Transcript
ZVQXcr3gpy0 • Kitab Al-Adab Al-Mufrod #58: Adab Menemui Tamu - Ust Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2583_ZVQXcr3gpy0.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu
ala taufiqihi wattinani ashadu alla
ilahaillallah wahdahu la syarika lahu
lya wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa
rasuluh da ridwan. Allahumma sholli
alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa
ikhwani. Hadirin hadirat yang dirahmati
Allah subhanahu wa taala, kita masih
melanjutkan hadis tentang ziarah. Ya.
Dan telah kita sebutkan di antara
adab
ziarah atau menerima tamu adalah kita
menemui tamu dengan pakaian yang rapi
sebagai bentuk pemuliaan terhadap tamu.
Hadis berikutnya al Imam Bukhari
berkata, "Qala haddasana almakki qala
haddasana Hanzalah an Salim bin Abdillah
qala samu Abdullah bin Umar qala wajada
Umar hullatan istabraq."
Umar melihat ada pakaian yang terbuat
dari sutra. Faata bian Nabi sallallahu
alaihi wasallam. Maka dia pun bawa
pakaian sutra tersebut kepada Nabi.
Faqala
istri hadhi. Kata Umar, "Ya Rasulullah,
berilah belilah eh pakaian dari sutra
ini. Walasha indal jumah.
Dan gunakanlah pakaian ini ketika hari
Jumat.
atau ketika tamu-tamu datang,
utusan-utusan datang. Ya, saya sampaikan
Nabi terima tamu di masjid dan di area
tiangnya nanti dulu menerima tamu di
tiang itu orang datang di masjid.
Maka tamu-tamu dari jauh entah mau masuk
Islam, entah mengenal Islam entah
bertanya-tanya
maka kata Umar hendaknya memakai pakaian
yang bagus dari sutraq
alaihiatu wasalam. Maka rasul sahu alaih
wasallam berkata, "Inama yalbasuhaq
akh." Yang boleh pakai pakaian sutra itu
hanyalah orang yang tidak mendapat
bagian di akhirat. Itu orang kafir
boleh. Ya, makanya Rasul sahu alaihi
wasallam pernah memegang ee kain sutra
dan emas. Maka Rasulullah mengatakan,
"Hani eh haramun ehuri umati." Dua
perkara ini haram bagi lelaki dari
umatku dan halal bagi para wanita, yaitu
kain sutra dan juga apa? Emas. Adapun
laki-laki gak boleh. Adapun orang kafir
mereka pakai ya
pakai. Makanya ee Rasulullah mengatakan
ini dipakai bagi orang yang tidak punya
bagian di akhirat. Laki-laki kafir
silakan pakai.
Rasul wasamulin.
Kemudian di lain waktu Rasul wasallam
didapat hadiah atau diberikan kepada
beliau pakaian-pakaian dari sutra.
Umar maka Rasulullah kasih hadiah kepada
Umar satu pakaian sutra. Waamaullah.
Rasulullah kirim kepada Usamah bin Zaid
juga satu pakaian sutra. Waila Aliinah.
Kemudian juga kepada Ali bin Abi Thalib
satu kain sutra. Umar heran kemarin Umar
suruh beli kata Nabi, "Gak boleh ini
hanya untuk orang kafir. Sekarang malah
Rasulullah kasih hadiah kepada Umar
berupa kain sutra."Q Umar. Maka Umar
bertanya, "Ya Rasulullah,
engkau kirimkan kirimkan hadiah kepadaku
berupa pakaian sultra. Sementara engkau
pernah bahwasanya ini adalah pakaian
yang pakai adalah orang-orang yang tidak
dapat bagian di akhirat.
Itu orang kafir.
Kok bisa sekarang kirim hadiah kepadaku?
Faqala Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam,
"Tabiuha
biha hajataka." Saya tidak suruh kau
pakai, tapi kalau kau mau jual silakan
atau ada keperluan hajatmu, silakan kau
ee
kau gunakan.
Jadi ee akhirnya disebutkan dalam
sebagian riwayat Umar akhirnya ee
menghadiahkan ini kepada saudaranya,
saudara seibu yang masih musyrik. Rasul
wasallam eh Umar tidak pakai karena itu
tidak boleh pakai orang Islam. Umar
berikan kepada saudara seibunya yang
masih musyrik. Ya, yang menjadi
perhatian kita di sini bahwasanya ee di
antara sunah kalau kita bertemu dengan
tamu atau
bertamu, bertamu atau ketika menerima
tamu hendaknya memakai pakaian yang
terbaik yang kita miliki. Ya, dalam
rangka untuk menghargai, menghormati ya.
Kecuali mungkin kita teman dekat ya.
Tapi kalau orang luar ya kita pakai
ketemu tamu. Jangan jangan kaos oblong
kun ketemu tamu. Kayak kayaknya gimana
ya? Di antara sunah kita menunjukkan
pemuliaan dan di antara sunahlah ikram
diif memuliakan tamu. Di antara bentuk
mulia tamu kita pakai pakaian yang rapi
ketika tamu tamu datang. Ya itu
sunah-sunah Nabi sallallahu alaihi
wasallam.
Babu
fadli ziarah.
Bab keutamaan
ee berziarah.
Imam Bukhari berkata, "Quatan Sulaiman
bin Harb wa Musa bin Ismail q hadana
Hammad bin Salamah Tsabit an Abi Rafi
Abi Hurairah Nabi wasamun
qinahuakan."
Ada seorang menziarahi saudaranya di
sebuah di sebuah negeri atau sebuah
kampung.
Sepertinya ini terkait dengan bagaimana
seorang ziarah meskipun harus bersafar,
meskipun harus apa ber bersafar sehingga
dia pergi ke negeri lain perjalanan jauh
dan ini adalah ibadah berziarah menemui
teman karena Allah meskipun harus
bersafar maka harus mengeluarkan biaya
harus menghabiskan waktu maka itu pada
tempatnya. pada tempatnya. Apalagi teman
karena Allah, teman seperjuangan, sudah
lama tidak ketemu, maka kita merepotkan
diri kita untuk bertemu dia adalah
ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala.
Maka orang ini pergi menuju ke
saudaranya di negeri yang lain, kampung
yang lain. Faarsadallahu lahu malakan
ala madrajatihi. Maka Allah kirim
siapkan malaikat yang menjelma menjadi
manusia
menunggu di jalan yang akan dia lewat.
Ada malaikat yang nungguin dia. Akhirnya
dia pun lewat ditegur oleh malaikat
tersebut dalam bentuk manusia. Menjelma
jadi manusia. Kata malaikat tersebut,
"Aina turid? Ke mana kau gak pergi?"
Qala akli fi hadil qarah. Saya pengin
menuju ke saudara saya, teman saya di
kampung ini atau di negeri ini. Malaikat
bertanya, "Hallahu alaika
min nikmatin tarubbuha." ya. Apakah ee
ada urusan duniawi ya, urusan duniawi
yaitu yang harus kau penuhi, yang harus
kau lunasi ya
ada urusan sehingga kau harus datang
jauh-jauh untuk penuhi kewajibanmu
kepada dia. Itu ada urusan duniawi
enggak? Qa la gak ada urusan apa-apa.
Saya tidak ada urusan duniawi. Tidak ada
kewajiban yang harus saya tunaikan.
