Transcript
NLeVtHtgcro • Tafsir Surat As-Saffat #2 Ayat 11-34 - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2581_NLeVtHtgcro.txt
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi al ihsani wasukrulahu ala taufiqihi wamtinani ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuiman wa asadu anna muhammadan abduhu wa rasul ridwan. Allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Kita lanjutkan tafsir surat asssaffat sampai pada ayat 11. Allah berfirman, "Fastaftihim ahum asaddu khq amman khalaqana inna khalaqnahum minil lazib." Maka tanyakanlah kepada mereka, yaitu wahai Muhammad, tanyakanlah kepada mereka yaitu kaum musyrikin Makkah, kaum Quraisy yang musyrikin. Ahum asyaddu khalqon amman khalaqana. Apakah mereka lebih berat kejadiannya, penciptaannya? Ataukah apa yang telah kami ciptakan itu? Inna khalaqnahum min thainil lazib. Sesungguhnya kami telah menciptakan mereka dari tanah liat. Mulai ayat ini Allah menyuruh Nabi sallallahu alaihi wasallam untuk ee berdiskusi, mendebat mereka yang mereka mengingkari adanya hari kebangkitan. Pada ayat sebelumnya kita sebutkan yaitu pada ee ayat kelima ya atau ayat keempat. Inna ilahukum lawahid. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar esa. Kemudian ayat kelima rabbus samawati wal ardhi w bainahuma warabbul masyariq. Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Tuhan tempat terbit-terbit matahari. Kemudian inna zaynama dunya bizatinil kawakib. Kami hiasi langit dunia dengan bintang-bintang. Dan ini perkara yang telah diakui oleh kaum musyrikin Quraisy. Kaum musyrikin Quraisy tentu tahu bahwasanya ada Allah dan ada bahwasanya langit dan bumi diciptakan oleh Allah Subhanahu wa taala. Yang jadi masalah bagi mereka, mereka mengingkari bahwasanya ee Al-Qur'an Allah turunkan kepada Nabi. Mereka mengingkari Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan mereka mengingkari adanya hari kebangkitan. Tapi kalau Allah mereka percaya. Dan ini terlalu banyak ayat menunjukkan akan hal itu seperti ya walain saaltahum man khalaq samawati wal ardyaquulunallah. Kalau engkau bertanya kepada mereka, "Siapa yang menciptakan langit dan bumi?" Sungguh-sungguh benar-benar mereka mengatakan Allah yang menciptakan. Dalam ayat yang lain, walain saaltahum man khalaqahum. Kalau kau tanya kepada mereka, siapa yang ciptakan mereka? Laakulunallah. Mereka akan berkata, "Kami yang ciptakan adalah Allah subhanahu wa taala." Jadi mereka mengakui rububiyah Allah. Hanya saja mereka tidak beriman kalau Allah turunkan Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad. Dan mereka juga tidak beriman tentang kerasulan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Dan mereka juga tidak beriman dengan adanya hari kebangkitan. Maka di antara metode dialog atau diskusi kembali kepada titik yang disepakati bersama antara dua pihak kemudian dijadikan sebagai dalil. Nah, kalau Nabi dan kaum musyrikin Arab sudah sepakat langit dan bumi adalah ciptaan Allah yang mereka khilafkan, apakah Allah bisa membangkitkan mereka kembali setelah mati? Maka kesepakatan itu jadi titik untuk hujah bagi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Maka Allah katakan kepada Nabi, "Fastaftihim." Kalau begitu tanyakan kepada mereka. Istifta maksudnya bertanya kepada mereka untuk mereka menggunakan akal mereka untuk berpikir. Ya, karena dikatakan istifta itu pertanyaan terkait dengan hal yang perlu dipikirkan. Coba tanya sama mereka yang mereka mengingkari hari kebangkitan. Ahum asyaddu khalqan. Apakah ee penciptaan mereka lebih dahsyat ya setelah mereka dimatikan kemudian dibangkitkan atau penciptaan langit dan bumi dan beserta isinya? Ya, secara logika kalau kalian mati kemudian dihidupkan lagi itu lebih ringan daripada menciptakan langit dan bumi yang sangat rumit dan ruwet ini. Kalian telah sepakat Allah bisa menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Kenapa susah bagi Allah untuk bangkitkan kalian yang telah ma mati? Ini dalil logika. Yang kedua, Allah mengatakan, "Inna khalaqnakum inna khalaqnahum min thinin lazib." Berikutnya, "Kami telah menciptakan mereka dari tanah yang lengket." Lazib maksudnya multtasik. Tanah yang lengket maksudnya tanah tanah liat, ya. Tanah liat. Dan penciptaan awal kalian diciptakan dari tanah menjadi manusia secara logika lebih sulit daripada membangkitkan kalian ulang ya. Karena al-iadah pengulangan lebih mudah daripada penciptaan pertama. Ini secara logika. Tentu bagi Allah semuanya mudah. Cuma Allah kasih ajak mereka mikir. Ya, kalau untuk menciptakan kalian dari tanah, Adam alaihi salam diciptakan dari tanah kemudian tiba-tiba jadi makhluk berdaging. Tiba-tiba bisa ruh, punya ruh, tiba-tiba bisa berpikir. Ya itu Allah bisa. Apalagi hanya sekedar membangkitkan kalian dari tulang- belulang menjadi apa? Menjadi manusia kembali. Kemudian dalil yang ketiga, sebagaimana kalian pernah diciptakan dari tanah, kemudian kalau kalian mati, daging kalian berubah menjadi tanah, ya untuk diulangi lagi gampang. Untuk diulangi lagi gampang. Maka di sini ada ee tiga pendalilan. Yang pertama, penciptaan kalian dari awal. Ya, maksudnya membangkitkan kalian itu dari sudah tidak ada badan kalian sudah menjadi tanah dibangkitkan kembali. Itu lebih mudah daripada apa? daripada penciptaan kalian pertama kali. Lebih mudah lagi apa? Daripada penciptaan langit dan bumi yang ruwet dan luar biasa dahsyatnya. Kemudian juga sangat mungkin karena sebagaimana kalian pernah diciptakan