yang meninggal cuma sedikit. Ketika keduanya tidak bisa dihindari maka ditempuh kemudroratan yang ringan untuk menolak kemudroratan yang be besar. Maka Rasulullah suruh bunuh yang ke kedua. Paham? Nah. Jadi seorang tahu menempatkan diri ketika terjadi fitnah. Terjadi fitnah. Para ulama mencontohkan seperti waka'atul harrah ya. Ketika di Madinah ketika sekelompok orang memberontak kemudian melepaskan ketaatan dari Yazid bin Muawiyah karena dianggap melakukan kefasikan. Maka Ibnu Umar tidak mau. Ibnu Umar bilang kita gimana? Sampai Ibnu Umar datang kepada pemimpin mereka. Salah seorang diangkat jadi pemimpin untuk memberontak. Maka Ibnu Umar datang kepada dia. Kemudian orang tersebut mengatakan, "Bentangkan yaitu beri penghormatan kepada Ibnu Umar. Silakan duduk. Ibn saya datang bukan untuk ini. Saya datang untuk mengingatkan kepada engkau tentang hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam." Yaitu siapa yang sudah baiat harusnya dia taat. Tidak boleh memberontak selama orang tersebut tidak ka tidak kafir. Yazid bin Muawiyah masih tertuduh fasik ketika itu. Masih tertuduh apa? Fasik. Bukan tertuduh kafir. Maka Ibnu Umar tidak memberontak. Akhirnya mereka memberontak. Akhirnya Yazid mengirim pasukan. Akhirnya dihabisi oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Terlepas mana salah mana benar. Tetapi aturan menyatakan bahwasanya kita kalau sudah baiat kita tidak boleh berkhia berkhianat. Maka Ibnu Umar bertahan ketika itu bahkan menasihati. Tayib. Kemudian hadis berikutnya, walahu an Abi Hurair radhiallahu anhu itu dalam eh sahih ya dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dalam Sahih Muslim marfuan secara marfu Rasulullah sahu alaihi wasallam bersabda badiru bilali fitananil mudlim dahuluilah bersegeralah untuk beramal sebelum datang fitnah-fitnah yang seperti potongan-potong potongan malam yang gelap. Jadi itu Rasulullah ingatkan akan datang fitnah-fitnah yang sangat gelap seperti potongan-potongan malam yang gelap. Saking gelapnya isyarat kalau kau jalan kau tidak tahu, tidak kelihatan sehingga kau bisa terjatuh, kau bisa masuk dalam apa jurang ya karena gelap. Sampai-sampai kata Nabi, "Yusbihur rajulu mukminan waumsi kafiran." Ada orang yang di pagi hari masih beriman, sore harinya sudah kafir. Waumsi mukminan. Sore hari mukmin wusbihu kafiran. Paginya sudah kafir. Yabiuahu biarin minad dunya. Dia jual agamanya karena kepentingan duniawi. Maka di antara cara untuk selamat dari fitnah adalah dengan beramal saleh sebelum datang fitnah tersebut. Apa fungsinya? Kalau kau sering beramal saleh, nanti Allah jaga engkau ketika muncul fitnah-fitnah tersebut. Makanya Rasulullah mengatakan, "Segeralah beramal sebelum datang fitnah dan bisa jadi fitnah yang datang tersebut membuat engkau mati. Bisa jadi bisa engkau binasa dalam fitnah tersebut. Maka sebelum kau binasa beramal saleh. Karena kalau sudah binasa tidak mungkin bisa beramal saleh." Seperti tadi fitnah kata Nabi, "Datang fitnah watajiul fitnatu wakul mukmin muhlikati." Ketika datang fitnah sangat dahsyat, seorang mukmin berkata, "Inilah kebinasaanku saya." Dia merasa dia bakalan mati. Tankasif. Kemudian ternyata fitnah tersebut hilang. Watajiul fitnu. Ternyata datang fitnah lebih dahsyat lagi. Mukmin. Maka seorang mukmin berkata, "Hadi hadi, sekarang saya binasa. Sekarang saya