Tidak ada harta yang harus saya urusin
di sana.
Inni uhibbuhu fillah. Saya ke sana
karena saya mencintai dia karena Allah.
Qini rasulullah ilaik. Maka malaikat itu
pun mengaku dia mengatakan sesungguhnya
aku adalah utusan Allah kepadamu.
Sesungguhnya Allah telah mencintaimu
sebagaimana kau telah mencintainya
karena Allah Subhanahu wa taala.
Dan ini di antara dalil tentang agungnya
cinta karena Allah, bersaudaraan karena
cinta karena Allah Subhanahu wa taala.
Sampai begitu agungnya
seorang bisa dicintai oleh Allah
gara-gara dia mencintai saudaranya
karena Allah. Amal tidak amal tidak
begitu susah, namun hasilnya sangat luar
biasa. Mencintai saudara karena Allah,
dia akan dicintai oleh Allah. Ya,
oleh karenanya sampai begitu agungnya
amal ini sampai Allah kirim malaikat
untuk nongkrong menunggu menunggui
lelaki ini lewat untuk mengabarkan
bahwasanya Allah telah mencintainya
karena dia telah mencintai orang
tersebut karena Allah subhanahu wa
taala. Dan hadis ini menunjukkan akan
agungnya niat. Bagaimana pengaruhnya
niat yang luar biasa. Maka malaikat
ingin cek kok itu ada keperluan apa?
Murni karena Allah atau karena masih
tercampur-campur?
Mungkin ada hutang. mungkin mau minjam
duit, datang-datang senyum-senyum,
ketawa-ketiwi, ternyata mau minjam apa?
Duit, ya. Atau untuk bayar utang atau
untuk bikin proyek, urusan dagang, ya.
Maka malaikat cek kok ke sana ada urusan
apa? Mau bayar hutang kah? Ada urusan
dagang kah? Urusan duitnya enggak ada.
Sama sekali enggak ada. Benar-benar saya
ke sana di ke sana itu karena Al Allah.
Subhanallah.
Lihat efeknya luar biasa. Begitu
ternyata niatnya murni tulus karena
Allah, maka langsung Allah mencintainya
karena dia telah mencintai orang
tersebut karena Allah subhanahu wa
taala. Makanya seorang jangan sepelekan
tentang masalah niat. Betapa banyak amal
kecil jadi besar gara-gara niat. Dan
betapa banyak amal yang besar tidak ada
nilainya gara-gara niat. Kata Ibnu
Mubarak, rubba amalinirin tuimuhunah.
Betapa banyak amalan yang sepele jadi
besar karena diagungkan oleh karena
niat.
Banyak amal besar jadi kecil gara-gara
niat. Kita dalam aktivitas
jangan sepelekan niat. Nabi berkata
innamal bin niat. Amalan tergantung niat
inwa. Seorang mendapatkan sesuai dengan
niatnya.
Dia kalau beraktivitas niatnya karena
apa? Dia cek lagi saya niat ini. Saya ke
masjid karena apa? Saya
masuk dalam urusan dakwah karena apa?
Saya bikin pengajian karena apa? Ya,
saya bikin kegiatan karena apa? Saya
bikin bakti sosial karena apa? Cek. Kita
perlu berhenti sebentar kemudian kita
cek. Makanya ketika ada seorang salaf
ditanya kepadanya, "Al tahul janazah?"
"Tidakkah kau melayat jenazah?" Kata
dia, "Makanakum hatta uhir nih." Kata
dia, "Sebentar, sebentar saya mau
hadirkan niat terlebih dahulu.
Bahwasanya saya ke sana itu benar-benar
karena menunaikan hak sesama muslim.
Bukan karena pekeewu, bukan karena
enggak enak, bukan karena dikatakan
ee
apa dan itu, enggak. Benar-benar saya ke
sana karena
apa? Karena menunaikan hak seorang
muslim.
Karena
menghadiri jenazah juga bisa niat
macam-macam ya. Sayaat macam-macam untuk
menunjukkan bahwasanya saya ini, untuk
menunjukkan bahwasanya begini,
macam-macam untuk biar supaya enak di di
pandangan mata orang, supaya enggak ada
omongan macam-macam. Niat yang tuh punya
pengaruh luar luar biasa. Punya pengaruh
luar biasa. Orang bisa
dalam melayat jenazah pun bisa riak,
bisa niat ya. Tapi Allah maha maha tahu.
Oleh karenanya segala kegiatan kita cek
dulu. saya ke sana sebenarnya apa sih
tujuannya?
[Musik]
Apalagi perkara yang ukhrawi.
Ingat eh perkara ukhrawi bisa rusak
gara-gara niat duniawi.
Siapa yang ya
ee beramal saleh karena mencari dunia,
kami berikan bagi yang kami kehendaki.
Kata Allah Subhanahu wa taala, "Siapa
yang
menginginkan dunia dan perhiasannya itu
di antaranya dengan amal akhirat.
di amal akhirat tapi menghendaki dunia
dan perhiasannya. Maka kami berikan kata
Allah Subhanahu wa taala mereka ini di
akhirat tidak mendapatkan apa-apa
maka amal mereka gugur dan batilah apa
yang telah mereka kerjakan.
Maka niat ni hati-hati kita mungkin
melakukan kegiatan sosial, kegiatan
agama bertahun-tahun. Cek niat saya ini
sebenarnya buat apa saya di sini?
Apakah mencari dunia
atau mencari akhirat? Kalau mencari
dunia penting minggir, rugi,
capek-capek. Dunia Allah kasih. Dunia
macam-macam. Harta, ketenaran, wanita,
jabatan, itu dunia semua.
Kalau saya cari itu, mending berhenti.
Cari dunia, cari fulus berhenti.
Kalau itu dengan
label amalan akhirat.
Ya, makanya bukannya kita menuduh, tapi
hendaknya seorang waspada. Kalau bisa
hal-hal yang bisa menggelincirkan ke
sana, mending kita tidak usah ya.
Mending kita tidak usah. Seperti saya
kapan saya pernah ngisi pengajian ada
sponsor mau kasih sponsor tapi mau
ditampilkan
ee labelnya. Saya bilang, "Kamu sumbang
aja. Kalau mau sumbang gak usah tampil
label supaya kau lebih tulus.
Tapi kalau kau sumbang terus langsung
sponsormu saya khawatir. Saya tidak
nuduh kau ria. Saya tidak nuduh kau cari
duniawi. Tapi sangat rawan
untuk tampilkan bahwasanya saya sponsor
apalagi ada jualan di situ.
Ini bukan masalah halal haram. Cuma saya
pengin pahalamu lebih apa? Lebih murni.
Lebih murni. Karena niat tu punya
pengaruh luar luar biasa.
Ee lebih baik. Akhirnya dia bantu tanpa
harus pasang
label sama sekali. Tanpa harus pasang
label sama sama sekali. Dan
alhamdulillah kalau mau sambung semangat
kau lebih tulus. Orang enggak perlu tahu
kau. Kalau kau ketahuan malah dikejar
janda nanti. Repot
orang pada pinjam uang sama kamu. Ya
sudah ngapain
ya? Ngapain enggak usah.