dari tanah untuk dibangkitkan kembali dari tanah juga sangat mu mudah. Maka secara logika hari kebangkitan itu mungkin. Setelah itu Allah berfirman, "Bal ajibta waaskarun." "Bal ajibta waskarun." Kata Allah Subhanahu wa taala, "Bahkan kamu takjub, kamu heran, sementara mereka senantiasa menghina engkau." Senantiasa menghina engkau. Di sini ada dua qiraah. Yang pertama dengan fathah, "Bal ajibta." Engkau takjib wahai Muhammad dengan sikap mereka yang menolak hari kebangkitan. Sementara dalil tentang mungkinnya hari kebangkitan sangat banyak. Tapi mereka menolak, menakjubkan perbuatan mereka bagimu. Terlebih lagi wasasharun. Dan ada yang mengatakan wau di sini wawul haliyah. Sementara mereka menolak disertai mereka mengejek. Dan Allah mendatangkan yasharun dengan fi'il mudhar' yaitu yang menunjukkan tajaddud terus-menerus. Mereka sering mengulang-ulang ejekan tersebut. Ya, waskharun. Mereka sering mengulang-ulang ejekan tersebut kepada engkau. Ini qiraah pertama dan disebutkan oleh at- Thaabari dalam tafsirnya dua qiraah yang valid. Yang pertama, bal ajibta dengan fatha dan engkau takjib wahai Muhammad. Qiraah yang lain, bal ajibtuasharun. Aku takjub dengan mereka ini. Allah sendiri yang takjub. Dan di antara sifat-sifat Allah adalah sifat takjub. Datang dalam ayat ini dan ini qiraah yang sahihah disebutkan oleh At Thaabari rahimahullahu taala. Dua-duanya boleh dibaca. Bal ajibta bal ajibtu. Kemudian juga datang dalam hadis-hadis tentang sifat takjub. Takjub Allah beda dengan takjub manusia. Kalau manusia takjub, dia heran. Dia tidak tahu tiba-tiba terjadi sesuatu yang dia tidak duga sebelumnya. Itu namanya apa? heran kok bisa begini. Tapi kalau takjub di sisi Allah maksudnya Allah istihsan yaitu Allah takjub pada perbuatan yang keluar kharaja anadhairihi yaitu yang tidak biasa. Yang tidak biasa biasanya begini kemudian muncul tidak biasa. Allah sudah tahu semuanya tapi ini perkara menakjubkan bagi Allah karena tidak seperti bia biasanya. Bukan karena Allah tidak tahu tapi Allah takjub karena terjadi sesuatu yang tidak biasanya. Contoh dalam hadis misalnya kisah tentang seorang sahabat yang ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam ee berkata, ada seorang datang minta dijamu oleh Nabi. Kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Man yudifuifa rasulillah." Siapa yang mau menjamu tamu Nabi? Karena Nabi suruh sahabat cek rumah-rumah istrinya ternyata tidak ada makanan. Tadinya Nabi mau jamu, kata Nabi, "Coba cek." Datanglah sahabat ke rumah istri pertama. Tidak ada rumah kecuali air minum. Bagaimana mau jamu tamu? Cuma kasih air putih. Maka istrinya berkata, "Walladzi baataka bilhaq maana illa ma." Tidak. Demi Allah yang mengutus engkau dengan kebenaran wahai Rasulullah, wahai suamiku. Tidak ada di rumah kecuali air putih. Gimana mau jamu tamamu? Tiib istri kedua cek sama jawabannya. Istri ketiga sama. Istri keempat? Istri kelima sampai istri kesesemballah tidak ada makan malam. semuanya cuma air air putih. Dan mereka ini orang-orang terbaik penghuni surga. Ya, kalau kita yang muter-muter satu aja ini sampai sembilan semua cuma air putih ya. Subhanallah. Akhirnya Rasulullah tidak bisa menjamu dan Rasulullah tidak tahu ilmu gaib. Rasulullah suruh cek dulu. Ketika tidak bisa jamu, akhirnya Rasulullah mengatakan, "Siapa yang mau jamu tamuku?" Ada seorang sahabat mengatakan, "Saya Rasulullah siap." Padahal dia juga enggak punya apa-apa. Akhirnya dia bawa tamu tersebut. Dia pulang ke rumah. Dia tanya sama istrinya, "Istriku, ini tamu Rasulullah ada makanan enggak?" Kata istrinya, "Buat saya dan kamu juga enggak ada. Jangankan buat tamu, buat saya enggak ada, buat kamu enggak ada. Cuma buat anak-anak yang ada." Makan buat anak-anak. Kata suaminya, "Ya sudah, kau jangan kasih makan anak-anak. Ajak mereka bermain." Anak-anak insyaallah kuat. Ajak mereka bermain sampai ngantuk. Tidurin terus kau pura-pura perbaiki lampu, matikan lampu. Setelah itu makanan hidangkan buat temu kita makan tapi matikan lampu. Istrinya nurut. Enggih. Masyaallah. Kalau istri zaman now mungkin juga begitu. Mungkin Abi ini ada-ada aja ya. Dia juga subhanallah nurut ya. Habib ini macam-macam aja kita aja enggak makan. Sok-sok jamu tamu ya. Mungkin kalau istri zaman zaman now ya ada yang salehah. Tenang B, santai, tenang. Akhirnya dia laksanakan dan nurut kepada suaminya. Anaknya diajak main sampai ngantuk, tidur. Makanan dihidangkan. Kemudian istrinya pura-pura perbaiki lampu dimatikan. Kenapa dimatikan? Supaya gelap. Supaya suaminya tamunya makan. Dipikir tuan rumah juga ikut makan. Karena kalau makanan cuma sama dia, tuan rumah enggak makan kan enggak enak. Sehingga dia mau makan. Loh, kok tuan rumah enggak makan? Ketahuan dia enggak punya makanan. Supaya tidak ketahuan, matikan lampu. Kemudian dia pura-pura makan. Cuma bunyi-bunyikan piring mungkin sehingga tamu makan dengan kenyang. Subhanallah. Dan Allah tahu itu semua. Setelah itu dia ketemu dengan ketemu dengan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka Nabi mengabarkan. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Ajaballah min son shikuma bidikuma allailah." Allah takjub dengan perbuatan kalian berdua, sikap kalian berdua terhadap tamu kalian tadi ma tadi malam. Kenapa? Karena perbuatan mereka tidak biasa. Takjub di sini bukan berarti Allah tidak menduga, bukan. Tapi Allah sudah tahu. Cuma perbuatan mereka tidak bia tidak biasanya. itu maksudnya sifat takjubnya Allah. Kita harus tetapkan ahlusunah menetapkan semua sifat yang Allah tetapkan dalam Al-Qur'an dan juga yang ditetapkan oleh Nabi dalam hadis. Di antaranya juga ee seperti dalam hadis ya hadis riwayat Bukhari, ajaballahu minumin yadkulunal jannata fis salasil. Allah takjub dengan kaum yang masuk surga dengan salasil dengan rantai. Kok bisa? Karena ini tidak biasa. Kenapa mereka ini ceritanya kalah dalam perang, ditangkap, dijadikan tawanan atau dijadikan budak, kemudian hidup bersama orang Islam? Ternyata mereka masuk Islam, ternyata mereka Islamnya bagus, meninggal masuk surga. Seandainya tidak ditarik dengan rantai, mungkin mereka tidak masuk surga. Menakjubkan. Mereka dipaksa jadi tawanan, ternyata ujungnya mereka masuk surga. Ini di antara makna hadis Allah takjub dengan kaum yang mereka masuk surga dengan digeret dengan apa? Ran rantai. Dengan rantai. Di antaranya juga sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Innallaha la ya'jab minasyabi laisat lahu shwah." Allah takjub dengan seorang pemuda yang tumbuh dalam keada ketaatan tanpa ada kenakalan sama sekali. Yang namanya pemuda biasanya apa? Nakal coba-coba ya. Tapi ada pemuda tidak seperti itu ya dia dan ini menunjukkan apa? Kaja anadairihi yaitu tidak seperti biasanya. Jadi kalau kita tetapkan sifat takjub kepada Allah maksudnya Allah mensifati atau takjub dengan kejadian yang tidak bia biasanya. Nah kalau kita praktikkan pada ayat ini dalam qiraah, bal ajibtu waaskharun. Aku takjub dengan mereka sementara mereka senantiasa masih mengejek. Yaitu aneh. Seharusnya dalil-dalil yang disampaikan oleh Muhammad sallallahu alaihi wasallam dalam Al-Qur'an sudah sangat kuat untuk menunjukkan bahwasanya hari kebangkitan itu mung mungkin. Tapi mereka tetap masih ngeyel. Mereka tetap masih ngeyel. Sampai kata Allah wayaskharun. Sudah mereka ngeyel, mereka masih terus mengejek. Ya, mereka masih terus mengejek. Datang bukti-bukti dan tanda-tanda yang tentang kekuasaan Allah, mereka tetap masih mengejek. Kemudian kata Allah Subhanahu wa taala, "Waidza dzukiru la yaadkurun." Kalau mereka diingatkan dengan ayat-ayat dengan dalil-dalil yang sesuai dengan fitrah mereka dan mereka ngerti la yaadkurun. Mereka masih tidak mau menerima. Ya, apakah karena mereka terlalu bodoh ataukah terlalu ngeyal. Dan ini semua perkara yang menakjubkan. Orang Quraisy menakjubkan. Perkara mereka menakjubkan. Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dari Quraisy. Seandainya mereka beriman kepada Nabi, bukankah suku Quraisy yang akan mulia? kan nabinya dari Quraisy. Sampai sebagian orang tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad karena dari suku yang berbeda. Ya, sampai mereka berkata, "Lakadzabu raiah ahabbu ilaina min sodiq mudhar." Lebih baik kita beriman kepada Musailimah meskipun dia pendusta tapi dari kabilah kami daripada beriman kepada Muhammad daripada kabilah yang lain. Artinya sebagian orang tidak mau beriman kepada Rasulullah karena berbeda apa? Kabilah. Karena taasub fanatik kepada suku tertentu. Ini kalian Quraisy. Rasulullah dari Quraisy. Kalau kalian beriman, kalian yang mulia. Tapi mereka tidak mau beriman. Dan Rasul Sallahu Alaihi Wasallam kalian sudah kenal sebagai al-Amin, kalian pun tidak beriman. Dan Rasulullah sudah mendatangkan hujah yang sangat logis, kalian pun tidak beriman. Makanya Allah mengatakan, "Bal ajibtu waasharun." Aku takjub dengan keanehan mereka. Ini hal yang tidak biasa. Kengeyelan mereka tidak biasa. Tidak wajar. Waidza dzukiru la yadkurun. Jika diingatkan dengan ayat-ayat Allah, maka mereka tidak ingat. Apa karena terlalu jahil atau terlalu nge ngeyel. Ya. Kemudian kata Allah, "Waidza roau ayatan yastaskirun." Kalau mereka di antara perkara menakjubkan dari mereka, kalau mereka melihat ayat, yaitu tanda-tanda mukjizat misalnya yastaskhirun mereka semakin mengejek. Kalau tadi yang pertama yasharun bal ajibtu waasharun, aku takjub dan mereka mengejek. Di sini ada tambah yastaskirun. Jadi istaf'ala kalau yang pertama fa'ala, yang kedua wazannya istaf'ala yaitu ejekannya semakin parah. Kalau kita artikan secara bahasa Indonesia waidza ra ayatan kalau mereka melihat mukjizat dari Nabi semakin mengejek. Dan ini menakjubkan harusnya kalau ada tanda mukjizat harusnya beriman. Ini bukannya sekedar mengejek tapi semakin apa? Mengejek. Semakin mengejek. Seperti mukjizat terbelahnya rembulan. Kata Allah telah dekat hari kiamat dan rembulan pernah terbelah di zaman Nabi sallallahu alaihi wasallam. Apa yang terjadi? Waar ayatan setiap mereka melihat mukjizat dari Nabi, mereka berkata, "Sihrum mustamir." Ini adalah sihir yang terus-menerus. Muhammad selalu bikin sihir. Setiap mukjizat datang dibilang apa? sihir dan mereka ejekannya semakin bertambah-tambah karena Allah menggunakan wazan wazan istafala yastaskirun. Dan di sini saya sekali lagi saya katakan Allah datangkan dengan fi'il mudhar yang menunjukkan kesinambungan. Ya ingat dalam bahasa Arab ada fi'il madhi. Fi'il madhi itu seperti namanya past tense ya. Kalau fi'il mudhar itu present apa? Tense ya. Jadi menunjukkan terus-menerus mereka kerjanya seperti itu. Dan ini perkara yang menakjubkan. Bagi orang yang cerdas, bagi orang yang berakal. Sesungguhnya mukjizat itu menunjukkan bukti kerasulan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Tapi mereka semakin mengejek. Bahkan kata mereka, waqalu in hadza illa sihrun mubin. Dan mereka berkata, ini mukjizat ini adalah sihir yang nyata. Bagaimana sihir yang nyata