binasa." Rasulullah suruh perkuat iman, perkuat amal saleh. Yang mau mati tetap mati. Cuma mati di saat fitnah jangan lupa beriman kepada Allah dan hari akhirat dan jangan lupa beramal saleh dengan berakhlak muli mulia. Maka sini kata Rasulullah, "Sibukkanlah dengan amal-amal, bersegeralah dengan amal-amal. sebelum datang fitnah-fitnah seperti potongan-potongan gelap, malam gelap gulit itu gelap. Saking gelapnya sampai ada orang tidak sadar dia tadi pagi beriman, sore sudah kafir. Zaman sekarang itu sangat mungkin. Dia pagi salat subuh masih salat. Siang-siang dia buka internet, dia baca syubhat-syubhat liberal, syubhat-syubhat ateis. Dia baca syubhat-syubhat ahlul bidah yang sampai derajat kekufuran. Terpengaruh. maka sore sudah ka kafir. Sebaliknya sore dia masih muslim, masih salat asar, salat magrib, salat Isya, habis isya dia buka internet atau diskusi sama orang ateis kemudian ragu, kemudian jadi kafir. Karena untuk kafir dari Islam tidak harus ganti agama. Cukup kau ragu dengan Islam benar atau tidak maka kau sudah kafir. Atau kau membenarkan agama lain yang musyrik bisa masuk surga, kau juga sudah kafir. Tidak perlu kau bilang Tuhan tidak ada. Engkau cukup mengatakan, "Saya belum bisa pastikan Tuhan ada." Agnostik. Saya tidak bisa mengatakan Tuhan tidak ada tapi saya belum menemukan dalil bahwasanya Tuhan itu ada. Itu namanya podo wae. Podo wae. Enggak percaya sama tu Tuhan. Keyakinan butuh keyakinan, bukan keraguan. Keraguan. Yakin jadi ragu sudah bukan orang beriman lagi. Dan itu sangat mungkin. Oleh karenanya di antara yang menjaga seorang dari fitnah adalah dengan banyak amal saleh. Banyak amal amal saleh. Walahu. Demikian juga dalam Sahih Muslim hadis berikutnya. An Maqil bin Yasar marfuan. Dari Maqil bin Yasar dari Nabi sallallahu alaihi wasallam secara marfu. Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "Al ibadatu fil harji kahijratin ilaiya." Ibadah di zaman fitnah. seperti hijrah kepadaku. Di sini ada keutamaan beribadah di zaman fitnah berupa pahalanya seperti hijrah. Dan kita tahu hijrah kepada Nabi pahalanya sangat besar. Ketika Amr bin Ash radhiallahu anhu ingin masuk Islam, dia berkata, "Ya Rasulullah, mudda yadaka fala ubayika. Bentangkan tanganmu, aku akan membaiat engkau. Aku ingin masuk Islam." Nabi pun bentangkan tangannya ternyata amsaka. Amar bin As tahan tangannya. Kata Nabi, "Malak ya Amar, kenapa kau tidak baiat?" Kata Amr bin Ash, "Uriidu an asarit, saya ingin punya syarat ya Rasulullah." Apa syaratmu? An yugfar. Agar aku diampuni dosa-dosaku yang terlalu karena Amar merasa dosanya banyak. Maka Rasulullah berkata alimta ya Amar, tidakkah kau tahu Amr? Anal islama yahdimu qlahu. Islam kalau kau masuk Islam akan menghapuskan dosa sebelumnya. Akan menghapuskan dosa sebelumnya. Bawasnya hijrah akan menghapuskan dosa-dosa sebelumnya. Dan haji pun demikian. Maka hijrah luar luar biasa pahalanya ya. Dan Rasulullah sering menyebut innalladzina amanu walladzina hajaru wahadu. Allah menggandingkan iman, hijrah sama jihad. Ya kaum Muhajirin di mulia dengan dengan sifat dengan laqab gelar Muhajirin. Apalagi hijrahnya kepada Rasulullah bukan hijrah sembarang. Rasulullah mengatakan, "Ibah di tengah-tengah fitnah seperti hijrah dari Makkah menuju Madinah. Luar biasa pahalanya." Besar. Kenapa bisa demikian? Kata para ulama, karena ketika musim fitnah