M juga gitu saya ngisi pengajian terus
ada yang bagi voucher. Vouernya
ada labelnya. Siapa yang ini dapat
voucher bisa belanja di toko tertentu
dengan gratis sekian-sekian. Saya bilang
enggak enggak enggak usah. Kalau mau
kasih kasih duit aja hadiah. Jadi bilang
voucher karena voucher disebut label.
Enggak ada labelnya. Bukannya ini saya
tidak bicara halal haram tapi saya
bilang agar kita melatih orang agar
niatnya apa? Tulus. Agarnya tulus. Kita
aja sudah jadi ustaz sekian puluh tahun
mau ikhlas aja susah apalagi baru ngaji.
Maksud saya ini enggak gampang maksud
saya ya enggak gampang. Kita jadi ustaz
emang yang bilang kita ikhlas ya apa
enggak ada yang tahu cuma Allah yang
tahu. Kalau kelihatannya sih ikhlas
kelihatannya tapi kan yang tahu
hakikatnya siapa? Allah orang baru
ngaji.
Orang baru ngaji. Maka di antara tugas
para dai memperhatikan juga audiens.
Ini ada ada orang ee menyumbang sesuatu
kasih tahu, "Eh, ini masyaallah ini
masyaallah iman kita ini dia bikin ee
rumah untuk para ustaz ya." Masyaallah
yang mampir. Jadi, jadi terkenal dia.
Jadi terkenal kan kasihan gimana hatinya
mau ikhlas? Mungkin bisa ikhlas tapi
susah maksud saya. Kalau antum di posisi
dia susah ikhlas atau gampang ikhlas?
Susah, susah,
susah. Gimana? Ah, oh iya memang saya
bangun ini niatnya karena Allah. Niatnya
karena Allah berat maksud saya. Kita aja
kalau saya di posisi dia, saya a susah.
Saya a susah.
Oleh karena para salaf dahulu mereka
ngerti susahnya ikhlas sehingga mereka
tidak mau minta amal saleh mereka.
Bukannya ustaz nuduh dia riak gak saya
enggak nuduh. Itu urusannya dengan
Allah. Cuma saya bilang tindakan
preventif sayangilah audiens.
Kadang-kadang sebagian dai pansos sama
seorang pansos nih. Dia yang pansos
dainya nih. Ini ada artis kek, ada apa
kek. Kasihan dia baru ngaji. Dia baru
ngaji.
Ya udah kalau mau kasih dekat sama dia
di balik panggung, di balik layar
kasihan dia baru apa ngaji. Belum tentu
hatinya kuat ya. Apalagi sudah terbiasa
tenar kemudian mau tenar lagi di dunia
akhwat kan.
Dunia ikhwan ini lain lagi. Tenernya
beda ini.
Jadi kita harus mikir audiens juga.
Jangan mikir diri kita sendiri. Oh ini
demiki kemaslahatan dakwah. Benar. Saya
tahu tujuanmu mulia untuk masalah
dakwah. Tapi kasihan dia. Bisahkan kita
dengan cara yang lain. Selak beluk
tentang cara setan menjerumuskan dalam
riya. Maka menjaga niat sangat penting.
Baik mencari ee apalagi niat-niat
mencari duniawi. Dan duniawi luas.
Duniawi itu luas. Ada harta, ada
popularitas, ada ee ketenaran, ada ria,
macam-macam.
Maka malaikat ketika itu tanya pada
orang ini,
"Apakah kau ke sana ada urusan ingin
bayar hutang kek? Ada kewajiban yang
harus kut tunaikan kepada saudaramu?"
Kata dia, "Enggak.
ini uhibbuhu fillah. Saya menziarahi dia
murni karena mencintainya karena Allah.
Ya. Maka
akibatnya Allah mencintainya karena dia
telah mencintai orang tersebut karena
Allah subhanahu wa taala.
Lihat amalan kelihatannya sepele.
Tapi subhanallah kalau dilakukan dengan
niat yang benar bisa meninggikan derajat
seseorang. sampai Allah kirim malaikat
untuk mengabarkan kepada dia bahwasanya
Allah telah mencintainya karena dia
telah memurnikan ziarahnya benar-benar
karena Allah subhanahu wa taala. Ini PR
kita semua
para pegiat dakwah, para panitia
pengajian ya. Kita bikin kajian
sebenarnya apa niat kita? Kita tanyalah
kita tidak ada yang jamin kita apa?
Ikhlas. Enggak ada yang jamin. Kalaupun
kita ada ikhlasnya, saya tidak mengharap
pujian manusia, tapi mungkin ada
duniawinya.
Numpang supaya jualan ya. Numpang ini
numpang
bisa iklan ya.
Bisa iklan.
Jadi kalau saya sarankan kepada panitia
untuk ee
mengambil tindakan preventif ya.
Mengambil tindakan preventif. Tapi kalau
panitianya juga ternyata
broker ya sama aja. Ternyata juga memang
senang begitu-begitu karena ada
keuntungan di balik itu ya saya enggak
bisa ngelarang ya. Maksud saya ini
sekedar saran bukan keharusan tapi apa?
Saran ee bukan menuduh tapi preventif
karena masing-masing kita punya
kekurangan.
Dan saya ngomong gini juga ingatkan diri
saya biar saya tidak ikut-ikutan ya.
T bab berikutnya babur rajul yuhibbu
kauman walamma yalhaq bihim.
Bab tentang seorang yang mencintai suatu
kaum sementara dia sendiri belum bisa
menyamai kaum tersebut dalam satu
amalan. Dan ini adalah bab yang sangat
indah. Kenapa sangat indah? Karena
dengan mencintai orang saleh, kita bisa
dikumpulkan bersama mereka. Padahal kita
enggak mampu beramal saleh seperti
mereka. Bagi orang yang mengerti bab
ini, maka inilah bab yang sangat indah
dan kita diajarkan untuk mencintai para
shihin. Ada orang lebih unggul daripada
kita, kita cintai dia. Jangan hasad,
tapi kita cinta sama dia. Kenapa? Kita
berharap bisa dengan kecintaan kita
kepada mereka, kita bisa dikumpulkan
bersama mereka. Almaru ma aman ahab. Ya,
ee seorang akan dikumpulkan bersama yang
dia cintai.
Tayib. Ee kita bacakan hadisnya. Q
haddasana berkata al Imam Bukhari
rahimahullah taala q hadana Abdullah bin
Maslamah qala haddasana Sulaiman bin
Mughirah an Humaid bin Hilal an Abdillah
bin an Abi Dari Qultu ya Rasulullah
yuhibbul
wtiuq
bialihim
kata Abu Dzar bertanya kepada Nabi, "Ya
Rasulullah, seorang mencintai suatu kaum
namun dia tidak mampu untuk menyusul
amal mereka itu tidak mampu.
Siapa yang mampu seperti para sahabat?"
Berat.
Siapa yang mau bersih para sahabat?
Mau jihad aja berjalan dulu ratusan kilo
ngeri berat. Siapa yang mampu seperti
para sahabat? Siapa yang mampu seperti
Abu Bakar menginfakkan seluruh hartanya?
Baru 1/10 aja masih mikir 1000 kali.
Itu pun tidak jadi keluar.
Mau keluar ditahan istri. Enggak ada
repot.
Gak apa-apa, Bi. Enggak usah, Bi. Yang
penting Abi kan sudah niat pahala niat.
Oh, benar juga ya. Enggak jadi. Yang
penting pahala apa? Niat.