ini? Jadi susah orang-orang ini dikasih mukjizat bilang apa? Si sihir. Terus kapan mau dapat hidayah kalau begitu caranya? Ya. Kapan mendapat hidayah kalau begitu caranya? Ya. Dan ini metode yang paling mudah untuk menolak kebenaran. Sihir selesai. Makanya ketika Firaun ingin membatalkan, ingin mengalahkan mukjizat Nabi Musa, maka dia undang para penyihir. Saya para penyihir mengatakan innana laajran in kunna nahnul golbin. Wahai Firaun. Kalau kami menang, dapat duit enggak lawan Musa? Kata Firaun, wa innakum laminal muqarabin. Bukan cuma dapat duit, kalian jadi pejabat. Wah, menggiurkan. Dapat duit jadi peja pejabat. Akhirnya duel. Ketika duel kalah mereka beriman. Firaun dengan mudah mengatakan, "Inna habirukumzi alamakumushahir." Oh, ternyata Musa ini bos kalian, guru sihir kalian. Ternyata selesai. Akhirnya rakyat semua dibodoh-bodohin oleh Firaun sehingga mereka tetap kufur kepada Nabi Musa, tetap beriman kepada Firaun karena Firaun pintar ngomong. Kata Firaun, "Oh, ini semua ternyata kerja sama. Oh, ternyata Musa bos kalian. Ternyata Musa guru kalian." Ini cuma kerja sama. Akhirnya sudah selesai. Kalau sudah bilang segala mukjizat sihir mau diapain? Setiap mereka lihat mukjizat dari Nabi. Jadi bukannya mereka tidak lihat mukjizat, mereka lihat mukjizat. Ini di antara perkara yang menakjubkan. Sudah datang mukjizat bertubi-tubi, mereka justru berkata, "In hadza illa sihr mubin." Ini adalah sihir. Bahkan sihir yang nyata. Bahkan sihir yang nyata. Apa kata Syekh S'di rahimahullahu taala? w asya waqha mereka menjadikan suatu perkara yang paling mulia yaitu mukjizat yang paling merupakan kebenaran dirubah oleh mereka menjadi suatu perkara yang paling hina dan paling rendah itu mukjizat dibilang si sihir. Mukjizat tauhid sihir syirik. sehingga mereka menuduh mukjizat nabi adalah sihir. Ya, dan itulah metode ee umat-umat yang menolak dakwah para nabi mereka. Tib. Kemudian mereka di antara ngeyelnya mereka masih menyebutkan syubhat. Kata mereka, aun turan aun. Apakah kami kalau sudah mati dan kami jadi tanah dan sudah menjadi tulang belulang yang sudah hancur? Ana lutun, apakah masih bisa dibangkitkan? Ini syubhat mereka. Kata Syekh Sad, ini juga adalah keajaiban bagaimana mereka mengkiaskan Allah Subhanahu wa taala pencipta langit dan bumi dikiaskan dengan makhluk. Kalau makhluk memang tidak bisa menciptakan benda mati, tulang belulang, kemudian tiba-tiba ada dagingnya, tiba-tiba ada rohnya, ya enggak bisa. Siapa yang bisa bikin? Tapi kalau Tuhan yang pernah menciptakan kalian, yang menciptakan langit dan bumi, apa susahnya menghidupkan kembali kalian? Apa susahnya? Maka kata Syekh Saidi, "Minal ajabiasum qudrbil ardhi wasamawati aldatilami jamil wujuh." Bagaimana di antara perkara menakjubkan mereka? Mereka mengkiaskan Allah yang maha sempurna kekuasaannya, pencipta langit dan bumi. Dikiaskan dengan manusia yang penuh kekurangan. Kalau manusia ya enggak bisa. Kalau Muhammad suruh bangkitkan ya enggak bisa. Tapi kita bicara bukan Muhammad yang bangkitkan. Yang bangkitkan siapa? Allah Subhanahu wa taala. Dan sudah kita sebutkan tadi kalau kalian mengakui kalian pernah berasal dari tanah, Adam dari tanah mintainin lazib dari tanah yang tanah liat ya kalau kalian jadi tanah mau dibangkitkan lagi apa susahnya? Hanya pengulangan. Hanya pengulangan tidak ada susah bagi Allah. Tapi ini syubhat mereka. Kata mereka inna labutun apakah kami akan dibangkitkan? Bahkan mereka berkata, "Awa abaunal awwalun." Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu juga akan dibangkitkan pula? Nenek moyang kami? Bagaimana? Kami dibangkitkan nenek moyang juga dibangkitkan. Bagaimana mungkin? Jadi mereka menolak hari kebangkitan. Menurut mereka enggak mungkinlah kita dibangkitkan. Enggak mungkin pula nenek moyang kami dibangkitkan. Sampai datang dalam satu riwayat mereka datang kepada Rasulullah. Kata harus kata mereka, "Ya Rasulullah, ya Muhammad, bangkitkan Qusay bin Kilab itu nenek moyang kita bersama dia orang yang baik. Kalau dia bangkit, kami mau tanya, kau benar atau tidak?" Kalau Allah bangkitkan selesai, berarti enggak ada ujian. Hidup ini kan ujian. Dan di antara pujian Allah kepada orang beriman, alladzina yukminana bil ghaib. Yaitu orang beriman kepada yang gaib. Kalau orang bangkit dari kuburan, oh iya benar. Dalam ada azab kubur, Firaun bangkit, "Eh, beriman, saya sudah setengah mati." Semua beriman nanti. Kalau gitu hilanglah nilai ujian. Sementara kita diciptakan untuk diuji. Kira-kira kalau Firaun bangkit sekarang cerita semua beriman, enggak? Berimanlah. Kalau tiba-tiba dilihatkan visual ini sedang diazab di alam barzakh, ini satu sedang main-main sama bidadari. Woh, semua orang, semua orang beriman. Semua orang beriman. Kalau sudah semua begitu, maka tidak ada lagi nilai ujian. Dan nilai ujian harus tetap a ada. Bahkan dalam peperangan saja, dalam peperangan saja terkadang Rasulullah menang terkadang kalah. Makanya ketika Abu Sufyan ditanya oleh Heroklius, "Bagaimana perang kalian dengan Muhammad?" Ya, kata Heroklius, "Alharbu sijal." Terkadang kami menang, terkadang mereka menang. Dan Rasulullah ketika perang Uhud, Abu Sufyan merasa menang, dia berkata kepada Rasulullah, "Wal harbu sijal." Peperangan demikian sid berganti. Kalian menang lawan kami di perang Badar. Sekarang kami menang dalam perang perang Uhud. Kalau Rasulull sallahu alaihi wasallam menang terus para sahabat enggak ada yang mati syahid, semua orang akan masuk Islam. Tetapi