banyak orang tidak ibadah. Orang sibuk dengan fitnah, tenggelam dalam fitnah atau komentarin fitnah atau ngikuti perkembangan fitnah. Kalau enggak terjun dalam fitnah atau ikuti perkembangan apa fitnah atau ngomentari fitnah atau menganalisi. Menganalisa apa? Fit fitnah. Jadi habis waktunya kapan mau ibadah. Sehingga benaknya pikirannya berputar pada fitnah yang tidak ada habis-habisnya. Nah, tiba-tiba ada orang tidak ikut itu dia sibuk ibadah. Luar biasa. Dia tidak seperti kebanyakan orang dia sibuk ibadah di saat itu ibadah pahalanya luar biasa. Kemudian dikatakan hijrah karena dia meninggalkan sesuatu demi menyelamatkan agamanya. Apa itu hijrah? Hijrah itu meninggalkan tempat tinggal untuk menyelamatkan agama. Para sahabat dulu meninggalkan Makkah padahal di situ kampung halamannya, di situ rumahnya, di situ pekerjaannya, di situ keluarganya. Tinggalin supaya agama sela selamat. kabur bawa lari agama daripada menetap akhirnya terfit fitnah. Nah, sama orang kalau masuk fitnah agamanya bisa rusak maka dia tinggalkan fitnah tersebut untuk ibadah seperti berhijrah kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Jadi ada kemiripan yaitu meninggalkan sesuatu karena sesuatu, meninggalkan fitnah untuk ibadah seperti berhijrah kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dan ada makna lain bahwasanya hijrah itu biasanya meninggalkan suatu yang menyenangkan. Dunianya dia tinggalkan demi untuk selamat agamanya. Maka seorang ketika meninggalkan fitnah bukankah nonton fitnah menyenangkan? Ada enggak fitnah yang tidak menyenangkan? Semua menyenangkan. Fitnah wanita menyenangkan fitnah politik menyenangkan fitnah syahwat menyenangkan, fitnah musik menyenangkan, fitnah semua enak ditonton. tonton, dikomentari, diikuti perkembangan, tapi dia tinggalkan semua itu sibuk beribadah. Ibadahnya di zaman seperti itu seperti hijrah kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Makanya kita renungkan kalau lagi sarana fitnah, lihat metsos mikir-mikirin ini fitnah bukan. Kalau fitnah tinggalin aja deh, mending baca Quran. Baca Quran. Kalau enggak ibadah lain, telepon silaturahmi, telepon ibu, telepon kakak, telepon adik. Kalau enggak nonton yang bermanfaat, ninggalin itu semua. Sibuk beribadah dengan ibadah apapun. yang bisa kita lakukan sehingga kita tidak tenggelam dalam fit fitnah. Kalau tenggelam dalam fitnah akhirnya asyik keterusan. Kemudian hadis berikutnya walahuma dalam sahih Bukhari sahih Muslim an Hudzaifah dari Hudzaifah anna Umar qal dari Hudzaifah bahwasanya Umar radhiallahu anhu berkata Umar sedang kumpul sama sahabat Umar berkata ayyukum yahfadu Nabi sallallahu alaihi wasallam fil fitan siapa di antara kalian yang hafal hadis Nabi perkataan Sabda Nabi tentang fitnah. Faqulu ana kata Hudzaifah saya ya ya Umar amirul mukminin ini zaman amirul mukminin Umar. Faqala hat kata Umar ayo sebutkan hadis apa tentang fitnah. Faaka alaihi jari kau berani menyebutkan hadis tentang fitnah. Faqulu aku berkata karena Hudzaifah ini banyak menghafal hadis-hadis tentang fitnah-fitnah. Kata kata Hudzaifah samakl aku mendengar Rasul sahu al wasallam bersabda, "Fitnatul fi ahlihi waliadii wari tukiratu wasamu wasqatu amru bil munkar." Fitnah seorang lelaki terkait keluarganya, anak, istrinya, terkait hartanya, terkait anaknya, terkait tetangganya bisa dihapuskan dosa-dosanya dengan