Ada istri yang malah mendukung, ada
istri yang nahan-nahan. Tergantung istri
yang mana.
[Tertawa]
Maka siapa yang mampu seperti para
sahabat? Enggak ada yang mampu. Berat,
ya.
Siapa yang mampu berjihad seperti para
sahabat?
Ya, yang kata dalam riwayat kata Khalid
bin Walid, "Malam yang paling aku cintai
adalah malam penantian aku bersama
Muhajirin kaum Anshar menanti besok
menyerang musuh." itu malam yang paling
aku cintai lebih dari lebih aku sukai
daripada kalau malam dihadirkan istri
baru. Masih kurang
lebih daripada malam dikabarkan
kepadaku, "Saya punya anak baru." Kita
paling bahagia, Pak Anak baru lahir
bahagia enggak? Ya, kawin lagi bahagia
juga.
Tapi itu semua masih kalah di mata
Khalid bin Walid. Dia lebih cinta. Yang
paling dia ingin-inginkan,
diangan-angankan.
malam berkumpul sama para sahabat, besok
perang. Itu yang paling dia cintai.
Siapa yang bisa seperti hatinya seperti
Khalid bin Walid?
Kita kalau mau pikir amal mereka enggak
bakalan bisa. Tapi kita cinta sama
mereka.
Kita cinta sama sama mereka.
Maka Abu Dzar bertanya,
"Arajulu yuhibbul wu yalhaq biamalihim."
Ada seorang mencintai suatu kaum, namun
amalnya tidak bisa menyamai mereka,
tidak bisa nyusulin mereka. Qala anta ya
Abu Dzar maaman ahbabta. Kata
Rasulullah, "Engkau wahai Abu Dzar, kau
akan dikumpulkan bersama yang orang yang
kau cintai." Qullu,
kata Abu Dzar, "Inni uhibbullah wa
rasulah." Aku mencintai Allah dan
rasul-Nya.
Kata Nabi, "Anta ma aman ahbabta ya
Aar." Kau akan bersama orang yang kau
cintai wahai Abu Dzar. Subhanallah.
Ini adalah
nikmat yang sangat agung, yaitu dia
belum berusaha namun belum mampu ya
cinta suatu kaum namun belum mampu untuk
seperti mereka.
Di antara syair yang di
disandarkan kepada Al Imam Syafi'i
dengan tawadunnya dia berkata, "Uhibbus
shihina wasastu minhum." Aku mencintai
orang-orang saleh padahal aku bukan dari
mereka.
anhim syafaah. Aku berharap dengan cinta
kepada mereka aku mendapatkan syafaat
mereka. Subhanallah ya. Siapa bilang
Imam Syafi'i tidak saleh? Pasti saleh
ya. Siapa yang bisa seperti Imam
Syafi'i? Imam Syafi'i mengatakan,
"Wadidu annanas
akadu al ilma minni walam yansibu ilaian
aqala."
Kata kata Imam Syafi'i, "Aku
berkeinginan orang-orang ambil ilmu
dariku, tapi enggak usah bilang ilmunya
dari Imam Syafi'i. Yaitu aku ingin semua
orang berguru kepadaku, dapat ilmu
dariku. Tapi enggak usah bilang, "Guru
saya Imam Syafi'i. Ini ilmu dari
Syafi'i. Saya enggak perlu itu. Yang
penting bagi saya ilmu saya bermanfaat."
Siapa yang ba? Imam Syafi'i, Imam
Syafi'i mengatakan, "Ma nadartu ahadan
illa wadittu anallaha ajral haqq al
lisanihi." "Tidaklah saya mendebat
seseorang kecuali saya berharap Allah
memunculkan kebenaran lewat lisan orang
tersebut." Siapa yang berdebat pengin
kalah? Semuanya pengin apa? Menang. Imam
Syafi'i ingin bisa, saya pengin dia yang
menang, tapi kebenaran lewat lisan lisan
dia. Siapa yang seperti Imam Syafi'i?
Meskipun demikian dia tidak angkut,
tidak sombong. Beliau mengatakan,
"Uhibus shihinau minhum
laalli anala bihim syafaah." Aku
mencintai para salehin meskipun aku
bukan dari mereka.
Yaitu mencintai salihin itu bagus.
Karena dengan mencintai salihin berharap
kita dikumpulkan dengan orang-orang sa
saleh.
Maka ee seorang ketika
melihat ada salihin hendaknya mereka
mencintai mereka. Cinta sama para saleh.
Jangan hasad, jangan dengki,
ee jangan oh kok mereka bisa unggul
daripada kita. ini senang senang dengan
orang saleh. Alhamdulillah dia berhasil.
Kita senang saudara-saudara kita lebih
berhasil dari kita dalam dan kita giipto
cemburu bukan hasad. Kita pengin seperti
mereka namun belum bi belum bisa.
Belum bisa. Ya,
makanya di sini Imam Imam Bukhari
menggunakan kata lamma. Lamma itu
artinya belum ya.
Lamma belum. Yaitu kita mesti berharap
siapa tahu kita bisa menuju mereka. Ada
yang bisa kita susulin, ada yang memang
gak bisa sama sekali. Tapi dengan
mencintai mereka diharapkan kita
dikumpulkan bersama mereka.
Oleh karenanya hati bersih dituntut ya
uhibbus shihin wasastu minhum. Aku
mencintai orang salehin meskipun aku
bukan dari mereka. Allah berfirman
tentang
hati orang-orang yang yang bersih
hatinya. Kata Allah, "Walladina ja
ba'dihim yaquun rabbanagfirlana
walihwanadina sabaqu bil iman wala tajal
fi qulubina lilladzina amanu rabbana
innaka raufur rahim." Dan orang-orang
yang datang setelah kaum Muhajirin kaum
Anshar. Setelah Allah memuji kaum
Muhajirin, kaum Anshar. Allah mengatakan
tentang generasi berikutnya setelah kaum
Muhajirin kaum ansar. Yaitu termasuk
kita semua.
Bagaimana sifat mereka? Yaquuluna
rbagfirlana waliikhwanilladina sabaquuna
bil iman. Mereka berkata, "Ya Rabb kami,
ampunilah kami." Dan juga untuk
saudara-saudara kami yang mendahului
kami dengan iman yang dahulu mendahului
kami. Beriman terlebih dahulu sebelum
kami. Yang masih hidup maupun yang sudah
meninggal. Wala tajal fi qulubina gill
lilladzina amanu. Dan janganlah kau
menjadikan dalam hati kami ada gil, ada
kedongkolan, kejengkelan, tidak suka
kepada orang beriman.
Rabbana innaka rauf rahim. Ya Rabb kami,
sesungguhnya Engkau maha lembut, maha
baik, dan maha penyayang. Jadi
seorang berusaha hatinya bersih terhadap
kaum mukminin, terutama kepada para
salihin. Ya, jangan sampai sebaliknya
malah hasad, malah dengki ini
problemnya. Ya.
Tib. Hadis berikutnya
al Imam Bukhari berkata, "Qala hadasana
Muslim bin Ibrahim, qal hadsana Hisyam,
qal hadsana Qatada anasin radhiallahu
anhu anna rajulan saalan Nabi sallallahu
alaihi wasallam." Dari Anas bin Malik
ada seorang bertanya kepada Nabi, "Ya
Nabiallah mata saah wahai Rasulullah
kapan hari kiamat?"