hidup ini ujian. Coba kalau semua orang beriman pasti kaya raya. Semua orang akan ber iman. Hilang nilai ujian. Coba kalau semua beriman, istrinya empat, semua, semua beriman. Nurut-nurut salehah semua, semua orang beriman. Tapi ternyata kan enggak. Oleh karenanya nilai ujian itu tetap a ada. Apa susahnya Allah bangkitkan nenek moyang mereka? Mudah. Tapi kan hidup ini ujian. Hidup ini apa? Ujian. Oleh karenanya nilai ujian harus tetap ada. Kalau Nabi selalu menang tidak ada orang munafik. Maka ketika kadang menang kadang kalah maka diuji. Ada yang tetap beriman, ada orang-orang munafik akan keta ketahuan. Sama kata Allah Subhanahu wa taala. Kalau kalian melihat bagaimana malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir, yadribuna wujahumbar, malaikat hantam wajah mereka, hantam belakang mereka. Wabal hari, kata malaikat, silakan rasakan azab yang pedih. Kalau kita lihat setiap nyawa dihantem, semua orang kan masuk Islam. Wih, kalau kafir begini ngeri, jangan. Matinya susah. Kelihatan dihantam oleh malaikat, rambutnya berdiri, keluar asap semua enggak ada yang semua pasti beriman. Maka tidak mungkin. Oleh karenanya Allah tidak bangkitkan nenek moyang mereka agar tetap ujian itu berjalan. Karena dalam dunia ini adalah darul ibtila. Ini adalah negeri ujian. Meskipun terkadang Allah menampakkan sebagian keajaiban dibuka kuburan ternyata ada yang diazab. Dibuka kuburan ternyata ada yang masih utuh tersenyum. Itu terkadang bukan hukum asal. Bukan hukum asal. Tayib. Jadi kata mereka, "Awa abaunal awalun, kami mau dibangkitkan setelah menjadi tanah dan tulang belulang. Dan apa nenek moyang kami yang sudah meninggal ribuan tahun juga bakalan dibangkitkan?" Maka Allah suruh bantah. Kata Allah, "Qul naam wa antum dakhir." Katakanlah Muhammad, "Iya, jangan ragu-ragu bantah syubhat mereka. Bantah pertanyaan mereka naam." Iya, kalian akan dibangkitkan. Nenek moyang kalian juga akan dibangkitkan. Kemudian diberikan rasa takut. Wa antum dakhirun. Dan kalian dibangkitkan bukan enak-enak. Dibangkitkan dalam kondisi hina dina. Hina-d. Dan ini merupakan tarhib. Rasulullah ancam mereka. Iya. Dibangkitkan dan bukan cuma dibangkitkan tapi dibangkitkan dalam kondisi hina dan dina karena kalian kafir kepada Allah subhanahu wa taala. Setelah itu Allah menjelaskan tentang mudahnya membangkitkan. Fainnama hiya zajaratun wahidah. Untuk bangkitkan manusia hanya perlu tiup sangkakala sekali saja. Faid hum yanzurun. Tiba-tiba mereka bangkit dan mereka menanti kedatangan Allah. Fidza hum yanzurun. Dan di saat itulah baru timbul penyesalan. Mudah bagi Allah. Seba kita tahu bahwasanya proses kebangkitan dengan dua tiupan sangkakala. Ada khilaf di kalangan para ulama. Ada yang mengatakan tiga tiupan sangkakala, ada yang mengatakan dua. Yang mengatakan tiga pertama nafkatus sa'ad. Ee ee apa namanya? Yang pertama ee yang pertama adalah tiupan yang membuat menimbulkan ketakutan, kemudian tiupan menimbulkan kematian. Kemudian tiupan menimbulkan kebangkitan. Adapun pendapat mayoritas bahwasanya tiupan cuma cuma dua ya. Nafhatul faza nafhatus saad ya nafatul baat. Jadi ada tiga ini pendapat ulama. Jadi karena Allah mengatakan dalam sebagian ayat ya eh fur fawati fil ard ditiupkan sangkakalah maka penghuni langit dan bumi ketakutan. Dalam sebagian ayat ditiupkan maka matilah penghuni langit dan penghuni bumi kemudian kemudian tiupkan kedua kali tiba-tiba mereka bangkit mereka menanti atau mereka melihat sehingga tiga tiupan. Pendapat mayoritas tiupan cuma dua nafkatul faza dan nafkhatus sa'ad ini satu. Jadi ketika malaikat Israfil meniupkan sangkakala yang pertama, pertama menimbulkan ketakutan luar biasa kemudian dilanjutkan dengan kema kematian tapi satu tiupan. Tapi terjadi dua hal, ketakutan, alfaza, kemudian disertai dengan apa? Kematian itu di hari kiamat kelak. Adapun kebangkitan dengan satu tiupan. Kata seperti dalam ayat ini, fainnama hiya zajaratu wahidah. Kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan aja, dengan satu tiupan. Faid hum yzurun. Tiba-tiba mereka bangkit. Sangat mudah. Faid hum jamiulina muhdarun. Dalam ayat yang lain tiba-tiba mereka seluruhnya bangkit. Mudah satu tiupan sangka sangkakala. Di sini Allah mengatakan fainnama faidza faidza tiba-tiba menunjukkan cepat begitu tiup langsung bangkit. Allah tinggal bilang apa? Kun fayakun. Kun fayakun. Ketika mereka dibangkitkan maka dalam kondisi hufatan uratan gurlan. Dalam kondisi tidak memakai alas kaki, dalam kondisi telanjang dalam kondisi belum disunat. Kata Allah, "Kama badana awal khqin nuiduh." Sebagaimana kami memulai permulaan penciptaan bayi keluar dari perut ibunya belum disunat, tidak bawa apa-apa, tidak pakai baju, tidak beralas kaki. Demikian juga pada hari kiamat manusia dibangkitkan hufatan, uratan, gurlan bohman, tidak pakai alas kaki dalam kondisi tidak berpakaian, dalam kondisi belum disunat. Bohman dalam kondisi tidak bawa apa-apa. Tidak ada harta yang mereka bawa. Jangankan harta, baju aja tidak punya, jangankan baju, sendal aja tidak punya. Bangkit semuanya. Masuk azan. Baru setelah itu manusia diberikan pakaian. Wa aal yuksa minal khalaiq Ibrahim. Yang pertama kali dikasih pakaian Ibrahim alai alaih salam. Disebutkan dikasih pakaian pertama kali karena dia membela tauhid. Ketika dia mau dibakar, dibuka bajunya untuk dibakar dan dia rela dibakar karena Allah. Maka Allah memuliakannya pada hari kiamat. Dia yang pertama kali dikasih pakaian oleh Allah Subhanahu wa