salat, puasa, sedekah, amar makruf nahi mungkar. Ini dalil bahwasanya ini fitnah keseharian. Fitnah keseharian yang kita hadapi terkait dengan istri. Istri ujian bagi kita. Apa kita bisa menunaikan hak istri? Kita berakhlak baik sama istri. Terkadang kita salah dalam hak istri. Salah ini bisa dihapuskan dengan salat, puasa, sedekah, amal nahi mungkar. Kemudian juga walihi. Fitnah terkait harta. Harta fitnah. Wa fitnatu umatil mal. Fitnah umatku adalah harta kita. Mungkin berlebihan penggunaannya, mungkin kita pelit, mungkin kita apa fitnah. Kita tidak lulus dalam fitnah harta. Maka di antara yang bisa menghapuskannya adalah dengan salat dan sedekah, puasa, amar mak nahi mungkar. Fitnah terkait anak. Seorang terfitnah dengan anaknya harusnya dia didik, harusnya dia arahkan, harusnya dia penuhi kebutuhannya. Ya mungkin dia ada kurang tidak menunaikan hak anaknya atau dia terbawa oleh anaknya, terlalu manjakan anaknya. sehingga anaknya akhirnya salah didikan atau dia akhirnya gara-gara anaknya dia malas bersedekah. Ini fitnah terkait anak sehingga muncul dosa-dosa. Dia tidak lulus dari fitnah tersebut maka dosa-dosanya bisa diampuni dengan salat, puasa, sedekah, amar nahi mungkar. Fitnah terkait tetangganya. Tetangga juga fitnah. Kita enggak pernah sapa, enggak pernah menunaikan hak tetangga, enggak pernah cek-cek bagaimana kondisi kesehatannya, gak tahu dia lapar atau kenyang. cuekin aja masing-masing sibuk dengan dirinya. Akhirnya kita tidak lulus dalam menyikapi tetang tetangga dosa kita. Nah, dosa ini bisa dihapuskan dengan salat, puasa, sedekah, amar mfah mungkar. Ini fitnah tapi fitnah keseharian yang setiap orang mengalaminya. Belum tentu kita bisa mensikapi istri dengan baik, anak dengan baik, harta dengan baik, tetangga dengan baik sehingga kita berdosa karena tidak lulus dalam menghadap fitnah ujian tersebut. Maka Umar berkata, "Laisa hidu?" Saya bukan pengin fitnah biasa-biasa begini. Ini bukan yang saya tanya kepada engkau wahai Huzaifah. Ini tamuju bahri. Tapi saya tanya kepada engkau tentang fitnah yang bergejolak seperti ombak di lautan. Fitnah besar. Faquluak wha amirin. Apa urusanmu dengan fitnah tersebut? Inna bainaka baban mugqon. Sesungguhnya antara engkau dengan fitnah yang dahsyat tersebut ada pintu yang menghalangi. Yaitu Abuzaif ingin berkata, "Engkau tidak bertemu dengan fitnah tersebut. Ngapain tanya-tanya?" Itu fitnah belakangan. Karena Rasulullah mengatakan, "In inna hadil umma juilati afiyatuha fi awaliha." Umat ini dijadikan kenyamanannya di awal. Zaman Abu Bakar, zaman Umar gak ada fitnah. Tetapi muncul di zaman siapa? Utsman radhiallahu anhum. Maka Hudzaifah berkata, "Apa urusanmu dengan fitnah yang dahsyat tersebut? Antara engkau dengan munculnya fitnah yang dahsyat tersebut ada pintu." Faqala Umar bertanya, "Yuftahul babu am yuksar." Itu itu pintu yang menghalangi antara aku dengan fitnah tersebut terbuka sehingga muncul fitnah atau hancur sehingga tidak bisa tertutup lagi. Kata Hudzaifah, "Bal yuksar." pintu tersebut dihancurin. Maksudnya kalau sudah muncul fitnah enggak berhenti. Beda kalau pintu tersebut bisa ditutup ya tutup lagi fitnahnya enggak datang berhenti. Tapi ketika pintu tersebut dirusak maka tidak akan pernah tertutup muncul fitnah tersebut berkelanjutan. Ini terjadi pada zaman Utsman. Nanti akan kita singgung. Qalika ajadu