Ya faqala wadata laha. Maka Rasulullah
bertanya balik, "Apa yang kau siapkan
untuk hari kiamat?"
Dalam sebagian riwayat disebutkan ini
Arab Badui.
Dia tanya, "Ya Rasulullah, mata saa,
kapan hari kiamat?" Pertanyaan juga luar
biasa ya, "Kapan hari kiamat?" Dan
Rasulullah tidak tahu kapan hari kiamat.
Yang tahu cuma siapa? Allah. Maka waktu
malaikat Jibril tanya kepada Nabi,
"Faakbirni anisaah, kapan hari kiamat?"
Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam,
"Yang ditanya tidak lebih tahu daripada
yang bertanya,
yaitu ee
saya tidak lebih tahu daripada engkau
wahai Jibril." Kita sama-sama tidak
tahu. Yasalunati ayana mursaha
f anta minikroha ilabika muntaha.
Mereka bertanya kepada engkau tentang
kapan hari kiamat. Apa urusanmu dengan
hari kiamat? Itu urusan Allah Subhanahu
wa taala.
Tapi hari kiamat akan terjadi.
Disebutkan dalam sebagian riwayat
Rasulullah salat
setelah Rasul salat bertanya. Rasulullah
setelah salat Rasulullah langsung jawab
Rasulullah salat. Rasulullah tanya tanya
aina sail tadi mana yang bertanya? Saya
Rasulullah. Maka Rasulullah balik
bertanya kepada dia tentang pertanyaan
yang bermanfaat. Karena Rasulullah juga
tidak tahu jawaban kapan hari kiamat.
Hari kiamat tahu enggak tahu akan
terjadi. Cepat atau lambat akan terjadi.
Inna saata atiatun waat atiatun laba
fiha waallaha yab fil qubur. Bahwasanya
hari kiamat akan datang cepat atau
lambat tanpa ada keraguan dan Allah akan
bangkitkan orang-orang dari kuburannya.
Ya.
Yang penting apa yang kau siapkan? Maka
nabi balik bertanya wataha apa yang kau
siapkan bertemu hari kiamat? Istilahnya
kalau kita lagi di suatu kampung terus
ada musuh mau datang. Musuh mau datang
nih kapan-kapan datangnya? Jam berapa,
hari apa? Mending kau siap-siap bikin
senjata sebelum musuh datang. Jangan
sibuk nanya kapan-kapan kapan-kapan.
Nanya-nanya mulu tidak ada tidak ada apa
aksi akhirnya diserang. Tiba-tiba
diserang. Dan kita tahu hari kiamat
kubra. Alqiyamatul Kubra enggak ada yang
tahu. Tetapi alqiyamat bukan bukan cuma
satu, bukan alqiyamul kubra. Ada namanya
alqiyamatu sugra, kiamat kecil. Kiamat
kecil itu matinya kita. Kata para ulama
di antaranya disunukil oleh Al-Qurtubi
rahimahullah, man mata faqad qomat
qiamatuhu. Siapa yang mati sudah tegak
hari kiamatnya
berarti dia sudah berpindah ke alam
lain, ke alam akhirat, ke alam barzakh.
Maka meskipun belum datang hari kiamat
besar, kita pasti mengalami hari kiamat
apa? Kecil. Hari kiamat besar kita
enggak tahu kapannya. Hari kiamat kecil
pun kita enggak tahu kapannya.
Tahu-tahu orang mati banyak sekali. Lagi
sehat-sehatnya mati. Terlalu sehat mati.
Jantungnya terlalu tewas.
Betapa banyak orang meninggal sedang
olahraga. Banyak atau tidak banyak? Dia
olahraga buat sehat atau buat mati?
Buat sehat. Justru mati di olahraga.
Untuk menunjukkan bahwasanya benar
olahraga adalah sebab kesehatan. Tapi
ajal di tangan Allah. Ajal di tangan
Allah.
Betannya dokter ahli meninggal kena
penyakitnya itu sendiri.
Ahli jantung mati kena jantung.
Ada yang ahli stroke, mati kena stroke.
Ada yang disangka mati enggak?
Mati-mati.
Kirain sudah mati belum? Masyaallah.
Enggak mati-mati
aja tuh. Oleh karenanya kiamat kubra
kita enggak ada yang tahu, kiamat sugra
juga kita enggak ada yang yang tahu.
Seorang keluar di tengah-tengah ke ke
cita-citanya di mau ini mau anu di
tengah dengan tengah kekayaannya,
kesehatannya merasa super prima,
tahu-tahu meninggal. Qarun
fakaraja ala kaumhi fi zinati. Keluar
ketemu kaumnya dengan kekayaannya,
dengan hartanya, dengan anak buahnya,
dengan budak-budaknya, dengan hartanya.
Pamer lagi ajang pamer. Fakasafna bihi
al ardfni wabidarihil ard. Kami benamkan
dia dan rumahnya dalam bumi tiba-tiba.
Tiba-tiba
kematian tiba-tiba.
Makanya sering-sering orang keluar dari
rumah tidak terbetik dalam batinnya
probability 1% pun dia akan meninggal.
Enggak ada. 0,01% dia enggak ada mikir.
Mungkin saya meninggal saat ini. Enggak
ada sama sekali. Tahu-tahu meninggal.
Tahu-tahu meninggal.
Ya, maka itu rahasia. W w w tadri nafsun
taksibu wadri nafsun bi ardin tamut.
Tidak ada jiwa yang tahu apa yang
dilakukan besok dan tidak ada jiwa yang
tahu di mana dia akan meninggal
meninggal dunia.
Sebelah kemarin ada kerabat subhanallah
dari Papua
sakit berobat Jakarta meninggal kubur di
Jogja. Subhanallah. Enggak tahu
meninggal di mana. Dari Papua kubur di
mana? Di Jogja. Enggak ada yang tahu gak
tahu antum dikubur di mana? Semoga kita
dikubur di Madinah di Baki.
Tapi jangan sekarang nanti insyaallah
kita enggak tahu kita kapan mati dan
kita enggak tahu kapan kita di di mana
kita di dikubur.
Maka Rasulullah bertanya karena
Rasulullah tidak tahu jawaban kapan hari
kiamat. Rasulullah balik bertanya kepada
orang ini, "Wza adatalah?" "Apa yang kau
siapkan untuk bertemu hari kiamat?
Qala Arab Badui ini ngaku dia dengan
tawadunnya dengan rendah diri tidak
tidak banyak yang disiapkan. Dia
mengatakan maulaha min kabirin. Saya
tidak mempersiapkan banyak ibadah. Ya
artinya dalam riwayat yang lain bikrati
shatinamin waka wqtin. Saya salat tapi
tidak banyak, saya puasa namun tidak
banyak. Saya sedekah namun tidak tidak
banyak. Tidak ada amal yang besar yang
mau saya andalkan ketemu hari kiamat.
Illa anni uhibbullaha waasulah. Hanya
saja aku cinta kepada Allah dan
rasul-Nya. Faqala. Maka Rasulullah
berkata, "Almaru maaman ahab." Seorang
bersama yang dia cin cintai. Qala
anasun. Anas berkata, "Fama roitul
muslimina farihu ba'dal islami asad mim
farhu yaumaidin." Aku tidak pernah
melihat kaum muslimin gembira setelah
gembira dengan masuk Islam seperti
gembiranya pada hari itu mendengar sabda
Nabi, "Almaru aman ahab, seorang bersama
orang yang dia cintai." Ini
menggembirakan.