taala kemudian diikuti dengan yang lainnya. Maka pada hari tersebut akan nampak takwa dan akan nampak orang-orang para pendosa. Bismillah alhamdulillah wasalamu ala rasulillah wa ala alihi wasahbihi walah. Kita lanjutkan. Setelah Allah mengabarkan membangkitkan mereka sangatlah mudah. Fainnama hiya zajarat wahidah. Tinggal ditiupkan satu sangkakala maka mereka semuanya akan bangkit seluruhnya dari awal sampai akhir. Qul innal awalina wal akhirmuun miqati yaumlum. Dari dari awal seluruhnya manusia. Bukan cuma nenek moyang kalian, seluruh manusia dari Nabi Adam sampai akhir manusia semuanya akan dikumpulkan pada satu waktu yang telah Allah tentukan. Dan ketika mereka bangkit Allah berkata, "Waqalu ya wailana hadza yaumuddin." Kata mereka, "Celaka. kita ini adalah hari pembalasan. Hari pembalasan. Maka dikatakan kepada mereka, "H yaumul faslilladzi kuntum bihi tukadzibun." Inilah hari keputusan yang dulu kalian mendustakannya. Ya, ini adalah ejekan kepada mereka yang kalian dulu dustakan. Ya, silakan rasakan yang kalian dustakan. Ya, seperti firman Allah Subhanahu wa taala, "Yauma yuda yauma yuda ila nari jahannama daa hadinarullati kuntum biha tukadzibun." Ketika hari di mana mereka didorong dengan kasar masuk dalam neraka jahanam, maka dikatakan inilah neraka yang dulu kalian dustakan. Ya, afasihrun hadza am antum la tubsirun. Apakah ini masih sihir? Ini sihir. Yang kalian bilang dulu Muhammad datangkan sihir. Sekarang neraka ini sihir atau nyata? Jadi diejeklah mereka. Had yaumal fasilladzi kuntum tukadzibun. Inilah hari keputusan yang dulu kalian dustakan. Yaitu keputusan yang Allah tetapkan. Segala permasalahan akan Allah sidangkan pada hari kiamat antara yang benar dan yang salah. Kalau di dunia seorang bisa dalam sidang nyewa pengacara, bisa nyogok, di akhirat enggak bisa. Di akhirat enggak bisa. Karena yang menyedang adalah Allah Subhanahu wa taala. Dan saksi sangat banyak. Kulit menjadi saksi, kaki tangan menjadi saksi, catatan amal menjadi saksi, malaikat menjadi saksi, bumi menjadi saksi. Maka seorang tidak akan bisa berkilah pada hari tersebut. Ya, ini adalah hari keputusan yang kalian dustakan. Usyuruladzinaamu wa azwajahum wu ya'budun. Maka malaikat diperintahkan, "Kumpulkanlah orang-orang yang zalim bersama teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah." Jadi, manusia dikumpulkan dengan sejawatnya. Di sini azwajahum uksyurulladzina dolamu azwajahum. Kumpulkanlah orang-orang zalim dan azwaj. Azwaj ini ada penafsiran di antara ada yang menafsirkan azwaj maksudnya istri-istri. Jadi kalau seorang zalim, istrinya juga zalim, maka akan dikumpulkan dengan istri-istri mereka. Ya. Dan ini pendapat Thair bin Asur. Beliau berkata, "Alazwajahiruhu anal murad bi halailuhum." Dan ini azwaj maksudnya istri-istri. Dan ini adalah tafsir dari Mujahid dan Hasan Hasan Al Bashri. Mereka menafsirkan azwaj maksudnya kalian masuk neraka dengan istri-istri kalian ya. Tidak dipisah, masuk bareng-bareng. Sebagaimana penghuni surga, mereka juga di surga dengan istri-istri mereka kalau istri mereka salehah. Kata Allah Subhanahu wa taala, "In ashabal jannatil yaum fiugulin faqihun hum wa azwajuhum fiilalin alal ariki muttaqiun." Sungguhnya penghuni surga dalam kesibukan mereka dan istri-istri mereka berada di atas dipan-dipan yang indah, bertelekan di atas dipanipan yang yang indah. Allah juga berfirman, "Jannatuha min abaj surga yang mereka masuk bersama orang tua mereka yang saleh, istri-istri mereka yang saleh, dan anak-anak mereka yang saleh. Sebagaimana penghuni surga kalau istri mereka salehah akan masuk bersama mereka, demikian juga orang-orang zalim masuk neraka dengan istri-istri mereka." Nah, ini pendapat yang mengatakan bahwasanya ee yang dimaksud dengan azwaj di sini adalah istri-istri. Dan sebagian ulama berpendapat yakni ini kebanyakan ulama azwajit maksudnya yang se setipe dengan mereka yaitu koruptor dengan koruptor, musyrikin dengan musyrikin ya penyembah kubur eh penyembah berhala dengan penyembah berhala ya. Jadi sesuai dengan Yahudi dengan Yahudi, Nasrani dengan Nasrani dikumpulkan dengan yang semisal mereka ya pezina dengan pezina, koruptor dengan koruptor wa azwaja maksudnya setipe dengan mereka dikumpul dikumpulkan dan dikelompokkan oleh malaikat. Oh sururulladzinaamu azwajah ini kelompok pezina, ini kelompok koruptor, ini kelompok pencuri, ini kelompok macam-macam ya. Ini kelompok penyembah berhala, ini kelompok Yahudi, kelompok Nasra, dikelompokkan. Jadi para pelaku kezaliman nanti tetap bersahabat dengan teman-teman mereka. Di mana? Di neraka jahanam. Aman bersahabat dengan teman-teman mereka. Di mana? Di neraka jahanam. Kemudian wu ya'budun dan juga apa yang mereka sembah. Seperti Allah inakumunillahi jahanam antum waridun dalam surat Alanbiya. Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah akan dikumpulkan dalam neraka jahanam kecuali yang bertakwa. Sesembahan ada dua model. Ada sembahan yang disembah orang-orang saleh seperti malaikat, seperti Nabi Isa, seperti Uzair. Allah mengatakan, "Innalladzina sabaqat lahum minal husna ulaika anha mubad'adun." Adapun sesembahan-sesembahan yang baik seperti Isa yang disembah, Uzair yang disembah, malaikat yang disembah, mungkin wali-wali saleh yang disembah, ulaika anha mub'adun. Mereka akan dijauhkan dari neraka jahanam. Tetapi sembahan-sembahan yang lain ya yang disembah selain Allah, berhala-berhala, patung-patung, matahari, rembulan, semuanya akan dimasukkan dalam neraka jahanam. Di antara kenapa yang disembah juga dimasukkan dalam neraka jahanam, di antaranya iblis dan setan agar para penyembah semakin menderita, tersiksa batin. Karena tuhan-tuhan yang mereka harapkan menolong mereka ternyata juga disiksa dalam neraka jahanam. Ikut membakar mereka. Ikut membakar mereka. Usyirulladzinaamu wawajumu ya'budun. Kumpulkan orang-orang yang zalim beserta sejawat mereka dan apa yang mereka sembah. Min dunillah. yang selain Allah yang mereka sembahduhum jahim dan tunjukkanlah mereka menuju neraka jahanam. Jadi digiring ke neraka jahanam. Digiring kumpulin dulu baru digiring ke neraka jahanam. Seperti Allah mengatakan yauma nahsyirul muttaqina ilarahmani wafda wasasuqul mujrimina ila jahannama wirda. Kami bawa orang-orang saleh bertakwa menuju arrahman menuju surga dengan penuh penghormatan. Wasukul mujrimina ila jahanama wir. Dan kami giring orang-orang mujrimin menuju neraka jahanam dengan terhina seperti digiring hewan. Dan dalam ayat yang lain, yauma yuda ila nari jahannama da. Didorong dengan keras, enggak mau didorong, enggak mau di didorong, digiring dengan dihina menuju neraka jahanam. Kata Allah, fahduhum ila siratil jahim. Tunjukkanlah mereka kepada jalan menuju neraka jahanam. Penghuni surga diarahkan ke surga. Ya, wafatil jannatu lil muttaqina gir baid. Maka surga didekatkan kepada orang bertakwa tidak jauh. Di antara bentuk pemuliaan kemuliaan kepada orang bertakwa, surga didekatkan sehingga mereka ya didekatkan kepada surga. Kemudian mereka pulang ke rumah di surga. Kata Nabi, "Kalian lebih mudah menuju rumah di surga daripada rumah di dunia." Dimudahkan. Penghuni neraka enggak mau. Tapi didorong. Ketika mereka digorong, digiring menuju neraka, kata Allah, "Waqifuhum, stopin dulu. Stopin dulu. Innahum masulun." Sesungguhnya mereka akan ditanya. Ini di antara dalil tentang hisab. Ditanya, ditanya oleh Allah dengan ee hisab yang berat. Ditanya-tanya oleh Allah subhanahu wa taala dalam rangka untuk semakin mereka menderita, semakin tersiksa. Kata Allah Subhanahu wa taala kepada mereka ya untuk dipermalukan ya kata kata Syekh SD innahu masulun mereka akan ditanya amu yaarunahu fid dunya tentang apa yang mereka dustakan selama di dunia alusil ashad kadibuhum wahatuhum agar mereka dipermalukan di hadapan khalaya akan kedustaan mereka dan aib-aib mereka dipermalukan dipermalukan Allah berhentikan Allah tanya setelah Itu Allah bertanya, "Ma lakum la tanasarun?" Kenapa kalian tadi tidak saling tolongmenolong? Kenapa kalian tidak saling tolong-menolong? Bukan kalian di dunia dulu saling tolong-menolong. Kerja sama dalam kesyirikan, kerja sama dalam kekufuran. Kerja sama untuk membela tuhan-tuhan kalian, kerja sama dalam maksiat. Sekarang kenapa saling diam-diaman, tidak saling tolong-menolong. Mereka tidak punya daya dan upaya. Bal humul yauma mustaslimun. Pada hari itu mereka cuma bisa pasrah. Mereka tidak punya kekuatan untuk menjawab pertanyaan Allah aja. Mereka sudah tidak berkuasa untuk bisa menjawab apalagi tolong-menolong di antara mereka sudah enggak ada daya dan upaya. Maka pada hari itu kata Allah, "Bal humul yauma mustaslimun." Maka pada hari tersebut mereka dalam kondisi pasrah menyerahkan diri. Karena mereka tidak bisa jawab pertanyaan Allah dan mereka tidak saling menolong akhirnya mereka saling hina di antara mereka saling menjatuhkan. Kata Allah, waqbala ba'duhum ala ba'din yatasaalun. Sebagian mereka menghadap sebagian yang lain saling berbantah-bantahan. Kalian sih, kamu sih, gara-gara kamu sih saling menyalahkan. Mereka berharap dengan saling menyalahkan tersebut azab mereka bisa dikurangi meskipun sedikit enggak akan dikurangi. Ya, akhirnya qolu innakum kuntum tatunanail yamin. Maka yang pengikut berlepas diri dari yang diikuti. Mereka bilang, "Kalian sih dulu yaunana wahai para pemimpin kami, kalian dulu datang lewat kanan menggoda kami dari sebelah kanan." Maksudnya di sebelah kanan ada beberapa tafsiran dia mengatakan, "Kalian menggoda dengan kuat terus-menerus." Ya, makrul laili wan nahar terus-menerus. Kalian membujuk kami, merayu kami sampai kami terbawa. Ini innakum kuntumal yamin. Maksudnya kalian menggoda kami dengan kuat, merayu kami sehingga kami terbawa. Ada yang mengatakan tatunanail yamin. Maksudnya kalian bersumpah dengan mengiming-iming kebaikan. Tenang, ini kebaikan, ini bagus, ini padahal syirik, padahal maksiat, padahal kami tergoda. Kalau bukan karena kalian, kami tidak akan di sini. Jadi mereka berusaha berlepas diri. Mereka berhadap berdiskusi di hadapan Allah Subhanahu wa taala. saling melempar ya kesalahan kepada kepada yang lain kepada yang lain ya. Dan orang-orang kalau menggoda dengan berbagai macam janji ya dengan berbagai macam janji yang diikuti para pemimpin juga berlepas diri. Kata mereka, "Qalu bam takunu mukminin." Ya, pemimpin mereka berkata, "Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Enggak ada. Kami enggak bisa bikin apa-apa. Memang kalian asalnya sudah buruk. Wana lana alaikum min sultanin bal kuntum thin. Kami tidak berkuasa untuk memaksa kalian, tapi kalian memang sudah melampaui batas. Jangan salahkan kami. Kalau kalian memang tidak punya bibit-bibit kejahatan, mana kalian mau ikut. Kalian memang sudah jahat dari dulu. Kami cuma tinggal ngorek-ngorek, kalian ikut. Jadi yang di yang mengajak juga berlepas diri. Dan tidak mungkin seorang pada hari itu kemudian beralasan kami dirayu, kami digoda. Karena orang bisa milih. Ketika dia milih