all yugl. Kalau gitu tidak akan tertutup lagi pintu penghalang tersebut. Hudzfah Umar yamil bab. Maka sang perawi berkata, "Apakah Umar tahu siapa yang dimaksud dengan bab pintu tersebut? Penghalang antara dia dengan fitnah." Qala naam kama ana duna gadin allaila. Sebagaimana eh apa namanya? Selain siang adalah malam ya. Sebelum besok adalah malam ini. Yaitu penghalang antara kita dengan besok adalah malam. Kalau malam lewat maka tiba besok hari. inni hadanisa bilal aku menyampaikan kepadanya hadis yang bukan eh bukan merupakan kesalahanumil bab kami senggan untuk bertanya kepadanya siapa yang dimaksud dengan babna masruk kami bertanya kepada masruk sang perawi lagi perawi di atasnya isalhu. Maka Masruk tanyakanlah kepada Hudzaifah fasaalahu. Aku bertanya kepada Hudzaifah siapa yang dimaksud dengan pintu? Faqala Umar. Umar itulah pintu itu sendiri. Ya, ketika Umar meninggal maka akan datang fitnah-fitnah yang tidak akan pernah berhenti lagi. Ya, maka ini menunjukkan bahwasanya fitnah bertingkat-tingkat dan ada fitnah keseharian. Fitnah keseharian tadi fitnah istri, fitnah anak, fitnah harta, fitnah apaagi? Fitnah wanita, fitnah medsos. Itu fitnah sehari-hari. Kalau mau selamat fitnah metsos, kuota kuotanya jangan jangan diperpanjang kuotanya. Selamat fitnah metsos. Kalau selamat fitnah anak, enggak punya anak. Kalau punya anak pasti ada fitnah apa? Anak. Kalau pengin selamat punya istri jomblo melolo terkena fitnah yang lain. Semua ada resiko. Ya, semua ada resiko. Pengin enggak ada fitnah tetangga, jangan bertetangga. Ya. Ya enggaklah kita bertetangga ya itu fitnah tidak bisa kita hindari. harus kita hadapi. Tapi tadi alhamdulillah solusinya dengan salat, sedekah, puasa, dosa-dosa yang terkait dengan fitnah tersebut bisa diampuni. Tapi ini fitnah yang dahsyat, fitnah yang tidak biasa. Berarti fitnah ada dua, dua model dalam hidup ini. Demikian kita ada fitnah keseharian, ada fitnah yang dahsyat yang menghadang kita. Di situlah kita butuh lebih dekat kepada Allah, lebih bertakwa kepada Allah agar bisa lolos dari fitnah tersebut, ujian-ujian kehidupan. Nah, para ulama menjelaskan adalah dengan wafatnya fitnah tersebut, wafatnya Umar, kemudian setelah itu ee wafatnya Utsman bin Affan ya, Utsman bin Affan radhiallahu taala anhu. Secara singkat, Utsman bin Affan radhiallahu anhu kayaknya enggak cukup waktu 5 menit jadi enggak bisa disingkat-singkatin ya. Karena begitu Utsman meninggal dunia akan muncul berbagai macam fitnah. Fitnah perang Jamal, setelah itu fitnah perang Sifin. Kemudian setelah itu terjadi ee Hakamain. Setelah itu kemudian ee Hasan lengser. Kemudian setelah itu di dilanjutkan oleh apa? Muawiyah. Setelah itu Muawiyah meninggal Yazid. Ketika Yazid naik, timbul fitnah lagi. Ya, Abdullah bin Zubair kemudian menjadi khalifah setelah wafatnya Yazid. Ya. Dan banyak di antaranya terbunuhnya di zaman Yazid terbunuhnya siapa? Cucu Nabi siapa? Al-Husin. Ya. Sebelumnya Hasan diracun. Dan berbagai macam fitnah yang menimpa umat umat ini. Karena waktu sudah mau habis, insyaallah kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya. Insyaallah saya akan ringkaskan ee kejadian-kejadian besar dan bagaimana sikap kita menghadapi ee fitnah-fitnah tersebut ya ee dengan sikap yang lebih tepat. Demikian saja. Wabillah hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.