Dalam riwayat yang lain maka Anas
berkata, "Fainni uhibbullah faini
uhibbuah
uhibbu Rasulullah wa abu Abu Bakrin wa
Umar ya
arju akuna maahumbium
waamalim."
Maka Anas berkata, "Ketahuilah, aku
cinta kepada Nabi, aku cinta kepada Abu
Bakar, aku cinta kepada Umar, dan aku
berharap dikumpulkan bersama mereka
karena aku cinta kepada mereka meskipun
aku tidak bisa beramal seperti amalan
mereka." Ya, fainni uhibbun Nabi wa Abu
Bakr wa Umar. Kata Anas, "Aku cinta pada
Nabi Abu Bakar dan Umar."
Makanya dulu para salaf mengajarkan
kepada anak-anak mereka untuk cinta
kepada Abu Bakar dan Umar. Karena orang
kalau cinta kepada tokoh-tokoh seperti
ini, dia akan terobsesi untuk bisa
seperti mereka. Sekarang lihat bagaimana
anak-anak muda zaman sekarang yang
mereka cintai siapa? Mana baca sejarah
Abu Bakar, sejarah Umar,
sejarah para sahabat. Ya, mereka enggak
ngerti. Yang mereka baca terkadang
sejarah orang kafir, terkadang pelaku
maksiat, terkadang pezina, terkadang
pemabuk yang mereka baca, yang mereka
tempel di kamar-kamar mereka.
poster-poster orang-orang pelaku
maksiat. Ya,
ingat Rasulullah bersabda, "Almaru
maaman ahab." Seorang dikumpulkan
bersama yang dia cintai. Jangan sampai
salah jatuh cinta. Ya,
ini PR besar bagi kita. PR besar bagi
kita.
Anak-anak yang dia cintai, siapa yang
dia cintai?
Kadang orang kafir, ya. Orang kafir.
Bukan orang kafir yang dia sahabat
enggak ngerti.
yang orang kafir mungkin pezina, mungkin
dia unggul dalam satu bidang dunia,
bidang olahraga misalnya, dicintai oleh
anak-anak.
Itu aja bacaannya, bagaimana kegiatannya
akhirnya kan diikuti
tentang berita-berita orang ini begini
begini begini. Jadi hal yang biasa
entah gua entah ganti pasangan, entah
minum bir, entah buka aurat, entah
diskotik, entah lagi apa.
Jadi yang penting adalah apa yang kau
siapkan untuk bertemu dengan hari
tersebut. Maka seorang peringatan bagi
kita semua.
Kita enggak tahu kapan kita meninggal
dunia,
tetapi kematian itu pasti akan akan
datang. Maka seorang harus prepare
terus.
Harus ada progres dalam hidup ini. Apa
progres saya, amalan saya semakin
bertambah atau tidak? Saya ngaji tahun
lalu sama ngaji tahun sekarang. Iman
saya bertambah enggak? Amalan saya saya
bertambah enggak? Saya lebih dekat
kepada Allah tidak. Saya lebih nyambung
silaturahmi enggak? Saya lebih banyak
baca Quran? Enggak.
Renungkan masing-masing. Saya lebih
bersedekah enggak?
Atau ternyata ngaji malah semakin
duniawi.
Ketemu ibu-ibu satu dengan yang lain
malah ajang pamer-pamer tas branded.
Di tempat pengajian
gabung dengan ibu-ibu sosialita akhirnya
malah pamer-pameran. Bicaranya dunia
mulu. Bangga-banggaan sudah ke luar
negeri satu ke Paris satu keang
tritis.
Yang di keparang tritis malu. Kamu
kemarin liburan ke mana? Ee ke Paris
juga.
Paris mana? Paris Parang Tritis. Ya
enggak
sudah semakin ngaji malah
bangga-banggaan. Pamer-pamer
barang-barang kemewahan, pamer-pamer
mobil-mobil mewah, parang motor-motor
mewah. Kerjaannya begitu. Ah, ngaji,
ngapain ngaji seperti ini? Ngaji itu
harus progres,
harus tambah iman, tambah zuhud kepada
dunia. Bukan semakin apa?
Bermewah-mewahan.
Kalau ngajinya semakin mewah-mewahan itu
salah ngaji. Itu salah salah ngaji.
Segera berhenti. Perbaiki diri.
Perbaiki diri. Kok ngaji semakin
duniawi.
Perbaiki diri. Kita ini semua akan
ketemu dengan Allah. Harusnya kalau kita
tambah ngaji semakin zuhud kepada dunia.
Harusnya demikian. Pemikiran kita harus
selalu apa yang amalan kita kerjakan,
proyek akhirat apa yang mau kita
kerjakan.
dunia kita cari itu tugas kita semua
orang cari makan ya tapi orientasi kita
selalu akhirat kalau kita harusnya
begitu kalau ngaji tapi kita semua
melakukan kekurangan maka masih kita
nasihat buat saya pribadi juga kepada
kita semua agar kita ya ee
berpikir kembali
sebelum datang kiamat sugra sebelum kita
meninggal meninggal dunia
kalau kita baca para salaf di antara
biograaf Tapi mereka seperti Mansur bin
Zadan disebutkan la la malakul mautal
bab. Seandainya malaikat maut di pintu
rumahnya ketuk pintu mau cabut nyawanya
dia tidak mampu menambah amal
karena program dia sudah padat tiap hari
punya amal tidak bisa dia tambah semua
kegiatan dia ber berpahala. Sampai kalau
dikatakan karena orang ini kagum sama
dia. Tidak ada waktu dia sia-sia.
Tidak ada perkataan yang sia-sia, tidak
ada perbuatan sia-sia, tidak ada
pandangan sia-sia, tidak ada pendengaran
sia-sia. Sampai kalau malaikat maut
datang di rumah dia, jemput dia untuk
mati, dia tidak mampu menambah amal
salehnya. Ini sebagian salaf kalau kita
baca biografinya disebut demikian.
Karena orang kagum, orang ini amal saleh
selalu.
Coba kalau kita malaikat maut di pintu,
masih banyak bisa kita kerjakan. Masih
banyak enggak? masih banyak karena
memang kita kurang beramal saleh.
Kita masih buang-buang umur, masih
nonton macam-macam, masih lihat berita
macam-macam yang enggak ada faedahnya.
Bang Umur,
sebagian kita nonton berita ijazah
enggak habis-habis.
Belum habis sudah datang ijazah yang
baru lagi. Belum
waktu kita nonton gitu habis habis
enggak selesai. Kalau selesai kan enak.
Oh, endingnya begini. Ending enggak
ending-ending. Waktu habis.
Waktu habis. Kepo menghabiskan umur
kita. Kepo.
Berita banyak enggak ending-ending.
Belum berita baru lagi. Berita baru
lagi. Kalau Baghdad cerita 1001 malam,
Indonesia lebih lagi. Luar biasa.
Karena kita renungkan ya ada yang bukan
berarti kita enggak tahu berita dunia
sama sekali. Perlu, ada seperlunya tapi
berlebihan. Ini yang masalah.
berlebihan dengan menumbalkan Quran.