keburukan, milih kesyirikan, milih kekufuran, milih kezaliman, milih korupsi, milih kemaksiatan, dia punyaang ada hawa nafsunya. Jadi jangan menyalahkan yang ngajak. Yang ngajak akan berlepas diri. Mana kami bisa maksa. Kami kan enggak dorong kamu paksa, cuma ngomong doang, "Ayo, ayo kalian ikut. Sebagaimana setan berlepas diri dari para pengikutnya pada hari kiamat. Ya kata setan innallaha waadakum waal haqukum faakukumikum min illaukum fajtumli falaumuni anfusakum ma ana busri w antumri. Setan di hari kiamat kelak akan naik di atas mimbar terbuat dari api. Kemudian dia berkhotbah dengan khotbah yang sangat menggugah hati. Dia mengatakan kepada para pengikutnya yang sama-sama di neraka jahanam, "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kalian kebaikan dan aku juga menjanjikan dan aku menyelisihi janji janjiku." W kana li alaikum min sultan. Aku tidak punya kuasa untuk masa kalian. Illa andaukum. Saya cuma ngajak doang. Emang setan pernah ngajak tangan seorang untuk berzina? Kan enggak ada. Cuma dibisik-bisikin. Zinaul lezat. Habis itu kau tinggal minta ampun sama Allah. Cuma dibisikin, ambil itu aman korupsi aja kan enggak ketahuan. Sudah banyak korupsi enggak ketahuan ambil aja sudah tinggal jalan. Emang setan pernah tarik tangan kita untuk korupsi? Setan pernah tarik tangan kita untuk berzina? Enggak. Cuma dibisik-bisikin. Ee musyriklah kau. Kalau sama musyrik nanti kau lebih bagus ekonomimu. Setan cuma bisik-bisik. Maka setan mengatakan, "Maka wali alikum min sultan." Aku tidak punya kekuatan untuk masa kalian. Illa andaukum. Saya hanya nyeru kalian. Fastajumli fastajibtum. Ternyata kalian sambut. Memang asalnya kalian sudah buruk. Kalau kalian enggak buruk, kalian tidak akan sambut. Betapa banyak saya seru tidak nyambut. Ketika kalian nyambut berarti kalian bu buruk. Fala talumuni. Maka jangan cela aku. Kata setan. Kata iblis. Walumu anfusakum. Cela diri kalian sendiri. Aku tidak bisa nolong kalian. Kalian tidak bisa nolong kita. Kita sama-sama celaka hari ini. Maka seperti perkataan pemimpin mereka ya. Kata mereka ketika diprotes, "Kalian sih ngajak-ngajak kami." Apa kata pemimpin mereka? Ballam takunu mukminin. Kalian memang sejak awal tidak beriman. Saya cuma ngorek sedikit, kalian ikut. Wama kana lana alaikum min sultanin. Kami tidak punya kekuatan untuk maksa kalian. Bal kuntum thogin. Kalian memang sudah melampaui batas. Jangan salahkan kami. Inilah pemimpin ribut sama yang mengikutarinau minina warabqat bihimul asbab. Ya. Ketika yang diikuti yaitu pemimpin berlepas diri dari pengikut dan mereka melihat azab di depan mata. Dan relasi putus yang ada pertengkaran. yang ada pertengkaran masing-masing berlepas diri. Maka apa kata yang diikuti? Fahaqqo ala qulubina. Maka telah pastilah keputusan Rabb kita. Inna ladaiquun. Kita akan mencicipi azab neraka jahanam. Sebentar lagi sama-sama masuk. Sudah diam. Sama-sama masuk kita. Kita akan merasakan mencicipi azab neraka jahanam. Faagwainakum. Memang benar kami telah menyesatkan kalian. Inna kunna gwin. Memang kami orang sesat. Ya sudah ya memang kami sesat. Saya tidak kita kami memang setai sama-sama masuk. Kata Allah setelah itu, fainnahum yaumaidzin fil adzabi musyarikun. Maka mereka pada hari itu sama-sama dalam azab. Sama-sama dalam azab. Tentu levelnya berbeda-beda. Allah maha adil. Ya, Allah maha adil ya. Maka sebagaimana di surga berlevel-level, di neraka juga berlevel-level. Waliullin darajatun mimma amilu. Masing-masing ada derajatnya, baik penghuni surga maupun penghuni neraka. Pemimpin dan dipimpin sama-sama masuk neraka tentu levelnya berbeda sesuai dengan keburukan ee keburukan mereka. Dan di sini Allah mengatakan, "Fainnahum yaumaidin filabi musyarikun." Mereka sama-sama diazab dan tidak akan menjadikan mereka berkurang kesulitan yang mereka hadapi. Berbeda dengan di dunia. Di dunia orang bisa sabar ya. Orang bisa sabar ketika seorang ditimpa musibah ternyata temannya juga terkena musibah. Ketika melihat orang terkena musibah sama seperti kita, kita bisa bersabar enggak? Bersabar. Nah, sama. Oh, ada yang lebih musibah, lebih parah, kita bisa bersabar, meringankan beban. Apalagi musibah tersebut ada waktunya, maka sabar bisa dilakukan di dunia. Tapi kalau di akhirat percuma. Isbiru a la tasbiru sawaun alaikum. Sabar enggak sabar sama saja. Ajaz'na ambarna. Kita mau sabar, mau ngamuk-ngamuk sama saja enggak ada faedahnya. Mau lihat teman diazab sama-sama juga tidak mengurangi apa? Penderitaan. Semakin menderita. Waduh kita sama-sama menderita. Maka di neraka sama-sama disiksa tidak mengurangi penderitaan. Berbeda kalau di dunia. Dunia seorang terkena musibah, kita terkena musibah ada ada kurang penderitaan karena sama-sama terkena musibah. Di neraka percuma. Fainnahum yaumaidin fil adabi musyarikun. Innaalika naf'alu bil mujrimin. Demikianlah kami lakukan kepada para pendosa. Sebagaimana mereka bersekutu dalam kesyirikan dan kekufuran. Sebagaimana mereka berserikat dalam kemaksiatan dan kezaliman, maka pada hari kiamat juga mereka berserikat dalam azab. Mereka dalam azab. Dan Allah maha adil. Kata Allah, "Inna kadalika naf'alu bil mujriminin." Demikianlah kami lakukan atau kami timpakan azab ini kepada para pendosa. Sampai di sini saja, ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Insyaallah kita lanjutkan pada ayat ke-35 pada kesempatan yang lain. Bab demikian saja kajian kita kurmaaf. Wabillah taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.