Membaca ini Quran jadi kurang i enggak?
Menumbalkan zikir
belum hati kita menjadi kacau ya. Jadi
tanya pada diri kita wad a'dat laaha apa
yang kau sudah siapkan untuk bertemu
dengan hari kiamat?
Di sini Anas bin Malik radhiallahu taala
anhu
menyebutkan bagaimana para sahabat kaum
muslimin sangat gembira ketika
mengetahui Rasulullah berkata, "Almaru
maaman ahab." Seorang akan dikumpulkan
bersama yang dia cintai. Dalam lafal
tadi sebelumnya antama aman ahbabta
engkau bersama yang kau cintai. Maka ini
membuka pintu harapan dengan mencintai
orang-orang saleh kita berharap
dikumpulkan bersama mereka. Tapi ada
konsekuensinya. Nama cinta pada orang
saleh kita berusaha meniru meniru
mereka.
itu kita berusaha meniru mereka.
Dan di sini kita mulai mengajarkan pada
anak-anak kita untuk mencintai para
shihin. Mencintai para salihin agar
mereka terbiasa mencintai para salihin.
Anak-anak terbawa dengan berita lihat
ini akhirnya suka dengan ini suka. Kita
rem-rem lah. Jangan kita biarkan los
begitu saja. Khawatirnya terbawa terus.
Ya, kita enggak bisa melarang karena
sekarang dunia sudah susah. Kita enggak
bisa mengontrol mereka. Tontonan sudah
macam-macam. yang ditampilkan
macam-macam sehingga kekaguman itu
muncul dengan sendirinya. Ya sudah kita
rem-rem lagi. Rem-rem kalau bisa kita
arahkan itu yang ter terbaik.
Tib berikutnya babu fadlil kabir. Bab
tentang keutamaan orang tua. Orang tua
saya bacakan hadisnya. Q hadasana Ahmad
bin Isa q hadana Abdullah bin Wahbin an
Abi Sakhr Abi Qusaitin an Abi Hurairah
radhiallahu anhu. Nabi sallallahu alaihi
wasallam q Rasul sahu alaihi wasallam
bersabda manam yarham shirana waf haqqo
kabirina
falaisa minna. Siapa yang tidak
menyayangi yang lebih kecil dari
anak-anak kecil kami
yang lebih muda daripada dia
kabir dan tidak mengetahui hak orang
besar kami yaitu tidak mengetahui hak
orang-orang besar.
orang tua fala maka bukan dari kami.
Hadis berikutnya, qa hadasana Ali, qal
hadasana Sufyan. Qa hadasana Ibnu
Juraisy. An Ubaidillah bin Amir an
Abdillah bin Amr bin Ash. Yablhu bihin
Nabi shallallahu alaihi wasallam qal.
Nabi bersabda dari hadis Abdullah bin
Amr bin As radhiallahu anhuma. Man lam
yarham shirana waf haqqo kabirina
falaisa minna. Maknanya sama. Siapa yang
tidak merahmati yang kecil dan tidak
mengetahui hak yang besar maka bukan
dari kami. Q hadasana Muhammad bin
Salam. Qana Sufyan bin Uya ibni Abi nuj
Ubaidillah bin Amir yuhadditsu an
Abdillah bin Amr bin As radhiallahu
anhuma yabl Nabi sallallahu alaihi
wasallam mlahu Imam Bukhari berkata
rahimahullah q hadana abdah an Muhammad
bin Ishaq an Amr bin Syuaib an abi an
jaddihi q rasul sahu al wasallam laisa
minna man lam yif haqq kabirhamirana
bukan dari golongan kami orang yang
tidak mengenal hak orang tua dan tidak
sayang kepada anak kecil Imam Bukhari
berkata rahimahullah qala hadasana
Mahmud qala hadasana Yazid bin Harun
qala akbar al Walid bin Jamil anil Qasim
bin Abdurrahman an Abi Umamah dari hadis
Abu Umamah radhiallahu anhu an
Rasulullah sahu alaihi wasallam qallahu
alaihi wasallam bersabda man lam yarham
shirana wujilla kabirana falaisa minna
siapa yang tidak sayang kepada anak-anak
dan tidak memuliakan yang tua maka bukan
dari golongan kami.
Di sini pembahasan adab yang sangat
mulia yaitu hormat kepada yang yang tua.
Sayang kepada yang kecil, hormat kepada
yang yang tua. Ini dan fokusnya tentang
menghormati yang tua. Orang tua punya
hak dan terkadang terkumpul pada dirinya
beberapa hak. Seperti orang tua
tersebut. Dia sebagai seorang tua yang
muslim, dia punya hak untuk kita
hormati, untuk kita sayang, untuk kita
perhatian, untuk kita kedepankan.
Seorang tua muslim. Apalagi kalau orang
tua tersebut punya hubungan kerabat
dengan kita. Entah kakek kita, entah
apalagi bapak kita, apalagi ternyata om
kita,
atau ada hubungan tetangga kita atau
ternyata orang tua tersebut ternyata
orang alim yang lebih dahulu berdakwah,
yang lebih dahulu menuntut ilmu, yang
lebih dahulu salat daripada kita, yang
lebih dahulu mengajarkan Islam kepada
masyarakat. Ya, ini terkumpul lagi pada
dia beberapa hak.
Seandainya dia bukan bapak kita,
seandainya dia bukan tetangga kita,
seandainya dia bukan kerabat kita,
seandainya dia bukan ustaz kita,
seandainya dia bukan orang alim, hanya
seorang muslim, harus kita hormati.
Apatah lagi terkumpul pada dia hak-hak
yang yang lain.
Maka tentunya ketika kita berbicara
dengan orang tua,
maka harus dengan penghormatan. Jangan
bicara seakan-akan guru terhadap murid.
Mas Om tidak tahu
kakek sudah rambut putih semua enggak
ngerti-ngerti kan apa begini kamu dengar
ya bahasa dulu ada kawan-kawan
sering kumpul di antara dai-dai ada satu
orang dai ya dia pintar cuma dia kalau
ngomong seperti ngajarin jadi orang
enggak betah sama dia. Kalau dia ngajar
seperti dosen kepada kita kan kawan kita
ngobrol ya apalagi kita lebih tua
daripada dia. Tapi kalau dia bicara,
seakan-akan dia dosen, kita murid yang
mantuk-mantuk.
Jadi gaya dia ketika menyampaikan
seperti itu tidak menyenangkan orang
itu. Padahal kita sejawat. Bagaimana
lagi kalau yang duduk depan dia orang
tua
bicara dengan menggurui. Kalau bahasa
kita kenapa menggurui itu enggak enak
ya. Kecuali memang benar-benar murid dan
guru kita gurui. Tapi kalau sejawat
tentu kita bicara dengan
lebih kawan seperti kawan, tidak seperti
memposikan diri di tinggi. Ini
kesombongan. Apalagi depan kita orang
tua meskipun kita alim dia enggak alim
ya. Kita bicara dengan ee baik ya. Ada
adab tersendiri berbicara dengan orang
tua ya. Adab tersendiri bicara kalau
kita makan di luar. Kalau duduk kita
persilakan terlebih dahulu. Kalau kita
pun harus
kita minta maaf, mohon maaf ya. Kalau
kita harus menjulurkan kaki karena suatu
sakit, kita minta maaf. Namanya orang
tua. Orang tua punya kepekaan
tersendiri. Punya kepekaan. Ini adab
islami. Adab islami ya. Dan saya rasa
ini juga bukan cuma adab islami saja.
Bahkan di secara tradisi misalnya
tradisi di orang suku tertentu, suku
Jawa atau suku yang lain, saya rasa
semua tradisi sepakat namanya orang tua
harus di dihargai, dihormati,
bermuamalah dengan muamalah yang lebih
lebih baik, lebih penghormatan. Dan
Rasul sahu alaihi wasallam menyebutkan
dalam hadis, "Man ahabba
yuzahzaharinaril
jann falyatuhu
wahua yu billahi akirati."
Siapa yang ingin diselamatkan dari
neraka dan masuk surga, maka hendaknya
dia meninggal dalam kondisi dia beriman
kepada Allah dan hari akhirat. Dalam
kondisi dia berbuat kepada orang lain
dengan suatu yang dia sukai jika
disikapi pada dirinya. Ini salah satu
definisi akhlak. Kalau kamu di ingin
bermuamalah sama orang tua, posisikan
seandainya kau adalah orang tua itu apa
yang kau suka sama anak muda? Posisikan.
Ya, kita senangnya di
ee
disayang, dihormati, apalagi sebagian
orang tua sudah seperti anak-anak ilail
umur ya.
Kita minta dimengerti, minta diberi
uzur.
Maka Rasulullah mengingatkan ya
jangan lupa untuk menghargai orang tua.
Dan ini PR bagi kita semua, Ikhwan ya.
Sekarang
banyak Genzi ya.
Gen Z ya. Ya. Genzi apa Gen Z? Sama aja
antum. Gen apa?
Milenial
atau aluminium?
sebelumnya gen besi tua ya sudah bentar
lagi meninggal gen besi tua
jadi subhanallah
karena saking banyak medsos gadget
membuat mereka tidak belajar langsung di
alam nyata kalau kita kan lihat dulu
orang tua kita gimana sama tetangga sama
orang tua ada n ee contoh nyata yang
bisa dilihat sehingga bisa ditiru. Nah,
ini contoh nyata ini mulai hilang dari
anak-anak ada banyak sebab. Di antara
sebabnya mereka sendiri sibuk dengan
dunia maya. Mereka sibuk dengan
komputer, sibuk dengan gadet, sibuk
dengan sehingga mereka tidak melihat
contoh nyata tentang kepekaan terhadap
sesama muslim. Kepekaan terhadap
tetangga, kepekaan terhadap orang tua
kepada kawan, kepekaan terhadap ee yang
lain. Ya, gak ada hilang. Mereka tidak
pernah lihat. Kemudian ketika mereka
dapat orang tuanya yang masih apa?
milenial
sama yang milenial juga sibuk dengan HP.
sehingga yang dia lihat bapaknya main
HP, ibunya main HP, ketawa ketiwi di
WhatsApp.
Sehingga contoh
secara praktik tidak dilihat dan orang
tuanya pun tidak sempat untuk
mengarahkan dengan perkataan.
Beda kalau mungkin di kampung-kampung
masih misalnya kita di adat Jawa seperti
apa perhatian ada ya secara umum secara
suku baik Sulawesi, adat Jawa pasti ada
tradisi yang enggak boleh sama orang tua
seperti itu. Dengar langsung dan
dipraktikkan oleh orang di depannya.
sama tetangga enggak boleh begitu.
Sekarang masing-masing sendiri-sendiri,
egois-gois sendiri-sendiri
sehingga hilanglah kepekaan ini. Maka
anak-anak kita ini yang genzi-genzi ini
harus kita mulai apa? Tekankan. Jadi ini
adab islami sama orang tua ya.
Kalau di meja makan dia mul eh jangan
dulu kamu enggak boleh. Orang tua dulu.
Eh kecil tapi orang tua dulu. Sehingga
dia tahu adabnya. Harus orang tua
terlebih dahulu. Harus dijaga adab
seperti ini. Kalau lagi bicara motong,
eh orang tua lagi bicara enggak boleh
dipotong
ya. Eh diam enggak boleh dipotong. Jadi
kita apa kita ajarin
lagi jalan jangan di depan kamu belakang
anak kecil di belakang. Ya seperti jadi
diajarin seperti itu sehingga mereka
masih melihat contoh nyata
yang menjadi masalah kepekaan mulai
hilang itu. Kepekaan mulai mulai hilang.
Sampai kita kadangkan bingung kenapa dia
masa enggak ngerti gini aja sih? Ini kan
enggak boleh secara adab ya. Dia enggak
ngerti, dia cuek aja
ya. Misalnya nanti ketemu jam segini,
ternyata enggak jadi. Enggak jadi ya
udah. Oh, Afwan saya ngantuk. Selesai.
Loh, sederhana gitu aja. Sudah orang
siap-siap kemudian tiba-tiba afwan saya
ngantuk tidur enggak jadi. Meeting batal
sama Genzi kita meeting. Misalnya dia
tidak merasa berdosa karena dia biasa
aja kata dia aman. Apa masalahnya?
Karena dia enggak ngerti bahwasanya ini
adalah muamalah yang keliru. Gak bisa
cuma kepekaan itu enggak ada karena dia
tidak pernah belajar kepekaan tersebut.
Nanti akhirnya bicara sama orang tua
juga santai-santai aja.
Tidak ada hormat sama orang tua, tidak
ada perhatian sama orang tua, tidak ada
memberi uzur kepada orang tua. Ya, maka
ini harus kita perhatikan. Jangan sampai
ee anak-anak
akhirnya tidak peka kepada orang tua.
Maka di sini Rasul sahu alaihi wasallam
ya mengatakan, "Laisa minna manam yarham
shirana walam ya'rif haqqo kabirina."
Bukan dari golongan kami orang yang
tidak sayang kepada anak-anak dan tidak
mengenal hak orang tua kami. Berarti
menunjukkan orang tua itu punya hak-hak.
Hak orang tua apa saja yang harus kita
tahu ya. Dihormati, disayangi,
dikedepankan, didahulukan. Kalau
berbicara dia yang berbicara terlebih
dahulu. Dia yang memimpin majelis ya
orang tua ya.
Karena tidak punya adab akhirnya
nyelonong, motong. Ah ini yang bikin
bikin heboh ya. Bikin heboh.
Diberi uzur orang tua. Kan orang tua
terkadang seperti anak-anak lagi, sensi
ya dan macam-macamnya.
Akhirnya
anak muda bilang, "Ya, orang tua juga
harus tahu hak anak muda."
Iya. Tapi yang harus lebih memberi uzur
adalah anak muda kepada orang tua. Orang
tua kalau sudah tua sudah kemampuannya
sudah menurun, daya berpikirnya sudah ee
lambat ya, omongnya sudah terbata-bata,
jalannya sudah pelan ya, tidak bisa
aktif seperti dahulu ya. mereka-mereka
yang lebih hendaknya di ee diperhatikan.
Demikian saja mungkin ikhwan dan akhwat
yang dirahmati Allah subhanahu wa taala.
Insyaallah kita lanjutkan pada pertemuan
berikutnya masih tentang orang orang
tua. Wallahu taala alam bawab. Wabillahi
taufik hidayah. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Yeah.